Anda di halaman 1dari 22

LK 3

MANAJEMEN PENYAKIT SALMONELLOSIS, SHIGELLOSIS DAN


BOTULISME

Mata kuliah : Manajemen Epidemiologi Faktor Resiko Lingkungan Pada Media Makanan Dan
Minuman

Di susun oleh:

Aprilia Prihatiwi P2.31.33.1.12.006

Fathul Fitriyah R P2.31.33.1.12.015

Ghina Akmaliah P2.31.33.1.12.019

Widhy Reza Putra P2.31.33.1.12.042

DIV-EPIDEMIOLOGI TINGKAT IV

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II


MANAJEMEN PENYAKIT SALMONELLOSIS
MANAJEMEN PENYAKIT SALMONELLOSIS DI DUSUN PENTUK, DESA PASEBAN
BAYAT, DINAS KESEHATAN KAB/KOTA KLATEN

CONTOH KASUS

Senin, 19/11/2012 06:00 WIB Angga Purnama

KLATEN Berdasarkan hasil laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
Semarang, dari enam sampel yang dikirim untuk dilakukan pemeriksaan, ternyata ditemukan
bakteri yang menyebabkan ratusan warga Bayat mengalami keracunan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Ronny Roekminto, mengatakan bakteri tersebut antara
lain Salmonella Paratyphi yang ditemukan di opor ayam dan E-coli pada air sumur. Sedangkan
untuk tes kimia, sampel-sampel tersebut tidak ditemukan kandungan kimia.

perkiraan kami tentang bakteri yang menyebabkan warga mengalami keracunan memang sudah
tepat. Selain dua bakteri tersebut juga ditemukan bakteri lain seperti jamur kapang, Entero
Bacter, Citro Bachter Freundi. Semua bakteri ini menyerang saluran pencernaan. Sedangkan air
sumur ternyata mengandung lebih dari 2500 bakteri, padahal taraf normalnya 10 bakteri, jelas
Ronny kepada wartawan, Senin (19/11).

Selain itu, munculnya bakteri tersebut juga disebabkan cara pengolahan yang kurang bersih.
Misalnya peralatan masak yang digunakan dan air yang digunakan untuk mencuci daging ayam
tersebut. Ronny menjelaskan, informasi yang dihimpun tim di lapangan menyebutkan bahwa
rumah yang digunakan untuk memasak sudah kosong sejak beberapa tahun terakhir. Padahal
dalam memasak daging dan makanan lainnya serta peralatan yang digunakan berasal dari rumah
kosong tersebut. Perilaku hidup sehat dan bersih perlu dijaga, terlebih saat mengolah makanan.
Apalagi saat melakukan hajatan, kebersihan makanan harus dijaga supaya tidak berdampak
kepada banyak orang. Opornya itu memasak sendiri dan hasilnya pemeriksaannya kurang
matang, karena masih terlihat darahnya, paparnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Cahyono menambahkan,
gejala panas, seperti tipus, yang timbul pada korban diakibatkan oleh bakteri Salmonella
paratyphi. Bakteri ini juga ditemukan pada usapan dubur korban, selain bakteri Stapillococus
dan E coli.

Dominan memang bakteri Parativis yang ada pada makanan, dan diperparah dengan e coli.
Hasil pemeriksaan laboratorium juga menyimpulkan makanan tercemar air limbah yang
mengandung kotoran hewan atau manusia. Sebenarnya juga memasaknya benar-benar matang
maka E coli tidak akan ditemukan lagi, tambahnya.

Sampel yang diambil berupa opor ayam, telur reus, sambel goreng, gudeg, minyak goreng dan
air sumur. Untuk memperkuat sampel dilakukan juga usap dubur sebagai pembanding. Makanan
itu dibagi Sri Kamari (60) warga Dusun Pentuk, Desa Paseban, Bayat untuk hajatan Sewinduan.

Jumlah korban yang mengalami keracunan mencapai 101 orang dan 61 orang diantaranya
dirawat inap di berbagai rumah sakit. Saat ini, semua korban sudah membaik dan dipulangkan.
Biaya pengobatan ditanggung Pemkab dengan program Jamkesda.

