Anda di halaman 1dari 17

Inisiasi 2

Obligasi Konvensional

Iniasiasi kedua ini akan membahas jenis-jenis instrumen keuangan


jangka panjang, khususnya obligasi. Setelah mempelajari inisiasi ini,
mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan pengertian obligasi, jenis
obligasi, peringkat obligasi, penilaian risiko obligasi, harga dan yield
obligasi, serta praktik obligasi di beberapa negara.

Obligasi berasal dari bahasa Belanda, yaitu obligatie, yang berarti akad.
Dalam Keputusan Presiden RI Nomor 775/KMK 001/1982 disebutkan bahwa
obligasi adalah jenis efek berupa surat pengakuan utang atas pinjaman uang
dari masyarakat dalam bentuk tertentu untuk jangka waktu sekurang-
kurangnya tiga tahun dengan menjanjikan imbalan bunga yang jumlah serta
saat pembayarannya telah ditentukan terlebih dahulu oleh emiten (Badan
Pelaksana Pasar Modal).
Dari pengertian di atas, dapat diketahui bahwa obligasi adalah surat
utang yang dikeluarkan oleh emiten (bisa berupa badan hukum atau
perusahaan, bahkan bisa juga dari pemerintah) yang memerlukan dana jangka
panjang untuk kebutuhan operasional ataupun ekspansi dalam memajukan
investasi yang mereka laksanakan. Bagi investor, investasi dengan cara
membeli obligasi memiliki potensi keuntungan lebih besar dari produk
perbankan. Lebih jauh, dilihat dari pihak yang mengeluarkan obligasi
(emiten), selain dapat dikeluarkan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN); obligasi bisa juga dikeluarkan oleh
pihak swasta. Contohnya, (i) participating bonds, yakni pemilik obligasi,
selain memperoleh bunga tetap, juga memperoleh bagian keuntungan yang
dicapai perusahaan; (ii) client bond, yakni obligasi yang diberikan kepada
pelanggan perusahaan dalam mengembangkan pemilikan efek kepada
masyarakat; dan (iii) deperture bond, yakni obligasi yang tidak dijamin atau
tanpa suatu jaminan.
Atas dasar jangka waktu, obligasi itu limited (terbatas) sebab semua
obligasi itu pada umumnya dibatasi oleh jangka waktu tetap di atas 10 tahun.
Akan tetapi, ada juga obligasi unlimited (tanpa batas), yaitu pemilik obligasi
akan menerima manfaat dari obligasi ini sebab obligasi ini sebagai alat
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

penyandang dana, sedangkan dana diperlukan untuk sarana usaha dan


kepentingan lain yang terkait dengan perkembangan usaha.

B. JENIS OBLIGASI

Obligasi dilihat dari sistem pembayaran bunga dibagi menjadi:


1. Zero coupon bonds: obligasi yang tidak memberikan keuntungan berupa
bunga kepada pemiliknya, tetapi berupa selisih harga antara harga beli
dan harga yang tertera pada obligasi (discount rate).
2. Coupon bonds atau bearer bonds: obligasi yang nama pemiliknya tidak
dicantumkan dalam sertifikatnya. Obligasi ini dapat diuangkan secara
periodic sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
3. Fixed coupon bonds: obligasi yang memiliki kupon bunga dengan
besaran tetap yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar
perdana dan yang dibayar secara berkala sepanjang masa berlakunya
obligasi.
4. Obligasi suku bunga mengambang atau floating coupon bonds: obligasi
yang memiliki kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu
tertentu. Perhitungan besaran bunganya mengacu pada suatu indeks
pasar uang, seperti LIBOR atau EURIBOR.

Obligasi dilihat dari hak penukaran/opsi terdiri atas hal berikut.


1. Convertible bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang
obligasi untuk mengonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah
saham milik penerbitnya.
2. Exchangeable bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang
obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham
perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
3. Callable bonds: obligasi yang memberikan hak kepada perusahaan yang
mengeluarkan obligasi untuk melunasi obligasi sebelum tanggal jatuh
tempo.
4. Putable bonds: obligasi yang memberikan hak kepada investor yang
mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga
tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

Obligasi dilihat dari segi jaminan atau collateral-nya dibagi menjadi


berikut ini.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

1. Secured bonds: obligasi yang dijamin dengan harta perusahaan. Jika


perusahaan tidak dapat melunasi obligasi tersebut pada tanggal jatuh
temponya, pemilik obligasi dapat mengklaim harta yang dijaminkan
untuk pelunasan obligasi tersebut.
2. Guaranteed bonds: obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya
dijamin dengan penanggungan dari pihak ketiga.
3. Efek beragun aset: obligasi yang pembayaran bunga dan pokok utangnya
dijamin oleh acuan berupa arus kas yang diperoleh dari penghasilan aset.
Contohnya, efek beragun KPR (mortgage backed security),
collateralized mortgage obligation, dan collateralized debt obligation.
4. Collateral trust bonds: obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki
penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan
yang dimilikinya.
5. Unsecured bonds: obligasi yang tidak dijamin dengan kekayaan tertentu,
tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.

