Anda di halaman 1dari 33

1

1. PENDAHULUAN

1.1. Letak Geografis

Praktik Kerja dilaksanakan di Perseroan Terbatas (PT.) Charoen

Pokphand Jaya Farm Training Center Unit Surabaya terletak di Desa

Tanjungarum Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Bagian utara wilayah

Kabupaten Pasuruan merupakan dataran rendah. Bagian barat daya merupakan

pegunungan, dengan puncaknya Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Bagian

tenggara adalah bagian dari Pegunungan Tengger, dengan puncaknya Gunung

Bromo. Kecamatan Sukorejo berada di wilayah bagian tengah Pasuruan yang

merupakan daerah perbukitan dengan kisaran suhu 24 sampai 32oC. Ketinggian

tempat sekitar 186 sampai 2700 mdpl.

Keadaan geografis perusahaan, yang terletak di Desa Tanjungarum

berbatasan dengan Desa Jetak di sebelah utara, Desa Bulu Kandang di sebelah

selatan, Desa Suwayuwo di sebelah timur, dan Desa Mendalan di sebelah barat.

1.2. Sejarah Perusahaan

Perseroan Terbatas Charoen Pokphand Group pertama kali didirikan di

Bangkok pada tahun 1921, kemudian berkembang ke Hongkong, Thailand dan

kemudian dibuka cabang di Indonesia yang berlokasi di Jl. Ancol Barat VIII No. 1

pada tahun 1971. Cabang perusahaan di Indonesia saat ini mencapai 152 unit

perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha. Bidang usaha tersebut

meliputi bidang usaha pertanian, peternakan (agrobisnis), aquabisnis maupun

yang terbaru bergerak dibidang komunikasi dan teknologi. Kegiatan yang


2

diusahakan meliputi pembibitan, pakan ternak, peralatan peternakan (poultry

equipment), pelaksanaan pembesaran secara intensif melalui peternakan plasma,

sektor aquabisnis yaitu budidaya udang dan ikan.

Perseroan Terbatas Charoen Pokphand Jaya Farm Training Center Unit

Surabaya berdiri pada 3 Oktober 1983, bergerak dibidang pembibitan. Saat ini

mempunyai karyawan berjumlah kurang lebih 43 orang. Karyawan terdiri atas

manager, supervisor, koordinator lapangan (korlap), statistik , personalia general

administrasi, pekerja kandang, pekerja gudang, driver, teknisi, security.

1.3. Bidang Usaha

Perusahaan ini bergerak dibidang pemeliharaan ayam parent stock petelur

dari periode starter sampai produksi. Strain yang dipelihara adalah strain

Lohmann dengan jumlah 43.579 ekor. Produksi telur yang dihasilkan dibawa ke

hatchery Gempol, Rembang dan Pakulaut.


3

II. METODE DAN CARA KERJA

2.1. Materi

Materi yang digunakan dalam kegiatan Praktik Kerja yaitu: Ayam bibit

induk petelur pada periode produksi strain lohmann, jumlah ayam awal

keseluruhannya 43.579 ekor yang di tempatkan pada 21 kandang terbagi dalam 5

flock. Kandang yang digunakan untuk kerja praktik kandang nomer 13, ukuran

kandangnya 266 m2 dengan jumlah jantan dan betina pada minggu ke-68 masing-

masing 166 dan 1658 ekor. Pakan yang digunakan selama pemeliharaan yaitu

pakan jadi dengan kode 534 HG ditambah vitamin dan antibiotik. Peralatan

kandang yang digunakan antara lain : nipple, egg tray, tempat pakan atau feeder

trough dan Feeder tube, serta peralatan lainnya yang menunjang kegiatan

pemeliharaan ayam bibit.

2.2. Cara Kerja

2.2.1. Kegiatan Rutin

Kegiatan rutin yang dilakukan selama mengikuti praktik kerja meliputi:

biosecurity, pemberian pakan dan air minum, pengambilan telur, fumigasi telur,

grading telur dan penimbangan bobot badan yang dilakukan setiap satu minggu

sekali.

2.2.2. Kegiatan Insidental

Kegiatan insidental yang dilakukan selama mengikuti praktik kerja

meliputi: pengecekan keadaan clorin dan pH air minum serta perhitungan ayam.
4

2.2.3. Kegiatan Penunjang

Kegiatan penunjang yang dilakukan selama praktik kerja adalah

pengamatan kandang, diskusi dengan manager dan supervisor, pembahasan

seputar kegiatan pemeliharaan yang ada di farm.

2.3. Waktu dan Tempat

Kegiatan Praktik Kerja dilaksanakan pada tanggal 26 Januari sampai 21

Februari 2015. Praktik Kerja dilaksanakan di PT. Charoen Phokpand Jaya Farm

Training Center Unit Surabaya di Desa Tanjungarum, Kecamatan Sukoreja,

Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur.


5

III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

3.1. Kegiatan Rutin

3.1.1. Kegiatan Biosecurity

Tindakan pencegahan penyakit sering diabaikan peternak sehingga

terjadilah penyakit. Tindakan pencegahan penyakit bertujuan menyelamatkan

ayam dari gangguan penyakit (Rasyaf , 2003). Penyakit adalah salah satu kendala

dalam usaha peternakan sehingga sangat penting untuk diperhatikan. Penyebab

penyakit dalam suatu usaha peternakan merupakan penyebab kegagalan seluruh

usaha peternakan (Akoso, 1998).

