Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 ABSTRAK Dismenore merupakan gangguan saat menstruasi yang
Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 ABSTRAK Dismenore merupakan gangguan saat menstruasi yang

ABSTRAK Dismenore merupakan gangguan saat menstruasi yang ditandai dengan adanya nyeri yang luar biasa sehingga tidak dapat melakukan aktifitas. Dismenore disebabkan karena rahim mengalami kontraksi. Reaksi dari otot akan mempengaruhi prostaglandin. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku mahasiswi keperawatan dalam upaya mengatasi dismenore di STIK Bina Husada Palembang tahun 2012. Penelitian ini dilakukan di STIK Bina Husada Palembang. Waktu penelitian dilakuan pada tanggal 7 Oktober sampai 7 November 2012. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informasi diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 1 petugas laboratorium keperawatan di STIK Bina Husada dan 6 mahasiswi keperawatan di STIK Bina Husada. Hasil penelitian untuk tujuan khusus pengetahuan remaja putri tentang dismenore didapatkan tiga tema, tema pengertian dismenore didapatkan satu kategori yaitu nyeri ketika menstruasi, tema penyebab dismenore didapatkan tiga kategori yaitu kurang olahraga, pola makan serta stress dan tema tanda dan gejala dismenore didapatkan enam kategori yaitu nyeri, keluar flek, badan terasa lemas, pusing, kram dan emosi meningkat. Tujuan khusus kedua respon remaja putri saat mengalami dismenore didapatkan dua tema, tema respon fisik dismenore yang didapatkan enam kategori, yaitu nyeri, nafsu makan menurun, lemas, susah tidur, aktivitas terganggu, dan pingsan dan tema respon psikis dismenore didapatkan tiga kategori yaitu menangis, malas dan gelisah. Tujuan khusus ketiga upaya remaja putri dalam mengatasi dismenore didapatkan tiga tema, tema upaya mengatasi dismenore didapatkan lima kategori, yaitu mendengarkan musik, memakai minyak kayu putih, mengkonsumsi obat penghilang nyeri, istirahat, dan kompres hangat, dan tema alasan melakukan upaya mengatasi dismenore didapatkan dua kategori, yaitu membuat nyaman dan nyeri cepat berkurang. Untuk pihak STIK Bina Husada dapat dijadikan untuk pengembangan pembelajaran mengenai intervensi dalam mengatasi dismenore dan bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini ditinjau dari aspek yang berbeda, sehingga dapat memberikan wacana dan referensi bagi profesi keperawatan dalam upaya mengatasi dismenore.

Kata kunci

: Perilaku, Mahasiswi, Keperawatan, Dismenore

ABSTRACT Dysmenorrhea is a menstrual disorder characterized by the tremendous pain that can not do the activity. Dysmenorrhea caused by uterine contractions. The reaction of the muscle will affect the prostaglandin. The objective of the research is aimed to explore nursing student behavior in an effort to overcome dysmenorrhea in STIK Bina Husada Palembang in 2012. This research was conducted in STIK Bina Husada Palembang. This research was done on 7 October 2012 to 7 November 2012. This research used a qualitative method with phenomenological approach. The information was obtained through in-depth interviews and observation. The informants in this research are 1 officer nursing laboratory at STIK Bina Husada and 6 nursing student at STIK Bina Husada. Results of research for the specific purpose of knowledge of young girls about dysmenorrhea obtained three themes, the theme definition of dysmenorrhea obtained a category that is pain when menstruation, the theme of the cause of dysmenorrhea obtained three categories: lack of exercise, diet and stress, and the theme of the signs and symptoms of dysmenorrhea obtained six categories: pain , exit spots, the body feels weak, dizziness, cramps and emotions rise. Specific objectives both the response of young women currently experiencing dysmenorrhea obtained two themes, the theme of physical response dysmenorrhea obtained six categories, namely pain, decreased appetite, fatigue, insomnia, activity disrupted, and fainting and theme response psychic dysmenorrhea obtained three categories: crying, lazy and restless. The specific objective third attempt young women in overcoming dysmenorrhea obtained three themes, the theme of overcoming dysmenorrhea obtained five categories, namely listening to music, using eucalyptus oil, taking pain medication, rest and warm compresses, and the theme of the reasons to make efforts to overcome dysmenorrhea obtained two category, which makes it convenient and fast pain is reduced. For the Bina Husada STIK can be used for learning about the development of interventions in dysmenorrhea and for further research is expected to develop this research in terms of the different aspects, so as to give a discourse and a reference for the nursing profession in an attempt to overcome dysmenorrhea.

