Anda di halaman 1dari 30

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah S.W.T. karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis akhirnya
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul AUDIT ASET TETAP BERWUJUD dalam
memenuhi tugas kelompok Pemeriksaan Akuntansi 2.

Keberhasilan dalam penyusunan makalah ini tentu tidak lepas dari beberapa pihak yang
ikut membantu demi kelancaran dan kesempurnaannya, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyak kepada semua
yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
kekurangan. Namun kami telah berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk memperoleh hasil
makalah dengan baik. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.

Bekasi, 10 Maret 2017

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................................1

DAFTAR ISI ...................................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..........................................................................................................................3


1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................................................3
1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Aktiva Tetap Berwujud .......5


2.2 Perlakuan Akuntansi .......7
2.2.1 Cara-cara Perolehan Aktiva Tetap Berwujud......7
2.2.2 Penyusutan Aktiva Tetap Berwujud .......................................................................8
2.2.3 Biaya-biaya Selama Masa Penggunaan Aktiva Tetap Berwujud .........................11
2.2.4 Pemberhentian Aktiva Tetap Berwujud.................................................................12
2.3 SPI (Sistem Pengendalian Internal)...................................................................................12
2.4 Prosedur Audit...13
2.5 Audit Objective (Tujuan Pemeriksaan) Aktiva Tetap Berwujud...27

BAB III KESIMPULAN....28

Daftar Pustaka ...........................................................................................................................29

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Secara umum tujuan utama didirikannya sebuah perusahaan adalah untuk memperoleh
laba yang optimal atas investasi yang telah ditanamkan dan dapat mempertahankan
kelancaran usaha dalam jangka waktu yang panjang. Salah satu investasi tersebut adalah
aktiva yang digunakan dalam kegiatan normal perusahaan yaitu aktiva yang mempunyai
umur ekonomis lebih dari satu tahun. Untuk mencapainya diperlukan pengelolaan yang
efektif dalam penggunaan, pemeliharaan maupun pencatatan akuntansinya.
Bersama dengan berlalunya waktu nilai ekonomis suatu aktiva tetap tersebut harus dapat
dibebankan secara tetap dan salah satu caranya adalah dengan menentukan metode
penyusutan. Untuk itu perlu diketahui apakah metode penyusutan yang telah diterapkan oleh
perusahaan telah memperhatikan perubahan nilai aktiva tetap yang menurun yang disebabkan
karena berlalunya waktu atau menurunnya manfaat yang diberikan aktiva tersebut.
Aktiva tetap biasanya merupakan bagian investasi yang cukup besar dalam jumlah
keseluruhan asset perusahaan. Besarnya investasi yang ditanamkan dalam aktiva tetap
menjadikan aktiva tetap itu perlu mendapatkan perhatian yang serius. Tidak hanya pada
penggunaan dan operasinya saja tetapi juga dalam akuntansinya yang biasanya mencakup
perolehan aktiva tetap, penghentian atau pelepasan aktiva tetap, serta penyajian dan
pengungkapannya dalam laporan keuangan.
Oleh karena itu, perlunya untuk mengetahui serta memahami secara rinci tentang aktiva
tetap baik aktiva tetap berwujud maupun tidak berwujud. Dengan cara demikian kita mampu
mengaplikasikan apa saja yang terdapat di dalam aktiva tetap sebuah perusahaan. Namun
untuk mendapatkan rincian yang baik terhadap aktiva tetap, diperlukan pengendalian
terhadap aktiva berupa pengujian substantif.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengn aktiva tetap?
2. Apakah yang dimaksud dengan aktiva tetap berwujud?
3. Apa saja yang termasuk ke dalam aktiva tetap berwujud?

3
4. Apa saja unsur-unsur perlakuan akuntansi pada aktiva tetap berwujud yang harus
diperhatikan dalam pemeriksaan akuntansi?
5. Apa saja unsur-unsur utama dari sistem pengendalian internal atas aktiva tetap berwujud?
6. Bagaimana prosedur audit atas aktiva tetap berwujud?
7. Apa tujuan dilakukannya pemeriksaan aktiva tetap berwujud?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan aktiva tetap dan penggolongan aktiva tetap
berwujud.
2. Untuk mengetahui unsur-unsur perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap berwujud yang
harus diperhatikan dalam pemeriksaan akuntansi.
3. Untuk mengetahui unsur-unsur utama dari sistem pengendalian internal atas aktiva tetap
berwujud.
4. Untuk mengetahui prosedur audit atas aktiva tetap berwujud.
5. Untuk mengetahui tujuan dilakukannya pemeriksaan aktiva tetap berwujud.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Aktiva Tetap Berwujud


Menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No.16):
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan
dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk
dijual dalam kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun.
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP No.07):
Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan
diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur
dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan
jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah
dan budaya.
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih 7 dari 12 (dua belas)
bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat
umum.
Menurut SAK ETAP (IAI, 2009,68):
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang:
a) Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang/jasa, untuk
disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
b) Diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.
Suatu benda berwujud harus diakui sebagai suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva
tetap bila:
a) Besar kemungkinan (Portable) bahwa manfaat keekonomian di masa akan datang
yang berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke dalam perusahaan; dan
b) Biaya perolahan aktiva dapat diukur secara andal.
Beberapa sifat atau ciri aktiva tetap berwujud:

5
1) Tujuan dari pembeliannya bukan untuk dijual kembali atau diperjualbelikan sebagai
barang dagangan, tetapi untuk digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.
Sifat pertama dari aktiva tetap tersebut yang membedakan aktiva tetap dari persediaan
barang dagangan. Misalnya mobil yang dimilki PT. Astra sebagai produsen mobil,
hasil produksi/rakitan yang berupa mobil untuk dijual harus digolongkan sebagai
persediaan barang dagangan (Inventory), sedangkan mobil yang dipakai untuk antar
jemput pegawai, digunakan oleh direksi dan para manajer perusahaan harus
digolongkan sebagai aktiva tetap.
2) Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Sifat kedua dari aktiva tetap, merupakan salah satu alasan mengapa aktiva tetap harus
disusutkan. Biaya penyusutan merupakan alokasi dari biaya penggunaan aktiva tetap
selama masa manfaatnya, secara sistematis dan teratur (menggunakan metode tertentu
yang diterapkan secara konsisten).
3) Jumlahnya cukup material.
Sifat ketiga merupakan salah satu alasan mengapa setiap perusahaan harus
mempunyai kebijakan kapitalisasi, yang membedakan antara capital expenditure dan
revenue expenditure. capital expenditure adalah suatu pengeluaran modal yang
jumlahnya material dan mempunyai manfaat lebih dari satu tahun. revenue
expenditure adalah suatu pengeluaran yang jumlahnya tidak material walaupun masa
mmanfaatnya mungkin lebih dari satu tahun. Selain itu revenue expenditure
merupakan pengeluaran yang dilakukan dalam rangka menghasilkan pendapatan dan
dibebankan ke dalam laba rugi pada saat terjadinya beban tersebut. Misalnya
pembeliaan mesin tik, meja tulis yang harga per unitnya kurang dari Rp.500.000,-
bagi perusahaan yang besar (misalkan Pertamina) akan merupakan revenue
expenditure, tetapi bagi perusahaan yang kecil (misalkan kantor akuntan kecil) akan
merupakan capital expenditure.
Fixed tangible assets/ aktiva tetap berwujud (aktiva tetap yang mempunyai wujud/bentuk,
bisa dilihat, bisa diraba). Yang termaksuk fixed tangible assets misalnya:
a) Tanah (Land) yang diatasnya dibangun gedung kantor, pabrik atau rumah. Tanah ini
biasanya tidak dususutkan (menurut SAK maupun peraturan pajak). Tanah bisa
dimiliki dalan bentuk hak milik, hak guna bangunan (biasanya jika kita membeli