Dilihat dari segi nilai nominal, obligasi terbagi dua:


1. Conventional bonds: obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu
nominal, misalnya Rp 1 miliar per 1 lot.
2. Retail bonds: obligasi yang diperjualbelikan dalam satuan nilai nominal
yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.

Obligasi yang dilihat dari segi perhitungan imbal hasil dibagi menjadi
berikut ini.
1. Conventional bonds: obligasi yang diperhitungkan dengan menggunakan
sistem kupon bunga.
2. Syariah bonds: obligasi yang perhitungan imbal hasilnya dengan
menggunakan perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini, dikenal
dua macam obligasi syariah.
a. Obligasi syariah mudharabah: obligasi syariah yang menggunakan
akad bagi hasil sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas
obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten.
b. Obligasi syariah ijarah: obligasi syariah yang menggunakan akad
sewa sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap dan bisa
diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan.

Obligasi dilihat dari penerbit terdiri atas hal berikut ini.


Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

1. Government bond: obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusatbisa


Departemen Keuangan atau BItidak memiliki risiko kegagalan, dan
harga obligasi akan menurun jika suku bunga naik.
2. Corporate bond: obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang
memiliki risiko kegagalan jika penerbit obligasi bermasalah meskipun
risiko kegagalan berbeda-beda pada masing-masing perusahaan. Hal itu
tergantung dari karakteristik penerbit dan jangka waktunya.
3. Municipal bond: obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah negara
bagian dan lokal serta memiliki risiko kegagalan. Jika pemegangnya
adalah penduduk setempat, dibebaskan dari pajak federal dan pajak
negara bagian tersebut. Obligasi ini juga memiliki suku bunga yang lebih
rendah dari obligasi perusahaan dengan tingkat risiko yang sama.
4. Foreign bond: obligasi yang diterbitkan oleh lembaga asing yang
dihadapkan pada risiko kegagalan dan ada tambahan risiko jika
diterbitkan dalam mata uang asing. Beberapa perusahaan, bank,
pemerintah, dan lembaga berwenang dapat menerbitkan obligasi dalam
denominasi mata uang valuta asing yang tampak lebih stabil
dibandingkan mata uang domestiknya. Penerbitan obligasi dalam
denominasi valuta asing ini juga memberikan kemungkinan bagi
penerbit obligasi memasuki pasar perdagangan obligasi di luar negeri.
Penerbitan obligasi ini juga sering digunakan sebagai suatu sarana
lindung nilai terhadap risiko gejolak perubahan nilai tukar. Beberapa
obligasi ini dijuluki dengan nama panggilan yang khas seperti yang
terlihat di bawah ini.
a. Eurodollar bond: obligasi berdenominasi USD yang diterbitkan oleh
penerbit obligasi dari suatu negara di luar Amerika.
b. Kangaroo bond: obligasi berdenominasi mata uang dolar Australia
(AUD) yang diterbitkan oleh penerbit obligasi dari suatu negara di
luar Australia dan diperdagangkan di pasar Australia.
c. Maple bond: obligasi dalam denominasi mata uang dolar Kanada
yang diterbitkan oleh penerbit obligasi dari suatu negara di luar
Kanada dan diperdagangkan di pasar Kanada.
d. Samurai bond: obligasi dalam denominasi mata uang yen yang
diterbitkan oleh penerbit obligasi dari suatu negara di luar Jepang
dan diperdagangkan di pasar Jepang.
e. Yankee bond: obligasi dalam denominasi mata uang USD yang
diterbitkan oleh penerbit obligasi dari suatu negara di luar Amerika
dan diperdagangkan di pasar Amerika.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

f. Shogun bond: obligasi dalam denominasi mata uang yen yang


diterbitkan di Jepang oleh penerbit obligasi dari suatu negara di luar
Jepang.
g. Bulldog bond: obligasi dalam denominasi mata uang poundsterling
yang diterbitkan di London oleh suatu lembaga atau pemerintahan
asing.
h. Formosa bond: obligasi dalam denominasi mata uang dolar baru
Taiwan yang diterbitkan oleh penerbit obligasi dari suatu negara di
luar Taiwan dan diperdagangkan di pasar Taiwan.
i. Panda bond: obligasi dalam denominasi mata uang renminbi (RMB)
yang diterbitkan oleh penerbit obligasi dari suatu negara di luar
RRC dan diperdagangkan di pasar Cina.

