Anda di halaman 1dari 5

Pengelolaan Tambang Batubara

Berkelanjutan (Studi Kasus: Kota


Samarinda)
23 Oktober 2010 04:19:28 Diperbarui: 26 Juni 2015 12:11:20 Dibaca : Komentar : Nilai :

Pertambangan batubara di Indonesia telah berlangsung selama 40 tahun lebih, sejak


keluarnya UU No.11 tahun 1967 tentang pokok-pokok Pertambangan yang kemudian
diganti dengan UU Pertambangan Mineral dan Batu Bara Tahun 2009. UU ini telah menjadi
landasan eksploitasi sumberdaya mineral dan batu bara secara besar-besaran untuk
mengejar pertumbuhan ekonomi. Industri batubara Indonesia telah berkembang dengan
pesat dalam waktu singkat. Dalam hanya 10 tahun produksi telah berkembang dari sekitar
3 juta ton menjadi lebih dari 50 juta ton, dan diharapkan dua kali lipat lagi dalam beberapa
tahun mendatang. Sebagai akibatnya industri batubara menghasilkan manfaat sosial dan
ekonomi yang besar bagi Indonesia seperti: lapangan kerja bagi ribuan masyarakat
Indonesia terutama di daerah yang kurang berkembang di daerah seperti Kalimantan dan
Sumatera dan juga akan mendukung program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan .
Namun kegiatan tersebut tidak hanya menguntungkan dari segi sosial dan ekonomi tapi
juga memberikan dampak negatif, terutama kerusakan lingkungan di daerah penghasil
tambang.

Di daerah penghasil barang tambang, lingkungan yang sehat dan bersih yang merupakan
hak asasi setiap orang menjadi barang langka. Bahkan daerah penghasil juga merasakan
ketidakadilan seperti kebutuhan energi akan listrik dari batubara masih kurang pasokannya.
Sementara batu bara dikirim ke daerah lain untuk memenuhi kebutuhan energi terutama
untuk pembangkit listrik tenaga uap di Jawa. Disamping itu negara Indonesia ingin
meningkatkan pertumbuhan ekonominya dengan mendapatkan devisa sebesar-besarnya
dari bahan tambang dan migas maka tidak ada jalan lain, eksploitasi besar-besaran
terutama barang tambang batubara pada beberapa tahun ini semakin gencar. Hal ini
membuat kondisi lingkungan di daerah penghasil batubara semakin menurun bahkan makin
kritis.
Salah satu daerah penghasil batubara adalah kota Samarinda.

Kota Samarinda yang terletak di daerah katulistiwa. Dengan kondisi topografi yang datar
dan berbukit antara 10-200 meter diatas permukaan laut. Dengan luas wilayah 718
KM. Kota Samarinda berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara disebelah barat,
timur, selatan dan utara yang merupakan penghasil batubara terbesar kedua di Kalimantan
Timur. Pada dasawarsa tahun 2000-an, perkembangan peningkatan produksi batubara di
Kota Samarinda semakin meningkat. Sehingga Samarinda juga dikenal dengan sebutan
kota tambang karena hampir 38.814 ha (54%) dari total 71.823 ha luas kota Samarinda
merupakan areal tambang batubara. Pertambangan batubara yang sudah berproduksi
dengan rincian 38 KP (Kuasa Pertambangan) yang mendapat ijin dari wali kota samarinda
dan 5 (lima) PKP2B2 (Perusahaan Pemegang Perjanjian Karya perjanjian usaha
Pertambangan) dengan izin pemerintah pusat. (kompas 30 mei 2009) yang belum
beroperasi. Belum lagi ada puluhan tambang-tambang illegal yang banyak dikelola
pengusaha dan masyarakat. Bahkan sekarang kegiatan pertambangan ini telah merambah
kawasan lindung maupun perkotaan. Hal ini diketahui setelah adanya bukti-bukti bahwa
kawasan hutan raya bukit suharto telah dirambah pertambangan batubara dan
penambangan illegal yang dikenal dengan batubara karungan yang banyak terdapat di
kawasan perumahan-perumahan penduduk di kota Samarinda makin memperparah kondisi
lingkungan kota Samarinda.

