Anda di halaman 1dari 6

A.

Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-harinya, setiap individu harus memiliki etika merupakan


hal yang penting. Etika ada banyak, misalnya: etika berbicara, etika makan, etika
berpakaian, etika berolahraga, etika politik, dan sebagainya. Bahkan dalam bidang bisnis
pun memiliki etika yang dikenal dengan nama etika bisnis. Etika bisnis memiliki
jangkauan yang relatif luas tentang bisnis. Etika bisnis tidak terbatas hanya
mengetengahkan kaidah-kaidah berbisnis yang baik (standar moral) dalam pengertian
transaksi jual beli produk saja. Etika juga menyangkut kaidah yang terkait dengan
hubungan manajemen dan karyawan.

Wujud dari masalah etika bisnis dapat dicirikan oleh adanya faktor-faktor: (1)
berkaitan dengan hati nurani, standar moral, atau nilai terdalam dari manusia, (2) karena
masalahnya rumit, maka cenderung akan timbul perbedaan persepsi tentang sesuatu yang
buruk atau tidak buruk; membahagiakan atau menjengkelkan, (3) menghadapi pilihan
yang serba salah, contoh Akuisisi internal Indocement terhadap Bogasari ; pilihannya
kalau mau dapat untung maka tetap saja menjalankan akuisisi internal tersebut namun
tetap dibayangin masalah etika yaitu merugikan pemegang saham minoritas dan merusak
nama Bursa karena ketidaktransparansian. (4) kemajemukan faktor-faktor yang harus
dipertimbangkan.

Jika suatu perusahaan terdaftar di pasar modal maka etika lain yang di temukan
adalah keadilan terhadap pemegang saham minoritas di bursa. Sebagai contoh kasus
akuisisi Internal Perusahaan Salim Group yaitu akuisisi Indocement terhadap Bogasari
yang di tenggarai terjadi karena adanya niat-niat yang menyimpang Emiten. Dalam kasus
ini tentu yang di rugikan adalah pemelik saham minoritas karena adanya pengurangan
deviden karena peningkatan aktiva dan peningkatan penyusutan, selain itu dalam Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS) pemilik saham minoritas tidak punya hak untuk
menolak akuisisi ini. Pemerintah pun tak luput dirugikan dalam hal ini dalam hal sektor
penerimaan pajak akibat peningkatan penyusustan dan pelarian dana keluar negerei (Dana
hasil akuisisi di investasikan ke china).

B. Rumusan Masalah
1. Pihak-Pihak mana saja yang terlibat dalam akuisisi internal PT. Indocement terhadap
PT. Bogasari?

2. Pihak-Pihak mana saja yang diuntungkan dalam akuisisi internal PT. Indocement
terhadap PT. Bogasari?

3. Pihak-Pihak mana saja yang dirugikan dalam akuisisi internal PT. Indocement terhadap
PT. Bogasari?

4. Bagaimana Etchic Cek dalam kasus Akuisisi Internal PT. Indcement terhadap PT.
Bogasari?

C. Pembahasan

1. Pihak-Pihak yang Terlibat dalam akuisisi Internal PT Indocement terhadap PT


Bogasari adalah:

a. Para pemegang saham mayoritas

b. Pemerintah selaku pengatur regulasi dan pemegang 25,93% saham Indocement

c. Perusahaan Salim Group yaitu Indocement dan Bogasari.

2. Pihak-Pihak yang di Untungkan

a. Perusahaan (Emiten) dalam satu grup bisa meningkatkan permodalannya sekaligus


memperkuat kekuatannya untuk membuat utang. Dengan akuisisi, perusahaan bisa
mengeluarkan sejumlah saham baru sehingga kembali mendapat agio.

b. Pemegang saham Mayoritas akuisisi Indocement terhadap Bogasari ibarat


mengambil uang dari saku kiri dan kemudian menyimpannya di saku kanan. Karena
mereka dapat uang tunai dan tetap sebagai pemegang saham mayoritas

3. Pihak yang di Rugikan


a. Akuisisi-akuisisi oleh perusahaan publik akan semakin memperburuk citra bursa
efek. Karena, berbagai akuisisi itu tidak dilakukan secara transparan.

