Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara


terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Diperkirakan hampir
seperlima kematian anak diseluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita,
meninggal setiap tahun akibat pneumonia (Afrika dan Asia Tenggara). Insiden
pneumonia pada anak kurang dari 5 tahun di negara maju adalah 2-4 kasus/ 100
anak / tahun, sedangkan di negara berkembang 10-20 kasus/ 100 anak / tahun. Di
Indonesia sendiri terjadi kematian bayi sebesar 27,6% dan kematian balita sebesar
22,8% karena pneumonia.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko kejadian dan derajat pneumonia
antara lain, defek anatomi bawaan, defisit imunologi, polusi, GER
(gastroesophageal reflux), aspirasi, gizi buruk, berat badan lahir rendah, tidak
mendapatkan air susu ibu (ASI), imunisasi tidak lengkap, adanya saudara serumah
yang menderita batuk, dan kamar tidur yang terlalu padat penghuninya.
Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru, yang sebagian
besar disebabkan oleh mikroorganisme (virus/bakteri) dan sebagian kecil oleh
karena hal lain (aspirasi). Pneuomonia oleh karena bakteri biasanya awitannya
cepat, batuk produktif, pasien tampak toksik, leukositosis, dan perubahan nyata
pada pemeriksaan radiologis. Bakteri yang paling sering sebagai penyebab
pneumonia di negara berkembang adalah Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus.

1
BAB II

PNEUMONIA

2.1 Definisi
Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru, peradangan
pada paru dimana proses peradangannya ini menyebar membentuk bercak-bercak
infiltrat yang berlokasi di alveoli paru dan dapat pula melibatkan bronkiolus
terminal. Walaupun banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia adalah
suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk merumuskan satu definisi
tunggal yang universal. Pneumonia adalah sindrom klinis, sehingga didefinisikan
berdasarkan gejala dan tanda klinis, dan perjalanan penyakitnya. Salah satu
definisi klinis klasik menyatakan pneumonia adalah penyakit respiratorik yang
ditandai dengan batuk, sesak napas, demam, ronki basah, dengan gambaran
infiltrat pada foto rontgen toraks. Dikenal istilah lain yang mirip yaitu
pneumonitis yang maksudnya lebih kurang sama. Banyak yang menganut
pengertian bahwa pneumonia adalah inflamasi paru karena proses infeksi
sedangkan pneumonitis adalah inflamasi paru non-infeksi. Namun hal inipun tidak
sepenuhnya ditaati oleh para ahli. 8

2.2 Klasifikasi
WHO merekomendasikan penggunaan peningkatan frekuensi napas dan
retraksi subkosta untuk mengklasifikasikan pneumonia di negara berkembang.
Namun demikian, kriteria tersebut mempunyai sensitivitas yang buruk untuk anak
malnutrisi dan sering overlapping dengan gejala malaria. Klasifikasi pneumonia
berdasarkan WHO : 8
Bayi kurang dari dua bulan
o Pneumonia berat : napas cepat atau retraksi yang berat
o Pneumonia sangat berat : bayi tidak mau menetek / minum,
kejang, letargis, demam atau hipotermia, bradipnea atau
pernapasan iregular

2
Anak umur 2 bulan hingga 5 bulan
o Pneumonia ringan : napas cepat
o Pneumonia berat : retraksi
o Pneumonia sangat berat : tidak dapat minum / makan,
kejang, letargis, malnutrisi

2.3 Epidemiologi
Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah
kesehatan utama pada anak di negara berkembang. Pneumonia merupakan
penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima
tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian anak diseluruh
dunia, lebih kurang 2 juta anak balita, meninggal setiap tahun akibat
pneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Menurut
survei kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi dan 22,8%
kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit sistem pernapasan,
terutama pneumonia. 1

2.4 Etiologi
Tabel 1. Etiologi Pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia di negara
maju.5

Usia Etiologi yang Sering Etiologi yang Jarang


Lahir-20 hari Bakteri Bakteri
E. colli Bakteri anaerob
Streptococcus group B Streptococcus group D
Listeria moonocytogenes Haemophillus influenzae
Streptococcus
pneumoniae
Ureaplasma urealyticum
Virus
Virus Sitomegalo

