Anda di halaman 1dari 54

SOP

PEMASANGAN AKDR

No. Dokumen No. Revisi Halaman

01/SOP/PKM.M/I/2016 0 1/2 Puskesmas


Pemerintah Kabupaten
Maluku Tengah Masohi

STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi
OPERASIONAL
25/1/2016
(SPO) dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian Prosedur pemasangan AKDR merupakan teknik pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR)
Tujuan Sebagai acuan untuk melakukan tindakan pemasangan AKDR
Kebijakan Sebagai acuan untuk pemasangan AKDR
Prosedur A. Persiapan pasien dan lingkungan

1) Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan


2) Siapkan lingkungan yang mendukung pelaksanaan tindakan, aturr penerangan yang
cukup, jaga privasi klien

B. Persiapan alat

1) Bivalve speculum (kecil, sedang, atau besar)


2) Bengkok
3) IUD steril
4) Forsep / korentang
5) Mangkok untuk larutan antiseptik
6) Kain kasa atau kapas
7) Bak instrumen
8) Sarung tangan steril 2 pasang
9) Tampon tang
10) Tenakulum
11) Sonde uterus
12) Sumber cahaya yang cukup untuk menerangi serviks
C. Prosedur pelaksanaan

1. Dekatkan alat dengan pasien


2. Atur posisi yang membuat klien merasa nyaman
3. Cuci tangan 6 langkah
4. Pasang selimut mandi
5. Gunakan sarung tangan steril pada tangan kiri
6. Letakan IUD di tempat yang rata
7. Buka plastik atas IUD dengan menggunakan tangan kanan, tangan kiri untuk
memasukkan Coper T IUD dari dalam dan tangan kanan merapatkan dari luar
8. Dekatkan bengkok agar lebih membuang bahan habis pakai
9. Buka kom kapas sublimat
10. Pakai sarung tangan pada tangan kanan
11. Lakukan tindakan vulva hygiene
12. Lakukan pemeriksaan dalam
13. buka sarung tangan, Cuci tangan di air,
14. Gunakan sarung tangan steril yang baru
15. Memasukkan spekulum sesuai anatomi
16. Bersihkan bagian serviks dengan kasa steril menggunakan tampon tang
17. Jepit serviks dengan menggunakan tenakulum pada posisi vertikal (arah jam 11
atau jam 1)
18. Ukur panjang uterus dengan menggunakan sonde uterus
19. Memsang IUD dengan teknik menarik (With drawal tecniqique) :
Memasukkan tabung inserter yang berisi IUD ke dalam kanalis servikalis
Menarik tabung inserter sampai pangkal pendorong untuk memasukkan
IUD
Mengeluarkan pendorong dan dorong kembali tabung inserter sampai
terasa pada fundus.Menggunakan benang IUD 3 sampai 4 cm
20. Bersihkan area porsio yang telah terpasang IUD dengan kasa menggunakan
tampon tang
21. Mengeluarkan tenakulum dan spekulum, rendam dalam larutan klorin 0,5 %
22. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa IUD telah terpasang
23. Lepaskan sarung tangan
24. Cuci tangan 6 langkah kembali
25. Dokumentasikan tindakan yang akan dilakukan
Unit terkait KIA
SOP PEMASANGAN DAN PENCABUTAN AKDR
Nomor Dokumen: Nomor Revisi: Halaman :
01/SOP/PKM.M/I/2016 1/2
Pemerintah
Kabupaten Maluku Puskesmas Masohi
Tengah
Tim Penyusun : Tanggal Terbit : Tangggal Ditetapkan
Nurlina Soamole 25/1/2016 Revisi : Kepala Puskesmas Masohi

Amd.Keb dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

Revisi Ke NIP. 19811002 200904 2 001


:

A. TUJUAN PROSEDUR
Untuk menjarangkan kehamilan selama 10 tahun
B. PENJELASAN SINGKAT TENTANG PROSEDUR
Suatu tindakan pemasangan alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim yang berupa
kerangka dari plastic yang fleksibel, berbentuk huruf T diselubungioleh kawat halus yang
terbuat dari tembaga (Cu)
C. PERATURAN DAN KEBIJAKAN INTERN TERKAIT PROSEDUR INI
1. Undang - Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional
2. Undang - Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 tentang
Perencanaan dan Penganggaran Bidang Kesehatan
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang
Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2015 tentang Petunjuk
Teknis Bantuan Operasional Kesehatan
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2015 tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat
D. PROSEDUR
Konseling Pra Pencabutan
1. Sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri anda
2. Tanyakan tujuan kedatangannya
3. Tanyakan apa alasannya ingin mencabut AKDR tersebut dan jawab semua
pertanyaannya
4. Tanyakan tujan reproduksi (KB) selanjutnya (apakah klien mengatur jarak kelahiran atau
ingin membatasi jumlah anaknya)
5. Jelaskan proses pencabutan AKDR dan apa yang klien rasakan pada saat proses
pencabutan
Tindakkkan PraPencabutan
6. Pastikan klien sudaaah mengosongkan kandung kencingnyadan mencuci area genetalia
dengan menggunakan sabun da air
7. Bantu klien naik ke meja pemeriksan
8. Cuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan kain bersih
9. Pakai sarung tangan DTT yang baru
10. Atur penempatan peralatan daan bahan-bahan yang akan dipakai dalam wadah steril
atau DTT
Prosedur Pencabutan
11. Lakukan pemeriksaan bimanual :
Pastikan gerakkan serviks bebas
Tentukan besar posisi uterus
Pastikan tidak ada infeksi atau tumor pada adneksa
12. Pasang speculum vagina untuk melihat serviks
13. Usap vagina dan serviks dengan larutan
14. Jepit benang yang dekat dengan serviks dengan klem
15. Tarik keluar benang secara mantap tetapi hati-hati untuk mengeluarkan AKDR
16. Tunjukkan AKDR tersebut pada klien, kemudian rendam dalam klorin 0,5%
17. Keluarkan spekulum dengan hati-hati
Tindakan Pasca Pencabutan
18. Rendam semua peralatan yang sudah dipakai dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit untuk dekontaminasi
19. Buang bahan-bahan yang sudah tidak dipakai lagi (kasa, sarung tangan sekali pakai) ke
tempat yang sudah disediakan
20. Celupkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin
0,5% kemudian lepaskan dalam keadaan terbalik dan rendam dalam larutan klorin
teeersebut
21. Cuci tangan dengan air dan sabun
22. Amati selama 5menit sebelum memperbolehkan klien pulang

Konseling Pasca Pencabutan


23. Diskusikan apa yang harus dilakukan bila klien mengalami masalah (misalnya
perdarahan yang lama atau rasa nyeri pada perut/ panggul)
24. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan
25. Jawab semua pertanyaan klien
26. Ulangi kembali keterangan tentang pilihan kontrasepsi yang tersedia dan risiko
keuntungan dari masing-masing alat kontrasepsi bila klien ingin tetap mengatur jarak
kelahiran atau ingin membatasi jumlah anaknya
27. Bantu klien untuk menentukan alat kontrasepsi sementara sampai dapat memutuskan
alat kontrasepsi baru yang akan dipakai
28. Buat rekam medic tentang pencabutan AKDR
29. Berikan informasi umum tentang KB
30. Berikan informasi tentang jenis kontrasepsi yang tersedia dan keuntungan-keterbatasan
darimasing-masing jenis kontrasepsi (termasuk perbedaan antara kontap dan metode
reversible) :
Tunjukkan dimana dan bagaimana alkon tsb digunakan
Jelaskan bagaimana carakerja alkon tersebut
Jelaskan kemungkinan efek samping dan masalah kesehatan lain yang mungkin akan
dialami
Jelaskan efek samping yang umumnya sering dialami klien
31. Jelaskan apa yang bias diperoleh dari kunjungannya
Konseling Metode Khusus
32. Berikan jaminan akan kerahasiaan yang diperlukan klien
33. Kumpulkan data-data pribadi klien (nama, alamat, dsb)
34. Tanyakan tujuan repodruksi (KB) yang diinginkan (apakah klien ingin mengatur jarak
kelahiran atau ingin membatasi jumlah anaknya)
35. Tanyakan agama/ kepercayaan yang dianut klien, yang mungkin menentang
penggunaan salah satu metode KB
36. Diskusikan kebutuhan, pertimbangandan kekhawatiranklien dengan sikap simpatik
37. Bantulah klien untuk memilih metode yang tepat
38. Jelaskan kemungkinan-kemungkinan efek samping AKDR Cu T 380 A, sampai benar-
benar dimengerti oleh klien

