Anda di halaman 1dari 15

i

PRAKATA

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas


segala rahmat dan karunia yang telah diberikan, sehingga dapat
menyelesaikan penyususnan ususlan penelitian yang berjudul Tanggap
Produksi Tiga Varietas Unggul Padi Sawah (Oryza sativa L.) Terhadap
Aplikasi Pupuk Kalium dengan baik. Usulan penelitian ini merupakan
syarat untuk melakukan penelitian sebagai salah satu proses untuk
mendapatkan gelar Sarjana Pertanian di Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Kegiatan
penelitian ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
dan mendapatkan hasil penelitian yang dapat bermanfaat bagi penulis dan
para pembaca, khususnya petani padi sawah.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Heni
Punamawati, MSc.Agr dan Dr. Desta Wirnas, SP, MSi sebagai dosen
pembimbing yang telah bbersedia membimbing dan mengarahkan
sehingga usulan penelitain ini dapat selesai seperti yang diharapkan.
Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan untuk kedua orang tua dan
keluarga yang senantiasa selalu mendoakan. Semoga usulan penelitian ini
dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bogor, Januari 2017

Ikhsan Maulana
ii

DAFTAR ISI

PRAKATA .................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii

PENDAHULUAN .........................................................................................................1

Latar Belakang...........................................................................................................1

Tujuan Penelitian .......................................................................................................2

Hipotesis ....................................................................................................................2

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................3

Varietas Unggul Padi .................................................................................................3

Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Padi Sawah ..........................................................4

Pemupukan ................................................................................................................5

Peran Kalium Terhadap Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) .............................6

METODE PENELITIAN ..............................................................................................8

Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................................................8

Bahan dan Alat ..........................................................................................................8

Metode Percobaan .....................................................................................................8

Pelaksanaan Penelitian ..............................................................................................9

Pengamatan..............................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................12


1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penduduk indonesia berada pada 237.641.326 jiwa dengan laju pertumbuhan


penduduk sebesar 1.40 % (BPS, 2010). Padi merupakan sumber karbohidrat utama
bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dengan dengan jumlah konsumsi beras
sebesar 78,048 kg/kapita/tahun (BPS, 2015). Oleh karena itu, untuk menjaga
stabilitas pangan nasional maka produksi padi harus ditingkatkan seiring dengan
meningkatnya populasi penduduk Indonesia. Produksi Padi Indonesia pada tahun
2015 adalah 75.397.841 ton atau mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya
sebesar 6.42% dengan produktivitas 53,41 Kuintal per hektar (BPS, 2016). Akan
tetapi, dengan terus bertambahnya populasi penduduk Indonesia maka kebutuhan
akan beras juga semakin meningkat sehingga perlu adanya upaya untuk
meningkatkan produksi padi naasional. Untuk memenuhi kebutuhan nasional,
Indonesia impor beras sebesar 844.163,70 ton pada tahun 2014 (BPS, 2015).
Peningkatan produksi padi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
ektensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi sangat sulit diterapkan sekarang ini
karena tingginya angka konversi lahan pertanian sehingga yang paling
memungkinkan adalah dengan cara melakukan intensifikasi. Pramono, J et al.( 2005)
menjelasakan bahwa dilain pihak banyak juga terjadi konversi lahan sawah subur
yang masih terus berjalan, penyimpangan iklim (anomali iklim), gejala kelelahan
teknologi (technology fatique), penurunan kualitas sumberdaya lahan (soil sickness)
yang berdampak terhadap penurunan dan pelandaian produktivitas. Luas panen padi
di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 14 juta ton/ha (BPS, 2016). Untuk
mengoptimalkan produksi salah satunya dengan penggunaaan varietas unggul.
Penggunaan varietas unggul akan meningkatkan produktivias padi nasional sehingga
dapat mewujudkan ketahan pangan bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, upaya lain
untuk meningkatkan produksi adalah dengan melakukan pemupukan.
Padi Tipe Baru (PTB) yaitu IPB 3S yang dilepas IPB untuk meningkatkan
produksi padi nasional dengan rata-rata hasil panen 7 ton ha-1 serta potensi hasil
mencapai 11,2 ton ha-1 (Siregar et al. 2013). Tetapi varietas IPB 3S masih memiliki
kelemahan salah satunya pada pengisian bulir, sehingga masih banyak bulir hampa.
Perlu dilakukan upaya untuk mengatasi hal tersebut sehingga potensi hasil dapat
dicapai. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pengaplikasian pupuk
kalium melalui daun. Pemberian pupuk daun akan mempercepat penyerapan hara
oleh tanaman dibandingkan dengan pemberian pupuk melalui akar (Lingga dan
Marsono, 2004).
Pupuk kalium merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengesian
bulir padi. Unsur K tidak berpengaruh terhadap jumlah anakan, tetapi berpengaruh
terhadap jumlah gabah/malai, persen gabah isi, dan bobot 1000 butir gabah
(Sugiyanta, 2007). Pengaplikasian pupuk kalium dapat dilakukan melalui daun.
2

