Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENENTUAN KURVA KALIBRASI KAFEIN

I. TUJUAN
1. Menentukan kurva serapan dan panjang gelombang maksimum untuk
penentuan kadar kafein dalam sampel tablet.
2. Menentukan kurva kalibbrasi dari larutan kafein.

II. DASAR TEORI


Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan
pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan
berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan
monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Benda
bercahaya seperti matahari atau bohlam listrik memancarkan spektrum
yang lebar terdiri atas panjang gelombang. Panjang gelombang yang
dikaitkan dengan cahaya tampak itu mampu mempengaruhi selaput pelangi
mata manusia dan karenanya menimbulkan kesan subyektif akan ketampakan
(vision). Dalam analisis secara spektrofotometri terdapat tiga daerah panjang
gelombang elektromagnetik yang digunakan, yaitu daerah UV (200 380
nm), daerah visible (380 700 nm), daerah inframerah (700 3000 nm)
(Khopkar 1990).
Menurut Cairns (2009), spektrofotometer adalah alat untuk mengukur
transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang.
Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu
tergantung pada senyawaan atau warna terbentuk. Secara garis besar
spektrofotometer terdiri dari 4 bagian penting yaitu :
a. Sumber Cahaya
Sebagai sumber cahaya pada spektrofotometer, haruslah memiliki
pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi
cahaya yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah
dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari
wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa,
daerah panjang gelombang (l ) adalah 350 2200 nanometer (nm).
b. Monokromator
Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan
cahaya polikromatis menjadi beberapa komponen panjang gelombang
tertent (monokromatis) yang bebeda (terdispersi).
c. Cuvet
Cuvet spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai
tempat contoh atau cuplikan yang akan dianalisis. Cuvet biasanya terbuat
dari kwars, plexigalass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi
panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV dipakai
cuvet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat
dipakai sebab kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat
dipakai untuk pengukuran di daerah sinar tampak (visible).
d. Detektor
Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap
cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah
cahaya menjadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh
penampil data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital.

