Anda di halaman 1dari 25

TUGAS 1B

Literature Study
and ResearchDESAIN ARSITEKTUR 5
EXPERIMENTAL ARCHITECTURE

KURNIA MANIS R. (08111440000002) | ISNAENI NUR C. (08111440000004) | NATHANIA CORRY C. (08111440000006) |


NADYA PUTRI SANTOSO (08111440000073) | WIWIT MARYADI (08111440000076)

DOSEN PEMBIMBING: Dr. IMA DEFIANA, ST, MT


THE
BASIC CONCEPT
Sulit untuk mendenisikan eksperimen dalam
Arsitektur eksperimental merupakan proses berarsitektur di mana setiap konteks arsitektural

eksperimen lebih mementingkan motif yang dinamis daripada sekedar Arsitek A membidik masalah dari sudut
pandang evaluatif
hasil sik. Arsitek B berusaha untuk menyiapkan
Dalam prosesnya, eksperimen yang dilakukan tidak selalu bersifat dramatis dan jika tidak berhasil, hasil kegagalannya bisa bidang alas untuk referensi yang sama
dilihat dengan jelas. sekali berbeda
Arsitek C dipaksa untuk mengakui
bahwa desain sejauh ini sudah tidak
Arsitektur eksperimental, menurut Lebbeus Woods, merupakan sebuah pengganti utopia yang telah meredakan kesalah- tepat disebut sebagai ilmu
an suara hati para arsitek yang selama beberapa dekade mengklaim bahwa kompromi, kotak ekonomi, dan bujukan mereka
Arsitektur eksperimental dapat mencangkup
kepada klien merupakan sebuah promissory note tentang utopia yang terkadang disketsa di waktu luang.
arsitektur yang bersifat physical experimental serta
Hasil kerja Woods yang ia sebut eksperimental, semuanya hanya bersifat konseptual. Hasil kerja eksperimentalnya yang programmatically experimental.
dipamerkan di beberapa galeri kebanyakan tidak bisa dibangun memang dimaksudkan begitu, karena imajinasi sang arsitek
melampaui kemampuan konstruksi dan membutuhkan pembiayaan yang terlalu mahal. Karya arsitekturnya tidak meminta Kondisi yang disebut eksperimental
solusi, tetapi hanya mengidentikasi kemungkinan untuk mentransformasi praktik yang bermasalah. melibatkan perencanaan proses, aspek
ekonomi, potensi pemasaran, serta keinda-
han pada detail. Kunci dari sebuah proses
Para arsitek yang beraliran eksperimental menggambarkan realita sekitar mereka dengan melebih-lebihkan eksperimental yaitu adanya kebutuhan
bentuk dan fungsi, serta membuatnya menggoda dan menakutkan. zat ekstrim untuk membuat mereka
possible dan tidak terlihat pernah ada
Arsitektur eksperimental tidak selalu produktif, sangat bergantung pada riset dan penelitian, serta mengejutkan sebelumnya. Sebuah eksperimen digolong-
penikmatnya, yang mana merupakan hal yang kurang baik ketika para arsitek eksperimental ini sedang mencoba kan mengarah pada hal-hal metodologis
meyakinkan klien seperti sik, tetapi kualitas jauh lebih sulit
untuk dinilai. Meskipun rasionalisme dipak-
sakan ada dalam prosesnya, hasil sik
Cook, Peter; Experimental Architecture; PIE Books; 1970 masih tergolong suram/tidak jelas.
Becker, Fletcher; The Drawing Center; Lebbeus Woods, New York, 2013
BASIC CONCEPT
PRECEDENT
H OU SE OF TH E DAY: P L A ST IC H O US E - D IE T E R S C H M ID

House of the day: Plastic House dirancang pada tahun 1963. Schmid terpesona pada konstruksi dengan komponen standar. Plastic house seluruhnya menggunakan materi-
al prefabrikasi dan mudah diangkut. Karya ini merupakan rumah pertama pada jenisnya di Eropa. Schmid dan keluarganya tinggal di rumah ini yang terletak di pinggiran
Biberach Jerman selama 11 tahun, sebelum pada akhirnya dijual dan dirubuhkan pada tahun 1975.

Referensi: http://www.themodernhouse.com/journal/house-of-the-day-plastic-house-by-dieter-schmid/ (diakses pada 11 September 2017 pukul 19.40 WIB)


BASIC CONCEPT
PRECEDENT
CE NTRE GE ORGE S POM PI DO U - R IC H A R D R O G E R S + R E N ZO P IA N O

Konsep desain Centre Georges Pompidou menggambarkan museum ini sebagai sebuah gerakan. Konsep lain dalam desain bangunan ini ialah mengekspos
semua infrastruktur bangunan. Kerangkanya menampilkan semua mesin yang berbeda dan sistem struktur bangunan ini, tidak hanya agar mereka terlihat dengan jelas, tetapi
juga untuk memaksimalkan ruang interior tanpa interupsi.
Bermacam-macam sistem pada eksterior dicat dengan warna berbeda untuk menunjukkan peran yang berbeda. Struktur dan komponen ventilasi terbesar dicat
putih, tangga dan struktur lift dicat abu-abu perak, ventilasi dicat biru, pipa plumbing dan pipa re control dicat hijau, unsur-unsur listrik dicat kuning dan oranye, serta ruang
motor lift, shaft, dan elemen-elemen yang memungkinkan untuk gerakan seluruh gedung dicat merah. Salah satu unsur-unsur "gerakan" yang pusat paling dikenal adalah
eskalator (dicat merah di bawah) di fasad sisi barat, tabung yang berbentuk zigzag ke atas bangunan memberi pengunjung pemandangan Paris yang menakjubkan.

