Anda di halaman 1dari 12

PENYEBAB TINGGINYA PESERTA BPJS YANG BELUM

MENGIKUTI PROGRAM PROLANIS DI PUSKESMAS


BRONDONG

Mini Project Ini Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Program Internship Dokter
Indonesia di Puskesmas Brondong

Disusun oleh :

dr. Santo Juliansyah

Pembimbing :

dr. Hj. Khoiriyah

PUSKESMAS BRONDONG

LAMONGAN

2017
LATAR BELAKANG

Saat ini Indonesia mengalami transisi epidemiologi, dimana terjadi penurunan prevalensi

penyakit menular namun terjadi peningkatan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) atau

penyakit degeneratif. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan Survei

Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001, tampak bahwa selama 12 tahun (1995-

2007) telah terjadi transisi epidemiologi dimana kematian karena penyakit tidak menular semakin

meningkat, sedangkan kematian karena penyakit menular semakin menurun, diketahui bahwa

terjadi penurunan proporsi penyakit menular dari 44,2% menjadi 28,1% akan tetapi terjadi

peningkatan pada proporsi PTM dari 41,7% menjadi 59,5% (Riskesdas, 2007).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan masalah yang ditemukan pada

masyarakat baik di negara maju maupun berkembang termasuk Indonesia. Hipertensi merupakan

suatu keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan

diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg. Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis

yaitu hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder

yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, dan gangguan

anak ginjal. Hipertensi seringkali tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah yang terus-

menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu,

hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala (Sidabutar,

2009).

Menurut WHO (World Health Organization) dan ISH (the International Society of

Hypertension) tahun 2003, terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta di

antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap 10 penderita hipertensi tidak mendapatkan
pengobatan yang memenuhi syarat. Berdasarkan hasil Riskesdas (2007), prevalensi penyakit

hipertensi di Indonesia sebesar 31,7% dan di Provinsi Jawa Timur sebesar 37,4%. Berdasarkan

data pola 10 besar penyakit terbanyak di Indonesia tahun 2010, jumlah kasus hipertensi sebanyak

8.423 pada laki-laki dan 11.45 pada perempuan. Penyakit ini termasuk dalam kategori penyakit

dengan angka kematian tertinggi setelah pneumonia yaitu 4,81% (Kemenkes RI, 2011).

Diabetes merupakan sindrom atau kumpulan gejala penyakit metabolik yang ditandai

dengan hiperglikemia akibat kekuragnan insulin, gangguan kerja insulin, tau kombinasi keduanya

(ADA, 2013). Ada beberapa jenis diabetes melitus (DM) yaitu diabetes melitus tipe 1, diabetes

melitus tipe 2, diabetes melitus tipe gestasional, dan diabetes melitus tipe lainnya. Jenis diabetes

melitus yang paling banyak diderita adalah DM tipe 2 (ADA, 2013)

Berdasarkan data penyakit terbanyak di seluruh rumah sakit Provinsi Jawa Timur 2010

terjadi 4,89% kasus hipertensi esensial dan 1,08% kasus hipertensi sekunder. Menurut STP

(Surveilans Terpadu Penyakit) Puskesmas di Jawa Timur total penderita hipertensi di Jawa Timur

tahun 2011 sebanyak 285.724 pasien. Jumlah tersebut terhitung mulai bulan Januari hingga

September 2011. Dengan jumlah penderita tertinggi pada bulan Mei 2011 sebanyak 46.626 pasien

(Dinkes Jatim, 2011). Prevalensi penderita hipertensi sebesar 13,04% atau 23055 kasus menurut

STP Puskesmas di Lamongan tahun 2014.

Menurut laporan Riskesdas tahun 2013, Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu

wilayah di Indonesia dengan prevalensi penderita DM sebesar 2,1% (Riskesdas 2013).

Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (2012) berdasarkan

10 pola penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit tipe B diabetes melitus

merupakan penyakit terbanyak nomor dua setelah hipertensi yakni sebanyak 102.399 kasus.
Prevalensi penderita diabetes mellitus sebesar 5,7% atau 10094 kasus menurut STP Puskesmas di

Lamongan tahun 2014. Penyakit DM dan hipertensi biasanya dapat ditangani di pemberi pelayanan

kesehatan tingkat pertama, salah satunya puskesmas.

Indonesia tentunya memiliki upaya-upaya untuk mengatasi terjadinya peningkatan

penyakit degeneratif. Pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tentunya dilakukan segala

upaya untuk mensejahterakan kesehatan masyarakat seluruh Indonesia termasuk upaya untuk

mengatasi penyakit degeneratif yang semakin meningkat. Pembiayaan yang dikeluarkan Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk penyakit degeneratif cukup besar terutama

untuk penyakit-penyakit kronis seperti penyakit jantung koroner, gagal ginjal, stroke, DM dan

penyakit degeneratif lainnya. Sehingga BPJS kesehatan melakukan upaya promotif dan preventif

untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit dan peningkatan penyakit degeneratif, agar

pembiayaan kesehatan untuk penyakit degeneratif dapat diminimalisir serta dapat memberi

kesejahteraan terhadap kesehatan para peserta pengguna BPJS Kesehatan. Salah satu upaya

promotif dan preventif yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan adalah Program Pengelolaan Penyakit

Kronis (Prolanis).