Menurut Lingga dan Marsono (2004) menjelaskan pemupukan melalui daun memiliki
beberapa keuntungan yaitu dapat memberikan hara sesuai kebutuhan tanaman,
penyerapan hara pupuk yang diberikan berjalan lebih cepat dibandingkan pupuk yang
diberikan melalui akar, kelarutan pupuk daun lebih baik dibandingkan pupuk akar,
pemberiannya dapat lebih merata, kepekatannya dapat diatur sesuai pertumbuhan
tanaman, dapat menghindari hilangnya unsur hara akibat pencucian dan volatilisasi
sebelum dapat diserap oleh akar atau mengalami fiksasi dalam tanah yang berakibat
tidak dapat lagi diserap oleh tanaman, serta dapat menjaga struktur tanah tetap
remah/gembur. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitan untuk menguji pemberian
pupuk kalium melalui daun.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian pupuk kalium


melalui daun terhadap hasil gabah dua varietas padi sawah (Oryza sativa L.) ciherang
dan IPB 3S.

Hipotesis

1. Aplikasi pupuk kalium melalui daun dapat meningkatkan produksi padi.


2. Terdapat waktu aplikasi yang tepat untuk pengaplikasian pupuk kalium
melalui daun.
3

TINJAUAN PUSTAKA

Varietas Unggul Padi

Tanaman padi (Oryza sativa L.) termasuk golongan dari Graminae yang
ditandai dengan dari beberapa ruas penyusun batang. Padi (Oryza sativa L.) termasuk
suku Oryzae dan genus Oryza. Padi dapat dibedakan menjadi 3 subspesies yaitu
Indica, Japonica dan Javanica. Padi merupakan tanaman rumput semusim dengan
tinggi 50130 cm hingga 5 m. Batangnya berbentuk bulat, berongga dan beruasruas
serta berakar serabut. Daun terdiri atas helai daun yang menyelubungi batang. Bunga
padi membentuk malai keluar dari buku paling atas dengan jumlah bunga tergantung
kultivar yang berkisar antara 50500 bunga, sedangkan buah atau biji padi beragam
dalam bentuk, ukuran dan warnanya (Siregar, 1981).
Varietas unggul padi merupakan salah satu teknologi yang mampu
meningkatkan produktivitas padi. Varietas unggul padi memiliki sifat-sifat penting,
antara lain berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama, umur
genjah sehingga sesuai untuk dikembangkan dalam pola tanam tertentu. Padi varietas
unggul yang berkembang saat ini sangat beragam yang terdiri atas varietas unggul
lokal (VUL), varietas unggul baru (VUB), padi tipe baru (PTB) dan padi hibrida. Saai
ini, telah banyak varietas padi yang dilepas oleh pemerintah maupun instansi terkait
yang dapat memudahkan petani dalam memilih varietas yang sesuai dengan kondisi
lingkungan setempat, berdaya hasil tinggi dan bernilai jual tinggi.
Varietas Unggul Lokal (VUL) padi telah berabad-abad dibudidayakan secara
turun temurun oleh sekelompok masyarakat pada agroekosistem spesifik, sehingga
VUL masing-masing memiliki sifat tahan atau toleran terhadap cekaman biotik
maupun abiotik yang terjadi pada agroekosistem spesifik terkait. Dari hasil penelitian
plasma nutfah varietas unggul lokal Indonesia telah teridentifikasi bahwa VUL
memiliki ketahanan terhadap hama ganjur, bakteri hawar daun, hawar daun jingga,
blas daun, blas leher, daun bergaris putih, wereng batang coklat, tungro, kekeringan,
keracunan Alumunium (Al), keracunan Besi (Fe), salinitas, suhu rendah, dan naungan
(Sitaresmi et al. 2013). Varietas Mentik Wangi merupakan VUL yang memiliki
karakteristik umur kisaran 97 hari setelah tanam (HST), tinggi tanaman sekitar 114
cm, dan jumlah anakan produktif sekitar 14 anakan.
Varietas Unggul Baru (VUB) merupakan kelompok varietas tanaman padi
yang memiliki karakteristik, diantaranya (1) umur kisaran 100135 hari setelah sebar
(HSS), (2) anakan banyak (> 20 anakan), (3) bermalai agak lebat (150 butir gabah
per malai). Beberapa VUB yang banyak ditanam di Indonesia adalah IR64, Ciherang,
Cibogo, Cigeulis, dan Ciliwung. Varietas Ciherang merupakan VUB yang memiliki
karakteristik umur kisaran 116125 hari setelah sebar (HSS), tinggi tanaman sekitar
107115 cm, dan jumlah anakan produktif sekitar 1417 anakan (Suprihatno et al.,
2010).
Padi Tipe Baru (PTB) merupakan padi hasil persilangan antara padi jenis
indica dengan japonica. Padi tipe baru memiliki karakteristik, diantaranya (1) jumlah
4

