Anda di halaman 1dari 29

REVIEW JURNAL PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah pengembangan bahan ajar

Dosen pengampu:
Dr.H.Asep Hernawan,M.pd
Dr.Laksmi Dewi,S.pd,M.pd
Dadi Mulyadi,M.T

Disusun oleh
Gandis Sastia Dewi
1504923

DEPARTEMEN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016
REVIEW JURNAL BAHAN AJAR

Sumber (link) Artikel Online atau


N Identitas Jurnal tercetak
Identitas Artikel Analisis/Rangkuman
o (ditulis menggunakan gaya penulisan
daftar pustaka model APA)

1 Judul :Pengembangan Wahyudi,B.dkk. Problem based learning


bahan ajar berbasis (2014).Pengembangan digunakan untuk pengembangan
model problem bahan ajar berbasis bahan ajar dalam meningkatkan
based learning model problem based ketrampilan kerja ilmiah siswa
pada pokok learning pada pokok dalam mata pelajaran biologi
bahasan bahasan pencemaran materi pencemaran
pencemaran lingkungan untuk lingkungan.adapun problem
lingkungan untuk meningkatkan hasil based learning ini dilakukan
meningkatkan hasil belajar siswa kelas X dengan melalui aktivitas lintas
belajar siswa kelas SMA Negeri Grujugan peristiwa yang disisipi langkah
X SMA Negeri Bondowoso. [Online]. langkah problem based
Grujugan Diakses dari learning. Dalam pelaksnaan nya
Bondowoso http://jurnal.unej.ac.id/in penelitian ini juga
Penulis :Beny Satria dex.php/pancaran/article/ menggunakan pretest dan
Wahyudi,dkk view/765 postest untuk menilai hasil
Volume :Vol.3 No.3 belajar peserta didik
Halaman :83-92
Tahun :2014

2 Judul :Pengembangan Arafah,S.dkk. (2012). LKS merupakan suatu lembar


LKS berbasis Pengembangan LKS kerja siswa yang digunakan
berfikir kritis pada berbasis berfikir kritis dalam proses pembelajaran.
materi anamalia pada materi anamalia. perlu adanya suatu
Penulis :Sherly Ferdiana [Online]. Diakses dari pengembangan lks
Arafah dkk http://journal.unnes.ac.id untukmenarik peserta didik
Volume :Vol.1 No.1 /artikel_sju/ujbe/378 dalam membaca.pengembangan
Halaman :47-53 LKS ini dilakukn dengan cara
Tahun :2012 membuat cover yang menarik
dan menggunakan isi materi dan
gambar yang mendukung
terhadap pembelajaran. selain
itu pertanyaan pun harus
dikembngandengan
memunculkan sikap sikap kritis
pada siswa.

3 Judul :Development of Suzuki,K.dkk. (2014). pengembangan bahan ajar


learning methods Development of learning dengan metode pemecahan
and system to methods and system to masalah melalui e learning. ada
practice problems practice problems using beberapa tahapan dalam
using digital digital materials. pemecahan masalahnya yaitu
materials [online]. diakses dari tampilan masalah, mecahkan
Penulis :Kazuya Suzuki http://www.sciencedirect. masalah mereka sendiri,
dkk. com/science/article/pii/S1 kemudian hasilnya dikrim ke
Volume :35 877050914011879 jawaban sistem,peserta didik
Halaman :1247 1254 dapat melihat jawaban satu
Tahun :2014 sama lain kemudian adanya
tahap evaluasi jawaban peserta
didik. disini juga
memungkinkan peserta didik
untuk menjawab atau
mengevaluasi jawaban satu
sama lain.

4 Judul :The Development Mukmina,N.dkk (2015). The Matematika sangat penting


of self-Expessive Development of self- dala meningkatkan
Learning Material Expessive Learning keterampilan siswa dalam
for Algebra Material for Algebra belajar.oleh sebab itu guru
Learning: An Learning: An hrus mempunyai beberapa
Inductive Learning Inductive Learning pendekatan untuk proses
Srategy Srategy belajar matematika. dengan
Penulis :NurAzlina [online]. diakses dari berkembangnya suatu
Mohamed http://www.sciencedirect. teknologi, maka ada suatu
Mokmina, Mona com/science/article/pii/S pengembangan bahan ajar
Masooda 1877042815042469 matematika melalui
Volume :197 pemanfaatan teknologi yaitu
Halaman :1847 1852 actiemath. sistem ini
Tahun :2015 dikembangkan untuk
membantu peserta didik dalam
mempelajari aljabar.

5 Judul :Development Harsono,Y. (2007) Development Bahasa inggris merupakan


Learning Materials Learning Materials for bahasa internasional, oleh
for Specific Specific Purpose karena itu bahasa inggris
Purpose [Online] diakses dari sangat diperlukan dalam
Penulis :Y.M harsono http://journal.teflin.org/in berbagaihal. Salah satunya
Volume :18 dex.php/journal/article/vi dalam proses pembelajaran.
Halaman : ewFile/113/108 Saat ini masih banyak
Tahun :2007 ditemukan proses
pembelajaran bahasa inggris
yang membosankan oleh
karena itu guru harus
mengembangkan bahan ajar
dalam bentuk apapun disini
dijelaskan contoh
pengembangan bahan ajar
seperti menggunakan CD,
video dan lain lain.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS MODEL PROBLEM BASED
LEARNING PADA POKOK BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS X SMA NEGERI GRUJUGAN BONDOWOSO