Tata laksana pencegahan penyakit dapat dilaksanakan dengan cara sanitasi

kandang dan peralatan, vaksinasi, biosecurity dan perbaikan pakan. Pencegahan

penyakit perlu dikelola agar tidak mengganggu jalannya produksi telur dan tidak

menghambat jalannya usaha (Lubis dan Paimin, 2001). Sanitasi adalah berbagai

kegiatan yang meliputi penjagaan dan pemeliharaan kebersihan kandang dan

sekitarnya, peralatan dan perlengkapan kandang, pengelola kandang, serta orang

dan kendaraan yang keluar-masuk komplek perkandangan (Suprijatna et al..,

2005). Biosecurity adalah suatu konsep yang merupakan bagian integral dari

suksesnya sistem produksi peternakan unggas, khususnya petelur untuk

mengurangi resiko dan kerugian dari masuknya penyakit infeksius terhadap

unggas maupun manusia., sehingga untuk pencegahan penyakit pada, perusahaan

menerapkan kegiatan biosecurity.


6

Kegiatan biosecurity diterapkan pada setiap orang dan benda yang masuk

ke dalam area farm. Tahapan biosecurity untuk orang, adalah melepas semua

pakaian kemudian melewati ruang sanitasi pertama (Gambar 1) yang secara

otomatis apabila pintu dibuka maka desinfektan keluar dan membasahi tubuh,

bilas tubuh dengan cara mandi (Gambar 2) menggunakan sabun dan shampo yang

sudah disediakan. Memakai pakaian sanitasi (Gambar 3) dan sandal yang sudah

disediakan (untuk sanitasi kedua sebelum memasuki area kandang). Tahapan di

santasi kedua (Gambar 4) sama seperti sanitasi pertama kemudian memakai

pakaian khusus dan saat jalan di sekitar kandang mengenakan sepatu jalan yang

berwarna putih, terdapat shower setiap masuk flok (Gambar 5), ketika masuk ke

dalam kandang ganti dengan sapatu khusus yang berwarna hijau, yang

sebelumnya kaki dicelupkan ke kolam air (Gambar 6) di depan kandang yang

telah ditambah tektrol dengan dosis 0,4 % dan tangan disemprot dengan alkohol

70%.

Gambar 1. Shower 1 Gambar 2. Tempat mandi


7

Gambar 3. Pakaian farm Gambar 4. Shower 2

Gambar 5. Shower 3 Gambar 6. Dipping kaki

Biosecurity untuk benda atau barang yang masuk ke area farm berbeda

dengan tindakan biosecurity untuk orang. Kendaraan yang masuk ke dalam area

farm masuk ke ring pertama (Gambar 7), di dalam ring pertama mobil disemprot

lagi dengan larutan desinfektan. Ketika kendaraan masuk ke area kandang

melewati proses dipping (Gambar 8). Biosecurity untuk barang-barang yang tidak
8

tahan air adalah dengan cara memasukkan barang-barang tersebut ke box ultra

violet (Gambar 9) selama beberapa menit.

Gambar 7. Sanitasi kendaraan Gambar 8. Dipping kendaraan

Gambar 9. Box ultra violet

3.1.2. Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan setiap hari disarankan sesuai dengan kebutuhan

ayam, baik secara kuantitatif maupun kualitasnya (Fadilah dan Agustin, 2005).

Pemberian pakan yang salah dapat memicu stress dan defisiensi salah satu nutrisi

sehingga ayam banyak menemui masalah. Ayam membutuhkan sejumlah nutrien

untuk hidupnya, misalnya untuk bernafas, peredaran darah dan bergerak yang

disebut kebutuhan hidup pokok, selain itu untuk produksi telur (Rasyaf, 2003).
9

Pakan yang diberikan adalah pakan jadi dengan bentuk crumble berkode

534 HG. Fungsi makanan yang diberikan kepada ayam pada dasarnya untuk

memenuhi kebutuhan pokok hidupnya, membentuk sel-sel dan jaringan tubuh,

menggantikan bagian-bagian yang rusak, dan selanjutnya untuk keperluan

berproduksi (Sudaryani dan Santosa, 2000). Pakan diberikan sehari sekali pada

pagi hari pukul 09.30 WIB secara otomatis. Tempat pakan yang digunakan yaitu

Automatic Feeder Trought (Trow), dan Feeder tube. Kapasitas Automatic Feeder

Trought (Trow) dalam satu meter dapat digunakan untuk 14 ekor (Gambar 10),

sedangkan Feeder tube digunakan untuk pemberian grit biasanya satu minggu

sekali pada sore hari. Pemberian pakan secara otomatis yaitu bertujuan untuk

mempercepat pendistribusian dan pemerataan pakan secara singkat. North dan

Bell (1990) menyatakan bahwa pakan diberikan secara merata keseluruh bagian

tempat pakan agar ayam dapat bersama-sama makan tanpa berebut, sehingga tidak

terjadi kanibalisme, selain itu pakan dapat tersedia secara merata dan pakan yang

basah tidak membusuk jika terkena air.