Sumber: http://edisicetak.joglosemar.co/berita/kasus-keracunan-massal-di-bayat-makanan-
mengandung-bakteri-107301.html

Program Manajemen Salmonellosis

1) Perencanaan
a Analisis Situasi dan Identifikasi Masalah
Ratusan warga Bayat mengalami keracunan makanan yang dibagikan oleh seorang
warga untuk hajatan sewinduan. Para korban keracunan mengalami gejala panas,
seperti tipus. Jumlah korban yang mengalami keracunan mencapai 101 orang dan 61
orang diantaranya dirawat inap di berbagai rumah sakit. Sebanyak enam sampel yang
diambil berupa opor ayam, telur rebus, sambel goreng, gudeg, minyak goreng dan
air sumur telah dikirim ke laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
Semarang untuk dilakukan pemeriksaan. Untuk memperkuat sampel dilakukan juga
usap dubur sebagai pembanding. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium,
ternyata ditemukan bakteri Salmonella paratyphi yang ditemukan di opor ayam.
Bakteri Salmonella paratyphi ini juga ditemukan pada usapan dubur korban.
Munculnya bakteri tersebut disebabkan cara pengolahan makanan yang kurang
bersih. Misalnya peralatan masak yang digunakan dan air yang digunakan untuk
mencuci daging ayam tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun, tim di
lapangan menyebutkan bahwa rumah yang digunakan untuk memasak sudah kosong
sejak beberapa tahun terakhir dan peralatan yang digunakan juga berasal dari rumah
kosong tersebut. Opor ayam yang dimasak pun masih kurang matang karena masih
terlihat darahnya.

b Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui besarnya masalah kasus KLB keracunan makanan di Bayat (Klaten)
dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga dapat dirumuskan alternatif
penanggulangan dan pengendalian untuk mencegah terulangnya kasus di masa
yang akan datang.

2. Tujuan Khusus

Mengidentifikasi kasus berdasarkan variabel epidemiologi (Orang, Tempat,


Waktu) di Dusun Pentuk, Desa Paseban Bayat
Menanggulangi korban akibat keracunan makanan di Dusun Pentuk, Desa
Paseban Bayat
Mengidentifikasi pangan yang berisiko tinggi yang menyebabkan keracunan
makanan di Dusun Pentuk, Desa Paseban Bayat
Mengidentifikasi kontaminasi yang menyebabkan keracunan makanan di Dusun
Pentuk, Desa Paseban Bayat
Mengidentifikasi faktor risiko terjadinya Keracunan makanan di Dusun Pentuk,
Desa Paseban Bayat
Menarik produk pangan yang telah terkontaminasi
Membuat rekomendasi agar terhindar dari serupa di masa yang akan datang
2) Pengorganisasian
Penyelidikan dan penanggulangan KLB keracunan makanan di lokasi kejadian dilaksanakan
oleh Tim yang terdiri dari Surveilans, Kepala Bagian Pengendalian dan Pencegahan
Penyakit, praktisi keamanan dan petugas pengendalian pangan, mikrobiolog, analis kimia,
dokter, perwakilan otoritas setempat, petugas sanitarian, petugas pencatatan dan pelaporan.

Instansi Kegiatan Tenaga Pelaksana


Konfirmasi kasus segera setelah Surveilans
menerima laporan kasus
keracunan dari masyarakat
Penanganan korban keracunan Dokter
makanan
Puskesmas
Pengamanan sampel Sanitarian
makanan/minuman yang diduga
sebagai penyebab keracunan
Pembuatan laporan awal untuk Surveilans
dikirim ke Dinkes Kab/Kota
Penanganan korban keracunan Dokter
Rumah Sakit
makanan
koordinasi dan pembahasan Kepala Dinkes
tentang kasus yang terjadi Kab/Kota
Meneruskan sampel Petugas Pengaman
makanan/minuman yang diduga Pangan
sebagai penyebab keracunan ke
Dinas Kesehatan
BBTKLPM/ BLK/Laboratorium
Kab/Kota
BBPOM
Pengecekan ke lokasi keracunan Kepala Pengendalian
dan memonitor kejadian Pencegahan Penyakit
keracunan dan Surveilans
Penyelidikan Epidemiologi Tim Investigasi
keracunan makanan
Pembuatan laporan sementara Surveilans

Mikrobiolog
BBTKLPM/ BLK/ Uji laboratorium sampel
Laboratorium BBPOM makanan Analis kimia

Memberi bimbingan teknis Kepala Dinkes Provinsi


Dinas Kesehatan dalam menyusun rencana
Provinsi pencegahan, penyelidikan dan
penanggulangan keracunan

3) Pelaksanaan

a. Waktu dan Lokasi Kejadian

Lokasi Kejadian : Lokasi kejadian tepatnya di Dusun Pentuk, Desa Paseban Bayat,
Dinas Kesehatan Kab/Kota Klaten.
Waktu Kejadian : Korban mulai merasakan gejala keracunan setelah mengonsumsi
makanan hajatan sewindu yang dibagikan pada bulan November 2012.

