Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Prinsip pengungkapan dan transparansi menyatakan bahwa
perusahaan harus mengungkapkan semua informasi material mengenai
perusahaan secara akurat dan tepat waktu. Beberapa informasi material
tersebut adalah kondisi laporan keuangan, struktur kepemilikan, transaksi
pihak berelasi, dan tata kelola perusahaan. Laporan keuangan harus diaudit
oleh auditor ekternal yang independen dan kompeten serta media
komunikasi juga memberikan akses informasi yang relevan sama, tepat
waktu, dan efisien dari soal biaya untuk semua pemangku kepentingan.
Prinsip ini penting karena pihak eksternal memiliki keterbatasan
akses informasi sebagaimana yang dimiliki pihak internal. Adanya
ketidakseimbangan informasi kedua pihak tercermin dari ketidak etisnya
pihak internal yang memberikan kerugian besar secara keseluruhan, dari
perusahaan, pemegang saham maupun perekonomian keseluruhan.
Aturan pengungkapan transparan akan mengurangi
ketidakseimbangan informasi sehingga hal terjadinya tindakan yang
merugikan perusahaan dapat diperkecil. Pengungkapan transparan juga
penting untuk pengawasan perusahaan dan pemegang saham untuk
melaksanakan hak-hak pemegang sahamnya berdasarkan informasi yang
memadai. Adanya praktik pengungkapan baik di pasar modal dapat
meningkatkan minat investor untuk berinvestasi dan juga melindungi
investor.
Informasi yang disampaikan perusahaan kepada investor maupun
pemegang saham perlu disediakan secara reguler, dapat diandalkan, dan
dapat dibandingkan dengan cukup rinci agar investor dapat menilai
akuntabilitas manajemen daan mengambil keputusan. Informasi yang
kurang memadai atau kurang jelas dapat mengurangi kemampuan pasar
2

berfungsi dengan baik, meningkatkan biaya modal, dan mengakibatkan


alokasi sumber daya yang kurang tepat.
Terdapat dua jenis pengungkapan, yaitu pengungkapan wajib dan
pengungkapan sukarela. Regulator menetapkan pengungkapan wajib apa
saja yang harus dilakukan perusahaan. Peraturan Bapepam-LK
mengharuskan perusahaan publik untuk menyampaikan laporan keuangan
tengah tahunan dan tahunan (X.K.2), serta menyampaikan laporan tahunan
(X.K.6). Bursa Efek Indonesia juga mengatur kewajiban perusahaan tercatat
ubtuk menyampaikan laporan keuangan interim (Peraturan No. I-E).
Perusahaan secara sukarela juga dapat melakukan pengungkapan sukarela,
melebihi pengungkapan wajib yang diharuskan regulator. Pertimbangan
manfaat dibandingkan biaya juga perlu diperhatikan, seperti dampak dari
pengungkapan terhadap posisi kompetitif perusahaan. Yang perlu
diungkapkan adalah informasi yang material, yaitu informasi yang jika tidak
diungkapkan atau disajikan secara tidak wajar akan mempengaruhi
pengambilan keputusan ekonomis oleh pengguna informasi.

B. Tujuan
a. Untuk mengetahui bagaimana kebijakan pengungkapan
b. Untuk mengetahui bagaimana prinsip comply or explain terhadap CG
code
c. Untuk mengetahui informasi minimal yang perlu diungkapkan
d. Untuk mengetahui dan menganalisis Pemanfaatan saluran komunikasi
yang adil, tepat waktu, dan mudah diakses oleh pengguna informasi
e. Untuk mengetahui dan menganalis bagaimana Peran pengendalian
internal dan manajemen risiko dalam mengurangi konflik keagenan
dan penegakan GCG
f. Untuk mengetahui dan menganalisis Peran akuntan profesional dalam
memastikan terlaksananya prinsip pengungkapan dan transparansi
.

BAB II
3

PEMBAHASAN

A. Kebijakan Pengungkapan
Menurut OECD (2004), pengungkapan harus termasuk, namun tidak
terbatas pada, informasi material terkait :
1. Kinerja keuangan dan operasi perusahaan
2. Tujuan perusahaan
3. Kepemilikan dan hak suara utama
4. Kebijakan remunerasi untuk anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan
informasi mengenai anggota dewan, termasuk kualifikasinya, proses
seleksi, jabatan direktur dan komisaris perusahaan yang lain dan apakah
mereka independen
5. Transaksi pihak berelasi
6. Faktor-faktor resiko yang diketahui
7. Isu terkait karyawan dan pemangku kepentingan lain
8. Struktur dan kebijakan tata kelola, terutama kode atau kebijakan tata kelola
yang ada dan proses implementasinya