Izin Investasi pertambangan batubara yang dikeluarkan begitu mudah, tentu dikawatirkan
akan mengabaikan tuntutan perlindungan lingkungan dan konflik yang disebabkan oleh
kegiatan pertambangan yang semata-mata berorintasi ekonomi, yaitu bagaimana
memperoleh keuntungan yang besar dari ekspoitasi, semantara aspek lingkungan dan
sosial dipinggirkan. Pada hal pertimbangan lingkungan, sosial dan ekonomi dalam aktivitas
pertambangan harus menjadi satu kesatuaan yang tidak terpisahkan.
Walaupun semenjak adanya pertambangan batubara ini peningkatan Pendapatan Asli
Daerah (PAD) kota sangat terasa dan devisa negara semakin meningkat namun dampak
lingkungan dari kegiatan penambangan batubara yang semakin banyak tersebut juga cukup
meresahkan bagi masyarakat Samarinda. Dampak lingkungan ini antara lain adalah erosi
dan banjir dan pencemaran udara,air dan tanah. Indikator kerusakan lingkungan yang
semakin parah tersebut bisa dilihat dari DAS Sungai Karang Mumus yang semakin
berkurang kawasan hutannya akibat pembukaan pertambangan yang berakibat dampak
dari erosi semakin tinggi mengakibatkan sungai karang mumus semakin dangkal sehingga
daya tampung airnya pun semakin berkurang. Hampir kerap terjadi bila hujan dengan
intensitas kecil -sedang bisa mengakibatkan beberapa daerah tergenang oleh banjir.
Bahkan data Selama tiga bulan terakhir saja sejak November dan Desember 2008 serta
Januari 2009--Samarinda lima kali didera banjir cukup besar menyebabkan puluhan ribu
warga menjadi korban akibat rumahnya terendam air antara 30 Cm sampai satu meter.,
padahal awal tahun 90 2000, tiap tahun hanya 1 - 2x banjir melanda kota Samarinda.

Dampak perubahan iklim pun juga dirasakan pada saat ini, akibat konversi hutan menjadi
pertambangan menjadikan suhu kota Samarinda naik hampir 1,5 digit, Belum dampak
turunan dari banjir dan perubahan iklim tersebut yaitu banyak penyakit-penyakit seperti
muntahber, ISPA, Kulit dan lain-lain yang semakin sering diderita warga Samarinda.

Dan dampak yang dirasakan langsung oleh warga Samarinda akibat pertambangan
batubara ialah dampak polusi udara dari kegiatan konstruksi dan operasi serta banyaknya
truk-truk pengangkut batubara yang menggunakan jalan-jalan umum kota Samarinda,
selain mengakibatkan polusi juga menimbulkan kerusakan jalan.

Menyadari bahwa permasalahan kerusakan lingkungan hidup yang demikian kompleks,


diperlukan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan penanganan terpadu dengan
melibatkan stakeholders dan instansi teknis terkait bersama-sama untuk mencegah,
menanggulangi dan memulihkan kerusakan lingkungan tersebut.

Permasalahan pokoknya lainnya ialah, bagaimana mengolah dan mengelola SDA dengan
bijaksana agar sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang didasari oleh
laporan Our Common Future (Masa Depan Bersama) yang disiapkan oleh World
Commision on Environment and Development,1987) yaitu pembangunan yang dapat
memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi akan
datang untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Tindakan pengelolaan pertambangan batubara berkelanjutan yang tepat perlu dilaksanakan


dengan memperhitungkan : 1. Segi keterbatasan jumlah dan kualitas sumber batubara, 2.
Lokasi pertambangan batubara serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan masyarakat dan
pembangunan daerah, 3. Daya dukung lingkungan dan 4. Dampak lingkungan, ekonomi
dan sosial masyarakat akibat usaha pertambangan batubara.

Dari skor keberlanjutannya, untuk dimensi sosial dan lingkungan masih dibawah skor
keberlanjutan, untuk dimensi ekonomi di atas skor keberlanjutan. Dilihat di lapangan,
memang dapat dikatakan dampak kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan
batubara sudah sangat mengkuatirkan walaupun PAD dan ekonomi masyarakat sekitar
tambang ada peningkata. Namun bila diukur dari analisis prospektifnya dapat disimpulkan
bahwa kegiatan pertambangan batubara lebih banyak merugikan baik materi maupun non
materi masyarakat Samarinda umumnya dari kerusakan lingkungan seperti banjir, polusi
udara, air dan tanah.

Yunianto Setiawan
/yunianto_setiawan

saya adalah mahasiswa program doktor PSL-IPB Bogor


Selengkapnya...

IKUTI

Share
KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI
TANGGUNGJAWAB PENULIS.

LABEL polusi green

NILAI :
BERI NILAI
Selanjutnya
Selanjutnya

KIRIM
HEADLINE

NILAI TERTINGGI

TERPOPULER

TREN DI GOOGLE

GRES

Tentang Kompasiana Syarat & Ketentuan