Referensi: http://www.archdaily.com/64028/ad-classics-centre-georges-pompidou-renzo-piano-richard-rogers (diakses pada 12 September 2017 pukul 12.10 WIB)


THE
DESIGN METHODS
Metode desain jarang di temui di sebuah karya arsitek-
tur. Design method biasanya disampaikan secara implisit oleh Jomakka, Kari; Basics Design Methods; Basel; Birkhuser; 2008
seorang arsitek. Design method bertujuan untuk mengesien-
sikan proses desain dengan mempertimbangkan langkah-langkah
yang harus diambil dan permintaan-permintaan yang harus diteri-
ma. Secara garis besar, design method memiliki 3 tujuan yaitu:
1. Design method menghindari resiko bagi seorang arsitek agar
tidak kembali ke proses desain yang kurang menguntungkan.
Proses perulangan kembali ke titik sebelumnya dapat mem- Metode desain yang dapat dipakai oleh seorang arsitek tidak hanya terpaku pada
buang-buang waktu. satu atau beberapa konsep saja. Keberagaman metode desain bahkan dapat dijumpai pada
2. Sebagai kerangka perjanjian di dalam sebuah project team. setiap karya arsitektural. Menurut Henri H. Achten, sebuah eksperimental proses desain dalam
Dengan adanya design method, setiap anggota di dalam project karya arsitektur dapat dikategorikan ke dalam beberapa langkah, yaitu:
akan dapat mengetahui porsi pekerjaan setiap anggota yang lain. 1. Analisis
3. Design method sebagai kerangka referensi ketika arsitek atau Dalam proses ini, arsitek melakukan penelitian pada masalah, mencoba untuk menemukan
tim desain mengerjakan tugas atau spesialisasi mereka karakteristik yang dapat digunakan untuk menciptakan solusi. Mencari kelemahan dan
masing-masing. potensi dari masalah yang ada.
2. Sintesis
Menciptakan solusi desain. Menghasilkan pemikiran-pemikiran dan mengembangkannya
menjadi solusi. Mengintegrasikan semua aspek ke dalam suatu kesatuan solusi desain.
3. Simulasi
Menyelidiki tingkah laku yang terjadi akibat dari solusi yang diberikan.
Di dalam buku Basics Design Methods dijelaskan bahwa metode 4. Evaluasi
desain yang terbaik untuk semua jenis bangunan. Metode desain Menilai solusi desain dan memutuskan kesesuaian desain solusi dengan membandingkan
disesuaikan dengan karakter dari setiap arsitek. Namun metode hasil eksperimen dengan persyaratan.
desain memberikan kebebasan kepada arsitek untuk bereksplora- 5. Keputusan (decision)
si. Metode desain memaksa fokus namun tidak membatasi arsitek Menentukan apakah solusi desain itu tepat atau tidak, apakah solusi desain itu akan dilanjut-
dalam menyelesaikan masalah. kan, atau apakah keseluruhan solusi desain itu telah selesai.
DESIGN METHODS
PRECEDENT
O S LO O P E R A H O U S E - S H O N E T TA

Langkah pertama pada proses desain Oslo Opera House ini adalah dengan meninjau lokasi, geogra, iklim dan program bangunan hingga latar belakang ideologis, organisasi
dan faktorfaktor politik serta kerangka ekonomi-sosial. Lingkungan, sosial, budaya, dan hal-hal kecil lain diselidiki untuk menemukan respon yang sesuai untuk menciptakan
Opera House ini. Berdasarkan langkah penyelidikan tersebut, tiga konsep desain dipilih dan digunakan untuk menciptakan desain nal. Konsep-konsep itu dibuat berdasarkan
analogi dari dinding bergelombang, pabrik, dan karpet yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa arsitektur.Ketiga analogi tersebut digunakan untuk menentukan aspek-as-
pek yang berbeda pada bangunan. Dinding bergelombang digunakan untuk meyebutkan ambang diantara seni dan public. Pabrik digunakan untuk mempertimbangkan
pembuatan dari opera itu sendiri, sementara karpen menjadi sebuah alat untuk menyebutkan peran dari Opera House sebagai katalisator antara kehidupan public dengan kota.
Merujuk pada buku Basics Design Method, paparan tersebut menunjukkan bahwa bangunan ini menggunakan metode desain Contextualism dimana bangunan ini merespon
keadaan lingkungan sekitar.