b. Metodologi

Pelaksanaan ini dilaksanakan dengan wawancara langsung kepada korban atau


keluarga korban dengan kunjungan dari rumah ke rumah. Data yang diperoleh
dimasukan ke dalam format pengumpulan data.
Pengumpulan Data. Data diperoleh melalui hasil wawancara korban keracunan
dan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel sampel makanan dan
minuman yang diperiksa.

c. Hasil Penyelidikan Epidemiologi

Hasil yang didapatkan dari penyelidikan epidemiologi keracunan makanan di


Dusun Pentuk, Desa Paseban Bayat berupa gambaran epidemiologi korban
berdasarkan variabel Orang, Tempat dan Waktu serta sumber, pangan yang
berisiko tinggi dan faktor risiko penyebab keracunan makanan.

4) Pengendalian
Memasak makanan dengan baik akan membunuh Salmonella. Hindari daging, ayam dan
telur yang mentah atau kurang matang.
Oleh karena Salmonella dapat dibawa pada tangan, penting sekali tangan selalu dicuci
setelah menggunakan kakus dan sebelum menyiapkan makanan. Tangan harus dicuci
dengan sabun dan air selama sekurang-kurangnya 10 detik, disiram dan dikeringkan
dengan baik. Khususnya harus diperhatikan bagian di bawah kuku tangan dan celah jari.
Kontrol suhu
Makanan yang didinginkan harus disimpan di bawah suhu 5o C. Makanan hangat harus
tetap hangat di atas suhu 60o Celsius. Makanan yang dipanaskan harus dipanaskan
dengan cepat sampai setiap bagian makanan tersebut mengeluarkan uap. Melunakkan
makanan beku harus dilakukan dalam kulkas atau microwave. Makin lama makanan
dibiarkan pada suhu kamar, makin banyak Salmonella akan berkembang biak.
MANAJEMEN PENYAKIT SHIGELLOSIS
MANAJEMEN PENYAKIT SHIGELLOSIS DI CAMBRIDGESHIRE, INGGRIS

CONTOH KASUS
Kasus-kasus keracunan makanan yang menyebabkan shigellosisdianggap jarang dan
beberapa orang menganggap suatu permasalahan yang tidak bermakna. Kasus-kasus keracunan
lebih dikaitkan dengan salmonella. Pada kasus keracunan makanan yang
menyebabkanshigellosis biasanya disebabkan oleh adanya kontaminasi shigella pada tahap
persiapan makan. Adanya kontaminasi dihubungkan dengan sistem pembuangan tinja yang tidak
sempurna dan organism (vector) yang mendukung terjadinya kontaminasi adalah lalat (tinja dari
orang karier).
Makanan yang tidak dimasak dengan benar seperti cocktail udang dan salad tuna
diidentifikasi telah terlibat dalam sejumlah wabah. Di Cambridgeshire, Inggris, pada tahun
1992 diadakan pesta dengan hidangan makanan prasmanan, didapati 107 dari 200 tamu
terinfeksi diare dan sh. sonnei diisolasikan 81 dari 93 sampel tinja yang ambil . Organisme ini
juga terisolasi dari penyedia catering. Penyelidikan mengungkapkan hubungan yang kuat antara
penyakit dan konsumsi dua piring udang dimana kontaminasi terjadi pada tahap persiapan yang
terjadi di tempat penyedia catering tadi
Program manajemen penyakit shigellosis

1. Perencanaan (Planning)
a. Identifikasi masalah dan analisis situasi
Terjadi kasus keracunan di chambridges, inggris dengan korban 107 orang. Dari 93
sampel yang diambil, 81 sampel positif mengandung shigella sonnei. Dugaan
sementara terjadi kontaminasi shigella dari pring yang digunakan pada saat persiapan
ditempat penyedia catering.
b. Identifikasi Kasus