Gambar 10. Kondisi saat putar pakan

Program pemberian pakan dibuat berdasarkan standar keperluan ayam

yang telah ditentukan oleh perusahaan. Jumlah keperluan pakan didasarkan pada
10

point feed, yaitu banyaknya pakan yang diberikan untuk 100 ekor ayam dalam

satuan gram. Pemberian pakan di kandang 13 dengan umur 68 minggu, total ayam

1824 ekor terdiri atas jantan dan betina masing-masing 166 dan 1658 ekor dengan

point feed 10,91, sehingga jumlah pakan jantan dan betina yang diberikan di

kandang 13 sebanyak 199,1 kg/hari, dengan pakan jantan dan betina masing-

masing 109 dan 109,1 gram/ekor, tertera pada Lampiran 2. Menurut Sakariadi dan

Wawo (2004), konsumsi ransum ayam betina fase layer lebih tinggi apabila

dibandingkan dengan konsumsi pejantan, karena ayam betina fase layer tidak

hanya dimanfaatkan untuk pertumbuhan, tetapi juga digunakan untuk produksi

telur.

Kandungan nutrien pakan untuk ayam petelur periode produksi yaitu

energi 2.750 kkal/kg, protein 17-18%, Ca 3,75% dan P 0,48%. Evaluasi

kecukupan nutrien dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dari pemberian

pakan sebanyak 109,1 gram/ekor sudah memenuhi kebutuhan energi dan protein

per ekor ayamnya atau belum, sehingga perusahaan mendapat gambaran untuk

pemberian pakan hari berikutnya.

Tabel 1. Evaluasi Kecukupan Nutrien Ayam Bibit Induk

Kebutuhan Protein (gram) Energi (kkal)


Pemberian 19,64 300,025
Kebutuhan 15,04 298,35
Evaluasi +4,6 +1,675
Sumber : TC Farm Unit Surabaya (2015)

Berdasarkan Tabel 1. diperoleh petunjuk bahwa pemberian pakan sebanyak

109,1 gram/ekor sudah memenuhi bahkan melebihi dari kebutuhan energi dan

protein per ekornya. Perhitungan evaluasi kecukupan nutrien pakan lebih


11

lengkapnya dapat dilihat di Lampiran 3. Pemberian pakan dengan level energi dan

protein yang terlalu tinggi hanya akan terbuang secara percuma karena

kemampaun genetik ayam untuk menyerap kandungan nutrisi yang dikonsumsi

terbatas sesuai dengan kebutuhan (Wahyu, 2004).

Menurut Iskandar (2012), kekurangan protein dan energi menyebabkan

tertahannya kapasitas genetik tumbuh sehingga ternak tumbuh kurang optimal.

Sebaliknya, apabila asupan protein dan energi berlebihan, kelebihan protein

tersebut dikeluarkan sehingga merupakan pemborosan. Ditambahkan oleh Wahyu

(2004), energi berlebihan disimpan dalam bentuk lemak. Kelebihan energi metabolis

tidak dikeluarkan oleh ternak. Oleh karena itu yang paling efisien dalam pemberian

pakan ayam adalah membuat ransum seimbang tingkat energi dan zat-zat makanan

lainnya yang diperlukan untuk pertumbuhan, produksi telur atau hasil akhir dari

pertumbuhan yang dikehendaki.

3.1.3. Pemberian Air Minum

Air minum pada ayam dalam keadaan dingin dan bersih, sedangkan faktor

yang mempengaruhi konsumsi air minum antara lain strain, besar ayam, jumlah

dan jenis pakan, serta suhu disekitarnya (Anggorodi, 1995). Air diperlukan ternak

untuk menyusun hampir dua per tiga dari bobot tubuh ternak (55-75%)

(Suprijatna et al., 2005). Air minum yang berasal dari air tanah, yang diperoleh

dengan menggunakan pompa listrik kemudian air tersebut di tampung di tower

utama, dan didistribusikan ke seluruh farm menggunakan line pipa.

Air yang digunakan bersih dan bebas dari mikroorganisme patogen, karena

sudah ditambahkan clorine (3 ppm). Air minum diberikan melalui nipple


12

(Gambar 12), satu nipple digunakan untuk 8 sampai 10 ekor ayam, pemberiannya

secara adlibitum. Nipple atau alat minum otomatis terdiri dari dua bagian yaitu

cup nipple dan nozzle, bagian yang berwarna merah atau cup nipple berfungsi

sebagai penampung air yang jatuh saat air keluar sehingga air tidak tercecer,

bagian nozzle yaitu tempat keluarnya air. Air yang didorong dari pompa air akan

masuk ke skala lalu masuk ke regulator (Gambar 11) yang berada di depan,

tengah dan di belakang kandang. Setelah masuk regulator air masuk ke pipa

nipple, nipple bekerja jika puting nipple disentuh oleh paruh ayam.

Mekanisme sistem saluran air ke dalam nipple yaitu ketika nozzle disentuh

oleh paruh ayam sehingga dalam saluran pipa ada tekanan maka air keluar, jika air

di dalam tower habis maka alarm berbunyi. Motor penggerak atau mesin

penyedot air terdapat di dekat penampungan air dengan dilengkapi switch, apabila

air kosong pompa air akan hidup secara otomatis namun jika tower kosong, switch

akan menempel dan alarm akan berbunyi.

