Anda di halaman 1dari 20

TITRASI PEMBENTUKAN KOMPLEKS

I. IDENTITAS

Tujuan Praktikum : Menentukan derajat kesadahan air dengan titrasi


pembentukan kompleks
Waktu Praktikum : Selasa, 1 Juni 2010

Nama Anggota Kelompok : I Komang Wisnu Budi Wijaya (0813031008)

I.G.A. Trisna Utami (0813031011)

Putu Sukasari (0813031026)

Ni Ketut Sinarsih (0813031027)

II. PENDAHULUAN

Analisis volumetri didasarkan atas penentuan konsentrasi analit yang dihitung


dari volume larutan pereaksi atau volume suatu reaksi untuk lengkapnya reaksi yang
terjadi. Salah satu bagian dari analisis volumetric adalah analisis titrimetri. Dalam
analisis titrimetri, analit direaksikan dengan suatu pereaksi yang konsentrasinya
diketahui dengan tepat untuk bereaksi secara ekivalen. Pereaksi yang digunakan ini
disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan dengan suatu proses yang disebut
standarisasi.
Analisis titrimetri pun juga digolongkan menjadi beberapa bagian sesuai dengan
reaksi kimia yang mendasarinya yaitu sebagai berikut :
1. Titrasi asam basa yaitu titrasi yang menyangkut reaksi penetralan asam-basa.
2. Titrasi presipitimetri yaitu titrasi yang melibatkan pembentukan endapan
3. Titrasi redoks yaitu titrasi yang reaksinya melibatkan perpindahan electron, di
mana terdapat unsure-unsur yang mengalami perubahan tingkat oksidasi
4. Titrasi kompleksometri yaitu titrasi yang berdasarkan pada pembentukan
senyawa kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion)
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan
kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan
jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa
kompleks. Reaksireaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks
banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Titrasi
kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion
kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan.
Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi.
Senyawa pembentuk kompleks sering disebut dengan komplekson. Dalam
analisis titrimetri dipilih komplekson yang dapat membentuk kompleks secara
kuantitatif. Salah satu komplekson yang sering digunakan adalah EDTA ( asam etilena
diamina asetat). Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA,
merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan
seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan
keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih
dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat
(asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen
penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul. Rumus molekul
dari EDTA adalah H4C10H12O8N2 atau sering disingkat H4Y.
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan
sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam
larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan
sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila
beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan
menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut.
Faktor-faktor yang menyebabakan EDTA sangat baik sebagai komplekson
adalah sebagai berikut :
1) Selalu membentuk kompleks ketika direaksikan dengan ion logam
2) Kestabilannya dalam membentuk kelat sangat konstan sehingga reaksi berjalan
sempurna (kecuali dengan logam alkali)
3) Dapat bereaksi cepat dengan banyak jenis ion logam
4) Telah dikembangkan indikatornya secara khusus
5) Mudah diperoleh bahan baku primernya
6) Dapat digunakan baik sebagai bahan yang dianalisis maupun sebagai bahan
untuk standardisasi
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr,
dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri
mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja
kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri.
Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah
Eriochrome black T (Erio T).
Dalam analisis volumetri (titrasi kompleksometri) yang sering digunakan adalah
garam dinatrium dari asam EDTA yaitu Na2H2C10H12O8N2 atau disingkat Na2H2Y, yang
mana dalam air garam ini terionisasi membentuk ion bivalen H2Y2-.
Na2H2Y 2Na+ + H2Y2-
Kompleks logam EDTA adalah kompleks 1 : 1, artinya 1 mol ion logam selalu
mengikat satu mol EDTA dengan melepaskan 2 mol ion hidrogen. Reaksi EDTA dengan
ion logam adalah sebagai berikut :
Mn+ + H2Y2- MY n-4 + 2H+
Dari reaksi tersebut dapat dinyatakan bahwa penambahan EDTA menyebabkan
pH makin kecil dan konsentrasi ion logam makin kecil (pM makin besar). Dalam titrasi,
EDTA digunakan indikator yang sensitif terhadap perubahan pM, misalnya Erichome
Black T (Erio T). NaH2In yang dalam air terionisasi memberikan ion berwarna yang
berbeda-beda :
NaH2In Na+ + H2In-
H2In- Hin2- In3-
pH = 5,3 -7,3 pH = 10,5 -12,5
merah biru oranye kekuningan