Benny Satria Wahyudi25, Slamet Hariyadi 26, Sulifah Aprilya Hariani 27


Rangkuman
A. LATAR BELAKANG
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah lemahnya proses
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk
mengembangkan kemampuan berpikir. Adapun Dalam pelaksanaanya Masalah yang
muncul pada siswa kelas X SMA Negeri Grujugan Bondowoso yaitu terkait
pembelajaran biologi pada pokok bahasan pencemaran lingkungan terletak pada
materinya yang menuntut siswa berpikir kritis untuk memecahkan memecahkan
persoalan permasalahan lingkungan serta dampaknya. Berdasarkan hal itu, maka
dibutuhkannya suatu model pembelajaran yaitu model problem based learning
dimana dengan model tersebut menuntut siswa mengembangkan keterampilan
berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, menumbuhkan
kemampuan kerja sama, dan mengembangkan sikap social. Dalam model Problem
Based learning dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan
pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah,
dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam
tim [6]. Pembelajaran dengan model Problem Based learning diharapkan
memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat meningkatkan keterampilan kerja
ilmiahnya. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu adalah untuk mengetahui
proses pengembangan bahan ajar berbasis model Problem Based Learning pada
pokok bahasan pencemaran lingkungan kelas X SMA Negeri Grujugan Bondowoso
dan untuk mengetahui hasil pengembangan bahan ajar berbasis model Problem
Based Learning pada pokok bahasan pencemaran lingkungan mampu meningkatkan
hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri Grujugan Bondowoso.

B. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development)
yaitu jenis penelitian yang mengembangkan suatu produk baru atau
menyempurnakan produk yang telah ada sebelumnya dengan mengacu pada model
pengembangan bahan ajar 4-D (four-D Model) yang dikemukakan oleh Thiagarajan
dan Semmel tahun 1974 . Subjek penelitiannya yaitu siswa kelas X SMA Negeri
Grujugan Bondowoso. Analisis data yang digunakan bersift deskriptif.dengan
rumus sebagai berikut

V = N= I Xi x 100
N= I Yi

Keterangan:
V = persentase penilaian keseluruhan
xi = jumlah jawaban penilaian dari validator untuk aspek ke-i
yi = jumlah nilai maksimum untuk aspek ke-i
n = banyak aspek yang dinilai

Presentasi respon siswa dihitung dengan rumus

Presentasi respon siswa = A X 100


B
Keterangan:
A = jumlah siswa yang memilih
B = jumlah siswa

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


setelah menggunakan bahan ajar berbasis model Problem Based Learning pada
materi pencemaran lingkungan diperoleh melalui soal pre-test dan soal post-test
yang berbentuk soal uraian sebanyak 10 soal pada saat awal dan akhir
pembelajaran. Berdasarkan Tabel 3 diperoleh data bahwa pada pre-test memiliki
rata-rata 66,50 dengan jumlah siswa yang tuntas pada pre-test sebanyak 9 siswa dan
post-test memiliki rata-rata 85,60. Dengan hasil rata-rata post-test 85,60 tersebut
menunjukkan bahwa rata-rata seluruh siswa telah melebihi KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan di SMAN Grujugan yaitu sebesar 75
walaupun pada terdapat 3 individu siswa yang masih memiliki nilai sama dengan
KKM dan secara keseluruhan siswa mengalami persentase kenaikan nilai sebesar
32,30%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mudah memahami materi dengan
pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis model Problem Based Learning
sebab bahan ajar ini dapat meningkatkan minat siswa melalui aktivitas Lintas
Peristiwa yang disisipi dengan langkah-langkah Problem Based Learning sehingga
siswa merasa tidak bosan dengan materi yang disajikan. Bahan ajar merupakan
unsur yang amat penting dalam suatu pembelajaran. Tanpa kehadiran bahan ajar,
mustahil tujuan pembelajaran akan tercapai dan kompetensi dasar peserta didik. Hal
ini sekaligus menegaskan bahwa bahan ajar merupakan hal yang pokok dan sangat
penting dalam kegiatan pembelajaran

D. PENUTUP
1. Kesimpulan
a. Proses Pengembangan bahan ajar berbasis Problem Based Learning hanya
sampai 3 tahap yaitu (1) Tahap pendefinisian (define) dilakukan wawancara
dengan guru biologi, penyebaran angket siswa serta observasi di kelas (2) Tahap
Perancangan (design) dilakukan dengan mendesain buku siswa berbasis model
Problem Based Learning(draft 1), (3) Tahap Pengembangan (develop) dengan
uji validasi 7 orang ahli dan diperoleh hasil rata-rata 85,63% dengan kriteria
sangat valid kemudian merevisi buku siswa berdasarkan saran dan masukan dari
validator (draft 2), sesudah direvisi selanjutnya dilakukan uji coba kelompok
kecil diperoleh rata-rata hasil keterbacaan dan tingkat kesulitan bahan ajar yaitu
86,05% dengan kriteria sangat baik dan kemudian diuji coba kelompok besar
pada kelas X.1 diperoleh rata-rata respon siswa 91,80% dengan kriteria sangat
baik (draft 3).
b. Hasil pre-test siswa memiliki rata-rata 66,50 dan post-test memiliki rata-rata
85,60. Dengan hasil rata-rata post-test 85,60 secara keseluruhan siswa
mengalami persentase kenaikan nilai sebesar 32,30%.

2. Saran
a. Bagi peneliti lanjut, hasil penelitian pengembangan berupa bahan ajar dapat
dilakukan untuk kegiatan penelitian eksperimen.
b. Bagi guru dan lembaga pendidikan, penelitian pengembangan ini dapat
dijadikan sebagai masukan untuk menyusun bahan ajar.