Gambar 11. Regulator Gambar 12. Nipple


13

3.1.4. Pengambilan, Fumigasi dan Grading Telur

Kegiatan rutin yang dilakukan di kandang periode produksi adalah

pengambilan telur (Gambar 13) yang dilakukan tiga kali dalam sehari, yaitu pada

pukul 08.00, pukul 10.30, dan pukul 14.30. Pengambilan telur yang baik

dilakukan sesering mungkin bertujuan agar tidak terlalu banyak telur yang

menumpuk, sehingga menyebabkan retak dan kotor. Rasyaf (2003) menyatakan,

pengambilan telur tetas dilakukan 3 sampai 4 kali sehari. Pengambilan telur

dilakukan secepat mungkin, untuk menghindari kemungkinan telur diinjak oleh

induk, pejantan dan pegawai kandang.

Gambar 13. Pengambilan Telur

Pengambilan telur di kandang menggunakan egg tray yang berwarna

merah dan kuning dengan kapasitas 30 butir (Gambar 14), setelah egg tray penuh

ditempatkan pada lori, yang nantinya diangkut menggunakan truk dibawa ke

ruang fumigasi, untuk dilakukan proses fumigasi sebelum telur tersebut digrading.

Fumigasi dilakukan untuk mengurangi bakteri yang dapat mengkontaminasi telur.

Rasyaf (2003) menyatakan bahwa, sebelum telur dimasukan dalam mesin tetas

atau dimasukan ruang penyimpanan, diperlukan usaha untuk menghilangkan bibit


14

penyakit yang berada di kerabang telur, usaha yang terbaik adalah dengan

melakukan fumigasi.

Telur yang telah difumigasi dibawa ke ruang holding kemudian

dikelompokan berdasarkan bobot dan bentuk telur atau biasa disebut grading

telur. Telur dipisahkan secara manual berdasarkan bobot yang telah ditentukan

sesuai dengan standar telur Hatching Egg (HE) dengan tujuan menyeragamkan

bobot telur, sehingga Day Old Chick (DOC) yang dihasilkan dapat seragam.

Seleksi telur tetas merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk memilih telur

tetas yang memenuhi persyaratan untuk ditetaskan (Suprijatna et al.., 2005).

Telur-telur yang dihasilkan disebut telur Production Egg (PE) yang terdiri atas

telur HE dan telur komersial. Telur-telur yang sesuai dengan standar digolongkan

menjadi telur HE.

Telur kemudian diletakkan pada egg tray berwarna putih yang

berkapasitas 36 butir (Gambar 15), kemudian ditumpuk sampai 5 tray dan diberi

identitas dengan menggunakan spidol yang berisi keterangan telur berdasarkan

kode hen hause, farm, grade dan tanggal produksi. Tumpukan egg tray tersebut

dimasukkan ke dalam egg basket (Gambar 16), yang nantinya akan dikirim ke

hatchery untuk ditetaskan, sedangkan telur-telur yang tidak sesuai standar seperti:

damage (rusak), crack (retak), jumbo (besar), dan junior (kecil) digolongkan ke

dalam telur komersial dan dimasukkan ke dalam gudang telur untuk digunakan

sebagai telur konsumsi. Beberapa kriteria telur yang masuk dalam kelompok

hatching egg (HE), disajikan dalam Tabel 2.


15

Tabel 2 . Ukuran Grade HE

No. Grade Bobot (gram)* Bobot (gram)**


1. B 48-49,9 34,4-42,8
2. A1 50-51,9 42,9-52,2
3. A2 52-59,9 52,3-63,6
4. A3 >60 63,7-70,5
Sumber : * TC Farm Unit Surabaya (2015)
** Abubakar dan Nataamijaya (1996)

Gambar 14. Egg tray 30 Gambar 15. Egg tray 36

Gambar 16. Egg basket

Pencatatan produksi telur dilakukan berdasarkan jumlah awal masuk ayam

betina atau Hen House Production (HHP) dan pencatatan berdasarkan jumlah

ayam yang ada di dalam kandang pada saat dilakukannya pencatatan disebut Hen
16

Day Production (HDP). Menurut Rasyaf (2003), HDP mencerminkan produksi

nyata dari ayam yang hidup atau jumlah ayam yang dipelihara. HDP merupakan

indikasi produksi yang baik yang digunakan untuk mengetahui indikasi produksi

harian.

Jumlah ayam pada minggu ke-68 hari pertama, jumlah ayam betina

1685 ekor dengan produksi telur 6338 butir maka akan di dapat nilai HDP 82,5%

tertera pada Lampiran 4. Hasil ini lebih tinggi dari standar HDP pada minggu

tersebut yaitu 74%. Hasil ini menunjukan bahwa produksi telur pada minggu

tersebut masih relatif tinggi.

Nilai HDP 82,32% dan HHP 82,09%, kedua nilai tersebut berselisih tidak

terlalu jauh, hal tersebut menunjukkan manajemen pemeliharaannya relatif bagus.

Jumlah telur tetas dapat dihitung dengan menjumlahkan telur grade A3 dan A2.

Minggu ke-68, jumlah total telur tetas 9322 butir dari total produksi telur

9.580 butir, sehingga nilai HE pada minggu tersebut adalah 97.3%,

perhitungannya disajikan dalam Lampiran 5. Telur keseluruhan dicatat dalam

recording baik jumlah total telur yang dihasilkan PE, telur HE dan telur yang

rusak. Recording berfungsi sebagai indikator kerja dari masing-masing kandang

dan juga sebagai bahan evaluasi terhadap produksi telur yang dihasilkan telah

sesuai dengan standar atau belum.