6
rumah dari real estate) yang mempunyai jangka waktu 20-30 tahun, hak guna usaha
dan hak pakai. Perlu diperhatikan bahwa perusahaan asing dan mancanegara asing
tidak diperbolehkan membeli tanah dengan hak milik.
b) Gedung (Building) termasuk pagar, lapangan parkir, taman, mesin-mesin (Mechiney),
Peralatan (Equipment), Furniture & Fixtures (meja, kursi), Delivery
Equipment/Vehicles (mobil, motor, kapal laut, pesawat terbang).
c) Natural Resources (Sumber Alam), seperti pertambangan minyak, batu bara, emas,
marmer dan hak pengusahaan hutan (HPH). Natural Resources ini harus dideplasi,
bukan disusutkan, pada saat sumber alam tersebut mulai menghasilkan.

2.2 Perlakuan Akuntansi


2.2.1 Cara-cara Perolehan Aktiva Tetap Berwujud.
Aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara, dimana masing-masing cara
perolehan akan mempengaruhi harga perolehan, berikut bahasan tentang harga
perolehanan.
a. Pembelian Tunai.
Aktiva tetap berwujud yang diperoleh dari pembelian tunai dicatat dalam
buku- buku dengan jumlah sebesar uang yang dikelurkan.
b. Pembelian secara Angsuran.
Jika aktiva tetap dari pembelian angsuran, maka dalam harga perolehan aktiva
tetaptidak termasuk oleh bunga. Bunga bunga selama masa angsuran baik
jelas-jelasdinyatakan maupun tidak dinyatakan sendiri, harus dikeluarkan dari
harga perolehan dan dibebankan sebagaai biaya bunga.
c. Perolehan Melalui Pertukaran.
Ditukar dengan Surat-surat berharga.
Aktiva tetap yang diperoleh dengan cara ditukar dengan saham atau
obligasi perusahaan, dicatat dalam buku sebesar harga pasar saham
atau obligasi yang digunakan sebagai penukaran.
Ditukar dengan aktiva tetap yang lain

7
Banyak pembelian aktiva tetap dilakukan dengan cara tukar-menukar
atau sering disebut tukar tambah. Dimana aktiva lama digunakan untuk
membayar harga aktiva baru, baik seluruhnya atau sebagian dimana
kekurangan dibayar tunai. Ada dua jenis pertukaran, antara lain :
1) Pertukaran aktiva tetap yang tidak sejenis.
Merupakan pertukaran aktiva tetap yang sifat dan fungsinya
tidak sama seperti pertukaran tanah dengan mesin-mesin atau
tanah dengan gedung lainnya.
2) Pertukaran aktiva tetap sejenis.
Merupakan pertukaran aktiva tetap yang sifat dan fungsinya
sama, seperti pertukaran mesin produk merk A dengan merk B.

d. Diperoleh dari hadiah atau Donasi.


Aktiva tetap yang diperoleh dari hadiah atau donasi, pencatatannya bisa
dilakukan menyimpang dari prinsip harga perolehan.
e. Aktiva yang dibuat sendiri.
Perusahaan mungkin membuat sendiri aktiva tetap yang diperlukan seperti
gedung, alat-alat dan perabotan. Pembuatan aktiva ini biasanya dengan tujuan
untuk mengisi kapasitas atau pegawai yang masih diam.
2.2.2 Biaya-biaya selama Masa Penggunaan Aktiva Tetap Berwujud.
Aktiva tetap yang dimiliki dan digunakan dalam usaha akan
memerlukan pengeluaran-pengeluaran yang tujuannya adalah agar dapat memenuhi
kebutuhan perusahaan. Pengeluaran tersebut dapat dikelompokkan menjadi :
a. Reparasi dan Pemeliharaan.
Biaya reparasi dapat merupakan biaya yang jumlahnya kecil jika reparasinya
bisa dan jumlahnya cukup besar jika reparasinya besar. Biaya reparasi kecil
seperti penggantian baut, mur, sekring mesin merupakan biaya yang sering
terjadi. Biaya reparasi besar biasanya terjadi setelah beberapa tahun. Sehingga
dapat dikatakan bahwa manfaat reparasi seperti ini dirasakan dalam beberapa
periode. Oleh karena itu biaya reparasi besar dikapitalisasi dan

8
pembebanannya sebagai biaya yang dilakukan dalam periode-periode yang
menerima manfaat.
b. Penggantian
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengganti aktiva atau suatu bagian aktiva
dengan unit yang baru yang tipenya sama.
c. Perbaikan
Adalah penggantian suatu aktiva dengan aktiva baru untuk memperoleh
kegunaanyang lebih besar.
d. Penambahan
Untuk memperbesar atau memperluas fasilitas suatu aktiva seperti penambahan
ruang dalam bangunan, ruang parkir, dll.
e. Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam penyusunan kembali aktiva atau perubahan
route produksi, atau untuk mengurangi biaya produksi, jika jumlahnya cukup
berarti manfaat penyusunan kembali itu akan dirasakan lebih dari satu periode
akuntansi maka harus dikapitalisasi.
2.2.3 Penyusutan Aktiva Tetap Berwujud (Depreciation).
Penyusutan menurut Walter (2012) adalah pengalokasian sistematis atas biaya aktiva
selama umur manfaatnya.
Ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan besarnya
biaya depresiasi setiap periode antara lain:
1. Harga Perolehan (Cost).
Yaitu uang yang dikeluarkan atau hutang yang timbul dan biaya-biaya yang
terjadi dalam pemerolehan suatu aktiva dan menempatkannya agar dapat
digunakan.
2. Nilai Sisa (Residu).
Nilai sisa suatu aktiva yang didepresiasi adalah jumlah yang diterima bila aktiva
tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi, dikurangi dengan biaya-biaya yang
terjadi pada saat menjual atau menukarnya.
3. Taksiran Umur.
Taksiran umur kegunaan aktif dipengaruhi oleh cara-cara pemeliharaan dan
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dianut dalam reparasi. Taksiran umur ini