PENGEMBANGAN LKS BERBASIS BERPIKIR KRITIS PADA MATERI


ANIMALIA

Sherlly Ferdiana Arafah, Saiful Ridlo , Bambang Priyono


Rangkuman

A. LATAR BELAKANG
Sumber belajar adalah rujukan objek dan bahan yang digunakan untuk kegiatan
pembelajaran (Majid 2005). Salah satu sumber belajar yang penting yaitu buku
ajar berupa buku materi wajib dan buku pendamping maupun lembar kerja siswa
(LKS). LKS merupakan salah satu sarana untuk membantu dan mempermudah
dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya LKS maka akan terbentuk
interaksi yang efektif antara siswa dengan guru, sehingga dapat meningkatkan
aktifitas belajar siswa dalam peningkatan prestasi belajar .
LKS yang beredar di pasaran bukanlah LKS yang sebenarnya, di sekolah banyak
ditemui pengunaan jenis LKS yang sebenarnya merupakan buku rangkuman
materi pelajaran yang disertai dengan kumpulan soal, terutama soal-soal pilihan
ganda. Soal-soal yang terdapat di dalam LKS bisa dijawab siswa dengan melihat
materi yang ada di dalam LKS sehingga kurang melatih siswa berpikir kritis dan
kemandirian siswa. Menurut penelitian Fachrurazi (2011) kemampuan berpikir
kritis menjadi kemampuan yang sangat diperlukan agar siswa sanggup
menghadapi perubahan keadaan atau tantangan-tantangan dalam proses
pembelajaran. Soal-soal yang terdapat di dalam LKS bisa dijawab siswa dengan
melihat materi yang ada di dalam LKS sehingga kurang melatih siswa berpikir
kritis dan kemandirian siswa. Menurut penelitian Fachrurazi (2011) kemampuan
berpikir kritis menjadi kemampuan yang sangat diperlukan agar siswa sanggup
menghadapi perubahan keadaan atau tantangan-tantangan dalam proses
pembelajaran.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian Research and Development (R&D)
yang merupakan desain penelitian dan pengembangan. Penelitian ini dilakukan
untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut
(Sugiyono 2006). Metode yang digunakan dalam pengambilan data penelitian ini
adalah angket (kuesioner). Subyek penelitiannya yaitu SMA N 12 Semarang
semester genap tahun ajaran 2011/2012. Sampel ini dilakukan pada kelas X1, X3,
dan X 5 di SMA N 12 Semarang.
Sumber data dalam penelitian ini diambil dari dari instrumen penilaian kelayakan
LKS, lembar kinerja guru dan siswa, angket tanggapan guru dan siswa. Data
dianalisis menggunakan deskriptif persentase. Sedangkan data kuantitatif
diperoleh dari hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran yaitu tes hasil
belajar.
C. PEMBAHASAN
Penelitian ini yaitu mengembangkan LKS dengan membuat cover yng
menarik, selanjutnya dibuat isi yang menarik dengn ditambahkanya gambarr
gambar yang mendukung terhadap pembelajarn. Hal itu, dilakukan untuk
menarik minat siswa dalam belajar. Pada LKS ini juga terdapat pertanyaan
untuk memancing kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa, yaitu siswa
dituntut untuk mengidentifikasi masalah, menilai/ mengambil suatu keputusan
terhadap suatu masalah, menjelaskan dan menafsirkan fakta, menganalisis
masalah, mengemukakan pendapat, mengevaluasi pendapat, serta menyimpulkan
masalah berdasarkan fakta. Pembelajaran dengan LKS berbasis berpikir kritis ini
membuat menjadi lebih menarik, mudah, dan menyenangkan untuk dipelajari
siswa sehingga pada evaluasi akhir ketuntasan belajar siswa mengalami kenaikan.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sri Utari dkk. (2008) bahwa
pertanyaan yang berpikir kritis dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu
lebih dari 90 siswa tertarik mengikuti pembelajaran penggunaan LKS berbasis
berpikir kritis dengan dikombinasikan metode STAD, yang membuat siswa lebih
mudah untuk mengenal dan memahami materi Animalia. Ketertarikan siswa
mempelajari suatu materi merupakan motivasi yang membuat minat belajar dan
kinerja siswa meningkat dalam pembelajaran. Guru berpendapat bahwa LKS hasil
pengembangan ini mempermudah guru dalam mengajar dan siswa dalam
menerima materi. Hal ini dikarenakan materi terususun secara sistematis, bahasa
LKS mudah dipahami, tujuan pembelajaran dirumuskan secara jelas,
mempermudah guru dan siswa dalam mempelajari materi Animalia. LKS ini
menarik karena gambar pada LKS dapat menyampaikan pesan secara efektif
kepada siswa, kombinasi gambar dan tulisan yang mudah dipahami sehingga
dapat dipelajari secara mandiri oleh siswa dan siswa menjadi senang untuk
mempelajari materi Animalia ini.
D. PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa LKS hasil pengembangan
dikatakan layak dan valid dengan bukti terpenuhinya semua aspek kriteria validasi
oleh para pakar, LKS sudah menunjukkan berbasis berpikir kritis, meningkatnya
hasil belajar dan kinerja siswa disertai dengan tanggapan siswa dan guru yang
sangat baik. LKS hasil pengembangan sudah valid dan layak .

DEVELOPMENT OF LEARNING METHODS


AND SYSTEM TO PRACTICE PROBLEM USING DIGITAL MATERIAL

Kazuya Suzukia, Hideki Kondoa, Shinnosuke Yamaguchia, Yoshimasa


Ohnishia
Shinichi Tsumorib, Hirotaka Wakanac, Kazunori Nishinoa *

Rangkuman
1. Pendahuluan
Salah satu ciri pendidikan abad ke 21 yaitu dapat dilihat dari masyarakat
yang melek terhadap teknologi dan informasi. Beberapa tahun terakhir,
materi pembelajaran ini telah dimasukan dalam mata pelajaran di sekolah.
Dalam penelitian ini, penulis mencoba mengembangkan pembelajaran digital
melalui pemecahan masalah dengan subyek penelitian yaitu siswa SMP dan
SMA. Penulis telah bekerjasama dengan lembaga pemerintahan jepang
untuk mengembangkan pembelajaran digital yang menekankan kepada
pengambilan keputusan dan keterampilan berpikir siswa.