Alasan para investor membeli obligasi adalah karena obligasi memiliki


pembayaran keuntungan yang tetap pada periode tertentu serta fluktuasi
harga obligasi yang mengikuti arus tingkat bunga. Tingkat bunga yang
meningkat akan berdampak pada harga obligasi di pasar modal yang akan
turun. Begitu pun sebaliknya.

Selain penggolongan di atas, terdapat pula jenis-jenis obligasi seperti di


bawah ini.
1. Registered bonds: obligasi yang nama pemiliknya tercantum dalam
sertifikat.
2. Term bonds: obligasi yang seluruhnya jatuh tempo pada suatu tanggal
tertentu.
3. Serial bonds: obligasi yang tanggal jatuh temponya bertahap (pada
beberapa tanggal tertentu).
4. Junk bond atau obligasi berimbal hasil tinggi: obligasi yang memiliki
peringkat di bawah investasi yang diberikan oleh lembaga pemeringkat
kredit.
5. Obligasi inflasi atau inflation linked bond: nilai pokok utang pada
obligasi tersebut mengacu pada indeks inflasi. Suku bunga pada obligasi
jenis ini lebih rendah daripada obligasi suku bunga tetap. Dengan
bertumbuhnya nilai pokok utang sejalan dengan inflasi, pembayaran
pelunasan obligasi ini akan meningkat pula.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

6. Obligasi indeks atau equity linked note: obligasi yang mengacu pada
indeks yang merupakan indikator bisnis, seperti penghasilan, nilai
tambah, ataupun indeks nasional (PDB).
7. Obligasi subordinasi: obligasi yang memiliki peringkat prioritas lebih
rendah dibandingkan obligasi lainnya yang diterbitkan oleh penerbit jika
terjadi likuidasi. Jika terjadi kepailitan, ada hierarki dari para kreditor.
Pertama, pembayaran dari likuidator, kemudian pembayaran utang pajak
dan lain-lain. Pemegang obligasi yang pembayarannya diutamakan
adalah obligasi yang memiliki tanggal penerbitan paling awal yang
disebut obligasi senior. Setelah itu, barulah pelunasan obligasi
subordinasi dilakukan.
8. Obligasi abadi: obligasi ini tidak memiliki suatu masa jatuh tempo.
Obligasi jenis ini yang terkenal dalam pasar obligasi adalah UK Consols
yang diterbitkan oleh Pemerintah Inggris. Dikenal juga dengan nama
Treasury Annuities atau Undated Treasuries.
9. Obligasi tanpa warkat atau book entry bond: suatu obligasi yang tidak
memiliki sertifikat. Obligasi ini menggunakan sistem elektronik terpadu
yang mendukung penyelesaian transaksi efek secara pemindahbukuan di
pasar modal.
10. Obligasi lotere atau lottery bond: obligasi yang biasanya diterbitkan oleh
negara-negara Eropa. Bunganya dibayar seperti tata cara pembayaran
bunga pada obligasi suku bunga tetap, tetapi penerbit obligasi yang
diterbitkannya secara acak pada waktu tertentusaat penebusan atau
pelunasan obligasi yang beruntung terpilihakan dilakukan dengan
harga yang lebih tinggi daripada nilai yang tertera pada obligasi.
11. Obligasi perang atau war bond: obligasi yang diterbitkan oleh suatu
negara guna membiayai perang.

C. FITUR OBLIGASI

Fitur yang terpenting dalam suatu obligasi sebagai berikut.


1. Nilai nominal atau nilai utang pokok, yaitu nilai yang harus dibayar
bunganya oleh penerbit dan harus dilunasi pada saat akhir masa jatuh
tempo.
2. Harga penerbitan, yaitu suatu harga yang ditawarkan kepada investor
pada saat penjualan perdana obligasi. Nilai bersih yang diterima oleh
penerbit adalah nilai setelah dikurangi dengan biaya-biaya penerbitan.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