Konseling Pra-Pemasangan & Seleksi Klien


39. Lakukan seleksi klien (anamnesis) secara cermat untuk memastikan tidak ada kesalahan
untuk menggunakan AKDR
Riwayat Kesehatan Reproduksi :
Tanggal haid terakhir, lama haid dan pola perdaran haid
Paritas dan riwayat persalinan yang terakhir
Riwayat kehamilan ektopik
Neri yang hebat setiap haid
Anemia berat ( Hb < 9 gr% atau Hematokrit <30 )
Riwayat infeksi genetalia (ISG), Penyakit Menular Seksual (PMS), atau infeksi panggul
Berganti-ganti pasangan (risiko ISG tinggi)
Kanker serviks
40. Jelaskan bahwa perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan panggul dan jelaskan apa yang
akan dilakukan dan dipersilahkan klien untuk mengajukan pertanyaan
Pemeriksaan Panggul
41. Pastikan klien sudah mengosongkan kandung kemihnya dan mencuci area genetalia
dengan menggunakan sabun dan air
42. Cuci tangan dengan air bersih mengalir dengan sabun, keringkan dengan air bersih
43. Bantu klien untuk naik ke meja pemeriksaan
44. Palpasi daerah perut dan periksa apakah ada nyeri, benjolan atau kelainan lainnya di
daerah supra pubik
45. Kenakan kain penutup pada klien untuk pemeriksaan panggul
46. Atur arah sumber cahaya untuk melihat serviks
47. Pakai sarung tangan DTT
48. Atur penempatan peralatan dan bahan-bhan yang akan digunakaan dalam wadah steril
atau DTT
49. Lakukan inspeeksi pada genetalia eksterna
50. Palpasi kelenjar skene dan bartolini amati adanya nyeri atau duh (discharge) vagina
51. Masukkan spekulum vagina
52. Lakukan pemeriksaan inspekulo :
Pemeriksaan adanya lesi atau keputihan pada vagina
Inspeksi serviks
26. Keluarkan spekulum dengan hati-hati dan letakkan kembali pada tempat semula dengan
tidak menyentuh peralatan lain yang belum digunakan
27. Lakukan pemeriksaan bimanual :
Pastikan gerakkan serviks bebas
Tentukan besar dan posisi uterus
Pastikan tidak ada kehamilan
Pastikan tidak ada infksi atau tumor pada adneksa
28. Lakukan pemeriksaan rektovaginal (bila ada indikasi) :
Kesulitas menentukan besar uterus retroversi
Adanya tumir pada cavum Douglasi
29. Celupkan dan bersihkan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5 % kemudian buka secara
terbalik dan rendam dalam larutan klorin
Tindakan Pra Pemasangan
30. Jelaskan proses pemasangan AKDR dan apa yang akan klien rasakan pada saat proses
pemasangan dan persilahkan klien untuk mengajukan pertanyaan
31. Masukkan lengan AKDR Cu T 380 A di dalam kemasan sterilnya :
Buka sebagian plastik penutupnya dan lipat ke belakang
Masukkan pendorong ke dalam tabung inserter tanpa menyentuh benda tidak steril
Letakkan kemasan pada tempat yang datar
Selipkan karton pengukur di bawah lengan AKDR
Pegang kedua ujung lengan AKDR dan dorong tabung inserter sampai ke pangkal
lengan sehingga lengan akan melipat
Setelah lengan melipat sampai menyentuh tabung inserter, tarik tabung inserter
Prosedur Pemasangan AKDR
32. Pakai sarung tangan DTT yang baru
33. Pasang spekulum vagina untuk melihat serviks
34. Usap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik 2 sampai 3 kali
35. Jepit serviks dengan tenakulum secara hati-hati (takik pertama)
36. Masukkan sonde uterus dengan teknik tidak menyentuh (no touch technique) yaitu
secara hati-hati memasukkan sonde ke dalam cavum uteri dengan sekali masuk tanpa
menyentuh dinding vagina ataupun bibir spekulum
37. Tentukan posisi dan kedalaman kavum uteri dan keluarkan sonde
38. Ukur kedalaman cavum uteri pada tabung inserteryang masih berada di dalam kemasan
sterilnya dengan menggeser leher biru pada tabung inserter, kemudian buka seluruh
plastik penutup kemasan
39. Angkat tabung AKDR dari kemasannya tanpa menyentuh permukaan yang tidak steril,
hati-hati jangan sampai pendoorongnya terdorong
40. Pegang tabung AKDR dengan leher biru dalamposisi horizontal (sejajar lengan AKDR),
sementara melakukan tarikan hati-hati pada tenakulum, masukkan tabung inserter ke
dalam uterus sampai leher biru menyentuh serviks atau sampai terasa adanya tahanan
41. Pegang sertatahan tenakulum dan epndorong dengan satu tangan
42. Lepaskan lengan AKDR dengan menggunakan teknik withdrawal yaitu menarik keluar
tabung inserter sampai pangkal pendorong dengan tetap menahan pendorong
43. Keluarkan pendorong, kemudian tabung inserter didorong kembali ke serviks sampai
leher biru menyentuh serviksatau terasa adanya tahanan
44. Keluarkan sebagian dari tabung inserter dan gunting benang AKDR kurang lebih 3-4 cm
45. Keluarkanseluruh tabung inserter, buang ke tempat sampah terkontaminasi
46. Lepaskan tenakulum dengan hati-hati rendam dalam larutan klorin 0,5 %
47. Periksa serviks dan bila ada perdarahan dari tempat bekas jepitan tenakulum, tekan
dengan kasa selama 30-60 detik
48. Keluarkan spekulum dengan hati-hati
Tindakan Pasca Pemasangan
49. Rendam seluruh pppperalatan yang sudah dipakai dalam larutan klorin 0,5 % selama 10
menit untuk dekontaminasi
50. Buang bahn-bahan yang sudah tidak dipakai lagi (kasa, sarung tangan sekali pakai) ke
tempat yang sudah disediakan
51. Celupkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin
0,5%, bersihkan cemaran pada sarung tangan, buka secara terbalik dan rendam dalam
larutan klorin 0,5%
52. Cuci tangan dengan air sabun
53. Pastikan klien tidak mengalami kram hebat dan amati selama 15 menit sebelum
memperbolehkan klien pulang
Konseling pascapemasangan
54. Ajarkan klien bagaimana cara memeriksa sendiri benang AKDR dan kapan harus
dilakukan
55. Jelaskan pada klien apa yang harus dilakukan bila mengalami efek samping
56. Beritahu kapan klien harus kembali ke klinikuntuk kontrol
57. Ingatkan kembali masa pemakaian AKDR Cu T 380 A adalah 10 tahun
58. Yakinkan klien bahwa ia dapat datang ke klinik setiap saat bila memerlukan konsultasi,
pemeriksaan medik atau bila menginginkan AKDR tersebut dicabut
59. Minta klien untuk mengulangi kembali penjelasan yang telah diberikan
60. Lengkapppi rekam medik dan kartu AKDR untuk klien
E. KETERLIBATAN PIHAK LAIN DALAM PELAKSANAAN PROSEDUR
1. Kepala Puskesmas
2. Petugas Apotik
3. Petugas Loket
F. FORMULIR, DOKUMEN ATAU BLANGKO
Register KB, Kartu KB
G. LAPORAN YANG DIHASILKAN
Laporan KB
H. KAITAN DENGAN PROSEDUR LAIN
SOP Asuhan Persalinan Normal, SOP ANC, SOP Pencabutan AKDR

I. LAMPIRAN
Pelatihan Klinik CTU Tahun 2011
J. REFERENSI
Pelatihan Klinik CTU Tahun 2011
SOP PEMASANGAN IMPLANT

No. Dokumen Halama


No. Revisi
n
02/SOP/PKM.M/I/201
0
6 1/2
Pemerintah Kabupaten Puskesmas Masohi
Maluku Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi
(SPO) 25/1/2015
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001


1. Pengertian Suatu tindakan pamasangan kapsul implant di daerah lengan kiri atas sebelah
dalam.
2. Tujuan Untuk mecegah kehamilan.