anakan sedikit (712 batang) dan semuanya produktif, (2) malai lebih 1ebat (>300
butir/malai) dan panjang, (3) batang besar dan kokoh, (4) daun tegak, tebal, dan hijau
tua, (5) perakaran panjang dan lebat. Potensi hasil PTB 1025% tebih tinggi
dibandingkan dengan varietas unggul yang ada saat ini (Las et al. 2003). Varietas IPB
3S merupakan PTB yang dilepas oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Varietas IPB 3S
memiliki beberapa keunggulan diantaranya memiliki rata-rata hasil panen 7 ton ha-1
serta potensi hasil mencapai 11,2 ton ha-1, tahan terhadap Tungro, agak tahan
terhadap penyakit blas ras 033 dan hawar daun bakteri (Siregar et al. 2013)

Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Padi Sawah

Tanaman padi sawah memerlukan sejumlah unsurhara yang cukup dan


seimbang untuk tumbuhdan berkembang. Unsur hara tersebut diperoleh melalui
atmosfer daun dan batang, ion-ion yang dapat ditukar pada permukaan tekstur tanah
liat dan humus, serta mineralyang lapuk (Masud, 1992). Srivastava (2002)
menambahkan, tanaman padi mengabsorpsi hara mineral dan air dari tanah,CO2 dari
udara untuk kegiatan fotosintesis. Hasil dari fotosintesis (asimilat) kemudian diangkut
ke seluruh bagian tanaman padi untuk pertumbuhan dan sebagian disimpan sebagai
cadangan makanan (karbohidrat, protein dan lemak), serta digunakan dalam fase
reproduksi.
Tanaman padi membutuhkan 16 unsur hara esensial untuk tumbuh dan
berkembang. Unsur hara tersebut terbagi ke dalam dua kelompok yaitu unsur hara
makro dan usnsur hara mikro. Menurut Havlin et al. (2005), unsur harayang
diperlukan tanaman padi dalam jumlah besar yaitu unsur hara N, P, dan K ditambah
unsur hara makro lainnya dan unsur hara mikro dalam jumlah kecil. Siregar (1981)
menambahkan, unsur hara yang mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan
dan produksi tanaman padi yaitu N, P, dan K. Tanaman padi memerlukan 14.7 kg N,
2.6 kg P, dan 14.5 kg K per hektar untuk setiap ton padi yang dihasilkan (Dobermann
dan Fairhurst, 2000).
Unsur Nitrogen (N) utama adalah Urea (CO(NH2)2) yang mengandung 46%
N. Urea dapat langsung dimanfaatkan tanaman, tetapi umumnya didalam tanah akan
diubah menjadi ammonium dan nitrat melalui proses amonifikasi dan nitrifikasi oleh
bakteri tanah. Nitrogen di dalam tanaman merupakan unsur yang sangat penting
untuk pembentukan protein, daun-daunan dan persenyawaan organik lainnya. IRRI
(2007) menyatakan, fungi unsur N untuk tanaman padi yaitu mempercepat
pertumbuhan, memperbesar ukuran daun, dan meningkatkan jumlah bulir per malai.
Konsentrasi nitrogen dalam daun juga erat kaitannya dengan laju fotosintesis daun
produksi biomasa tanaman (Doberman dan Fairhust 2000).
Selain unsur N, tanaman padi juga membutuhkan unsur fosfor (P) dan kalium
(K). Unsur P merupakan unsur esensial kedua setelah N. Fosfor umumnya diserap
tanaman dalam bentuk ion fosfat, terutama (H2PO4-) dan (HPO42-) dimana
kemasaman tanah sangatmenentukan rasio serapan (H2PO4-) dan (HPO42-). IRRI
(2007) menjelaskan fungsi unsur P diperlukan bagi penyimpanan dan pengangkutan
5