3. Tanggal jatuh tempo, yaitu suatu tanggal yang ditetapkan kepada


penerbit untuk melunasi nilai nominal obligasi. Sepanjang pembayaran
kembali/pelunasan tersebut telah dilakukan, penerbit tidak lagi memiliki
kewajiban kepada pemegang obligasi setelah lewat tanggal jatuh tempo
obligasi tersebut. Beberapa obligasi diterbitkan dengan masa jatuh tempo
hingga lebih dari seratus tahun. Pada awal tahun 2005, pasar atas
obligasi euro dengan masa jatuh tempo selama 50 tahun mulai
berkembang. Pada pasar Amerika, dikenal tiga kelompok masa jatuh
tempo obligasi sebagai berikut.
a. Jangka pendek (surat utang atau bill): obligasi yang masa jatuh
temponya hingga satu tahun.
b. Medium term note: obligasi yang masa jatuh temponya antara satu
hingga 10 tahun.
c. Jangka panjang (obligasi atau bond): obligasi yang jatuh temponya
di atas 10 tahun.
4. Kupon adalah suku bunga yang dibayarkan oleh penerbit kepada
pemegang obligasi. Biasanya, suku bunga ini memiliki besaran yang
tetap sepanjang masa berlakunya obligasi, tetapi juga bisa mengacu pada
suatu indeks pasar uang, seperti LIBOR dan lain-lain. Istilah kupon
digunakan karena pada masa lalu secara fisik obligasi diterbitkan
bersama dengan kupon bunga yang melekat pada obligasi tersebut. Pada
tanggal pembayaran kupon, pemegang obligasi akan menyerahkan
kupon tersebut ke bank guna ditukarkan dengan pembayaran bunga.
5. Tanggal kupon adalah tanggal pembayaran bunga dari penerbit kepada
pemegang obligasi. Di Amerika, kebanyakan pembayaran kupon obligasi
dilakukan secara tengah tahunan, yang artinya pembayaran kupon
dilakukan setiap enam bulan sekali. Di Eropa, kebanyakan pembayaran
obligasi dilakukan secara tahunan atau satu kupon per tahun.
6. Dokumen resmi adalah suatu dokumen yang menjelaskan secara
teperinci hak-hak dari pemegang saham. Di Amerika, ketentuan ini
diatur oleh departemen keuangan pemerintah dan undang-undang
komersial. Dokumen ini di hadapan pengadilan diperlakukan sebagai
suatu kontrak. Ketentuan dalam dokumen resmi tersebut sulit sekali
diubah karena perubahan hanya dapat dilakukan atas persetujuan
mayoritas pemegang obligasi.
7. Hak opsi: suatu obligasi dapat memuat ketentuan mengenai hak opsi
kepada pembeli obligasi ataupun penerbit obligasi.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

a. Hak pelunasan: beberapa obligasi memberikan hak kepada penerbit


untuk melunasi obligasi tersebut sebelum masa jatuh tempo obligasi.
Obligasi jenis ini dikenal sebagai obligasi opsi beli. Kebanyakan
obligasi jenis ini memberikan hak kepada penerbit untuk melakukan
pelunasan obligasi pada nilai pari. Beberapa obligasi mengharuskan
penerbit untuk membayar premi yang disebut premi opsi. Ini
utamanya digunakan bagi obligasi berbunga tinggi. Pada obligasi
jenis ini, terdapat banyak sekali persyaratan ketat yang membatasi
kegiatan operasional penerbit. Guna membebaskan penerbit dari
pembatasan-pembatasan, dilakukanlah pelunasan dini atas obligasi
tersebut dengan biaya yang lebih tinggi.
b. Hak jual: beberapa obligasi memberikan hak kepada pemegang
obligasi untuk memaksa penerbit melakukan pelunasan awal atas
obligasinya sebelum masa jatuh tempo.
c. Tanggal pelaksanaan opsi adalah tanggal saat opsi beli atau opsi jual
dapat dilaksanakan sebelum masa jatuh tempo obligasi. Pada
umumnya, terdapat empat cara pelaksanaan opsi seperti berikut.
1) Gaya Bermuda memiliki beberapa tanggal pelaksanaan yang
biasanya disesuaikan dengan tanggal kupon.
2) Gaya Eropa hanya memiliki satu tanggal pelaksanaan dan ini
merupakan kasus khusus gaya Bermuda.
3) Gaya Amerika: opsi dapat dilaksanakan setiap saat hingga masa
jatuh tempo.
4) Penjualan karena kematian adalah opsi yang diberikan kepada
ahli waris pemegang opsi untuk menjual kembali obligasinya
kepada penerbit dalam hal terjadinya kematian kepada
pemegang obligasi atau menderita cacat tetap.
8. Dana jaminan atau sinking fund adalah suatu syarat dalam dokumen
resmi yang mensyaratkan adanya suatu porsi tertentu dari obligasi yang
dapat dicairkan berkala. Penerbit juga dapat membayar kepada wali
amanat dengan melakukan pembelian secara acak atas obligasi yang
diterbitkannya atau pilihan lainnya dengan membeli obligasi di pasaran,
lalu menyerahkannya kepada wali amanat.
9. Penerbit/emiten (issuer): mengetahui dan mengenal penerbit obligasi
yang merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi
obligasi ritel. Mengukur risiko/kemungkinan dari penerbit obligasi yang
tidak dapat melakukan pembayaran kupon atau pokok obligasi tepat
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

waktu (default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang
dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat, seperti PEFINDO atau Kasnic
Indonesia.
10. Obligasi konversi adalah obligasi yang mengizinkan pemegang obligasi
untuk menukarkan obligasi yang dipegangnya dengan sejumlah saham
perusahaan penerbit.
11. Obligasi tukar atau exchangeable bond memperkenankan pemegang
obligasi menukar obligasi yang dipegangnya dengan saham perusahaan
selain daripada saham perusahaan penerbit, biasanya dengan saham anak
perusahaan penerbit.

