Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

1
2
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR .................................................................................................................. 1
DAFTAR ISI ................................................................................................................................. 3
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................... 4
DAFTAR TABEL ......................................................................................................................... 5
DAFTAR BAGAN ........................................................................................................................ 6
DAFTAR SINGKATAN............................................................................................................... 7
BAB I............................................................................................................................................. 8
PENDAHULUAN......................................................................................................................... 8
1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................................... 8
1.2 TUJUAN ....................................................................................................................... 9
1.3 RUMUSAN MASALAH .............................................................................................. 9
BAB II ......................................................................................................................................... 10
PEMBAHASAN ......................................................................................................................... 10
2.1 PATOFISIOLOGI GIGITAN ULAR ......................................................................... 10
2.1.1 Ciri ciri ular tidak berbisa :............................................................................ 11
2.1.2 Ciri-ciri ular berbisa: ......................................................................................... 11
2.1.3 SIFAT BISA ULAR : ......................................................................................... 12
2.1.4 PATOFISIOLOGI GIGITAN ULAR BERBISA .............................................. 13
2.1.5 GEJALA KLINIS ................................................................................................ 14
2.1.6 DIAGNOSA KLINIK .......................................................................................... 17
2.1.7 DERAJAT GIGITAN ULAR (Parrish) ............................................................. 18
2.1.8 TERAPI SABU MENGACU PADA SCHWARTZ DAN WAY (Depkes,
2001): 19
2.1.9 PERTOLONGAN PERTAMA DAN PERAWATAN LANJUTAN ................ 21
2.1.10 PENATALAKSANAAN ..................................................................................... 25
BAB III ........................................................................................................................................ 30
PENUTUP .................................................................................................................................. 30
3.1 KESIMPULAN ........................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 31

3
DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 2.1 Ciriciri ular tidak berbisa & Ular Tidak berbisa, hal 5
2. Gambar 2.2 Bekas Gigitan Ular hal 6
3. Gambar 2.3 Gejala Lokal Gigitan Ular hal 8
4. Gambar 2.5 Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring,
(B) Ular berbisa dengan bekas taring (Sumber : Sentra Informasi
Keracunan Nasional adan POM, 2012) hal 11
5. Gambar 2.6 Metode Pressure imobilisasi (Kaki) hal 19
6. Gambar 2.7 Metode Pressure imobilisasi (Tangan) hal 19

4
DAFTAR TABEL

1. Tabel 2.1 Perbedaan Ular Berbisa dan Ular Tidak Berbisa hal 6
2. Tabel 2.2 Pemberian anti bisa ular menggunakan pedoman dari Parrish hal
12-13
3. Tabel 2.3 CROSS INSISI hal 21-22
4. Tabel 2.4 ENVENOMASI (Keracunan) hal 22

5
DAFTAR BAGAN

1. Bagan 2.1 Proses Masuknya Bisa Ular ke Dalam Tubuh HAL 10


2. Bagan 2.2 Derajat pemberian SABU (Serum Anti Bisa Ular) HAL 13
3. Bagan 2.3 Penanganan Gigitan Ular HAL 21

6
DAFTAR SINGKATAN

1. IKA = (Ilmu Kesehatan Anak)


2. AAPCC = (American Association of Poison Control Centers)
3. RNA = (Ribonukleotida Acid)
4. DNA = (Dinukleotida Acid)
5. ATP = (Adenosine Trifosfat)
6. IM = ( Intra Muskular)
7. SABU = (Serum Anti Bisa Ular)
8. BUN = (Blood Urea Nitrogen)
9. LD50 = (Median Lethal Dose)
10. Fab = (Fragment, antigen-binding)
11. NaCl = (Natrium Clorida)
12. v/v = (Per Volume)
13. ABC = (Airway Breathing and Circulation).
14. EKG = (Elektrocardiogram)

7
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Diperkirakan 15 persen dari 3000 spesies ular yang ditemukan di
seluruh dunia dianggap berbahaya bagi manusia. Dalam tiga tahun terakhir,
AAPCC (American Association of Poison Control Centers) telah melaporkan
rata-rata terdapat 6000 kasus gigitan ular (snake bites) per tahun nya, dan
2000 kasus diantaranya disebabkan oleh ular berbisa. (Gold, Barry S.,Richard,
2002)
Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan
berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat
menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan
sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya
bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan
keracunan.
Di sekeliling kita ada racun alam yang terdapat pada beberapa
tumbuhan dan hewan. Salah satunya adalah gigitan ular berbisa yang sering
terjadi di daerah tropis dan subtropis. Mengingat masih sering terjadi keracunan
akibat gigitan ular maka untuk dapat menambah pengetahuan masyarakat kami
menyampaikan informasi mengenai bahaya dan pertolongan terhadap gigitan
ular berbisa.
Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia.
Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular
berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut
terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya.
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan
mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri.
Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh
kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu kelenjar

8
ludah parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang
mata. Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi
merupakan campuran kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas
enzimatik. Patofisologi atau proses bisa ular masuk ke dalam tubuh untuk
setiap ular kurang lebih sama.

