Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kata filsafat berasal dari kata philosophia (bahasa Yunani), diartikan
dengan mencintai kebijaksanaan. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata filsafat
disebut dengan istilah philosophy, dan dalam bahasa Arab disebut dengan
istilah falsafah, yang biasa diterjemahkan dengan cinta kearifan. Sumber dari
filsafat adalah manusia, dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat yang
berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan akhirnya
memperoleh kebenaran.
Adapun menurut Kattsoff yang menjadi cabang-cabang filsafat adalah
logika, metodologi, metafisika, ontologi dan kosmologi, epistemologi, biologi
kefilsafatan, psikologi kefilsafatan, antropologi kefilsafatan, sosiologi
kefilsafatan, etika, estetika, dan filsafat agama.
Adapun kata ilmu (science) diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu,
atau bagian dari pengetahuan. Menurut J.S Badudu (1996-528) ilmu adalah :
Pertama, diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun
secara sistematis. Kedua, ilmu diartikan sebagai kepandaian atau kesaktian.
Sedangkan Maufur (2008:30), menjelaskan bahwa ilmu adalah sebagian dari
pengetahuan yang memiliki dan memenuhi persyaratan tertentu, yang artinya
ilmu tentu saja merupakan pengetahuan, tetapi pengetahuan belum tentu ilmu.
Beberapa syarat suatu pengetahuan untuk dapat masuk katagori sebagai ilmu
pengetahuan menurut Maufur (2008:32-34) yaitu sistematik, general, rasional,
objektif, menggunakan metode tertentu dan dapat dipertanggung jawabkan.
Jujun S. Suriasumantri menjelaskan bahwa filsafat ilmu merupakan suatu
pengetahuan atau epistemologi yang mencoba menjelasakan rahasia alam agar
gejala alamiah tersebut tak lagi merupakan misteri.

1
Dalam filsafat ilmu Persons (Ismaun: 2004) dalam studinya melakukan
pendekatan sebagai berikut :
1. Pendekatan received view yang secara klasik bertumpu pada aliran positivsme
yang berdasar kepada fakta-fakta.
2. Pendekatan menampilkan diri dari sosok rasionality yang membuat kombinasi
antara berpikir empiris dengan berpikir structural dalam matematika.
3. Pendekatan fenomenologik yang tidak hanya sekedar pengalaman langsung,
melainkan pengalaman yang mengimplikasikan pernafsiran dan kalsifikasi.
4. Pendekatan metafisik, yang bersifat intransenden. Moral berupa sesuatu yang
objektif universal.
5. Pragmatisme, walaupun bukan tetapi menarik disajikan, karena dapat
menyatukan antara teori dan praktek.
Dimensi kajian filsafat ilmu antara lain dimensi ontologi, epistemologi, dan
aksiologi yang mana dalam dimensi ontologi yang menjadi bagian dari objek
kajiannya adalah metafisika.
Apa itu metafisika ??? Seringkali ditemukan orang atau berita di televisi
yang menyebut kata metafisika, hal tersebut selalu dikaitkan ke arah yang
ghaib (supernatural), ilmu nujum, perbintangan, dan pengobatan jarak jauh yang
bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa. Dalam kehidupan sehari-hari secara sadar
ataupun tidak manusia selalu membicarakan tentang hal-hal yang berbau
metafisika (kepercayaan), hal-hal yang di luar dunia fisik seringkali dikaitkan
dengan metafisika. Sebagai contoh sederhana adalah beriman terhadap agama
yang dianut, manusia memahami alam semesta diciptakan oleh Tuhan namun
seringkali manusia mempertanyakan bagaimana wujud Tuhan?? Apa Tuhan itu
ada? selain itu adanya hantu atau jin. Hal ini menunjukkan hubungan antara
manusia dan metafisika. Apa sebenarnya metafisika itu? Metafisika merupakan
salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai
penyebab segala sesuatu sehingga hal tertentu menjadi ada, dimana di dalamnya

2
menjelaskan studi keberadaan atau realitas. Belajar dasar-dasar metafisika turut
mengarahkan manusia untuk berupaya mengerti lebih dalam keberadaannya
(Siswanto, 2004).
Dengan berpikir matefisis sebagai pengaruh dari belajar dasar-dasar
metafisika tersebut dapat meredam hedonisme dan materialisme. Hal ini selaras
dengan karakteristik metafisika yang menekankan kepada pengetahuan akal budi,
di mana isi dari pengetahuan akal budi itu lebih pasti ketimbang dengan
pengetahuan inderawi yang senantiasa dalam perubahan, yang justru metafisika
bila dipelajari mendorong orang untuk mempergunakan akal budi dalam proses
mencapai realitas rohaniah sebagai realitas mutlak sang pengatur seluruh alam,
dan memang realitas mutlak ini dapat digapai oleh akal budi, sehingga
memposisikan realitas material tidak penting manakala menghambatnya (Anton,
1994).
Metafisika pada masa Yunani kuno dikatakan sebagai ilmu mengenai yang
ada dalam dirinya sendiri. Dengan metafisika orang ingin memahami realitas
dalam dirinya sendiri. Berbicara mengenai yang ada berarti bergaul dengan
sesuatu yang sungguh-sungguh riil, sejauh yang ada itu sebagai suatu kondisi
semua realitas. Metafisika mempunyai objek kajian yang mengatasi pengalaman
indrawi yang bersifat individual. Metafisika bertugas mencari kedudukan yang
individual itu dalam konteks keseluruhan. Metafisika mengajak orang untuk
tidak terpaku pada pohon ini atau itu atau masalah kesehatan manusia dan lain-
lain yang tertentu, tetapi melihat semuanya itu dalam konteks bahwa semua itu
ada.
Metafisika pada masa sekarang menjadi bidang filsafat yang memikirkan
dan mempelajari hal-hal yang mengatasi atau di luar pembahasan tentang hal-
hal yang fisik dan empiris di mana sudut pandang metafisika mengatasi fisika
(metaphysica).