Pada pH 7-11 warna indikator adalah biru, tetapi dengan adanya ion logam
(misalnya Mg2+) warnanya berubah menjadi merah anggur dari kompleks logam
indikator. Stabilitas kompleks logam-indikator harus lebih rendah dari kompleks logam-
EDTA, sehingga memungkinkan terjadinya reaksi substitusi sebagai berikut :
Mg2+ + Hin2- MgIn- + H+
Biru merah anggur
MgIn- + H2Y2- MgY2- + Hin2- + H+
Biru
Apabila ke dalam larutan yang mengandung ion Ca2+ dan Mg2+ ditambahkan
beberapa tetes indikator Erio T, maka mula-mula akan terbentuk kompleks MgIn- yang
berwarna merah anggur. Hal ini disebabkan oleh stabilitas kompleks MgIn - yang lebih
stabil daripada kompleks CaIn-. Selanjutnya apabila dititrasi dengan EDTA, maka mula
mula EDTA akan bereaksi dengan Ca2+, kemudian Mg2+ dan terakhir baru dengan
kompleks MgIn-, sehingga terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.
Air yang mengandung ion-ion yang menghasilkan sejumlah besar endapan
dinamakan air sadah. Air sadah mengandung ion Ca2+, Mg2+, Sr2+, Fe2+ dan Mn2+ dalam
konsentrasi tinggi. Oleh karena itu, mengakibatkan air menjadi keruh dan dapat
mengurangi daya kerja sabun (air sabun tidak berbuih), serta menimbulkan kerak pada
dasar periuk atau ketel. Kesadahan air dikenal dengan nama kekerasan air (hard water).
Air sadah terbagi menjadi dua jenis, yaitu air sadah sementara dan air sadah
tetap. Air sadah sementara adalah air yang mengandung garam asam bikarbonat dari
ion-ion tersebut di atas, misalnya garam asam Ca(CHO 3)2 dan Mg(HCO3)2. Air sadah
tetap adalah air yang mengandung selain dari garam-garam asam bikarbon dari ion-ion
tersebut diatas, misalnya garam CaCl2, CaSO4, MgCl2 dan MgSO4.
Air sadah dapat menimbulkan kerugian. Dalam industri, misalnya pada industri
pembangkit listrik tenaga air, air sadah dapat menimbulkan kerugian besar. Ketika air
yang mengandung sadah dipanaskan di dalam ketel (boiler), terbentuk campuran
endapan dari MgCO3, CaCO3 dan FeCO3 yang dinamakan kerak (boiler scale).
Pembentukan kerak tersebut merupakan serius dalam banyak industri. Misalnya dalam
ketel (boiler) pembangkit listrik tenaga air (uap air), kerak mengakibatkan ketel terlalu
panas dan dapat meledak. Oleh karena itu, air yang mengandung sadah sebelum
digunakan dalam proses industri dilakukan proses untuk menghilangkan kesadahan air.
Proses untuk menghilangkan kesadahan air disebut proses pelunakan air. Air sadah
sementara dapat kita hilangkan kesadahannya dengan cara mendidihkan (menguapkan).
Endapan garam karbonat yang terbentuk segera disaring sehingga dihasilkan air lunak.
Reaksi yang terjadi pada proses pelunakan air sadah sementara adalah sebagai berikut :
Ca(CHO3)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O(l) + CO2 (g)
o
C (dipanaskan)
Air sadah tetap tidak dapat dihilangkan kesadahannya dengan penguapan
(pemanasan) tetapi dapat dihilangkan dengan penambahan soda kapur Na 2CO3. Cara
lain untuk pelunakan air sadah tetap adalah dengan penambahan zeolit
(Na2O.Al2O3.nSiO2), atau dengan cara penambahan resin penukar ion (ion exchanger).
Reaksi yang terjadi pada proses pelunakan air adalah sebagai berikut :
Ca(CHO3)2 (aq) + Na2CO3 (aq) CaCO3 (s) + Na2SO4(aq)
Tingkat kesadahan air sering dinyatakan dengan derajat kesadahan Prancis, yaitu
yang menyatakan banyaknya garam yang ekivalen dengan CaCO3 dalam 100 liter air.