energi dalam tanaman. Menurut Siregar (1981), fosfat merupakan zat hara yang
sangat diperlukan untuk pembentukan protein dan buah. Pertumbuhan tanaman yang
kekurangan fosfat akan menjadi kerdil dan warna daun tanaman yang masih muda
nampak keungu-unguan.
Tanah merupakan parameter yang penting untuk menentukan rekomendasi
pemupukan P. Menurut Chang (1976), mobilitas fosfor pada tanah tergenang lebih
tinggi daripada tidak tergenang. Meskipun ketersediaan P pada tanah dalam kondisi
tergenang lebih besar daripada kondisi lahan kering, terutama di daerah tropis,
kekurangan P menyebabkan perlu dilakukan pemupukan fosfat. Pupuk P berperan
penting dalam budidaya padi karena rendahnya efisiensi pemupukan P dan besarnya
angkutan hara P oleh tanaman menyebabkan penggunaan pupuk P tetap diperlukan
(Radjagukguk, 2002).
Unsur kalium (K) dibutuhkan tanaman padi dalam pembentukan dan
pengisisan bulir. Menurut Soepardi (1983), kalium sangat penting untuk
pembentukan protein dan selulosa. Unsur K juga dapat meningkatkan respon tanaman
terhadap pemupukan dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk N dan P. Kalium
dalam jumlah yang cukup akan menjamin ketegakan tanaman dan merangsang
pembentukan akar. Kalium memperkuat batang tanaman, sehingga dapat
meningkatkan ketahanan terhadap serangan cendawan Pycularia Oryzae dan
cendawan Helminthosporium.

Pemupukan

Menurut KEMENTAN (2015), pupuk adalah bahan yang mengandung satu


atau lebih unsur hara tanaman yang jika diberikan ke pertanaman dapat meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman. Sedangkan pemupukan adalah penambahan satu
atau beberapa hara tanaman yang tersedia atau dapat tersedia ke dalam tanah/tanaman
untuk dan atau mempertahankan kesuburan tanah yang ada yang ditujukan untuk
mencapai hasil/produksi yang tinggi. Pemberian pupuk terhadap tanaman dapat
dilakukan melalui media tanam yang akan diserap oleh akar maupun pemberian
melalui daun dengan menggunakan pupuk daun (Sarief, 1985). Kegiatan pemupukan
sangat dipengaruhi oleh jenis, konsentrasi, waktu, cara dan tempat pengaplikasian.
Jenis pupuk yang digunakan harus sesuai kebutuhan, sehingga diperlukan metode
analisis yang tepat dan benar untuk mengetahui kebutuhan unsurhara tanaman yang
tidak dapat disuplai oleh tanah. Konsentrasi, waktu, cara dan tempat pengaplikasian
harus tepat agar dapat mengefisienkanpenggunaan pupuk sehingga tidak merusak
lingkungan (Soepandi, 1983).
Pupuk yang diberikan merupakan tambahan bagi unsur hara yang sudah ada
dalam tanah, sehingga jumlah N, P, dan K yang tersedia bagi tanaman berada dalam
perbandingan yang tepat. Pemupukan yang biasa dilakukan adalah 150 kg Urea + 150
kg ha-1 SP-36 + 100 kg/ha KCl (Pramono, 2004). Pupuk yang ditambahkan ke dalam
tanah akan mengalami reaksi atau perubahan baik dalam bentu fisik dan sifat
kimianya. Perubahan-perubahan tersebut mulai terjadi apabila pupuk bereaksi dengan
6