1.2 TUJUAN
1. Bagaimana patofisiologi akibat gigitan ular berbisa?
2. Apakah tanda-tanda gigitan ular berbisa?
3. Bagaimana cara pertolongan pertama dan perawatan lanjutan pada pasien
dengan gigitan ular berbisa?
4. Apa saja komplikasi yang dapat dialami oleh penderita yang mendapatkan
gigitan ular berbisa?

1.3 RUMUSAN MASALAH


1. Mempelajari patofisiologi akibat gigitan ular berbisa
2. Menjelaskan tanda-tanda gigitan ular berbisa
3. Menguraikan cara pertolongan pertama dan perawatan lanjutan pada pasien
dengan gigitan ular berbisa
4. Menjelaskan beberapa komplikasi yang dapat dialami oleh penderita yang
mendapatkan gigitan ular berbisa

9
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PATOFISIOLOGI GIGITAN ULAR


Pada seorang anak yang digigit ular, perlu dilakukan pemeriksaan
apakah ular yang menggigit anak tersebut berbisa atau tidak. (Anik Muryani,
2010). Bisa ular terdiri dari campuran beberapa polipeptida, enzim dan
protein. Jumlah bisa, efek letal dan komposisinya bervariasi tergantung dari
spesies dan usia ular. Bisa ular bersifat stabil dan resisten terhadap
perubahan temperatur. (Gold BS, 2002) Secara mikroskop elektron dapat
terlihat bahwa bisa ular merupakan protein yang dapat menimbulkan
kerusakan pada sel-sel endotel dinding pembuluh darah, sehingga
menyebabkan kerusakan membran plasma. Komponen peptida bisa ular
dapat berikatan dengan reseptor-reseptor yang ada
pada tubuh korban. (Dart RC & Barrish RA, 2002).
Bisa ular diproduksi dan disimpan pada sepasang kelenjar di bawah
mata. Bisa ular dikeluarkan dari lubang pada gigi-gigi taring yang terdapat di
rahang atas. Gigi taring ular dapat tumbuh hingga 20 mm pada rattlesnake
(ular derik) yang besar. Dosis bisa setiap gigitan tergantung pada waktu
yang berlalu sejak gigitan terakhir, derajat ancaman yang dirasakan ular,
dan ukuran mangsa. Lubang hidung ular merespon panas yang dikeluarkan
mangsa, yang memungkinkan ular untuk mengubah-ubah jumlah bisa yang
akan dikeluarkan. Semua metode injeksi venom ke dalam korban
(envenomasi) adalah untuk mengimobilisasi secara cepat dan mulai
mencernanya. Sebagian besar bisa terdiri dari air. Protein enzimatik pada
bisa menginformasikan kekuatan destruktifnya. Bisa ular terdiri dari
bermacam polipeptida yaitu fosfolipase A, hialuronidase, ATP-ase, 5
nukleotidase, kolin esterase, protease, fosfomonoesterase, RNA-ase, DNA-
ase. Mangsa gigitan ular jenis Elapidae, biasanya akan mengalami

10
pendarahan kesan daripada luka yang berlaku pada saluran darah dan
pencairan darah merah yang mana darah sukar untuk membeku.
Pendarahan biasanya akan berterusan selama beberapa hari.
Pendarahan pada gusi, muntah darah, ludah atau batuk berdarah dan air
kencing berdarah adalah kesan nyata bagi keracunan bisa ular jenis
Elapidae. Walaupun tragedi kematian adalah jarang, kehilangan darah yang
banyak akan mengancam nyawa mangsa. Bila tidak mendapat anti venom
akan terjadi kelemahan anggota tubuh dan paralisis pernafasan. Biasanya
full paralysis akan memakan waktu lebih kurang 12 jam, pada beberapa
kasus biasanya menjadi lebih cepat, 3 jam setelah gigitan. Beberapa
Spesies ular dapat menyebabkan terjadinya koagulopathy. Tanda- tanda
klinis yang dapat ditemui adalah keluarnya darah terus menerus dari tempat
gigitan, venipunctur dari gusi, dan bila berkembang akan menimbulkan
hematuria, haematomisis, melena dan batuk darah. Tidak ada cara
sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa.
Beberapa spesies ular tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular
berbisa. Namun, beberapa ular berbisa dapat dikenali melalui ukuran,
bentuk, warna, kebiasaan dan suara yang dikeluarkan saat merasa
terancam. Beberapa ciri ular berbisa adalah bentuk kepala segitiga, ukuran
gigi taring kecil, dan pada luka bekas gigitan terdapat bekas taring.