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) adalah suatu sistem pelayanan

kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan peserta,

fasilitas kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS

Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan

biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan, 2014). Adanya program

Prolanis ini untuk meningkatkan kualitas hidup peserta BPJS yang menderita penyakit kronis

terutama diabetes melitus (DM) tipe II dan hipertensi. Prolanis ini dilaksanakan oleh fasilitas

kesehatan tingkat pertama (FKTP) baik FKTP pemerintah maupun FKTP swasta.
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat

pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes RI No.75 Tahun

2014). Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan kontak pertama diharapkan mampu menyelesaikan

permasalahan kesehatan sampai di tingkat primer saja dan mengurangi jumlah pasien yang dirujuk.

Berdasarkan peraturan BPJS No. 2 Tahun 2015 dinyatakan bahwa sistem pembayaran dari BPJS

ke FKTP adalah dengan sistem kapitasi, dimana dilakukan dengan kapitasi berbasis pemenuhan

komitmen pelayanan. Kapitasi berbasis pemenuhan komitmen layanan ini adalah penyesuaian

besaran tarif kapitasi berdasarkan hasil penilaian pencapaian indikator pelayanan kesehatan

perseorangan yang disepakti berupa komitmen pelayanan FKTP dalam rangka peningkatan mutu

layanan. Indikator komitmen pelayanan yang dilakukan oleh FKTP adalah angka kontak (AK),

rasio rujukan rawat jalan non spesialistik (RRNS), dan rasio peserta Prolanis rutin berkunjung ke

FKTP (RPPB).

Kapitasi berbasis pemenuhan komitmen layanan ini mewajibkan setiap FKTP untuk

melaksanakan Prolanis, karena Prolanis ini merupakan salah satu indikator yang dinilai. Selain itu

melalui Prolanis diharapkan FKTP mampu menurunkan angka kejadian PTM terutama untuk

penyakit DM tipe II dan hipertensi, karena penyakit tersebut dirasa mampu ditangani di FKTP dan

dapat melakukan deteksi dini terkait penyakit tersebut. Saat ini sebagian besar FKTP pemerintah

atau puskesmas sudah bekerjasama dengan BPJS kesehatan. Untuk di Kabupaten Lamongan

tercatat ada 33 puskesmas yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Puskesmas se-Kabupaten Lamongan sudah secara aktif melaksanakan kegiatan Prolanis.

Rasio kunjungan merupakan indikator yang dinilai dari implementasi Prolanis, dimana jika rasio
kunjungan Prolanis tinggi dapat diasumsikan bahwa implementasi Prolanis yang dilakukan FKTP

lebih aktif, begitu pula sebaliknya. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui hambatan-

hambatan serta permasalahan yang dialami saat pelaksanaan program. Penelitian ini dapat menjadi

acuan untuk pelaksanaan Prolanis kedepannya agar lebih baik dan dapat memfasilitasi peserta

BPJS Kesehatan serta dapat mencapai target yang telah ditentukan sehingga mampu mencapai

derajat kesehatan yang optimal.

Pernyataan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perumusan masalah mini

project ini adalah :

1. Apakah penyebab tingginya peserta BPJS yang tidak mengikuti program Prolanis di

puskesmas brondong?

2. Bagaimana cara penyampaian informasi kepada peserta BPJS yang tidak mengikuti

program Prolanis di puskesmas brondong?

Tujuan

1. Mengetahui penyebab tingginya peserta BPJS yang tidak mengikuti program Prolanis di

puskesmas brondong

2. Mengetahui cara penyampaian informasi kepada peserta BPJS yang tidak mengikuti

program Prolanis di puskesmas brondong


Manfaat

Diharapkan informasi dari mini poject ini dapat memberikan informasi tentang penyebab

peserta BPJS yang tidak mengikuti pelaksanaan Prolanis bagi masyarakat dan semua tenaga

kesehatan yang terlibat, sehingga dapat menjadi evaluasi bagi pelaksanaan Prolanis oleh tenaga

kesehatan di Puskesmas Brondong.


A. PROLANIS

1. Pengertian Prolanis

PROLANIS merupakan suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang

dilaksanakan secara terintegratif yang melibatkan peserta, Fasilitas Kesehatan, dan BPJS

Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita

penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan

yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan, 2014).

2. Tujuan Prolanis

Mendorong peserta penyandang penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang

optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes Tingkat Pertama

memliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM tipe II dan Hipertensi

sesuai Panduan Klinis terkait sehingga mencegah timbulnya komplikasi penyakit. (BPJS

Kesehatan, 2014).