Keywords

: Behavior, Student, Nursing, dysmenorrhea

1.

PENDAHULUAN

sebagai tanda kematangan organ reproduksi adalah

1.1

Latar Belakang

ditandai dengan datangnya menstruasi (menarche)

Masa remaja (usia 10-19 tahun) merupakan masa yang khusus dan penting karena merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia dan sering disebut masa pubertas. Pada remaja wanita

(Kumalasari, 2012). Pada saat menstruasi, wanita kadang mengalami nyeri. Sifat dan tingkat rasa nyeri bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Kondisi tersebut dinamakan dismenore, yaitu keadaan

berat. Kondisi tersebut dinamakan dismenore, yaitu keadaan Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi
berat. Kondisi tersebut dinamakan dismenore, yaitu keadaan Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi

Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi Dismenore Sutrisari Sabrina Nainggolan

139

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 nyeri yang hebat dan dapat mengganggu aktivitas

nyeri yang hebat dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (Kusmiran, 2011). Dalam studi epidemiologi pada populasi remaja (berusia 12-17 tahun) di Amerika Serikat, Klein dan Litt melaporkan prevalensi dismenore 59,7 persen. Dari mereka yang mengeluh nyeri, 12 persen berat, 37 persen sedang, dan 49 persen ringan. Studi ini juga melaporkan bahwa dismenore menyebabkan 14 persen remaja putri sering tidak masuk sekolah. Kondisi di Indonesia, lebih banyak perempuan yang mengalami dismenore tidak melaporkan atau berkunjung ke dokter. Boleh dikatakan 90 persen perempuan Indonesia pernah mengalami dismenore (Anurogo & Wulandari, 2011). Nyeri haid dapat menyerang perempuan yang mengalami haid pada usia berapapun. Tidak ada batasan usia dan sering disertai dengan kondisi- kondisi yang memperberat, seperti pusing, berkeringat dingin, bahkan hingga pingsan. Jika sudah seperti ini, tentunya nyeri haid tidak boleh dibiarkan begitu saja. Nyeri harus diatasi dengan benar (Anurogo & Wulandari, 2011). Penelitian Astrida Rakhma (2012) yang bertujuan untuk mengetahui gambaran derajat dismenore dan upaya penanganannya pada siswi SMK Arjuna Depok menunjukkan bahwa siswi SMK Arjuna Depok yang mengalami disminore rata-rata berumur 15,9 tahun, usia pertama kali menstruasi rata- rata berumur 11,88 tahun, siklus menstruasi rata-rata 29,27 hari dan 20 siswi mengalami menstruasi yang tidak teratur. Sebagian besar siswa mengalami derajat disminore nyeri ringan. Sedangkan upaya penanganan yang dilakukan yaitu dengan cara non farmakologi yaitu dengan teknik distraksi, minum obat anti nyeri di warung. Selain itu juga, penelitian yang dilakukan oleh Hartati, et all (2012) mekanisme koping mahasiswa keperawatan menghadapi dismenore menunjukkan bahwa ada berbagai macam mekanisme koping yang dilakukan partisipan dalam mengatasi dismenore sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, dan kepercayaan masing-masing. Mekanisme koping yang dilakukan meliputi istirahat atau tiduran, pengalihan, kompres hangat, minum air hangat, mandi air hangat, memberikan minyak kayu putih atau koyo pada bagian yang nyeri, minum air putih, minum obat- obatan, serta minum jamu. Selanjutnya faktor-faktor yang mempengaruhi mekanisme koping saat dismenore yang diungkapkan partisipan meliputi fisik, psikologis, dan dukungan sosial. Faktor fisik antara lain kondisi fisik dan tingkat atau skala nyeri. Kemudian faktor psikologis antara lain pikiran positif, stres, dan diri pribadi. Selain fisik dan psikologis adalah dukungan sosial meliputi keluarga, lingkungan, dan budaya. Data awal penelitian pada tiga orang mahasiswi keperawatan di STIK Bina Husada Palembang menyatakan bahwa mereka sering merasakan nyeri saat menstruasi. Upaya dalam mengatasi dismenore yang dilakukan oleh mahasiswi keperawatan tersebut adalah satu orang mahasiswi menyatakan mengatasi nyeri dengan melakukan kompres hangat, satu dua

orang mahasiswi menyatakan dengan hanya istirahat dan tidur untuk mengatasi nyeri yang dirasakan, dan satu orang mahasiswi menyatakan dengan minum obat.