9
biasanya dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi atau
satuan jam kerjanya.
Metode penyusutan yang dipilih harus digunakan secara konsisten dari periode ke
periode kecuali perubahan keadaan yang memberi alasan atau dasar suatu perubahan
metode. Dalam suatu periode akuntansi dimana metode penyusutan berubah,
perubahan harus dikuantifikasi dan harus diungkapkan. Alasan perubahan harus
diungkapkan (SAK, 2002: 17.5)
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung beban
penyusutan:
A. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Dalam metode garis lurus, beban penyusutan dialokasikan berdasarkan
berlalunya waktu, dalam jumlah yang sama, sepanjang masa manfaat aktiva
tetap. (Soemarso, 2005; 25). Metode garis lurus ini adalah metode yang paling
banyak digunakan oleh banyak perusahaan. Ciri-ciri dari metode ini adalah
sederhana, penyusutan per periode tetap, dan tidak memperhatikan pola
penggunaan aktiva tetap. (Wibowo & Abubakar, 2002; 185)Cara menentukan
jumlah penyusutan dengan metode ini adalah:

B. Metode Saldo Menurun Berganda


Dalam metode saldo menurun beban penyusutan semakin menurun dari tahun
ke tahun. Pembebanan yang semakin menurun didasarkan pada anggapan
bahwa semakin tua, kapasitas aktiva tetap dalam memberikan jasanya juga
akan semakin menurun. (Soemarso, 2005; 26)

C. Metode Jumlah Angka Tahun

10
Metode jumlah angka tahun akan menghasilkan jadwal penyusutab yang sama
dengan metode saldo menurun. Jumlah penyusutan akan makin menurun dari
tahun ke tahun. Tetapi cara perhitungan penyusutan berbeda dengan metode
saldo menurun. (Soemarso, 2005; 28)

D. Metode Satuan Hasil Produksi


Metode jumlah angka tahun akan menghasilkan jadwal penyusutab yang sama
dengan metode saldo menurun. Jumlah penyusutan akan makin menurun dari
tahun ke tahun. Tetapi cara perhitungan penyusutan berbeda dengan metode
saldo menurun. (Soemarso, 2005; 28)

11
E. Metode Satuan Jam Kerja
Dalam metode jam kerja mesin ini, beban penyusutan ditetapkan berdasarkan
jam kerja yang dapat dicapai dalam periode yang bersangkutan.Metode ini
pada dasarnya sama dengan metode satuan unit produksi, namun jumlah unit
produksi digantikan dengan berapa jam mesin tersebut bekerja selama umur
ekonomis.
2.2.4 Pemberhentian Aktiva Tetap Berwujud.
Aktiva tetap bisa dihentikan pemakaiannya dengan cara dijual, ditukarkan, maupun
karena rusak. Pada waktu aktiva tetap dihentikan dari pemakaian maka semua
rekening yang berhubungan dengan aktiva tersebut dihapuskan.
2.3 SPI (Sistem Pengendalian Internal)
Unsur-unsur utama dari sistem pengendalian intern atas aktiva tetap adalah :
1. Adanya budget untuk pengeluaran bagi aktiva tetap yang disetujui oleh pejabat yang
berwenang. Persetujuan ini biasanya dilakukan dalam berbagai tingkat tergantung
dari jenis dan harga aktiva tetap yang bersangkutan. Contoh : pembelian mesin pabrik
yang baru harus mendapat persetujuan dari dewan komisaris terlebih dahulu
sedangkan pembelian mesin tik atau mesin hitung cukup dengan persetujuan kepala
bagian yang membutuhkan perlengkapan tersebut dan direktur keuangan, dst.

12
2. Adanya kebijaksanaan kapitalisasi secara tertulis, yakni yang membedakan antara
pengeluaran yang dianggap sebagai aktiva tetap dan pengeluaran bukan aktiva tetap.
3. Kebijaksanaan mengenai penjualan aktiva tetap, prosedur pem-besi-tuaan aktiva
tetap, dan pemindahan suatu aktiva tetap dari suatu bagian kebagian yang lain, atau
dari suatu lokasi kelokasi yang lain atau dari suatu anak perusahaan keanak
perusahaan lain.
4. Adanya kartu-kartu aktiva tetap dan inventarisasi atas aktiva tetap secara berkala.
5. Adanya pengendalian dan pengawasan atas aktiva-aktiva kecil dibawah tanggung
jawab pejabat tertentu.
6. Adanya asuransi kerugian atas aktiva tetap yang bisa rusak karena kabakaran atau
bencana lainnya atau kerugian karena hilang atau dicuri.
Mulyadi (2001:600) dalam Sistem Akuntansi mengemukakan bahwa dokumen yang
digunakan untuk merekam dapat transaksi yang mengubah harga pokok aktiva tetap dan
akumulasi depresiasi aktiva tetap adalah : 1) Surat permintaan otorisasi investasi
(expendirure outhorization request atau authorization for expenditure) 2) Surat
permintaan reparasi (autorization for repair) 3) Surat permintaan transfer aktiva tetap 4)
Surat permintaan penghentian pemakaian aktiva tetap 5) Surat perintah kerja (work
order) 6) Surat order pembelian 7) Laporan penerimaan barang 8) Faktur dari pemasok 9)
Bukti kas keluar 10) Bukti memorial
2.4 Prosedur Audit
Di banyak perusahaan, terutama perusahaan industri, aktiva tetap merupakan jumlah yang
sangat besar dari total aktiva perusahaan. Namun demikian waktu yang digunakan oleh
akuntan publik untuk memeriksa perkiraan lainnya seperti piutang, persedian, dan lain-
lainnya.
Beberapa penyebabnya antara lain:
a. Harga perolehan per unit dari aktiva tetap biasanya relatif besar dan jumlah transaksinya
dalam setahun biasanya sedikit.
b. Mutasi aktiva tetap (penambahan dan pengurangan) biasanya jauh lebih sedikit di
bandingkan mutasi piutang dan persediaan.