2. Proses pemecahan masalah E-Learning

Menyajikan penjelasan

Menyajikan masalah

Pemecahan masalah

Mengidentifikasi benar dan salah dalam


menyajikan deskripsi atau penjelasan
Gbr.1 Model pembelajaran e learning

Pertama,dengan adanya bahan pebelajaran e learning memberikan penjelasan


termuk informasi sebagai syarat untuk memecahkan masalah. Masalah tersebut
diberikan kepada siswa agar mereka mampu menyelesaikannya. . Sistem
berikutnya menentukan tingkat pencapaian dengan jawaban yang diberikan dan
kemudian memilih masalah berikutnya.
Proses pemecahan masalah (2) - (4) di gambar1 diuraikan Gambar 2.
Biasanya, masalah e-learning disajikan dalam format pilihan ganda.peserta didik
mungkin masih bisa mendapatkan jawaban yang benar bahkan ketika
menghadapi kekurangan informasi dalam masalah.
Pengembangan pemikiran, pengambilan keputusan, kekuatan keterampilan
ekspresi
Metode pembelajaran ini mampu melestarikan metode studi individu masing-
masing peserta didik karena sistem ini menghargai proses untuk mendapatkan
jawaban yang benar.
Langkah langkah peserta didik untuk memperluas pengetahuan
(1) Tampilan masalah
Peserta didik memecahkan masalah melalui bahan digital. Dengan mengubah
format jawaban dari multiplechoice ke berbasis penjelasan untuk memperoleh
kekuatan berpikir..
(2) Memecahkan masalah mereka sendiri
Peseta didik mencoba untuk memecahkan masalah secara individu melalui
penggunaan catatan nya sendiri. Ketika peserta didik mampu memahami (dan
memecahkan) masalah, mereka menuliskannya dalam buku catatan mereka
(3) Kirim ke jawaban sistem
Ketika peserta didik menulis jawaban atau pertanyaan mereka digunakan untuk
menggunakan angka. Oleh karena itu, pelajar mengambil foto baik jawaban atau
pertanyaan di notebook mereka, dan upload ke sistem. Selain itu, untuk
memecahkan masalah yang sama, pelajar dapat menyimpan riwayat pencarian
internet mereka sehingga mereka memiliki titik untuk melanjutkan dari.
(4) Evaluasi jawaban peserta didik lainnya
Setelah meng-upload baik jawaban atau pertanyaan ke sistem, peserta didik dapat
mengevaluasi kiriman oleh peserta didik lainnya. Bentuk evaluasi saling
memungkinkan pelajar untuk memikirkan dan meningkatkan kemampuan
ekspresif mereka.

3. Kerangka sistem
(1) Kemampuan untuk melihat masalah
Untuk sesuai dengan format internasional untuk buku teks digital, kami
mengadopsi ePub [5].
(2) fungsi pencarian Internet
Untuk membuatnya lebih mudah untuk mencari di Internet, kami menerapkan
kemampuan untuk mencari Internet secara langsung dari layar untuk
menampilkan materi. Selain itu, kami membangun fungsi untuk meninggalkan
halaman database
yang membantu untuk memecahkan masalah.
(3) Kemampuan untuk menyimpan ke database jawaban Sistem ini menyimpan
riwayat browsing internet dan foto yang telah dibuat ke database.
(4) Kemampuan untuk melihat jawaban peserta didik lainnya
sistem menampilkan riwayat browsing Internet, yang berisi situs yang dimaksud
untuk jawaban dan jawaban dari peserta didik lainnya. Juga, itu perlu untuk
membangun fungsi yang Anda dapat mengajukan pertanyaan untuk menjawab
atau berkomentar.
4. Pengembangan sistem
Sistem ini dikembangkan di XCode4.6 dengan Objective-C. Selain itu, kami
menggunakan SQLite, sistem ini berencana untuk memungkinkan pencarian dari
'Kata Kunci', 'Judul Halaman' dan 'Halaman URL'.
4.1. Sebuah layar menampilkan materi pembelajaran.
Layar ini menampilkan masalah yang dibuat oleh ePub. Hal ini digunakan untuk
menampilkan data untuk bahan ajar.Fungsionalitas untuk pembesaran dan
pengurangan layar, gerakan dan bergulir halaman dan lainnya
4.2. Sebuah layar menampilkan hasil pencarian.
Pada layar ini, digunakan untuk mencari materi di Internet untuk string yang dipilih
dari data materi pembelajaran.tanpa memasukkan kata kunci pencarian. Hasil
pencarian disimpan dalam bidang database 'judul halaman dan
'URL halaman' dengan menekan tombol simpan hanya bagi mereka hasil yang
berguna.
4.3. Sebuah layar menampilkan sejarah pencarian
Pada layar ini, sistem menunjukkan judul halaman dan URL halaman dengan
mengacu ke database. Ketika pesertadidik mencri judul halaman, sistem akan
menampilkan halaman dengan mengacu ke database di layar ini.
5. Kesimpulan
Dalam studi ini, kami mengusulkan metode belajar untuk mengembangkan
kekuatan, pengambilan keputusan ekspresif dan berpikir keterampilan untuk siswa
sekolah menengah dan SMP-sekolah. Untuk menumbuhkan keterampilan ini, kami
mengembangkan bahan ajar yang kemudian dibuat dalam ePub, dan kami
mengembangkan pembelajaran bantuan materi digital. Kami menciptakan database
untuk
mengambil keuntungan dari catatan belajar atau riwayat pencarian internet dengan
bekerja sama dengan browser.Selama bahan belajar yang dibuat data ePub, sistem
dapat digunakan secara luas dalam berbagai subjek. Di masa depan, kami berencana
untuk mengembangkan seluruh sistem dijelaskan pada Bab 3, dan kami berencana
untuk melaksanakan sistem di bidang pendidikan.
THE DEVELOPMENT OF SELF EXPRESSIVE LEARNING MATERIAL
FOR ALGEBRA LEARNING: AN INDUCTIVE LEARNING STRATEGY