III. METODE

3.1. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1. Alat :
Neraca ohaus : 1 buah
Kaca arloji : 2 buah
Batang pengaduk : 1 buah
Gelas kimia 250 mL : 3 buah
Gelas kimia 100 mL : 2 buah
Spatula : 1 buah
Pipet tetes : 1 buah
Gelas ukur 50 mL : 1 buah
Gelas ukur 10 mL : 1 buah
Pembakar bunsen : 1 buah
Kaki tiga : 1 buah
Kasa : 1 buah
Corong : 1 buah
Kertas saring : secukupnya
Labu ukur 250 mL : 1 buah
Labu ukur 100 mL : 1 buah
Erlenmeyer 250 mL : 3 buah
Batang statif dan klem : 1 buah
Buret : 1 buah
Filler : 1 buah
Pipet volumetri : 1 buah
Penjepit kayu : 1 buah

2. Bahan :
Erio T : secukupnya
Etanol : secukupnya
NH4Cl : secukupnya
Amonia pekat : secukupnya
Aquades : secukupnya
EDTA : secukupnya
ZnSO4.7H2O : secukupnya
Air sadah : secukupnya

3.2. Prosedur Kerja

1. Pembuatan indikator Erio T


Menimbang Erio T seberat 0,4 gram dan melarutkannya dalam 100 mL etanol

2. Pembuatan larutan buffer salmiak (pH=10)


a. Menimbang 17,5 gram NH4Cl dan melarutkannya dalam 142 mL amonia pekat
(bj = 0,88-0,90 kg/L)
b. Melakukan pengenceran dengan aquades sampai volume 250 mL

3. Pembuatan larutan EDTA 0,01 M


Menimbang 3,7225 gram garam ini dengan teliti dan melarutkannya dalam 1 L
aquades

4. Pembuatan larutan standar Zn2+ 0,1 M


a. Menimbang 28,7500 gram ZnSO4.7H2O dengan teliti dan melarutkannya dengan
aquades sampai volume 1 L
b. Mengencerkan larutan ini hingga konsentrasinya menjadi 0,01 M

5. Penghilangan kesadahan sementara air


a. Mendidihkan 250 mL air sadah selama 30 menit, mendinginkan lalu
menyaringnya
b. Memasukkan filtrat tersebut ke dalam labu ukur 250 mL dan menambahkan
aquades sampai tanda batas

6. Penstandarisasian larutan EDTA


a. Memasukkan 25,0 mL larutan standar ZnSO4 ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan 2 mL buffer salmiak dan 5 tetes indikator Erio T
b. Menitrasi larutan tersebut dengan larutan EDTA sampai terjadi perubahan warna
dari merah anggur menjadi biru
c. Mencatat volume titran yang digunakan. Mengulangi titrasi tersebut sebanyak
dua kali

7. Penentuan kesadahan total air


a. Memasukkan 25,0 mL sampel air sadah ke dalam erlenmeyer. Menambahkan 2
mL buffer salmiak dan 5 tetes indikator Erio T
b. Menitrasi larutan tersebut dengan larutan EDTA sampai terjadi perubahan warna
dari merah anggur menjadi biru. Apabila air sampel tidak mengandung Mg 2+,
perubahan warna menjadi tidak jelas, maka melakukan penambahkan 0,1 mL
MgY2- 0,1 M sebelum menambahkan indikator
c. Mencatat volume titran yang digunakan. Mengulangi titrasi tersebut sebanyak
dua kali
d. Menentukan kesadahan total air dalam derajat kesadahan Prancis