Berdasarkan fenomena di atas, maka peneliti tertarik untuk mendapatkan informasi mengenai perilaku mahasiswi keperawatan dalam upaya mengatasi dismenore di STIK Bina Husada Palembang Tahun 2012.

1.2 Tujuan Penelitian

1.2.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perilaku mahasiswi keperawatan dalam upaya

mengatasi dismenore di STIK Bina Husada Palembang Tahun 2012.

1.2.2 Tujuan Khusus

1.

Diperolehnya informasi secara mendalam tentang

pengetahuan mahasiswi keperawatan dalam upaya mengatasi dismenore di STIK Bina Husada Palembang Tahun 2012.

2.

Diperolehnya memperoleh informasi secara mendalam tentang respon mahasiswi keperawatan dalam upaya mengatasi dismenore di STIK Bina Husada Palembang Tahun 2012.

3.

Diperolehnya informasi secara mendalam tentang tindakan mahasiswi keperawatan dalam upaya mengatasi dismenore di STIK Bina Husada Palembang Tahun 2012.

1.3

Manfaat Penelitian

1.3.1 Bagi STIK Bina Husada Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi sebagai dasar untuk penelitian lanjutan.

1.3.2 Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dan panduan dalam penelitian selanjutnya khususnya dalam ilmu keperawatan maternitas, terutama pada aspek penelitian tindakan remaja putri dalam mengatasi dismenore.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah 1 petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang dan 6 mahasiswi keperawatan di STIK Bina Husada Palembang dengan karakteristik atau ciri-ciri yang

sesuai dengan yang diinginkan peneliti, yaitu:

1. Mahasiswi yang mengalami dismenore setiap menstruasi.

2. Mahasiswi yang mengalami dismenore berat.

3. Mahasiswi yang bersedia menjadi informan dan

mampu berpartisipasi dan berkomunikasi dengan baik dalam penelitian. Penelitian ini dilakukan di STIK Bina Husada Palembang. Waktu penelitian dilakuan pada tanggal 7 Oktober sampai 7 November 2012.

dilakuan pada tanggal 7 Oktober sampai 7 November 2012. Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi
dilakuan pada tanggal 7 Oktober sampai 7 November 2012. Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi

Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi Dismenore Sutrisari Sabrina Nainggolan

140

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini disajikan dengan menyampaikan tema-tema dan kategori-kategori hasil penelitian yang selanjutnya diperjelas dengan hasil wawancara dan didukung dengan pembahasan dari teori dan penelitian terkait yang ada.

3.1 Pengetahuan Remaja Putri tentang dismenore Berdasarkan hasil penelitian untuk tujuan khusus pengetahuan mahasiswi PSIK tentang dismenore didapatkan tiga tema, yaitu pengertian dismenore, penyebab dismenore, serta tanda dan gejala dismenore. 1) Tema Pertama : Pengertian dismenore Berdasarkan hasil penelitian, pengertian dismenore

didapatkan satu kategori berdasarkan uraian yang didapat dari informan, yaitu nyeri saat menstruasi.

a. Nyeri ketika menstruasi Berdasarkan hasil penelitian didapatkan

pengertian dismenore adalah nyeri saat menstruasi, seperti terlihat pada pernyataan informan berikut ini :

“nyeri haid itu saat waktu kita halangan terasa sakit di perut” (I-2) Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

yang timbul saat menjelang atau selama

haid, biasanya menyerang di perut selama kita haid dan kadang terasa di atas vagina kita ini terasa sakit

(I-7)

2) Tema Kedua : Penyebab dismenore Dari hasil penelitian, penyebab dismenore didapatkan tiga kategori, yaitu kurang olahraga, pola makan dan stress.

a. Kurang Olahraga Faktor yang menyebabkan dismenore menurut informan adalah kurang olahraga, hal itu diungkapkan oleh informan satu dalam kutipan berikut ini:

mungkin karena kurang bergerak atau olahraga yang kurang di jalani” (I-2) Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