Referensi: Jomakka, Kari; Basics Design Methods; Basel; Birkhuser; 2008 & Plowright, Philip; Revealing Architectural Design; Routledge; 2004
DESIGN METHODS
PRECEDENT
M E M ORI A L TO TH E M U RDE RE D JE W S O F E UR O P E P E T E R E IS E N M A N

Memorial to the Murdered jews of Europe atau sering juga disebut dengan Holocaust Memorial. Monumen ini diciptakan untuk mengenang masa kelam kaum Yahudi ketika
Hitler berkuasa di Jerman. Eisenman ingin menciptakan suasana mencekam kala itu. Kemudian ia melakukan observasi mengenai tragedi-tragedi yang terjadi saat itu.
Perasaan yang ingin ia tampilkan adalah ketidaknyamanan, suasana penuh kebingungan. Solusi desain yang ia tawarkan adalah dengan membuat sculpture yang mengingat-
kan pengamat pada konsep tradisional memorial (makam) yaitu dengan mengaplikasikan geometri balok. Monumen ini menggambarkan kesunyian, keputusasaan, dan
ketakutan. Metode desain yang digunakan oleh Peter Eisenman untuk menciptakan memorial ini adalah design research. Design research memungkinkan seorang arsitek
untuk mengeksplorasi bentuk formal bangunan sebagai solusi utama desain. Gubahan bentuk yang ia lakukan didasarkan pada sintaksis dan pemrograman Di dalam metode
ini, sejarah sangat mempengaruhi tipologi bangunan. Kongurasi dari memorial di dalam karya Eisenman merupakan contoh penggunaan metode Space Syntax.

Referensi: https://www.dezeen.com/2016/12/07/berlin-holocaust-memorial-wouldnt-be-built-today-says-peter-eisenman/ (Diakses pada 10 September 2017 pukul 21.45 WIB)


Aguspriyanti, Carissa Dinar. 2012. Ambiguous Space: Peleburan
Ruang Luar dan Ruang Dalam Sebagai Bentuk Penyamaran
Makna Ruang. Jurnal Sains Dan Seni Pomits Vol. 1, No. 1 (2012)
THE
PROGRAM
Menurut Cherry (1999), pembuatan program arsitektur (architectural programming) adalah proses penelitian dan pembuatan keputusan
terkait permasalahan yang harus diselesaikan melalui rancangan. Pena and Parshall (2012) berpendapat bahwa pembuatan program arsitek-
turadalah pencarian masalah (problem seeking). Sementara Duerk (1993) menyatakan bahwa pembuatan program arsitektur adalah proses
pengumpulan informasi, analisis, dan pembuatan rekomendasi untuk keberhasilan rancangan. Salah satu hal yang dianalisis kebutuhannya
yatu aktitas yang merujuk pada kebutuhan ruang.

Ruang dimulai dari titik, kemudian titik tersebut membentuk garis, dan garis tersebut membentuk bidang, hingga akhirnya bidang tersebut
menjadi ruang (Ching, Francis D.K, 1979). Dengan demikian, secara visual, pengertian ruang di sini mengandung suatu dimensi yakni panjang,
lebar, dan tinggi. Pengertian ruang yang berkaitan langsung dengan disiplin ilmu arsitektur adalah suatu area yang secara sik dibatasi oleh
tiga elemen pembatas yaitu lantai, dinding, dan langit-langit (Ashihara, 1983).

Program aktivitas pada arsitektur eksperimental seakan menampilkan alternatf dari hal-hal konvensional yang selama ini ada teruatama pada batas ruang
itu sendiri. Untuk aktivitasnya sendiri, tidak terkungkung berdasarkan jenis ruangan dan furnitur yang ada di dalamnya. Pengguna dituntut menjadi lebih
aktif untuk dapat mendenisikan dan memaknai ruang apakah itu. Sehingga arsitektur eksperimental tidak terbatas pada batas ruangan yang memyekat
aktivitas manusia.

Hal in idibuktikan dengan berbagai contoh bangunan masa lampau yang memisahkan nama-nama ruang berdasrkan aktitas
didalamnya, contohnya ruang makan. Ruang makan dapat dipahami keberadaannya dari adanya furnitur di dalamnya seperti
meja makan dan kursi, dibatasi oleh didang horisontal serta dinding yang terlihat.
PROGRAM
PRECEDENT
T H E LI GH T PAV I LI ON - LE B B E US W O O D S & C H R ISTO P H A . KU M P U S C H