Nur Azlina Mohamed Mokmina*, Mona Masooda

Rangkuman

1. Pendahuluan
Para peneliti di bidang pendidikan telah mengamati perbedaan antara individu
ketika proses belajar terjadi. Perbedaan ini disebut sebagai gaya belajar. Ismail,
Hussain, dan Jamaluddin (2010) mendefinisikan gaya sebagai cara pendekatan
pembelajar situasi belajar. Dalam teori gaya belajar, individu diharapkan lebih
memilih cara yang berbeda dalam proses pembelajaran. Dengan mengetahui
gaya belajar siswa, pendidik dapat menerapkan teknik-teknik khusus dan
strategi pembelajaran yang dapat memberikan dampak yang paling untuk
kepuasan pendidikan seseorang.Ketika siswa menyadari gaya belajar khusus
mereka, mereka akan memiliki kemampuan untuk mengetahui kekuatan mereka
dan kelemahan ketika datang untuk belajar. Dengan mengetahui gaya belajar
siswa, guru dan dosen dapat menerapkan
strategi pembelajaran yang cocok yang dapat meningkatkan prestasi siswa
(Romanelli, Bird, & Ryan, 2009). Peneliti seperti Dorca, Lima, Fernandes, dan
Lopes (2013) dan Tawil et al. (2012) juga menunjukkan bahwa ketidaksesuaian
yang serius antara gaya belajar dan strategi belajar siswa dapat menyebabkan
siswa merasa bosan, tidak nyaman, .Sebuah survei yang dilakukan oleh Hodgen
& Marks (2013) tentang pentingnya matematika untuk pekerjaan menunjukkan
bahwa ada yang kuat dari matematika di berbagai pekerjaan terutama yang
berkaitan dengan teknik dan ilmu pengetahuan. Mereka merekomendasikan
bahwa itu adalah sangat penting bahwa setiap siswa memiliki pemahaman
konsep matematika dasar. dengan
memiliki dasar yang kuat dalam matematika, siswa dapat menghindari kesulitan
yang dihadapi keterampilan kompleks yang membutuhkan mereka untuk
menerapkan pengetahuan matematika (Wood, 2011). Kuat, Silver, Perini, dan
Tuculescu (2003) serta Zhang
dan Stephens (2013) menyatakan bahwa guru harus mengakui bahwa terdapat
berbagai pendekatan untuk proses belajar matematika.
Pemanfaatan teknologi dalam membantu siswa belajar telah berlangsung
selama beberapa dekade. Penelitian seperti Hrubik-Vulanovic (2013), Melis &
Siekmann (2004), Walker, Rummel, & Koedinger (2013) telah
mengembangkan
aplikasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika.
Koedinger, Anderson, Hadley, dan
Mark, (1997) mengembangkan Bimbingan Belajar Sistem Cerdas (ITS) yang
dapat membantu siswa belajar aljabar dengan menggunakan real masalah dunia.
Melis & Siekmann (2004) mengembangkan ACTIVEMATH yang dapat
mendukung matematika belajar secara online r. Sistem ini dikembangkan telah
terbukti meningkatkan skor prestasi siswa dalam belajar matematika. Oleh
karena itu, penelitian ini akan membahas perkembangan aplikasi multimedia
yang digunakan untuk belajar matematika
2. Tinjauan Pustaka
Aplikasi dari teori gaya belajar dalam pengembangan aplikasi multimedia
bukan ide baru.Di antara gaya belajar yang biasa digunakan adalah Felder-
Silvermen Learning Style, Myer-Briggs Type Indicator,Madu dan Mumford
Indeks Gaya Belajar dan Keefe Belajar Gaya Teori. Perak et al. (2008),
mengembangkan Matematika Learning Style Inventory (MLSI) yang
mengklasifikasikan siswa ke dalam empat gaya belajar ketika belajar
matematika. Keempat gaya belajar yang Penguasaan, Memahami, Self-
Ekspresif dan Interpersonal. Thomas,Brunstings, dan Warrick (2010)
menyatakan bahwa pemecahan masalah yang baik mengharuskan semua empat
gaya berpikir, karena itu pembelajaran matematika yang baik adalah ketika
gaya belajar dan strategi datang bersama-sama.Penguasaan gaya belajar siswa
seperti pertanyaan yang harus diselesaikan dengan prosedur tertentu. Mereka
akan menghadapi kesulitan dengan masalah yang tidak rutin untuk mereka.
Mereka akan mengalami kesulitan ketika
pertanyaan mengharuskan mereka untuk berkolaborasi dengan orang lain untuk
memecahkan masalah.
2.1. Self-Ekspresif Style Learning
Siswa dengan gaya belajar ekpresif diri cenderung untuk memvisualisasikan
atau membuat gambar dan mengejar beberapa strategi (Rubio, 2007). Gaikwad
(2010) menunjukkan bahwa untuk siswa ekpresif diri untuk unggul dalam
matematika, pembelajaran bahan harus dapat membantu siswa membayangkan
konsep matematika. Materi pembelajaran juga harus mampu melibatkan siswa
untuk penelitian yang berkaitan dengan topik currect. Siswa harus mampu
