Anda di halaman 1dari 22

SISTEM KOMUNITAS III

TREND DAN ISSUE KEPERAWATAN KOMUNITAS (HOME CARE)

Fasihal Kholid S.Kep M.Kep

Disusun oleh:

DESTURA/I1032141030

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan
makalah yang bertemakan tentang Trend Dan Issue Keperawatan Komunitas (Home Care).

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas perkuliahan, yaitu sebagai tugas terstruktur mata
kuliah Komunitas Keperawatan Tahun Akademik 2017 di Fakultas Kedokteran, Universitas
Tanjungpura.

Dalam penulisan makalah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dorongan dari pihak-
pihak luar sehingga makalah ini terselesaikan sesuai dengan yang diharapkan.

Ucapan terima kasih tidak lupa diucapkan kepada:

1. Bapak Faishal Kolid S.Kep M.Kep selaku dosen mata kuliah Komunitaas III Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tanjungpura.
2. Teman-teman Program Studi Ilmu Keperawatan Angkatan 2014 Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Tanjungpura.
3. Pihak yang membantu baik secara langsung maupun tak langsung.

Segala sesuatu di dunia ini tiada yang sempurna, begitu pula dengan makalah ini. Saran dan
kritik sangatlah penulis harapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya. Penulis harapkan
semoga makalah ini dapat memberikan suatu manfaat bagi kita semua dan memilki nilai ilmu
pengetahuan.

Pontianak, 14 September 2017

Penyusun
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara terus menerus dan
terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga pemenuhan dan metode keprawatan
kesehatan berubah, karena gaya hidup masyarakat berubah dan perawat sendiri juga dapat
menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Definisi dan filosofi terkini dari keperawatan
memperlihatkan trend holistic dalam keperawatan yang ditunjukkan secara keseluruhan dalam
berbagai dimensi, baik dimensi sehat maupun sakit serta dalam interaksinya dengan keluarga
dan komunitas. Tren praktik keperawatan meliputi perkembangan di berbagai tempat praktik
dimana perawat memiliki kemandirian yang lebih besar.
Perkembangan Keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal ini disebabkan oleh:
1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat sehingga informasi
dengan cepat dapat diakses oleh semua orang sehingga informasi dengan cepat diketahui
oleh masyarakat.
2. Perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di Indonesia harus
menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di negara yang telah berkembang .
3. Sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga masyarakat menuntut pelayanan
kesehatan yang berkualitas tinggi, tapi di lain pihak bagi masyarakat ekonomi lemah
mereka ingin pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau.
Pada sisi lain, banyak anggota masyarakat yang menderita sakit dan karena berbagai
pertimbangan terpaksa di rawat di rumah dan tidak di rawat inap di institusi pelayanan
kesehatan, seperti kasus-kasus penyakit terminal, keterbatasan kemampuan masyarakat untuk
membiayai pelayanan kesehatan, manajemen rumah sakit yang berorientasi pada profit,
banyak orang merasakan bahwa di rawat inap membatasi kehidupan manusia, lingkungan di
rumah yang dirasakan lebih nyaman (Depkes RI, 2002).
Maka dari itu dalam makalah ini membahas trend dan issue kesehatan keperawatan
komunitas tentang home care (Home Health Care), perawatan keluarga dan pondok kesehatan
desa.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah yang muncul adalah:
1. Bagaimana konsep teori keperawatan komunitas?
2. Bagaimana konsep teori trend dan issue keperawatan Home Care?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep teori keperawatan komunitas.
2. Untuk mengetahui konsep teori trend dan issue keperawatan Home Care.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Keperawatan Komunitas
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai bagian integral
pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, social dan spiritual secara
komprehensif, ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit
mencakup siklus hidup manusia (Riyadi, 2007).
Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan
serta memberikan bantuan melalui intervensi keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam
membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi barbagai masalah
keperawatan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Efendi, 2009).
Asuhan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik maupun mental,
keterbatasan pengetahuan serta kurang kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan
kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan
dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama (Primary Health care) untuk
memungkinkan setiap orang mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif. Kegiatan ini
dilakukan sesuai dengan wewenang, tanggung jawab serta etika profesi keperawatan (Riyadi,
2007).
Dalam rapat kerja keperawatan kesehatan masyarakat dijelaskan bahwa keperawatan
komunitas merupakan suatu bidang keperawatan yang merupakan perpaduan antara
keperawatan (Nursing) dan kesehatan masyarakat (Public health) dengan dukungan peran serta
masyarakat secara aktif dan mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh
dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sebagai
kesatuan utuh melalui proses keperawatan (Nursing process) untuk meningkatkan fungsi
kehidupan manusia secara optimal sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan
(Mubarak, 2005).
Keperawatan komunitas adalah keperawatan yang diberikan dari luar suatu institusi yang
berfokus pada masyarakat atau individu dan keluarga (Elisabeth, 2007).
Pada keperawatan kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu:
1. Kemanfaatan
Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar bagi
komunitas. Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan harus memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya ada keseimbangan antara manfaat dan kerugian
(Mubarak, 2005).
2. Kerjasama
Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta
melakukan kerja sama lintas program dan lintas sektoral (Riyadi, 2007).
3. Secara langsung
Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi, klien dan
lingkunganya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama
peningkatan kesehatan (Riyadi, 2007).
4. Keadilan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari komunitas
itu sendiri. Dalam pengertian melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan
atau kapasitas komunitas (Mubarak, 2005).
5. Otonomi
Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau melaksanakan beberapa
alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada (Mubarak, 2005).