Dengan mengukur transmitans larutan sampel, dimungkinkan untuk


menentukan konsentrasinya dengan menggunakan hukum Lambert-Beer.
Spektrofotometer akan mengukur intensitas cahaya melewati sampel (I), dan
membandingkan ke intensitas cahaya sebelum melewati
sampel (Io). Rasio disebut transmittance, dan biasanya dinyatakan dalam
persentase (% T) sehingga bisa dihitung besar absorban (A) dengan rumus A
= -log %T (Underwood 2002). Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan
hukum Lambert Beer :
Pada bagian kiri persamaan diketahui sebagai absorbansi larutan dan
dihitung dengan spektrometer. Persamaannya kadang ditulis dalam term
absorbansi. Simbol epsilon adalah absorptivitas molar larutan. bila cahaya
monokromatik (Io) melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya
tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan (Ir), dan sebagian lagi dipancarkan
(It). Transmitans adalah perbandingan intensitas cahaya yang ditransmisikan
ketika melewati sampel (It) dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum
melewati sampel (Io). Persyaratan hukum Lambert Beer, antara lain: radiasi
yang digunakan harus monokromatik, energi radiasi yang diabsorpsi oleh
sampel tidak menimbulkan reaksi kimia, sampel (larutan) yang mengabsorpsi
harus homogen, tidak terjadi fluoresensi atau phosporesensi, dan indeks
refraksi tidak berpengaruh terhadap konsentrasi, jadi larutan tidak pekat
(harus encer). Spektrofotometer UV-Vis membandingkan cuplikan standar
yaitu substrat gelas preparat. Hasil pengukuran dari spektrofotometer UV-Vis
menunjukkan kurva hubungan transmitan dan panjang gelombang ( ) (Basset
1994).
Spektrofotometer terdiri dari beberapa jenis berdasar sumber cahaya
yang digunakan, yaitu: spektrofotometer Vis (Visible), spektrofotometer UV
(Ultra Violet), spektrofotometer UV-Vis, dan Spektrofotometri IR (Infa
Red). Pada spektrofotometri Vis, yang digunakan sebagai sumber sinar/energi
adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum
elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang
gelombang sinar tampak adalah 380750 nm. Berbeda dengan
spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi
sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380
nm. Senyawa yang dapat menyerap sinar UV terkadang merupakan senyawa
yang tidak memiliki warna (bening dan transparan).
Spektrofotometri UV-Vis menggunakan dua buah sumber cahaya
berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible yaitu photodiode
yang dilengkapi dengan monokromator dan dapat digunakan baik untuk
sample berwarna juga untuk sample tak berwarna. Sedangkan,
spektrofotmetri IR berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah
yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 m. Pada spektrofotometri IR
digunakan untuk analisa kualitatif, misalnya untuk mengidentifikasi gugus
fungsi pada suatu senyawa.
Panjang gelombang cahaya UV atau cahaya tampak bergantung pada
mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih
banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada panjang
gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi yang lebih
sedikit akan menyerap cahaya dalam daerah tampak (yakni senyawa
berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan daripada
senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih pendek.
Suatu spektrofotometer standar terdiri atas spektrofotometer untuk
menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang terseleksi yaitu bersifat
monokromatik serta suatu fotometer yaitu suatu piranti untuk mengukur
intensitas berkas monokromatik,digabungkan bersama dinamakan sebagai
spektrofotometer. Spektrofotometer dapat berupa sinar tunggal atau sinar
ganda. Dalam berkas satu instrumen (seperti Spectronic 20), semua cahaya
melewati sel sampel. I o harus diukur dengan membuang sampel. Ini adalah
desain awal, tetapi masih umum digunakan baik dalam pengajaran dan
laboratorium industri. Dalam berkas ganda instrumen, cahaya dibagi menjadi
dua berkas sebelum mencapai sampel. Satu berkas digunakan sebagai acuan,
yang lain melewati sinar sampel. Beberapa instrumen double-beam memiliki
dua detektor (photodiodes), dan sampel dan berkas referensi diukur pada