melihat materi pembelajaran dalam seni bentuk. Untuk penelitian ini, para
siswa dengan gaya belajar sendiri-Ekspresif akan disajikan dengan Self
materi pembelajaran ekspresif bahan untuk siswa Self-Ekspresif belajar harus
terdiri dari bahan yang perlu menggunakan imajinasi dan terdiri instruksi rutin
dan praktek pengulangan (Thomas et al., 2010). Thomas et al. (2010) telah
keluar dengan empat strategi yang cocok untuk Self-Ekspresif siswa gaya
belajar belajar. Strategi yang metafora Ekspresi, 3-D Viewer, Modeling dan
Eksperimen, dan induktif Learning. Strategi yang paling cocok untuk penelitian
ini adalah Strategi Pembelajaran Induktif.
2.2. Strategi Pembelajaran induktif
pembelajaran induktif adalah belajar hyphothesis dari koleksi contoh (Onta,
2010). pembelajaran induktif dimulai dengan informasi umum seperti studi
kasus, observasi, data eksperimen, skenario atau kata masalah (Prince &
Felder, 2006). Para siswa dapat baik memecahkan masalah sendiri atau dengan
bimbingan dari guru. Metode ini dikenal dapat meningkatkan prestasi siswa
karena siswa dapat membangun pengetahuan dari potongan informasi yang
diberikan kepada mereka. Proses induksi, yang bergerak dari khusus untuk
umum, adalah proses berpikir alami. Thomas et al. (2010) menyatakan bahwa
otak manusia dirancang untuk mencari sesuatu yang menghubungkan
mereka .Aljabar telah dipilih sebagai topik utama dan Menyederhanakan aljabar
Fraksi adalah subtopik tersebut. Ada tiga
hasil penelitian ini belajar. Siswa harus dapat (i) membedakan antara fraksi
monomial dan
pecahan polinomial, (ii) menyederhanakan pecahan aljabar dengan satu kurung,
dan (iii) menyederhanakan aljabar pecahan dengan
menggunakan teknik faktorisasi.
3. Pengembangan Aplikasi
Grafis yang digunakan untuk bahan pembelajaran ini digambarkan tiga adegan
bahwa siswa perlu mengeksplorasi; (I)Kantor, (ii) Studi Table saya, dan (iii)
The Park. Gambar 1 menunjukkan adegan yang dibuat untuk aplikasi ini. Untuk
setiap adegan, ada petunjuk berse.mbunyi di item yang ditempatkan secara
acak. Siswa harus menemukan petunjuk dengan mengklik setiap item dalam
adegan. Siswa kemudian diperlukan untuk membangun pemahaman mereka
sendiri berdasarkan dikumpulkan informasi. Petunjuk dalam setiap adegan akan
membentuk pengetahuan yang diperlukan sehingga hasil belajar yang spesifik
dapat dicapai pada akhir setiap pelajaran. Dalam Tema Satu, siswa harus
mengumpulkan informasi dari perlengkapan kantor yang terletak di kantor.
Setelah mereka telah menyelesaikan adegan satu, siswa harus dapat
membedakan antara fraksi monomial dan pecahan polinomial dan juga mampu
menyederhanakan pecahan aljabar dengan satu kurung. Diadegan Dua, siswa
yang diperlukan untuk mengumpulkan petunjuk dari alat-alat tulis dan buku di
meja belajar. siswadiharapkan untuk mencapai hasil pembelajaran yang sama
seperti dalam adegan satu. Adegan terakhir, yang merupakan adegan taman
adalah tempat
siswa diharapkan untuk mencapai hasil tiga belajar. Dalam adegan ini, petunjuk
tentang cara untuk menyederhanakan pecahan aljabar menggunakan faktorisasi
telah ditempatkan di antara item .yang kita biasanya ditemukan di taman.
. .4. Hasil
Para responden dalam penelitian ini dipilih dari 250 mahasiswa semester
politeknik yang terdaftar di program engineeering. Para siswa diminta untuk
menyelesaikan satu set MLSI. Dengan menggunakan hasil dari MLSI, 30 siswa
d.ngan gaya belajar sendiri-Ekspresif dipilih dan dibagi rata menjadi dua
kelompok. Kedua kelompok pertama diberi satu set pra-trest yang terdiri dari
10 pertanyaan. Kemudian,kelompok pertama disampaikan oleh selfexpressive
yang materi pembelajaran dan kelompok kedua diberi materi pembelajaran
secara acak yang tidak .dipetakan ke gaya belajar mereka. Setelah sesi belajar
selesai, para siswa ini diminta untuk menyelesaikan satu set posttest.
Pembelajaran yang diperoleh dari pre-test dan post-test dihitung dan dianalisis
menggunakan SPSS. Independen sampel t-test digunakan untuk analisis. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang disajikan oleh Self-Ekspresif
materi pembelajaran yang dipetakan ke gaya belajar mereka menunjukkan rata-
rata lebih tinggi dari belajar gain daripada kelompok dengan materi
pembelajaran yang dipilih secara acak. Tabel 1 dan 2 menunjukkan hasil
analisis