Manusia sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan dalam praktek keperawatan.
Sebagai sasaran praktek keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan
masyarakat (Riyadi, 2007).
1. Individu sebagai klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi,
psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya
memenuhi kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual
karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang kemauan
menuju kemandirian pasien/ klien (Riyadi, 2007).
2. Keluarga sebagai klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus
dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama,
di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam
fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada Hirarki
Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan
mencintai, harga diri dan aktualisasi diri (Riyadi, 2007).
3. Masyarakat sebagai klien
Kesatuan hidup manusia yang brinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tetentu yang
bersifat terus menerus dan terikat oleh suatu indentitas bersama (Riyadi, 2007).

Strategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat digunakan dalam keperawatan


kesehatan masyarakat adalah:
1. Pendidikan kesehatan (Health Promotion)
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu
dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan (Elisabeth, 2007).
Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang
berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan, dimana individu,
keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, pendidikan
kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan di dalam bidang kesehatan
(Mubarak, 2005).
2. Proses kelompok (Group Process)
Bidang tugas perawat komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok masyarakat sebagai
klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan
kelompok khusus, perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya peningkatan,
perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan alternatif
model pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial atau
pengembangan masyarakat.
3. Kerjasama atau kemitraan (Partnership)
Kemitraan adalah hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat. Partisipasi
klien/masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala
kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan
(Elisabeth, 2007).
Kemitraan antara perawat komunitas dan pihak-pihak terkait dengan masyarakat
digambarkan dalam bentuk garis hubung antara komponen-komponen yang ada. Hal ini
memberikan pengertian perlunya upaya kolaborasi dalam mengkombinasikan keahlian
masing-masing yang dibutuhkan untuk mengembangkan strategi peningkatan kesehatan
masyarakat (Elisabeth, 2007).
4. Pemberdayaan (Empowerment)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses pemberian
kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformatif kepada masyarakat,
antara lain: adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri
untuk membentuk pengetahuan baru (Elisabeth, 2007).

Perawat komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat


agar muncul partisipasi aktif masyarakat. Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas
dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi masyarakat
(Elisabeth, 2007).
Sasaran dari perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok khusus,
komunitas baik yang sehat maupun sakit yang mempunyai masalah kesehatan atau perawatan
(Effendy, 1998), sasaran ini terdiri dari:
1. Individu
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi,
psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya
memenuhi kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologi, social, psikologi dan
spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang
kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus
dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama,
di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam
fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada Hirarki
Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan
mencintai, harga diri dan aktualisasi diri.
3. Kelompok khusus
Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan jenis kelamin,
umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah
kesehatan.
4. Tingkat Komunitas
Pelayanan asuhan keperawatan berorientasi pada individu, keluarga dilihat sebagai satu
kesatuan dalam komunitas. Asuhan ini diberikan untuk kelompok beresiko atau
masyarakat wilayah binaan. Pada tingkat komunitas, asuhan keperawatan komunitas
diberikan dengan mamandang komunitas sebagai klien.