Identifikasi kasus adalah melakukan verifikasi apakah kasus-kasus yang dilaporkan telah
didiagnosis dengan benar (valid), dalam hal ini shigellosis memiliki beberapa
karakteristik, yaitu :
(1) Kriteria klinis (gejala, tanda, masa inkubasi)
Shigella sangat menular. Infeksi Shigella hampir selalu terbatas pada saluran
pencernaan, invasi ke aliran darah sangat jarang. Shigella merupakan genus basil
Gram negatif yang menyebabkan disentri basiler. Infeksi Shigella dapat terjadi
melalui mulut. Disentri menyebar melalui kontaminasi feces pada makanan dan
minuman., WC, pegangan pintu, seprai dan lain-lain dan juga dengan perantara
lalat yang terkontaminasi dengan tinja. Disentri merupakan peradangan akut pada
kolon.
Shigellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh berbagai spesies
Shigella. Orang yang terinfeksi dengan Shigella mengembangkan diare, demam dan
kram perut memulai satu atau dua hari setelah mereka terkena bakteri. Diare sering
berdarah. Shigellosis biasanya sembuh dalam 5 sampai 7 hari, tetapi pada beberapa
orang, terutama anak muda dan orang tua, diare bisa begitu parah sehingga pasien
perlu dirawat di rumah sakit. Sebuah infeksi berat dengan demam tinggi juga dapat
dikaitkan dengan kejang pada anak kurang dari 2 tahun.
(2) Kriteria epidemiologis (karakteristik orang yang terkena, Faktor penyebabnya
,tempat dan waktu terjadinya outbreak)
(3) Kriteria laboratorium (hasil kultur dan waktu pemeriksaan) (Bres, 1986).
Dalam hal ini penyakit shigellosis diagnosisnya bisa didapat dari hasil pengujian lab
berupa contoh Tinja segar, lendir, dan usapan rektum.

c. Merencanakan Tujuan Program Pengendalian dan Pencegahan


Untuk mengetahui kebenaran kasus shigellosis yang dilaporkan dan luasnya
penyebaran kasus penyakit shigellosis
Untuk menangani angka kesakitan
Untuk mengetahui kemungkinan kecenderungan terjadinya penyebarluasan
shigellosis ke tempat lain
Melakukan analisa situasi penyakit dan saran alternatif pencegahan dan
pengobatan.
d. Membuat Perencanaan Program Pengendalian dan Pencegahan Penyakit
Program pengendalian dan pencegahan penyakit ditujukan untuk menemukan sumber
penyakit(shigella sonnei), memutus mata rantai penularan dari sumber infeksi yang
terjadi di wilayah tersebut dan untuk mencegah agar tidak terulang lagi.
Program ini dilaksanakan oleh pihak Health Emergency Planning selaku bagian
departemen kesehatan inggris yang mengurus masalah kesehatan darurat (dalam hal
ini kasus keracunan di cambridgeshire yang disebabkan oleh shigella) sebagai
pengoordinasi yang beranggotakan para ahli dibidangnya masing-masing(public
health england) dan local goverment of england. Pembiayaan sepenuhnya ditanggung
oleh negara melalui national health service (NHS).
Berikut metode yang digunakan:
Melakukan pertemuan antar pihak yang berwenang dalam hal ini local
goverment of england dan public health england, serta memersiapkan jalur
koordinasi dan rencana pengendalian dan pencegahan yang diperlukan yang
dikoordinasikan langsung oleh emergency health planning.
Melakukan penyeledikian epidemiologi guna mengetahui sumber, jalur
transmisi, population at risk.
Melakukan pengobatan dan tindakan medis kepada yang sudah terlanjur sakit
untuk menghilangkan Host penyakitnya.
menyediakan kebersihan, sarana tempat tinggal sementara yang layak, air dan
pemeliharaan kesehatan darurat. Itu meliputi tambahan pasokan air yang aman
dan pengangkutan sampah.
Melakukan penegakkan diagnosis terhadap sampel yang telah diambil.
Pemantauan rutin terhadap penderita, baik yang sakit maupun tidak sakit
Melakukan pencatatan dan pelaporan
2. Pengorganisasian (Organizing)

Departement oh health
(england)

Health emergency planning Public health england

Local goverment

Citizen (hospital, report from


citizen)

3. Penggerakan

a. Waktu dan Lokasi Kejadian

Lokasi Kejadian : Lokasi kejadian tepatnya di cambridgesshire, inggris

b. Metodologi

Pelaksanaan ini dilaksanakan dengan wawancara langsung kepada penderita atau


keluarga penderita dengan kunjungan dari rumah ke rumah. Data yang diperoleh
dimasukan ke dalam format pengumpulan data.
Wawancara langsung dengan petugas catering yang bersangkutan.
Pengumpulan Data. Data diperoleh melalui hasil wawancara penderita shigella
dan observasi terhadap lokasi pencemaran yaitu di tempat pesta serta lokasi
catering.
c. Hasil Investigasi

Hasil yang didapatkan dari hasil pelaksanaan pemeriksaan penyakit shigella di


cambridgeshire, inggris, digambarkan berdasarkan variabel epidemiologi :
a) Berdasarkan Waktu
b) Berdasarkan Tempat
c) Berdasarkan Orang

Penggerakan dilakukan dengan mengadakan investigasi langsung di lapangan, melalui :