5. Kesimpulan
Temuan. penelitian menunjukkan bahwa siswa yang disajikan dengan materi
pembelajaran yang dipetakan ke gaya belajar mereka menunjukkan keuntungan
belajar secara signifikan lebih tinggi daripada siswa yang disajikan dengan acak
materi yang tidak dipetakan ke gaya belajar mereka belajar. Hasil penelitian
juga menunju.kkan bahwa pemahaman siswa dari subtopik yang
menyederhanakan pecahan aljabar meningkat ketika mereka disajikan dengan
materi pembelajaran yang dipetakan ke gaya belajar mereka. Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan wawas.an baru untuk pengembang kurikulum
dan pendidik terutama untuk politeknik di Malaysia untuk menggabungkan
teori gaya belajar dalam pengembangan kurikulum proses

DEVELOPING LEARNING MATERIALS FOR SPECIFIC PURPOSES

Y. M. Harsono

Rangkuman 1. PENDAHULUAN
Pengajaran / bahan pembelajaran adalah salah satu unsur yang sangat penting
yang harus ada untuk melakukan kegiatan belajar mengajar.
Kata kunci: pengembangan bahan, tujuan tertentu
Inggris telah diakui oleh sebagian besar negara di dunia sebagai bahasa
internasional.oleh karena itu, Inggris harus digunakan dalam komunikasi
internasional baik secara lisan maupun komunikasi tertulis, untuk umum serta
spesifik kebutuhan. Oleh karena itu, orang-orang di negara-negara di mana
bahasa Inggris digunakan sebagai kedua atau bahasa asing harus belajar itu, jika
mereka ingin bisa berkomunikasi secara internasional. Indonesia, di mana
bahasa Inggris adalah bahasa asing, juga harus mengajarkan warga khususnya
generasi muda untuk belajar bahasa Inggris.guru bahasa Inggris biasanya
mengajar siswa mereka dengan menggunakan buku teks yang tersedia. Namun,
materi pembelajaran seperti yang benar-benar cocok dengan kebutuhan siswa
tidak selalu tersedia. Kondisi ini seharusnya tidak menyurutkan guru sejauh
mereka memiliki tujuan (s) mengajar atau yang akrab dengan kebutuhan (s) dari
siswa. Dengan memiliki tujuan pengajaran / pembelajaran atau menjadi akrab
dengan kebutuhan peserta didik, guru dapat mengembangkan mereka bahan
sendiri untuk peserta didik untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik.Tulisan ini bertujuan memberikan cara wawasan bagi
guru untuk mengembangkan pembelajaran
2. Pengembangan Bahan
Bahan berarti apa-apa yang digunakan untuk membantu mengajar pembelajaran
bahasa. Bahan bisa dalam bentuk buku teks, sebuah workbook, kaset, CD-
ROM, video, handout fotokopi, koran, sebuah paragraf yang ditulis pada papan
tulis atau apa pun yang menyajikan atau menginformasikan tentang bahasa
yang dipelajari (Tomlinson, 1998: xi). Selanjutnya, Tomlinson (2001)
menyatakan bahwa bahan berarti apa-apa yang dapat digunakan untuk
memfasilitasi pembelajaran bahasa (linguistik, visual, auditori atau kinestetik).
bahan-bahan ini dapat disajikan dalam cetak, live performance, pada kaset, CD-
ROM, DVD atau di internet. Bahan-bahan ini bisa instruksional, pengalaman,
elicitative, atau eksplorasi. Materi yang instruksional ketika menginformasikan
peserta didik tentang bahasa. Hal ini pengalaman ketika memberikan paparan
bahasapenggunaan, elicitative ketika merangsang penggunaan bahasa, dan
eksplorasi ketika berusaha penemuan tentang penggunaan bahasa dalam
pengaturan alam. Setidaknya ada dua hal yang harus diuraikan tentang
pengembangan bahan. Ini adalah kedua bidang studi dan usaha praktis. Sebagai
bidang studi, itu mempelajari prinsip-prinsip dan prosedur dari desain,
implementasi, dan evaluasi bahan ajar bahasa. Sebagai usaha praktis,
melibatkan produksi, evaluasi, dan adaptasi dari bahan pengajaran bahasa,
oleh guru untuk kelas mereka sendiri dan dengan bahan penulis untuk dijual
atau
distribusi (Tomlinson, 2001: 66).
3. Bahan Pengembangan sebagai Bidang Studi
Sebagai bidang studi, pengembangan bahan studi prinsip-prinsip dan prosedur
dari desain, implementasi, dan evaluasi pengajaran bahasa
bahan.
4. Prinsip Pengembangan Bahan
Bahan harus membantu peserta didik untuk merasa nyaman. Bahan dapat
membantu peserta didik untuk merasa nyaman dalam banyak cara, misalnya,
teks dan ilustrasi bukan hanya teks, teks bahwa peserta didik dapat
berhubungan dengan budaya mereka sendiri daripada mereka yang budaya
terikat, bahan-bahan yang termasuk contoh daripada tanpa, dan banyak lainnya.
Bahan harus membantu peserta didik untuk mengembangkan kepercayaan diri.
Mengutip Dulay, Burt, dan Krashen 1982, Tomlinson (1998: 9) mengatakan
bahwa Santai dan nasib sendiri peserta didik percaya diri belajar lebih cepat.
Banyak peserta didik merasa santai dan percaya diri jika mereka berpikir bahwa
bahan-bahan yang mereka pelajari tidak terlalu sulit tapi hanya satu langkah
lebih jauh atau lebih sulit daripada mereka menguasai. Apa yang diajarkan
harus dirasakan oleh peserta didik sebagai relevan dan berguna.
Di ESP, guru bahasa Inggris dapat dengan mudah memilih bahan yang relevan
dengan pilihan spesifik topik dan tugas bahwa peserta didik juga belajar di
mereka
bidang studi, oleh karena itu, bahan mereka belajar harus relevan dan berguna.
Bahan harus memerlukan dan memfasilitasi peserta didik diri investasi. bahan
yang memungkinkan peserta didik untuk menjadi tertarik pada mereka, yang
dapat menarik perhatian mereka, dan yang dapat menarik mereka untuk
mempelajari materi akan memfasilitasi mereka untuk mempelajari bahan
sendiri.
Peserta didik harus siap untuk mendapatkan poin yang diajarkan. Untuk
memperoleh
poin yang diajarkan, bahan belajar harus i + 1 di mana saya mewakili
apa yang telah dipelajari dan 1 mewakili apa yang tersedia untuk belajar.
Menurut Krashen (1985), masing-masing peserta didik hanya akan belajar dari
input baru
apa yang dia siap untuk belajar. Bahan harus mengekspos peserta didik untuk
bahasa yang digunakan otentik. Banyak sekali materi pengajaran / pembelajaran
dapat memberikan paparan masukan otentik melaluiinstruksi, saran yang
mereka berikan untuk kegiatan dan lisan dan tertulis teks termasuk dalam
bahan.
Peserta didik perhatian harus diambil untuk fitur linguistik input. Fitur-fitur
linguistik seharusnya tidak menjadi fokus utama dalam bahan tetapipeserta