Berdasarkan UU PT No. 40 tahun 2007 dan UU Pasar Modal, perusahaan


terdaftar harus membuat dan menyerahkan laporan keuangan yang disusun
berdasarkan standar akuntansi keuangan, terdiri dari laporan posisi keuangan,
laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas
dan catatan atas laporan keuangan serta terdapat laporan tambahan yaitu
pengungkapan mengenai struktur kepemilikan perusahaan.
Penerapan standar pelaporan yang berkualitas tinggi diharapkan dapat
secara signifikan meningkatkan kemampuan investor untuk melakukan
pengawasan atas perusahaan, dengan memberikan pelaporan yang semakin
meningkat keandalannya dan daya bandingnya serta memberikan informasi
yang lebih baik mengenai kinerja perusahaan. Prinsip pengungkapan dan
transparansi mendukung adanya pengembangan standar internasional yang
berkualitas tinggi yang berperan dalam meningkatkan transparansi dan daya
banding laporan keuangan antar perusahaan dan juga antar negara. Standar
4

tersebut harus dikembangkan dengan melibatkan sektor privat dan pihak lain
yang berkepentingan seperti asosiasi profesi dan ahli independen. Standar
domestik yang berkualitas tinggi dapat dicapai dengan membuat standar
domestik tersebut konsisten dengan standar akuntansi internasional tersebut.
Peraturan Bapepam-LK No. X.K.6 mengenai Kewajiban Penyampaian
Laporan Tahunan mengharuskan perusahaan terdaftar untuk menyampaikan
laporan keuangan kepada OJK paling lama 4 bulan setelah tahun buku terakhir.
Laporan tahunan wajib dimuat dalam website Emiten atau Perusahaan Publik
bersamaan dengan disampaikan laporan tahunan tersebut kepada OJK. Laporan
tahunan wajib memuat :
1. Ikhtisar data keuangan penting
2. Laporan Dewan Komisaris
3. Laporan Direksi
4. Profil perusahaan
5. Analisis dan pembahasan manajemen
6. Tata kelola perusahaan
7. Tanggung jawab sosial perusahaan
8. Laporan keuangan tahunan yang telah diaudit
9. Surat pernyataan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi atas
kebenaran isi laporan tahunan.

Didalam aturan ini juga diatur kewajiban pengungkapan mengenai sistem


manajemen resiko dan pengendalian internal, namun belum ada aturan yang
mengharuskan perusahaan mengungkapkan kepatuhannya terhadap Pedoman
GCG yang dikeluarkan KNKG. Didalam laporan tahunan tersebut juga
diharuskan dilakukan pengungkapan mengenai anggota dewan, diantaranya
terkait kualifikasi, kehadiran dalam rapat, independensi, remunerasi. Hal lain
yang juga wajib diungkapkan adalah kepemilikan, termasuk informasi
mengenai pemegang saham utama dan pengendali., langsung maupun tidak
langsung, smpai kepada pemilik individu, yang disajikan dalam bentuk skema
atau diagram. Aturan terkait kepemilikan ultimat tersebut baru diatur dalam
Peraturan X.K.6 yang direvisi tahun 2012. Transaksi pihak berelasi juga harus
5

diungkapkan, yang diatur dalam PSAK No. 7 Pengungkapan Pihak Berelasi,


yang juga mengatur mengenai kewajiban untuk mengungkapkan remunerasi
dewan. Kewajiban mengungkapan remunerasi dewan juga diatur dalam
Peraturan X.K.6. Peraturan Bapepam-LK (X.K.1) juga mengharuskan
perusahaan untuk mengungkapkan kepada publik informasi yang material yang
dapat mempengaruhi harga saham dalam waktu 2 hari.

B. Prinsip Comply or Explain terhadap CG Code


Perusahaan publik harus mengungkapkan dalam laporan tahunan
pernyataan mengenai bagaimana perusahaan menerapkan CG code sehingga
memungkinkan pemegang saham untuk mengevaluasi bagaimana prinsip-
prinsip tersebut telah diterapkan, pernyataan apakah perusahaan publik telah
mematuhi atau tidak semua prinsip dalam CG code tersebut selama satu
periode tahun buku. Perusahaan harus mengungkapkan alasan mengapa
perusahaan tidak mematuhi CG code tersebut. Inggris telah menerapkan hal
ini, sedangkan di Indonesia masih belum ada kewajiban melaksanakan prinsip
ini, namun OJK berencana menerapkan hal ini dalam waktu dekat.