The Light Pavilion ini adalah satu-satunya rancangan dari Lebbeus Woods yang terbangun. The light
Pavilion merupakan salah satu dari tiga instalasi di Sliced Porosity di Chengdu, Cina. Instalasi ini berada di
tengah struktur sebuah gedung tepatnya pada lantai 7-11. Bentuknya terlihat dari lilitan antara cahaya dan
geometri. Materialnya yaitu kolom baja yang meliu-liuk dan kaca. Terdapat tangga yang berada di tengah-ten-
gah kolom acak ini.
The Light Pavillion is designed to be an experimental space. That is, one that given us the opportunity to
experience a type of space we havent experienced before.
Kumpusch menjelaskan bahwa pavilion ini dirancang menjadi sebuah experimental space yang mem-
beri kita kesempatan untuk merasakan hal baru dari denisi ruang yang tidak pernah dibayangakn sebelum-
nya. Sehingga kita mampu mengembangkan scope dan kedalaman pengalaman kita mengenai space itu
sendiri. Penggunaan material cermin pada paviliun memberikan kesan seolah ruangannya menjadi tak terba-
tas. Pengunjung bebas untuk meksplorasi potensi pengaaman yang tersembnunyi pada tiap ruang peralihan.

Referensi: Perkins + Will Research Journal Vol. 08.02 (2016)


PROGRAM
PRECEDENT
W E N DY - H O L LW IC H KUS H N E R
Wendy adlah sebuah instalasi yang memenangkan MoMA PS1 Young Architects Program pada 2012 lalu.
Kompetisi ini adalah sebuah event tahunan yang memberikan kesempatan pada arsitek baru untuk membangun
instalasi di Long Island City, Queens.
Konsep utama Wendy adalah mengangkat isu lingkungan yaitu dengan terbuat dari kain nylon yang diper-
lakukan dengan inovasi dari titania nanoparticle spray untuk menetralisir polutan udara. Instalasi ini membersihkan
udara dengan selubungnya yang mampu mengambil setara dengan 260 mobil di jalan. Sebagai sebuah instalasi,
Wendy juga memiliki aktitas didalamnya.
Visitors will be able to climb up inside the huge structure, while those outside run the risk of being squirted by a water
cannon hidden inside one of its arms.
Di sisi lain Wendy memunculkan alternatif baru tentang batasnya.
Wendys boundary is defined by tools like shade, wind, rain, music, and visual identity to reach past the confines of
physical limits.
Batas Wendy sebagai ruang tidak lagi pada sebuah dinding masif, batas tersebut juga bisa berasal dari bayan-
gan, percikan air yang dikeluarkan, musik, dll sehingga tidak terbatas pada batas sik.
Spiky arms made of the nylon fabric mentioned above will reach out with micro-programs like blasts of cool air,
music, water cannons and mists to create social zones throughout the courtyard.
Ujung-ujung runcing pada instalasi ini selain berfungsi untuk mengambil polutan di udara juga untuk meng-
hasilkan hembusan udara dingin, musik, water cannons dan kabut untuk menciptakan zona sosial di sepanjang
halaman. Wendy adalah sebuah eksperimen yang mengetest sejauh mana batas dari arsitektur yang dapat diperluas
unu menghasilkan ecological dan sosial effect. Wendy yang berupa instalasi bukan hanya menghasilkan ruang,
namun juga berdampak lingkungan.

Referensi: https://www.dezeen.com/2012/02/17/wendy-by-hwkn/ (Diakses pada 13 September 2017 pukul 23.12 WIB)


THE
TECHNOLOGY
Menurut Brookes and Poole, di masa depan akan ada teknologi
baru yang menciptakan material baru. Tentunya, material baru
Teknologi akan terus berkembang tersebut akan menciptakan bangunan lebih kreatif akan terealisasi

seiring meningkatnya kreativitas ma- di masa depan.

nusia, yaitu usaha manusia untuk meminimalkan jumlah bahan tanpa Teknologi berpengaruh dalam inovasi tipe dan kegunaan material
juga. Saat proses konstruksi, natural material juga memerlukan
mengurangi aspek lain. Alam dapat menjadi awal pembelajaran yang baik komponen lain dalam mencegah kerusakan. Permasalahan ini
mengenai bentuk dan struktur. Hal tersebut juga mendukung adanya teknik yang mendukung adanya penggunaan daur ulang material. Proses
baru. daur ulang dengan menambahkan material lain dapat mencip-
takan material dengan standar baru. Material baru tentu saja
memiliki tantangan tersendiri. Kemungkinan bahwa material terse-
Untuk memenuhi kebutuhan manusia yaitu untuk memberi kemudahan, teknologi but sudah digunakan ribuan tahun yang lalu sangat mungkin

didesain changeable, dalam arti dapat mengakomodasi perubahan terjadi.

berdasarkan kebutuhan individu dan selera konsumen. Hal ini dikarenakan perkembangan Bagi sang arsitek, cara untuk memenuhi kebutuhan konsumen ini
produksi massal menciptakan kecendrungan terjadinya individualisme karena standarisasi akan menjadi sebuah tantangan untuk menciptakan inovasi. Hal
produknya. ini memaksa teknologi mengembangkan dirinya mengikuti
perkembangan eksperimen arsitektur itu sendiri sehingga mem-
Cook, Peter; Experimental Architecture; PIE Books; 1970 buat kemungkinan baru penggunaan teknologi untuk arsitektur.
Brookes, Alan J & Poole, Domique; Innovation in Architecture; Spon Press; 2005
TECHNOLOGY
PRECEDENT
GU G GE NH E IM M US E UM B IL B AO F R A N K G E H R Y