waktu yang sama. Dalam instrumen lain, kedua balok melewati sebuah balok
helikopter, yang menghambat satu berkas pada suatu waktu. Detektor-ubah
antara mengukur sampel balok dan balok referensi. Kalibrasi yaitu kurva
antara absorbansi dengan panjang gelombang. Kurva ini dapat menentukan
panjang gelombang maksimum, terlihat dari bentuk kurvanya pada bagian
atas. Akan tetapi, pengukuran kurva kalibrasi ini didasarkan pada konsentrasi
yang dihasilkan dari metode iodimetri dan panjang gelombang
maksimumnya, sehingga diperoleh kurva kalibrasi yang linier. Tujuan
kalibrasi adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil
pengukuran dapat dikaitkan atau ditelusur sampai ke standar yang lebih teliti
atau tinggi (standar primer nasional atau internasional) melalui rangkaian
perbandingan yang tidak terputus, dalam artian standar ukur itu akan lebih
baik apabila berupa standar yang rantainya mendekati SI sehingga tingkat
ketidakpastian (error) makin kecil.
Pada umumnya sampel yang digunakan dalam bentuk larutan yang
sudah diencerkan dengan jumlah konsentrasi tertentu. Larutan dengan
konsentrasi yang rendah akan lebih mudah diketahui transmitannya karena
kerapatan pada molekulnya kecil sehingga kemampuan menyerap radiasi
elektromagnetnya kecil dan banyak radiasi yang terbaca oleh detektor pada
alat spektrofotometer. Setiap senyawa punya serapan maksimal pada panjang
gelombang tertentu. Panjang gelombang ini dinamakan panjang gelombang
maksimum. Pada panjang gelombang maksimum, hubungan
antara absorbansi dan konsentrasi senyawa bisa disetarakan.
Kafein merupakan senyawa kimia golongan alkaloid. Alkaloid sendiri
merupakan suatu jenis metabolit sekunder yang mengandung atom nitrogen.
Alkaloid diisolasi karena memilki sifat fisiologis aktif. Alkaloid sering kali
beracun bagi manusia dengan bahaya yang mempunyai aktivitas fisiologi
yang menonjol sehingga digunakan secara luas dalam pengobatan. Alkaloid
biasanya tak berwarna, seringkali bersifat aktif optik kebanyakan berbentuk
kristal pada suhu kamar. Pra-zat alkaloid yang paling umum adalah asam
amino, meskipun sebenarnya biosintesis kebanyakan asam amino lebih rumit.
Secara kimia alkaloid merupakan suatu golongan heterogen. Banyak alkaloid
bersifat terpenoid dan beberapa diantaranya dari segi biosintesis merupakan
terpenoid termodifikasi alkaloid lain terutama berupa senyawa atomatik
dengan gugus basa sebagai rantai samping. Kafein banyak terkandung dalam
kopi, the coklat, atau kola. Kepolaran kafein hampir sama dengan
diklorometan tersebut, sehingga kelarutan kafein cukup besar di dalam
diklorometan (140mg/L) (Merry, 2009).
Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid terkandung secara alami
pada lebih dari 60 jenis tanaman terutama teh (1- 4,8 %), kopi (1-1,5 %), dan
biji kola(2,7-3,6 %). Kafein diproduksi secara komersial dengan cara
ekstraksi dari tanaman tertentu serta diproduksi secara sintetis. Kebanyakan
produksi kafein bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri minuman.
Kafein juga digunakan sebagai penguat rasa atau bumbu pada berbagai
industri makanan (Lindsay, 1992).
Kafein pertama kali diisolasi oleh Pelletier & Caventou pada tahun
1819. Kafein adalah komponen alkaloid derivat xanthin yang berfungsi
sebagai stimulan psikoatif pada manusia. Memiliki pengaruh langsung pada
sistem saraf pusat dan stimulan metabolik. Kafein menstimulan sistem saraf
pusat dan menyebabkan peningkatan kewaspadaan, kecepatan dan kejelasan
alur pikiran, peningkatan fokus, serta koordinasi tubuh yang lebih baik
(Pasto, et all. 1992). Kafein termetabolisme di dalam hati menjadi tiga
metabolit utama yaitu paraxanthine (84%), theobromine (12%), dan
theophylline (4%) (Lindsay, 1992).Berikut adalah spesifikasi dari kafein:
Rumus molekul : C8H10N4O2
Nama lain : 1,3,5-trimethylxanthine trimethylxanthine, theine,
methyl theobromine
Wujud : bubuk putih tidak berbau
Berat molekul : 194.19 g/mol Densitas : 1.23 g/cm3, solid
Titik leleh : 227228 C (anhydrous) 234235 C (monohydrate)
Titik didih : 178 C subl. Kelarutan dalam air : 2.17 g/100 ml
(25 C) 18.0 g/100 ml (80 C) 67.0 g/100 ml (100 C)
Keasaman : -0,13 1,22 pKa
Momen dipole : 3.64 D