air tanah. Setelah bereaksi dengan air tanah pupuk akan melarut, sebagian pupuk akan
diserap oleh tanaman, sebagian ada yang terfiksasi menjadi bentuk tidak tersedia
untuk tanaman, hilang melalui denitrifikasi (pupuk N), tercuci, tererosi dan
penguapan. Ada jenis unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang mudah
hilang akibat penguapan atau terbawa perkolasi (Damanik et al., 2011).
Pupuk daun adalah bahan-bahan atau unsur-unsur yang diberikan melalui
daun dengan disemprotkan maupun dengan cara disiramkan pada tajuk tanaman agar
langsung dapat menambahkan zat-zat yang dibutuhkan tanaman. Pemberian pupuk
daun akan mempercepat penyerapan hara oleh tanaman dibandingkan dengan
pemberian pupuk melalui akar (Lingga dan Marsono, 2004). Pada permukaan daun
terdapat lapisan kutikula yang berperan dalam mengontrol kehilangan air dan
penyerapan hara yang diberikan melalui daun dibandingkan dengan stomata
(Marschner, 1995). Hara masuk melalui stomata daun ketika stomata membuka.
Membukanya stomata merupakan proses yang diatur oleh tekanan turgor dari sel-sel
penutup. Meningkatnya tekanan turgor akan membuka lubang stomata bersama-sama
dengan masuknya air (Setyamidjaya, 1986).
Menurut Lingga dan Marsono (2009), meskipun pupuk daun mempunyai
banyak kelebihan, pupuk daun juga mempunyai kekurangan, diantaranya (1) bila
dosis pemupukannya salah (misalnya terlalu tinggi) maka daun akan rusak, terutama
sering terjadi pada musim kering, (2) tidak semua pupuk daun dapat digunakan untuk
tanaman yang langsung dikonsumsi seperti sayuran atau buah berkulit tipis.
Akibatnya, kita harus lebih selektif memilih jenis pupuk daun yang diizinkan untuk
tanaman tersebut, (3) biaya yang digunakan lebih mahal. Tisdale et al. (1985)
menyatakan, kelemahan dalam menggunakan pupuk daun adalah dalam menentukan
konsentrasi pemberian hara yang cukup tanpa menyebabkan plasmolisis dan tanpa
pemberian dalam jumlah yang banyak, konsentrasi atau dosis yang terlalu tinggi
dapat menyebabkankeracunan.

Peran Kalium Terhadap Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.)

Unsur hara K diperlukan untuk pertumbuhan sel, pembentukan gula, zat


tepung dan protein. K diserap tanaman dalam bentuk K+. Salah satu bentuk pupuk
kalium adalah kalium chloride (Muriate of potash) yang mengandung 33 55.5%
atau 40 61.5% K atau 40 61.5% K2O, berbentuk kristal atau briket, berwarna
merah muda, dan larut dalam air. Fungsi utama kalium ialah membantu pembentukan
protein dan karbohidrat, mamperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga dan buah tidak
mudah gugur serta menjadi sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi
kekeringan dan penyakit. IRRI (2007) menjelaskan unsur K diperlukan untuk
memindahkan produk fotosintesis dalam tanaman. Kalium memperkuat dinding sel
dan mendukung fotosintesis dan pertumbuhan tanaman. Unsur Kalium meningkatkan
jumlah bulir per malai, persentase gabah isi, dan bobot 1000 butir. Kalium dalam
tanah terdapat dalam bentuk yang tersedia (K- dapat dipertukarkan; K dalam larutan
7

tanah), lambat tersedia (terfiksasi dalam illit, biotit) dan yang sukar tersedia (feldspar,
muskovit).
Menurut Doberman dan Fairhust (2000), pengaruh pupuk kalium pada
tanaman padi adalah meningkatkan luas daun dan kandungan klorofil daun serta
menunda senesen daun sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan kapasitas
fotosintesis pertumbuhan tanaman. Penambahan K terkadang tidak akan memberikan
respon ketika konsentrasi pada daun berada pada 1,8 % dan 2,7 %. Unsur K tidak
berpengaruh terhadap jumlah anakan, tetapi berpengaruh terhadap jumlah
gabah/malai, persen gabah isi, dan bobot 1000 butir gabah (Sugiyanta, 2007).
Kalium merupakan salah satu hara utama yang dapat menjadi pembatas
peningkatan produksi padi. Tanaman padi yang kekurangan kalium memiliki batang
yang lurus dan kerdil, daun tanaman menampakkan warna kekuning-kuningan dan
mulai mati dari ujung daun (Siregar, 1981). Serapan tanaman terhadap unsur K
dipengaruhi oleh jumlah K tersedia bagi tanaman. Semakin besar jumlah K tersedia,
maka akan semakin besar pula jumlah K yang diserap oleh tanaman (Soepardi, 1983).
8

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang


dari bulan Maret 2017 sampai dengan Juni 2017. Analisis kandungan K tanaman
akan dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi
varietas ciherang, IPB 3S, dan Mentik Wangi. Pupuk Urea, SP-36, KCl, dan Pupuk
daun Kalium. Alat yang digunakan adalah alat budidaya tanaman, oven, timbangan,
meteran, bagan warna daun (BWD). Alat yang akan digunakan untuk mengolah data
yaitu aplikasi SAS.