2.2 Trend Dan Issue Keperawatan Komunitas


Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara terus menerus dan
terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga pemenuhan dan metode keprawatan
kesehatan berubah, karena gaya hidup masyarakat berubah dan perawat sendiri juga dapat
menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Definisi dan filosofi terkini dari keperawatan
memperlihatkan trend holistic dalam keperawatan yang ditunjukkan secara keseluruhan dalam
berbagai dimensi, baik dimensi sehat maupun sakit serta dalam interaksinya dengan keluarga
dan komunitas. Tren praktik keperawatan meliputi perkembangan di berbagai tempat praktik
dimana perawat memiliki kemandirian yang lebih besar.
Perkembangan Keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal ini disebabkan oleh:
1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat sehingga informasi
dengan cepat dapat diakses oleh semua orang sehingga informasi dengan cepat diketahui
oleh masyarakat.
2. Perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di Indonesia harus
menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di negara yang telah berkembang .
3. Sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat sehingga masyarakat menuntut pelayanan
kesehatan yang berkualitas tinggi, tapi di lain pihak bagi masyarakat ekonomi lemah
mereka ingin pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau.

2.3 Konsep Trend dan Issue Home Care


Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care adalah pelayanan
kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan
keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau
memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat
dari penyakit.
Health care secara pribadi masih diutamakan penyakit dan orientasi pengobatan dan
mempunyai keutamaan dalam terapi medisnya. Meskipun The American Medikal Association
(AMA) dan organisasi kesehatan lain mendorong orang-orang untuk memeriksakan
kesehatannya secara rutin yang bertujuan untuk pemeliharaan kesehatan dan pencegahan
penyakit. Kebanyakan asuransi pribadi tidak mengadakan pemeriksaan fisik secara rutin,
sehingga biaya yang harus dikeluarkan oleh klien sangat mahal.
Di Amerika, Home Care (HC) yang terorganisasikan dimulai sejak sekitar tahun 1880- an,
dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit infeksi dengan angka kematian yang tinggi.
Meskipun pada saat itu telah banyak didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya
masih sangat rendah, hal ini dikarenakan masyarakat lebih menyukai perawatan dirumah.
Di Indonesia, layanan Home Care (HC) sebenarnya bukan merupakan hal yang baru,
karena merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh anggota keluarga yang dilatih dan
atau oleh tenaga keperawatan melalui kunjungan rumah secara perorangan, adalah merupakan
hal biasa sejak dahulu kala.

1. Landasan Hukum Home Care


Fungsi hukum dalam Praktik Perawat:
Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai
dengan hukum
Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi
perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
UU Peraturan Home Care:
UU Nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
UU Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan
PP Nomor 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan
PP Nomor 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah.
PP Nomor 47 tahun 2006 tentang Jabatan fungsional dokter, dokter gigi, apoteker,
asisten apoteker, pranata laboratorium kesehatan. epidemiologi kesehatan, entomology
kesehatan, sanitarian, administrator kesehatan, penyuluh kesehatan masyarakat,
perawat gigi, nutrisionis, bidan, perawat, radiographer, perekam medis, dan teknisi
elektromedis.
SK Menpan Nomor 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsonal perawat.
Kepmenkes Nomor 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas.
Kepmenkes Nomor 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas.
Kepmenkes Nomor 374 tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional.
Kepmenkes Nomor 267 tahun 2010 tentang penetapan road map reformasi kesehatan
masyarakat.
Permenkes Nomor 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta.
Permenkes Nomor 148 tahun 2010 tentang ijin dan penyelenggaraan praktik
keperawatan.

2. Tujuan Perawatan Kesehatan Dirumah


Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas
hidupnya.
Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan
masalah kesehatan dan kecacatan.
Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga.
Membantu klien untuk tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan
yang diperlukan rehabilitasi atau perawatan paliatif.

3. Unit Perawatan Home Care


Pengelolah pelayanan
Merupakan individu, kelompok, ataupun organisasi yang bertanggung jawab terhadap
seluruh pengelolaan pelayanan kesehatan rumah baik penyediaan tenaga, sarana dan
peralatan, serta mekanisme pelayanan sesuai standart yang ditetapkan.
Pelaksana pelayanan
Merupakan tenaga keperawatan professional bekerja sama dengan tenaga professional
lain terkait dan tenaga non-profesional. Pelaksana pelayanan terdiri atas coordinator
kasus dan pelaksana pelayanan.
Klien
Merupakan penerima perawatan kesehatan di rumah dengan melibatkan salah satu
anggota keluarga sebagai penanggung jawab yang mewakili klien. Apabila diperlukan
keluarga dapat menunjuk seseorang yang akan menjadi pengasuh yang melayani
kebutuhan sehari-hari klien.