3
Untuk menguraikan lebih jelas dan lengkap tentang metafisika, apa yang
pengertian lebih jelas tentang metafisika, bagaimana hubungan antara filsafat
ilmu dan metafisika, apa sajakah yang menjadi objek kajian dalam metafisika,
bagaimanakah pengaruh tentang kajian metafisika dalam kehidupan dan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan, maka kami akan memaparkannya dalam
makalah kelompok kami yang berjudul METAFISIKA.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian metafisika
2. Untuk mengetahui perspektif dan manfaat metafisika bagi keperawatan

C. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih kepada para
pembacanya mengenai metafisika, terutama bagi rekan-rekan yang sedang
menempuh studi magister keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

4
BAB II
KONSEP TEORI

A. Pengertian Metafisika
Metafisika merupakan bagian dari aspek ontologi dalam kajian filsafat.
Konsepsi metafisika berasal dari bahasa Inggris: metaphysics, Latin:
metaphysica dari Yunani metaphysica (sesudah fisika); dari kata meta (setelah,
melebihi) dan physikos (menyangkut alam) atau physis (alam). Metafisika
berasal dari kata meta (di balik, tersembunyi) dan fisika (dunia yang tampak).
Metafisika adalah bagian dari filsafat ilmu yang memperlajari di balik realitas.
Salah satu buku filsafat menyebutkan bahwa metafisika berarti di balik yang
ada. Kedudukan metafisika dalam filsafat ilmu sangat kuat. Metafisika sudah
merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Setiap
telaah filosofis terdapat unsur metafisik.
Metafisika merupakan bagian falsafah tentang hakikat yang ada di balik
fisika (yang nampak). Hakikat tersebut biasanya bersifat abstrak dan di luar
jangkauan pengalaman manusia biasa. Matafisika secara prinsip mengandung
konsep kajian tentang sesuatu yang bersifat rohani dan tidak dapat diterangkan
dengan kaidah penjelasan yang ditemukan dalam ilmu yang lain.
Metafisika merupakan cabang filsafat umum yang bertugas mencari jawaban
tentang yang ada, yaitu filsafat yang memburu hakikat sesuatu yang ada, atau
menyelidiki prinsip-prinsip utama. Yang dimaksud dengan yang ada atau
being ialah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Adapun mengenai yang
ada itu dibedakan menjadi tiga macam :
a. Ada dalam objektif atau ada dalam kenyataan, artinya dapat diketahui
dengan panca indra manusia;
b. Ada dalam angan-angan atau ada dalam pikiran; dan
c. Ada dalam kemungkinan.

5
Hidup manusia dikelilingi suasana ketiga hal itu, sehingga mewujudkan ada
yang sesungguhnya.
Dalam perkembangannya, cabang metafisika yang membicarakan hakikat
sesuatu yang ada, maka penyelidikannya menjadi lebih khusus, sehingga timbul
subcabang metafisika yaitu ontology, kosmologi, dan anthropologi. Untuk
mendeskripsikan secara lebih jelas posisi dan kedudukan metafisika, dapat
dikemukakan bahwa ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia melewati 3 jenis
tahapan yaitu :
1. Abstraksi pertama, yaitu fisika, menggariskan bahwa manusia berpikir
ketika mengamati secara indrawi. Dengan berpikir, akal dan budi kita
melepaskan diri dari pengamatan indrawi tertentu yaitu materi yang
dapat dirasakan. Dari hal-hal yang pertikular dan nyata, ditarik
daripadanya hal-hal yang bersifat umum ; itulah proses abstraksi dari cirri-
ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang abstrak itu,
menghasilkan ilmu pengetahuan yang disebut fisika (physos = alam).
2. Abstraksi kedua, yakni matematis. Ini terjadi ketika manusia dapat
melepaskan diri dari materi yang kelihatan. Itu terjadi kalau akal budi
melepaskan dari materi hanya segi yang dapat dimerngerti. Ilmu
pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material
ini disebut matesis (matematika mathesis = pengetahuan, ilmu).
3. Abstraksi ketiga, teologi atau filsafat pertama. Dengan
meng-abstrahere dari semua materi dan berpikir tentang seluruh
kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang asas pembentukannya,
bersifat teleology, asas pertama dalam mendapatkan hakikat realitas dan
sebagainya. Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengatahuan yang
disebut teologi atau filsafat pertama. Akan tetapi kerena pengetahuan ini
datang sesudah fisika, maka tradisi selanjutnya disebut metafisika.

6
Sejajar dengan konsep tersebut wilayah filsafat dibagi dalam tiga tingkatan,
yakni:
1. First order criteriologi meliputi metafisika, epistemology, aksiologi, dan
logika.
2. Second order criteriologi meliputi etika, filsafat ilmu, filsafat bahasa,
filsafat pikiran.
3. Third order criteriologi meliputi filsafat hukum, filsafat pendidikan,
filsafat sejarah, dan lain-lain.
Metafisika secara tradisional didefinisikan sebagai pengetahuan tentang
pengada (being). Di sini metafisika merupakan upaya untuk menjawab problem
tentang realitas yang lebih umum, komprehensif, atau lebih fundamental
daripada ilmu dengan cara merumuskan fakta yang paling umum dan luas
tentang dunia termasuk penyebutan katagori yang paling dasar dan hubungan di
antara kategori tersebut.
Metafisika sebagai ilmu mempunyai objeknya tersendiri. Hal ini yang
membedakannya dari pendekatan rasional yang lain. Objek telaahan metafisika
berbeda dari ilmu alam, matematika, atau ilmu kedokteran. Metafisika berbeda
pula dari cabang filsafat lain, seperti filsafat alam, epistemology, etika, dan
filsafat ketuhanan.
Nama metafisika yang diberikan pada karya Aristoteles dapat dilihat dari
beberapa segi :
a. Metafisika sebagai etiket bibliografis atas karya Aristoteles,
b. Metafisika dari segi pedagonis, dalam tanggapan ini, metafisika adalah
ilmu yang sulit dan wajar diajarkan sesudah fisika (tentu saja fisika dalam
arti yang diberikan oleh Aristoteles)
c. Metafisika dalam arti filosofis. Pada abad pertengahan, istilah metafisika
mempunyai arti filosofis. Metafisika oleh para filsuf Skolastik diberi arti
filosofis dengan mengatakan bahwa metafisika ialah ilmu tentang yang

7
ada, karena mencul sesudah dan melebihi yang fisika (physicam et supra
physicam). Istilah sesudah yang dimaksudkan di sini ialah bahwa objek
metafisika sendiri berada pada abstraksi ketiga. Metafisika sebagai
abstraksi datang sesudah fisika dan matematika. Kata melebihi tidak
menunjukkan unsur special, ruang. Kata melebihi berarti metafisika
melebihi abtraksi yang lain, menempati posisi tertinggi dari semua
kegiatan abstraksi, karena menempati jenjang abstraksi paling akhir.
Keberatan terhadap pandangan ini ialah bahwa metafisika sama saja dengan
pengetahuan yang bersifat metaempiris, yakni studi mengenai sesuatu (ada)
yang mengatasi fenomen atau mengatasi realistis fisik yang tampak. Demikianlah
sedikit penjelasan dari pengertia metafisika. Metafisika adalah salah satu cabang
filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai penyebab segala sesuatu
sehingga hal tertentu menjadi ada.
Metafisika berasal dari bahasa Yunani ta meta ta physica yang artinya yang
datang setelah fisika. Metafisika yang sering disebut sebagai disiplin filsafat
terumit dan memerlukan daya abstraksi sangat tinggi (ibarat seorang mahasiswa
untuk mempelajarinya menghabiskan beribu-ribu ton beras), bermetafisika
membutuhkan energi intelektual yang sangat besar sehingga membuat tidak
semua orang berminat menekuninya. Hubungannya dengan teori kemunikasi,
metafisika berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut :
a. Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan
realita dalam alam semesta;
b. Sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab dan aturan;
c. Problem pilihan, khususnya bebebasan versus determinase pada prilaku
manusia.
Pentingnya metafisika bagi pembahasan filsafat komunikasi, dikutip dari
pendapat Suriasumantri (1983) dalam bukunya filsafat Ilmu mengatakan