Kita ambil contoh Guggenheim Museum Bilbao karya Arsitek Dekonstruktif Frank Gehry. Banyak teknologi yang digunakan Gehry dalam mendesign Museum ini. Pertama,
dari material fasad yang digunakan. Gehry menggunakan material titanium yang belum pernah dipakai sebelumnya pada bangunan. Selain itu, dalam mendesain bentukn-
ya, Gehry menggunakan software CATIA dimana software tersebut digunakan dalam mendesain pesawat terbang. Disini kita dapat melihat bagaimana teknologi mengako-
modasi perubahan berdasarkan kebutuhan khususnya dalam bidang arsitektur. Yang sebelumnya material titanium dan software CATIA bukan digunakan untuk arsitektur,
tapi sifat changeable dari teknologi itu mampu menjadikan titanium dan software CATIA dapat digunakan dibidang arsitektur.
Referensi: http://www.archdaily.com/422470/ad-classics-the-guggenheim-museum-bilbao-frank-gehry (Diakses pada 10 September 2017 pukul 20.51 WIB)
TECHNOLOGY
PRECEDENT
R A D IA N T H O US E - R IC H A R D W E STO N

Radiant House dibangun untuk pameran dunia energi di Milton Keynes dan dirancang oleh arsitek Richard Weston pada tahun 1994. Richard Weston banyak terinspi-
rasi oleh arsitek modernis besar Alvar Aalto dan Le Corbusier, Weston ingin menggabungkan keanggunan formal dengan teknik konstruksi mutakhir. Oleh karenanya, Weston
mendeskripsikan bangunannya sebagai simple and calm, belying its structural sophistication
Richard Weston mengembangkan konstruksi atap yang didasarkan pada gagasan sayap pesawat yang mengapung namun tetap menyediakan perlindungan seperti
awan. Kaca sebagai penopang konstruksi atap digunakan untuk menghasilkan pemandangan yang bersih dari interior ruangan keluar, dan sebaliknya.
Kolom kaca yang digunakan ukurannya sangat kecil dan tidak biasa. Sifat dasar dari kaca dan kekuatan tekan dari kaca mendorong inovasi dari teknik dan pemikiran
perancang. Hasilnya tercipta teknik baru yaitu kaca sebagai tumpuan atap diimbangi dengan penggunaan baja. Perletakkan baja dengan diameter 5 milimeter di-offset dari
kaca untuk menahan atap tersebut.
Integrasi antara struktural kaca dengan bahan lain adalah teknik baru pada saat itu. Namun, Radiant House tetap memerlukan material lain dengan teknik tradisional.
Menurut Richard Weston, dalam berinovasi pada suatu proyek diperlukan a good client, a good design team and a good builder.

Referensi: Brookes, Alan J & Poole, Domique; Innovation in Architecture; Spon Press; 2005
TECHNOLOGY
PRECEDENT
OY STE R H OU SE , I DE A L H OM E E XH I B I T I O N - M A R K LOV E L L D E S IG N E N G IN E E R S

Bangunan ini sangat inovatif dalam bahan ketentuan


dan persyaratan konstruksi. Lantai dan atap dirancang menggu-
nakan komposit dengan tekstur kayu lapis. Pada sekeliling
terdapat panel komposit struktural yang melengkung. Rekayasa
pada struktur Oyster House bergantung pada kualitas teknologi
lem.
Struktur menggunakan lem yang diproduksi dari
Kerto Q. Kemudian lem tersebut dilapisi dengan -dilaminasi
redwood sehingga terlihat tekstur kayu. Struktur ini akan musta-
hil dapat dibangun tanpa teknologi lem yang kuat untuk
menyambungkan semua potongan kecil.

Referensi: Brookes, Alan J & Poole, Domique; Innovation in Architecture; Spon Press; 2005
THE
STRUCTURE

Inovasi struktur apa yang akan digunakan suatu


proyek berasal karena adanya inovasi desain yang
diterapkan pada proyek tersebut
Inovasi tersebut juga dapat berasal dari kepercayaan diri, tekad dan kerja keras. Hal ini membutuhkan orang-orang yang ahli dalam bidangnya, yang bergerak
maju dengan ide-ide baru dengan menggunakan alat-alat baru atau menerapkan teknik baru. Penelitian, pengujian menjadi bagian penting dalam menciptakan
arsitektur eksperimental.

Brookes, Alan J & Poole, Domique; Innovation in Architecture; Spon Press; 2005
STRUCTURE
PRECEDENT
M A N N H E I M B U NDE S G A RT E N S H AU M ULT IH A L L E - F R E I OT TO
Bangunan ini mengembangkan struktur dengan penggunaan dan esiensi kayu dan konsturksi organnic form. Bentuk atap aula diperlukan teknik baru untuk menghilang-
kan tekanan guna mencegah grid kayu melengkung dikarenakan berat material itu sendiri. Model maket dengan skala tertentu dibangun dan di uji coba.