Metode Percobaan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Split Plot dengan dua faktor yaitu
varietas sebagai petak utama, dan komposisi pemupukan sebagai anak petak. Varietas
terdiri dari 3 taraf, yaitu Varietas Ciherang (V1), Varietas IPB 3S (V2), dan Varietas
Mentik Wangi (V3). Perlakuan komposisi pupuk terdiri dari 6 taraf yaitu perlakuan
pupuk anorganik (Urea: 300 kg ha-1, SP-36: 50 kg ha-1, dan KCl: 50 kg ha-1) tanpa
tambahan KCl (K0), pupuk anorganik (K1), pupuk anorganik + KCl cair pada 30 hari
sebelum panen (HSP) (K2), pupuk anorganik + KCl cair pada 15 HSP (K3), pupuk
anorganik + K-builder pada 30 HSP (K4), dan pupuk anorganik + K-builder pada 15
HSP (K5) serta 3 ulangan sehingga didapatkan 54 satuan percobaan. Kombinasi
perlakuan yang diperoleh sebagai berikut.

Tabel 1 Taraf perlakuan dan kode kombinasi perlakuan


Varietas Perlakuan Kombinasi Pupuk Kode kombinasi
perlakuan
Ciherang Pupuk anorganik tanpa KCl V1K0
Ciherang Pupuk anorganik V1K1
Ciherang Pupuk anorganik + KCl cair pada 30 HSP V1K2
Ciherang pupuk anorganik + KCl cair pada 15 HSP V1K3
Ciherang pupuk anorganik + K-builder pada 30 HSP V1K4
Ciherang pupuk anorganik + K-builder pada 15 HSP V1K5
IPB 3S Pupuk anorganik tanpa KCl V2K0
9

IPB 3S Pupuk anorganik V2K1


IPB 3S Pupuk anorganik + KCl cair pada 30 HSP V2K2
IPB 3S pupuk anorganik + KCl cair pada 15 HSP V2K3
IPB 3S pupuk anorganik + K-builder pada 30 HSP V2K4
IPB 3S pupuk anorganik + K-builder pada 15 HSP V2K5
Mentik Wangi Pupuk anorganik tanpa KCl V3K0
Mentik Wangi Pupuk anorganik V3K1
Mentik Wangi Pupuk anorganik + KCl cair pada 30 HSP V3K2
Mentik Wangi pupuk anorganik + KCl cair pada 15 HSP V3K3
Mentik Wangi pupuk anorganik + K-builder pada 30 HSP V3K4
Mentik Wangi pupuk anorganik + K-builder pada 15 HSP V3K5

Model aditif linier yang digunakan adalah sebagai berikut (Gomez dan
Gomez, 2007):
Yijk = + pk + i + j + ()ij + ijk
Yijk = Respon pengamatan varietas ke-i, perlakuan komposisi pupuk ke-j, dan
ulangan ke-k
= Rataan umum
pk = Pengaruh ulangan ke-k (k=1,2,3)
i = Pengaruh varietas ke-i ( i : 1,2,3)
ik = Pengaruh interaksi pada faktor varietas taraf ke-i, faktor perlakuan
komposisi pupuk taraf ke-j dan ulangan ke-k
j = Pengaruh perlakuan kombinasi pupuk ke-j ( j : 1,2,3,4,5,6)
()ij = Pengaruh interaksi varietas ke-i dengan perlakuan komposisi pupuk ke-j
ijk = Pengaruh galat percobaan dari varietas ke-i, perlakuan kombinasi pupuk ke-j,
dan ulangan ke-k.