8
bahwa metafisika merupakan suatu hakikat tentang keberadaan zat, hakikat
pikiran, dan hakikat kaitan zat dengan pikiran.
Metafisika adalah sebuah kekuatan yang terletak pada kekuatan mental, akal
pikiran, hati, jiwa serta semua fisik tubuh manusia, yang mana manusia bisa
membangkitkan kinerja semua unsur tubuh mereka, maka mereka memiliki
kekuatan yang sangat dahsyat.
Metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai filsafat pertama atau thelogia,
dalam pandangan Aristoteles, metafisika belum begitu jelas dibedakan dengan
fisika. Secara etimologis metafisika berasal dari bahasa yunani, metafisika yang
menurut Lois O. Katsiff adalah hal-hal yang terdapat sesudah fisika, Aristoteles
mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang
ada, yang dilawankan misalnya dengan yang ada sebagai yang digerakan atau
yang ada sebagai yang jumlahkan. Pada masa sekarang, metafisika dipahami
sebagai bagian dari filsafat yang mempelajrari dan berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan terdalam tentang hakikat segala sesuatu. Pertanyaan-
pertanyaan filosofis tersebut membahas dan tertuju pada beberapa konsep
metafisik, dengan kata lain yang lebih tepat agaknya adalah-konsep di luar hal-
hal yang bersifat fisik. Jadi dapat disimpulkan bahwa metafisika adalah suatu
studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita.

B. Sejarah Metafisika
Sejarah metafisika yang resmi dan sistematis bermula dari sejarah penamaan
pengetahuan ini dengan metafisika yang dilakukan oleh para peneliti karya-karya
Aristoteles. Pengertian metafisika secara bahasa, yang artinya setelah fisika
menjadi bukti penamaan tersebut. Secara tidak resmi dan sistematis, sejarah
metafisika telah dimulai ketika Adam diciptakan. Penulis yakin Nabi pertama ini
manusia yang berpikir. Dengan sendirinya, ia juga melakukan praktek metafisika,
yaitu minimal bertanya dan mencari jawabannya.

9
Aristoteles tidak pernah menamakan pengetahuan tersebut dengan nama
metafisika. Istilah Metafisika muncul ketika para peneliti pemikiran Aristoteles
menyusun karya-karya Aristoteles dan menempatkan pemikiran metafisika
setelah fisika. Jadi, para penyusun karya-karya Aristoteles lah yang menamakan
pengetahuan tersebut dengan nama metafisika. Sejak itulah pengetahuan tersebut
dinamakan metafisika.
Bertens sepakat bahwa nama metafisika tidak digunakan oleh Aristoteles.
Oleh karena itu, seiring waktu orang mencoba menyimpulkan bahwa nama
metafisika diduga berasal dari Adronikus, salah seorang yang menerbitkan karya-
karya Aristoteles sekitar tahun 40 S.M. Ia menempatkan bahasan metafisika
setelah bahasan fisika. Sejak itulah orang berpikir bahwa itulah asal usul nama
metafisika. Hal ini ini diperkuat dengan ungkapan Yunani ta meta ta physica
yang berarti hal-hal sesudah hal-hal fisik. Namun, sejak kira-kira tahun 1950-an
pendirian tersebut tidak bisa dipertahankan lagi. Di antara orang yang
membantahnya adalah P. Moraux, seorang sarjana Perancis dan H. Reiner.
Menurut Moraux, nama metafisika telah lama digunakan oleh penganut mazhab
Aristotelian, jauh sebelum Andronikus menamakannya. Nama ini pertama kali
diduga telah diberikan oleh Ariston, yang menjadi pimpinan mazhab Aristotelian,
sekitar tahun 226 S.M. Sementara H. Reiner berpendapat bahwa nama metafisika
telah muncul pada generasi pertama Aristoteles (wafat tahun 321 S.M.), yaitu
sekitar tahun 300-an S.M.
Berdasarkan sejarah awal metafisika ini, sepertinya metafisika hanya
berkenaan dengan penempatan pemikiran Aristoteles semata. Sehingga, asal usul
metafisika dianggap sederhana, yaitu metafisika ditempatkan setelah fisika.
Namun dalam perkembangannya, kajian metafisika tidak seremeh temeh asal
usulnya. Tafsiran terhadap pengetahuan ini begitu beragam dan kompleks.

10
C. Hubungan antara Filsafat Ilmu dengan Metafisika
Kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika
merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua,
telaah filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang signifikan dalam
kajian filsafat. Ini tentu sejajar dengan signifikannya yang menyebut bahwa
filsafat adalah induk dari segala ilmu.
Menurut Kattsoff, metafisika termasuk salah satu dari cabang-cabang filsafat
yaitu hal-hal yang terdapat sesudah fisika, hal yang terdapat d balik yang
nampak. Metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai ilmu pengetahuan mengenai
yang ada sebagai yang ada, yang dilawankan dengan yang ada sebagai yang
digerakkan atau yang ada sebagai yang dijumlahkan. Kita dapat mendefinisikan
metafisika sebagai bagian pengetahuan manusia yang berkaitan dengan
pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam. Secara singkat, dapat
dinyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini menyangkut persoalan kenyataan
sebagai kenyataan, dan berasal dari perbedaan yang cepat disadari oleh setiap
orang, yakni perbedaan antara yang tampak (apprence) dengan yang nyata
(reality).
Dalam filsafat ilmu menurut Persons (Ismaun: 2004) dalam studinya
melakukan pendekatan salah satunya adalah pendekatan metafisika, yang
bersiifat intransenden. Moral berupa sesuatu yang objektif universal.
Dalam dimensi kajian filsafat ilmu dibagi menjadi dimensi ontologi, dimensi
epistemologi, dan dimensi aksiologis. Metafisika termasuk dalam objek kajian
pada dimensi ontologi. Metafisika merupakan cabang filsafat yang
membicarakan tentang hal-hal yang sangat mendasar yang berada di luar
pengalaman manusia. Metafisika mengkaji segala sesuatu secara komprehensif.
Menurut Asmoro Achmadi (2005:14), metafisika merupakan cabang filsafat yang
membicarakan sesuatu yang bersifat keluarbiasaan (beyond nature), yang
berada di luar pengalaman manusia (immediate experience). Menurut Achmadi,

11
metafisika mengkaji sesuatu yang berada di luar hal-hal yang biasa yang berlaku
pada umumnya (keluarbiasaan), atau hal-hal yang tidak alami, serta hal-hal yang
berada d luar kebiasaan atau di luar pengalaman manusia.

