Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dermatofit tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalah terutama di

negara berkembang. Mikosis superfisial mengenai lebih dari 20% hingga 25%

populasi sehingga menjadi bentuk infeksi yang tersering. Di berbagai negara saat

ini terjadi peningkatan bermakna dermatofitosis termasuk Indonesia.1,2

Tinea kruris adalah mikosis superfisial yang termasuk golongan

dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan kulit

yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi

lebih nyata daripada bagian tengahnya. Faktor-faktor yang memegang peranan

untuk terjadinya tinea kruris adalah iklim yang panas, higiene sanitasi sebagian

masyarakat yang masih kurang, adanya sumber penularan disekitarnya,kontak

langsung oleh penderita tinea kruris atau dengan kontak tidak langsung seperti

melalui penggunaan handuk bersama,alas tempat tidur,dan segala hal yang

dimiliki pasien tinea kruris. 3,4

Insidensi penyakit jamur yang terjadi di berbagai rumah sakit pendidikan

di Indonesia bervariasi antara 2,93%-27,6%. Meskipun angka ini tidak

menggambarkan populasi umum.4 Kondisi geografis Indonesia yang merupakan

daerah tropis dengan suhu dan kelembaban yang tinggi akan memudahkan

tumbuhnya jamur, sehingga infeksi oleh karena jamur di Indonesia pada

umumnya, di Sumatera Utara pada khususnya banyak ditemukan. Oleh karena itu,

golongan penyakit kulit karena infeksi jamur menempati urutan kedua terbanyak

1
dari insiden penyakit kulit di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU), Rumah Sakit Umum Pusat

(RSUP) H. Adam Malik, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Pirngadi

Medan 5

Jumlah penderita dermatofitosis pada tahun 1996 sampai 1998 sebanyak

4.162 orang dari 20.951 penderita baru penyakit kulit yang berkunjung ke

Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK USU, RSUP H. Adam Malik,

RSUD dr. Pirngadi Medan. Dan pada tahun 2002 penyakit dermatofitosis

merupakan penyakit kulit yang menduduki urutan pertama dibandingkan penyakit

kulit yang lain 5,6

Pondok pesantren, atau sering disingkat pondok atau (ponpes), adalah

sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana parasiswanya semua tinggal

bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan

kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada

dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk

belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya.7

Santri laki-laki di pondok pesantren memiliki faktor resiko lebih tinggi

terkena tinea kruris dibanding perempuan dengan perbandingan 3 banding 1 dan

kebanyakan terjadi pada golongan umur dewasa daripada golongan umur

anakanak. Hal ini disebabkan karena personal higiene laki-laki kurang di banding

perempuan.7

2
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan

permasalahan dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan siswa-siswi

tentang Tinea kruris di SMA Pesantren Serambi Mekkah Meulaboh Tahun

2017?

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan siswa-siswi

tentang Tinea kruris di Tinea kruris di SMA Pesantren Serambi Mekkah

Meulaboh Tahun 2017

1.3.2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan siswa-siswi tentang Tinea kruris di

SMA Pesantren Serambi Mekkah Meulaboh Tahun 2017

2. Mengetahui gambaran sikap siswa-siswi tentang Tinea kruris di Tinea kruris di

SMA Pesantren Serambi Mekkah Meulaboh Tahun 2017

3. Mengetahui gambaran tindakan siswa-siswi tentang Tinea kruris di SMA

Pesantren Serambi Mekkah Meulaboh Tahun 2017.

3
1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi

siswa-siswi untuk lebih meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan

terhadap pencegahan dan penanggulangan Tinea kruris.

2.Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi

pihak sekolah untuk memberikan edukasi kepada para siswa-siswi tentang Tinea

kruris.

3.Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi

Puskesmas Johan Pahlawan dalam melakukan promosi kesehatan terkait

penyakit Tinea Kruris

4.Penelitian ini mengembangkan kemampuan peneliti di bidang penelitian dan

menambah khasanah ilmu pengetahuan peneliti selama menjalani Internsip di

Puskesmas Johan Pahlawan.