D. PERINGKAT OBLIGASI

Tingkatan nilai peringkat obligasi diberikan oleh perusahaan atau


lembaga khusus dengan menilai serta menganalisis tingkat kegagalan
obligasi tersebut.
AAA : peringkat tertinggi dari standar and poors serta menunjukkan
kemampuan yang sangat kuat dalam membayar pokok dan bunga
obligasi
AA : obligasi yang dikualifikasikan sebagai obligasi berkualitas tinggi
dengan perbedaan sangat kecil dari AAA.
A : obligasi yang memiliki kemampuan kuat untuk membayar pokok
dan bunga obligasi walaupun lebih rentan terhadap efek merugi
yang diakibatkan oleh perubahan situasi dan kondisi perekonomian.
BBB : obligasi yang dianggap memiliki kemampuan yang mencukupi
untuk membayar pokok dan bunga. Walaupun mereka biasanya
menunjukkan parameter perlindungan yang memadai, kondisi
perekonomian yang merugi atau perubahan keadaan biasanya dapat
melemahkan kemampuan membayar pokok dan bunga obligasi
dibandingkan kategori A.
BB, B, CCC, CC : obligasi pada peringkat BB, B, CCC, dan CC secara
berturut-turut semakin rapuh kemampuannya. Obligasi yang masuk
pada peringkat ini mulai bersifat spekulatif dalam hal kemampuan
perusahaan membayar bunga dan pokok pinjaman.
C : peringkat C disediakan untuk obligasi pendapatan dengan tidak ada
bunga yang dibayar.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

D : obligasi yang sudah dianggap gagal dalam pembayaran bunga


ataupun pokok obligasi yang mengalami kemacetan.

D. PENILAIAN RISIKO OBLIGASI

Obligasi memiliki beberapa risiko seperti berikut.


1. Risiko suku bunga, merupakan risiko penurunan obligasi yang
disebabkan oleh penurunan suku bunga. Risiko suku bunga berhubungan
dengan nilai obligasi dalam portofolio. Apabila suku bunga bank naik,
harga obligasi cenderung lebih murah. Begitu pun sebaliknya.
2. Risiko tingkat investasi merupakan risiko penurunan suku bunga yang
akan menyebabkan penurunan pendapatan dari portofolio obligasi.
Karena obligasi terkait dengan pemanfaatan dana oleh penerbit obligasi
dan kinerjanya, ketika kinerja penerbit obligasi menurun dan kemudian
menurunkan suku bunga obligasi; penerimaan pemilik obligasi juga
menurun.
3. Risiko kegagalan adalah risiko yang disebabkan kegagalan penerbitnya.
Risiko kegagalan dipengaruhi kekuatan keuangan penerbit obligasi
ataupun jangka waktu kontrak obligasi, terutama apakah jaminan telah
disediakan untuk menjamin obligasi yang diterbitkan.

E. HARGA DAN YIELD OBLIGASI

Harga dan yield obligasi merupakan dua variabel penting dalam transaksi
obligasi bagi investor. Berbeda dengan harga saham yang dinyatakan dalam
bentuk mata uang, harga obligasi dinyatakan dalam persentase (%), yaitu
persentase dari nilai nominal. Harga dari obligasi merupakan hasil
penjumlahan present value dari arus kas yang diharapkan selama periode
obligasi tersebut. Oleh karena itu, dalam menentukan harga obligasi, perlu
ditentukan atau diestimasikan nilai dari arus kas selama periode dan estimasi
dari yield yang diharapkan. Arus kas dari obligasi bagi investor itu berupa
kupon dan ada nilainya pada saat jatuh tempo. Ada tiga kemungkinan harga
pasar dari obligasi yang ditawarkan seperti berikut ini.
1. Par (nilai pari): harga obligasi sama dengan nilai nominal. Misalnya,
obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual pada harga 100%. Nilai
obligasi tersebut adalah 100% Rp 50 juta = Rp 50 juta.
2. At premium (dengan premi): harga obligasi lebih besar dari nilai
nominal. Misalnya, obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

dengan harga 102%. Nilai obligasi adalah 102% Rp 50 juta = Rp 51


juta.
3. At discount (dengan discount): harga obligasi lebih kecil dari nilai
nominal. Misalnya, obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual
dengan harga 98%. Nilai dari obligasi adalah 98% Rp 50 juta = Rp 49
juta.