D. Objek Kajian Metafisika


Metafisika adalah cabang tertua dari filsafat, umurnya sama tuanya dengan
filsafat itu sendiri. Kelahirannya diawali oleh suatu ketertarikan untuk
mengungkap misteri dibalik realitas ini,sama dengan maksud istilahnya yaitu :
meta berarti dibalik,dan fisika yang berarti alam fisik. Yang dalam bahasa arab
dimengerti sebagai (apa yang ada dibalik fisik). Maka metafisika adalah
pengetahuan spekulatif filosofis tentang realitas, dimana pengetahuan spekulatif
filosofis itu dimaksudkan sebagai menjangkau sesuatu dibalik yang fisik.
Persoalannya apakah pengetahuan spekulatif filosofis itu merupakan
gambaran yang benar dari sesuatu yang ada dibalik yang fisik?. Terhadap
pertanyaan ini setidaknya ditemukan 2 pandangan : Pandangan pertama melihat
bahwa berbagai peristiwa yang terjadi pada alam nyata ini adalah wujud belaka
dari apa yang terjadi dialam yang lebih hakiki yang tempatnya berada jauh
disana. Dalam sejarah filsafat Plato disebut sebagai filsuf pertama yang
berpandangan demikian. Dalam skema pemikiran Plato ditemukan bahwa ia
membagi dunia menjadi 2 yaitu: Dunia intelegible sebagai dunia hakiki, dan
dunia sensible sebagai dunia yang nyata yang sifatnya sementara dan tidak
hakiki. Pandangan kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan sesuatu
dibalik yang fisik tidak lain merupakan alam pikiran manusia tentang suatu alam
yang dianggapnya sebagai alam lain itu. Alam pikiran yang demikian inilah yang
disebut Metafisika. Kedua pandangan diatas memang sulit didamaikan dan akan
tetap bertahan pada pendiriannya masing-masing. Hanya saja dalam kajian
filsafat pandangan yang pertama biasa disebut metafisika in the old fashion

12
(metafisika klasik), sedangkan pandangan yang kedua disebut metafisika in the
new fashion yakni metafisika dalam maknanya yang baru (Subkhan, 2008).
Namun harus diakui sejak abad 16 kajian metafisika tidak lagi menarik para
ilmuan untuk membahasnya, bagi mereka kajian adalah kuno dan merupakan
tindakan kemunduran ke abad pertengahan. Pemukul genderang pemikiran ini
adalah filsuf August comte dengan teorinya positivisme. Dalam teorinya itu
August comte membagi sejarah pemikiran manusia ke dalam 3 tahap : yaitu
mitologi, metafisik dan positif. Karenanya filsafat Comte disebut positivisme.
Sampai saat ini kematian metafisika telah mencapai angka 500 tahun, sebuah
waktu yang tidak bisa dikatakan pendek untuk sebuah ilmu dan baru sekitar 1
dasawarsa terakhir ini kajian metafisika mulai diminati kembali bahkan
menunjukkan perkembangan yang cukup signiifikan.Bisa dikatakan bahwa
dewasa ini metafisika telah tampil dengan objek kajian yang lebih spesifik ,meski
tetap pada sifat dasarnya yaitu hanya melihat apa yang ada dibalik yang fisik.
Metafisika mengandung klasifikasi yang meliputi, pertama Metaphysica
Generalis (ontology); ilmu tentang yang ada atau pengada. Metafisika umum
membahas mengenai yang ada sebagai yang ada artinya prinsip-prinsip umum
yang menata realitas. Metafisika umum untuk seterusnya digunakan istilah
ontologi mengakaji realitas sejauh dapat diserap oleh indra. Cabang utama
metafisika adalah ontology, studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan
hubungan antara satu dan lainnya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas
pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia termasuk keberadaan, kebendaan,
sifat, ruang, waktu, hubungan sebab akibat dan kemungkinan.
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan
berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat
kongkrit. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologism ialah
seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya kebanyakan orang belum
membedakan antara penampakan dengan kenyataan.

13
Dalam metafisika umum terdapat tiga teori yang terkenal, yaitu:
a. Idealisme
Teori ini mengajarkan bahwa ada yang sesungguhnya berada di dunia ide atau
gagasan. Segala sesuatu yang tampak dan berwujud nyata dalam alam indrawi
hanya merupakan gambaran atau bayangan dari yang sesungguhnya, yang
berada di dunia ide. Dengan kata lain, realitas yang sesungguhnya bukanlah
yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan.
b. Materialisme
Materialisme merupakan kebalikan dari idealisme, teori ini menolak hal-hal
yang tidak kelihatan. Bagi materialisme, ada yang sesungguhnya adalah
keberadaannya semata-mata bersifat material atau sama sekali bergantung
pada material. Maka dari tu, seluruh realitas hanya mungkin dijelaskan secara
materialistis.
c. Dualisme
Dualisme mengajarkan bahwa substansi individual terdiri
dari dua tipe fundamental yang berbeda. Kedua tipefundamental dari substansi
itu ialah material dan mental. Dengan demikian, pada teori dualisme
mengakui bahwa realitas terdiri dari materi atau yang ada secara fisis dan
mental atau yang keberadaanya tidak keliahatan secara fisis.
Kedua, Metaphysica Specialis atau metafisika khusus yaitu membahas
penerapan prinsip-prinsip kedalam bidang-bidang khusus teologi, kosmologi, dan
antropologi. Metafisika khusus mengkaji realitas yang tidak dapat diserap oleh
indra. Adapun metafisika khusus terdiri atas :
1. Teologi.
Teologi adalah cabang filsafat yang merupakan bagian dari kajian
metafisika. Teologi merupakan pemikiran filosifis tentang persoalan
ketuhanan. Hal ini sesuai dengan makna dasarnya yang berasal dari 2 kata,
yaitu Theo yang berarti tuhan dan logy yang berarti ilmu .Jadi theology