13
c. Dalam memeriksa aktiva tetap, prosedur cut-off bukan merupakan hal yang penting
seperti pemeriksaan atas cut-off transactions dalam pemeriksaan pembeliaan dan
penjualan persediaan.
Prosedur audit yang akan disebutkan berikut ini berlaku repeat engagements (penugasan
berulang) sehingga dititikberatkan pada pemeriksaan transaksi tahun berjalan (periode yang
diperiksa).
Untuk first audit (audit pertama kali) bisa dibedakan sebagai berikut:

Jika tahun sebelumnya perusahaan sudah di audit oleh kantor akuntan lain, saldo awal
aset tetap bisa dicocokan dengan laporan akuntan terdahulu dan kertas kerja pemeriksaan
akuntan tersebut.
Jika tahun-tahun sebelumnya perusahaan belum pernah di audit, akuntan public harus
memeriksa mutasi penambahan dan pengurangan aset tetap sejak awal berdirinya
perusahaan, untuk mengetahui apakah pencatatan yang dilakukan perusahaan untuk
penambahan dan pengurangan aset tetap, serta metode dan penghitungan penyusutan aset
tetap dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia
(SAK/ETAP/IFRS). Tentu saja pemeriksaan mutasi tahun-tahun sebelumnya dilakukan
secara test basis dengan mengutamakan jumlah yang material.

Prosedur audit atas aktiva tetap adalah sebagai berikut :


1. Pelajari dan evaluasi internal control atas aktiva tetap.
2. Minta kepada client, top schedule serta supporting schedule aktiva tetap, yang berisikan:
saldo awal, penambahan dan pengurangannya, saldo akhir, baik untuk harga perolehan
maupun akumulasi penyusutannya.
3. Periksa footing dan cross footingnya dan cocokkan totalnya dengan General Ledger
atau Sub-Ledger, saldo awal dengan working paper tahun lalu.
4. Vouch penambahan serta pengurangan dari fixed Assets tersebut. Untuk penambahan kita
lihat approvalnya dan kelengkapan supporting documentnya.
5. Periksa phisik dari Fixed Assets tersebut (dengan cara test basis) dan periksa kondisi dan
nomor kode dari Fixed Assets.
6. Periksa bukti pemilikan aktiva tetap.

14
Untuk tanah, gedung, periksa sertifikat tanah dan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) serta
SIPB (Surat Izin Penempatan Bangunan).
Untuk mobil, motor, periksa BPKP, STNKnya.
7. Pelajari dan periksa apakah Capitalization Policy dan Depreciation Policy yang
dijalankan konsisten dari tahun sebelumnya.
8. Buat analisis tentang perkiraan Repair & Maintenance, sehingga kita dapat mengetahui
apakah ada pengeluaran yang seharusnya masuk dalam kelompok Capital
Expenditures tetapi dicatat sebagai Revenue Expenditures.
9. Periksa apakah Fixed Assets tersebut sudah diasuransikan dan apakah Insurance
Coveragenya cukup atau tidak.
10. Test perhitungan penyusutan, cross reference angka penyusutan dengan biaya penyusutan
diperkiraan laba rugi dan periksa alokasi/distribusi biaya penyusutan.
11. Periksa notulen rapat, perjanjian kredit, jawaban konfirmasi dari bank untuk memeriksa
apakah ada Fixed Assets dijadikan sebagai jaminan atau tidak.
Bila ada, maka hal ini perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
12. Periksa apakah ada Commitment yang dibuat oleh perusahaan untuk membeli atau
menjual Fixed Assets.
13. untuk construction in Progress, kita periksa penambahannya dan apakah ada
Construction in progress yang harus di transfer ke Fixed Assets.
14. Jika ada aktiva tetap yang diperoleh melalui leasing, periksa lease agreement dan periksa
apakah accounting treatmentnya sudah sesuai dengan standar akuntansi leasing.
15. Periksa atau tanyakan apakah ada aktiva tetap yang dijadikan agunan kredit di bank.
16. Periksa penyajian dalam laporan keuangan, apakah sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia(SAK/ETAP/IFRS)
Penjelasan Prosedur
1. Pelajari dan evaluasi internal control atas aktiva tetap.
Dalam hal ini biasanya auditor menggunakan INTERNAL CONTROL
QUESTIONNAIRES. Jika internal controlnya baik, maka luas pemeriksaan dalam
subtantif tes bisa dipersempit. Ciri internal control yang baik atas aktiva tetap,
yaitu:
a. Digunakannya anggaran untuk penambahan aktiva tetap.

15
Jika ada aktiva tetap yang ingin dibeli tetapi belum tercantum dianggaran
maka aktiva tetap tersebut tidk boleh dibeli dahulu.
b. Setiap peenambahan dan penarikan aktiva tetap terlebih dahulu harus
diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.
c. Adanya kebijakan tertulis dari manajemen mengenai capitalization dan
depreciation policy.
d. Diadakannya kartu aktiva tetap atau sub buku besar aktiva tetap yang
mencantumkan tanggal pembelian, nama supplier, harga perolehan, metode
dan persentase penyusutan, jumlah penyusutan, akumulasi penyusutan, dan
nilai buku aktiva tetap.
e. Setiap aktiva tetap diberi nomor kode.
f. Minimal setahun sekali dilakukan inventarisasi (pemeriksaan fisik aktiva
tetap), untuk mengetahui keberadaan dan kondisi aktiva tetap.
g. Bukti-bukti kepemilikan aktiva tetap disimpan ditempat yang aman.
h. Aktiva tetap diasuransikan dengan jumlah insurance coverage (nilai
pertanggungan) yang cukup.
2. Minta kepada client, top schedule serta supporting schedule aktiva tetap.
Berisi, saldo awal, penambahan dan pengurangannya, saldo akhir, baik untuk
harga perolehan maupun akumulasi penyusutannya.
3. Periksa footing daan cross footingnya daan cocokan totalnya dengan general
ledger atau sub-ledger, saldo awal dengan working paper tahun lalu.
4. Vouched penambahan dan pengurangan aktiva tetap.
Untuk penambahaan aktiva tetap, selain diperhatikan otorisasi dan kelengkapan
supporting document, harus dilihat apakah penambahan tersebut sudah tercantum
dalam anggaran.
Untuk pengurangan aktiva tetap harus diperiksa kebenaran journal entrynya.
Misalkan: Mesin dengan harga perolehan Rp.100.000.000 dan akumulasi
penyusutan terakhir (sampai dengan tanggal penarikan) Rp.80.000.000 dijual
dengan harga Rp.30.000.000 secara tunai.
Journal Entry yang seharusnya adalah:
DR. Kas Rp.30.000.000