Model tersebut memberi pemahaman tentang Bentuk atap yang baik untuk aula adalah membentuk Menurut Ted Happold, Ian Liddell, dan Frei Otto,
bagaimana kayu akan menekuk dan bagaimana ruangan tersebut bebas kolom. Kriteria ruangan bebas cara tersebut menjadi cara paling sederhana dan
cara kerja sambungan untuk menghindari tingkat kolom menggunakan sistem struktur bentang lebar. Hasiln- efektif guna memberikan efek tembus pandang
resiko kayu tersebut melengkung atau patah. ya, inovasi struktur baru diterapkan . Kisi-kisi dari kerangka tanpa terlalu mempengaruhi beban atap serta
atap menggunakan kayu PVC. Awalnya kerangka tersebut biaya yang tidak besar
dibuat/konstruksi atap dikerjakan dahulu di tanah kemudian
diangkat pada posisi yang pas menggunakan forklift trucks
kemudian dilapisi dengan polyester. Penggunaan polyester Referensi: Brookes, Alan J & Poole, Domique;
masih jarang digunakan pada konstruksi. Innovation in Architecture; Spon Press; 2005
STRUCTURE
PRECEDENT
THE ROOF OF T H E G RE AT COU RT AT T H E B RI T IS H M US E UM - F O ST E R A N D PA RT N E R S
Proses konstruksi atap pada pengadilan besar di British Museum membutuhkan waktu sekitar
dua tahun. Selama periode tersebut, insinyur dan arsitek (Foster and Partners) berkolaborasi secara
intensif.
Menentukan bentuk geometri pada atap sendiri menjadi tantangan. Bentuk atap memiliki syarat
yaitu bentuk atap yang melengkung naik antara luar perimeter persegi pengadilan dan lingkaran dalam
ruang membaca, tapi tidak ada bentuk geometri yang sederhana dan cocok. Struktur yang digunakan
yaitu struktur shell.
Kisi-kisi baja bertindak sebagai sebuah conoid. Conoid adalah permukaan bergaris yang dihasil-
kan dengan menggerser garus lusur dengan satu ujung pada segmen garis lurus pada kurva bidang.
Dalam proses konstruksi sebuah proyek yang inovatif, penelitian yang diperlukan untuk
mendapatkan pemahaman struktur dan keyakinan proyek tersebut dapat dibangun. Penelitian juga
dilakukan pada atap ini untuk memastikan bahwa kekuatan mengelas sambungan baja dapat dicapai.
Inovasi atap di British Museum tidak dilahirkan dari kerangka acuan baru. Ia lahir dari penentuan
klien, arsitek dan insinyur untuk mencapai solusi yang paling elegan dan pada suatu masalah. Hal ini
didukung oleh kepercayaan dari tim untuk melakukan hal-hal yang belum dilakukan sebelum asalkan
mereka didukung oleh penilaian analisa, riset.

Referensi: Brookes, Alan J & Poole, Domique; Innovation in Architecture; Spon Press; 2005
Ching, FDK; Kamus Visual Arsitektur; Erlangga; 2014
THE
UNBUILDABLE &
BUILD ABILITY
Karya arsitektur memiliki kekuatan dan kelemahan berdasarkan banyak faktor. Faktor-faktor yang membuat sebuah
karya arsitektur itu relevan sangat subyektif. Sehingga tidak jarang terjadi perdebatan antara paham arsitektur
yang dianut oleh beberapa arsitek seperti dan

Peter Zumthor Peter Eisenman

Dalam buku Future City disebutkan bahwa

sebuah karya arsitektur bukan hanya bicara mengenai apa yang


dapat dibangun, namun juga tentang karya konseptual yang dapat
dibebaskan dan direalisasikan di pembangunan masa depan

Alison, Jane; Future City: Experimental and Utopia in Architecture; Thames and Hudson; 2006
UNBUI LDABLE & BUILD ABILITY
PRECEDENT
C LU ST E R IN T H E A IR - A R ATA IS OZ A KI

Dalam konsep metabolisme, sebuah bangunan hendaknya


mampu berkembang layaknya sebuah makhluk hidup. Melihat
urbanisasi yang meningkat dan kekhawatiran akan dunia masa
depan yang menyempit, Arata Isozaki menciptakan sebuah konsep
bangunan metabolisme. Cluster in the Air merupakan sebuah
karya arsitektur tak terbangun. Faktor utama mengapa bangunan
ini tidak terbangun adalah karena pemikiran Isozaki yang jauh
maju ke depan sementara keadaan saat itu belum mencapai
konteks kondisi yang ia sebutkan. Sehingga hal ini menjadikan
konsep ini belum relevan. Selain itu, faktor teknologi juga menjadi
penentu apakah bangunan itu bisa berdiri atau tidak. Ketidakterba-
ngunan Cluster in the Air merupakan sebuah contoh dari karya
fantasi yang secara struktur tidak dapat direalisasikan.