8. Penentuan kesadahan tetap dari air


a. Memasukkan 25,0 mL sampel air yang telah dididihkan ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan 2 mL buffer salmiak dan 5 tetes indikator Erio T
b. Menitrasi larutan tersebut dengan larutan EDTA sampai terjadi perubahan warna
dari merah anggur menjadi biru
c. Mencatat volume titran yang digunakan. Mengulangi titrasi tersebut sebanyak
dua kali
d. Menentukan kesadahan tetap air dalam derajat kesadahan Prancis
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1. Pembuatan indikator Erio T
Menimbang Erio T seberat 0,4 gram dan Serbuk Erio T berwarna hitam dan
melarutkannya dalam 100 mL etanol. ditimbang dengan berat 0,4 gram. Setelah
dilarutkan dalam etanol, didapat larutan
yang berwarna merah tua.
2. Pembuatan larutan buffer salmiak (pH=10)
a. Menimbang 17,5 gram NH4Cl dan Kristal NH4Cl berwarna putih dan
melarutkannya dalam 142 mL amonia ditimbang dengan berat 17,5 gram.
pekat (bj = 0,88-0,90 kg/L) Setelah dilarutkan dalam amonia, didapat
larutan yang berwarna bening
b. Melakukan pengenceran dengan Setelah dilakukan pengenceran, warna
aquades sampai volume 250 mL larutan tetap bening

3. Pembuatan larutan EDTA 0,01 M


a. Mengoven serbuk atau kristal Na2H2Y
pada suhu 80oC dan selanjutnya
mendinginkan dalam desikator Prosedur ini tidak dilakukan
sehingga terbentuk garam dihidrat
dengan Mr = 372,25

b. Menimbang 3,7225 gram garam ini Serbuk EDTA berwarna putih dan
dengan teliti dan melarutkannya ditimbang dengan berat 3,7225 gram.
dalam 1 L aquades
Setelah dilarutkan dalam aquades, didapat
larutan yang berwarna bening

4. Pembuatan larutan standar Zn2+ 0,1 M


a. Menimbang 28,7500 gram Serbuk ZnSO4.7H2O berwarna putih dan
ZnSO4.7H2O dengan teliti dan ditimbang dengan berat 28,7500 gram.
melarutkannya dengan aquades
sampai volume 1 L

Setelah dilarutkan dalam aquades, didapat


larutan yang berwarna bening.
b. Mengencerkan larutan ini hingga Setelah dilakukan pengenceran, warna
konsentrasinya menjadi 0,01 M larutan tetap bening.

5. Penghilangan kesadahan sementara air


a. Mendidihkan 250 mL air sadah Proses pendidihan air sadah
selama 30 menit, mendinginkan lalu
menyaringnya

Setelah dididihkan dan disaring, didapat


air sadah yang berwarna bening
b. Memasukkan filtrat tersebut ke dalam Filtrat yang didapat berwarna bening
labu ukur 250 mL dan menambahkan
aquades sampai tanda batas
6. Penstandarisasian larutan EDTA
a. Memasukkan 25,0 mL larutan standar Larutan berwarna merah anggur
ZnSO4 ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan 2 mL buffer salmiak
dan 5 tetes indikator Erio T

b. Menitrasi larutan tersebut dengan Proses titrasi larutan standar yang telah
larutan EDTA sampai terjadi ditambahi buffer salmiak dan indikator
perubahan warna dari merah anggur Erio T oleh larutan EDTA
menjadi biru

Setelah dilakukan titrasi, maka larutan


yang semula berwarna merah anggur
berubah menjadi berwarna biru.

c. Mencatat volume titran yang Adapun volume titran yang dihabiskan :


digunakan. Mengulangi titrasi tersebut V1 = 24,35 mL
sebanyak dua kali V2 = 24,70 mL
V3 = 24,90 mL
7. Penentuan kesadahan total air
a. Memasukkan 25,0 mL sampel air Larutan berwarna merah anggur
sadah ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan 2 mL buffer salmiak
dan 5 tetes indikator Erio T

b. Menitrasi larutan tersebut dengan Setelah dilakukan titrasi, maka larutan


larutan EDTA sampai terjadi yang semula berwarna merah anggur
perubahan warna dari merah anggur berubah menjadi berwarna biru.
menjadi biru.