“mungkin bisa disebabkan karena kurang olahraga

atau kurang gerak

b. Pola makan

Hal lain menyebabkan terjadinya dismenore menurut informan dalam penelitian adalah pola

makan. Itu didapat dari kutipan pernyataan informan berikut ini:

nyeri

(I-7)

“penyebab nyeri itu mungkin pola makan

(I-4)

Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh petugas laboratorium keperawatan di

kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

minum es atau minum bersoda kan, misal

dia terpendap, jadi nyeri dia, bisa juga” (I-7)

sering

c. Stress Faktor terakhir yang menyebabkan dismenore menurut informan adalah stress, hal itu diungkapkan oleh informan satu dalam kutipan berikut ini:

“mungkin stres jugo berpengaruh yuk” (I-6) Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

karena

stress ya

(I-7)

3) Tema Ketiga: Tanda dan gejala dismenore Tanda dan gejala dismenore yang didapatkan dari pengetahuan informan pada saat penelitian terdiri dari enam kategori, yaitu nyeri, keluar flek, badan terasa lemas/pegal-pegal, pusing, kram dan emosi

meningkat.

a. Nyeri Salah satu tanda dan gejala dismenore itu

adalah nyeri, pernyataan tersebut didapat dari pernyataan informan seperti yang terlihat pada kutipan pernyataan berikut:

“pas nak 3 hari sebelum haid lah sudah ngasih tando- tando misalnyo cak saket perut, kadang sampai sakit

Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

nyeri sampai ke pinggang kalau haid itu mau

datang (I-7)

b. Keluar Flek

Keluar flek juga merupakan tanda dan gejala dismenore menurut informan dalam penelitian, hal itu

didapat dari kutipan pernyataan berikut:

pinggang

(I-4)

terasa

“kalo tando-tando tadi galak ado keluar flek

(I-3)

c. Badan terasa lemas/pegal-pegal Badan terasa lemas juga merupakan tanda dan

gejala dismenore menurut informan dalam penelitian, hal itu didapat dari kutipan pernyataan berikut:

“badan tu rasonyo pegel mak tuh nah, jadi buat aku tuh lemes, yuk(I-1) “lemes-lemes kayak itu nah” (I-4)

d. Pusing

Pusing juga merupakan tanda dan gejala dismenore menurut informan dalam penelitian, hal itu didapat dari kutipan pernyataan berikut:

apo

pusing

(I-4)

e. Kram Kram juga merupakan tanda dan gejala dismenore menurut informan dalam penelitian, hal itu

didapat dari kutipan pernyataan berikut:

“ galak pertamo kali mens galak kram

(I-4)

f. Emosi Meningkat Emosi meningkat juga merupakan tanda dan gejala dismenore menurut informan dalam penelitian, hal itu didapat dari kutipan pernyataan berikut:

“biasonyo sehari sebelum mens itu lah ado raso kesel, emosi setiap kali nak ngomong dengan orang(I-6)

kesel, emosi setiap kali nak ngomong dengan orang “ (I-6) Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi
kesel, emosi setiap kali nak ngomong dengan orang “ (I-6) Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi

Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi Dismenore Sutrisari Sabrina Nainggolan

141

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 Pengetahuan yang didapatkan peneliti dari informan meliputi