3
Virus Herpes Simpleks

Usia Etiologi yang Sering Etiologi yang Jarang


3 minggu-3 bulan Bakteri Bakteri
Chlamydia trachomatis Bordetella pertussis
Streptococcus Haemophillus influenzae
pneumoniae tipe B
Virus Moraxella catharalis
Virus Adeno Staphylococcus aureus
Virus Influenza Ureaplasma urealyticum
Virus Parainflueza 1,2,3 Virus
Respiratory Syncytial Virus Sitomegalo
virus

Usia Etiologi yang Sering Etiologi yang Jarang


4 bulan-5 tahun Bakteri Bakteri
Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae
tipe B
Mycoplasma pneumoniae Moraxella catharalis
Streptococcus Neisseria meningitidis
pneumoniae
Virus Staphylococcus aureus
Virus Adeno Virus
Virus Influenza Virus Varisela-Zoster
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncytial
virus

4
Usia Etiologi yang Sering Etiologi yang Jarang
5 tahun-remaja Bakteri Bakteri
Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenzae
Mycoplasma pneumoniae Legionella sp
Streptococcus Staphylococcus aureus
pneumoniae
Virus
Virus Adeno
Virus Epstein-Barr
Virus Influenza
Virus Parainfluenza
Virus Rino
Respiratory Syncytial
virus
Virus Varisela-Zoster

2.5 Patogenesis 2,3

Proses patogenesis terkait dengan 3 faktor, yaitu imunitas host,


mikroorganisme yang menyerang, dan lingkungan yang berinteraksi. Cara
terjadinya penularan berkaitan dengan jenis kuman, misalnya infeksi melalui
droplet sering disebabkan Streptococcus pneumonia, melalui selang infus oleh
Staphylococcus aureus, sedangkan infeksi pada pemakaian ventilator oleh
Enterobacter dan P. aeruginosa. Pada masa sekarang, terlihat perubahan pola
mikrorganisme adanya perubahan keadaan pasien seperti gangguan kekebalan,
penyakit kronik, polusi lingkungan, dan penggunaan antibiotic yang tidak tepat
menimbulkan perubahan karakteristik kuman. Dijumpai peningkatan pathogenesis
kuman akibat adanya berbagai mekanisme terutama oleh S. aureus, H. influenza
dan Enterobacteriaceae serta berbagai bakteri gram negative.
Patogen mikrobial dapat berasal dari flora orofaringeal termasuk S.
pneumonia, S. pyogens, M. pneumonia, H. influenza, Moraxalla catarrhalis.

5
Kolonisasi bakteri ini meningi merusak fibronektin, glikoprotein yang melapisi
permukaan mukosa. Fibronektin merupakan reseptor bagi flora normal gram
positif orofaring. Hilangnya fibronektin menyebabkan reseptor pada permukaan
sel terpajan oleh bakteri gram negative. Sumber basil gram negative dapat berasal
dari lambung pasien sendiri atau alat respirasi yang tercemar.
Penyebaran hematogen ke seluruh paru biasanya dengan infeksi S. aureus
dapat terjadi pada pasien seperti pada keadaan penyalahgunaan obat melalui
intravena, atau pada pasien dengan infeksi akibat kateter intravena. Dua jalur
penyebaran bakteri ke paru lainya adalah melalui jalan inokulasi langsung sebagai
akibat intubasi trakeaatau luka tusuk dada yang berdekatan denga tempat infeksi
yang berbatasan.
Usia merupakan predictor lain yang penting untuk meramalkan
mikroorganisme penyebab infeksi. Chlamidia trachomatis dan virus sisitial
pernafasan sering terdapat pada bayi berusia dibawah 6 bulan. H. influenza pada
anak berusia antara 6 bulan sampai 5 tahun, M. pneumonia dan C. pneumonia
pada orang dewasa muda dan H. influenza serta M. catarrhalis pada pasie lanjut
usia dengan penyakit paru kronis. H. influenza juga lebih sering didapatkan pada
pasien perokok. Bakteri gram negative lebih sering pada pasien lansia.
Pseudomonas aeruginosa pada pasien bronkiektasis, terapi steroid, malnutrisi dan
imunisupresi disertai lekopeni.
Bakteri Streptococcus pneumoniae umumnya berada di nasopharing dan
bersifat asimptomatik pada kurang lebih 50% orang sehat. Adanya infeksi virus
akan memudahkan Streptococcus pneumoniae berikatan dengan reseptor sel epitel
pernafasan. Jika Streptococcus pneumoniae sampai di alveolus akan menginfeksi
sel pneumatosit tipe II. Selanjutnya Streptococcus pneumoniae akan mengadakan
multiplikasi dan menyebabkan invasi terhadap sel epitel alveolus. Streptococcus
pneumoniae akan menyebar dari alveolus ke alveolus melalui pori dari Kohn.
Bakteri yang masuk kedalam alveolus menyebabkan reaksi radang berupa edema
dari seluruh alveolus disusul dengan infiltrasi sel-sel PMN.

