Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kejang Demam atau Febrile Convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi
pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rectal diatas 38o C ) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling
sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan anak umur 3 bulan sampai 5
tahun.
Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam,
berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik klonik, tonik,
klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang
berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa
detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan
syaraf.
Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu
terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung,
perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan
khusus dan kadar natrium rendah. Resiko rekurensi meningkat dengan usia dini,
cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah
saat kejang, riwayat keluarga kejang demam dan riwayat keluarga epilepsi.
Kejadian kejang demam diperkirakan 2 4 % di Amerika Serikat, Amerika
Selatan dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira-kira 20 % kasus
merupakan kejang demam kompleks. Umumnya kejang demam sedikit lebih
sering pada laki laki.
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak
perlu menyebabkan kematian. Dan dari suatu penelitian terhadap 431 pasien
dengan kejang demam sederhana, tidak terdapat kelainan pada IQ.
Angka kejadian kejang cukup tinggi, hal ini terbukti dengan berada di posisi
ketiga tingkat kejadian penyakit terbanyak di RSUD Banjarbaru. Berdasarkan
hasil laporan RSUD banjarbaru khususnya diruang Anak pada tahun 2002
didapatkan data yang menderita penyakit kejang demam sebanyak 63 kasus.
Berdasarkan data diatas, maka penulis ingin mengangkat asuhan keperawatan
dengan pasien kejang demam secara komprehensif dan pendekatan biopsikososial
spiritual berdasarkan proses keperawatan agar pasien dengan kejang demam dapat
dirawat seoptimal mungkin.

B. Tujuan Umum
Melaksanakan Asuhan Keperawatan pada klien dengan kejang demam.

C. Tujuan Khusus
Tujuan Khusus yang diterapkan berdasarkan proses keperawatan, yaitu :
1. Mengkaji data klien kejang demam.
2. Merumuskan masalah masalah keperawatan yang muncul pada klien kejang
demam.
3. Menyusun rencana tindakan keperawatan pada klien kejang demam.
4. Melakukan suplementasi pada klien kejang demam.
5. Mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada klien kejang demam.

D. Sistematika Penulisan
Pada Bab I telah dipaparkan mengenai latar belakang , tinjauan umum, dan tujuan
khusus. Bab II berisikan tentang tinjauan teoritis tentang kejang demam. Bab III
menjelaskan hasil asuhan pada klien kejang demam dan pada klien kejang demam
dan pada Bab IV adalah kesimpulan dan saran-saran dari Asuhan Keperawatan
pada Klien dengan Kejang Demam.
TINJAUAN TEORITIS

A. Tinjauan Teoritis kejang Demam


1. Pengertian
Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh ( suhu rectal lebih dari 38o C ) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Menurut Consensus Statement on Febrile Seizure (1980),
kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi
antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak
pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Kejang
demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang
berulang tanpa demam. ( Mansjoer, 2000 : 434 )
Kejang demam merupakan kelainan neurolis yang paling sering dijumpai pada
anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun. ( Millichap,
1968).
Kejang ( konvulsi ) merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak
terkontrol dari sel saraf korteks cerebral yang ditandai dengan serangan tiba-
tiba, terjadi gangguan kesadaran, aktifitas motorik dan atau gangguan
fenomena sensori ( Doenges, 1993 : 259 ).
Livingston ( 1954, 1963 ) membuat kriteria dan membagi kejang demam atas
2 golongan ; yaitu :
1. Kejang demam sederhana ( Simple Febrile Convultion ).
2. Epilepsi yang diprovokasi oleh demam ( Epilepsy Triggered off by Fever )
Di Sub Bagian Saraf Anak Bagian IKA FKUI RSCM Jakarta, kriteria
Livingston tersebut setelah dimodifikasi dipakai sebagai pedoman untuk
membuat diagnosa kejang demam sederhana ialah :
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun.
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
3. Kejang bersifat umum.
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang, normal.
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal
tidak menunjukkan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

2. Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi
saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi
saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang
kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan demam.
(Mansjoer, 2000 : 434 ).

3. Patofisiologi
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10 % - 15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20 %.
Pada sornag anak berumur 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh
tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15 %. Jadi pada
kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari
membran sel neuron dalam waktu yang tingkat terjadi difusi dari ion kallum
maupun ion natrium melalui membran tadi, dari akibat terjadinya lepas
muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat
meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan
bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadilah kejang. Tiap anak
mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang seorang anak yang menderita kejang pada kenaikan
suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, keajng telah
terjadi pada suhu 38oC sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang
tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 o C atau lebih. Dari kenyataan inilah
dapat disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada
ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu
diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. ( 1985 = 848 )