c. Mencatat volume titran yang Adapun volume titran yang dihabiskan :


digunakan. Mengulangi titrasi tersebut V1 = 2,23 mL
sebanyak dua kali V2 = 2,18 mL
V3 = 2,20 mL
d. Menentukan kesadahan total air dalam Tingkat kesadahan total dalam derajat
derajat kesadahan Prancis kesadahan Prancis dari sampel air sadah
adalah 8,8 gram/100 L
8. Penentuan kesadahan tetap dari air
a. Memasukkan 25,0 mL sampel air Larutan berwarna merah anggur
yang telah dididihkan ke dalam
erlenmeyer. Menambahkan 2 mL
buffer salmiak dan 5 tetes indikator
Erio T
b. Menitrasi larutan tersebut dengan Setelah dilakukan titrasi, maka larutan
larutan EDTA sampai terjadi yang semula berwarna merah anggur
perubahan warna dari merah anggur berubah menjadi berwarna biru.
menjadi biru

c. Mencatat volume titran yang Adapun volume titran yang dihabiskan :


digunakan. Mengulangi titrasi tersebut V1 = 2,25 mL
sebanyak dua kali V2 = 2,10 mL
V3 = 1,95 mL
d. Menentukan kesadahan tetap air Tingkat kesadahan tetap dalam derajat
dalam derajat kesadahan Prancis kesadahan Prancis dari sampel air sadah
adalah 8,4 gram/100 L

IV.2 Pembahasan
Dalam praktikum penentuan derajat kesadahan air dengan titrasi
kompleksiometri digunakan larutan EDTA yang sebelumnya distandarisasi dengan
menggunakan larutan standard ZnSO4. Standarisasi ini dilakukan karena EDTA belum
memenuhi persyaratan standard primer, dimana kepekatan dari EDTA ini mudah
berubah selama penyimpanan (akibat kemampuan yang tinggi untuk membentuk
kompleks). Sehingga dengan standarisasi ini maka konsentrasi EDTA dapat diketahui
secara pasti dan nantinya dapat digunakan untuk penentuan derajat kesadahan air.
Dalam standarisasinya, EDTA difungsikan sebagai titran sedangkan ZnSO 4
sebagai titrat. Sebelum dititrasi, ke dalam larutan ZnSO4 ditambahkan 2 mL larutan
buffer salmiak dan lima tetes larutan erio T. Penambahan buffer salmiak bertujuan untuk
menjaga agar pH dari sistem tersebut tetap, meskipun terjadi pembebasan H3O+ dengan
terbentuknya kompleks. Sedangkan penambahan erio T adalah untuk memperjelas
tercapainya titik akhir titrasi atau sebagai indikator.
Kesadahan total air ditentukan dengan cara titrasi, dimana air sadah bertindak
sebagai titrat dan EDTA sebagai titrannya. Titrat tersebut ditambahkan buffer salmiak
dan 5 tetes erio T. Ion Mg 2+ dan ion Ca2+ yang terdapat dalam sampel air sadah tersebut
akan bereaksi dengan indikator erio T (NaH2ln) membentuk senyawa kompleks Caln-
dan Mgln-, dimana kompleks Mgln- lebih stabil dibandingkan Caln-. Sehingga titrat
yang awalnya bening berubah warna menjadi merah anggur akibat terbentuknya
kompleks Mgln-. Reaksinya adalah sebagai berikut.
Ca + Hln-2 Caln- + H+
Mg + Hln-2 Mgln- + H+
(merah anggur)
Penambahan buffer salmiak bertujuan agar pH larutan tetap stabil serta untuk
meningkatkan selektifitas dari larutan EDTA, sedangkan erio T bertindak sebagai
indikator sehingga terjadinya titik akhir titrasi dapat diamati secara jelas. Pada saat
berlangsungnya proses titrasi, maka ion Ca2+, Mg2+, dan Mgln pada sampel air sadah
akan bereaksi dengan EDTA membentuk kompleks. Dimana ion Ca2+ yang akan
bereaksi terlebih dahulu dengan EDTA. Setelah ion Ca2+ habis maka ion Mg2+ yang
akan bereaksi dengan EDTA. Dan ketika ion Mg2+ telah habis bereaksi, maka
selanjutnya kompleks Mgln yang akan bereaksi dengan EDTA membentuk komleks
MgY-2. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna titrat dari merah anggur
menjadi biru. Reaksinya adalah sebagai berikut.
Mgln- + H2Y-2 MgY-2 + Hln-2 + H+
(merah anggur) (biru)
Untuk menentukan kesadahan tetap air, hal pertama yang dilakukan adalah
menghilangkan kesadahan sementara. Untuk menghilangkan kesadahan sementara maka
sampel air sadah dididihkan selama 30 menit. Persamaan reaksinya sebagai berikut.
Ca(HCO3)2(aq) CaCO3(s) + H2O(l) + CO2(g)
Mg(HCO3)2(aq) MgCO3(s) + H2O(l) + CO2(g)
Setelah dipanaskan selanjutnya sampel air sadah tersebut didinginkan kemudian
dilakukan penyaringan agar endapan karbonat terpisah dari sampel air. Setelah itu
dilakukan titrasi dimana air sadah yang telah dididihkan tersebut bertindak sebagai
titrat dan EDTA sebagai titrannya. Titrat tersebut ditambahkan buffer salmiak dan 5
tetes erio T sehingga titrat yang awalnya bening berubah warna menjadi merah anggur.
Penambahan buffer salmiak bertujuan agar pH larutan stabil, sedangkan erio T sebagai
indikatornya. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna titrat dari merah
anggur menjadi biru.

