Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ketertarikan terhadap IPE terjadi secara universal sehingga banyak fakultas di


berbagai program keperawatan di Amerika Serikat dan negara-negara lain bersaing untuk
mendapatkan hibah dan dana bantuan untuk mendukung pendekatan yang beragam
terhadap IPE tanpa mempertanyakan maknanya dan implikasi makna nya (Fawcett et al.,
2014). Pada saat dunia menghadapi kekurangan tenaga kesehatan, pembuat kebijakan
mencari strategi inovatif yang dapat membantu mereka untuk mengembangkan kebijakan
dan program untuk meningkatkan tenaga kesehatan global. Interprofesional education
(IPE) merupakan salah satu sistem pendidikan yang dicetuskan WHO sebagai sistem
pendidikan yang terintegrasi untuk menyiapkan praktek kolaborasi. IPE terjadi ketika
dua atau lebih profesi belajar tentang dan satu sama lain dan mampu berkolaborasi secara
efektif dalam meningkatkan kesehatan (WHO, 2010). Pendidikan interprofessional
terjadi ketika siswa dari dua atau lebih profesi belajar tentang, dari dan satu sama lain
untuk memungkinkan kolaborasi efektif dan meningkatkan hasil kesehatan (WHO,
2010). Pada saat menempuh pendidikan profesi, mahasiswa akan menjumpai masalah
teknis yang berbeda antar profesi sehingga dalam memecahkan masalah tersebut
dibutuhkan kolaborasi antar profesi. (WHO, 2010)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan mitranya mengemukakan bahwa untuk


mengurangi krisis tenaga kerja kesehatan global, dapat dilakukan kolaborasi antar profesi
dalam pendidikan dan praktik sebagai strategi inovatif yang akan memainkan peran
penting. Pendidikan interprofessional merupakan langkah penting dalam mempersiapkan
tenaga kerja kesehatan yang siap kerja dan siap menghadapi kebutuhan kesehatan
setempat. Petugas kesehatan yang siap praktek kolaboratif adalah seseorang yang telah
belajar bagaimana bekerja di tim interprofessional dan kompeten untuk melakukannya.
Praktek kerja sama terjadi ketika beberapa petugas kesehatan dari berbagai latar belakang
profesional bekerja sama dengan pasien, keluarga, perawat, dan masyarakat untuk
memberikan perawatan yang berkualitas tinggi. Hal ini memungkinkan petugas
kesehatan untuk melibatkan setiap individu yang keterampilannya dapat membantu
mencapai tujuan kesehatan lokal (WHO, 2010).
WHO dan mitranya menemukan bahwa terdapat cukup bukti untuk menunjukkan
bahwa pendidikan interprofessional yang efektif memungkinkan praktik kolaboratif yang
efektif pula setelah dilakukan lebih dari 50 tahun penelitian. Praktek kolaboratif
memperkuat sistem kesehatan dan dapat meningkatkan derajat kesehatan. Kebijakan
kesehatan dan pendidikan yang terpadu dapat mempromosikan pendidikan
interprofessional yang efektif dan praktik kolaboratif. Berbagai mekanisme dapat
membentuk pendidikan interprofessional yang efektif dan praktik kolaboratif. Dalam hal
ini termasuk praktek manajemen yang mendukung, mengidentifikasi dan mendukung,
tekad untuk mengubah budaya dan sikap petugas kesehatan, kemauan untuk
memperbarui, memperbarui dan merevisi kurikulum yang ada, Undang - Undang yang
tepat yang menyingkirkan hambatan untuk praktik kolaboratif. Pendidikan
interprofessional dan praktik kolaboratif dibentuk oleh mekanisme yang berbeda di
semua tatanan kesehatan. Pembuat kebijakan kesehatan harus memilih mekanisme mana
yang paling tepat dan sesuai dengan konteks lokal atau regional mereka sendiri.
Pemimpin kesehatan yang memilih untuk mengkontekstualisasikan, komitmen dan
memperjuangkan pendidikan interprofessional dan praktik kolaboratif memposisikan
sistem kesehatan mereka untuk medukung dalam pencapaian Tujuan Pembangunan
Milenium (MDGs) terkait kesehatan. Kerangka kerja untuk Interprofessional Education
dan Praktik Kolaborasi memberikan gagasan kepada pembuat kebijakan tentang
bagaimana menerapkan Interprofessional Education dan praktik kolaboratif dalam
konteks mereka saat ini (WHO, 2010).
IPE dan praktik kolaboratif bukanlah sebuah obat mujarab untuk setiap tantangan
yang dihadapi dalam sistem kesehatan. Namun bila diterapkan secara tepat, IPE dapat
membantu petugas kesehatan dengan keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan yang
mereka butuhkan untuk menghadapi setiap tantangan dalam sistem kesehatan global
yang menjadi semakin kompleks (WHO, 2010).

B. Tujuan
Tujuan Umum
Dapat memberikan pemahaman tentang Iinterprofessional Education sesuai dengan
yang dipaparkan dalam jurnal dengan judul A Best Evidence Systematic Review of
Interprofessional Education : BEME Guide No.9.
Tujuan khusus :
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari IPE dalam jurnal dengan judul A Best
Evidence Systematic Review of Interprofessional Education : BEME Guide No.9.
2. Mahasiswa dapat memahami strategi pencarian dari Best Evidence Medical
Education
3. Mahasiswa dapat memahami metode pengumpulan data dari Best Evidence Medical
Education
4. Mahasiswa dapat memahami evaluasi IPE dengan menggunakan model 3-P dari
Best Evidence Medical Education
5. Mahasiswa dapat mengevaluasi dan menelaah isi jurnal dengan membandingkan
dengan literature yang lain yang berkaitan.