1. Wawancara dengan petugas yang menangani penderita yang terduga infeksi shigella.
2. Pengambilan sampel Tinja segar, lendir, dan usapan rektum dari penderitanya untuk
penegakan diagnosa.
3. Wawancara dengan penderita terduga infeksi shigella dan petugas catering.
4. Penelusuran sumber wabah dan jalur trasnmisi melalui penyelidikan epidemiologi
5. Persiapan penanggulangan melalui badan koordinasi yang ada

Berdasarkan kasus didapatkan hasil bahwa, kasus keracunan makanan di


chambridgeshire, inggris positif terkontasminasi shigella dengan spesies shigella sonnei.
Hal ini terbukti setalah terisolasinya 81 dari 93 sampel tinja yang ambil . Organisme ini
juga terisolasi dari penyedia catering, dari penegakkan diagnosa yang dilakukan.
Dilakukan tindak pengobatan terlebih dahulu terhadap penderita.
Beberapa kasus Shigellosis tidak memerlukan pengobatan, tetapi antibiotik akan
diberikan untuk memperpendek penyakit dan untuk mencegah penyebaran bakteri
kepada orang lain. Hindari pemberian obat bebas untuk muntah atau diare kecuali dokter
merekomendasikan mereka, karena mereka dapat memperpanjang penyakit.

4. Pengendalian/pencegahan
Pencegahan penyakit disentri yang disebabkan oleh Shigella dapat dilakukan dengan
langkah-langkah yang meliputi :
Cuci tangan dengan sabun
Menjamin ketersediaan air minum yang aman
Pembuangan limbah kotoran manusia yang aman
Pemberian ASI eksklusif pada bayi
Penanganan dan pengolahan makanan yang aman
Pengendalian alat

Langkah-langkah tersebut tidak hanya akan mengurangi kejadian Shigellosis, tapi


penyakit diare juga. Dalam semua kasus, pendidikan kesehatan dan kerjasama
masyarakat dalam melaksanakan tindakan pengendalian sangat penting.

Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah kunci untuk kesadaran masyarakat akan kesehatan, sehingga
dapat mencegah transmisi penyakit. Masyarakat diberi pengetahuan tentang bagaimana
Shigella dapat menyebabkan diare dan bagaimana pencegahan transmisinya. Masyarakat
juga diberitahu jika terjadi diare berdarah untuk segera melakukan pengobatan di tempat
fasilitas kesehatan terdekat.

Cuci tangan
Cuci tangan dengan sabun adalah langkah yang sederhana dan efektif untuk mencegah
penyebaran Shigella, cuci tangan juga harus dipromosikan di setiap rumah tangga. Cuci
tangan dengan sabun setelah buang air besar, sebelum menyiapkan atau menangani
makanan dan sebelum makan.

Ketersediaan air
Shigella dapat mencemari air pada semua tahap distribusi, dari sumber air sampai saat di
konsumsi. Air minum harus dipastikan aman, termasuk selama transportasi dan
penyimpanan. Tempat pembuangan air besar tidak dibolehkan 10 meter dari sumber air.

Sistem pembuangan tinja


Sistem pembuangan tinja harus aman dan bersih, system yang digunakan harus sesuai
dengan ketentuan yang baik agar tetap terjaga kesehatan masyarakat.
Menyusui
Anak yang mendapatkan ASI akan lebih sedikit resiko terkena diare atau disentri karena
Shigella. ASI eksklusif dapat memberikan perlindungan atau daya tahan terhadap resiko
diare karena Shigella.

Keamanan makanan
Makanan dapat terkontaminasi oleh Shigella pada semua tahap produksi dan persiapan.
Termasuk di tempat umum seperti pasar, selama persiapan makanan di rumah atau di
restoran dan makanan tanpa pendingin setelah disiapkan.

Langkah-langkah agar konsumsi makanan aman :


Cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan atau saat
akan makan
Jangan makan makanan mentah, kecuali buah-buahan dan sayuran yang dikupas dan
dimakan langsung
Masak makanan sampai mendidih dan matang
Makanlah makanan selagi panas atau panaskan makanan sebelum dimakan
Cuci peralatan makan dan memasak lalu keringkan sampai benar-benar kering
Jauhkan makanan yang telah dimasak dan perlatan yang bersih dari bahan mentah
dan perlatan yang berpotensi kontaminasi.
Lindungi makanan dari lalat.
MANAJEMEN PENYAKIT BOTULISME
MANAJEMEN PENYAKIT BOTULISME DI CHINA

CONTOH KASUS

Susu Tercemar Clostridium Botulinum


Ditemukannya kontaminasi bakteri Clostridium botulinum pada sejumlah produk susu di China
belum lama ini cukup menggegerkan. Pasalnya, produk yang terkontaminasi itu mengandung
konsentrat whey protein yang diproduksi oleh perusahaan susu terkemuka Selandia Baru, yang
mengekspor 95 persen produknya ke banyak negara termasuk Indonesia.