Pengetahuan yang didapatkan peneliti dari informan meliputi pengetahuan mengenai pengertian dismenore, penyebab nyeri haid dismenore dan tanda dan gejala dismenore. Semua informan menjelaskan dan memberikan pengertian tentang nyeri haid. Mereka mengatakan bahwa nyeri haid adalah nyeri ketika menstruasi. Temuan peneliti tersebut serupa dengan beberapa teori yang telah ada sebelumnya. Pengertian dismenore dari hasil penelitian sama dengan pengertian dismenore dalam Wiknjosastro (2007) yang menyatakan bahwa pada saat menstruasi wanita kadang merasa nyeri. Sifat dan tingkat rasa nyeri bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Kondisi inilah yang dinamakan dismenore, yaitu nyeri di perut bagian bawah, menyebar ke daerah pinggang, dan paha, yang timbul tidak lama sebelum atau bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Penelitian Sari (2010) juga mendapatkan pengertian dismenore yang serupa dengan yang ditemukan peneliti. Pengertian dismenore yang didapatkan Sari adalah nyeri ketika menstruasi, nyeri yang hebat mengganggu aktivitas, dan menstruasi yang sakit atau kram perut. Untuk informasi tentang penyebab nyeri haid (dismenore), mahasiswi keperawatan menjelaskan bahwa penyebab nyeri haid adalah kurang olahraga, pola makan dan stress. Informan juga menjelaskan bahwa tanda dan gejala nyeri haid adalah nyeri, badan terasa lemas/ pegal-pegal, pusing, kram dan emosi meningkat. Penyebab dismenore yang ditemukan peneliti yaitu kurang olahraga, pola makan dan stress juga berpengaruh dalam proses terjadinya dismenore. Hal tersebut berkaitan dengan pencegahan dismenore yang terdapat dalam Anurogo & Wulandari (2011). Untuk mencegah terjadinya dismenore dapat dilakukan dengan cara menghindari stress, menjaga pola makan yang teratur dengan asupan gizi yang memadai, dan berolahraga teratur dengan melakukan peregangan

142

(stretching) setidaknya 5-7 hari sebelum menstruasi (Anurogo dan Wulandari, 2011). Menurut Badziad dalam buku Winkjosastro (2005), dismenore primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Sifat rasa nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai rasa mual, muntah, sakit kepala, diare, iritabilitas, dan sebagainya. Teori tersebut mendukung temuan peneliti tentang tanda dan gejala dismenore yaitu nyeri, keluar flek, badan terasa lemas/ pegal-pegal, pusing, kram dan emosi meningkat. Temuan peneliti juga serupa dengan penyebab serta tanda dan gejala dismenore yang ditemukan oleh Sari. Penyebab dismenore yang ditemukan Sari (2010) adalah keluarnya bekuan darah, masuk angin, kurang berolahraga, kurang minum, dan keturunan. Kemudian

serupa juga dengan tanda dan gejala dismenore yang didapatkan Sari yaitu sakit perut dan pinggang, sakit kepala/pusing, diare, kram pada perut, dan sering

BAK.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan

terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour) (Notoatmodjo, 2010). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pengetahuan mahasiswi keperawatan dalam mengatasi dismenore sangatlah penting. Dengan pengetahuan tersebut maka mahasiswi keperawatan diharapkan nantinya dapat melakukan upaya mengatasi

dismenore.

3.2 Respon Remaja Putri Saat Mengalami Dismenore Dari hasil penelitian untuk tujuan khusus

mahasiswi keperawatan saat mengalami dismenore didapatkan dua tema, yaitu respon fisik dan respon

psikis.

1) Tema Pertama : Respon fisik dismenore Respon fisik dismenore yang didapat dari hasil penelitian terdiri dari enam kategori, yaitu nyeri, nafsu makan menurun, lemas, susah tidur, aktivitas terganggu, dan pingsan.

a. Nyeri Respon pertama yang dirasakan informan saat mengalami dismenore adalah nyeri. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan- pernyataan berikut:

kalo lagi nyeri haid tu perut ni sakit nian

(I-6)

Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

“em biasonyo mahasiswa itu datang, dio ngeluh

perutnyo sakit Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh hasil observasi ketika dilakukan wawancara yaitu pada saat mengatakan nyeri informan sambil memegang perut dan menunjukkan bagian yang sakit.

b. Nafsu makan menurun

Respon lain yang dirasakan informan saat mengalami dismenore adalah nafsu makan menurun.

Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan-pernyataan berikut:

makan

pun dag biso

(I-4)

Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

sebab dag enak perutnyo tu kan, dag semangat, dag nafsu makan

dag enak perutnyo tu kan, dag semangat, dag nafsu makan ” Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya
dag enak perutnyo tu kan, dag semangat, dag nafsu makan ” Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya

Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi Dismenore Sutrisari Sabrina Nainggolan

142

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 c. Lemas Respon selanjutnya yang dirasakan informan

c. Lemas Respon selanjutnya yang dirasakan informan

saat mengalami dismenore adalah lemas. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan- pernyataan berikut :

raso

badan tuh lemes” (I-3)

d. Susah tidur Respon lain yang dirasakan informan saat

mengalami dismenore adalah susah tidur. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan- pernyataan berikut :