3. Kebijakan SK KAPUS NO : 814.1/33/415.25.19/ tentang penyusunan rencana layanan


klinis dan layanan terpadu yang efektif,efisien dan berkesinambungan di
Puskesmas Masohi.
4. Referensi Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi 2004

5. AlatdanBahan 1. Duk steril berlubang


2. Sarung tangan steril satu pasang
3. Trokart steril + bisturi mess steril
4. Spuit disposable
5. Kasa steril dan perban
6. Patrum norplant
6. Prosedur KONSELING PRA PEMASANGAN
1. Sapa klien dengan ramah dan hangat
2. Tanyakan pada klien tujuan pemakaian alat kontrasepsi
3. Bila belum dilakukan konselin implant, berikan konseling sebelum dilakukan
pemasangan
4. Pastikan bahwa klien memang memilih implant
5. Periksa kembali rekam medik untuk menentukan bahwa klien memeng
cocok untuk memakai implant
6. Lakukan pemeriksaan fisik lanjutan atau rujuk bila ada indikasi
7. Nilai pengetahuan klien tentang efek samping yang umum pada implant
8. Dengarkan kebutuhan dan kekhawatiran klien terhadap implant
9. Jelaskan proses pemasangan implant dan apa yang klien rasakan pada saat
proses pemasagan dan setelah pemasangan
10. Konseling dan pasien mengisi Informed Consent

PEMASANGAN KAPSUL IMPLANT


PERSIAPAN
1. Periksa kembali untuk meyakinkan bahwa klien telah mencuci lengannya
sebersih mungkin dengan sabun dan air untuk membilasnya sehingga
tidak ada sabun
2. Tentukan tempat pemasangan pada bagian dalam lengan atas
3. Beri tanda pada tempat pemasangan
4. Pastikan bahwa peralatan yang steril atau DTT dan ke 6 kapsul implant
sudah tersedia
TINDAKAN PRA PEMASANGAN
1. Cuci tangan dengan air dan sabun, keringkan dengan air bersih
2. Pakai sarung tangan steril atau DTT ( bila sarung tangan diberi bedak,
hapus bedak dari sarung tangan )
3. Usap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik
4. Pasang kain penutup ( doek ) steril atau DTT di sekeliling lengan klien
PEMASANGAN KAPSUL IMPLANT
1. Suntikkan anestesia lokal tepat dibawah kulit sampai kulit sedikit
menggelembung
2. Teruskan penusukkan jarum kurang lebih 4 cm, dan suntikan masing-
masing 1 cc diantara pola pemasangan nomor 1 dan 2,3 dan4,5 dan 6
3. Uji efek anestesinya sebelum melakukan insisi pada kulit
4. Buat insisi dangkal selebar 2 mm dengan skapel ( alternatif lain tusukkan
trokar langsung kelapisan dibawah kulit/subdermal )
5. Sambil mengungkit kulit, masukkan terus trokar dan pendorongnya
sampai batas tanda 1 ( pada pangkal trokar ) tepat pada luka insisi
6. Keluarkan pendorong dan masukkan kapsul kedalam trokar ( dengan
tangan atau dengan pinset )
7. Masukkan kembali pendorong dan tekan kapsul kearah ujung dari trokar
sampai terasa adanya tahanan
8. Tahan pendorong di tempatnya dengan satu tangan, dan tarik trokar
keluar sampai mencapai pasangan pendorong
9. Tarik trokar dan pendorongnya secara bersama-sama sampai batas tanda
2 terlihat pada luka insisi ( jangan mengeluarkan trokar dari tempat insisi )
10. Tahan kapsul yang telah terpasang dengan satu jari dan masukkan kembali
trokar serta pendorongnya sampai tanda 1
11. Jangan menarik ujung trokar dari tempat insisi sampai seluruh kapsul
sudah terpasang
12. Raba kapsul untuk memastikan keenam kapsul implant telah terpasang
dalam bola kipas
13. Raba daerah insisi untuk memastikan seluruh kapsul berada jauh dari insisi

TINDAKAN PASCA PEMASANGAN


1. Dekatkan ujung-ujung insisi dan tutup dengan band aid
2. Beri pembalut tekan untuk mencegah perdarahan dan mengurangi memar
3. Taruh alat suntik di tempat terpisah dan letakkan semua peralatan dalam
larutan klorin untuk dekontaminasi
4. Buang peralatan yang sudah tidak di pakai lagi ke tempatnya ( kapas, kasa,
sarung tangan/alat suntik sekali pakai )
5. Lepas sarung tangan dan rendam dalam larutan klorin
6. Cuci tangan dengan sabun dan air kemudian keringkan denga air bersih

KONSELING PASCA PEMASANGAN


1. Gambar letak kapsul pada rekam medik dan catat bila ada hal-hal khusus
2. Beri petunjuk pada klien cara merawat luka dan kapan klin harus datang
kembali ke klinik untuk kotrol
3. Yakinkan pada klien bahwa ia dapat datang ke kliniksetiap saat bila
menginginkan untuk mencabut kembali implant
4. Lakukan observasi selama 5 menit sebelum memperbolehkan pasien
pulang
7. Hal-hal yang Perlu Alat didekontaminasi dengan larutan klorin 0,5 % selama 10 menit, kemudian
diperhatikan dicuci dengan memakai sabun dan dibilas sampai bersih, dikeringkan lalu
disteril selama 30 menit.

6. Unit terkait POLI KIA

8. DokumenTerkait 1. Rekam medis


2. General consent
3. Register KB
SOP
PENCABUTAN IMPLANT

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2 Puskesmas


Pemerintah Kabupaten Maluku Masohi
Tengah

STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Kepala Puskesmas Masohi
Tanggal terbit
(SPO)
25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2


001

Pengertian Pencabutan Implant adalah melakukan pencabutan alat


kontrasepsi yang diletakkan di bawah kulit lengan atas
dengan jumlah kapsul berbeda yang bekerja untuk
menekan ovulasi dan mengentalkan lender serviks.
Tujuan Sebagai acuan dalam penerapan langkah-langkah
penatalaksanaan KB Implant dalam rangka peningkatan
mutu dan kinerja di Puskesmas Masohi
Kebijakan
Referensi a. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Tahun
2010
b. Pedoman manajemen pelayanan keluarga berencana
oleh kemenkes tahun 2014
1. Prosedur/Langkah a. Klien datang dan mengambil nomor antrian
b. Klien mendaftar diloket
c. Petugas loket membawa K/IV/KB di ruang KIA/KB
d. Petugas ruang KIA/KB memanggil klien sesuai urutan
e. Petugas mencocokkan identitas klien di ruang KIA/KB
dengan K/IV/KB
f. Petugas ruang KIA/KB melakukan anamnesa pada klien
g. Petugas memberi konseling ABPK kepada klien untuk
memilih pelayanan KB yang dikehendaki. Jika klien
setuju maka dilakukan klien mengisi informed
consent.Jika klien tidak setuju maka dilakukan
konseling ulang. Jika kondisi klien tidak memungkinkan
segera lakukan rujukan.
h. Menjelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan
dalam proses pencabutan dan mempersilahkan klien
untuk bertanya
i. Mempersilahkan klien untuk naik ke tempat tidur
j. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang
(jika diperlukan).
k. Menentukan lokasi insisi yang mempunyai jarak sama
dari ujung bawah semua kapsul(dekat siku).
l. Pada lokasi yang sudah dipilih, buat insisi melintang
yang kecil lebih kurang 4 mm dengan menggunakan
skapel.
m. Mulai dengan mencabut kapsul yang mudah diraba dari
luar atau yang terdekat tempat insisi.
n. Dorong ujung kapsul ke arah insisi dengan jari tangan
sampai ujung kapsul tampak pada luka insisi. Saat
ujung kapsul tampak pada luka insisi, masukkan klem
lengkung (mosquito) dengan lengkungan jepitan
mengarah keatas, kemudian jepit ujung kapsul dengan
klem tersebut.Jika kapsul sulit digerakkan ke arah insisi
masukkan klem lengkung melalui luka insisi dengan
lengkungan jepitan mengarah ke kulit, teruskan sampai
berada dibawah ujung kapsul dekat siku,buka dan
tutup jepitan klem untuk memotong secara tumpul
jaringan parut yang mengelilingi ujung kapsul.
o. Bersihkan dan buka jaringan ikat yang mengelilingi
kapsul dengan cara menggosok-gosok pakai kasa steril
untuk memaparkan ujung bawah kapsul.
p. Jepit kapsul yang sudah terpapar dengan klem
kedua.Lepaskan klem pertama dan cabut kapsul secara
pelan dan hati-hati dengan klem kedua.
q. Pilih kapsul berikutnya yang tampak paling mudah
dicabut.Gunakan teknik yang sama untuk mencabut
kapsul berikutnya.
r. Menghitung untuk memastikan semua kapsul dicabut.
s. Mempersilahkan klien untuk turun dari tempat tidur.
t. Melakukan pemantauan medis dan pemberian nasehat
pasca tindakan
u. Petugas mencatat hasil pelayanan di K/IV/KB dan
register kohort KB