b. Pemerintah malah akan menderita rugi dengan adanya akuisis internal ini sebeb aset
perusahaan akan membengkak, otomatis akan menambah beban penyusutan. Dan
sudah pasti, ujung-ujungnya akan mengurangi kewajiban PPh perusahaan yang
bersangkutan. Selain itu aliran dana akuisisi lari ke luar negeri yaitu China.

c. Akusisisi terhadap perusahaan dalam satu kelompok akan merugikan kelompok


minoritas. Kelompok minoritas yang dimaksudnya adalah mereka yang telah
membeli saham di bursa dan tidak terlibat dalam manajemen. Hal ini mengingat ini
di bursa banyak saham perusahaan yang masih didominasi keluarga. Selain itu
Karena beban penyusutan yang lebih besar akan mengurangi jumlah dividen yang
bakal diterima mereka.

4. Etchic Cek dalam kasus Akuisisi Internal PT Indcement terhadap PT Bogasari

a. Is It Legal?

Pertanyaan pertama bahwa semua variabel yang dipakai dalam suatu pengambilan
keputusan harus legal, tidak ada satu pun yang melanggar hukum dan hasil
keputusannya pun tidak boleh melanggar peraturan perundangan-undangan yang
ada. Namun, legalitas keputusan diperikasa bukan berdasarkan perspektif hokum
perdata saja namun juga harus berdasarkan kebijakan perusahaan, standard umum,
dan etika berbisnis.

Dalam kasus indocement jika ditinjau dari segi hukum hak ini adalah legal sebab
pada dasarnya, hal-hal mengenai akuisisi sudah diatur dalam UU Pajak Penghasilan
(PPh) tahun 1984 serta Peraturan Pemerintah (PP) nomor 42 tahun 1985. Dalam UU
PPh tersebut, ada tiga pasal yang mengatur soal akuisisi yaitu Pasal 4, 10, dan 11.
Sedangkan dalam PP 42, akuisisi diatur dalam Pasal 3. Dalam Pasal 4 UU PPh 1984,
dengan jelas disebutkan bahwa keuntungan yang timbul akibat pengalihan harta
terkena pemotongan pajak.
Namun jika ditinjau secara etika bisnis , akuisisi internal PT Indocement terhadap
PT Bogasari adalah tidak legal karena dengan adanya akuisisi antara dua perusahaan
ini dapat terlihat bahwa beban yang ditanggung akan terlihat semakin besar, karena
adanya pembengkakan aktiva yang akan mengakibatkan penyusutan besar yang
dapat mengakibatkan laba terlihat lebih rendah dari yang dihasilkan sehingga dengan
demikian perusahaan akan membayar pajaknya lebih rendah dari seharusnya.
Dengan demikian akusisi ini menjadi tidak legal karena dapat mengurangi
pendapatan Negara yang berupa pajak penghasilan yang salah satunya diakibatkan
dari akuisisi perusahaan tersebut.

Setali tiga uang pemilik saham minoritas juga akan di rugikan dalam kasus ini.
Kelompok minoritas yang dimaksudnya adalah mereka yang telah membeli saham di
bursa dan tidak terlibat dalam manajemen. Hal ini mengingat ini di bursa banyak
saham perusahaan yang masih didominasi keluarga. Selain itu Karena beban
penyusutan yang lebih besar akan mengurangi jumlah dividen yang bakal diterima
mereka.

Pihak lain yang dirugikan atas legalitas ini adalah perusahaan publik (Bursa) karena
tidak adanya transparansian akibat hal ini citra pasar modal Indonesia yang bisa
dibilang belum seperti perusahaan publik lainnya.

Dalam kasus ini juga perlu dipertanyakan apakah penilaian terhadap perusahaan
Bogasari yang hendak diakuisisi benar-benar dilakukan oleh akuntan yang netral.
Lalu apakah kepentingan para pemegang saham minoritas akan didengarkan dalam
RUPS nanti karena RUPS bersifat dekoratif.

b. Is It Balanced?