2.1.1 Ciri ciri ular tidak berbisa :


1. Bentuk kepala segiempat panjang
2. Gigi taring kecil
3. Bekas gigitan luka halus berbentuk lengkungan
2.1.2 Ciri-ciri ular berbisa:
1. Bentuk kepala segitiga
2. Dua gigi taring besar di rahang atas
3. Bekas gigitan dua luka gigitan utama akibat gigi taring

11
Gambar 2.1 Ciriciri ular tidak berbisa & Ular Tidak berbisa

Gambar 2.2 Bekas Gigitan Ular

Tabel 2.1 Perbedaan Ular Berbisa dan Ular Tidak Berbisa


Tidak berbisa Berbisa
Bentuk Kepala Bulat Elips, Segitiga
Gigi Taring Gigi Kecil 2 gigi taring besar
Bekas Gigitan Lengkung seperti U Terdapat 2 titik
Warna Warna Warni Gelap

2.1.3 SIFAT BISA ULAR :


Bisa ular mengandung toksin yang berasal dari air liur. Bisa tersebut
bersifat:

12
- Neurotoksin: berakibat pada sistem saraf dan otak. Berakibat fatal
karena paralise otot-otot lurik. Manifestasi klinis: kelumpuhan otot pernafasan,
kardiovaskuler yang terganggu, derajat kesadaran menurun sampai dengan
koma.
- Haemotoksin: berakibat pada jantung dan pembuluh darah dan
bersifat hemolitik dengan zat antara fosfolipase dan enzim lainnya atau
menyebabkan koagulasi dengan mengaktifkan protrombin. Perdarahan itu
sendiri sebagai akibat lisisnya sel darah merah karena toksin. Manifestasi klinis:
luka bekas gigitan yang terus berdarah, haematom pada tiap suntikan IM,
hematuria, hemoptisis, hematemesis, gagal ginjal.
- Myotoksin: mengakibatkan efek pada jaringan otot. Myoglobulinuria
yang menyebabkan kerusakan ginjal dan hiperkalemia akibat kerusakan sel-sel
otot.
- Cytotoksin: Bekerja pada lokasi gigitan dengan melepaskan histamin
dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat terganggunya kardiovaskuler.
Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa pada
korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang diinjeksikan
ketubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan dan kaki menjadi kaku,
dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda gigitan ular akan bervariasi sesuai
spesies ular yang menggigit dan banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban.
Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah tanda gigitan taring (fang marks),
nyeri lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan kelenjar getah bening, radang,
melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan (terutama akibat gigitan ular dari famili
Viperidae).

2.1.4 PATOFISIOLOGI GIGITAN ULAR BERBISA


Bisa ular diproduksi dan disimpan dalam sepasang kelenjar yang berada di
bawah mata. Bisa dikeluarkan dari taring berongga yang terletak di rahang atasnya.
Taring ular dapat tumbuh hingga 20 mm pada rattlesnake besar. Dosis bisa ular tiap
gigitan bergantung pada waktu yang terlewati sejak gigitan pertama, derajat ancaman
yang diterima ular, serta ukuran mangsanya. Lubang hidung merespon terhadap emisi
panas dari mangsa, yang dapat memungkinkan ular untuk mengubah jumlah bisa yang
dikeluarkan. Bisa biasanya berupa cairan. Protein enzimatik pada bisa menyalurkan
bahan-bahan penghancurnya. Protease, kolagenase, dan arginin ester hidrolase telah
diidentifikasi pada bisa pit viper. Efek lokal dari bisa ular merupakan penanda potensial

13
untuk kerusakan sistemik dari fungsi sistem organ. Salah satu efeknya adalah
perdarahan lokal, koagulopati biasanya tidak terjadi saat venomasi. Efek lainnya,
berupa edema lokal, meningkatkan kebocoran kapiler dan cairan interstitial di paru-
paru. Mekanisme pulmoner dapat berubah secara signifikan. Efek akhirnya berupa
kematian sel yang dapat meningkatkan konsentrasi asam laktat sekunder terhadap
perubahan status volume dan membutuhkan peningkatan minute ventilasi. Efek
blokade neuromuskuler dapat menyebabkan perburukan pergerakan diafragma. Gagal
jantung dapat disebabkan oleh asidosis dan hipotensi. Myonekrosis disebabkan oleh
myoglobinuria dan gangguan ginjal. (Daley, Brian James MD, 2010)

2.1.5 GEJALA KLINIS


Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua
gigitan ular.
1. Gejala lokal:
a. Tanda gigitan taring (fang marks)
b. Nyeri lokal
c. Pendarahan lokal
d. Kemerahan
e. Limfangitis (peradangan / pembagkakan pembuluh limfatik)
f. Pembesaran kelenjar limfe
g. Inflamasi (bengkak, merah, panas)
h. Melepuh
i. Infeksi lokal, terbentuk abses
j. Nekrosis (kematian sel)