Referensi: Alison, Jane; Future City: Experimental and Utopia in Architecture; Thames and Hudson; 2006
UNBUILDABLE & BUILD ABILITY
PRECEDENT
STE I LNE SE T M E M ORI A L - P E T E R Z UM T H O R + LO U IS E B O U R G E O IS

Sebuah arsitektur yang terbagi menjadi dua bagian. Satu


bagian adalah karya Peter Zumthor dan bagian lainnya oleh
Louise Bourgeois. Peter Zumthor merupakan arsitek yang
menganut paham keberhasilah karya arsitektur apabila
bangunan itu terbangun. Faktor-faktor yang mempengaruhi
sebuah karya terbangun adalah struktur. Dalam karya ini
dapat ditemui ketegasan struktur. Zumthor menyatakan
bahwa sebuah arsitektur harus memiliki kegunaan dan
memberikan ketahanan. Oleh karena itu, karya-karya yang ia
ciptakan sangat realistis sesuai dengan kemampuan teknolo-
gi pada saat ini.

Referensi: https://www.dezeen.com/2012/01/03/steilneset-memorial-by-peter-zumthor-and-louise-bourgeois/ (Diakses pada 10 September 2017 pukul 21.45 WIB)


THE
FORMAL ASPECT
Cook, Peter; Experimental Architecture; PIE Books; 1970
& AESTHETIC
Vitruvius dalam De Architectura, mengemukakan bahwa bangunan yang baik haruslah memiliki keindahan/estetika (Venustas), kekuatan (Firmitas), dan kegunaan/fungsi
(Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya.
Teori Vitruvius ini, telah digunakan sejak masa arsitektur klasik. Venustas meliputi seni, keindahan, dan tampak. Untuk mengukur keestetisannya melibatkan rasa dan nalar dari
yang mengamati sehingga terdapat berbagai macam pendenisian tentang keindahan sendiri.
Estetika sendiri memiliki prinsip-prinsip yang menentukan apakah objek tersebut estetis atau tidak. Prinsip tersebut adalah kesatuan, keseimbangan, irama, proporsi, dan
aksentuasi. Prinsip-prinsip tersebut merupakan salah satu aspek yang formal dan harus menjadi dasar dalam merancang.
Estetika dalam arsitektur merupakan seni visual yang menjadi nilai nilai yang dapat menyenangkan mata dan pikiran,yaitu nilai bentuk dan ekspresi yang menyenangkan.
Estetika memegang peranan penting dalam membangun suatu bangunan agar konsep dan bangunan itu menjadi indah dan memiliki keindahan.

Peter Cook dalam Experimental Architecture menganggap bahwa teori yang dikemukakan oleh Vitruvius itu kaku. Arsitek Pada bangunan-bangunan yang akan dirancang,nilai
eksperimentalis seperti Peter Cook menempatkan nilai estetik dalam menciptakan unsur-unsur baru melalui eksperimen estetis dapat dipancarkan dari 3 sumber utama yaitu:
atau percobaan. Karakter bentuk arsitektur eksperimental mengutamakan radikalitas dan bentuk geometri. Banyak 1. Sosok bangunan
tampil karya yang aerodinamis dan hibrid, jika kemudian tampil dengan bentuk geometris yang jelas pun tatanannya 2. Olahan tampak bangunan
bisa terjadi banyak arah dan aturan. Juga proses desain yang dilakukan melibatkan inovasi pemikiran dan beragam 3. Olahan lingkungan sekitar bangunan
percobaan terhadap bahan dan teknologi.

Apakah aspek bentuk dan estetika merupakan hal yang mutlak dalam arsitektur? Tidak. Karena bentuk merupakan perwujudan dari ide dan konsep yang akan dikembangkan.
Wujud merupakan hasil dari konsep-konsep dan ide-ide yang berbentuk abstrak. Wujud dan estetika arsitektur lebih liberal dalam arti, bentuk dan estetika tersebut muncul dari
parameter-parameter yang ditetapkan oleh masing-masing perancang untuk membangun suatu ketertarikan dalam arsitektur sebagai eksperimen, utopia, dan research. Utopia
di sini bukan berarti mengabaikan realita yang ada. Tapi lebih kepada berimajinasi dengan tetap memperhatikan tata aturan yang ada. Estetika tidak hanya mengacu pada keinda-
han bentuk, tetapi lebih kepada hal lain yang menjadi esensi dan dampak dari arsitektur itu dirancang.
FORMAL ASPECT
PRECEDENT
GE O D E S IC D O M E - B U C KM IN ST E R F U L L E R
Contoh dari eksperimentasi bentuk arsitektur adalah Montreal Biosphere karya Buckmister Fuller. Bangunan ini merupakan sebuah museum lingkungan, yang berfungsi
juga sebagai sarana edukasi tentang lingkungan. Membahas tentang aspek bentuk dan estetika dari bangunan ini. Terlihat dari bagaimana bangunan ini merespon lingkun-
gannya. Bangunan ini meskipun memiliki skala yang gigantis, tapi tidak mengganggu lingkungan sekitarnya karena warnanya yang transparan. Warna yang transparan ini
menyatu dengan lingkungannya yang merupakan hutan. Sifat transparan ini menghilangkan batas antara ruang luar dan ruang dalamnya. Sehingga terasa menyatu dengan
alam.