3.1.5. Penimbangan Bobot Badan

Penimbangan bobot badan (Gambar 17) pada periode produksi

dimaksudkan untuk mengontrol bobot badan dan digunakan untuk menentukan

point feed pada minggu berikutnya, penimbangan bobot badan ayam dilakukan
17

setiap satu minggu sekali yaitu pada hari jumat. Penimbangan dilakukan pada

setiap flock hanya satu kandang sebagai sampel. Ayam yang ditimbang yaitu 10%

dari jumlah populasi ayam pada kandang tersebut, tetapi pada saat penimbangan

hanya menimbang jantan dan betina masing-masing 10 dan 20 ekor swerbagai

sampel. Body weight rata-rata ayam jantan dan betina masing-masing 2.816 gram

dan 1.822 gram, dengan nilai masing-masing 0,082 dan 0.073 hasilnya tertera

pada Lampiran 6.

Gambar 17. Penimbangan ayam

3.2. Kegiatan Insidental

3.2.1. Pengukuran Clorine dan PH

Klorinasi merupakan salah satu bentuk pencegahan koli yaitu dengan

penambahan chlorine ke dalam air minum, bukan hanya untuk bakteri E. Coli

saja, klorinasi juga untuk membunuh bakteri patogen yang menyerang saluran

pencernaan ayam. Pengukuran chlorine (Gambar 18) dengan cara mengambil

sampel air dari nipple pada regulator depan dan nipple bagian akhir. Pengukuran

chlorine menggunakan cairan oto chlorine sebanyak 3 tetes. Kadar chlorine yang

ideal adalah 1,0 sampai 3,4. Cairan oto chlorine merupakan indikator warna,

semakin pekat warna yang dihasilkan maka kadar chlorine yang terkandung
18

dalam air minum semakin tinggi, apabila kadar chlorine lebih rendah dari batas

ideal menandakan bahwa bakteri yang terkandung di dalam air banyak begitupun

sebaliknya. Hasil pengukuran menunjukan bahwa air minum tidak mengandung

chlorine, dikarenakan diganti dengan pemberian vitamin. Pengukuran pH

(Gambar 19) sama halnya seperti pengukuran chlorine tetapi cairan yang

digunakan berbeda, yaitu cairan penol red. pH yang biak yaitu tidak terlalu asam

atau terlalu basa, pH ideal air minum sebesar 7,6.

Gambar 18. Pengukuran Chlorine Gambar 19. Pengukuran pH

3.2.2. Perhitungan Ayam

Perhitungan ayam dilakukan karena ayam segera diafkir sehingga perlu

diketahui jumlah pastinya. Perhitungan ayam dilakukan selama 6 hari berturut-

turut yaitu pada tanggal 9 sampai 14 Februari 2015. Hari pertama kandang 1,3,dan

4, hari kedua kandang 2,7, dan 8, hari ketiga kandang 5,6, dan 12, hari keempat

kandang 9,10,dan 11, hari kelima kandang 18 sampai 21, dan hari terakhir

kandang 13 samapai 15. Perhitungan ayam dilakukan dengan cara ayam digiring

ke kandang bagian belakang kemudian dibuat sekat. Bagian belakang untuk ayam

yang belum dihitung sedangkan bagian depan untuk ayam yang sudah dihitung.

Ayam jantan dihitung pertama karena jumlahnya lebih sedikit, dan dihitung
19

perekor, kemudian ayam betina dihitung perdua ekor. Pada perhitungan ayam ini

juga diperlukan seorang saksi dari luar peternakan.

3.3. Kegiatan Penunjang

3.3.1. Pengamatan kandang

Kandang merupakan bagian penting dari tatalaksana pemeliharaan, karena

merupakan tempat seluruh aktivitas ternak sehingga kenyamanan ternak terjamin

agar diperoleh ternak yang sehat dan produktif. Kandang juga berfungsi untuk

melindungi ternak dari gangguan luar seperti panas matahari, hujan dan hewan

lainnya sehingga ternak mampu berproduksi secara optimal sesuai dengan

potensinya. Fungsi lain dari kandang adalah untuk memudahkan peternak dalam

pengawasan dan tatalaksana pemeliharaan ternak agar diperoleh hasil yang terbaik

dan efisien (Sujana et al., 2011).

Penggunaan kandang disesuaikan kapasitas kandang. Populasi yang terlalu

padat mengakibatkan ayam menderita cekaman (stress) sehingga menyebabkan

penurunan laju pertumbuhan dan produksi telur (Suprijatna et al., 2005). Pada

prinsipnya, luas kandang sebanding dengan jumlah ayam yang dimasukkan ke

dalamnya, apabila terlalu sesak pertumbuhan ayam terganggu lantaran konsumsi

pakan menjadi berkurang atau ayam stress karena akumulasi bau, seperti unsur

amonia yang terlalu tinggi.