5. Diagram Alir
Mulai
Mulai

Peserta Datang

Pendaftaran

Anamnesa

JJJKJJJJJJJJJJ

Tidak
Setuju Konseling Ulang
Rujukan

Ya

Informed consent
Pemeriksaan fisik dan penunjang
(jika diperlukan)

Dilakukan pencabutan Implant

Pemantauan medis & pemberian


nasehat pasca tindakan

Pencatatan di register kohort KB dan K/IV/KB

Selesai

6. Unit terkait a) Kia


b) Loket
c) Kasir
d) Apotik
SOP
KB SUNTIK 3 BULAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2 Puskesmas Masohi


Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah

STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian Cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui


suntikan hormonal dalam jangka waktu 3 bulan dengan
menggunakan hormon yaitu Depo Medroxyprogesterone Acetat
(hormon progestin).
Tujuan Sebagai acuan dalam melakukan suntikan KB
Kebijakan SK Kepala PKM No............/............/2016 Tentang Pelayanan
Klinis
Referensi Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi halaman PK-
55,2006
2. Prosedur/Langkah 1. Petugas memberi salam kepada pasien dengan ramah
2. Petugas mencocokkan identitas pasien
3. Petugas menjelaskan kepada pasien mengenai prosedur yang
akan dilakukan
4. Petugas melakukan informed consent sebelum melakukan
tindakan.
5. Petugas menyiapkan alat dan bahan
6. Petugas mengatur posisi pasien
7. Petugas mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
8. Petugas mengambil spuit, isi dengan obat yang akan
disuntikan. Obat kb suntik 3 bulan hanya mengandung 1
hormon yaitu Depo Medroxyprogesterone Acetat (hormon
progestin) dengan volume 150 mg dan dikemas dalam vial
3ml.
9. Petugas melakukan aseptik tempat yang akan di suntik dengan
kapas alkohol.
10. Petugas menyuntikan jarum di daerah penyuntikan dengan
arah tegak lurus hingga mencapai daerah otot.
11. Petugas melakukan aspirasi, apabila tidak terdapat darah
masukkan obat secara perlahan lahan.
12. Petugas mengangkat keluar jarum suntik dan bersihkan
kulit dengan kapas alkohol
13. Petugas membuang spuit yang telah dipakai ke tempat
sampah khusus.
14. Petugas mencuci tangan dengan sabun di air mengalir lalu
mengeringkannya
15. Petugas menulis di buku catatan mengenai tindakan yang
telah dilakukan dan merencanakan tanggal penyuntikan
berikutnya.
7. Diagram Alir
Petugas memberi salam

Petugas mencocokkan identitas

Petugas menjelaskan prosedur

Petugas melakukan informed concent

Petugas menyiapkan alat & bahan

Petugas mengatur posisi pasien

Petugas mencuci tangan

Petugas mengambil spuit, isi dengan obat yang akan


di suntikan

Petugas melakukan aseptik

Petugas menyuntikan jarum di daerah penyuntikan


dengan arah tegak lurus hingga mencapai daerah otot.
Petugas melakukan aspirasi & injeksi

Petugas mengangkat keluar jarum suntik dan


bersihkan kulit dengan kapas alkohol

Petugas membuang spuit yang telah dipakai ke tempat


sampah khusus.

Petugas mencuci tangan

Petugas menulis di buku catatan

8. Unit terkait e) Kia


f) Loket
g) Kasir
h) Apotik

.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
SOP
KB SUNTIK 1 BULAN

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian Cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan


hormonal dalam jangka waktu 3 bulan dengan menggunakan
hormon yaitu Depo Medroxyprogesterone Acetat (hormon
progestin).
Tujuan Sebagai acuan dalam melakukan suntikan KB
Kebijakan SK Kepala PKM No............/............/2016 Tentang Pelayanan Klinis
Referensi Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi halaman PK-55,2006
Prosedur/Langkah 1.Petugas memberi salam kepada pasien dengan ramah
2.Petugas mencocokkan identitas pasien
3.Petugas menjelaskan kepada pasien mengenai prosedur yang
akan dilakukan
4.Petugas melakukan informed consent sebelum melakukan
tindakan.
5.Petugas menyiapkan alat dan bahan
6.Petugas mengatur posisi pasien
7.Petugas mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
8.Petugas mengambil spuit, isi dengan obat yang akan di
suntikan.Obat kb suntik 1 bulan mengandung 2 jenis hormon
yaitu 25ml Medroxyprogesteron acetat (hormon progestin) dan
5ml estradiol cypionate (hormon estrogen)
9.Petugas melakukan aseptik tempat yang akan di suntik dengan
kapas alkohol.
10. Petugas menyuntikan jarum di daerah penyuntikan dengan
arah tegak lurus hingga mencapai daerah otot.
11. Petugas melakukan aspirasi, apabila tidak terdapat darah
masukkan obat secara perlahan lahan.
12. Petugas mengangkat keluar jarum suntik dan bersihkan kulit
dengan kapas alkohol
13. Petugas membuang spuit yang telah dipakai ke tempat
sampah khusus.
14. Petugas mencuci tangan dengan sabun di air mengalir lalu
mengeringkannya.
15. Petugas menulis di buku catatan mengenai tindakan yang telah
dilakukan dan merencanakan tanggal penyuntikan berikutnya.

9. Diagram Alir
Petugas memberi salam

Petugas mencocokkan identitas

Petugas menjelaskan prosedur

Petugas melakukan informed concent

Petugas menyiapkan alat & bahan

Petugas mengatur posisi pasien

Petugas mencuci tangan

Petugas mengambil spuit, isi dengan obat yang akan


di suntikan

Petugas melakukan aseptik

Petugas menyuntikan jarum di daerah penyuntikan


dengan arah tegak lurus hingga mencapai daerah otot.

Petugas melakukan aspirasi & injeksi


Petugas mengangkat keluar jarum suntik dan
bersihkan kulit dengan kapas alkohol

Petugas membuang spuit yang telah dipakai ke tempat


sampah khusus.

Petugas mencuci tangan

Petugas menulis di buku catatan

10. Unit terkait i) Kia


j) Loket
k) Kasir
l) Apotik

.Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai
diberlakukan
SOP
PEMERIKSAAN IVA DAN
PEMERIKSAAN PAYUDARA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2 Puskesmas Masohi


Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah

STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian Iva (Inspeksi Visual dengan Asam asetat) : merupakan metode


sederhana untuk deteksi dini kanker leher rahim dengan
menggunakan asam asetat.
Deteksi Dini kanker payudara adalah pemeriksaan payudara
untuk mengidentifikasi kelainan payudara yang dapat
mengarah ke arah keganasan (kanker) sehingga dapat segera
mendapat pengobatan dengan harapan pengobatan dapat
lebih tuntas dan angka kesembuhan lebih tinggi.
Tujuan 1. deteksi dini menggunakan metode IVA bertujuan
mengidentifikasi mereka yang mengalami lesi pra kanker
sehingga dapat memperoleh terapy segera untuk
memutus perjalanan hidup lesi pra kanker sebelum
menjadi kanker
2. deteksi dini kanker payudara bertujuan
untuk memngidentifikasi masalah pada payudara
sebelum ibu merasakan gejala dan memberi
kesempatan untuk pengobatan atau pencegahan sejak
dini.
Memberikan pengetahuan pada perempuan di
masyarakat sehingga dapat lebih peduli dengan adanya
kemungkinan terhadap kanker,dan membekali mereka
dengan pengetahuan pemeriksaan dengan metode
SADARI,agar mereka dapat melakukan pemeriksaan
payudaranya sendiri.

Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis


Pelayanan di Puskesmas Masohi
Referensi Buku acuan Pencegahan Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim
diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Repubil Indonesia,Direktorat
Jenderal PP & PL,Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular
tahun 2010.
Prosedur/Langkah PENILAIAN KLIEN:

1. Menyapa ibu dengan sopan dan ramah


2. Memastikan bahwa ibu sudah memahami mengapa
dianjurkan menjalani pemeriksaan payudara dan tes IVA dan
memastikan bahwa ibu sudah mengerti prosedur
pemeriksaan yang akan dilakukan.
3. Memastikan bahwa ibu sudah memahami kemungkinan
temuan seperti apa yang dihasilkan dan tindak lanjut atau
pengobatan apa yang mungkin perlu dilakukan.