4. Manifestasi Klinik
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik
atau tonik klonik bilateral. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti
mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan
sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau
kekakuan fokal.
Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8 %
berlangsung lebih dari 15 menit. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah
kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi
setelah beberapa detik atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa
defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparisis sementara ( hemiparises
Todd ) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang
unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparises yang menetap. Bangkitan
kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang
pertama ( Mansjoer, 2000 : 435 ).
5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan cairan cerebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.
Pada bayi- bayi kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas sehingga pungsi
lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan, dan
dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan.
ElektroensefalograFI ( EEG ) ternyata kurang mempunyai nilai prognostik.
EEG abnormal tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya
epilepsi atau kejang demam berulang di kemudian hari. Pemeriksaan
laboratorium rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi
sumberi infeksi.
6. Penatalaksanaan
a. Pengobatan fase akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan
untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan nafas harus bebas
agar oksigenasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran,
tekanan darah, suhu, pernafasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang
tinggi diturunkan dengan kompres dingin dan pemberian antipiretik. Obat
yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan
intravena atau intrakranial.
b. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang
pertama.
c. Pengobatan Profilaksis.
1. Profilaksis Intermiten saat demam
Diberikan Diazepam secara oral dengan dosis 0,3 0,5 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat pula
diberikan secara intra rektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg bila BB < 10 kg
dan 10 mg bila BB > 10 kg setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari
38,5 oC.
2. Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari.
Berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat
menyebabkan kerusakan otak. Profilaksis terus-menerus setiap hari
dengan fenobarbital 4-5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain
yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15 40
mg/kg BB/hari.
B. TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN KEJANG DEMAM
1. Pengkajian
Menurut Doenges (1993 : 259) dasar data pengkajian pasien adalah :
a. Aktifitas / Istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan umum
Keterbatasan dalam beraktifitas / bekerja yang ditimbulkan
oleh diri sendiri / orang terdekat / pemberi asuhan kesehatan
atau orang lain.
Tanda : Perubahan tonus / kekuatan otot
Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok
otot.

b. Sirkulasi
Gejala : Iktal : Hipertensi, peningkatan nadi sianosis
Posiktal : Tanda vital normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan.

c. Eliminasi
Gejala : Inkontinensia episodik.
Tanda : Iktal : Peningkatan tekanan kandung kemih dan
tonus sfingter.
Posiktal : Otot relaksasi yang menyebabkan
inkontenensia ( baik urine / fekal ).

d. Makanan dan cairan


Gejala : Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang
berhubungan dengan aktifitas kejang.
e. Neurosensori
Gejala : Riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pingsan,
pusing. Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi
cerebral.

f. Nyeri / kenyaman
Gejala : Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode posiktal.
Tanda : Sikap / tingkah laku yang berhati hati.
Perubahan pada tonus otot.
Tingkah laku distraksi / gelisah

g. Pernafasan
Gejala : Fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan
menurun / cepat, peningkatan sekresi mukus.
Fase posiktal : apnea.

2. Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul menurut Carpenito ( 1999 : 468 ):
a. Resiko terhadap bersihan jalan nafas / pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan relaksasi lidah sekunder akibat gangguan persyarafan
otot.
b. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan gerakan tonik / klonik
yang tidak terkontrol selama episode kejang.
c. Peningkatan suhu tubuh ( hypertermia ) berhubungan dengan proses
penyakit.
d. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik
berhubungan dengan kurang pengetahuan ( orang tua ) tentang kondisi,
pengobatan dan aktifitas kejang selama episode kejang.
3. Rencana Keperawatan
Menurut Carpenito ( 1999 ) , rencana keperawatannya meliputi :
a. Resiko terhadap bersihan jalan nafas / pol tidak efektif berhubungan
dengan relaksasi lidah sekunder akibat gangguan persyarafan otot.
Intervensi :
1). Baringkan klien di tempat yang rata, kepala dimiringkan dan pasang
tongue spatel.
2). Singkirkan benda benda yang ada disekitar pasien, lepaskan pakaian
yang mengganggu pernafasan ( misal : gurita ).
3). Lakukan penghisapan sesuai indikasi.
4). Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian O2 dan obat anti kejang.

b. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan gerakan tonk / klonik


yang tidak terkontrol selama episode kejang.
Intervensi :
1). Jauhkan benda benda yang ada disekitar klien.
2). Kaji posisi lidah, pastikan bahwa lidah tidak jatuh ke belakang,
menyumbat jalan nafas.
3). Awasi klien dalam waktu beberapa lama selama / setelah kejang.
4). Observasi tanda tanda vital setelah kejang.
5). Kolaborasi dnegna dokter untuk pemberian obat anti kejang.

c. Peningkatan suhu tubuh ( hypertermia ) berhubungan dengan proses


penyakit.
Intervensi :
1). Observasi tanda vital tiap 4 jam atau lebih.
2). Kaji saat timbulnya demam.
3). Berikan penjelasan pada keluarga tentang hal-hal yang dapat
dilakukan.
4). Anjurkan pada keluarga untuk memberikan masukan cairan 1,5 liter /
24 jam.
5). Beri kompres dingin terutama bagian frontal dan axila.
6). Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan dan obat antipiretik.

d. Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik


berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan ( orang tua ) tentang
kondisi, pengobatan, aktifitas, kejang selama perawatan.
Intervensi :
1. Jelaskan pada keluarga tentang pencegahan, pengobatan dan aktifitas
selama kejang.
2. Jelaskan pada keluarga tentang faktor faktor yang menjadi pencetus
timbulnya kejang, misal : peningkatan suhu tubuh.
3. Jelaskan pada keluarga, apabila terjadi kejang berulang atau kejang
terlalu lama walaupun diberikan obat, segera bawa klien ke rumah
sakit terdekat.

4. Evaluasi.
Hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan klien dengan kejang demam
adalah mencegah / mengendalikan aktifitas kejang, melindungi klien dari
cedera, mempertahankan jalan nafas dan pemahaman keluarga tentang
pencegahan, pengobatan dan aktifitas selama kejang.