Pelaksanaan Penelitian

Pengolahan tanah dilakukan dengan sistem olah tanah sempurna, yaitu 2 kali
pembajakan dengan traktor ditambah dengan rotary dan penggaruan. Benih padi
varietas Ciherang, IPB 3S, dan Mentik Wangi disemai pada lahan persemaian yang
telah disiapkan. Perlakuan benih sebelum disemai adalah perendaman dengan air
garam 3% (30 g L-1) untuk memisahkan benih yang bernas dengan benih yang
hampa. Setelah itu, benih direndam satu malam di dalam air agar benih mengalami
imbibisi dan diperam dalam karung basah satu malam. Benih disebar pada bedeng
semai setelah melentis (keluar ujung akar berwarna putih). Bibit padi dipindah tanam
pada umur 1013 hari dengan 2 bibit per lubang tanam. Jarak tanam yang digunakan
adalah jarak tanam jajar legowo dua 25 cm x 15 cm x 50 cm. Penyulaman dilakukan
1 minggu setelah tanam (MST) dari bibit padi varietas Ciherang, IPB 3S, dan Mentik
Wangi dengan umur yang sama.
Pemupukan dilakukan dengan komposisi dan waktu aplikasi sesuai perlakuan.
Pada perlakuan pupuk anorganik, pupuk NPK dengan dosis rekomendasi Urea: 300
10

kg ha-1, SP-36: 50 kg ha-1, dan KCl: 50 kg ha-1 diaplikasikan 4 kali, yaitu SP-36
100% satu hari sebelum tanam, Urea 30% dan KCl 50% pada 7 hari setelah tanam
(HST), Urea 40% pada 20 HST, dan Urea 30%, KCl 50% pada 30 HST sesuai dengan
perlakuan diaplikasikan ke tanah. Pupuk KCl cair dan K-builder sesuai perlakuan
pada 15 HSP dan 30 HSP diaplikasikan ke daun. Pengendalian gulma dilakukan
secara manual dengan cara menyiangi lahan mulai 3, 5, dan 7MST. Pemanenan
dilakukan setelah 3035 hari setelah berbunga (anthesis) atau melihat gejala
kematangan gabah yang ditandai dengan 9095% bulir padi yang telah menguning.

Pengamatan

Pengamatan pertumbuhan vegetatif tanaman dilakukan pada 10 tanaman


contoh yang dipilih secara acak pada setiap petak percobaan pada saat tanaman
berumur 2 MST. Pengamatan mulai dilakukan pada saat tanaman berumur 3 MST,
yang meliputi:
1. Analisis kandungan K tanaman.
2. Tinggi tanaman. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan terhadap 10 tanaman
contoh yang dihitung dari permukaan tanah hingga daun tertinggi dan diamati
saat 38 MST.
3. Jumlah anakan. Perhitungan jumlah anakan dilakukan terhadap 10 tanaman
sampel yang yang dihitung dari jumlah anakan per rumpun dan diamati saat
38 MST.
4. Warna daun yang dihitung menggunakan skala bagan warna daun (BWD)
terhadap 10 tanaman contoh dan diamati saat 38 MST.
5. Bobot kering tajuk dan akar yang ditimbang pada 8 MST, diukur dengan
mengambil dua tanaman contoh setiap perlakuan kemudian dikeringkan di
dalam oven pada suhu 850C selama 48 jam.
6. Panjang akar.
7. Jumlah anakan produktif dari setiap rumpun tanaman contoh. Perhitungan
jumlah anakan produktif dilakukan dengan menghitung jumlah anakan yang
menghasilkan malai dalam satu rumpun. Jumlah anakan produktif dihitung
pada 10 tanaman contoh.
8. Panjang malai yang diukur dari 1 malai dari setiap rumpun tanaman contoh.
Pengukuran panjang malai dilakukan dari batas buku daun sampai ujung
malai.
9. Jumlah gabah per malai yang dihitung dari 1 malai dari setiap rumpun
tanaman contoh.
10. Bobot 1 000 butir gabah yang ditimbang dari tanaman contoh.
bobot kering gabah
11. Indeks panen ditentukan berdasarkan: Indeks Panen = bobot kering tajuk
12. Bobot basah dan kering hasil per tanaman yang ditimbang dari tanaman
contoh.
11

13. Pendugaan bobot gabah per hektar dengan mengkonversi hasil ubinan ukuran
2.5 m x 2.5 m.

10000 m2
Pendugaan bobot gabah per ha = (2.5 m x 2.5 m) x hasil (kg)

14. Peningkatan hasil, dihitung berdasarkan dugaan hasil GKG dengan


menggunakan rumus :