Pengamatan kandang dilakukan setiap hari. Tipe kandang adalah kandang

close house atau kandang sistem tertutup. Kandang close house ini memiliki

kelebihan dalam mengendalikan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi

fungsi kegiatan ayam maupun manusia meliputi temperatur, kelembaban udara,


20

komposisi udara (konsetrasi oksigen, karbondioksida, amonia dan lainnya). Model

lantainya panggung slat plastik pada flock A,B, dan D, sedangkan flock C dan E

menggunakan slat kayu, dengan jarak antar kandang 8 m. Model dinding dengan

tirai plastik dan model atapnya monitor. Menurut Prayitno dan Yuwono

(1999), atap kandang berfungsi untuk melindungi ternak yang ada di dalam

kandang dari panas matahari langsung dan curah hujan.

Sistem kandang Close house dimaksudkan untuk meminimalisir kontak

antara ayam dengan kondisi lingkungan di luar kandang. Tujuannya untuk

menciptakan lingkungan yang ideal dalam kandang, peningkatan produktivitas

ayam, efisiensi lahan dan tenaga kerja serta menciptakan usaha peternakan yang

ramah lingkungan. Menurut Sudaryani dan Santosa (2000), kandang close house

merupakan kandang tertutup yang menjamin keamanan secara biologi (kontak

dengan mikroorganisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang baik sehingga

lebih sedikit stress yang terjadi. Suhu, kelembaban, kecepatan angin, pencahayaan

diatur sedemikian rupa sehingga tercipta kondisi yang nyaman bagi ayam. Selain

berfungsi untuk melindungi ayam dari sengatan matahari, hujan, angin keras, dan

gangguan lainnya, diharapkan kandang juga dapat memberikan rasa betah atau

mengurangi stress.

Kandang berukuran 38 x 7 m (Gambar 20) dilengkapi dengan alas model

kombinasi litter slat dengan alas berupa serbuk gergaji pada bagian litter.

Komposisi lantai yaitu 65% alas berupa slat dan 35% alas menggunakan litter.

Atap kandang menggunakan seng. Sangkar (Gambar 21) diletakan di bagian

tengah kandang pada alas litter. Pada kandang yang berukuran 38 x 7 m terdapat
21

16 sangkar. Sangkar ini mudah dipindahkan, redup, sirkulasi udara baik dan

nyaman untuk ayam (Fadilah dan Agustin, 2007). Setiap sangkar terdiri dari 24

kotak, satu kotak dapat digunakan 4 ekor ayam atau lebih. Sangkar dimasukkan ke

dalam kandang pada saat ayam umur 15 minggu, agar ayam lebih cepat mengenal

sangkar sehingga dapat mengurangi resiko flour egg. Sangkar berfungsi sebagai

tempat untuk ayam bertelur agar telur tidak berceceran pada lantai, sehingga

mengurangi risiko banyaknya telur yang retak, pecah, kotor, dan dimakan oleh

induk lain.

Gambar 20. Kondisi Kandang Gambar 21. Sangkar

Ventilasi kandang diatur dari inlet (cooling pad) dan outlet (blower).

Temperatur kandang diset dengan suhu 25 sampai 290C. Menurut Daghir (2008),

temperatur yang terlalu dingin menyebabkan konsumsi pakan meningkat untuk

mempertahankan temperatur tubuh, suhu yang terlalu panas juga tidak baik untuk

ayam karena dapat menurunkan konsumsi pakan, meningkatkan stress pada ayam

dan mengakibatkan produksi menurun. Ventilasi dan temperatur kandang diatur

secara otomatis menggunakan temptron yang dapat dikendalikan di panel box.


22

Panel box merupakan alat berbentuk kotak pengendali elektronik yang

berfungsi untuk mengendalikan blower, power lampu, cooling pad, shocker serta

berbagai tempat peralatan pakan dan minum. Panel box terletak dibagian depan

kandang dengan dilengkapi tiga buah lampu yakni lampu hijau untuk blower,

lampu merah untuk high temperatur, dan lampu kuning untuk sistem air minum

(nipple), jika satu dari ketiga sistem tersebut mengalami gangguan maka lampu

menyala dan alarm berbunyi.

Inlet merupakan bagian kandang dari sistem close house yang berfungsi

untuk masuknya udara (ventilasi) dengan menggunakan cooling pad (Gambar 23).

Inlet merupakan bagaian kandang yang vital karena mengatur sirkulasi udara

dalam kandang. Udara yang masuk ke dalam kandang melalui cooling pad keluar

melalui lubang blower (Gambar 24). Cooling pad berfungsi sebagai pendingin

udara yang masuk karena disemprotkan air di sela-sela cooling pad yakni pada

cell deck sehingga udara yang masuk menjadi dingin. Cooling pad berkerja secara

otomatis sesuai program yang telah diset pada temptron (Gambar 22). Jika suhu

temptron dalam kandang diatas 29,50C, maka pompa air bekerja menyedot air ke

pipa cooling pad, kemudian air keluar melalui sela-sela lubang kecil pada cell

deck. Air yang mengalir dalam cooling pad bercampur dengan udara yang masuk

sehingga suhu dalam kandang turun. Alat penarik udara keluar kandang yaitu

menggunakan blower yang berjumlah 6 buah. Blower berfungsi untuk menarik

udara dari luar masuk ke dalam kandang dan mengeluarkan udara kotor

karbondioksida, metan dan amonia, sehingga dapat menyediakan iklim yang

nyaman bagi ayam di dalam kandang. Untuk menyediakan iklim yang kondusif
23

bagi ternak dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan panas dari kandang yang

dihasilkan dari tubuh ayam dan lingkungan luar, menurunkan suhu udara yang

masuk serta mengatur kelembaban yang sesuai. Jumlah blower yang menyala

disesuaikan dengan kebutuhan udara untuk ayam dan mengatur kecepatan angin

di dalam kandang. Pengaturan ini dilakukan oleh alat yang disebut temptron yang

mengatur sistim kerja ventilasi. Tempron merupakan jantung kandang yang

berfungsi mengontrol semua alat dalam kandang, indikator temperatur dan

mengirim sinyal ke panel. Suhu yang sudah diset sesuai kebutuhan ayam sehingga

apabila suhu dalam kandang melebihi suhu yang telah di set atau mengalami

masalah maka alarm berbunyi.