Referensi: http://www.archdaily.com/572135/ad-classics-montreal-biosphere-buckminster-fuller (Diakses pada 10 September 2017 pukul 20.51 WIB)


FORMAL ASPECT
PRECEDENT
P LU G IN C IT Y - P E T E R CO O K

Plug in City merupakan sebuah karya arsitektur eksperimental oleh Peter Cook. Walaupun Plug in city tidak pernah dibangun namun ide dari proyek ini menimbulkan
banyak perdebatan.
When Plug-In City was proposed in 1964, it offered a fascinating new approach to urbanism, reversing traditional perceptions of infrastructures role in the city.
Konsep plug in city ini adalah dimana modul-modul unit residensial di-plug in ke sebuah infrastructural mega machine. Plug in City merupakan sebuah mega struktur
yang menghubungkan residensial, transportasi, dan kebutuhan-kebutuhan kota lainnya. Infrastruktur ini bisa digerakkan oleh crane raksasa.
Jika kita membicarakan tentang wujud dan estetikanya, Plug in city ini memiliki wujud yang tidak tetap, karena kemampuannya untuk meng-update dan me-reshape
dirinya. Bentuknya yang tidak tetap dan memiliki kemampuan untuk terus berkembang memberikan kepuasan estetika tersendiri. Susunan dari tiap-tiap modul residensial
nya membentuk seperti kerucut terbalik, dimana bagian atas lebih besar dari pada bagian bawahnya.

Referensi: http://www.archdaily.com/399329/ad-classics-the-plug-in-city-peter-cook-archigram (Diakses pada 10 September 2017 pukul 20.51 WIB)


THE
REFERENCES
Alison, Jane; Future City: Experimental and Utopia in Architecture; Thames and Hudson; 2006

Becker, Fletcher; The Drawing Center; Lebbeus Woods, New York; 2013
Groat, Wang; Architecture Research Method; Wiley; 2013
Brookes, Alan J & Poole, Domique; Innovation in Architecture; Spon Press; 2005
Jomakka, Kari; Basics Design Methods; Basel; Birkhuser; 2008
Ching, FDK; Kamus Visual Arsitektur; Erlangga; 2014
Plowright, Philip; Revealing Architectural Design; Routledge; 2004
Cook, Peter; Experimental Architecture; PIE Books; 1970
Sadler, Simon; Archigram Architecture Without Architecture; The MIT Press; London, 205
Perkins + Will Research Journal Vol. 08.02; 2016

Aguspriyanti, Carissa Dinar; Ambiguous Space : Peleburan Ruang Luar dan Ruang Dalam Sebagai Bentuk Penyamaran Makna Ruang - Jurnal Sains Dan Seni Pomits Vol. 1, No. 1;
2012

https://arsitekturbicara.wordpress.com/2011/08/13/makna-ruang/ (Diakses pada 10 September 2017 pukul 20.51 WIB)

http://www.archdaily.com/422470/ad-classics-the-guggenheim-museum-bilbao-frank-gehry (Diakses pada 10 September 2017 pukul 20.51 WIB)

http://www.archdaily.com/572135/ad-classics-montreal-biosphere-buckminster-fuller (Diakses pada 10 September 2017 pukul 20.51 WIB)

http://www.archdaily.com/399329/ad-classics-the-plug-in-city-peter-cook-archigram (Diakses pada 10 September 2017 pukul 20.51 WIB)

https://www.dezeen.com/2012/01/03/steilneset-memorial-by-peter-zumthor-and-louise-bourgeois/ (Diakses pada 10 September 2017 pukul 21.45 WIB)

https://www.dezeen.com/2016/12/07/berlin-holocaust-memorial-wouldnt-be-built-today-says-peter-eisenman/ (Diakses pada 10 September 2017 pukul 21.45 WIB)

http://www.themodernhouse.com/journal/house-of-the-day-plastic-house-by-dieter-schmid/ (diakses pada 11 September 2017 pukul 19.40 WIB)

http://www.archdaily.com/64028/ad-classics-centre-georges-pompidou-renzo-piano-richard-rogers (diakses pada 12 September 2017 pukul 12.10 WIB)


http://rumahwaskita.com/artikel/estetika-bentuk/?lang=en (Diakses pada 13 September 2017 pukul 23.12 WIB)

https://www.dezeen.com/2012/02/17/wendy-by-hwkn/ (Diakses pada 13 September 2017 pukul 23.12 WIB)