4. Mekanisme Perawatan Kesehatan Dirumah (Home Care)


Pasien/ klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan
dari klinik rawat jalan, unit rawat inap rumah sakit, maupun puskesmas, namun pasien/
klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktek
keperawatan per orangan untuk memperoleh pelayanan. Mekanisme yang harus di lakukan
adalah sebagai berikut:
Pasien / klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh
dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau
tidak.
Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah,
maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelola
atau agensi perawatan kesehatan dirumah, kemudian bersama-sama klien dan keluarga,
akan menentukan masalahnya, dan membuat perencanaan, membuat keputusan,
membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien,
kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan, jenis peralatan, dan jenis sistem
pembayaran, serta jangka waktu pelayanan.
Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksana pelayanan keperawatan
dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut
oleh pengelola perawatan dirumah. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh
koordinator kasus, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan
harus diketahui oleh koordinator kasus.
Secara periodic koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap
pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan.
Persyaratan pasien yang menerima pelayanan perawatan dirumah:
Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggungjawab atau menjadi
pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola.
Bersedia menandatangani persetujuan setelah diberikan informasi (Informed consent).
Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah
untuk memenuhi kewajiban, tanggung jawab, dan haknya dalam menerima pelayanan.

5. Lingkup Praktik Home Care


Lingkup praktik keperawatan mandiri meliputi asuhan keperawatan perinatal, asuhan
keperawatan neonantal, asuhan keperawatan anak, asuhan keperawatan dewasa, dan
asuhan keperawatan maternitas, asuhan keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan
lingkup wewenang dan tanggung jawabnya. Keperawatan yang dapat dilakukan dengan:
Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian bio- psiko-
sosio- spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung, melakukan observasi, dan
wawancara langsung, menentukan masalah keperawatan, membuat perencanaan, dan
melaksanakan tindakan keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia yang menyimpang, baik tindakan-tindakan
keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis),
memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi.
Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada klien,
dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggung jawaban dan tanggung gugat untuk
perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa pelayanan kepertawatan yang diberikan.
Melakukan koordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan secara
berkelompok.
Sebagai pembela/pendukung(advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan
keperawatan klien dirumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah sakit dan
memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan pembiayaan
terhadap klien sesuai dengan pelayanan /asuhan yang diterima oleh klien.
Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di rumah dilakukan,
mencangkup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di lakukan.

Secara umum lingkup perawatan kesehatan di rumah juga dapat dikelompokkan


sebagai berikut:
Pelayanan medik dan asuhan keperawatan
Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan yang terapeutik
Pelayanan rehabilitasi dan terapi fisik
Pelayanan informasi dan rujukan
Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan
Higiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan
Pelayanan perbaikan untuk kegiatan social

Menurut Rice R (2001) jenis kasus yang dapat dilayani pada perawatan kesehatan di
rumah meliputi kasus-kasus yang umum pasca perawatan di rumah sakit dan kasus-kasus
khusus yang di jumpai di komunitas.
Kasus umum yang merupakan pasca perawatan di rumah sakit adalah:
Klien dengan penyakit gagal jantung
Klien dengan gangguan oksigenasi
Klien dengan perlukaan kronis
Klien dengan diabetes
Klien dengan gangguan fungsi perkemihan
Klien dengan kondisi pemulihan kesehatan atau rehabilitasi
Klien dengan terapi cairan infus di rumah
Klien dengan gangguan fungsi persyarafan
Klien dengan HIV/AIDS
Sedangkan kasus dengan kondisi khusus, meliputi:
Klien dengan post partum
Klien dengan gangguan kesehatan mental
Klien dengan kondisi usia lanjut
Klien dengan kondisi terminal
Klien dengan penyakit obstruktif paru kronis.

6. Manfaat Perawatan Kesehatan Dirumah (Home Care)


Manfaat untuk keluarga:
Biaya kesehatan akan lebih terkendali
Mempererat ikatan keluarga karena dapat berdekatan dengan anggota keluarga yang
lain saat sakit
Merasa lebih nyaman karena berada di rumah sendiri
Manfaat untuk perawat:
Memberikan variasi lingkungan kerja sehingga tidak jenuh dengan lingkungan yang
sama.
Dapat mengenal lingkungan dan klien dengan baik sehingga pendidikan kesehatan
yang diberikan sesuai dengan situasi dan kondisi rumah klien.