Pendapatan atau imbal hasil atau return yang akan diperoleh dari
investasi obligasi dinyatakan sebagai yield, yaitu hasil yang akan diperoleh
investor apabila menempatkan dananya untuk dibelikan obligasi. Ada tiga
istilah dalam penentuan yield yang sering digunakan oleh dealer dan
portofolio manager, yaitu current yield, yield to maturity, dan yield to call.
Ketiga yield ini sering dipergunakan untuk menentukan pemilihan obligasi
masuk dalam portofolio para manajer investasi atau pihak lain saat membeli
obligasi. Penjelasan dari ketiga yield tersebut adalah sebagai berikut.
1. Currrent yield adalah yield yang dihitung berdasarkan jumlah kupon
yang diterima selama satu tahun terhadap harga obligasi tersebut. Sering
kali para manajer investasi yang mengelola portofolio memanfaatkan
current yield ini sebagai ukuran untuk melakukan investasi. Hal ini
dilakukan karena merasa tidak ada ketidakpastian tingkat bunga yang
berlaku pada masa depan.
bunga tahunan
Current yield =
harga obligasi
Contoh:
Jika obligasi PT XYZ memberikan kupon kepada pemegangnya sebesar
17% per tahun, sedangkan harga obligasi tersebut adalah 98% untuk nilai
nominal Rp 1.000.000.000, diperoleh nilai berikut.
Rp 170.000.000 17%
Current Yield = atau
Rp 980.000.000 98%
= 17.34%
2. Sementara itu, yield to maturity (YTM) adalah tingkat pengembalian
atau pendapatan yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi
sampai jatuh tempo. Yield to maturity dihitung dengan cara yang sama
saat menghitung tingkat pengembalian internal dengan rumus seperti
berikut.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

Ct . Mu
Po = E
(1 + YTM ) ( 1 + YTM )
t n

Untuk mendapatkan YTM dengan persamaan di atas, dilakukan dengan


coba-coba (trial and error) atau metode ekstrapolasi. Akan tetapi,
perhitungan YTM dengan menggunakan persamaan di atas sangat rumit
karena menggunakan coba-coba atau ekstrapolasi. Maka itu,
ditemukanlah sebuah formula yang lebih mudah. Formula YTM yang
sering kali digunakan oleh para pelaku dan dapat dihitung dengan
pendekatan sederhana, yaitu YTM approximation atau pendekatan
nilai YTM. Hal tersebut dapat dilihat di bawah ini.
R-P
C+
n 100%
YTM approximation =
R+P
2
Keterangan:
C = kupon
n = periode waktu yang tersisa (tahun)
R = redemption value
P = harga pembelian (purchase value)

Contoh:
Obligasi XYZ dibeli pada 5 September 2003 dengan harga 94.25%. Ini
memiliki kupon sebesar 16% dibayar setiap tiga bulan sekali dan jatuh
tempo pada 12 Juli 2007. Berapakah besar YTM approximation-nya?
C = 16%
n = 3 tahun 10 bulan 7 hari = 3.853 tahun
P = 94.25%
R = 100%
100 - 94.25
16 +
YTM approximation = 3.853 100%
100 + 94.25
2
17, 49
= = 18, 01%
97,125
3. Yield to Call
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

Ada beberapa obligasi yang bisa dibeli kembali sebelum jatuh tempo
sehingga hasil untuk mengukur sampai dibeli disebut dengan yield to
call. Perhitungan dari yield to call adalah arus kas yang diperoleh sampai
dibeli oleh emiten penerbit dari obligasi tersebut dihitung dengan rumus
berikut.
nCt.M *
Po =
( 1 + YTC ) ( 1 + YTC ) n *
Keterangan M* = harga obligasi dibeli emiten.
n* = jumlah periode sampai dibeli emiten.

Contoh:
Obligasi lima tahun dengan kupon 16% p.a yang dapat dibeli emiten
pada tahun ketiga dengan harga 98,7 sudah berjalan satu tahun. Dibeli
saat ini pada harga 95,3. Hitung yield to call-nya?
3 160 987
953 =
( 1 + YTC ) ( 1 + YTC ) 3
Dengan metode coba-coba, diperoleh yield to call sebesar 17,79%. Yield
ini memberikan hasil bahwa investor membeli obligasi ini dengan posisi
yang menguntungkan.
Kupon obligasi dan yield to maturity mempunyai hubungan sebagai
berikut.

Obligasi dijual Hubungan


Pari kupon = yield sampai jatuh tempo
Diskon kupon <yield sampai jatuh tempo
Premium kupon > yield sampai jatuh tempo

Selanjutnya, current yield dimasukkan sehingga kupon current yield dan


yield to maturity mempunyai hubungan berikut.

Obligasi dijual Hubungan


Pari kupon = yield sekarang = yield sampai jatuh tempo
Diskon kupon < yield sekarang < yield sampai jatuh tempo
Premium kupon > yield sekarang > yield sampai jatuh tempo

Berdasarkan uraian yield dan harga obligasi tersebut, dapat disimpulkan


bahwa yield yang semakin tinggi akan membuat harga obligasi semakin
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

rendah. Hubungan yield dan harga obligasi tersebut dapat digambarkan dalam
sebuah kurva berikut.