Hasil Perhitungan

Konsentrasi EDTA yang digunakan dalam standarisasi

Titrasi ke: Volume EDTA yang diperlukan

1 24,35 mL

2 24,70 mL

3 24,90 mL

Volume 24,65 mL
Rata-rata

Berdasarkan data hasil titrasi ZnSO4 dengan EDTA, diperoleh volume rata-rata
EDTA yang digunakan adalah 24,65 mL. Sehingga dapat dihitung konsentrasi dari
EDTA sebagai berikut.

Diketahui : V EDTA rata-rata = 24,65 mL

V ZnSO4 = 25 mL

M ZnSO4 = 0,01 M = N ZnSO4 = 0,01 N

Karena n EDTA = 1, maka kemolaran EDTA sama dengan kenormalan EDTA

Ekivtitrat = Ekivtitran

VZnSO4 x N ZnSO4 = VEDTA x NEDTA


25 mL x 0,01 N = 24,65 mL x NEDTA

25 mL 0,01 N
NEDTA = 24,65 mL

NEDTA = 0,0101 N

= 0,01 N

Penentuan kesadahan total air

Volume EDTA yang digunakan adalah sebagai berikut.

No. Titrasi ke- Volume titran

1 I 2,23 mL

2 II 2,18 mL

3 III 2,20 mL

Rata-rata : 2,20 mL

Diketahui : V1 (air sadah) = 25 mL

M2 (EDTA) = 0,01 M

V2 (EDTA) = 2,20 mL (volume rata-rata)

Ditanyakan : Berat CaCO3 ....?

Penyelesaian :

Berat CaCO3 = M EDTA x VEDTA x BM CaCO3

= 0,01 M x 2,20 x 10 -3 lt x 100 gr/mol

= 2,20 x 10-3 gram

2,20 x 10 -3 gram
ppm = x10 6
25 gram
= 88 ppm

1 ppm = 0,1o prancis, maka 88 ppm = 8,8 gram/100 L

Jadi, tingkat kesadahan total dalam derajat kesadahan Prancis dari sampel air sadah
adalah 8,8 gram/100 L

Perhitungan Kesadahan Tetap

Volume EDTA yang digunakan adalah sebagai berikut.

No. Titrasi ke- Volume titran

1 I 2,25 mL

2 II 2,10 mL

3 III 1,95 mL

Rata-rata : 2,10 mL

Diketahui : V1 (air sadah) = 25 mL

M2 (EDTA) = 0,01 M

V2 (EDTA) = 2,10 mL (volume rata-rata)

Ditanyakan : Berat CaCO3 ....?