C. Saluran Komunikasi
Saluran yang digunakan perusahaan untuk mendiseminasi informasi harus
memberikan akses yang adil, tepat waktu, dan efisien bagi pengguna informasi.
Saluran untuk komunikasi dapat bernilai sama pentingnya dengan isi informasi
itu sendiri. Internet dan teknologi informasi lain dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan diseminasi informasi. Peraturan Bapepam-LK X.K.6
mengharuskan perusahaan publik untuk menyediakan softcopy laporan
tahunan mereka di website perusahaan. Pengumuman yang disampaikan
perusahaan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) akan ditampilkan BEI dalam
website-nya, termasuk laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan
public

D. Pengungkapan dan transparansi oleh pihak Perantara (Intermediaries)


6

Kerangka tata kelola perusahaan harus dilengkapi dengan pendekatan


efektif yang menyediakan dan mendorong analis, broker, agen pemeringkat
dan pihak lain untuk melakukan analisis atau memberikan nasihat yang relevan
untuk investor, bebas dari konflik kepentingan yang dapat mempengaruhi
integritas analisis atau nasihat pihak tersebut.
Selain perlunya auditor eksternal yang independen dan kompeten, dan
untuk memfasilitasi diseminasi informasi tepat waktu, diperlukan langkah-
langkah untuk memastikan integritas dari profesi dan aktivitas pihak-pihak
yang melakukan analisis dan memberikan saran ke pasar. Pihak tersebut
memiliki peranan penting dalam mendorong dewan untuk mengikuti praktik
tata kelola perusahaan yang baik.
Masalah akan timbul jika pihak perantara tersebut memiliki kepentingan
yang dapat mempengaruhi pertimbangan mereka. Salah satu solusi dari
permasalahan tersebut adalah keharusan pengungkapan penuh atas konflik
kepentingan dan bagaimana entitas perantara mengelola konflik tersebut. Salah
satu aspek pengungkapan yang penting ialah bagaimana entitas merancang
insentif untuk karyawannya dalam mengeliminasi potensi konflik kepentingan,
sehingga investor dapat menilai resiko yang ada dan kemungkinan bias yang
timbul.

E. Peran Pengendalian internal dan Manajemen Resiko dalam mengurangi


konflik Keagenan dan penegakan GCG
Tata kelola perusahaan yang efektif memungkinkan perusahaan mencapai
tingkat kepatuhan dan kinerja sesuai dengan ekspektasi pemegang saham dan
pemangku kepentingan. Sehingga, diperlukan pengendalian internal yang
efektif dan manajemen resiko dalam proses bisnis normal dan juga proses tata
kelola perushaan, yang membentuk kerangka akuntabilitas dan pelaporan
reguler ke pemegang saham (HK CPA, 2005)
Pengendaian internal sangat penting dalam keberhasilan operasi dan
perjalanan sehari-hari operasinya, serta membantu perusahaan mencapai
tujuannya. Pengendalian internal (COSO,2013) adalah proses yang
7

dipengaruhi oleh dewan, manajemen, dan personel lain diperusahaan, yang


dirancang untuk memberikan keyakinan memadai terkait pencapaian tujuan
berikut :
1. Efektivitas dan efisiensi operasi
2. Keandalan pelaporan keuangan
3. Kepatuhan terhadap hukum dan regulasi yang berlaku

Pengendaian internal terdiri dari 5 komponen yang terintegrasi, yaitu


1. Lingkungan Pengendalian
Merupka kumpulan standar, proses, dan struktur yang memberikan
dasar untuk menjalankan pengendalian internal dalam perusahaan. Direksi
dan Dewan Komisaris adalah pihak yang bertanggung jawab untuk
memberikan contoh pentingnya pengendalian internal bagi semua
karyawan di perusahaan. Lingkungan pengendalian terdiri atas nilai
integritas dan etika organisasi, parameter yang memungkinkan Dewan
Komisaris untuk menjalankan fungsi pengawasan, struktur organisasi dan
penetapan otoritas dan tanggung jawab, proses untuk menarik,
mengembangkan, dan mempertahankan orang yang kompeten, serta
ukuran, insentif, dan imbalan kinerja sesuai untuk mendorong
akuntanbilitas atas kinerja.
2. Penilaian Resiko
Merupakan proses dinamis dan literatif untuk mengidentifikasi dan
menilai resiko dari pencapaian tujuan perusahaan. Penilaian resiko
merupakan dasar untuk menentukan bagaimana mengelola resiko.
Perusahaan perlu menetapkan tujuan perusahaan, berkaitan dengan
berbagai tingkat di perusahaan dengan operasi, pelaporan dan kepatuhan
sebelum melakukan penilaian resiko. Manajemen menetapkan tujuan
tersebut dengan cukup jelas yang memungkinkan mereka untuk
mengidentifikasi dan menganalisis resiko dari tujuan tersebut. Penilaian
resiko juga mengharuskan manajemen untuk mempertimbangkan
pengaruh dari kemungkinan perubahan yang terjadi dalam lingkungan
8