Gambar 2.1
Hubungan antara Yield dan Harga Obligasi

Pada kurva terlihat hubungan antara yield dan harga obligasi. Harga
diwakili oleh sumbu vertikal dan yield diwakili oleh sumbu horizontal.
Semakin ke kanan, kurva semakin menurun. Pergerakan kurva ke arah kanan
menunjukkan yield yang semakin bertambah, sementara kurva yang menurun
menunjukkan harga yang semakin turun. Hal ini berarti hubungan yield dan
harga obligasi tersebut adalah negatif.

F. OBLIGASI PEMERINTAH DAN OBLIGASI SWASTA

Obligasi pemerintah atau government bond adalah suatu obligasi yang


diterbitkan oleh pemerintahan suatu negara dalam denominasi mata uang
negara tersebut. Obligasi pemerintah dalam denominasi valuta asing biasa
disebut dengan obligasi internasional (sovereign bond). Obligasi
pemerintah biasa disebut juga dengan obligasi bebas risiko sebab
pemerintahan suatu negara dapat menaikkan pajak ataupun mencetak uang
guna melunasi pembayaran obligasinya pada saat jatuh tempo.
Obligasi swasta atau obligasi perusahaan yang dalam istilah asing
dikenal sebagai corporate bond adalah suatu istilah yang digunakan bagi
instrumen utang jangka panjang yang pada umumnya berjangka waktu
sekurangnya satu tahun sejak tanggal penerbitannya.
Sebagai suatu efek, obligasi bersifat dapat diperdagangkan. Ada dua
jenis pasar obligasi, yaitu pasar primer dan pasar sekunder.
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

Gilts adalah suatu obligasi pemerintah yang diterbitkan oleh


Pemerintah Inggris, Afrika Selatan, dan Irlandia.

E. OBLIGASI DI INGGRIS
Gilts adalah suatu obligasi pemerintah yang diterbitkan oleh Pemerintah
Inggris, Afrika Selatan, dan Irlandia. Istilah gilts berasal dari bahasa Inggris
yang berarti surat utang yang diterbitkan oleh Bank of England yang bermutu
tinggi. Gilts yang dipasarkan awalnya berasal dari kreasi Bank of England
dan British National Debt pada 1694. Sejak tahun 1998, gilts diterbitkan oleh
UK Debt Management Office (DMO) atas nama Her Majesty Treasury, yaitu
semacam Departemen Keuangan Kerajaan Inggris. Pemerintah Kerajaan
Inggris mendapatkan peringkat kredit AAA dari Standard & Poors dan Aaa
dari Moodys yang juga dihargai oleh lembaga pemeringkat kredit lainnya,
baik penerbitan dalam denominasi poundsterling maupun denominasi valuta
asing lainnya.

Berikut ini adalah jenis-jenis gilts.


1. Gilts Konvensional
Ini adalah bentuk sederhana dari obligasi Pemerintah Kerajaan Inggris
dan merupakan porsi terbesar dari utang pemerintah. Gilts konvensional
merupakan obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Pembayaran tunai atau
kupon kepada pemegang obligasi dilakukan secara berkala setiap enam bulan
hingga masa jatuh tempo obligasi. Pada akhir masa jatuh tempo tersebut akan
dibayarkan pula pokok utang bersama dengan pembayaran kupon terakhir.
Gilts konvensional ini ditandai dengan suku bunga kupon dan masa jatuh
tempo obligasi, misalnya 4,25% Treasury Gilt 2055. Kupon pada gilts
mencerminkan suku bunga pasar yang berlaku saat penerbitan gilt dan
mengindikasikan pembayaran tunai per setiap 100 yang akan diterima oleh
pemegang obligasi dalam setahun dibagi dalam dua kali pembayaran. Sejak
tahun 2005-2006, seluruh penerbitan baru dari gilt ini disebut treasury gilts.
2. Gilt Indeks
Gilt jenis ini merupakan kurang lebih seperempat dari jumlah gilt yang
diterbitkan oleh pemerintah. Gilt indeks ini pertama kali diterbitkan pada
1981 dan merupakan obligasi indeks yang diterbitkan oleh kelompok negara
maju untuk pertama kalinya. Hingga tahun 2007, telah diterbitkan gilt yang
mengacu pada 19 macam indeks. Pada gilt indeks, pembayaran pokok utang
dan kuponnya disesuaikan dengan indeks harga ritel (retail price index
RPI) di Inggris. Pada September 2005, Pemerintah Inggris mengeluarkan gilt
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

indeks yang paling lama jatuh temponya, yaitu 1,25% Index-linked Treasury
Gilt 2055, yang masa jatuh temponya hingga 22 November 2055.