6
Proses radang dapat dibagi atas 4 stadium yaitu :

1. Stadium I (4 12 jam pertama atau kongesti)


Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang
berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan
peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi.
Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari
sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-
mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel
mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama
dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler
paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru.

Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang


interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan
alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan
jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka
perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering
mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

2. Stadium II (48 jam berikutnya)

Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah
merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai
bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh
karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna
paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini
udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah
sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.

7
Gambar 1. tampak alveolus terisi sel darah merah dan sel sel inflamasi (netrofil)

3. Stadium III (3 8 hari)

Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih


mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin
terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa
sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap
padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu
dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

Gambar 2. tampak alveolus terisi dengan eksudat dan netrofil

4. Stadium IV (7 11 hari)
Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan
peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh
makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

8
Sebagian besar pneumonia timbul melalui mekanisme aspirasi kuman atau
penyebaran langsung kuman dari respiratorik atas. Hanya sebagian kecil
merupakan akibat sekunder dari bakterimia atau viremia atau penyebaran dari
infeksi intra abdomen. Dalam keadaan normal mulai dari sublaring hingga unit
terminal adalah steril. Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan
mikroorganisme di paru. Keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme
pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh,
mikroorganisme dan lingkungan, maka mikroorganisme dapat masuk,
berkembang biak dan menimbulkan penyakit.
Paru terlindung dari infeksi dengan beberapa mekanisme :
Filtrasi partikel di hidung
Pencegahan aspirasi dengan refleks epiglottis
Ekspulsi benda asing melalui refleks batuk
Pembersihan kearah kranial oleh mukosiliar
Fagositosis kuman oleh makrofag alveolar
Netralisasi kuman oleh substansi imun lokal
Drainase melalui sistem limfatik.

9
2.6 Manifestasi Klinis
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas
bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak
sampai 390-400C dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi.
Anak sangat gelisah, dispnea, pernafasan cepat dan dangkal disertai
pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk
biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan mendapat batuk
setelah beberapa hari, di mana pada awalnya berupa batuk kering
kemudian menjadi produktif. 2,8

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Inspeksi : pernafasan cuping hidung (+), sianosis sekitar hidung


dan mulut, retraksi sela iga.
Palpasi : Stem fremitus yang meningkat pada sisi yang sakit.
Perkusi : Sonor memendek sampai beda
Auskultasi : Suara pernafasan mengeras (vesikuler mengeras)
disertai ronki basah gelembung halus sampai sedang.

Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisik tergantung pada


luasnya daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak dijumpai
adanya kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah
gelembung halus sampai sedang. Pada stadium resolusi ronki dapat
terdengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya proses penyembuhan dapat
terjadi antara 2-3 minggu. 2,8

10
2.7 Diagnosis
Anamnesis
Gejala yang sering ditemukan adalah, batuk yang awalnya kering,
kemudian menjadi produktif dengan dahak purulen bahkan bisa berdarah,
sesak napas, demam, kesulitan untuk makan atau minum, anak tampak lemah.
Perlu ditanyakan apakah ini merupakan serangan pertama atau berulang,
untuk membedakan dengan kondisi imunokompromais, kelainan anatomi
bronkus, atau asma.8