14
adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang dikaitkan dengan ketuhanan.
Maka dalam perjalanannya kajian teologi membahas secara filosofis
pokok-pokok agama sebagai hal-hal yang dikaitkan dengan tuhan.
2. Cosmologi
Cosmologi merupakan bagian dari kajian metefisika, terkait dengan pokok
yang dibicarakan cosmologi biasa disebut fisafat alam. Dilihat dari kata
dasarnya cosmology bersal dari kata cosmos yang berarti aturan atau
keseluruhan yang teratur, sebagai lawan kata dari chaos yang berarti
kekacau-balauan. Maka sebenarnya cosmologi adalah pengetahuan
filosofis tentang keteraturan alam.
3. Antropologi
Antropologi merupakan salah satu bagian dari kajian metafisika. Berasal
dari kata yunani yaitu Anthropos yang berarti manusia. Antropologi
merupakan bagian dari kajian metafisika yang membicarakan soal hakikat
manusia. Sepanjang sejarah filsafat persoalan manusia terus menerus
dicoba untuk diungkapkan. Telah banyak karya mengenai apa sebenarnya
yang disebut manusia itu, semakin digali dan diperdalam persoalan
manusia semakin menarik perhatian.Namun masih banyak teka-teki
mengenai manusia yang belum bisa terjawab juga bahkan sampai hari ini.
Jadi, Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada,
artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika
khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang
khusus : teologi, kosmologi dan antropologi. Pemilahan tersebut didasarkan
pada ada dapat tidaknya diserap melalui perangkat indrawi suatu objek filsafat
pertama. Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui
indra sedang metafisika khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak
dapat diserap indra, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai
keseluruhan (kosmologi) maupun hakekat manusia (antropologi).
Objek metafisika menurut Aristoteles, ada dua, yakni :

15
Ada sebagai yang ada; ilmu pengetahuan mengkaji yang ada itu dalam
bentuk semurni-murninya, bahwa suatu benda itu sungguh-sungguh ada
dalam arti kata tidak terkena perubahan, atau dapat diserapnya oleh
pancaindra. Metafisika disebut juga ontologi.

Ada sebagai yang Illahi; keberadaan yang mutlak yang tiada bergantung
pada yang lain, yakni Tuhan (Illahi berarti yang tidak dapat ditangkap
oleh pancaindra). Epistemologi; merupakan cabang filsafat yang
menyelidiki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan manusia (a
branch of philosophy that investigates the origin, nature, methods ans
limits of human knowledge)

Dengan membincangkan metafisika memberi pemahaman bahwa filsafat


mencakup segalanya. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu
pengetahuan. Disebut sebelum karena semua ilmu pengetahuan khusus
mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut sesudah karena ilmu
pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentan batas-batas dari
kekhususannya. Maka metafisika memiliki ruang lingkup pokok bahasan yang
mencakup :
Pertama tentang kajian ikuiri keapa yang ada (exist), atau apa yang betul-
betul ada,
Kedua tentang, ilmu pengetahuan tentang realitas, sebagai lawan dari yang
tampak (appearance),
Ketiga, studi tentang dunia secara menyeluruh dengan segala teori tentang
asas pertama (first principle); prima causa yang wujud di alam (kosmos).

E. Manfaat Filsafat Metafisika bagi Pengembangan Ilmu


Manfaat metafisika bagi Pengembangan Ilmu adalah:

16
1. Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah,
ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka
ia harus dipasok dari luar, antara lain : metafisika, sains yang lain, kejadian
personal dan historis.
2. Metafisika mengajarkan cara berfikir yang serius, terutama dalam menjawab
promlem yang bersifat enigmatif (teka-teki), sehingga melahirkan sikap dan
rasa ingin tahu yang mendalam.
3. Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu selalu
terbuka untuk temuan dan kreativitas baru.
4. Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream sepert:
Monisme, Dualisme, Pluralisme, sehingga memicu proses ramifikasi, berupa
lahirnya percabangan ilmu.
5. Metafisika menuntut orisinalitas berfikir, karena setiap metafisikus
menyodorkan cara berfikir yang cenderung subjektif dan menciptakan
terminology filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk
pengembangan ilmu dalamrangka menerapkan heuristika.
6. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip pertama
(First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian ilmiah
dalam metode skeptic Descartes hanya dapat diperoleh jika kita
menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak dari premis yang paling
kuat (Cogito ergo sum) Skeptis-Metodis Rene Descartes.
7. Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia
memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus
bertanggungjawab bagi diri, sesame, dan dunia. Penghayatan atas kebebasan
di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain merupakan sebuah kontribusi
penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan nilai.
8. Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada
yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa

17
komunikasi antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan
sejenis, tetepi juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman
atas realitas keilmuwan.

F. Filosof yang Menentang Metafisika


1. David Hume :
a) Metafisika itu cara berfikir yang menyesatkan (sophistry) dan khayalan
(Illusion). Sebaiknya karya metafisika itu dimusnahkan, karena tidak
mengandung isi apa-apa.
b) Metafisika bukanlah sesuatu yang dapat dipersepsi oleh indera manusia,
sehingga merupakan sesuatu yang senseless.
2. Alfred Jules Ayer
a) Metafisika adalah parasit dalam kehidupan ilmiah yang dapat
menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan, OKI metafisika harus
dieliminasi dari dunia ilmiah.
b) Problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem semu,
artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab.
3. Ludwig Wittgenstain
a) Metafisika itu bersifat the mystically, hal-hal yang tak dapat
diungkapkan ke dalam bahasa yang bersifat logis.
b) tiga persoalan metafisika, yaitu : (1) Subject does not belong to the
world; reather it is a limit of the world. (2) That is not an event in life,
we do not live to experience that. (3) God does not reveal him self in the
world.
Kesimpulan : sesuatu yang tak dapat diungkapkan secara logis
sebaiknya di diamkan saja(What we cannot speak about we must fast
over in silence!)

18
G. Filsuf Pembela Metafisika
1. Plotinos :
Semua pengada beremanasi dari to Hen (yang satu) melalui proses spontan
dan mutlak. To Hen beremanasi pada Nous (Kesadaran), melimpah Psykhe
(jiwa), akhirnya melimpah pada materi sebagai bentuk yang paling rendah,
yaitu meion.
2. Karl Jaspers
a) Metafisika merupakan upaya memahami Chiffer ; symbol yang
mengantarai eksistensi dan transendensi.
b) Manusia adalah Chiffer paling unggul, karena banyak dimensi
kenyataan bertemu dalam diri manusia.
c) Manusia merupakan suatu mikrokosmos, pusal kenyataan; alam,
sejarah, kesadaran, dan kebebasan ada dalam diri manusia.
d) Metafisika : berarti membaca Chiffer, transendensi keilahian, sebagai
kehadiran tersembunyi.
e) Chiffer adalah jejak, cermin, gema atau bayangan transendensi.