PERSIAPAN:

1. Memeriksa apakah peralatan dan bahan sudah tersedia:


- Inspekulo
- Lidi kapas
- Asam asetat
- Aquades
- Kom steril dari plastik.
- Handscoen.
2. Memeriksa lampu yang tersedia dan siap digunakan.
3. Menanyakan apakah ibu sudah BAK dan membersihkan
serta membilas daerah genitalnya bila perlu.
4. Meminta ibu untuk melepas pakaian dalam baik bra maupun
celana dan meminta ibu menggunakan kain.
5. Mencuci tangan kemudian menggunakan sarung tangan.
PEMERIKSAAN PAYUDARA
1. Pada saat melakuka pemeriksaan harus diingat untuk selalu
mengajarkan cara melakukan SADARI.
2. Melihat payudara dan memperhatikan apakah ada
perubahan :
- Bentuk
- Ukuran
- Puting atau kulit yang berlipat
- Kulit cekung
Memeriksa apakah terjadi pembengkakan,suhu tubuh
yang meningkat atau rasa nyeri pada salah satu atau
kedua payudara.
3. Melihat puting payudara dan perhatikan ukuran,bentuk dan
arahnya. Memeriksa apakah ada ruam atau luka dan keluar
cairan dari puting payudara.
4. Meminta ibu mengangkat kedua lengannya keatas kepala
dan lihat kedua payudaaranya. Memperhatikan apakah ada
perbedaan. Melihat ibu untuk meletakkan kedua tangan di
pinggang dan memperhatikan kembali payudaranya.
5. Meminta ibu/klien membungkuk untuk melihat apakah
kedua payudaranya menggantung secara seimbang.
6. Meminta ibu/klien berbaring di meja periksa.
7. Meletakkan bantal di bawah pundak kiri ibu/klien.
Meletakkan lengan kiri ibu di atas kepalanya.
8. Melihat payudara sebelah kiri dan memeriksa apakah ada
perbedaan dengan payudara sebelah kanan. Memeriksa
apakah terdapat kerutan atau lekukan pada kulit payudara.
9. Menggunakan telapak jari-jari telunjuk tengah dan manis,
mempalpasi seluruh payudara, dimulai dari sisi atas paling
luar dari payudara, menggunakan teknik spiral. Perhatikan
apakah terdapat benjolan atau rasa nyeri.
10. Menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menekan
putting payudara. Perhatikan apakah keluar cairan bening,
keruh atau berdarah dari putting.
11. Ulangi langkah-langkah tersebut di atas untuk payudara di
sebelah kanan. Jika perlu, ulangi tindakan ini dengan posisi
ibu duduk dan kedua lengan berada di samping tubuh.
12. Meminta ibu/klien untuk duduk dan mengangkat kedua
lengan setinggi bahu. Mempalpasi pangkal payudara dengan
menekan sepanjang sisi luar otot pectoral kiri sambil secara
bertahap menggerakkan jari-jari kearah axial. Memeriksa
apakah terjadi pembesaran kelenjar getah bening (lymph
nodes) atau rasa nyeri.
13. Ulangi langkah tersebut untuk payudara sebelah kanan.
14. Setelah selesai persilahkan ibu mengenakan kembali
pakaiannya sambil periksa mencuci tangan dengan aur dan
sabun dan mengeringkannya.
MEMERIKSA ABDOMEN DAN LIPAT PAHA
1. Meminta ibu untuk berbaring di meja periksa dengan kedua
lengan di samping.
2. Memapar seluruh abdomen.
3. Perhatikan apakah ada benjolan pada abdomen. Perhatikan
letak dan bentuk pusar.
4. Memeriksa abdomen untuk melihat apakah terdapat warna
yang tak biasa, parut, guratan atau ruam dan lesi.
5. Menekan dengan ringan menggunakan permukaan jari-jari
tanagn, mempalpasi semua area abdomen. Mengidentifikasi
adanya masa, daerah yang nyeri atau resistensi otot.
Mencatat temuan.
6. Denagn menekan lebih dalam, tentukan ukuran, bentuk,
konsistensi, rasa nyeri, mobilitas dan pergerakan massa.
Mencatat massa dan area nyeri yang ditemukan.
7. Mengidentifikasi area yang terasa nyeri. Jika terdapat nyeri,
periksa apakah terjadi nyeri lepas.
8. Jika ada luka terbuka pada abdomen bagian bawah atau
lipat paha, memakai sarung sepasang sarung tangan periksa
yang baru atau sarung tangan bedh yang telah di-DTT
sebelum memeriksa daerah tersebut. Mempalpasi kedua
area abdomen bawah apakah terdapppat benjolan, atau
bisul.
MEMERIKSA GENETALIA LUAR
1. Meminta ibu untuk menaruh kedua tumit pada dudukan.
Jika tidak ada dudukan, membantu ibu menaruh kesua
kakinya di tepi luar ujung meja. Tutupi ibu dengan selimut
atau kain.
2. Mencuci tangan dengan air sabun sampai bersih dan
dikeringkan denagn kain bersih dan kering, atau dianginkan.
3. Menyalakan lampu/senter dan mengarahkan ke daerah
genetalia.
4. Memakai sepasang sarung tangan periksa yang baru atau
telah di-DTT.
5. Menyentuh pshs sebelah dalam sebelum menyentuh daerah
genital ibu.
6. Memperhatikan labia, klitoris dan perineum apakah
terdapat parut, lesi, inflamasi atau retakan kulit.
7. Denagn memisahkan labia mayora dengan dua jari,
memeriksa labia mayora, klitoris, mulut uretra dan mulut
vagina.
8. Mempalpasi labia minora. Lihat apakah terdapat benjolan,
cairan, ulkus dan fistula. Rasakan apakah ada
ketidakberaturan atau benjolan dan apakah ada bagian yang
terasa nyeri.
9. Memeriksa kelenjar skene untuk melihat adanya keputihan
dan nyeri. Dengan telapak tangan menghadap ke atas,
masukkan jari telunjuk ke dalam vagina lalu dengan lembut
mendorong ke atas mengenai uretra dan menekan kelenjar
pada kedua sisi kemudian langsung ke uretra.
10. Memeriksa kelenjar bartholin untuk melihat apakah ada
cairan dan nyeri. Masukkan jari telinjuk ke dalam vagina di
sisi bwah mulut vagina dan meraba dasar masing-masing
labia mayora. Ddengan menggunakan jari dan ibu jari,
mempalpasi setiap sisi untuk mencari apakah ada benjolan
atau nyeri.
11. Meminta ibu untuk mengejan ketika menahan labia dalam
posisi terbuka. Periksa apakah terdapat benjolan pada
dinding anterior atau posterior vagina.
PEMERIKSAAN VISUAL MENGGUNAKAN ASAM ASETAT (INSPEKSI
VISUAL DENGAN ASAM ASETAT/IVA)
1. Memasang speculum dan menyesuaikannya sehingga
seluruh leher rahim dapat terlihat.
2. Memasang cocor bebek speculum dalam posisi terbuka
sehingga speculum tetap berada di tempatnya agar leher
rahim dapat terliht.
3. Memindahkan lampu / senter sehingga dapat melihat leher
rahim denagn jelas.
4. Memeriksa leher rahim apakah curiga kanker serviks atau
terdapat servisistis, ektopion, tumor, ovula naboti atau luka.
Bila curiga kanker serviks ppemeriksaan diakhiri, langsung ke
langkah 12 dan seterusnya tanpa melakukan langkah ke 13.
5. Menggunakan swab kapas yang bersih untuk menghilangkan
cairan, darah, atau mukosa dari leher rahim. membuang
swab kapas yang telah dipakai ke dalam wadah tahan bocor
atau kantung plastic.
6. Mengidentifikasi ostium uteri, SSK (sambungan skuamo
koloumnar) dan zona transformasi. Bila SSK tidak bisa
ditampakkan, lanjutkan dengan prosedur pemeriksaan test
Pap. Bila tes Pap tidak memungkinkan untuk dilakukan,
lanjutkan ke langkah 12, dan seterusnya.
7. Mencelupkan swab bersih ke dalam cairan asam asetat lalu
mengoleskan pada leher rahim. membuang swab kapas ke
dalam kantung lastik.
8. Menunggu minimal 1 menit agar asam asetat terserap dan
tampak perubahan warna putih yang disebut dengan lesi
putih.
9. Memastikan SSK dengan teliti:
Memeriksa apakah leher rahim mudah berdarah.
Mencari apakah terdapat plak putih yang tebal dan
meninggi atau lesi putih.
10. Bila perlu, oleskan kembali asam asetat atau usap leher
rahim dengan swab bersih untuk menghilagkan mukosa,
darah atau debris. Membuang swab ke dalam kantung
plastic.
11. Bila pemeriksaan visual telah selesai, gunakan swab baru
untuk menghilangkan sisa cairan asam asetat dai leher rahim
dan vagina. Membuang swab ke dalam kantung plastic.
12. Melepaskan speculum dan melakukan dekontaminasi
dengan meletakkan speculum dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit.
13. Melakukan pemeriksaan bimanual.
TUGAS / LANGKAH PASCA TES IVA
1. Meminta ibu untuk duduk, turuun dari meja periksa dan
berpakaian.
2. Membersihkan lampu / senter dan alas tempat duduk
paisen berturut-turut dengan larutan klorin 0,5% cairan
deterjen dan air bersih.
3. Merendam sarung tangan dalam keadaan dipakai ke dalam
larutan klorin 0,5%. Melepas sarung tangan dengan
membalik sisi dalam keluar.
Jika sarung tangan akan dibuang, buang ke dalam
kantung plastik.
Jika sarung tangan akan dipakai ulang, dekontaminasi
dengan merendam sarung tangan dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit.
4. Mencuci tangan dengan air dan sabun sampai benar-benar
bersih lalu dikeringkan dengan kain kering dan bersih atau
dianginkan.
5. Mencatat hasil tes IVA dan temuan lain ke dalam catatan
medis ibu.
Jika didapatkan lesi putih, menggambar peta leher rahim
dan daerah lesi putih pada catatan medis ibu.
6. Membahas hasil pemeriksaan payudara dan tes IVA bersama
ibu dan menjawab pertanyaan.
Jika hasil pemeriksaan payudara dan tes IVA negative,
sebutkan waktu kunjungan berikutnya untuk menjalani
kembali pemeriksaan payudara dan tes IVA.
Jika hasil pemeriksaan payudara atau tes IVA positif
atau dicurigai terdapat kanker, membahas langkah-
langkah selanjutnya.
Setelah member konseling, memberikan pengobatan atau
merujuk.
11. Diagram Alir
Petugas memberi salam