Penyelesain :

Berat CaCO3 = M EDTA x VEDTA x BM CaCO3

= 0,01 M x 2,10 x 10 -3 lt x 100 gr/mol

= 2,10 x 10-3 gram

2,10 x 10 -3 gram
ppm = x10 6
25 gram

= 84 ppm
1 ppm = 0,1o prancis, maka 88 ppm = 8,4 gram/100 L

Jadi, tingkat kesadahan tetap dalam derajat kesadahan Prancis dari sampel air sadah
adalah 8,4 gram/100 L

Kesadahan sementara = kesadahan total kesadahan tetap

= 8,8 8,4 gram/100 liter

= 0,4 gram/100 liter

V. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dan hasil perhitungan diatas, maka dapat dibuat
kesimpulan yaitu tingkat kesadahan total dalam derajat kesadahan Prancis dari sampel
air sadah adalah 8,8 gram/100 L, untuk tingkat kesadahan tetap dalam derajat kesadahan
Prancis dari sampel air sadah adalah 8,4 gram/100 L dan kesadahan sementara adalah
0,4 gram/100 liter

VI. JAWABAN PERTANYAAN

6.1. Pertanyaan
1. Apa fungsi penambahan larutan buffer salmiak pada prosedur di atas?
2. Apa yang terjadi apabila air sadah digunakan dalam memasak?
3. Berikan alternatif untuk menghilangkan kesadahan air!

6.2. Jawaban
1. Fungsi penambahan larutan buffer salmiak adalah untuk menjaga agar pH dari
sistem tersebut tetap, meskipun terjadi pembebasan H3O+ dengan terbentuknya
kompleks serta untuk meningkatkan selektifitas dari larutan EDTA. Fungsi yang
lain dari penambahan buffer adalah dalam air sadah selain terdapat ion Mg dan
Ca juga terdapat ion besi dan logam logam lain didalamnya. Dan ketika
menggunakan Erio T sebagai indicator, maka akan terjadi blocking indicator
oleh besi. Maka penambahan buffer salmiak dalam titrasi ini akan
menyingkirkan besi sebagai endapan.
2. Apabila air sadah digunakan dalam memasak maka ketel atau alat-alat dapur
yang digunakan untuk memasak tersebut akan berkerak. Hal ini disebabkan
terutama karena adanya kesadahan sementara akibat adanya ion Ca 2+
(Ca(HCO3)2) dan atau Mg2+ (Mg(HCO3)2). Dimana, apabila air sadah tersebut
digunakan untuk memasak atau dipanaskan maka akan terjadi reaksi:
Ca(HCO3)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

Mg(HCO3)2 (aq) MgCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

Endapan yang terbentuk tersebut menyebabkan terbentuknya kerak pada dasar


alat-alat dapur.
3. Beberapa alternatif untuk menghilangkan kesadahan air adalah sebagai berikut.
Untuk menghilangkan kesadahan sementara dapat dilakukan dengan pemanasan.
Dengan melakukan pemanasan maka senyawa yang mengandung ion bikarbonat
(penyebab kesadahan sementara) akan mengendap.
Untuk menghilangkan kesadahan tetap dapat dilakukan dengan mereaksikan air
sadah tersebut dengan larutan karbonat, misalnya Na2CO3 atau K2CO3.
Larutan karbonat berfungsi untuk mengendapkan ion Ca2+ dan atau Mg2+ (CaCl2,
Ca(NO3)2, CaSO4). Sehingga dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3
maka air tersebut telah terbebas dari kesadahan. Reaksi yang terjadi sebagai
berikut.
CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) CaCO3 (s) + 2NaCl (aq)

Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq) MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq)

Menambahkan resin pengikat ion. Resin merupakan zat polimer alami atau
sintetik yang salah satu fungsinya untuk mengikat kation dan anion tertentu.
Secara teknis proses penghilangan air sadah ini dilakukan dengan melewatkan
air sadah melalui suatu wadah yang berisi resin pengikat kation dan anion,
sehingga diharapkan kation Ca2+ dan Mg2+ dapat diikat resin. Dengan demikian,
air tersebut akan terbebas dari kesadahan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Kesadahan Air. http://wikipedia.com/Kesadahanair [3 Juni 2010]


Day,R.A, dan A.L. Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: PT. Erlangga
Selamat, I Nyoman., I Gusti Lanang Wiratma., I Dewa Ketut Sastrawidana. 2008.
Kimia Analitik Kuantitatif. Singaraja : Jurusan Pendidikan Kimia Undiksha
Selamat, I Nyoman, dan I Gusti Lanang Wiratma 2004. Penuntun Praktikum Kimia
Analitik. Singaraja : Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan MIPA IKIP
Negeri Singaraja