Eksportir susu terbesar di new Zealand, Fonterra menemukan bakteri penyebab Botulism pada
sejumlah produknya, termasuk susu formula untuk bayi dan minuman berenergi, akibat
pencemaran itu sekitar 1000 ton produk susu Fonterra di 7 negara ditarik, termasuk yang beredar
di china, karena 95% produk dari Fonterra dipasarkan di asia termasuk Indonesia

Fonterra memberikan keterangan resmi bahwa ada tiga batch yang terkontaminasi
bakteri Clostridium botulinum pada produk WPC 80 (Whey Protein Concentrate atau konsentrat
protein susu). Produk yang terkontaminasi tersebut merupakan bahan baku industri pangan dan
pakan yang dihasilkan dari susu.

Fonterra tidak menyebutkan nama delapan perusahaan pembuat produknya yang tercemar
bakteri itu, bakteri ditemukan pada kumpulan protein susu yang digunakan dalam susu formula
lanjutan. Protein susu yang dipergunakan diproduksi pada mei tahun 2012, dimanan pipa
pengolahnya tersebut kotor.

Diduga pencemaran terjadi karena pipa produksi tidak disterilisasi hingga sempurna sehingga
spora bakteri tersebut masih hidup dan aktif kembali saat memasuki tahap produksi. Walaupun
produk telah mencapai ke berbagai Negara namun sampai saat berita ini dilaporkan belum ada
korban yang jatuh akibat keracunan bakteri Botulisme itu.
Sebuah perusahaan di China untuk makanan bayi, Dumex Baby Food Co Ltd, anak perusahaan
dari Prancis Danone, telah mengatakan kepada Fonterra bahwa sebanyak 12 batch produk
mereka bisa saja terpengaruh, katanya.

Disebutkan bahwa separoh produk itu telah ditarik sebagai tindakan pencegahan, dan separoh
lainnya tetap ada di pabrik-pabrik.

Meski produk susu formula asal New Zealand yang dikabarkan tercemar
bakteri Clostridiumtidak masuk ke Indonesia, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama
menyampaikan bahwa makanan yang terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum dapat
menimbulkan masalah kesehatan yang disebut botulisme.

Cemaran bakteri C botulinum atau botulisme dalam makanan sejatinya bukan merupakan kasus
baru. Menurut data Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) tahun 1996,
hampir sebanyak 200 kasus botulisme terjadi setiap tahunnya di AS. Hampir semua kasus terjadi
secara alami melalui makanan yang terkontaminasi bakteri C botulinum.

Program manajemen penyakit Botulisme

1. Perencanaan (Planning)
a. Identifikasi masalah dan analisis situasi
Tejadi pencemaran makanan yaitu berupa pencemaran bakteri Clostridium botulinum
di Whey Protein Concentrate (Konsentrat Protein Susu) yang diproduksi oleh
Fonterra, produsen susu dari Negara New Zealand. Fonterra memasarkan produknya
ke berbagai Negara di asia, termasuk China dan Indonesia.
Whey Protein Concentrate (Konsentrat Protein Susu) merupakan bahan baku yang
digunakan untuk membuat susu formula bayi dan minuman kesehatan, diketahui
pencemaran terjadi pada bulan agustus tahun 2013 dan tidak ada korban dari kejadian
ini, namun jutaan orang di dunia menjadi populasi berisiko terserang penyakit
Botulisme akibat kasus ini.
b. Identifikasi Kasus
(1) Kriteria klinis (gejala, tanda, masa inkubasi)
Walaupun tidak ada korban dari kasus botulisme ini, namun penyakit botulisme
memiliki gejala sebagai berikut :
Waktu inkubasi Clostridium botulinum adalah 12 sampai 36 jam.
Gejala klinis yang disebabkan intoksikasi diantaranya adalah gangguan
pencernaan akut yang diikuti oleh pusing-pusing dan muntah-muntah, bisa
juga diare, lelah, pening dan sakit kepala. Gejala lanjut konstipasi, kesulitan
menelan dan berbicara, lidah bisa membengkak dan tertutup, beberapa otot
lumpuh, dan kelumpuhan bisa menyebar kehati dan saluran pernafasan.
Kematian bisa terjadi dalam waktu tiga sampai enam hari
Pada kasus yang berat dapat terjadi gagal napas. Gejala timbul dalam 12-36
jam setelah mengonsumsi pangan tercemar, namun dapat juga timbul dalam 1-
10 hari.