Pertanyaan kedua mengingatkan kita apakah keputusan yang diambil akan sangat
menguntungkan salah satu pihak dengan mengorbankan pihak lainnya, baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang? Artinya keputusan yang diambil bukanlah
keputusan yang sifatnya win-lose karena kondisi ini biasanya akan berujung pada
kondisi lose-lose bagi para pihaK.. Memang tidak mungkin membuat keputusan
yang adil bagi semua orang, namun seorang pemimpin harus berusaha untuk
menghindari ketidak seimbangan.
Dalam kasus akuisisi ini, terjadi ketidak seimbangan pengambilan keputusan yang
dilakukan oleh pihak manajemen Salim Group karena berdasarkan beberapa analis
mengatakan akuisis ini akan lebih menguntungkan Indocement dengan adanya
akuisis ini akan ada dana menganggur sebesar Rp1,71 Triliun yang dapat
dimanfaatkan Indocement untuk investasil lain. Sementara Pemerintah sebagai pihak
yang menguasai 25,93% saham Indocement harus menanggung rugi akibat pajak
yang semakin kecil, karena laba perusahaan paska akuisis akan seolah-olah kecil.
Memang pada dasarnya tidak ada pihak yang akan benar benar sama-sama
diuntungkan, namun setidaknya keputusan ini tidak terlalu berdampak buruk kepada
Stakeholder misalnya pemegang saham minoritas.

c. How Will It Make Me Feel About My Self

Pertanyaan ketiga menyentuh ke dasar hati nurani si pengambil keputusan.


Keputusan yang diambil tidak boleh menimbulkan kebimbangan, keragu-raguan,
dan perasaan tidak nyaman.

Pada dasarnya PT Indocement dan PT Bogasari sudah terdaftar pada Bursa Efek
sehingga tidak heran jika masalah akusisi kedua perusahaan tersebut pasti akan
terdengar oleh publik. Sebagai pengambil keputusan terhadap akuisisi ini kedua
belah pihak perusahaan tersebut akan merasa terusik karena publik dapat berpikiran
negatif kepada kedua perusahaan tersebut. Pers beranggapan bahwa kedua
perusahaan tersebut melakukan akuisisi hanya untuk membayar pajak lebih rendah
dan pemegang saham minoritas tidak diberikan kesempatan untuk memberikan hak
suara mereka dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pada kasus akuisisi ini kedua pihak perusahaan sebagai pengambil keputusan dapat
merasa bangga karena dengan melakukan akuisisi tersebut dapat menaikan harga
saham pada kedua perusahaan. Di pihak lain, para pengambil keputusan juga dapat
merasa tidak bangga karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa
mereka akan merasa terusik secara emosional karena adanya perbincangan yang
kurang baik mengenai proses akuisisi yang mereka lakukan tersebut.
D. Kesimpulan
Dalam kasus indocement jika ditinjau dari segi hukum hak ini adalah legal sebab
pada dasarnya, hal-hal mengenai akuisisi sudah sesuai dengan UU Pajak Penghasilan
(PPh) tahun 1984 serta Peraturan Pemerintah (PP) nomor 42 tahun 1985. Namun jika
ditinjau secara etika bisnis, akuisisi internal PT. Indocement terhadap PT. Bogasari adalah
tidak legal karena dengan adanya akuisisi antara dua perusahaan ini dapat terlihat bahwa
beban yang ditanggung akan terlihat semakin besar, karena adanya pembengkakan aktiva
yang akan mengakibatkan penyusutan besar yang dapat mengakibatkan laba terlihat lebih
rendah dari yang dihasilkan sehingga dengan demikian perusahaan akan membayar
pajaknya lebih rendah dari seharusnya. Dengan demikian akusisi ini menjadi tidak legal
karena dapat mengurangi pendapatan Negara yang berupa pajak penghasilan yang salah
satunya diakibatkan dari akuisisi perusahaan tersebut. Kelompok pemegang saham
minoritas dan perusahaan publik (Bursa) juga dirugikan akibat akuisisi ini, khususnya
perusahaan publik (Bursa) karena tidak adanya transparansian, akibat hal ini citra pasar
modal Indonesia yang bisa dibilang belum seperti perusahaan publik lainnya.
Kemudian pada kasus akuisisi ini kedua pihak perusahaan sebagai pengambil
keputusan dapat merasa bangga karena dengan melakukan akuisisi tersebut dapat
menaikan harga saham pada kedua perusahaan. Di pihak lain, para pengambil keputusan
juga dapat merasa tidak bangga karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa
mereka akan merasa terusik secara emosional karena adanya perbincangan yang kurang
baik mengenai proses akuisisi yang mereka lakukan tersebut.

Daftar Pustaka

http://e-journal.uajy.ac.id/4319/2/1EA17613.pdf
http://www.juliancholse.com/2012/04/akuisisi-internal-pt-indocement.html