14
Gambar 2.3 Gejala Lokal Gigitan Ular
2. Gejala sistemik:
a. Umum (general)
mual, muntah, nyeri perut, lemah, mengantuk, lemas.
b. Kardiovaskuler (viperidae)
gangguan penglihatan, pusing, pingsan, syok, hipotensi, aritmia jantung,
edema paru, edema konjungtiva (chemosis).
c. Pendarahan dan gangguan pembekuan darah (Viperidae)
Pendarahan yang berasal dari luka yang baru saja terjadi (termasuk
pendarahan yang terus-menerus dari bekas gigitan (fang marks) dan dari
luka yang telah menyembuh sebagian (oldrus mene parttly-healed wounds),
pendarahan sistemik spontan dari gusi, epitaksis, pendarahan intrakranial
(meningism, berasal dari pendarahan subdura, dengan tanda lateralisasi dan
atau koma oleh pendarahan cerebral), hemoptisis, perdarahan perektal
(melena), hematuria, perdarahan pervaginam, perdarahan antepartum pada
wanita hamil, perdarahan mukosa (misalnya konjungtiva), kulit (peteki,
purpura, perdarahan diskoid, echimosis), serta perdarahan retina.
d. Neurologis (Elapide, Russel Viper)
Mrngantuk, parestesia, abnormalitas pengucapan dan pembahuan,
potosis,oftalmoplegia eksternal, paralisis otot wajah dan otot lainnya yang
dipersyarafi nervus cranialais, suara sengau atau afonia, regurgitasi cairan
melalui hidung, kesulitan untuk menelan sekret, paralisis otot pernafasan
dan flasid generalisata.

15
e. Destruksi Otot Skeletal (Sea Snake, beberapa spesies kraits, bungarus
niger and B. Candidus, western Russells viper Daboia russelli)
Nyeri seluruh tubuh, kaku dan nyeri pada otot, trismus, miolobinuria,
hiperkalemia, henti jantung, gagal ginjal akut.
f. Sistem Perkemihan
Nyeri pungggung bawah, hematuria, hemoglobinria, mioglobinuria,
oligoria atau anuria, tanda dan gejala uremia (pernafasan asidosis, hiccup,
mual, nyeri pleura, dll)
g. Gejala Endokrin
Insufisiensi hipofisis atau kelenjar adrenal yang disebabkan
infrakhipofisis anterior. Pada fase akut : Syok, hipoglikemia. Fase kronik
(beberapa bulan hingga tahun setelah gigitan) : kelemahan, kehilangan
rambut seksual sekunder, kehilangan libido, aminoria, atrofi testis,
hipotyroidsm.

Bagan 2.1 Proses Masuknya Bisa Ular ke Dalam Tubuh

16
2.1.6 DIAGNOSA KLINIK
Anamnesis yang tepat seputar gigitan ular serta progresifitas gejala
dan tanda baik lokal dan sistemik merupakan hal yang sangat
penting.
Empat pertanyaan awal yang bermanfaat :
1. pada bagian tubuh mana anda terkena gigitan ular? Dokter dapat
melihat secara cepat bukti bahwa pasien telah digigit ular (misalnya,
adanya bekas taring) serta asal dan perluasan tanda envenomasi
lokal.
2. kapan dan pada saat apa anda terkena gigitan ular? Perkiraan
tingkat keparahan envenomasi bergantung pada berapa lama waktu
berlalu sejak pasien terkena gigitan ular. Apabila pasien tiba di rumah
sakit segera setelah terkena gigitan ular, bisa didapatkan sebagian
kecil tanda dan gejala walaupun sejumlah besar bisa ular telah
diinjeksikan. Bila pasien digigit ular saat sedang tidur, kemungkinan
ular yang menggigit adalah Kraits (ular berbisa), bila di daerah
persawahan, kemungkinan oleh ular kobra atau russel viper (ular
berbisa), bila terjadi saat memetik buah, pit viper hijau (ular berbisa),
bila terjadi saat berenang atau saat menyebrang sungai, kobra (air
tawar), ular laut (laut atau air payau).
3. perlakuan terhadap ular yang telah menggigit anda? Ular yang
telah menggigit pasien seringkali langsung dibunuh dan dijauhkan
dari pasien. Apabila ular yang telah menggigit berhasil ditemukan,
sebaiknya ular tersebut dibawa bersama pasien saat datang ke
rumah sakit, untuk memudahkan identifikasi apakah ular tersebut
berbisa atau tidak. Apabila spesies terbukti tidak berbahaya (atau
bukan ular samasekali) pasien dapat segera ditenangkan dan
dipulangkan dari rumah sakit.
4. apa yang anda rasakan saat ini? Pertanyaan ini dapat membawa
dokter pada analisis sistem tubuh yang terlibat. Gejala gigitan ular
yang biasa terjadi di awal adalah muntah. Pasien yang mengalami
trombositopenia atau mengalami gangguan pembekuan darah akan
mengalami perdarahan dari luka yang telah terjdi lama. Pasien
sebaiknya ditanyakan produksi urin serta warna urin sejak terkena
gigitan ular. Pasien yang mengeluhkan kantuk, kelopak mata yang