Pemeriksaan Fisik

Penilaian keadaan umum anak, frekuensi napas, dan nadi harus dilakukan
pada saaat awal pemeriksaan sebelum pemeriksaan lain yang dapat
menyebabkan anak gelisah atau rewel. Penilaian keadaan umum antara lain
meliputi kesadaran dan kemampuan makan atau minum. Gejala distres
pernapasan seperti takipnea, retraksi subkostal, napas cuping hidung, batuk,
krepitasi, dan penurunan suara paru, demam, dan sianosis. Anak di bawah 5
tahun mungkin tidak menunjukkan gejala pneumonia yang klasik. Pada anak
yang demam dan sakit akut, terdapat gejala nyeri yang diproyeksikan ke
abdomen. Pada bayi muda, terdapat gejala pernapasan tidak teratur dan
hipopnea. 8

Kriteria takipnea menurut WHO, usia kurang dari dua bulan apabila
pernapasan 60 kali / menit. Usia 2 hingga 12 bulan 50 kali / menit, usia
satu hingga 5 tahun pernapasan 40 kali / menit, usia 6 hingga 12 tahun 28
kali / menit. 8

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan secara rutin pada anak
dengan infeksi saluran napas bawah akut ringan tanpa komplikasi.
Pemeriksaan foto dada direkomendasikan pada penderita pneumonia yang
dirawat inap atau bila tanda klinis yang ditemukan membingungkan.

11
Pemeriksaan foto dada follow up hanya dilakukan bila didapatkan adanya
kolaps lobus, kecurigaan terjadinya komplikasi, pneumonia berat, gejala yang
menetap atau memburuk, atau tidak respons terhadap antibiotik. Pemeriksaan
foto dada tidak dapat mengindentifikasi agen penyebab.8

Gambar 1. Foto toraks pneumonia pada anak

Gambar 2. Foto toraks bronkopneumonia

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan jumlah leukosit dn hitung jenis leukosit perlu dilakukan
untuk membantu menentukan pemberian antibiotik. Pemeriksaan kultur dan
pewarnaan gram sputum dengan kualitas yang baik direkomendasikan dalam
tata laksana anak dengan pneumonia yang berat. Kultur darah tidak

12
direkomendasikan secara rutin pada pasien rawat jalan, tetapi
direkomendasikan pada pasien rawat inap dengan kondisi berat dan pada
setiap anak yang dicurigai menderita pneumonia bakterial. Pada anak kurang
dari 18 bulan, dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi antigen virus dengan
atau tanpa kultur virus jika fasilitas tersedia. Jika ada efusi pleura, dilakukan
punsi cairan pleura dan dilakukan pemeriksaan mikroskopi, kultur, serta
deteksi antigen bakteri (jika fasilitas tersedia) untuk penegakkan diagnosis dan
menentukan mulainya pemberian antibiotik. Pemeriksaan C-reactive protein
(CRP), LED, dan pemeriksaan fase akut lain tidak dapat membedakan infeksi
viral dan bakterial dan tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin.
Pemeriksaan uji tuberkulin selalu dipertimbangkan pada anak dengan riwayat
kontak dengan penderita TBC dewasa.8

2.8 Penatalaksanaan
Kriteria Rawat Inap8
Bayi:
Saturasi oksigen kurang dari atau sama dengan 92%, sianosis
Frekuensi napas lebih dari 60 kali per menit
Distres pernapasan, apnea intermiten, atau grunting
Tidak mau minum atau menetek
Keluarga tidak bisa merawat di rumah
Anak:
Saturasi oksigen kurang dari atau sama dengan 92%, sianosis
Frekuensi napas lebih dari 50 kali per menit
Distres pernapasan
Grunting
Terdapat tanda dehidrasi
Keluarga tidak bisa merawat di rumah

13
Tata Laksana Umum
Pasien dengan saturasi oksigen kurang dari atau sama dengan 92%
pada saat bernapas dengan udara kamar harus diberikan terapi oksigen
dengan kanul nasal, head box, atau sungkup untuk mempertahankan
saturasi oksigen lebih dari 92%. Pada pneumonia berat atau asupan per
oral kurang, diberikan cairan intravena dan dilakukan balans cairan ketat.
Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak
dengan pneumonia. Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk
menjaga kenyamanan pasien dan mengontrol batuk. Nebulisasi dengan 2
agonis dan atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki mucocilliary
clearance. Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi
setidaknya setiap 4 jam sekali, termasuk pemeriksaan saturasi oksigen.8