Petugas mencocokkan identitas

Petugas menjelaskan prosedur

Petugas melakukan informed concent

Petugas menyiapkan alat & bahan

Petugas mengatur posisi pasien

Petugas mencuci tangan

Petugas mengambil spuit, isi dengan obat yang akan


di suntikan

Petugas melakukan aseptik

Petugas menyuntikan jarum di daerah penyuntikan


dengan arah tegak lurus hingga mencapai daerah otot.

Petugas melakukan aspirasi & injeksi


Petugas mengangkat keluar jarum suntik dan
bersihkan kulit dengan kapas alkohol

Petugas membuang spuit yang telah dipakai ke tempat


sampah khusus.

Petugas mencuci tangan

Petugas menulis di buku catatan

12. Unit terkait m) Kia


n) Loket
o) Kasir
p) Apotik
SOP
ASI EKSKLUSIF

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian ASI eksklusif adalah pemberian ASI kepada bayi baru lahir sesegera
mungkin ( lebih kurang 30 menit setelah lahir ) dan bayi hanya
diberikan ASI saja sampai umur 6 bulan
Tujuan Menurunkan angka kesakitan.

Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis


Pelayanan di Puskesmas Masohi

Referensi a. Depkes Propinsi Riau 2015 Buku Pemberian Air Susu Ibu
Makanan Pendamping ASI
b. Undang undang 72 PP no 33 tahun 2012 tentang peraturan
pemberian Air SUSU Ibu Eksklusif
Prosedur/Langkah 1. Membaca dan mempelajari surat atau catatan rekam medik
yang dirujuk dari dokter/bidan/perawat.

2. Anamnesa.
Menanyakan keluhan bayi
Menanyakan berapa usia bayi.
Menanyakan jenis makan yang sudah diberikan pada bayi.
Menanyakan adanya diare.
Menanyakan adanya batuk, pilek.
Membiarkan ibu bayi / keluarga bayi bercerita.
Mencatat dalam buku register.

3. Therapy.
a. Menerangkan tentang manfaat ASI,

Manfaat kolostrum.
Kolostrum mengandung banyak zat gizi,zat untuk kekebalan
dan perlindungan bayi dari berbagai infeksi
Manfaat ASI bagi bayi.
a. Mudah dicerna.
b. Untuk perkembangan kecerdasan.
c. Tidak menyebabkan alergi.
d. Membantu pertumbuhan gigi.
e. Menjalin hubungan kasih antara ibu dan bayi.
f. Menumbuhan rasa percaya diri.
Manfaat menyusui.
1. Mengurangi perdarahan setelah persalinan.
2. Mempercepat pemulihan kesehatan ibu.
3. Menunda kehamilan.
4. Mengurangi resiko terkena kangker payudara
5. Menumbuhkan rasa percaya diri.
6. Menerangkan cara menyusui ibu yang bekerja.
7. Berikan asi sebelum dan sesudah pulang kerja.
8. Bila terasa penuh ASI dipompa dengan menggunakan
pompa susu.
9. Asi dapat disimpan dilemari es selama 6-8 jam tampa
berubah warna.
13. Diagram Alir
Ruangan poli anak
Rujuk internal
Ruangan KIA
ke ruangan gizi

Mempelajari Catatan rekam


medik
Rujuk kembali Timbang dan ukur BB dan
TB/Pb
Anamnesa dan penyuluhan
Memberi leflet tentang asi
eksklusif
Catat dibuku pencatatan

14. Unit terkait a) Kia


b) Loket
c) Kasir
d) Apotik
SOP
PELAYANAN PEMBERIAN KB PIL

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian Pasien yang pertama kali berkunjung di poli KB untuk


merencanakan KB dengan metode kontrasepsi Pil
Tujuan
1. Mencegah kehamilan
2. Mengatur jarak diantara kehamilan
3. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan umur
suami dan istri
4. Pasien dapat memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan
5. keinginannya kecuali pasien tertentu yang tidak dapat
memilih
6. Untuk mewujudkan terbentuknya NKKBS ( Norma Keluarga
Kecil Bahagia dan Sejahtera )

Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis


Pelayanan di Puskesmas Masohi
Implementasi Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) di
Puskesmas

Referensi Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, yayasan Bina Pustaka,


Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, 2006
Prosedur/Langkah . Konseling Awal

1. Sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri anda serta

tanyakan tujuan dan kedatangannya.

2. Berikan informasi umum tentang keluarga berencana


3. Berikan informasi tentang jenis kontrasepsi yang tersedia dan

keuntungan dari masing-masing jenis kontrasepsi (termasuk

perbedaan antara kontap dan metode reversible):

4. Tunjukkan dimana dan alkon tersebut digunakan.

5. Jelaskan bagaimana cara kerja alkon.

6. Jelaskan kemungkinan efek samping dan masalah kesehatan

lain yang mungkin dialami

7. Jelaskan efek samping yang umumnya sering dialami oleh

klien.

8. Jelaskan apa yang bisa diperoleh dari kunjungannya.

9. Berikan jaminan akan kerahasiaan yang diperlukan klien

b. Pencatatan & Penyuluhan

1. Kartu rawat jalan

2. Kartu KB ( K-1 )

3. Poster Penyuluhan

4. Register

5. Buku bantu

6. Spidol merah/biru

7. Surat pengantar rujukan

B. Tahap PraInteraksi

1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada

2. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar


C. Tahap Orientasi

1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada


keluarga/pasien

3. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya

4. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

D. Tahap Kerja

1. Petugas menerima ibu atau akseptor kb dari loket pendaftaran


di poli KB

2. Petugas Mempersiapkan alat dan bahan medis yang diperlukan

3. Mempersiapkan akseptor

4. Petugas mencuci tangan dengan sabun antiseptic dan bilas


dengan air mengalir dan keringkan.
5. Petugas melakukan anamnese
Melengkapi Identitas pasien.

Menanyakan jumlah anak

Menanyakan menstruasi terakhir

Menanyakan riwayat pemakaian kontrasepsi.


Menanyakan riwayat penyakit yang diderita dan riwayat
penyakit keluarga.