16
DR. Akumulasi peny. Mesin Rp.80.000.000
CR. Mesin Rp.100.000.000
CR. Laba penjualan aset tetap Rp. 10.000.000
seringkali perusahaan mencatat transaksi tersebut dengan
mendebit kas Rp30.000.000 dan mengkredit mesin Rp.30.000.000. Auditor juga
harus memeriksa apakah uang kas sebesar Rp.30.000.000 sudah diterima
perusahaan dan dicatat dalam buku penerimaan kas.
5. Periksa fisik dari aktiva tetap dan perhatikan kondisinya apakah masih dalam
keadaan baik atau sudah rusak.
Tentang pemeriksaan fisik aktiva tetap secara tes basis ada dua pendapat :
1) Yang di tes hanya penambahan dalam tahun berjalan yang jumlahnya besar.
2) Diutamakan penambahan yang baru serta beberapa aktiva tetap yang lama.
Pada pendapat pertama memang akan lebih cepat pelaksanaannya, tetapi ada
kelemahannya yaitu bila ada aktiva tetap yang sudah lama dibeli atau tidak
dipakai lagi, tetapi masih tercantum di dalam daftar aktiva tetap, maka dengan
cara pertama tidak dapat diketahui.
6. Pemeriksaan bukti fisik pemilikan aktiva tetap.
Harus dicocokan nomor mesin, chasis, dan nomor polisi kendaraan yang
tercantum di BPKB dan STNK dengan yang terdapat dikendaraan. Perhatikan
juga apakah surat-surat tanah, gedung, kendaraan atas nama perusahaan.
7. Pelajari dan periksa apakah Capitalization serta Depreciation Policy-nya
konsisten dengan tahun sebelumnya. Tentang policy dari Capitalization tersebut
ada beberapa kemungkinan:
1) Berdasarkan jumlahnya, misalnya diatas Rp. 500.000 harus dikapitalisir.
2) Berdasarkan masa manfaatnya.
3) Campuran antara jumlah dan masa manfaatnya.
Tentang Policy dari penyusutan ada beberapa kemungkinan, apakah penyusutan
tersebut dimulai :
1) Pada tanggal pembelian
2) Pada tanggal pemakainan.

17
3) Juga perlu diketahui masa penyusutannya, misal pembelian tanggal 1 s.d 15
dihitung satu bulan penuh sedang tanggal 16 s.d 31 dihitung setengah bulan.
8. Analisis perkiraan repair & maintenance.
Harus diperhatikan kemungkinan client untuk memperkecil laba dengan mencatat
capital expenditure sebagai revenue expenditure.
9. Periksa kecukupan insurance coverage, dalam arti jangan smpai terlalu kecil tau
terlalu besar. Jika terlalu kecil ada bahaya bahwa jika terjadi kebakaran, ganti rugi
dari perusahaan asuransi tidak mencukupi untuk membeli aktiva tetap (misalkan
gedung atau mesin) yang baru sehingga mengganggu kegiatan operasi
perusahaan. Tentang penilaian cukup tidaknya insurance coverage tersebut adalah
atas dasar jumlah yang mendekati harga pasar.
10. Tes perhitungan penyusutan dan alokasi biaya penyusutan aktiva tetap.
Penyusutan ini biasanya dari aktiva tetap yang dapat disusutkan, seperti gedung
kantor dan sebagainya, sebab ada juga Fixed Assets yang tidak dapat disusutkan
seperti tanah hak milik. Tetapi bila tanah tersebut digunakan untuk bahan baku
pembuatan batu bata atau genteng, maka dapat disusutkan yaitu dengan istilah
deplesi.
Apabila tanah tersebut merupakan tanah dengan hak guna bangunan, maka tanah
tersebut juga tidak dapat disusutkan. Auditor harus memeriksa akurasi dari
perhitungan penyusutan yang dibuat klien, dan ketepatan alokasi biaya
penyusutan sebagai bagian dari biaya produksi tidak langsung, biaya umum dan
administrasi, dan biaya penjualan.
11. Periksa notulen rapat, perjanjian kredit, jawaban konfirmasi dari bank, untuk
memeriksa apakah ada aktiva tetap yang diijadikan sebagai jaminan.
12. Periksa apakah ada komitmen yang dibuat oleh perusahaan untuk membeli atau
menjual aktiva tetap.
13. Untuk contriction in progress, kita periksa penambahannya dan apakah ada
contruction in progress yang harus ditransfer ke aktiva tetap.
14. Jika ada aktiva tetap yang diperoleh melalui leasing, periksa lease agreement
dan periksa apakah accounting tretmentnya sudah sesuai dengan standar
akuntansi leasing.

18
15. Periksa apakah ada aktiva tetap yang dijaminkan.
Jika aktiva tetap dijaminkan berarti bukti kepemilikan diserahkan (disimpan) di
bank, sehingga auditor harus memeriksa tanda terima penyerahan bukti-bukti
kepemilikan. Selain itu jika ada aktiva tetap yang dijaminkan harus diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan.
16. Periksa penyajian Aktiva tetap dalam laporan keuangan, apakah sesuai dengan
(SAK/ETAP/IFRS), Baik di laporan posisi keuangan (neraca) (cost and
accumulated depreciation), di laporan laba rugi (biaya penyusutan), di catatan
atas laporan keuangan (kebijakan kapitalisasi dan penyusutan, rincian garis besar
aktiva tetap) maupun dilampiran (rincian aktiva tetap).
Contoh penyajiannya:
Di Laporan posisi keuangan (neraca)
Catatan No. 31/12/2002 31/12/2001
ASET TETAP: 9 Rp. 2.230.000.000 Rp. 2.000.000.000
Harga perolehan Rp. 525.000.000 Rp. 240.000.000
Akumulasi Penyusutan Rp. 1.705.000.000 Rp. 1.760.000.000
Di kebijakan akuntansi
d. Aset Tetap
Aset Tetap dinilai berdasarkan harga perolehan
Perusahaan menyusutkan aset tetapnya dengan menggunakan metode garis lurus dengan
persentase penyusutan sebagai berikut (berdasarkan taksiran masa manfaat aset tetap):
Gedung : 4% per tahun
Kendaraan : 25% per tahun
Mesin : 20% per tahun
Peralatan Kantor : 10% per tahun
Penyusutan di hitung setahun penuh tanpa memperlihatkan tanggal pembeliannya.
Biaya pemeliharaan dan perbaikan rutin dibebankan pada perhitungan laba rugi pada saat
terjadinya, sedangkan biaya pemugaran dan penambahan dalam jumlah besar dikapitalisasi.
Di Catatan Atas Laporan Keuangan No. 9
9. Aset tetap
Saldo aset tetap per 31 Desember 2010 dan 2009 terdiri atas:

19
31 Desember 2010
Harga perolehan Akumulasi Nilai buku
penyusutan
Tanah Rp. 400.000.000 Rp. - Rp. 400.000.000
Gedung Rp. 500.000.000 Rp. 40.000.000 Rp. 460.000.000
Kendaraan Rp. 280.000.000 Rp. 120.000.000 Rp. 160.000.000
Mesin Rp. 900.000.000 Rp. 340.000.000 Rp. 560.000.000
Peralatan kantor Rp. 150.000.000 Rp. 25.000.000 Rp. 125.000.000
Rp.2.230.000.000 Rp. 525.000.000 Rp.1.705.000.000

31 Desember 2009
Harga perolehan Akumulasi Nilai buku
penyusutan
Tanah Rp. 400.000.000 Rp. - Rp. 400.000.000
Gedung Rp. 500.000.000 Rp. 20.000.000 Rp. 480.000.000
Kendaraan Rp. 200.000.000 Rp. 50.000.000 Rp. 150.000.000
Mesin Rp. 800.000.000 Rp. 160.000.000 Rp. 640.000.000
Peralatan kantor Rp. 100.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 90.000.000
Rp.2.000.000.000 Rp. 240.000.000 Rp.1.760.000.000

Beban penyusutan untuk tahun 2010 dan tahun 2009 msing-masing sebesar Rp. 525.000.000 dan
Rp. 240.000.000.
Gedung dan mesin dijadikan jaminan kredit di Bank Mandiri.
Menurut SAK ETAP (IAI, 2009: 75):
Entitas harus mengungkapkan untuk setiap kelompok aset tetap:
(a) Dasar pengukuran yang digunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto;
(b) Metode penyusutan yang digunakan;
(c) Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
(d) Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (agregat dengan akumulasi kerugian
penurunan nilai) pada awal dan akhir periode; dan
(e) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

20
(i) Penambahan;
(ii) Pelepasan;
(iii) Kerugian penurunan nilai yang diakui atau dipulihkan dalam laporan laba rugi
sesuai dengan penurunan nilai aset;
(iv) Penyusutan;
(v) Perubahan lainnya
Entitas juga harus mengungkapkan:
(a) Keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik, dan aset tetap yang di jaminkan
untuk utang;
(b) Jumlah komitmen kontrak untuk memperoleh aset tetap

Pengujian substantif atas saldo aktiva tetap berwujud


Rekening aktiva tetap digunakan untuk menampung pencatatan atas aktiva perusahaan
atau organisasi yang mempunyai manfaat ekonomis lebih dari satu tahun. Aktiva-aktiva yang
termasuk dalam katagori ini antara lain, tanah, bangunan, jalan, jembatan, bangunan air, instalasi
dan jaringan, mesin, peralatan, kendaraan, serta mebel. Aktiva tersebut tidak akan habis dalam
waktu satu tahun. Rekening nominal yang berkaitan erat dengan aktiva tetap adalah biaya
depresiasi, perbaikan, dan sewa gedung atau aktiva lainnya.
Aktiva tetap sering kali merupakan komponen terbesar dari total aktiva dalam neraca
perusahaan atu organisasi. Biaya-biaya yang berhubungan dengan aktiva tetap merupakan faktor
yang material dalam laporan rugi laba. Pemeriksaan terhadap aktiva tetap memakan waktu dan
biaya yang relatif labih sedikit dibandingkan dengan pemeriksaan aktiva lancar.
Dalam audit atas aktiva tetap , auditor harus memisahkan pengujian kedalam katagori
berikut :
1) Melaksanakan prosedur analitis
Jenis prosedur analitis tergantung pada sifat operasi klien. Prosedur analitis untuk aktiva
tetap :
Prosedur analitis Salah saji yang mungkin
Membandingkan beban penyusutan yang Salah saji beban penyusutan dan
dibagi dengan biaya aktiva tetap kotor akumulasi penyusutan
dengan tahun sebelumnya

21
Membandingkan akumulasi penyusutan Salah saji akumulasi penyusutan
yang dibagi dengan biaya aktiva tetap
kotor dengan tahun sebelumnya
Membandingkan reparasi dan Membebankan jumlah yang harus
pemeliharaan bulanan atau tahunan, dikapitalisasi
beban perlengkapan, beban peralatan
kecil, dan akun-akun serupa dengan
tahun sebelumnya
Membandingkan biaya manufaktur kotor Peralatan yang menganggur atau
yang dibagi dengan beberapa ukuran peralatan yang disingkirkan tetapi belum
produksi dengan tahun sebelumnya dihapus
2) Memverifikasi akuisisi tahun berjalan
Perusahaan harus mencatat penambahan selama tahun berjalan dengan benar karena aktiva
memiliki pengaruh jangka panjang terhadap laporan keuangan. Kegagalan untuk
mengkapitalisasi aktiva tetap, atau mencatat akuisisi pada jumlah yang salah, akan
mempengaruhi neraca sehingga perusahaan melepas atau membuang aktiva itu. Laporan laba
rugi juga akan terpengaruh hingga aktiva itu telah sepenuhnya disusutkan.
Karena pentingnya akuisis periode berjalan dalam audit aktiva tetap, auditor menggunakan
tujuh dari delapan tujuan audit yang berkaitan dengan saldo sebagai kerangka referensi bagi
pengujian atas rincian saldo: (1) eksistensi (2) kelengkapan (3) keakuratan (4) klasifikasi (5)
pisah batas (6) detail tie-in (7) serta hak dan kewajiban.
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan pengujian audit yang umum ditunjukkan pada
tabel dibawah ini :
Tujuan audit yang Pengujian atas rincian Komentar
berkaitan dengan saldo saldo yang umum
Akuisisi tahun berjalan Memfooting skedul Memfooting skedul
dalam skedul akuisisi akuisisi. akuisisi dan menelusuri
sama dengan jumlah file Menelusuri setiap setiap akuisisi yang harus
induk terkait, dan akuisisi ke file induk dibatasi kecuali
totalnya sama dengan untuk melihat jumlah an pengendaliannya lemah.