(2) Kriteria epidemiologis (karakteristik orang yang terkena, Faktor penyebabnya


,tempat dan waktu terjadinya outbreak)
Cemaran bakteri C botulinum atau botulisme dalam makanan sejatinya bukan
merupakan kasus baru. Menurut data Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika
Serikat (FDA) tahun 1996, hampir sebanyak 200 kasus botulisme terjadi setiap
tahunnya di AS. Hampir semua kasus terjadi secara alami melalui makanan yang
terkontaminasi bakteri C botulinum.

(3) Kriteria laboratorium (hasil kultur dan waktu pemeriksaan)


Tes kualitas dilakukan pada bulan maret tahun 2013 pada saluran perpipaan produksi
dan tempat produksi Whey Protein Concentrate (Konsentrat Protein Susu), dan
ditemukan positif menganduk spora bakteri Clostridium Botulinum.

c. Merencanakan Tujuan Program Pengendalian dan Pencegahan


Program ini dibuat dan bertujuan untuk meminimalisasi risiko terjadinya keracunan
akibat pangan yang tercemar dengan cara menarik semua produk yang tercemar dari
pasaran, baik yang masih disimpan maupun yang sudah terlanjur diproduksi agar
tidak ada produk tercemar yang sampai beredar di masyarakat.

d. Membuat Perencanaan Program Pengendalian dan Pencegahan Penyakit

Persiapan Program
Kegiatan Rincian Kegiatan Tenaga Pelaksana
Pertemuan lintas Negara Untuk melakukan Perusahaan pengimpor
pembeli produk pemberitahuan tentang dan pengekspornya
cemaran produk dan
penanggulangannya
Membuat rencana kerja Penentuan sasaran target Petugas penanggulangan
Pelaksanaan Program
Kegiatan Rincian Kegiatan Tenaga Pelaksana
Penarikan Produk yang Penarikan kembali produk
beredar yang beredar yang diduga
tercemar dari pasaran.
Peningkatan Penyuluhan kepada Petugas penanggulangan
pengetahuan perseorangan keluarga,
kelompok dan masyarakat
Penemuan penderita Menindaklanjuti setiap Petugas penanggulangan
informasi yang diberikan
oleh masyarakat maupun
dinkes kota dengan
melakukan penelitian
epidemiologi ke wilayah
tempat produk dipasarkan
Pendataan seandainya Mendata penderita Petugas penanggulangan
terjadi kasus akibat penyakit botulisme dan Dokter
produk tersebut
Pengobatan dan rujukan Memberikan pengobatan Dokter
kasus kepada penderita

Merujuk setiap penderita


kasus yang memerlukan
perawatan lebih lanjut
Penyelidikan Melakukan PE pada kasus Surveilans dan petugas
Epidemiologi (PE) penyakit botulisme penanggulangan

Pencatatan dan Pelaporan


Kegiatan Rincian kegiatan Tenaga pelaksana
Registrasi Mencatat semua kegiatan Petugas penanggulangan
yang dilaksanan
Pelaporan Membuat laporan Petugas penanggulangan
Penyajian data Menyajikan data dalam Petugas penanggulangan
bentuk tabel dan grafik
Evaluasi Pencapaian target Petugas penanggulangan

2. Pelaksanaan
a. Waktu Kejadian : Agustus 2013
b. Lokasi Kejadian : China, dan seluruh Negara yang mengimpor produk dari
Fonterra tersebut
c. Metodologi

Pelaksanaan ini dilaksanakan dengan memberikan pemberitahuan kepada


masyarakat perihal produk yang tercemar, untuk berhenti mengonsumsinya dan
segera melaporkannya jika sampai terjadi kasus keracunan.
Mengedukasi masyarakat tentang penyakit botulisme lewat media (tulis,
eletronik dan internet)
Pengobatan kepada masyarakat yang sudah terlanjur menjadi korban
seandainya sampai ditemukan kasus.
Pengumpulan Data. Data diperoleh melalui hasil laporan pengaduan
masyarakat maupun laporan dari dinas kesehatan setempat.

3. Pencegahan

Spora sangat tahan terhadap pemanasan dan dapat tetap hidup selama beberapa jam pada
proses perebusan. Tetapi toksinnya dapat hancur dengan pemanasan, Karena itu memasak
makanan pada suhu 80 Celsius selama 30 menit, bisa mencegah foodborne botulism.
Memasak makanan sebelulm memakannya, hampir selalu dapat mencegah terjadinya
foodborne botulism. Tetapi makanan yang tidak dimasak dengan sempurna, bisa
menyebabkan botulisme jika disimpan setelah dimasak, karena bakteri dapat menghasilkan
toksin pada suhu di bawah 3 Celsius (suhu lemari pendingin).