3. Gilts Bertanggal Ganda


Pada zaman dulu, pemerintah Inggris pernah mengeluarkan gilt dengan
tanggal ganda, seperti 12% Exchequer Stock 2013-2017. Ini merupakan
obligasi dengan hak pelunasan. Maksudnya, pemerintah mempunyai hak opsi
untuk melunasi obligasi ini secara penuh ataupun sebagian saat kapan pun di
antara tanggal jatuh tempo dan terakhir dari gilt tersebut dengan memberikan
pemberitahuan terlebih dahulu kepada pemegang obligasi sekurang-
kurangnya tiga bulan sebelumnya.

4. Gilts Tanpa Tanggal Jatuh Tempo


Saat ini, terdapat delapan gilt tanpa tanggal jatuh tempo yang merupakan
sebagian kecil dari keseluruhan utang domestik pemerintah Ingris. Gilt ini
telah berusia amat tua sekali. Beberapa di antaranya diterbitkan pada abad
ke-18, seperti consul atau pinjaman perang. Pelunasan obligasi ini
bergantung pada keputusan pemerintah. Oleh karena tuanya usia obligasi ini,
obligasi ini memiliki suku bunga kupon yang rendah sekali sehingga tidak
ada keuntungan bagi pemerintah untuk melunasinya.

5. Gilt Strips
Strips adalah singkatan dari separately traded interest and principal
securities. Gilts tertentu dapat digolongkan strip berdasarkan arus kas.
Bentuk pembayaran berkala bunganya dan pembayaran kembali pokok
utangnya dapat diperdagangkan secara terpisah sebagai obligasi tanpa bunga
atau gilt strips. Pasar gilt strip ini diawali pada tahun 1997.
Gilt dengan masa pendek memiliki masa jatuh tempo antara 0-7 tahun,
menengah antara 7-15 tahun, dan panjang, yaitu di atas 15 tahun. Gilts
dengan masa jatuh tempo di bawah tiga tahun biasa disebut sebagai
ultrapendek. Di samping itu, gilt baru yang diterbitkan pada 2005 dengan
masa jatuh tempo 50 tahun disebut sebagai ultrapanjang.

G. OBLIGASI DI JEPANG

Pasar modal Jepang telah menjadi salah satu pilar dari pasar sekuritas
dunia yang beroperasi selama 24 jam. Terdapat beberapa pasar saham di
Inisiasi 2. Pasar dan Instrumen Keuangan

Jepang. Dua di antaranya yang paling penting adalah Tokyo dan Osaka.
Kedua pasar saham ini meliputi berbagai macam sektor bisnis. Bursa saham
yang diperdagangkan tumbuh dengan cepat sepanjang tahun 1980-an. Hal ini
terjadi atas respons menguatnya mata uang yen, menurunnya tingkat suku
bunga, dan tersedianya jumlah modal yang besar untuk berinvestasi dalam
sektor keuangan. Bagaimanapun, pada waktu itu tingkat spekulasi dalam
pasar sangat tinggi dan kemajuan telah diikuti oleh suatu kemunduran yang
serius. Hal ini disebabkan pemulihan yang lambat, pencerminan dari
lambatnya pertumbuhan ekonomi Jepang pada akhir abad ke-20 dan awal
abad ke-21, serta kecenderungan menurunnya tingkat ekonomi yang bermula
pada tahun 2008.
Pasar obligasi Jepang secara relatif belum berkembang karena kebijakan
tingkat suku bunga jangka panjang pemerintah yang rendah membuat
obligasi ini tidak menarik minat investor jika dibandingkan tingkat suku
bunga jangka pendek. Investor individu dan institusi lebih memilih membeli
discount debentures saja. Oleh karena itu, dengan membeli obligasi, hanya
terbatas pada bank dan lembaga-lembaga keuangan lainnya, yang diharapkan
untuk membeli obligasi pemerintah yang dijamin secara tidak resmi menurut
alokasi kuota. Pasar sekunder obligasi telah beroperasi sejak pertengahan
tahun 1960-an, walaupun transaksi yang dilakukan di konter telah tumbuh
dengan cepat, proporsi yang signifikan dari bisnis ini terdiri atas menukar
tambah surat utang keuangan.
Pada tahun 1980-an, sebuah usaha untuk memperluas pasar obligasi
memperkenalkan suatu keanekaragaman yang lebih besar dari instrumen
obligasi dengan mendirikan sejumlah institusi penilaian obligasi. Pada awal
tahun 1990-an, telah dibuat sebuah langkah maju ke arah peningkatan
efisiensi pasar obligasi ketika sebagian dari pasar tersebut sedang ditata ulang
dan perbankan telah diizinkan untuk mengambil bagian dalam pasar melalui
cabang-cabang yang dimiliki oleh bank tersebut. Pada tahun 1971, pasar
Tokyo dilibatkan dalam transaksi modal internasional ketika mata uang yen
mendominasi penawaran obligasi luar negeri untuk pertama kalinya dan
diterbitkan di Jepang. Kemudian, institusi tidak tetap telah diizinkan untuk
menerbitkan obligasi dalam mata uang asing