BAB III
PEMBAHASAN

19
A. Pengaruh Tentang Kajian Metafisika dalam Kehidupan dan dalam
Pengembangan Ilmu Pengetahuan

1. Metafisika dan Pengalaman Hidup

Filsafat termasuk metafisika, merupakan ilmu yang menentang arus,


dalam arti cara kerjanya lumayan berbeda dari cara kerja ilmu pengetahuan
yang lainnya. Dengan filsafat (metafisika) orang dapat menunjukkan bahwa
manusia tidak hanya sekedar makhluk yang bisa makan, menikmati kenakan
dunia dan alam semesta. Filsafat bertugas tidak lain menggemakan kenyataan.
Dengan berfilsafat, manusia menggemakan lagi nada metafisik kenyataanya
yang sudah pudar oleh hingar-bingarnya perjuangan memenuhi kebutuhan
fisik belaka. Filsafat terus dan tidak bosan-bosannya menggemakan suara
kebenaran dan kebaikan, yang hamper sirna oleh pertarungan kepentingan
sesaat manusia dan usaha menipulasi yang sering tidak terkendali.
Sebagai manusia yang dari kodratnya berakal budi kita semua
mempunyai kemampuan filosofis. Dengan akalnya, manusia mencari rumusan
baru tentang kenyataan fisik dan metafisik. Dalam perumusan sudah tersirat
tanda bahwa manusia tidak terikat oleh apa yang kini dipegangnya, karena
perumusan merupakan kegiatan abstraksi dari kenyataan. Filsafat dalam
kedudukannya sebagai salah satu ilmu, bertugas mengeksplisitkan prinsip
hidup yang sedikit banyak masih implisit adanya dalam diri setiap orang.
Filsafat ingin mengangkat ke permukaan kebijaksanaan hidup yang lebih
sering didominasi oleh keputusan kepentingan tertentu. Metafisika akan
menemukan jawaban dari ketidakpastian hidup, yang mungkin ada.
Filsafat (metafisika) tidak pernah berangkat dari dunia awang-awang atau
khayalan. Titik tolaknya selalu pengalaman nyata inderawi. Pengalaman itu
disistematisasi. Kemudian berdasarkan pengalaman itu, dibangun refleksi
yang spesifik. Filsafat mengangkat pengalaman hidup untuk mencari prinsip-
prinsip dasar. Dengan demikian diharapkan bahwa kita sampai pada Sang

20
Illahi yang disbut Allah oleh orang yang beragama. Selain itu, dengan
mendasari keterbatasan daya piker manusia, metafisika mengajarkan pada kita
kebijaksanaan hidup. Hidup perlu ditangkap dalam keseluruhannya, tetapi
tidak berarti kita memahami kehidupan itu secara tuntas.
Dari segi bahasa, metafisika bersifat integratif dan indikatif. Dengan
metafisika kita berusaha menyatakan semua pengalaman kita dengan
mengangkat dasarnya yang paling dalam.
Dunia metafisik kadang-kadang tidak terjangkau oleh nalar orang biasa.
Pengalaman metafisik merupakan wilayah batin yang dikongkretkan ide-ide
yang lahir dari indrawi manusia, selanjutnya diaktualisasi lewat kata-kata.
Kata yang bersifat metafisik, akan mengantarkan manusia berpikir di balik
realitas.
2. Metafisika dalam Pengembangan Ilmu
Manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika.
Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini
adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat
lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.Pemikiran
seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme.Dari sini lahir tafsiran-tafsiran
cabang misalnya animisme.Selain faham diatas, ada juga paham yang disebut
paham naturalisme.
Paham ini amat bertentangan dengan paham supernaturalisme. Paham
naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-
hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu
sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui. Orang orang yang menganut
paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang
mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka menolak
keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu. Dari paham naturalism ini juga
muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan
manusia berasal dari materi. Salah satu yang menggap bahwa alam semesta
dan manusia berasal dari materi. Salah satu pencetusnya ialah Democritus

21
(460 370 SM) (Delfgaauw, 1988). Adapun bagi mereka yang mencoba
mempelajari mengenai makhluk hidup. Timbul dua tafsiran yang masih saling
bertentangan yakni paham mekanistik dan paham vitalistik. Kaum mekanistik
melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala
kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu
yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar gejala kimia-
fisika semata berbeda halnya dengan telah mengenai akal dan pikiran, dalam
hal ini ada dua tafsiran tang juga saling berbeda satu sama lain. Yakni faham
monoistik dan dualistic. Sudah merupakan aksioma bahwa proses berfikir
manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya.
Dari sini aliran monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan
antara pikiran dan zat. Keduanya (pikiran dan zat) hanya berbeda dalam gejala
disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama.
Perndapat ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistic. Dalam
metafisika, penafsiran dualistic membedakan antara zat dan kesadaran
(pikiran) yang bagi mereka berbeda secara subtsansif. Aliran ini berpendapat
bahwa yang ditangkap oleh fikiran adalah bersifat mental.Maka yang bersifat
nyata adalah fikiran, sebab dengan berfikirlah maka sesuatu itu lantas ada.
Metafisika ternyata dapat penentangan dari beberapa ilmuan, antara lain
adalah yang menganut paham positivism dari paham positivism logis dengan
menyatakan bahwa metafisika tidak bermakna, Alfred, J. Ayer menyatakan
bahwa sebagian besar perbincangan yang dilakukan oleh para filosof sejak
dahulu sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan juga tidak ada
gunanya, problem yang diajukan dalam bidang metafisika adalah problem
semu, artinya permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dijawab,
berkaitan dengan pendapat ayer tersebut, Katsoff menyatakan bahwa agaknya
ayer berupaya untuk menunjukan bahwa naturalism, materialism, dan lainnya
merupakan pandangan yang sesat, ayer menunjang argumentasinya dengan
membuat criterion of verifiability atau keadaan dapat diverifikasi, penentang