(BPBK)
Peningkatan Hasil = x 100%
BK

BP = dugaan hasil GKG perlakuan


BK = dugaan hasil GKG perlakuan 100% dosis NPK
12

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Penduduk Indonesia Menurut Provinsi 1970,
1980, 1990, 1995, 2000, dan 2010.
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1267. [22 Januari 2017]
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Impor Beras Menurut Negara Asal Utama, 2000-
2014. https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1043. [22 Januari 2017]
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi.
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1268. [22 Januari 2017]
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Luas Panen Padi Menurut Provinsi (ha), 1993-
2015. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/864. [22 januari 2017]
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Produksi Padi Menurut Provinsi (ton), 1993-2015.
https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/865. [22 Januari 2017]
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Produktivitas Padi Menurut Provinsi (kuintal/ha),
1993-2015. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/866. [22 Januari
2017]
Dobermann A, Fairhust T. 2000. Rice Nutrient Disorder & Nutrient Management.
Handbook Series Potash & Phoshate Institute (PPI). PPI of Canada (PPIC)
and IRRI.
IRRI. 2007. Padi : Panduan Praktis Pengelolaan Hara, International Rice Research
Institute. Jakarta.
Las I, Abdullah B, Drajat AA. 2003. Padi Tipe Baru Dan Padi Hibrida Mendukung
Ketahanan Pangan. http://www.litbang.deptan.go.id/. [22 Januari 2017].
Lingga, P. dan Marsono. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Marschner, H. 1995. Mineral Nutrition of Higher Plants. Second Edition. Academic
Press. California.
Sarief, E.S. 1985. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana.
Bandung.
Setyamidjaya, D. 1986. Pupuk dan Pemupukan. CV Smplex. Jakarta.
Siregar IZ, Khumaida N, Noviana D, Wibowo MH, Azizah. 2013. Varietas Tanaman
Unggul Institut Pertanian Bogor. Bogor (ID). Perpustakaan Nasional : Katalog
Dalam Terbitan.
Siregar. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia.Bogor (ID): Sastra Hudaya
Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu Tanah, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Sugiyanta. 2007. Peran Jerami dan Pupuk Hijau (Crotalaria juncea) Terhadap
Efisiensi dan Kecukupan Hara Lima Varietas Padi Sawah. [disertasi]. Bogor:
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Suprihatno B, AA Daradjat, Satoto, Baehaki SE, Agus S, SD Indrasari, IP Wardana
dan Hasil Sembiring. 2010. Deskripsi Varietas Padi. Subang (ID): Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Besar Penelitian Padi
Sukamandi.
13

Tisdale, S. And W. Nelson. 1985. Soil Fertility and Fertilizers. Mc Millan Publs. Co,
Inc., New York.
Sitaresmi T, Rina H. Wening, Ami T. Rakhmi, Nani Yunani, dan Untung Susanto.
2013. Pemanfaatan Plasma Nutfah Padi Varietas Lokal dalam Perakitan
Varietas Unggul. Iptek Tanaman Pangan. 8 (1).
Masud P. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa, Bandung.
Srivastava L. M. 2002. Plant growth and development; Hormones and Environment.
Academic Press.
Havlin J.L., Beaton J.D., Tisdale S.L. and Nelson W.L. 2005. Soil Fertility and
Fetilizer. Upper Saddle River: Pearson Prentice Hall.
Chang S.C. 1976. Phosphorus in Submerged Soils and Phosphorus Nutrition and
Fertilization of Rice. Food and Fertilizerr Technology Center for the Asian
and Pasific Region. RRC. p. 93-116.
Radjagukguk B. 2002. Prospek penggunaan pupuk tunggal dan pupuk majemuk pada
padi sawah, hal. 1-8. Dalam Z. Zaini, A. Sofyan, dan S. Kartaatmadja (Eds.).
Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor.
[KEMENTAN] Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2015. Pemupukan.
http://www.pertanian.go.id/pajale2015/g1.3.Pemupukan.pdf. [26 Januari
2017]
Sarief, E.S. 1985. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana.
Bandung.
Pramono, J. 2004. Kajian Penggunaan Bahan Organik Pada Padi Sawah. Agrosains.
Vol 6 (1). Hal 11-14.
Damanik, M. M. B., Hasibuan, B. E., Fauzi., Sarifuddin., Hanum, H. 2011.
Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press, Medan.
Pramono et al. 2005. Upaya peningkatan produktivitas padi sawah melalui
pendekatan pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu. Agrosains 7(1):1.