7. Tahap-tahap Perawatan Kesehatan Dirumah (Home Care)


Fase persiapan
Pada Fase pertama ini, perawat mendapatkan data tentang keluarga yang akan
dikunjungi dari Puskesmas atau Ibu Kader. Perawat perlu membuat laporan
pendahuluan untuk kunjungan yang akan dilakukan. Kontrak waktu kunjungan perlu
dilakukan pada fase ini.
Fase Inisiasi (perkenalan)
Fase ini mungkin memerlukan beberapa kali kunjungan. Selama fase ini, perawat dan
keluarga berusaha untuk saling mengenal dan bagaimana keluarga menanggapi suatu
masalah kesehatan.
Fase implementasi
Pada Fase ini, perawat melakukan pengkajian dan perencanaan untuk mengatasi
masalah kesehatan yang dimiliki oleh klien dan keluarga.
Lakukan intervensi sesuai rencana. Eksplorasi Nilai-nilai keluarga dan persepsi
keluarga terhadap kebutuhannya. Berikan pendidikan kesehatan sesuai tingkat
Pendidikan Klien dan keluarga serta sediakan pula informasi tertulis.
Fase terminasi
Fase ini perawat membuat kesimpulan hasil kunjungan berdasarkan pada pencapaian
tujuan yang ditetapkan bersama keluarga.Menyusun rencana tindak lanjut terhadap
masalah kesehatan yang sekarang di tangani dan masalah kesehatan yang mungkin di
alami oleh keluarga sangat penting dilakukan pada fase terminasi.
Fase pasca kunjungan
Sebagai fase terakhir hendaknya perawat membuat dokomentasi lengkap tentang hasil
kunjungan untuk disimpan di pelayanan kesehatan ,dokumentasi tersebut harus
memenuhi aspek lengkap(komplit),jelas(clear),dan dapat dibaca(legible). Adapun cara
untuk melakukan kunjungan yaitu angket, pertelepon, lewat email,atau kunjungan
secara langsung.

8. Prinsip Home Care


Prinsip-prinsip yang perlu diterapkan dalam pengaplikasian home care adalah:
Pengelolaan home care dilaksanakan oleh perawat/tim
Mengaplikasikan konsep sebagai dasar mengambil keputusan dalam praktik.
Mengumpulan data secara sistematis, akurat dan komrehensif.
Menggunakan data hasil pengkajian dalam menetakan diagnosa keperawatan.
Mengembangkan rencana keperawatan didasarkan pada diagnosa keperawatan.
Memberi pelayanan prepentif, kuratif, promotif dan rehabilitaif.
Mengevaluasi respon pasien dan keluarganya dalam intervensi keperawatan.
Bertanggung jawab terhadap pelayanan yang bermutu melalui manajemen kasus.
Memelihara dan menjamin hubungan baik diantara anggota tim.
Mengembankan kemampuan profesional.
Berpartisifasi pada kegiatan riset untuk pengembangan home care.
Menggunakan kode etik keperawatan daam melaksanakan praktik keperawatan

9. Peran dan Fungsi Home Care


Manajer kasus: Mengelola dan mengkolaborasikan pelayanan, dengan fungsi:
Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarga.
Menyusun rencana pelayanan.
Mengkoordinir aktifitas tim
Memantau kualitas pelayanan
Pelaksana: Memberi pelayanan langsung dan mengevaluasi pelayanan. dengan fungsi:
Melakukan pengkajian komprehensif
Menetapkan masalah
Menyusun rencana keperawatan
Melakukan tindakan perawatan
Melakukan observasi terhadap kondisi pasien
Membantu pasien dalam mengembangkan prilaku koping yang efektif.
Melibatkan keluarga dalam pelayanan
Membimbing semua anggota keluarga dalam pemeliharaan kesehatan
Melakukan evaluasi terhadap asuhan keperawatan.
Mendokumentasikan asuhan keperawatan.