Kafein memiliki molekul metabolit yaitu 1-3-7-asam trimetilurat,


paraksantina, teofillina dan teobromina dengan masing-masing lintasan
metabolismenya. Kafein mengikat reseptor adenosina di otak. Adenosina
ialah nukleotida yang mengurangi aktivitas sel saraf saat tertambat pada sel
tersebut. Seperti adenosina, molekul kafein juga tertambat pada reseptor yang
sama, tetapi akibatnya berbeda. Kafein tidak akan memperlambat aktivitas sel
saraf/otak, sebaliknya menghalangi adenosina untuk berfungsi. Dampaknya
aktivitas otak meningkat dan mengakibatkan hormon epinefrin terlepas
(Anonim, 2010). Hormon tersebut akan menaikkan detak jantung,
meninggikan tekanan darah, menambah penyaluran darah ke otot-otot,
mengurangi penyaluran darah ke kulit dan organ dalam, dan mengeluarkan
glukosa dari hati. Lebih jauh, kafein juga menaikkan permukaan
neurotransmiter dopamin di otak. Menurut Snyder, L. R and Kirkland J.J
(1979) dalam dosis yang lebih tinggi lagi kafein dapat menyebabkan jantung
berdebar keras, artelosklerosis, merusak hati, tangan gemetar, otot kejang,
kepala pusing, mual dan bahkan dapat menyebabkan mutasi pada gen. Kafein
merupakan stimulansia system saraf pusat dan metabolik. Ia menghambat
phosphodiesterase dan mempunyai efek antagonis pada reseptor adenosine
sentral. Pengaruh pada sistem syaraf pusat terutama pada pusat-pusat yang
lebih tinggi, yang menghasilkan peningkatan aktivitas mental dan tetap
terjaga atau bangun (Reynolds, 1989). Kafein dapat diisolasi dari kopi, teh,
dan biji coklat, serta banyak digunakan pada berbagai macam minuman
komersial maupun formulasi obat. Kafein mempunyai aktivitas stimulan pada
sistem syaraf pusat, menyebabkan iritasi pada saluran gastrointestinal,
mereduksi koordinasi syaraf motorik, mengubah pola tidur, menyebabkan
gelisah, dan menimbulkan rasa pusing . Kafein juga merupkan bahan yang
dipakai untuk ramuan minuman non alcohol seperti cola, yang semula dibuat
dari kacang kola. Soft drinks khususnya terdiri dari 10-50 miligram kafein.
Coklat terbuat dari kokoa mengandung sedkiit kafein. Efek stimulan yang
lemah dari coklat dapat merupakan kombinasi dari theobromine dan
theophyline sebagai kafein. Kafein adalah stimulan dari system saraf pusat
dan metabolisme, digunakan secara baik untuk pengobatan dalam mengurangi
keletihan fisik dan juga dapat meningkatkan tingkat kewaspadaan sehingga
rasa ngantuk dapat ditekan. Kafein juga merangsang system saraf pusat
dengan cara menaikkan tingkat kewaspadaan , sehingga fikiran lebih jelas dan
terfokus dan koordinasi badan menjadi lebih baik.
III. METODE KERJA
III.1. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Alat-alat gelas
2. Alat sentrifugasi
3. spektrofotometer
b. Bahan
1. Kafein
2. Urin

III.2. Cara Kerja


a. Operating Time
1. Dibuat larutan kafein dengan kadar 4 ppm, 6 ppm,8 ppm,10
ppm, dan 12 ppm
2. Dibaca intensitas warna pada spektrofotometer pada panjang
gelombang 545 nm dengan blanko air
3. Dibaca serapan dan dilakukan setiap interval 5 menit paling
tidak Selma 60 menit
4. Diplotkan serapan yang terbaca vs waktu pada kertas grafik
numeric dan ditetapkan beberapa lama larutan yang
mempunyai serapan tetap
b. Menentukan Panjang Gelombang Maksimum
1. Dibuat kadar larutan kafein 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, dan
12 ppm
2. Dibaca intensitas warna pada spektrofotometer pada panjang
gelombang 530-580 nm
3. Diplotkan serapan yang terbaca vs waktu pada kertas grafik
numeric dan ditetapkan panjang gelombang maksimumnya
c. Membuat Kurva Kalibrasi
1. Dibuat satu seri larutan obat dalam air dengan kadar 4 ppm, 6
ppm, 8 ppm, 10 ppm, dan 12 ppm
2. Dibaca intensitas warna yang terjadi dari masing-masing kadar
pada gelombang yang telah ditemukan pada butir B yaitu 273
nm
3. Dibuat persamaan dari kurva baku dengan menggunakan
persamaan kuadrat terkecil dan dihitung koefesien kolerasinya.