3. Sasaran Prolanis

Sasaran dari Pronalis sendiri merupakan seluruh peserta BPJS penyandang penyakit kronis

(Diabetes Melitus tipe II dan Hipertensi). Dengan penanggung jawab program ini adalah Kantor

Cabang BPJS Kesehatan bagian Manajemen Pelayanan Primer (BPJS Kesehatan, 2014).

4. Bentuk Pelaksanaan / Aktifitas Prolanis

Aktifitas Prolanis dilaksanakaan dengan mencakup 5 metode, yaitu :

1) Konsultasi Medis
Dilakukan dengan cara konsultasi medis antara peserta Prolanis dengan tim medis,

jadwal konsultasi disepakati bersama antara peserta dengan Faskes Pengelola.

2) Edukasi Kelompok Peserta Prolanis

Edukasi klub Resiko Tinggi (Klub Prolanis) adalah kegiatan untuk meningkatkan

pengetahuan kesehatan dalam upaya memulihkan penyakit dan mencegah timbulnya

kembali penyakit serta meningkatkan status kesehatan bagi peserta prolanis.

Sasaran dari metodi ini yaitu, terbentuknya kelompok peserta (Klub) Prolanis minimal

1 Faskes Pengelola 1 Klub. Pengelompokan diutamakan berdasarkan kondisi kesehatan

peserta dan kebutuhan edukasi.

3) Reminder melalui SMS Gateway

Reminder adalah kegiatan untuk memotivasi peserta untuk melakukan kunjungan rutin

kepada Faskes Pengelola melalui peringatan jadwal konsultasi ke Faskes Pengelola tersebut.

Sasaran dari hal ini adalah tersampaikannya reminder jadwal konsultasi peserta ke masing

masing Faskes Pengelola.

4) Home Visit

Home visit adalah kegiatan pelayanan kunjungan kerumah peserta Prolanis untuk

pemberian informasi / edukasi kesehatan diri dan lingkungan bagi peserta Prolanis dan

keluarga.

Sasaran :
Peserta Prolanis dengan kriteria :

Peserta baru terdaftar,

Peserta tidak hadir terapi di Dokter praktek perorangan / Klinik / Puskesmas selama 3

bulan berturut turut,

Peserta dengan GDP/GDPP dibawah standar 3 bulan berturut turut,

Peserta dengan tekanan darah tidak terkontrol 3 bulan berturut turut,

Peserta pasca opname.

5) Pemantauan status kesehatan (Skrinning kesehatan)

Mengontrol riwayar pemeriksaan kesehatan untuk mencegah agar tidak terjadi

komplikasi atau penyakit berlanjut (BPJS Kesehatan, 2014).

5. Langkah-langkah Pelaksanaan

Menurut BPJS Kesehatan (2014), Berikut Tahap- tahap Persiapan Pelaksanaan Prolanis :

1) Melakukan identifikasi data peserta sasaran berdasarkan :

a. Hasil skrinning riwayat kesehatan

b. Hasil diagnosa DM dan HT (pada Faskes tingkat pertama maupun RS)

2) Menentukan target sasaran,

3) Melakukan pemetaan Faskes dokter keluarga / Puskesmas distribusi berdasarkan distribusi

target sasaran peserta,

4) Menyelenggarakan sosialisasi Prolanis kepada Faskes pengelola


5) Melakukan pemetaan jejaring Faskes pengelola (Apotek, Laboratorium),

6) Permintaan pernyataan kesediaan jejaring Faskes untuk melayani peserta Prolanis,

7) Melakukan sosialisasi Prolanis kepada peserta (Instansi, pertemuan kelompok pasien

kronis di RS, dan lain lain),

8) Penawaran kesediaan terhadap peserta penyandang Diabetes Melitus tipe II dan

Hipertensi untuk bergabung dalam Prolanis,

9) Melakukan verifikasi terhadap kesesuaian data diagnose dengan form kesediaan yang

diberikan oleh calon peserta Prolanis,

10) Mendistribusikan buku pemantauan kesehatan kepada peserta terdaftar Prolanis,

11) Melakukan Rekapitulasi daftar peserta,

12) Melakukan entri data peserta dan pemberian flag bagi peserta prolanis,

13) Melakukan distribusi data peserta prolanis sesuai Faskes pengelola,

14) Bersama dengan Faskes melakukan rekapitulasi data pemeriksaan status peserta, meliputi

pemeriksaan GDP, GDPP, Tekanan Darah, IMT, HbA1C. Bagi peserta yang belum

dilakukan pemeriksaan, harus segera dilakukan pemeriksaan,

15) Melakukan rekapitulasi data hasil pencatatan status kesehatan awal peserta per Faskes

pengelola (Data merupakan iuran aplikasi P Care),

16) Melakukan monitoring aktifitas Prolanis pada masing masing Faskes Pengelola :

a. Menerima laporan aktifitas Prolanis dari Faskes pengelola,

b. Menganalisa data.

17) Menyusun umpan balik kinerja Faskes Prolanis, dan

18) Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional / Kantor Pusat.


Hipertensi

Diabetes Mellitus