22
lain Luwig Winttgenstien menyatakan bahwa metafisika bersifat the
mystically, hal-hal yang tak dapat diungkapkan ke dalam bahasa yang bersifat
logis. Wittgenstien menyatakan terdapat tiga perosalaan dalam metafisika :
(Lorens, 1991)
a. Subjek, dikatakanya bukan merupakan dunia atau bagian dari dunia,
melainkan lebih dapat dikatakan sebagaibatas dari dunia
b. Kematian,kematinan bukanlah sebuah peristiwa dalam kehidupan,
manusia tidak hidup untuk mengalami pengalaman kematian
c. Tuhan, ia tidak menampakkan diri-Nya di dunia dengan demikian
Wittgenstein menyimpulkan, bahwa sesuatu yang tidak dapat
diungkapkan secara logis sebaikna didiamkan saja.
Namun pada kenyataanya banyak ilmuan besar, terutama albert Einstein
yang merasakan perlunya membuat formula konsepsi metafisika sebagai
keonsekuensi dari penemuan ilmiahnya, manfaat metafisika bagi
pengembangan ilmu dikatakan oleh Thomas Kuhn terletak pada awal
terbetnuknya paradigm ilmiah, yakni ketika kumpulan kepercayaan belum
lengkap faktanya, maka ia mesti dipasok dari luar, antara lain adalah ilmu
pengetahuan lain, peristiwa sejarah, pengalaman personal, dan metafisika.
misalnya adalah upaya-upaya untuk memecahkan masalah yang tak dapat
dipecahkan oleh paradigm keilmuan yang lama dan selama ini dianggap
mampu memecahkan masalah dan membutuhkan paradigm baru, pemecahan
masalah baru, hal ini hanya dapat dipenuhi dari hasil perenungan metafisika
yang dalam banyak hal memang bersifat spekulatif dan intuitif, hingga dengan
kedalaman kontemplasi serta imajinasi akan dapat membuka kemungkinan-
kemungkinan atau peluang-peluang konsepsi teoritis, asumsi, postulat, tesis
dan paradigma baru untuk memecahkan masalah yang ada.
Sumbangan metafisika terhadapilmu pengetahuan tidak dapat disangkal
lagi adalah pada fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada ilmu
pengetahuan adalah persinggunggan antara metafisika dan ontology dengan
epistimologi. Dalam metafisika yang mempertanyakan apakah hakikat

23
terdalam dari kenyataan yang diantaranya dijawab bahwa hakikat terdalam
dari kenyataan adalah materi, maka munculah paham materialism, sedangkan
dalam epistimologi yang dimulai dari pertanyaan bagaimanakah cara kita
memperoleh pengetahuan? yang dijawab salah satunya oleh Descartes, bahwa
kita memperoleh pengetahuan melalui akal, maka munculah rasionalisme,
John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut bahwa pengetahuan diperoleh
dari pengalaman, maka ia telah melahirkan aliran empirisme dan lainya
berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai realitas, ada tidak dan lainya
sebagaimana telah dikemukan di dalamyang telah melahirkan berbagai
pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga melahirkan
berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai aliran-aliran
filsafat awal, ketika pemahaman-pemahaman aliran-aliran filsafat tersebut
dipertemukan dengan ranah epistimologi atau dihadapkan pada fenomena
dinamika perkembanga illmu pengetahuan (Mustofa, 2007).
Metafisika menuntut orisinalitas berpikir yang biasanya muncul melalui
kontemplasi atau intuisi berupa kilatan-kilatan mendadak akan sesuatu, hingga
menjadikan para metafisikus menyodorkan cara berpikir yang cendertung
subjektif dan menciptaan terminology filsafat yang khas. situasi semacam ini
dinyatakan oleh Van Peursen sangat diperlukan untuk pengembangan ilmu
dalam rangka menerapkan heuristika. berkaitan dengan pembentukan minat
intelektual, maka metafisika mengajarkan mengenai cara berpikir yang serius
dan mendalam tentang hakikat-hakikat segala sesuatu yang bersifat enigmatik,
hingga pada akhirnya melahirkan sikap ingin tahu yang tinggi sebagaimana
mestinya dimiliki oleh para intelektual. Metafisika mengajarkan pada peminat
filsafat untuk mencari prinsip pertama sebagai kebenaran yang paling akhir.
Beberapa ahli kemudian merumuskan beberapa manfaat filsafat ilmu dan
metafisika dalam pengembangan ilmu : (Fakhry, 1987)
a. Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigma ilmiah,
ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya,

24
maka ia harus dipasok dari luar, antara lain : metafisika, sains yang lain,
kejadian personal dan historis. (Kuhn)
b. Metafisika mengajarkan cara berfikir yang serius, terutama dalam
menjawab promlem yang bersifat enigmatif (teka-teki), sehingga
melahirkan sikap dan rasa ingin tahu yang mendalam.(Kennick)
c. Metafisika mengajarkan sikap open-ended, sehingga hasil sebuah ilmu
selalu terbuka untuk temuan dan kreativitas baru.(Kuhn)
d. Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran, mainstream
seperti : Monisme, Dualisme, Pluralisme, sehingga memicu proses
ramifikasi, berupa lahirnya percabangan ilmu (Kennick)
e. Metafisika menuntut orisinalitas berfikir, karena setiap metafisikus
menyodorkan cara berfikir yang cenderung subjektif dan menciptakan
terminology filsafat yang khas. Situasi semacam ini diperlukan untuk
pengembangan ilmu dalamrangka menerapkan heuristika.(Van Peursen)
f. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip
pertama (First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir. Kepastian
ilmiah dalam metode skeptic Descartes hanya dapat diperoleh jika kita
menggunakan metode deduksi yang bertitik tolak dari premis yang paling
kuat (Cogito ergo sum) Skeptis-Metodis Rene Descartes
g. Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia
memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus
bertanggungjawab bagi diri, sesame, dan dunia. Penghayatan atas
kebebasan di satu pihak dan tanggungjawab di pihak lain merupakan
sebuah kontribusi penting bagi pengembangan ilmu yang sarat dengan
nilai (not value-free). (Bakker)
Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada
yang satu dengan pengada yang lain. Aplikasi dalam ilmu berupa komunikasi
antar ilmuwan mutlak dibutuhkan, tidak hanya antar ilmuwan sejenis, tetepi
juga antar disiplin ilmu, sehingga memperkaya pemahaman atas realitas
keilmuwan.