IV. HASIL DAN PENGAMATAN


IV.1. Hasil Pengamatan
a. Pada Kurva Kalibrasi Kafein
Kadar Kafein Serapan (A)
4 ppm 0,278 A
6 ppm 0,384 A
8 ppm 0,488 A
10 ppm 0,596 A
12 ppm 0,686 A

b. Perhitungan Cu
Konsentrasi Larutan Induk
50 mg mg
Konsentrasi= x 0,1 ml
500 ml
g
=100 = 100 ppm
ml
4 ppm
V1 X N1 = V2 X N2
V1 X 100 = 100 X 4
100 4
1 =
100
V1 = 4 ml
6 ppm
V1 X N1 = V2 X N2
V1 X 100 = 100 X 6
100 6
1 =
100
V1 = 6 ml
8 ppm
V1 X N1 = V2 X N2
V1 X 100 = 100 X 8
100 8
1 =
100
V1 = 8 ml
10 ppm
V1 X N1 = V2 X N2
V1 X 100 = 100 X 10
100 10
1 =
100
V1 = 10 ml
12 ppm
V1 X N1 = V2 X N2
V1 X 100 = 100 X 12
100 12
1 =
100
V1 = 12 ml

c. Grafik

Absorbansi Kafein
0.8

0.6
Absorbansi

y = 0.0514x + 0.0752
0.4 R = 0.9991
Series1
0.2
Linear (Series1)
0
0 5 10 15
Kadar