Penting untuk memanaskan makanan kaleng sebelum disajikan. Makanan kaleng yang sudah
rusak bisa mematikan dan harus dibuang. Bila kalengnya penyok atau bocor, harus segera
dibuang. Anak-anak dibawah 1 tahun sebaiknya jangan diberi madu karena mungkin ada
spora di dalamnya.

Toksin yang masuk ke dalam tubuh manusia, baik melalui saluran pencernaan, udara maupun
penyerapan melalui mata atau luka di kulit, bisa menyebabkan penyakit yang serius. Karena
itu, makanan yang mungkin sudah tercemar, sebaiknya segera dibuang.
Hindari kontak kulit dengan penderita dan selalu mencuci tangan segera setelah mengolah
makanan (medicastore)

4. Pengawasan
Membuat standar kualitas produksi bagi setiap produsen makanan dan minuman.
Pelaksanaan SOP secara tertib dan teratur sehingga risiko bisa diturunkan.
Secara rutin melakukan pengujian kualitas produksi, pabrik dan pekerja untuk
menghindari cemaran.
Selalu menyimpan sampel dari tiap produksi.
REFERENSI

SALMONELLOSIS

https://mikbbtklppmjogja.wordpress.com/2009/02/28/investigasi-kejadian-luar-biasa-klb-
keracunan-makanan-di-dusun-karangasem-wetan-desa-srikayangan-kecamatan-sentolo-
kabupaten-kulon-progo/

https://yantigobel.wordpress.com/tag/surveilans-epidemiologi/

https://itp08ub.files.wordpress.com/2012/03/3-pengantar-investigasi-klb-keracunan-pangan.pdf

https://itp08ub.files.wordpress.com/2012/03/7-manajemen-investigasi-klb.pdf

http://www2.pom.go.id/surv/events/overviewklb.pdf

http://www.kompasiana.com/yantigobel/klb-keracunan-gorontalo-dan-epidemiologi-kesehatan-
darurat_55094700a33311f2542e397c

http://www.mhcs.health.nsw.gov.au/publicationsandresources/pdf/publication-pdfs/diseases-and-
conditions/7190/doh-7190-ind.pdf

SHIGELLOSIS

https://www.gov.uk/government/policies/health-emergency-planning

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/43252/1/924159330X.pdf

http://www.mhcs.health.nsw.gov.au/publicationsandresources/pdf/publication-
pdfs/diseases-and-conditions/7195/doh-7195-ind.pdf

http://teenagerssukses.blogspot.co.id/2012/05/makalahmikrobiologi-pangan_10.html diakses pada


1 desember 2015

Nugroho, Edi dkk.1996.Mikrobiologi kedokteran.EGC:Jakarta


BOTULISME

Farah, A. (2013, August 2013). Produk Susu Fonterra Tercemar Bakteri Botulisme. Retrieved
Desember 1, 2015, from www.hidayatullah.com:
http://www.hidayatullah.com/iptekes/kesehatan/read/2013/08/03/5779/produk-susu-fonterra-
tercemar-bakteri-botulisme.html

Kartika, U. (2013, august 06). Risiko Kesehatan di Balik Cemaran "Clostridium Botulinum. (A.
Candra, Editor) Retrieved november 30, 2015, from helath.kompas.com:
http://health.kompas.com/read/2013/08/06/1423507/Risiko.Kesehatan.di.Balik.Cemaran.Clostrid
ium.Botulinum.

Ridarineni, N. (2013, August 06). Ini Dampak Kontaminasi Bakteri Clostridium Botulinum. (D.
Mardiani, Editor) Retrieved November 30, 2015, from republika.co.id:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/13/08/06/mr3wxc-ini-dampak-
kontaminasi-bakteri-clostridium-botulinum

Subekti, S. (2013, August 06). Produk Susu Terkontaminasi, Perusahaan Meminta Maaf.
Retrieved Desember 1, 2015, from www.satuharapan.com: http://www.satuharapan.com/read-
detail/read/produk-susu-terkontaminasi-perusahaan-meminta-maaf

Susanto, G. A. (2013, august 08). Gejala Keracunan Susu Formula Tercemar Clostridium
Botulinum. Retrieved November 30, 2015, from health.liputan6.com:
http://health.liputan6.com/read/661038/gejala-keracunan-susu-formula-tercemar-clostridium-
botulinum