22
buku besar umum (detail deskripsinya. Semua kenaikan saldo
tie-in) Menelusuri total kebuku buku besar umum selama
besar umum. tahun tersebut harus
direkonsiliasi dengan
skedul
Akuisisi tahun lalu Memeriksa faktur vendor Bukanlah hal yang umum
berjalan seperti yang dan laporan penerimaan. untuk memeriksa secara
tercantum dalam daftar Memeriksa aktiva secara fisik aktiva yang
memang ada (eksistensi) fisik. diperoleh kecuali
pengendaliannya lemah
atau jumlahnya meterial
Akuisisi yang ada telah Memeriksa faktur vendor Tujuan ini merupakan
dicatat (kelengkapan) yang berhubungan erat salah satu yang paling
dengan akun seperti penting untuk aktiva
reparasi dan tetap
pemeliharaan untuk
mengungkapkan item-
item yang akan menjadi
aktiva tetap.
Mereview perjanjian
lease dan sewa.
Akuisisi tahun berjalan Memeriksa vendor Luasnya tergantung pada
yang ada dalam daftar resiko inheren dan
sudah akurat. efektifitas pengendalian
(keakuratan) internal.
Akuisisi tahun berjalan Memeriksa faktur vendor Tujuannya berkaitan erat
yang ada dalam daftar dalam akun aktiva tetap dengan pengujian untuk
telah diklasifikasikan untuk mengungkapkan kelengkapan. Hal ini
dengan benar. item-item yang harus dilakukan dalam
(klasifikasi) diklasifikasikan sebagai kaitannya dengan tujuan
aktiva tetap kantor, tersebut dan pengujian

23
pabrik, dll. untuk keakuratan.
Memeriksa faktur vendor
yang berhubungan erat
dengan akun seperti
reparasi untuk
mengungkapkan item-
item yang akan menjadi
aktiva tetap.
Memeriksa beban sewa
dan lease untuk lease
yang dapat dikapitalisasi.
Akuisis tahun berjalan Mereview transaksi yang Biasanya dilakukan
dicatat pada periode mendekati tanggal neraca sebagai bagian dari
yang benar (pisah batas). pada periode yang benar. pengujian pisah batas
utang usaha.
Klien memiliki hak atas Memeriksa faktur vendor Biasanya tidak ada
akuisisi tahun berjalan masalah untuk aktiva
(hak) tetap.
Akte properti, aktiva
tidak berwujud, dan
tagihan pajak sering kali
diperiksa untuk tanah dan
bangunan utama.
Titik awal untuk memverifikasi akuisisi tahun berjalan umumnya merupakan sebuah skedul
yang diperoleh dari klien menyangkut semua akuisisi yang dicatat pada akun aktiva tetap
dibuku besar umum selama tahun tersebut. Klien memperoleh informasi ini dari file induk
aktiva tetap. Skedul yang tipikal memuat deskripsi, notasi apakah barang tersebut baru atau
bekas, umur aktiva untuk tujuan penyusutan, metode penyusutan, dan biaya atau harga
perolehannya.

3) Memverifikasi pelepasan tahun berjalan

24
Transaksi yang melibatkan pelepasan aktiva tetap sering kali disalahsajikan apabila
pengendalian internal perusahaan tidak memiliki metode formal untuk memberi tahu
manajemen tentang penjualan, tukar tambah, pengabaian, atau pencurian mesin dan peralatan
yang tercatat. Jika klien lalai mencatatpelepasan, biaya awal akun aktiva tetap akan
dinyatakan terlalu tinggi, dan nilai buku bersih akan dinyatakan terlalu tinggi hingga aktiva
telah disusutkan sepenuhnya. Metode formal untuk menelusuri pelepasan dan provisi
menyangkut otorisasi yang tepat atas penjualan atau pelepasan aktiva akan membantu
mengurangi resiko salah saji. Juga harus ada verifikasi internal yang memadai atas pelepasan
yang tercatat untuk memastikan bahwa aktiva telah dihapus dengan benar dari catatan
akuntansi. Tujuan utama auditor dalam memverifikasi penjualan, tukar tambah, atau
pengabaian aktiva tetap adalah untuk mengumpulkan bukti yang cukup bahwa semua
pelepasan telah dicatat dan pada jumlah yang benar. Titik awal untuk memverifikasi
pelepasan adalah skedul klien yang berisi catatan tentang pelepasan itu. Skedul tersebut
umumnya mencantumkan tanggal kapan aktiva dilepas atau dibuang, nama orang atau
perusahaan yang mengakuisisi aktiva, harga jual, biaya awal, tanggal akuisis dan akumulasi
penyusutan.
Ketika suatu aktiva dijual atau dibuang begitu saja tanpa ditukar dengan aktiva pengganti,
keakuratan transaksi dapat diverifikasi dengan memeriksa faktur penjualan terkait dan file
induk aktiva tetap. Auditor harus membandingkan biaya dan akumulasi penyusutan yang ada
dalam file induk dengan ayat jurnal yang tercatat dalam jurnal umum serta menghitung
kembali keuntungan atau kerugian atas pelepasan aktiv a sebagai perbandingan dengan
catatan akuntansi. Jika terjadi tukar tambah aktiva dengan aktiva pengganti, auditor harus
memastikan bahwa aktiva yang baru dikapitalisasi dan aktiva yang digantikan dihapus secara
layak dari catatan, dengan mempertimbangkan nilai buku aktiva yang ditukar tambah dan
biaya tambahan aktiva yang baru.
4) Memverifikasi saldo akhir akun aktiva
Dua tujuan auditor ketika mengaudit aktiva tetap termasuk menentukan bahwa :
a. Semua aktiva tetap yang tercatat ada secara fisik pada tanggal neraca
b. Semua aktiva tetap yang dimiliki telah dicatat.
Ketika merancang pengujian audit untuk memenuhi tujuan tersebut, pertama auditor
mempertimbangkan sifat pengendaliaqn internal terhadap aktiva tetap. Idealnya, auditor