Suhu yang diset menentukan jumlah blower yang menyala. Pada suhu

kandang 25C maka jumlah kipas yang hidup 4 buah, namun apabila suhu dalam

kandang mencapai 26 C maka jumlah kipas yang hidup bertambah 1 buah

menjadi 5 buah, berbeda lagi jika suhu dalam kandang meningkat hingga 29 C

maka seluruh kipas berputar untuk menstabilkan suhu dalam kandang.

Gambar 22. Temptron Gambar 23. Cooling Pad


24

Gambar 24. Blower

3.3.2. Evaluasi dan Diskusi

Evaluasi dan diskusi dilakukan setiap hari ketika berada di lokasi kandang

yang dipandu oleh supervisor, sedangkan diskusi dengan manager biasanya

dilakukan ketika setelah grading telur. Evaluasi dan diskusi bertujuan untuk

mengetahui pengetahuan yang didapat mahasiswa selama melakukan kegiatan

praktik kerja dan mendiskusikan hal-hal yang masih belum dimengerti dan

dipahami. Hal yang didiskusikan mengenai masalah perkandangan, maupun

manajemen pemeliharaan yang dilakukan di perusahaan.


25

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktik kerja dapat disimpulkan bahwa manajemen

pemeliharaan ayam bibit induk periode produksi di PT Charoen Pokphand Jaya

Farm Training Center Unit Surabaya sudah baik. Hal tersebut dibuktikan dari

produksinya yang relatif tinggi, biosecurity, kesehatan ternak, pemberian pakan

dan minum, serta perkandang yang secara keseluruhan sudah baik.

4.2 Saran

Disarankan dalam melakukan setiap aktivitas kerja di PT Charoen

Pokphand Jaya Farm Training Center Unit Surabaya hendaknya memperhatikan

prosedur kerja agar mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.


26

DAFTAR PUSTAKA

Abubakar dan A.G. Nataamijaya. 1996. Grade Mutu Telur Ayam Buras.
Prosiding Seminar Nasional Perunggasan. Universitas Muhammadiyah
Malang.
Akoso, B.T. 1998. Kesehatan Unggas: Panduan bagi Petugas Teknis. Penyuluh
dan Peternak. Kanisius. Yogyakarta.
Anggorodi, R. 1995. Nutrisi Aneka ternak Unggas. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Daghir, N.J. 2008. Poultry Production In Hot Climates. CAB Internasional The
University Press. Cambrige
Fadilah. R. dan P. Agustin. 2005. Aneka Penyakit pada Ayam dan Cara
Mengatasinya. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta.
. 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Iskandar, S. 2012. Optimalisasi Protein dan Energi Ransum untuk Meningkatkan


Produksi Daging Ayam Lokal. Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor.

Lubis, A.M. dan F.B. Paimin. 2001. 8 Kiat Mencegah Penurunan Produksi Telur
Ayam. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta
North, M.O dan D.D Bell. 1990. Commercial Chicken Production Mannual 3th
Editions. AVI Publishes company Inc. Wesport Connecticut.

Prayitno, D.S., dan W.E. Yuwono. 1999. Manajmen Kandang Ayam Ras
Pedaging. PT. Trubus Agriwidya. Ungaran.

Rasyaf, M. 2003. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta.


Sakariadi, S., dan B. Wawo. 2004. Penyusunan Ransum Ayam Buras Secara
Sederhana. Fakultas Peternaan Unhas, Makassar.
Sudaryani, T dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sujana, E., S. Darana, dan I. Setiawan. 2011. Implementasi Teknologi Semi
Closed-House System Pada Performan Ayam Broiler Di Test Farm
Sustainable Livestock Techno Park, Kampus Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner. Universitas Padjadjaran Bandung.
27

Suprijatna, E., Umiyati A., dan Ruhyat K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Wahyu. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
28

LAMPIRAN

Lampiran 1. Konsumsi Pakan Ayam Bibit Induk Periode Produksi di PT


Charoen Pokphand Jaya Farm Training Center Unit Surabaya

Umur Konsumsi Pakan (kg)


Jumlah ayam
(ekor) Point feed
Betina Jantan
Minggu Prod Betina Jantan Betina Hari B Jantan Hari J
60 38 1.725 168 1.285 125 10,64 7 10,64 7