25
B. Filsafat dalam Keperawatan
Keperawatan saat ini tengah mengalami masa transisi panjang yang
tampaknya belum akan segera berakhir. Keperawatan yang awalnya merupakan
vokasi dan sangat didasari oleh mother instinct naluri keibuan, mengalami
perubahan atau pergeseran yang sangat mendasar atas konsep dan proses, menuju
keperawatan sebagai profesi. Perubahan ini terjadi karena tuntutan dan
perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan secara umum,
perkembangan IPTEK dan perkembangan profesi keperawatan sendiri.
Keperawatan sebagai profesi harus didasari konsep keilmuan yang jelas,
yang menuntun untuk berpikir kritis-logis-analitis, bertindak secara rasionaletis,
serta kematangan untuk bersikap tanggap terhadap kebutuhan dan perkembangan
kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan. Keperawatan sebagai direct
human careharus dapat menjawab mengapa seseorang membutuhkan
keperawatan, domain keperawatan dan keterbatasan lingkup pengetahuan serta
lingkup garapan praktek keperawatan, basis konsep dari teori dan struktur
substantif setiap konsep menyiapkan substansi dari ilmu keperawatan sehingga
dapat menjadi acuan untuk melihat wujud konkrit permasalahan pada situasi
kehidupan manusia dimana perawat atau keperawatan diperlukan keberadaannya.
Secara mendasar, keperawatan sebagai profesi dapat terwujud bila para
profesionalnya dalam lingkup karyanya senantiasa berpikir analitis, kritis dan
logis terhadap fenomena yang dihadapinya, bertindak secara rasional-etis, serta
bersikap tanggap atau peka terhadap kebutuhan klien sebagai pengguna jasanya.
Sehingga perlu dikaitkan atau dipahami dengan filsafat untuk mencari kebenaran
tentang ilmu keperawatan guna memajukan ilmu keperawatan.
Filsafat keperawatan merupakan pandangan dasar tentang hakekat manusia
dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktek
keperawatan. Pendapat lain tentang filsafat keperawatan adalah suatu ilmu yg
mempalajari tentang cara berfikir seorang perawat dalam menghadapi pasiennya
tentang kebenaran dan kebijaksanaan sehingga tingkat kesejahteraan dan

26
kesehatan pasien dapat meningkat. Ilmu keperawatan jika dilihat dari sudut
pandang filsafat akan dapat muncul pertanyaan-pertanyaan antara lain pertanyaan
ontologi ( apa ilmu keperawatan ), pertanyaan epistemologi ( bagaimana lahirnya
ilmu keperawatan ) dan pertanyaan aksiologi ( untuk apa ilmu keperawatan itu
digunakan).
Jawaban pertanyaan ontologi tentang apa itu ilmu keperawatan dapat
didefinisikan dalam beberapa pendapat. Callista Roy (1976) mendefinisikan
bahwa keperawatan merupakan definisi ilmiah yang berorientasi kepada praktik
keperawatan yang memiliki sekumpulan pengetahuan untuk memberikan
pelayanan kepada klien. Sedangkan Florence Nightingale (1895) mendefinisikan
keperawatan sebagai berikut, keperawatan adalah menempatkan pasien dalam
kondisi paling baik bagi alam dan isinya untuk bertindak. Dari beberapa definisi
di atas dapat disimpulkan bahwa keperawatan adalah upaya pemberian
pelayanan/asuhan yang bersifat humanistic dan expert, holistic berdasarkan ilmu
dan kiat, serta standart pelayanan dengan berpegang teguh kepada kode etik yang
melandasi perawat expert secara mandiri atau melalui upaya kolaborasi.

27
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya
maka dapat tarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Metafisika adalah merupakan cabang filsafat yang bertugas mencari jawaban
tentang yang ada yaitu filsafat yang memburu hakikat sesuatu yang ada atau
menyelidiki prinsip-prinsip utama.
2. Hubungan antara filsafat ilmu dan metafisika adalah bahwa kedudukan
metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika merupakan
sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua, telaah
filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang signifikan dalam kajian
filsafat. Ini tentu sejajar dengan signifikannya yang menyebut bahwa filsafat
adalah induk dari segala ilmu.

28
3. Yang menjadi objek kajian dalam metafisika adalah metafisika umum
membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya prinsip-prinsip
umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas
penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus : teologi,
kosmologi dan psikologi. Pemilahan tersebut didasarkan pada ada dapat
tidaknya diserap melalui perangkat indrawi suatu objek filsafat pertama.
Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indra sedang
metafisika khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap
indra, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan
(kosmologi) maupun kejiawan (psikologi).

4. Pengaruh tentang kajian metafisika

a. Dalam kehidupan, dengan kedudukannya sebagai salah satu ilmu , filsafat


(metafisika) bertugas mengeksplisitkan prinsip hidup yang sedikit banyak
masih implisit adanya dalam diri seseorang. Filsafat ingin mengangkat ke
permukaan kebijaksanaan hidup yang lebih sering didominasi oleh
kepentingan tertentu. Metafisika akan menemukan jawaban dari
ketidakpastian hidup, yang mungkin ada.

b. Sumbangan metafisika terhadap ilmu pengetahuan tidak dapat disangkal


lagi adalah pada fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada
ilmu pengetahuan adalah persinggunggan antara metafisika dan ontology
dengan epistimologi.

B. Rekomendasi

1. Kontribusi metafisika terletak pada awal terbentuknya paradigm ilmiah

2. Metafisika mengajarkan cara berfikir yang serius

3. Metafisika mengajarkan sikap open-ended

29
4. Perdebatan dalam metafisika melahirkan berbagai aliran

5. Metafisika menuntut orisinalitas berfikir

6. Metafisika mengajarkan pada peminat filsafat untuk mencari prinsip


pertama (First Principle) sebagai kebenaran yang paling akhir.

7. Manusia yang bebas sebagai kunci bagi akhir pengada, artinya manusia
memiliki kebebasan untuk merealisasikan dirinya sekaligus
bertanggungjawab bagi diri, sesama, dan dunia.

8. Metafisika mengandung potensi untuk menjalin komunikasi antara pengada


yang satu dengan pengada yang lain.

30
DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens. 1991. Metafisika. Jakarta : Gramedia.

Bekker, Anton. 1994. Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Penerbit Kansius

Delfgaauw,B, 1988. Ontologi dan Metafisika dalam Soejono Soemargono (Ed)


Berpikir Secara Kefilsafatan Yogyakarta : Nur Cahaya.

Edi Subkhan. 2008. Metafisika dan Ilmu Pengetahuan. Universitas negeri Jakarta.

Endraswara, Suwardi, 2013. Filsafat Ilmu. Yogyakarta : FBS Universitas Negeri


Yogyakarta.

Fakhry, Majid. 1987. A History of Islamic Philosophy alih bahasa R. Mulyadi


Kartanegara. Sejarah Filsafat Islam. Jakarta : Pustaka Jaya.

Mustofa, A. 2007. Filsafat Islam. Bandung : Pustaka Setia.

Siswanto, Joko. 2004. Metafisika Sistematik. Yogyakarta: Penerbit Taman Pustaka


Kristen.

Suriasumantri, Jujun. 2008. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular. Jakarta : Sinar
Harapan.

Susanto. A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

31