Antibiotik
Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada
anak kurang dari 5 tahun karena efektif melawan sebagian besar patogen
yang menyebabkan pneumonia pada anak, ditoleransi dengan baik, dan
murah, dosis amoksisilin yang diberikan adalah 25 mg/kgBB.
Kotrimoksazol juga dapat diberikan sebagai antibiotik oral, alternatif lain
adalah co-amoxiclav, ceflacor, eritromisin, claritromisin, dan azitromisin.
Dosis eritromisin 30-50 mg/kgBB/hari, diberikan setiap 6 jam selama 10-
14 hari. Klaritromisin diberikan 2 kali sehari dengan dosis 15 mg/kgBB.
Azitromisin 1 kali sehari 10mg/kgBB 3-5 hari (hari pertama) dilanjutkan
dengan dosis 5mg/kgBB untuk hari berikutnya.6,8
M. Pneumoniae lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua maka
antibiotik golongan makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara
empiris pada anak usia 5 tahun. Amoksisilin diberikan sebagai pilihan
pertama jika S. pneumoniae sangat mungkin sebagai penyebab. Jika S.
aureus dicurigai sebagai penyebab, diberikan makrolid atau kombinasi
flucloxacilin dengan amoksisilin.8

14
Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak
dapat menerima obat per oral ( misal karena muntah ) atau termasuk dalam
derajat pneumonia berat. Anitibiotik intravena yang dianjurkan adalah
ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime, dan
cefotaxime. 8

Antibiotik Dosis Frekuensi Relative Keterangan


cost
Penisilin G 50.000 unit/kg/kali, dosis Tiap 4 jam Rendah S. pneumonia
tunggal, maksimal
4.000.000 unit
Ampisilin 100 mg/kg/hari Tiap 6 jam Rendah
Kloramfenikol 100 mg/kg/hari Tiap 6 jam Rendah
Ceftriaxone 50 mg/kg/kali, dosis 1 x / hari Tinggi S. pneumoniae,
tunggal, maksimal 2 gram H. influenza
Cefotaxime 50 mg/kg/kali, dosis Tiap 8 jam Tinggi S. pneumonia,
tunggal maksimal 2 gram H. Influenza
Clindamycin 10 mg/kg/kali, dosis Tiap 6 jam Rendah Grup A
tunggal maksimal 1,2 gram Streptococcus,
S. aureus, S.
pneumoniae
Eritromisin 10 mg/kg/kali, dosis Tiap 6 jam Rendah S. pneumoniae,
tunggal maksimal 1 gram Chlamydia
pneumonia,
Mycoplasma
pneumonia

Tabel 2. Antibiotik intravena yang dapat digunakan pada pneumonia anak 8

15
Rekomendasi UKK Respirologi

Antibiotik untuk community acquired pneumonia, untuk neonatus


hingga usia 2 bulan, diberikan kombinasi ampisilin dan gentamisin. Untuk
bayi usia diatas 2 bulan lini pertama diberikan ampisilin, bila dalam 3 hari
tidak ada perbaikan dapat ditambahkan dengan kloramfenikol. Lini kedua
dapat diberikan seftriakson. Bila klinis perbaikan dengan pemberian
antibiotik intravena, dapat diganti preparat oral dengan antibiotik golongan
yang sama dengan antibiotik intravena sebelumnya.8

Nutrisi

Pada anak dengan distres pernapasan berat, pemberian makanan


per oral harus dihindari. Makanan dapat diberikan lewat nasogastric tube
(NGT) atau intravena. Tetapi harus diingat bahwa pemasangan NGT dapat
menekan pernapasan, khususnya pada bayi dan anak dengan ukuran
lubang hidung kecil. Jika memang dibutuhkan, sebaiknya menggunakan
ukuran yang terkecil. Perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar
anak tidak mengalami overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi
peningkatan sekresi hormon antidiuretik.8

2.9 Preventif
Pencegahan Primer
Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor resiko
terhadap kejadian pneumonia. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: 9
a. Memberikan imunisasi campak pada usia 9 bulan dan imunisasi
DPT (Dipteri, Pertusis, Tetanus) sebanyak 3 kali yaitu pada usia
2, 3, dan 4 bulan.
b. Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara memberikan ASI
pada bayi neonatal sampai berumur 2 tahun dan makanan yang
bergizi pada balita. Di samping itu, zat-zat gizi yang dikonsumsi
bayi dan anak-anak juga perlu mendapat perhatian.