17
serasa terjatuh, pandangan kabur atau ganda, kemungkinan
menandakan telah beredarnya neurotoksin.
Pemeriksaan fisik
Tidak ada cara yang sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa yang
berbahaya. Beberapa ular berbisa yang tidak berbahaya telah berkembang
untuk terlihat hampir identik dengan yang berbisa. Akan tetapi, beberapa ular
berbisa yang terkenal dapat dikenali dari ukuran, bentuk, warna, pola sisik,
prilaku serta suara yang dibuatnya saat merasa terancam.2. Beberapa ciri ular
berbisa adalah bentuk kelapa segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan pada luka
bekas gigitan tedapat bekas gigi taring.

Gambar 2.5 Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas taring, (B)
Ular berbisa dengan bekas taring (Sumber : Sentra Informasi Keracunan
Nasional adan POM, 2012)

2.1.7 DERAJAT GIGITAN ULAR (Parrish)


1. Derajat 0 :
- Tidak ada gejala sistemik sampai 12 jam
- Pembengkakan minimal, diameter 1 cm 2.
2. Derajat I :
- Bekas gigitan 2 taring
- Bengkak dengan diameter 1 5 cm
- Tidak ada tanda-tanda sistemik setelah 12 jam
3. Derajat II :
- Sama dengan derajat I
- Petechie, echimosis
- Nyeri hebat dalam 12 jam

18
4. Derajat III :
- Sama dengan derajat I dan II
- Syok dan distres nafas / petechie, echimosis seluruh tubuh
5. Derajat IV :
- Sangat cepat memburuk.

Tabel 2.2 Pemberian anti bisa ular menggunakan pedoman dari Parrish
Derajat Venerasi Luka Gigit Nyeri Udem/eritema Tanda
Sistemik
0 0 + +/- <3cm/12jam 0
I +/- + + <3cm/12jam 0
II + + +++ >12cm- +,
25cm/12jam Neurotoksik,
muaal,
pusing, syok
III ++ + +++ >25cm/12jam ++, syok,
petekie,
ekimosis
IV +++ + +++ Pada satu ++,
ekstremitas gangguan
secara faal ginjal,
menyeluruh koma,
pendarahan.

2.1.8 TERAPI SABU MENGACU PADA SCHWARTZ DAN WAY (Depkes, 2001):
1. Derajat 0 dan I tidak diperlukan SABU, dilakukan evaluasi dalam 12 jam, jika derajat
meningkat maka diberikan SABU
2. Derajat II: 3-4 vial SABU
3. DerajatIII:5-15vialSABU
4. Derajat IV: berikan penambahan 6-8 vial SABU

19
Bagan 2.2 Derajat pemberian SABU (Serum Anti Bisa Ular)

Anti bisa ular harus diberikan segera setelah memenuhi indikasi. Anti bisa ular dapat
melawan envenomasi (keracunan) sistemik walaupun gejala telah menetap selama
beberapa hari, atau pada kasus kelainan haemostasis, yang dapat belangsung dua
minggu atau lebih. Untuk itu, pemberian anti bisa tepat diberikan selama terdapat bukti
terjadi koagulopati persisten. Apakah antibisa ular dapat mencegah nekrosis lokal
masih menjadi kontroversi, namun beberapa bukti klinins menunjukkan bahwa agar
antibisa efektif pada keadaan ini, anti bisa ular harus diberikan pada satu jam pertama
setelah gigitan.

20
2.1.9 PERTOLONGAN PERTAMA DAN PERAWATAN LANJUTAN
Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi
gigitan ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilakukan oleh
korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan pertolongan
pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa, mempertahankan hidup
korban dan menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di
rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Kemudian
segera bawa korban ke tempat perawatan medis.
Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang
cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit dengan
cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot,
karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke
dalam aliran darah dan getah bening; pertimbangkan pressure-immobilisation
pada gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap luka gigitan karena dapat
meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan pendarahan lokal.
Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara
yang aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot
untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan laboratorium :
1. Penghitungan jumlah sel darah
2. Pro trombine time dan activated partial tromboplastin time
3. Fibrinogen dan produk pemisahan darah
4. Tipe dan jenis golongan darah
5. Kimia darah, termasuk elektrolit, BUN dan Kreatinin
6. Urinalisis untuk myoglobinuria
7. Analisis gas darah untuk pasien dengan gejala sistemik
b. Pemeriksaan radiologis :
1. Thorax photo untuk pasien dengan edema pulmonum
2. Radiografi untuk mencari taring ular yang tertinggal
c. Pemeriksaan lainnya : Tekanan kompartemen dapat perlu diukur. Secara
komersialtersedia alat yang steril, sederhana untuk dipasang atau dibaca, dan
dapat dipercaya (seperti Styker pressure monitor). Indikasi pengukuran tekanan
kompartemen adalah bila terdapat pembengkakan yang signifikan, nyeri yang