“kadang tuh galak susah tiduk

(I-4)

e. Aktivitas terganggu Respon lainnya yang dirasakan informan saat mengalami dismenore adalah aktivitas terganggu. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan-pernyataan berikut :

jugo galak teganggu, kadang belajar be

lah dak konsen(I-4)

Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

tergantung kadang ado mahasiswa yang sejam

idak biso ikut perkuliahan, kadang-kadang memang

f. Pingsan

idak ikut nian perkuliahan

aktivitas

ya

(I-7)

Respon terakhir yang dirasakan informan saat mengalami dismenore adalah pingsan. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan- pernyataan berikut :

haid tuh kadang biso buat sampe pingsan

(I-5)

2) Tema Kedua : Respon psikis dismenore Berdasarkan hasil penelitian, respon psikis

dismenore didapatkan tiga kategori berdasarkan uraian yang didapat dari informan, yaitu menangis, malas dan gelisah.

a. Menangis Respon secara psikis yang dirasakan informan saat mengalami dismenore adalah menangis. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan-pernyataan berikut :

kalo lagi nyeri haid tuh kadang sampe nangis

olehnyo sakit cak dililit tuh nah

b. Malas

Respon selanjutnya yang dirasakan informan saat mengalami dismenore adalah malas. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan informan dua berikut :

kalu disuruh samo siapo be raso males nak

begerak

c. Gelisah Respon lain yang dirasakan informan saat

mengalami dismenore adalah gelisah. Hal tersebut diungkapkan oleh informan melalui pernyataan informan enam berikut :

posisi kito raso gelisah kayak guling duduk

serba salah

nyeri

(I-3)

kadang “

bawaanyo

tuh jadinyo malas(I-3)

kadang

(I-6)

Respon ini digali untuk mengetahui apa saja yang dirasakan remaja putri saat mereka mengalami dismenore. Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa respon remaja putri saat mengalami dismenore adalah muncul rasa nyeri, nafsu makan menurun, lemas, susah tidur, menangis, malas, gelisah, aktivitas terganggu dan pingsan. Hasil penelitian ini didukung oleh teori yang ada dalam Anurogo dan Wulandari (2011) bahwa dalam beberapa kasus, tidak sedikit perempuan yang mengalami nyeri haid berkepanjangan. Mereka terus menerus merasa sakit, bahkan tidak bisa beraktivitas apapun selama haid karena rasa nyeri bukan main dan tidak tertahankan. Selain itu juga disertai kondisi psikologis yang tidak nyaman, seperti mudah marah, cepat tersinggung, bawaannya kesal pada semua orang, dan lain-lain. Menurut Notoatmodjo (2007), sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutuo dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Mahasiswi keperawatan memiliki respon yang positif dalam mengatasi dismenore. Untuk itu, pengetahuan dan sikap mahasiswi keperawatan dalam mengatasi dismenore sangatlah penting dalam mendukung terwujudnya suatu tindakan.

3.3 Upaya Mahasiswi dalam Mengatasi Dismenore Berdasarkan hasil penelitian untuk upaya mahasiswi dalam mengatasi dismenore didapatkan tiga tema yaitu upaya mengatasi dismenore dan alasan melakukan upaya untuk mengatasi dismenore 1) Tema Pertama : Upaya mengatasi dismenore Dari hasil penelitian, upaya untuk mengatasi dismenore didapatkan lima kategori, yaitu mendengarkan musik, memakai minyak kayu putih, mengkonsumsi obat penghilang nyeri, istirahat, dan kompres hangat.

a. Mendengarkan musik Upaya yang dilakukan informan untuk mengatasi dismenore yaitu mendengarkan musik, hal tersebut diungkapkan informan melalui kutipan peryataan berikut ini :

“palingan dengerin musik untuk ngalihkan rasa

sakitnyo

b. Memakai minyak kayu putih Upaya lain yang juga dilakukan informan

untuk mengatasi dismenore adalah dengan memakai minyak kayu putih seperti yang terlihat dari kutipan pernyataan berikut :

lagi timbul raso sakit tuh kadang diolesi ”

samo minyak kayu putih

Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi

pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

(I-1)

kalau “

(I-4)

melalui pernyataan berikut ini: (I-1) kalau “ (I-4) Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi
melalui pernyataan berikut ini: (I-1) kalau “ (I-4) Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi

Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi Dismenore Sutrisari Sabrina Nainggolan

143

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 “ digosok pake minyak kayu putih ”

digosok

pake minyak kayu putih

(I-7)

Pernyataan informan juga didukung dengan

hasil observasi pada saat dilakukan wawancara dengan informan, dari hasil observasi di ruang laboratorium keperawatan terdapat minyak kayu putih yang terletak di dalam lemari obat.

c. Mengkonsumsi obat penghilang nyeri Informan juga mengkonsumsi obat penghilang

nyeri untuk mengatasi nyeri dismenore yang dirasakannya, hal tersebut diungkapkan informan melalui kutipan peryataan berikut ini :

(I-4)

Pernyataan-pernyataan informan tersebut didukung oleh pernyataan dari petugas laboratorium keperawatan di kampus informan yang juga menjadi pengelola klinik STIK Bina Husada Palembang, seperti terungkap melalui pernyataan berikut ini:

kito siapke obat menurunkan raso

nyerinyo, kadang mahasiswa bawak dewek dari

rumahnyo obat

d. Istirahat Upaya lain yang dilakukan oleh informan

untuk megatasi nyeri dismenore adalah dengan beristirahat. Hal tersebut didapat dari pernyataan :

kalo lagi timbul raso sakit tuh diistirahatkan, gek

e. Kompres hangat

tetiduk dewek

kalau

raso sakitnyo dak hilang jugo, beli obat

kadang-kadang

(I-7)

(I-2)

Upaya selanjutnya yang dilakukan informan untuk mengatasi nyeri dismenore adalah kompres hangat. Hal tersebut didapat dari pernyataan informan lima berikut ini :

“di kompres bae pake banyu anget

(I-5)

2) Tema Kedua : Alasan mahasiswi melakukan upaya untuk mengatasi dismenore Berdasarkan hasil penelitian mengenai alasan mahasiswi keperawatan melakukan upaya untuk

mengatasi dismenore didapatkan dua kategori, yaitu membuat nyaman dan nyeri cepat berkurang.

a. Membuat nyaman Alasan mahasiswi melakukan upaya untuk mengatasi dismenore yang pertama adalah karena menurut mereka dengan melakukan upaya tersebut

membuat mereka merasa nyaman, seperti terlihat pada pernyataan berikut :

kadang kalau dengerin musik tuh merasa tenanng,

nyaman jadinyo agak berkurang raso sakitnyo

b. Nyeri cepat berkurang

Alasan lain mahasiswi melakukan upaya untuk mengatasi dismenore yang pertama adalah karena menurut mereka dengan melakukan upaya tersebut

nyeri cepat berkurang, seperti terlihat pada pernyataan berikut :

kalau minum obat tu ee berapo menit kemudian

raso sakitnyo tuh berkurang

Upaya yang digali peneliti dari informan meliputi upaya untuk mengatasi nyeri haid dan alasan melakukan tindakan tersebut. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa upaya yang dilakukan mahasiswi

PSIK untuk mengatasi nyeri haid adalah mendengarkan musik, memakai minyak kayu putih,

(I-1)

yo

(I-4)

minum obat penghilang nyeri, istirahat, dan kompres hangat.

Dismenore bukanlah gangguan tidak berbahaya untuk kesehatan, sehingga penderita hanya perlu di berikan nasihat mengenai makanan sehat, istirahat cukup, dan olahraga teratur. Kadang-kadang juga perlu psikoterapi (Prawirohardjo, 2007) Hasil tersebut memiliki persamaan dan perbedaan dengan hasil penelitian yang didapatkan oleh Sari (2010). Dalam penelitiannya, Sari (2010) mendapatkan tindakan untuk mengatasi nyeri dismenore dilakukan dengan tindakan non farmakologi dan farmakologi. Tindakan non farmakologi yaitu dengan cara dikerok, diurut/masase, dikompres air hangat, tidur dan istirahat, serta berolahraga. Sedangkan tindakan farmakologi yaitu dengan cara minum obat anti nyeri. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas dan faktor dukungan (support) (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuann, sikap dan tindakan mahasiswi keperawatan saling berhubungan. Pengetahuan dan sikap mahasiswi keperawatan dalam mengatasi dismenore sangatlah penting dalam mendukung terwujudnya suatu tindakan. Hanya saja untuk mewujudkan tindakan tersebut akan dipengaruhi oleh faktor baik dari dalam diri maupun di luar diri individu.