25
mampu menyimpulkan bahwa pengendalian cukup kuat untuk memungkinkannya
bergantung pada saldo yang dicatat dari tahun sebelumnya. Pengendalian yang penting
meliputi penggunaan file induk untuk setiap aktiva tetap, pengendalian fisik yang memadai
terhadap aktiva yang mudah dipindahkan ( seperti, komputer, perkakas, dan kendaraan ),
penulisan nomor identifikasi kesetiap aktiva tetap, serta perhitungan fisik periodik atas aktiva
tetap dan rekonsiliasinya oleh personil akuntansi. Metode formal untuk memberi tahu
departemen akuntansi tentang semua pelepasan aktiva tetap juga merupakan pengendalian
yang penting terhadap saldo aktiva yang dicatatketahun berjalan.
5) Memverifikasi beban penyusutan
Beban penyusutan merupakan salah satu dari beberapa akun beban yang tidak diverifikasi
sebagai bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian subtantif atas transaksi. Jumlah
yang tercatat ditentukan dengan alokasi internal dan bukan oleh transaksi pertukaran dengan
pihak luar. Jika beban penyusutan berjumlah material, akan diperlukan lebih banyak
pengujian yang terinci atas beban penyusutan ketimbang untuk akun yang telah diverifikasi
melalui pengujian pengendalian dan pengujian subtantif atas transaksi.
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo yang paling penting untuk beban penyusutan
adalah keakuratan. Auditor harus berfokus pada penentuan apakah klien mengikuti kebijakan
penyusutan yang konsisiten dari periode ke periode, dan apakah perhitungan klien sudah
benar.
Dalam menentukan hal yang pertama, auditor harus mempertimbangkan empat aspek:
a. Umur manfaat akuisisi periode berjalan
b. Metode penyusutan
c. Estimasi nilai sisa
d. Kebijakan penyusutan aktiva dalam tahun akuisisi dan disposisi
Kebijakan klien dapat ditentukan melalui diskusi dengan personil yang berwenang dan
membandingkan responnya dengan informasi yang ada dalam file permanen auditor. Dalam
memutuskan kelayakan umur manfaat yang dibebankan ke aktiva yang baru saja diakuisisi,
auditor harus mempertimbangkan umur fisik aktiva, umur yang diharapkan, ( dengan
memperhatikan keusangan atau kebijakan normal perusahaan untuk meningkatkan mutu
aktiva tetap ), dan kebijakan perusahaan yang ditetapkan menyangkut pertukaran peralatan.
6) Memverifikasi saldo akhir akumulasi penyusutan

26
Pendebetan ke akumulasi penyusutan biasanya diuji sebagai bagian dari audit atas pelepasan
aktiva, sementara kredit diverifikasi sebagai bagian dari beban penyusutan. Jika auditor
menelusuri transaksi tertentu ke catatan akumulasi penyusutan dalam file induk aktiva tetap
sebbagai bagian dari pengujian tersebut, maka hanya diperlukan sedikit pengujian tambahan
atas saldo akhir akumulasi penyusutan.
Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit atas saldo akhir akumulasi penyusutan
adalah :
1. Akumulasi penyusutan yang dinyatakan pada file induk aktiva tetap sama dengan
buku besar umum. Tujuan ini dapat dipenuhi dengan menguji footing akumulasi
penyusutan dalam file induk aktiva tetap dan menelusuri totalnya kebuku besar
umum.
2. Akumulasi penyusutan dalam file induk sudah akurat.
Dalam beberapa kasus, umur aktiva tetap khusunya properti pabrik mungkin saja
berkurang secara signifikan kerena umumnya permintaan pelanggan atas produk,
kerusakan fisik yang tidak terduga, modifikasi operasi, atau perubahan lainnya.
Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan tersebut, auditor harus mengevaluasi
kememadaian penyisihan untuk akumulasi penyusutan setiap tahun guna memastikan
bahwa nilai buku bersih tidak melampaui nila realisasi aktiva.

2.5 Audit Objective (Tujuan Pemeriksaan) Aktiva Tetap Berwujud


Dalam suatu general audit (pemeriksa umum), pemeriksaan atas aktiva tetap mempunyai
beberapa tujuan sebagai berikut :
1. Memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas aktiva tetap.
2. Untuk memeriksa apakah aktiva tetap yang tercantum di neraca betul-betul ada,
masih digunakan dan dimiliki oleh perusahaan.
3. Untuk memeriksa apakah penambahan aktiva tetap dalam tahun berjalan (periode
yang diperiksa) betul-betul merupakan suatu Capital Expenditure, diotorisasi oleh
pejabat perusahaan yang berwenang didukung oleh bukti-bukti yang lengkap dan
dicatat dengan benar.

27
4. Untuk memeriksa apakah disposal (penarikan) aktiva tetap sudah dicatat dengan
benar di buku perusahaan dan telah diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang
berwenang.
Disposal dari aktiva tetap bisa terjadi dalam bentuk penjualan yang akan
menimbulkan rugi/laba penjualan aktiva tetap, tukar tambah (trade-in) atau
penghapusan aktiva tetap yang bisa menimbulkan kerugian dari penghapusan aktiva
tetap, jika aktiva tetap tersebut masih mempunyai nilai buku.
5. Untuk memeriksa apakah pembebanan penyusutan dalam tahun (periode) yang
diperiksa dilakukan dengan cara yang sesuai dengan SAK, konsisten, dan apakah
perhitungannya telah dilakukan dengan benar (secara akurat).
6. Untuk memeriksa apakah ada aktiva tetap yang dijadikan sebagai jaminan.
7. untuk memeriksa apakah ada aktiva tetap yang disewakan, jika ada apakah
pendapatan sewa sudah diterima perusahaan.
8. untuk memeriksa apakah ada aktiva tetap yang mengalami penurunan nilai
(imperment).
9. untuk memeriksa apakah penyajian aktiva tetap dalam laporan keuangan,
sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku umum di Indonesia
(SAK/ETAP/IFRS).

28
BAB III
KESIMPULAN

Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan
dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk
dijual dalam kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu
tahun. Fixed assets atau aktiva tetap bisa dibedakan menjadi:
1. Fixed tangible assets (aktiva tetap yang mempunyai wujud/bentuk, bisa dilihat, bisa
diraba).
2. Fixed intangible assets (aktiva tetap yang tidak mempunyai wujud/bentuk, sehingga
tidak bisa dilihat dan tidak bisa diraba).
Sebelum melakukan pemeriksaan terhadap aktiva tetap ada baiknya terlebbih dahulu
memahami sistem pengendalian internal perusahaan yang akan di audit untuk dapat
mengetahui bagaiamana sistem pencatatan akuntansi terutama yang berkaitan dengan aktiva
tetap berwujud yang digunakan dalam perusahaan.
Pemeriksaan akuntansi terhadap aktiva tetap berwujud sangatlah penting dan menjadi
komponen yang tak terpisahkan dalam pengauditan karena aktiva tetap merupakan aset
perusahaan penyumbang terbesar dalam suatu perusahaan itu sendiri.

29
DAFTAR PUSTAKA

AlvinA.Arens, RandalJ.Elder, & MarkS.Beasley. (2008). Auditing dan Jasa Assurance. Jakarta:
Erlangga.

IndraBastian. (2006). Audit Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.

Soemarso. Akuntansi suatu Pengantar Buku 2 Edisi Kelima. Jakarta: Salemba Empat, 2005

Halim, Abdul & Santoso, Totok Budi. AUDITING II Edisi ke-3 Dasar-dasar Prosedur
Pengauditan Laporan Keuangan. UPP AMP YKPN

30