6. Petugas melakukan pengisian status sesuai dengan hasil


anamnesa

7. Petugas melakukan pemeriksaan :

a. Pemeriksaan umum

o Keadaan akseptor
o Mengukur berat badan
o Tanda vital : tekanan
darah,nadi,respirasi,suhu.
b. Pemeriksaan Khusus
Mata : Warna, seklera
Payudara : Ada benjolan atau tidak
Leher : Kelainan thyroid
Perut : Pembesaran uteri/ benjolan
Extremitas : Ada atau tidak varises
8. Petugas mempersiapkan Pil KB

9. Petugas memberikan Pil KB

10.Petugas memberikan penyuluhan

- Efek samping dari Pil KB

- Kontrol bila ada keluhan

- Kunjungan ulang harus tepat waktu sesuai


waktu yang ditentukan

- Personal Hygine

11. Petugas Menyerahkan kartu KB yang sudah diisi kepada

akseptor ( K-1 )

12. Petugas mencatat hasil pelayanan di K 4 dan register

KB

13. Petugas mendeteksi bila ada kelainan dan


dirujuk ke dokter spesialis / RS

14. Petugas melakukan rujukan ke poli umum atau laboratorium bila


ada indikasi

E. Tahap Terminasi

1. Melakukan evaluasi tindakan

2. Memberitahu pasien bahwa tindakan sudah selesai

3. Membereskan alat-alat

4. Mencuci tangan

5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan


Bagan Alir

PROTAP PEMERIKSAAN KB

PASIEN KB

ANAMNESA

LOKET PENDAFTARAN RUANG PERIKSA 1. STATUS PESERTA


KB.
DI POLI KB
2. RIWAYAT KB
SEBELUMNYA

PENGISIAN KARTU

PEMERIKSAAN

1. BERAT BADAN
2. TEKANAN DARAH
3. PEMERIKSAAN
FISIK

PENYULUHAN

PEMBERIAN

1. PENGERTIAN KB KONTRASEPSI
2. JENIS-JENIS KONTRASEPSI
3. MANFAAT KONTRASEPSI
4. EFEK SAMPING KONTRASEPSI
Unit terkait a) Kia
b) Loket
c) Kasir
d) Apotik
SOP
PELAYANAN PEMBERIAN KB KONDOM

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian KB kondom adalah kontrasepsi yang merupakan selubung karet


yang dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks
(karet), plastic (vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang
dipasang pada penis saat hubungan seksual.
Tujuan Sebagai acuan dalam penerapan langkah-langkah
penatalaksanaan KB kondom dalam rangka peningkatan mutu
dan kinerja di Puskesmas Sememi.
Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis
Pelayanan di Puskesmas Masohi
Implementasi Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) di
Puskesmas

Referensi a. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Tahun 2014


b. Pedoman manajemen pelayanan keluarga berencana oleh
kemenkes tahun 2014
Prosedur/Langkah a. Klien datang dan mengambil nomor antrian
b. Klien mendaftar diloket
c. Petugas loket membawa K/IV/KB di ruang KIA/KB
d. Petugas ruang KIA/KB memanggil klien sesuai urutan
e. Petugas mencocokkan identitas klien di ruang KIA/KB
dengan K/IV/KB
f. Petugas ruang KIA/KB melakukan anamnesa pada klien
g. Petugas memberi konseling ABPK kepada klien untuk
memilih pelayanan KB yang dikehendaki. Jika klien setuju
maka dilakukan klien mengisi informed consent.Jika klien
tidak setuju maka dilakukan konseling ulang. Jika kondisi
klien tidak memungkinkan segera lakukan rujukan.
h. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang (jika
diperlukan).
i. Petugas menyerahkan kondom kepada klien.
j. Petugas memberi nasehat tentang cara penggunaan kondom
dan jika ada alergi dalam pemakaian kondom segera ke
petugas kesehatan.
Memasukkan data klien ke register kohort KB.

Bagan Alir

Mulai

Peserta Datang

Pendaftaran

Anamnesa

Konseling dengan ABPK

Tidak
Setuj Konseling Ulang
Rujukan
u
Ya

Informed consent
Pemeriksaan fisik dan penunjang
(jika diperlukan)

Dilakukan pelayanan KB

Pemantauan medis & pemberian


nasehat pasca tindakan

Pencatatan di register kohort KB dan K/IV/KB

Selesai

Unit terkait a) Kia


b) Loket
c) Kasir
d) Apotik

3. Rekaman historis perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai diberlakukan


1 Template Menyesuaikan dengan pedoman 1 Mei 2015
akreditasi
SOP
Konseling KB

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian Pemberian informasi dan edukasi terhadap akseptor KB.


Tujuan 1. Memberikan penjelasan tentang alat-alat kontrasepsi.
2. Membantu memberikan pilihan kepada pasangan yang
akan menggunakan alat kontrasepsi
Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis
Pelayanan di Puskesmas Masohi
Implementasi Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) di
Puskesmas

Referensi c. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi Tahun 2014


d. Pedoman manajemen pelayanan keluarga berencana oleh
kemenkes tahun 2014
Prosedur/Langkah 1. Memberikan penjelasan kepada calon akseptor tentang
alat kontrasepsi antara lain macam-macam alat
kontrasepsi, keuntungan dan kerugian, cara
pemasangan, waktu pemasangan dan waktu pelepasan
2. Memberikan kesempatan bertanya kepada calon
akseptor
3. Mempersilahkan akseptor untuk memilih alat
kontrasepsi yang diinginkan
4. Membuat kesepakatan untuk waktu pemasangan alat
kontrasepsi
Bagan Alir
Unit terkait e) Kia
f) Loket
g) Kasir
h) Apotik
SOP
PEMERIKSAAN ANC

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian ANC adalah pelayanan kesehatan yang diberikan pada ibu hamil dan
selama kehamilannya.
Tujuan Sebagai Pedoman kerja Petugas KIA dalam pelaksanaan pelayanan
pemeriksaan Ibu hamil ( ANC ).
Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis
Pelayanan di Puskesmas Masohi

Referensi Buku Kesehatan Maternal dan Neonatus, Yayasan Bina Pustaka,


Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, 2002.
Prosedur/Langkah Pemeriksaan ANC

1. menerima kunjungan ibu hamil di Ruang KIA setelah


mendaftar di loket pendaftaran.
2. melakukan Anamnesa
a. Menanyakan Identitas.
b. Menanyakan riwayat kehamilan yang sekarang dan yang
lalu.
c. Menanyakan riwayat menstruasi.
d. Menanyakan riwayat persalinan yang lalu dan pemakaian
alat kontrasepsi.
e. Menanyakan riwayat penyakit yang diderita dan riwayat
penyakit keluarga.
f. Menanyakan keluhan pasien.
g. Mempersilahkan Ibu hamil ke Laboratorium untuk
periksa Hb dan golongan darah ( untuk Bumil dengan K1
), pemeriksaan Hb diulang pada umur kehamilan
trimester III, serta pemeriksaan laboratorium lainnya (
seperti protein urin, reduksi urin ) atas indikasi.
3. melakukan pemeriksaan
a. Tinggi Badan, Berat Badan, LLA, Tekanan darah.
b. Petugas melakukan Inspeksi kepada pasien.
c. Mengukur ukuran panggul ( bila ada indikasi : TB < 145
cm).
d. Memeriksa TFU, posisi janin, presentasi janin.
e. Pemeriksaan DJJ.
4. Menanyakan status imunisasi TT, jika status imunisasi
lengkap maka tidak diberikan Imunisasi TT tetapi jika status
imunisasi belum lengkap maka dilakukan penyuntikan TT
5. memberikan penyuluhan ( gizi bumil, Hygiene perorangan,
perawatan payudara selama kehamilan, pentingnya
periksakan kehamilan secara rutin sesuai umur kehamilan ),
pesan supaya pada saatnya nanti melahirkan di tenaga
kesehatan.
6. mencatat hasil pemeriksaan pada status ibu, Buku KIA.
7. menulis resep ( Kalsium Laktat, Fe, Vitamin ).
8. mendeteksi resiko tinggi kehamilan bila ada dan rujuk ke
RSU / dokter spesialis serta melakukan kunjungan rumah
pasien (perkesmas).
9. merujuk ke Ruang Pengobatan / Gilut pada pemeriksaan
pertama (K1) atau bila ada indikasi.