21
sangat hebat yang menghalangi pemeriksaan, dan jika parestesi muncul pada
ekstremitas yang tergigit
Kandungan Serum Anti Bisa Ular
Tiap ml dapat menetralisasi :
a. Bisa ular Ankystrodon rhodosoma 10-50 LD
b. Bisa ular Bungarus Fascinatus 25-50 LD
c. Bisa ular Naya Sputatrix 25-50 LD
d. Dan mengandung Fenol 0,25% sebagai pengawet.
Efek Samping Serum Anti Bisa Ular
Meskipun pemberian anti serum akan menimbulkan kekebalan pasif dan
memberikan perlindungan untuk jangka pendek, tetapi pemberiannya harus
hati-hati, mengingat kemunkinan terjadinya reaksi sampingan yang dapat
berubah :
1.Reaksi Anafilaktik
Dapat timbul dengan segera atau beberapa jam setelah suntikan
2. Penyakit serum
Dapat timbul 7-10 hari setelah suntikan dan dapat berupa kenaikan
suhu, gatal-gatal, sesak nafas dll, gejala alergi reaksi ini jarang timbul ila
digunakan serum yang sudah murnikan.
3. Kenaikan suhu ( demam ) dengan menggigil
Biasanya timbul setelah pemberian serum secara intravena.
4. Rasa nyeri ppada suntikan.
Biasanya timbul pada penyuntikan serum dengan jumlah besar reaksi
ini terjadi dalam pemberian 24 jam.
Oleh kerena itu, pemberian serum harus diberikan atas indikasi yang tajam.

Indikasi SABU (Serum Anti Bisa Ular) adalah adanya gejala venerasi sistemik dan
edema hebat pada bagian luka.
Pedoman terapi SABU mengacu pada Schwartz dan Way (Depkes, 2001) :
1. Derajat 0 dan I tidak diperlukan SABU, dilakukan evaluasi dalam 12 jam,
jika derajat meningkat maka diberikan SABU
2. Derajat II: 3-4 vial SABU
3. Derajat III: 5-15 vial SABU
4. Derajat IV: berikan penambahan 6-8 vial SABU

22
ANTIDOT
Pada tahun 2000 bulan Desember terdapat produk baru yaitu Crotalinae
Polyvalent Immune Fab (ovine) antivenon yang berasal dari serum domba. Serum
Fab ini ternyata lima kali lebih poten dan efektif sebagai anti bisa dan jarang
terdapat komplikasi akibat pem- beriannya. Penggunaan serum Fab dianjurkan
diencer- kan dalam 250 ml NaCl 0,9% dan pemberiannya lebih dari satu jam
melalui intravena.
Untuk pasien yang masih sangat kecil (berat badan kurang dari 10 kg), volume
cairan dapat disesuaikan. Jumlah penggunaan anti bisa ular tergantung derajat
beratnya kasus. Kasus dengan derajat none tidak diberikan anti bisa, untuk kasus
dengan derajat minimal diberikan 1-5 vial sedangkan moderate dan severe lebih
dari 15 vial
DESKRIPSI
Serum Anti Bisa Ular Polivalen adalah an- tisera murni yang dibuat dari plasma
kuda yang memberikan kekebalan terhadap bisa ular yang bersifat neurotoksik
(seperti ular dari jenis Naja sputatrix Ular Kobra, Bungarus fasciatus Ular
Belang) dan yang bersifat hemotoksik (ular Agkistrodon rho- dostoma Ular
Tanah) yang banyak ditemu- kan di Indonesia, serta mengandung fenol sebagai
pengawet. Serum Anti Bisa Ular Polivalen berupa cairan bening kekuningan.
SUB KELAS TERAPI : Obat yang Mempengaruhi Sistem Imun
KOMPOSISI :
Zat aktif :
- Setiap mL mengandung anti bisa ular :
Agkistrodon rhodostoma 10 LD50
Bungarus fasciatus 25 LD50
Naja sputatrix 25 LD50
- Zat tambahan:
- Fenol 2,5 mg
INDIKASI :
Untuk pengobatan terhadap gigitan ular berbisa dari jenis Naja sputatrix,
Bungarus fasciatus, Agkistrodon rhodostoma.
CARA KERJA OBAT :
Imunisasi pasif, pada penyuntikan dimasuk- kan zat-zat Anti yang
mampu menetralisir bisa ular yang beredar dalam darah penderita.
POSOLOGI :