61 39 1.714 167 1.330 129 11,09 7 11,09 7

62 40 1.707 167 1.334 130 11,16 7 11,16 7

63 41 1.698 167 1.332 131 11,21 7 11,21 7

64 42 1.691 167 1.333 132 11,26 7 11,26 7

65 43 1.686 167 1.270 126 10,76 7 10,76 7

66 44 1.678 167 1.267 126 10,79 7 10,79 7

67 45 1.667 167 1.265 127 10,84 7 10,84 7

68 46 1.658 166 1.266 127 10,91 7 10,91 7

69 47 1.649 166 1.265 127 10,96 7 10,96 7

70 48 1.634 163 1.260 126 11,02 7 11,02 7

Lampiran 2. Perhitungan Jumlah Pakan Ayam Bibit Induk Minggu ke-68

Jumlah pakan betina satu kandang

x Jumlah ayam (ekor)


= x 7 hari
100

10,91 x 1.658
= x 7 hari
100

= 1.266,2 kg/7hari

= 181 kg/ hari


29

181 kg
Jumlah pakan betina per ekor =
1.658 ekor

= 0,1091 kg/ekor

= 109,1 g/ekor

Jumlah pakan jantan satu kandang

x Jumlah ayam (ekor)


= x 7 hari
100

10,91 x 166
= x 7 hari
100

= 126,7 kg/7hari

= 18,1 kg/ hari

18,1 kg
Jumlah pakan jantan per ekor =
166 ekor

= 0,1090 kg/ekor

= 109,0 g/ekor

Lampiran 3. Perhitungan Kecukupan Pakan Ayam Bibit Induk

1. Kebutuhan Protein

a. Kebutuhan untuk hidup pokok

N endogen = 201 x ( BB )0,75 = 201 x (1,8)0,75 = 312,35kg

312,35
= = 0,312 gram
1000

Protein = 0,312 x 6,25 = 1,95 gram

b. Kebutuhan untuk pembentukan satu butir telur

Bobot telur ratarata (g) x 0,12 60 x 0,12


= = 13,09 gram
EPP 0,55
30

Kebutuhan Protein total = 1,95 + 13,09

= 15,04 gram

Pemberian Protein = Point feed x kandungan protein pakan

= 109,1 x 18% = 19,64 gram

2. Kebutuhan Energi

a. Energi untuk hidup pokok

NEm = 80 (BB)0,75 = 80 (1,8)0,75 = 124,32 kkal

NEm 124,32 kkal


MEm = = = 151,6 kkal
0,82 0,82

b. Energi untuk aktivitas

MEm = 50% x MEm hidup pokok

= 50% x 151,6 kkal

= 75,8 kkal

c. Energi untuk pembentukan satu butir telur

MEegg = 86 x %Produksi telur

= 86 x 82,5% = 70,95 kkal

Kebutuhan energi total = 151,6 kkal + 75,8 kkal + 70,95 kkal

= 298,35 kkal

kandungan energi pakan


Pemberian Energi = jumlah pakan x
1000

2750
= 109,1 x = 300,025 kkal
1000
31

Lampiran 4. Produksi Telur Ayam Bibit Induk di PT Charoen Pokphand

Jaya Farm Training Center Unit Surabaya

Umur Jumlah ayam Jumlah % H - D Prod


(ekor) telur per Produksi Hatching Egg
minggu Minggu Std.
Minggu Prod. Betina Jantan (butir) ini Minggu ini
%HE
(butir)
60 38 1.725 168 10.663 88 80 10.409 97,62

61 39 1.714 167 10.502 87 79 10.202 97,14

62 40 1.707 167 10.328 86 79 10.123 98,02

63 41 1.698 167 10.290 86 78 9.710 96,90

64 42 1.691 167 10.228 86 77 9.969 97,47

65 43 1.686 167 10.099 85 76 9.871 97,74

66 44 1.678 167 9.873 84 75 9.628 97,52

67 45 1.667 167 9.677 82 75 9.400 97,14

68 46 1.658 166 9.580 82 74 9.322 97,31

69 47 1.649 166 9.400 81 73 9.175 97,61

70 48 1.634 163 9.183 80 72 8.959 97,56

Lampiran 5. Perhitungan Produksi Telur Ayam Bibit Induk Minggu ke-68

Jumlah produksi telur (butir)/hari


%PE = x 100%
Jumlah ayam (ekor)/hari

1368 butir
= x 100%
1.658 ekor

= 82,5%

Jumlah telur tetas (butir)/hari


%HE = x 100%
Jumlah produksi telur (butir)/hari

1332 butir
= x 100%
1369 butir

= 97,3%
32

Produksi telur (butir)


%HDP = (jumlah ayam awal+jumlah ayam akhir) x100%
Jumlah hari x 2

9.580
= (1.667+ 1.658) x 100%
7x 2

= 82,32%

Jumlah produksi telur (butir)


%HHP = x 100%
Jumlah ayam awal (ekor) x Lama pencatatan (hari)

9580
= x 100%
1.667 x 7 hari

9580
= x 100%
11.669

= 82,09%

Lampiran 6. Hasil Penimbangan Bobot Badan Ayam Bibit Induk

Bobot Badan (gram)


Ayam Betina Ayam Jantan
1.850 1.820 2.800
1.700 1.780 2.750
1.940 1.850 2.760
1.870 1.700 2.680
1.800 1.800 2.920
1.900 1.860 2.840
1.850 1.700 2.800
1.920 1.920 2.950
1.760 1.840 2.870
1.800 1.780 2.790
Rata-rata 1.822 Rata-rata 2.816
Standar Deviasi 0.073 Standar Deviasi 0.082
33

Lampiran 6. Layout Peternakan