4 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut:

4.1.1 Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenore Berdasarkan hasil penelitian untuk tujuan khusus pengetahuan remaja putri tentang dismenore didapatkan tiga tema yaitu pengertian dismenore, penyebab dismenore serta tanda dan gejala dismenore. Untuk tema pertama mengenai pengertian dismenore didapatkan satu kategori yaitu nyeri ketika menstruasi. Tema kedua mengenai penyebab dismenore didapatkan tiga kategori yaitu kurang olahraga, pola makan dan stress. Tema ketiga mengenai tanda dan gejala dismenore didapatkan enam kategori yaitu nyeri, keluar flek, badan terasa lemas/ pegal-pegal, pusing, kram dan emosi meningkat.

4.1.2 Respon Remaja Putri Saat Mengalami Dismenore Berdasarkan hasil penelitian untuk tujuan khusus respon remaja putri saat mengalami dismenore didapatkan dua tema, yaitu respon fisik dan respon psikis. Respon fisik dismenore yang didapat dari hasil penelitian terdiri dari enam kategori, yaitu nyeri, nafsu makan menurun, lemas, susah tidur, aktivitas terganggu, dan pingsan. Tema yang kedua mengenai respon psikis dismenore didapatkan tiga kategori yaitu menangis, malas dan gelisah.

didapatkan tiga kategori yaitu menangis, malas dan gelisah. Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi
didapatkan tiga kategori yaitu menangis, malas dan gelisah. Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi

Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi Dismenore Sutrisari Sabrina Nainggolan

144

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012

Jurnal Kesehatan Bina Husada, Volume 8 No.3, Desember 2012 4.1.3 Upaya Remaja Putri Dalam Mengatasi Dismenore

4.1.3 Upaya Remaja Putri Dalam Mengatasi Dismenore Berdasarkan hasil penelitian untuk upaya remaja putri dalam mengatasi dismenore didapatkan dua tema yaitu upaya mengatasi dismenore dan alasan melakukan upaya untuk mengatasi dismenore. Tema pertama mengenai upaya untuk mengatasi dismenore didapatkan lima kategori, yaitu mendengarkan musik, memakai minyak kayu putih, mengkonsumsi obat penghilang nyeri, istirahat, dan kompres hangat. Tema kedua mengenai alasan remaja putri melakukan upaya untuk mengatasi dismenore didapatkan dua kategori, yaitu membuat nyaman dan nyeri cepat berkurang.

4.2 Saran 4.2.1 Bagi STIK Bina Husada Palembang Hasil penelitian ini dapat dijadikan untuk pengembangan pembelajaran mengenai intervensi dalam mengatasi dismenore. 4.2.2 Bagi Peneliti Berikutnya Penulis mengharapkan kepada peneliti berikutnya untuk mengembangkan penelitian ini ditinjau dari aspek yang berbeda, sehingga dapat memberikan wacana dan referensi bagi profesi keperawatan dalam upaya mengatasi dismenore.

DAFTAR PUSTAKA Anurogo, D &Wulandari, A. 2011. Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid. Yogyakarta :

ANDI.

Hernatati, et all. 2012. Mekanisme Koping Mahasiswi Keperawatan Dalam Menghadapi Dismenore. Semarang :

Program Studi Keperawatan Purwokerto, Poltekes Semarang.

Rakhma, Astrida. 2012. Gambaran Derajat Dismenore Dan Upaya Penanganannya Pada Siswi Sekolah Menengah Kejuruan Arjuna Depok Jawa Barat. Jakarta :

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Sari, Kartika. 2010. Pengalaman Remaja Putri Dalam Mengatasi Nyeri Dysmenorrhea Di SMP Muhammadiyah Palembang. Palembang : Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Husada.

Kusmiran, E. 2011. Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Wanita. Jakarta : Salemba Medika.

Notoatmodjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Manusia. Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo. S. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Prawirohardjo. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saryono & Anggraeni, M. D. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika.

Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi
. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi

Perilaku Mahasiswi Keperawatan Dalam Upaya Mengatasi Dismenore Sutrisari Sabrina Nainggolan

145