d. Pembahasan
Dari hasil praktikum mengenai penentuan panjang
gelombang maksimum dan pembuatan kurva kalibrasi pada sampel,
dalam hal ini digunakan sampel kafein dengan kadar yang berbeda-
beda yaitu 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12 ppm dan dalam
praktikum kali ini juga menggunakan spektrofotometer karena
dapat digunakan untuk mengukur jumlah cahaya yang diabsorpsi
atau ditransmisikan oleh molekul-molekul didalan larutannya.
Tujuan dari praktikum kali ini agar dapat mengetahui tahapan-
tahapan dalam pembuatan kurva kalibrasi sehingga dapat digunkan
kurva kalibrasi dalam analisis obat. Berdasarkan praktikum yang
sudah dilakukan, praktikan dapat mengetahui mengenai tahapan-
tahapan pembuatan kurva kalibrasi bahwasannya larutan sampel
harus dibuatakan dahulu larutan induknya dari 50 mg kafein
dilarutkan dahulu dengan 500 ml air aquadest. Kemudian
ditentukan kadar dari masing-masing sampel sebelum dianalisis
menggunakan spektrofotometer. Setelah itu larutan induknya
diencerkan sesuai dengan kadar ppm yang telah ditentukan yaitu 4
ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm, dan 12 ppm. Sebelum dilakukan
pengukuran serapan, maka masing-masing komponen harus
ditentukan panjang gelombang maksimumnya terlebih dahulu.
Alasan penggunaan panjang gelombang maksimum ( maks) yakni
panjang gelombang maksimum memiliki kepekaan maksimal
karena terjadi perubahan absorbansi yang paling besar serta pada
panjang gelombang maksimum bentuk kurva absorbansi memenuhi
hukum Lambert-Beer. Dari percobaan ini diperoleh panjang
gelombang maksimum untuk kafein dengan menggunakan panjang
gelombang maksimal yang sudah ditentukan yaitu 273 nm. Setelah
itu dilakukan pengujian larutan dengan alat spektrofotometer untuk
mengetahui nilai absorbansi dan kemudian dari kelima deret
tersebut ketika sudah mengetahui nilai absorbansinya lalu dihitung
menggunkan rumus :
V1 . N1 = V2 . N2
Dimana, V1 : Volume larutan yang dipipet (ml)
V2 : Volume larutan setelah dilakukan pengenceran (ml)
N1 : Konsentrasi zat awal sebelum dilakukan
pengenceran (ppm)
N1 : Konsentrasi zat sesudah dilakukan pengenceran
(ppm)
Sehingga kurva kalibrasi yang didapat adalah
Y = 0,0514 x + 0,0752
R = 0,9991
Kurva baku yang dibuat merupakan hubungan antara luas
area (mAU-min) dengan konsentrasi baku (g/mL). Hasil
hubungan tersebut dibuat regresi linearnya yaitu y = bx + a, dimana
y adalah respon (luas area atau tinggi), b adalah kemiringan (slope)
dan a adalah intersep. Masing-masing kurva baku dibuat sebanyak
5 kali ulangan. Kurva baku yang digunakan adalah kurva baku
yang memberikan koefisien korelasi paling besar (r mendekati
1,00) dengan kriteria r 0,999 (Ahuja dan Dong, 2005). Hasil dari
masing-masing kurva baku berdasarkan konsentrasi vs luas area
yang didapat dari sampel kafein. Dalam praktikum pembuatan
kurva kalibrasi ini juga dapat dihubungkan dengan analisis obat
nantinya, karena apabila kita sudah dapat mengetahui kurva
kalibrasi dari suatu obat maka dapat diketahui nilai t dari suatu
obat atau waktu paruh dari obat yang telah dianalisis.
Pemilihan spektrofotometer UV-Vis adalah karena
spektrofotometer merupakan instrument analisis yang tidak rumit,
selektif, serta kepekaan dan ketelitiannya tinggi. Selain itu,
senyawa kafein yang akan dianalisis memiliki kromofor pada
strukturnya berupa ikatan rangkap terkonjugasi dan juga
merupakan senyawa aromatik karena memiliki gugus aromatik
sehingga memenuhi syarat senyawa yang dapat dianalisis
menggunakan spektrofotometri UV-Vis.
V. KESIMPULAN
Dari percobaan diatas mengenai stimulansia sistem saraf pusat dapat
disimpulkan bahwa :
1. Panjang gelombang larutan kafein adalah 273 nm
2. Nilai absorban yang kita peroleh dari konsentrasi :
4 ppm : 0,278 A
6 ppm : 0,384 A
8 ppm : 0,488 A
10 ppm : 0,596 A
12 ppm : 0,986 A
Hal ini berarti masih dalam rentang nilai absorban yang baik yaitu antara
0,2 0,8.
3. Kurva kalibrasi yang kita peroleh mempunyai nilai r sebesar 0,9991
4. Persamaan kurva kalibrasi yang didapar adalah :
Y = 0,0514 x + 0,0752
5. Semakin tinggi kadar kafein maka semakin tinggi pula nilai absorban yang
diperoleh
6. Spektrofotometer merupakan alat penentu absorbansi dari sampel tertentu
untuk membuat kurva kalibrasi
7. Meteode spektrofotometri dapat digunakan untuk mementukan unsur-
unsur dalam suatu bahan dengan kepekaan.
8. Pembuatan kurva kalibrasi dilakukan dengan cara membuat hubungan
antara nilai absorbansi dan konsentrasi sampel yang telah dimasukkan ke
dalam persamaan garis.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, dkk.2013. Penurunan Kadar Kafein Kopi Arabika Dengan Proses
Fermentasi Menggunakan NOPKOR MZ-15. Skripsi. Semarang:
Universitas DIponegoro.
Dirjen pom.1979. Farmakope Indonesia edisi III. Depkes RI : Jakarta
Fitri, Syah N. 2008. Pengaruh Berat Dan Waktu Penyeduhan Terhadap
Kadar Kafein Dari Bubuk Teh. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Gan Sulistia, dkk, Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmokologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1988, ISO 184.
Groisser, S. Daniel. 2013. A Study of Caffeine in Tea. Journal. The American
Journal of Clinical Nutrition.
Henry,A. Suryadi MT. Arry Y,. 2002. Analisis Spektrofotometri UV-Vis Pada
Obat Influenza Dengan Menggunakan Aplikasi Sistem Persamaan
Linier. KOMMIT. Universitas Gunadarma
Herliani, An an. 2008. Spektrofotometri. Pengendalian Mutu Agroindustri.
Program D4-PJJ.
Inthisani. 2004 . Pengantar Kromatografi dan Analisis Spektrofotometer uv
vis. UIT : Makassar.
Misra H, D. Mehta, B.K. Mehta, M. Soni, D.C. Jain. 2008. Study of
Extraction and HPTLC UV Method for Estimation of Caffeine in
Marketed Tea (Camellia sinensis) Granules. International Journal of
Green Pharmacy: 47-51.
Nurkholis, Majid. 2006. Pembuatan Teh Rendah KAfein Melalui Proses
Ekstraksi Dengan Pelarut Etil Asetat. Skripsi. Semarang: Universitas
Diponegoro