23
Jumlah dosis yang tepat tergantung tingkat keparahan penderita pada
saat akan menerima antisera.
Dosis pertama sebanyak 2 vial @ 5 mL yang bila ditambahkan ke dalam
larutan fisiologis menjadi larutan 2 % v/v dan diberikan sebagai cairan infus
dengan kecepatan 40-80 tetes/ menit, diulang 6 jam kemudian.
Apabila diperlukan (misalnya dalam keadaan gejala-gejala tidak
berkurang atau bertambah) Serum Anti Bisa Ular Polivalen dapat terus
diberikan setiap 24 jam sampai mak- simum 80 100 mL. Serum Anti Bisa Ular
Polivalen yang tidak diencerkan dapat diberikan langsung sebagai suntikan
intravena dengan sangat perlahan-lahan.

Dosis Serum Anti Bisa Ular Polivalen untuk anak-anak sama dengan dosis
untuk orang dewasa. Lakukan uji kepekaan terlebih dahulu, bila peka lakukan
desensitisasi.
Pemberian secara Intravena :
1. Hasil uji kepekaan harus negatif
2. Penyuntikan harus dilakukan secara perlahan
3. Penderita harus diamati paling sedikit selama 1 (satu) jam
INTERAKSI OBAT :
Belum ada interaksi signifikan yang dilaporkan.

PENGARUH ANAK :
Anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar terhadap envenoming
yang parah karena massa tubuh yang lebih kecil dan kemungkinan aktivitas
fisik yang lebih besar. ;Anak-anak membutuhkan dosis yang sama dengan
dewasa, dan tidak boleh diberikan dosis anak berdasarkan berat badan
(pediatric weight-adjusted dose); disebabkan hal ini dapat menimbulkan
perkiraan dosis yang lebih rendah. Jumlah serum anti bisa ular yang diperlukan
tergantung dari jumlah bisa ular yang perlu dinetralisasi bukan berat badan
pasien.
KONTRAINDIKASI :
Penderita yang terbukti alergi terhadap antisera kuda.
PERINGATAN & PERHATIAN :
Karena tidak ada reaksi netralisasi silang (cross-neutralization) Serum
Anti Bisa Ular Polivalen ini tidak berkhasiat terhadap gigitan ular yang terdapat

24
di Indonesia bagian Timur (misalnya ular-ular dari jenis Acanthopis antarticus,
Xyuranus scuttelatus, Pseudechis papuanus dan lain-lain) dan terhadap gigitan
ular laut (Enhydrina cystsa). Dapat diberikan pada pasien dengan riwayat
penyakit asma berat jika sudah menunjukkan tanda-tanda keracunan sistemik.
Bukan untuk pemberian lokal pada tempat yang digigit. Perhatikan Petunjuk
Pemakaian Anti- sera.
PENYIMPANAN :
Serum anti bisa ular harus disimpan pada suhu antara +2C s/d +8C.
JANGAN DIBEKUKAN. Masa daluarsa 2 tahun.
KEMASAN :
Dus : 10 Vial @ 5 mL & BIOSAVE Dus : 1 vial @ 5 mL

2.1.10 PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan pada kasus gigitan ular berbisa adalah :
1. Menghalangi / memperlambat absorbsi bisa ular
2. Menetralkan bisa ular yang sudah masuk kedalam sirkulasi darah
3. Mengatasi efek local dan sistemik.
SEBELUM PENDERITA DIBAWA KE PUSAT PELAYANAN KESEHATAN,ADA
BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN :
1. Luka dicuci dengan air bersih atau dengan larutan kalium permanganate
untuk menghilangkan atau menetralisir bisa ular yang belum terabsorpsi.
2. Penderita di istirahatkan dalam posisi horizontal terhadap luka gigitan.
3. Jangan memanipulasi daerah gigitan
4. Penderita dilarang berjalan dan minum minuman yang ber alcohol.
5. Apabila gejala timbul secara cepat,sementara belum tersedia Anti Bisa
Ular,maka ikat daerah proksimal dan distal dari gigitan. Tindakan ini berguna
jika dilakukan sekitar lebih dari 30 menit paska gigitan ular. Tujuannya
adalah : Menahan aliran limfe , bukan menahan aliran vena atau arteri.
6. Lakukan kemudian imobilisasi anggota badan yang digigit dengan cara
memasang bidai karena gerakan otot dapat mempercepat penyebaran
racun.

25
Gambar 2.6 Metode Pressure imobilisasi (Kaki)

Gambar 2.7 Metode Pressure imobilisasi (Tangan)

7. Bila mungkin anggota badan yang digigit didinginkan dengan es batu


SETELAH PENDERITA TIBA DI PUSAT PELAYANAN KESEHATAN :
1. Dibawa ke Emergency Room, dan melakukan ABC (Penatalaksanaan Airway
Breathing and Circulation).