16
c. Mengurangi polusi lingkungan seperti polusi udara dalam
ruangan dan polusi di luar ruangan.
d. Mengurangi kepadatan hunian rumah.

Pencegahan Sekunder

Tingkat pencegahan kedua ini merupakan upaya manusia untuk


mencegah orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas
penyakit, menghindari komplikasi, dan mengurangi ketidakmampuan.
Pencegahan sekunder meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat
sehingga dapat mencegah meluasnya penyakit dan ternjadinya komplikasi.
Upaya yang dapat dilakukan antara lain: 9

a. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan


antibiotik parenteral dan penambahan oksigen.
b. Pneumonia : diberikan antibiotik kotrimoksasol oral,
ampisilin, atau amoksisilin.
c. Bukan pneumonia : perawatan di rumah saja. Tidak diberikan
terapi antibiotik. Bila demam tinggi diberikan paracetamol.
Bersihkan hidung pada anak yang mengalami pilek dengan
menggunakan lintingan kapas yang diolesi air garam. Jika
anak mengalami nyeri tenggorokan, beri penisilin dan
dipantau selama 10 hari ke depan.

2.10 Prognosis
Dengan pemberian antiboitik yang tepat dan adekuat, mortalitas
dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi
energi protein dan yang datang terlambat menunjukan mortalitas yang
lebih tinggi. 1,3

17
BAB III
KESIMPULAN

Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara


terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Diperkirakan hampir
seperlima kematian anak diseluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita,
meninggal setiap tahun akibat pneumonia (Afrika dan Asia Tenggara). Insiden
pneumonia pada anak kurang dari 5 tahun di negara maju adalah 2-4 kasus/ 100
anak / tahun, sedangkan di negara berkembang 10-20 kasus/ 100 anak / tahun. Di
Indonesia sendiri terjadi kematian bayi sebesar 27,6% dan kematian balita sebesar
22,8% karena pneumonia.
Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak
kurang dari 5 tahun karena efektif melawan sebagian besar patogen yang
menyebabkan pneumonia pada anak, ditoleransi dengan baik, dan murah, dosis
amoksisilin yang diberikan adalah 25 mg/kgBB. Kotrimoksazol juga dapat
diberikan sebagai antibiotik oral, alternatif lain adalah co-amoxiclav, ceflacor,
eritromisin, claritromisin, dan azitromisin. Dosis eritromisin 30-50 mg/kgBB/hari,
diberikan setiap 6 jam selama 10-14 hari. Klaritromisin diberikan 2 kali sehari
dengan dosis 15 mg/kgBB. Azitromisin 1 kali sehari 10mg/kgBB 3-5 hari (hari
pertama) dilanjutkan dengan dosis 5mg/kgBB untuk hari berikutnya.
Dengan pemberian antiboitik yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat
diturunkan sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein
dan yang datang terlambat menunjukan mortalitas yang lebih tinggi.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Bronkopneumoni. Diunduh dari : http://id.scribd.com


2. Supriyatno B. Infeksi Respiratori Akut pada Anak. September 2006.
Diunduh dari : Sari Pediatri, Vol.8, No.2. h.100-6
3. Guyton, Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Buku Kedokteran EGC.
Jakarta : 1997. Hal 633.
4. Soeparman, Waspadji S. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta: 1999. hal: 695-705.
5. Pedoman Diganosis dan Terapi Kesehatan Anak, UNPAD, Bandung: 2005
6. Said M. Pneumonia. Buku Ajar Respiratori Anak. Edisi II. Ikatan Dokter
Anaka Indonesia. Jakarta: 2008.h.350-64.
7. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan
Dokter Paru Indonesia. Bandung: 2005.
8. Pedoman Pelayan Medis. Jilid 1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta:
2010.
9. Definisi Pneumoni. Diunduh dari : Chapter II.pdf

19