didik harus dibuat sadar bahwa fitur linguistik yang diperlukan untuk
menemukan dan untuk membuat generalisasi tentang fungsi dari fitur linguistik
dibahan utama.
5. Bahan Prosedur Pembangunan
Langkah-langkah atau prosedur pengembangan bahan meliputi desain,
implementasi,
dan evaluasi bahan ajar bahasa. Dick dan Carey (1990) menyarankan sepuluh
komponen dari model pendekatan sistem, yaitu, mengidentifikasi tujuan
instruksional, melakukan analisis instruksional, mengidentifikasi perilaku entri
dan karakteristik, menulis tujuan .kinerja, mengembangkan kriteria-referenced
item tes, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan / atau
pilih instruksional bahan, desain dan melakukan evaluasi formatif, merevisi
instruksi, dan
melakukan evaluasi sumatif. Setiap komponen ini berkaitan erat dengan sama
lain dalam sistem pendekatan Model.
Untuk merancang / mengembangkan bahan ajar yang akurat, setiap komponen
dalam
sistem harus dipertimbangkan. Dengan kata lain, mengajar / materi
pembelajaran yang sesuai harus mampu mem.enuhi setiap komponen lain
dalam pendekatan sistem..
Bahan .pengajaran / pembelajaran yang sudah dikembangkan untuk target
tertentu
Peserta. didik harus dilaksanakan dalam pembelajaran / situasi mengajar yang
sesungg.uhnya. Itu pelaksanaan materi pembelajaran / pengajaran dalam situasi
nyata dalam h.al ini Langkah ini dimaksudkan untuk mencoba bahan
pengajaran / pembelaja.ran apakah mereka cocok untuk peserta didik sasaran.
Jika tidak, maka materi pem.belajaran / pengajaran harus direvisi berdasarkan
data yang diperoleh dari mencob.a untuk peserta didik sasaran. Ini disebut
langkah evaluasi
6. Mengembangkan materi pembelajaran untuk keperluan khusus
Pada bagian ini, penerapan prinsip-prinsip dan prosedur pengembangan bahan
pembelajaran dijelaskan fokus pada pengembangan bahan untuk tujuan tertentu
dari pengajaran bahasa Inggris. Dalam rangka mengembangkan materi
pembelajaran untuk tujuan tertentu, satu hal yang harus menjadi titik awal
adalah peserta didik perlu. Hal ini sejalan dengan langkah pertama
mengembangkan materi pembelajaran
untuk tujuan umum serta yang Bahasa Inggris sebagai tujuan tertentu (ESP)
mengusulkan oleh Hutchinson dan Waters (1989: 3) yang menyatakan bahwa
ESP adalah berdasarkan merancang program untuk memenuhi kebutuhan
peserta didik. Peserta didik kebutuhan dapat diidentifikasi oleh guru dari
peserta didik sasaran
dari siapa mereka akan mengembangkan bahan. Sangat sering, peserta didik
kebutuhan telah dirumuskan oleh lembaga mana peserta didik belajar di
bentuk tujuan pembelajaran. Tujuan-tujuan pembelajaran dapat dibuat lebih
spesifik
dalam bentuk silabus yang menurut Hutchinson dan Waters (1989: 80) adalah
dokumen yang mengatakan apa yang akan (atau setidaknya apa yang harus)
dipelajari. Setidaknya ada delapan jenis silabus yang dapat digunakan untuk
menganalisis peserta didik perlu: topik silabus, struktural / situasional silabus,
fungsional / nosional silabus, keterampilan silabus, silabus situasional,
fungsional / tugas- berdasarkan silabus, wacana / keterampilan silabus, dan
keterampilan dan strategi silabus. Apa saja silabus dapat digunakan sejauh
silabus dapat mengakomodasi analisis pelajar kebutuhan. Selain pendekatan
sistem yang diusulkan oleh Dick dan Carey (1990) dijelaskan pada bagian
sebelumnya, Hutchinson dan Waters (1989: 90-94) mengusulkan empat
pendekatan dari proses desain saja: pendekatan bahasa berpusat, pendekatan
keterampilan berpusat, pendekatan pembelajaran yang berpusat, dan post hoc
pendekatan. Dalam pendekatan bahasa-berpusat, ada lima langkah yang diikuti,
yaitu, menganalisis situasi sasaran, menulis silabus, menulis atau memilih teks
untuk menggambarkan item dalam silabus, latihan menulis untuk berlatih item
dalam silabus, dan menyusun tes untuk menilai pengetahuan tentang item
dalam silabus. Dalam pendekatan keterampilan-berpusat, ada enam langkah
yang diikuti: kebutuhan sasaran menganalisis, memilih
teks yang menarik dan representatif, merancang hirarki keterampilan untuk
mengeksploitasi teks, pemesanan dan mengadaptasi teks yang diperlukan untuk
mengaktifkan fokus pada keterampilan yang dibutuhkan, merancang kegiatan /
teknik untuk mengajarkan keterampilan mereka, dan merancang
sebuah sistem untuk menilai akuisisi keterampilan. Dalam pembelajaran
berpusat-pendekatan, ada tiga rantai prosedur: (1) menganalisis situasi belajar,
menciptakan bahan yang menarik dan menyenangkan, dan memeriksa bahasa
dan keterampilan konten bahan dan membuat penyesuaian yang diperlukan; (2)
menganalisis situasi sasaran, membangun silabus umum topik dan tugas,
menciptakan menarik dan menyenangkan bahan, dan bahasa pengecekan dan
keterampilan isi bahan dan membuat penyesuaian yang diperlukan; (3)
menganalisis situasi sasaran, membangun silabus umum topik dan tugas,
memproduksi rinci bahasa / keterampilan silabus, dan memeriksa bahasa dan
keterampilan isi bahan dan membuat diperlukan penyesuaian. Dalam
pendekatan post hoc, hanya ada dua langkah dalam prosedur: menulis bahan
kriteria terdefinisi dan menulis silabus kosmetik untuk memuaskan sponsor,
guru, siswa, dll
7. Penutup
Mengembangkan pengajaran / bahan pembelajaran telah digambarkan dari
sudut pandang dari definisi, prinsip, prosedur, dan praktis usaha dari mereka
dengan kasus mengembangkan materi pembelajaran untuk ESP.
Mengembangkan bahan pengajaran / pembelajaran untuk ESP lebih menuntut
daripada bahwa untuk bahasa Inggris umum karena ketersediaan bahan
pembelajaran ESP di depan umum sangat jarang. Karena ini, disarankan agar
guru ESP mengembangkan bahan khusus mereka sendiri untuk pelajar bahasa
target mereka sendiri. Dalam mengembangkan bahan ESP belajar, setiap guru
dapat mengikuti pendekatan apapun dia / dia akrab dengan dan ia / dia dapat
mengembangkan / nya bahan ajar nya dengan menerapkan prinsip-prinsip dan
prosedur dari bahan pengajaran bahasa termasuk merumuskan tujuan
pengajaran mereka dan silabus, beradaptasi dan atau menambah bahan yang
ada, dan atau menciptakan bahan mereka sendiri.