26
2. Pada penatalaksanaan sirkulasi,berikan infuse (Cairan yang bersifat
Kristaloid)
3. Beri pertolongan pertama pada gigitan (perban ketat luka gigitan,imobilisasi
dengan bidai bila perlu).
4. Sampel darah untuk pemeriksaan : Trombosit, Kreatinin, Urea dan, elektrolit
5. Periksa waktu pembekuan darah,jika >10 menit,maka menunjukan
kemungkinan adanya koagulopati.
6. Berikan SABU (Serum Anti Bisa Ular,Serum kuda yang di kebalkan)Polivalen
1 ml.

27
Bagan 2.3 Penanganan Gigitan Ular

KETERANGAN BAGAN :
1. CROSS INSISI
Tabel 2.3 CROS INSISI
Setelah tergigit Bisa yang Dapat Terbuang
3 menit 90 %

28
15 30 menit 50%
1 jam 1%

2. TANDA ENVENOMASI (KERACUNAN) GIGITAN ULAR BERBISA


Tabel 2.4 ENVENOMASI (Keracunan)
LOKAL ( pada bekas gigitan) Sistemik
a. Tanda gigitan taring (fang Umum (general) : mual, muntah, nyeri
marks) perut, lemah, mengantuk, lemas.
b. Nyeri lokal Kelainan hemostatik : perdarahan
c. Perdarahan lokal spontan (klinis), koagulopati, atau
d. Kemerahan trombositopenia. Gejala neurotoksik :
e. Limfangitis ptosis, oftalmoplegia eksternal,
f. Pembesaran kelenjar limfe paralisis, dan lainnya. Kelainan
g. Inflamasi (bengkak, merah, Kardiovaskuler : hipotensi, syok,
panas) arritmia (klinis), kelainan EKG.
h. Melepuh Cidera ginjal akut (gagal ginjal) :
i. Infeksi lokal, terbentuk abses oligouria/anuria (klinis), peningkatan
j. Nekrosis kreatinin/urea urin (hasil laboratorium).
Hemoglobinuria/mioglobinuria : urin
coklat gelap (klinis), dipstik urin atau
bukti lain akan adanya hemolisis
intravaskuler atatu rabdomiolisis
generalisata (nyeri otot, hiperkalemia)
(klinis, hasil laboratorium). Serta
adanya bukti laboratorium lainnya
terhadap tanda venerasi.

29
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa
pada korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang
diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan dan
kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda gigitan
ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan banyaknya bisa
yang diinjeksikan pada korban.
Korban yang terkena gigitan ular harus segera diberi pertolongan
pertama sebelum dibawa dan dirawat di rumah sakit. Pada umumnya terjadi
salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular. Untuk mengobati korban
gigitan ular dianjurkan menggunakan serum anti bisa ular.

30
DAFTAR PUSTAKA

Muryani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: Tim/Trans Info
Media

Sumitro, A. 2009. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: Tim/Trans Info
Media

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2011. Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika

Ball, J. 1999. Pediactric Nursing Caring For Children. Singapura: A Simon & Schuster
Company.

Gold, Barry S.,Richard C. Dart.Robert Barish. 2002. Review Article : Current Concept
Bites Of Venomous Snakes. N Engl J Med, Vol. 347, No. 5August 1, 2002

WHO. 2005. Guidelines for The Clinical Management of Snake Bite in The South East
Asia Region.

Kasturiratne A, Wickremasinghe AR, de Silva N, Gunawardena NK, Pathmeswaran A,


et al. 2008. The Global Burden of Snakebite: A Literature Analysis and Modelling
Based on Regional Estimates of Envenoming and Deaths. PLoS Med 5(11): e218.
doi:10.1371/journal.pmed.0050218

SMF Bedah RSUD DR. R.M. Djoelham Binjai. 2000. Gigitan Hewan. Availabke from :
www.scribd.com/doc/81272637/Gigitan-Hewan

Sentra Informasi Keracunan Nasional Badan POM, 2012. Penatalaksanaan Keracunan


Akibat Gigitan Ular Berbisa. Available from : www.pom.id (diakses pada 30 Maret
2012)

Hafid, Abdul, dkk., 1997. Bab 2 : Luka, Trauma, Syok, Bencana : Gigitan Ular. Buku
Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC : Jakarta. Hal. 99-100

Daley, Brian James MD. 2010. Snake bite : patophysiology. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/168828-overview#a0104

Emedicine Health. 2005. Snakebite. available from :


http://www.emedicinehealth.com/snakebite/article_em.htm#Snakebite

31
Depkes. 2001. Penatalaksanaan gigitan ular berbisa. Dalam SIKer, Dirjen POM
Depkes RI. Pedoman pelaksanaan keracunan untuk rumah sakit.

Wangoda R., Watmon B. Kisige M. 2002. Snakebite Management : Experience From


Gulu Regional Hospital Uganda.

32