10. Kegiatan Home Care


Melakukan seleksi kasus
Resiko tinggi (Bayi, balita, lansia, ibu maternal)
Cidera tulang belakang cidera kepala
Coma, Diabetes mellitus, gagal jantung, asma berat
Stroke
Amputasi
Ketergantungan obat
Luka kronis
Disfungsi kandung kemih
Rehabilitasi medic
Nutrisi melalui infuse
Post partum dan masalah reproduksi
Psikiatri
Kekerasan dalam rumah tangga
Melakukan pengkajian kebutuhan pasien
Kondisi fisik
Kondisi psikologis
Status sosial ekonomi
Pola prilaku pasien
Sumber- sumber yang tersedia di keluarga pasien
Membuat perencanaan pelayanan
Membuat rencana kunjungan
Membuat rencana tindakan
Menyeleksi sumber- sumber yang tersedia di keluarga/masyarakat.
Melakukan koordinasi pelayanan
Memberi informasi berbagai macam pelayanan yang tersedia
Membuat perjanjian kepada pasien da keluarga tentang pelayanan
Menkoordinasikan kegiatan tim sesuai jadwal
Melakukan rujukan pasien
Melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan
Memonitor tindakan yang dilakukan oleh tim
Menilai hasil akhir pelayanan (Sembuh, rujuk, meninggal, menolak)
Mengevaluasi proses manajemen kasus
Monitoring dan evaluasi kepuasan pasien secara teratur
11. Tatalaksana Home Care
Ketenagaan
Manajer kasus, dengan kualifikasi:
Minimal D.III
Pemegang sertifikat pelatihan home care
Pengalaman kerja minimal 3 tahun
Memiliki SIP, SIK, SIPP.
Pelaksana pelayanan, dengan kwalifikasi:
Minimal D.III
Pemegang sertifikat pelatihan home care
Pengalaman kerja minimal 3 tahun
Memiliki SIP, SIK, SIPP.

Alat/sarana
Alat kesehatan
Tas/ kit
Pemeriksaan fisik
Set perawatan luka
Set emergency
Set pemasangan selang lambung
Set huknah
Set memandikan
Set pengambilan preparat
Set pemeriksaan lab. Sederhana
Set infus/ injeksi
Sterilisator
Pot/ urinal
Tiang infuse
Tempat tidur khusus orang sakit
Pengisap lender
Perlengkapan oxygen
Kursi roda
Tongkat/ tripot
Perlak/ alat tenun
Alat habis pakai
Obat emergency
Perawatan luka
Suntik/ pengamian darah
Untuk infuse
Pemasangan selang lambung
Huknah, selang lambung, kateter
Sarung tangan, masker

12. Perizinan Home Care


Berbadan hukum (Yayasan, badan hukum lainnya)
Permohonan ijin ke Dinkes kabupaten/ Kota, dengan melampirkan:
Rekomendasi PPNI
Ijin prakik perawat (SP, SIK, SIPP)
Persyaratan peralatan kesehatan dan sarana komunikasi dan transportasi
Ijin lokasi bangunan
Ijin lingkungan
Ijin usaha
Persyaratan tata ruang bangunan
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan
dengan masalah-masalah lain diluar kesehatan sendiri.
Pelayanan keperawatan berupa bantuan yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan
mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemauan, sehingga dengan bantuan
yang diberikan tersebut diperoleh kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari
secara mandiri.
Saat ini sedang berkembang pelayanan kesehatan yang berbasis perawatan kesehatan
dirumah atau uang biasa dikenal Home Care.
Home care merupakan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif
yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk
meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat
kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit.

3.2 Saran
Perawat dapat memilih dari dan menggunakan berbagai metode, materi, dan media untuk
mendukung kesehatan mereka kegiatan pendidikan. Sumber daya tersebut harus ditinjau dan
di evaluasi untuk kesesuaian mereka untuk kelompok sasaran yang dituju. Kunci untuk
memenuhi kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat yang merangkul gagasan bahwa
pendidikan kesehatan adalah proses interaktif akan dipengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal banyak. Untuk rekan sejawat mengetahui trend issue keperawatan kesehatan
komunitas di Indonesia dan dunia diantaranya home care, home health care, perawat keluarga,
pondok kesehatan desa (ponkesdes).
DAFTAR PUSTAKA

Koenig Kathleen Blais dkk, (2006). Pratik Keperawatan Profesional Edisi 4. EGC, Jakarta.

Effendy Nasrul, (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 2. Jakarta: EGC.

Zang, S.M & Bailey, N.C. Alih Bahasa Komalasari, R. (2004). Manual Perawatan di rumah

(Home Care Manual) Edisi Terjemahan Cetakan I. Jakarta: EGC.

Setyowati Sri dkk. (2008). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep Dan Aplikas kasus Edisi

Revisi. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Sumijatu dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatn Komunitas. Jakarta: EGC.