Bagan Alir

Unit terkait 1. Petugas Poli umum


2. Petugas Laboratorium
3. Petugas Poli gigi
SOP
PELAYANAN KIA

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001


Pengertian 1. Pelayanan Kesehatan ibu dan anak (KIA) adalah upaya
dibidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan
pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu meneteki.
2. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) adalah upaya
dibidang kesehatan yang menyangkut pelayanan bagi
pasangan usia subur (PUS) untuk mengatur kehamilan
3. Pelayanan Kesehatan Reproduksi adalah pelayanan yang
berkaitan dengan sistem reproduksi wanita.
4. Anamnesa adalah kegiatan penggalian informasi pasien
tentang penyakit sekarang dan yang pernah diderita
untuk kepentingan penegakan diagnosa
5. Layanan Kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang
kesehatan yang menyangkut pelayanan dan
pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu meneteki, bayi
dan anak balita serta anak prasekolah
6. Diagnosis adalah identifikasi sifat-sifat penyakit atau
kondisi atau membedakan satu penyakit atau kondisi dari
yang lainnya. Terapi adalah kegiatan pengobatan sesuai
dengan diagnose
7. Tindakan adalah kegiatan yang perlu dilakukan dalam
rangkaian terapi
8. Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab atas masalah kesehatan masyarakat dan kasus-
kasus penyakit yang dilakukan secara timbal balik secara
vertikal maupun horizontal meliputi sarana, rujukan
teknologi, rujukan tenaga ahli, rujukan operasional,
rujukan kasus, rujukan ilmu pengetahuan dan rujukan
bahan pemeriksaan laboratorium(permenkes 922/2008).
9. Konseling adalah suatu kegiatan bertemu dan
berdiskusinya seseorang yang membutuhkan (klien) dan
seseorang yang memberikan (konselor) dukungan dan
dorongan sedemikian rupa sehingga klien memperoleh
keyakinan akan kemampuannya dalam pemecahan
masalah.
10. Rekam Medis adalah berkas yang berisikan catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien
pada sarana pelayanan kesehatan.
Tujuan Sebagai Pedoman kerja Petugas KIA dalam pelaksanaan pelayanan
pemeriksaan Ibu hamil ( ANC ).
Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis
Pelayanan di Puskesmas Masohi

Referensi Buku Kesehatan Maternal dan Neonatus, Yayasan Bina Pustaka,


Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, 2002.
Ketentuan Umum Prosedur ini mencakup proses pelayanan KIA meliputi :
a. Pelayanan ante natal care
b. Pelayanan keluarga berencana bagi usia subur bagi calon
akseptor dan akseptor lama
c. Pelayanan kesehatan reproduksi.
Prosedur/Langkah 1. Penerimaan Data Kunjungan Pasien dan Rekam Medis
Kesehatan
Bidan

- Menerima Data Kunjungan Pasien


- Menerima Rekam Medik dari petugas loket
pendaftaran
- Petugas memilah pasien menurut kebutuhan
KIA, KB atau Kespro
2. Pemanggilan Pasien
Bidan

- Memanggil pasien sesuai nomor urut


penerimaan dan memastikan bahwa Rekam
Medik pasien sesuai dengan identitas pasien
- Apabila saat pemanggilan pasien tidak ada di
tempat, maka akan di lakukan pemanggilan
berikutnya
- Mengembalikan Rekam Medik ke loket, apabila
identitas pasien tidak sesuai dengan Rekam
Medik
3. Pemeriksaan Awal
Bidan

- Melakukan anamnesa kepada pasien


- Melakukan pengukuran tekanan darah, nadi, TB,
BB, LILA pada ibu hamil
- Melakukan pemeriksaan tinggi fundus, denyut
jantung, dan tes penyakit menular pada ibu
hamil yang memiliki indikasi.
- Melakukan pemeriksaan penunjang
(pemeriksaan HB, Protein Urin, Glukosa darah,
golongan darah) bila diperlukan.
- Menulis hasil pemeriksaan di Rekam Medik.

4. Diagnosa
Bidan

- Menegakkan diagnosa penyakit sesuai hasil


pemeriksaan
- Memberi rujukan internal bila diperlukan
- Memberi rujukan eksternal bila penyakit tidak
dapat ditangani di Puskesmas
- Menulis hasil diagnosa di Rekam Medik
5. Penatalaksanaan
Bidan

- Menjelaskan tindakan yang akan dilaksanakan.


- Meminta persetujuan tindakan
- Melakukan tindakan medis
- Menuliskan resep
- Melakukan Konseling untuk pasien WUS/Kespro
dan ibu hamil
- Mencatat terapi/ tindakan yang dilakukan ke
Rekam Medik
6. Rujukan (jika diperlukan)
Dokter Umum

- Menjelaskan alasan rujukan


- Meminta persetujuan rujukan kepada pasien/
keluarga pasien
- Mengisi formulir rujukan eksternal dan internal
Bidan

- Mengisi formulir rujukan internal

7. Pencatatan
Bidan

- Mencatat kunjungan pasien ke buku register KIA


- Mencatat form rujukan ke buku register
- Menyimpan arsip rujukan
- Mengembalikan Rekam Medik ke loket
pendaftaran
- Membuat laporan bulanan
2. Catatan Mutu / Rekaman
1. Rekam Medik
2. Lembar Resep
3. Register Poli KIA-KB
4. Form permintaan pemeriksaan penunjang
5. Lembar persetujuan tindakan
6. Form Rujukan
7. Laporan Bulanan
Bagan Alir
SOP
PEMERIKSAAN HB

No. Dokumen No. Revisi Halaman

02/SOP.KIA/PKM.M/I/2016 0 1/2
Puskesmas Masohi
Pemerintah Kabupaten Maluku
Tengah
STANDAR
Ditetapkan
PROSEDUR OPERASIONAL
Tanggal terbit Kepala Puskesmas Masohi

(SPO) 25/1/2016
dr. GILLIAN E.B. SEIPALLA

NIP. 19811002 200904 2 001

Pengertian Tindakan keperawatan yang di lakukan pada klien untuk mengetahui


kadar Hb dalam darah. Hemoglobin oleh asam klorida diubah
menjadi hematin asam yang berwarna coklat tua. Penambahan
aquadest sampai warnanya sama dengan standart warna, kadar Hb
dibaca dalam satuan gram/dl.

Tujuan Untuk mengetahui kadar hemoglobin didalam darah.


2. Menetapkan kadar hemoglobin dalam darah

Kebijakan SK Kepala Puskesmas No.19/PKM.NMD/I/2016 Tentang Jenis-Jenis


Pelayanan di Puskesmas Masohi

Referensi Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas, Jakarta,


Departemen Kesehatan RI, 1991
PERSIAPAN ALAT 1. Hemoglobinometer (hemometer), Sahli terdiri dari :
a. Gelas berwarna sebagai warna standard
b. Tabung hemometer dengan pembagian skala putih 2
sampai dengan 22. Skala merah untuk hematokrit.
c. Pengaduk dari gelas
d. Pipet Sahli yang merupakan kapiler dan mempunyai
volume 20/ul
e. Pipet pasteur.
f. Kertas saring/tissue/kain kassa kering
2. Reagen
a. Larutan HCL 0,1 N
b. Aquades
Prosedur/Langkah A. Tahap PraInteraksi
1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
2. Mencuci tangan
3. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar

B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada
keluarga/pasien
3. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya
4. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

C. Tahap Kerja
1. Masukkan kira-kira 5 tetes (angka 2) HC1 0,1 n ke
dalam tabung pengencer hemometer Darah kapiler/vena
dihisap sebanyak 20l dengan pipet sahli,
2. Bersihkan ujung luar pipet dengan kertas tissue secara
hati-hati jangan sampai darah dari dalam pipet
berkurang.
3. Lalu dimasukkan ke dalam tabung Hb yang telah berisi
larutan HCl 0,1 N.
4. Darah dan HCl 0,1 N dicampur, dibilas pipet sampai
bersih, dan jangan sampai terjadi gelembung udara.
5. Angkatlah pipet itu sedikit, lalu isap asam HC1 yang
jernih itu ke dalam pipet 2 atau 3 kali untuk
membersihkan darah yang masih tinggal dalam pipet.
6. Isi tabung dikocok sampai homogen supaya terjadi
hematin asam yang berwarna coklat tua (dalam waktu
3-5 menit)
7. Aquadest ditambahkan setetes demi setetes diaduk
dengan batang pengaduk yang tersedia sampai warna
sama dengan standart warna. Setiap kali penambahan
aquadest harus dikocok sampai homogen.
8. Kadar Hb dibaca dalam satuan gram/dl.
9. Nilai normal :
Pria : 14- 16 g/dl
Wanita : 12- 14 g/d
D. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan
2. Berpamitan dengan klien
3. Membereskan alat-alat
4. Mencuci tangan
5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan perawatan
Bagan Alir