eksternal dan perubahan dalam model bisnis perusahaan yang dapat


menyebabkan pengendalian internal menjadi tidak efektif.
3. Aktivitas Pengendalian
Meruapakn tindakan yang dilakukan berdasarkan kebijakan dan
prosedur untuk memastikan arahan manajemen untuk memitigasi resiko
untuk mencapai tujuan teelah dijalankan. Aktivitas tersebut dilakukan di
tiap tingkat dalam perusahaan, dalam setiap proses bisnis. Beberapa
aktivitas tersebut antara lain otorisasi dan persetujuan, verifikasi,
rekonsiliasi, dan penilaian kinerja bisnis. Dalam aktivitas pengendalian
diperlukan adanya pemisahan tugas yang apabila tidak dimungkinkan
maka perlu diganti dengan aktivitas pengendalian yang lain.
4. Informasi dan Komunikasi
Informasi sangat penting bagi perusahaan untuk menjalankan
pengendalian internal. Manajemen mendapatkan atau menghasilkan dan
menggunakan informasi yang relevan dari berbagai sumber untuk
mendukung berfungsinya komponn pengendalian internal. Komunikasi
adalah proses berkelanjutan dan iteratif untuk menyediakan membagi, dan
mendapatkan informasi yang diperlukan. Komunikasi internal adalah cara
mendisemasikan informasi di dalam perusahaan. Komunikasi eksternal
memngkinkan perusahaan untuk mendapatkan informasi yang relevan dari
luar dan memberikan informasi yang diperlukan pihak eksternal.
5. Aktivitas Monitoring
Monitoring ialah evaluasi untuk menilai apakah tiap elemen dari
pengendalian internal sudah ditetapkan dan berfungsi sebagaimana
seharusnya. Evaluasi terus menerus diterapkan dalam proses bisnis apda
berbagai tingkat di perusahaan akan memberikan informasi yang tepat
waktu. Evaluasi terpisah yang dilakukan secara periodik dapat dilakukan
sesuai kebutuhan. Temuan dari monitoring akan dievaluasi terhadap
kriteria yang ditetapkan regulator, badan yang menetapkan standar yang
diakui, atau Direksi dan Dewan Komisaris. Setiap defisiensi
dikomunikasikan ke Direksi dan Dewan Komisaris.
9

Dengan sistem pengendalian internal yang efektif, Direksi dan


Dewan Komisaris memiliki keyakinan memadai bahwa operasi
perusahaan berjalan efektif dan efisien, dapat memprediksi secara
memadai sifat dan waktu terjadinya kejadian ekternal yang mempengaruhi
perusahaan serta memitigasi resiko yang timbul ke tingkat wajar,
melakukan pelaporan yang sesuai dengan peraturan yang ada, serta
memaatuhi hukum dan peraturan yang berlaku termasuk aturan konflik
kepentingan dan tata kelola perusahaan.
Setiap perusahaan mempunyai eksposur terhadap resiko, yang
merupakan elemen yang tak dapat dihindari dari suatu bisnis. Setiap
perusahaan harus bisa identifikasi dan evaluasi berbagai resiko yang
dihadapinya dan memakai hasil analisis itu dalam pengambilan keputusan
perusahaan. Beberapa resiko yang dihadapi perusahaan (HK CPA, 2009)
adalah resiko bisnis, resiko keuangan, resiko kepatuhan, resiko operasi dan
lainnya. Manajemen resiko penting untuk mengurangi kemungkinan
tujuan perusahaan tak tercapai akibat kejadian tak terduga, Dewan harus
menentukan jenis dan tingkat resiko perusahaan, dan mempertahakannya
pada tingkat tersebut, melalui cara pengendalian internal (HK CPA, 2005).
Sistem manajemen resiko yang berfungsi baik dapat mengurangi konflik
kepentingan dengan tujuan mensejahterakan pemegang saham dan
membantu dewan dalam menetapkan tata kelola perusahaan yang baik.
Perusahaan dan Bank harus mempunyai unit audit internal, untuk di bank
dinamakan Satuan Kerja Audit Internal.
Direksi bertanggung jawab dalam perancangan dan implementasi
sistem pengendalian internal dan dewan komisaris melakukan
pengawasan. Dalam pelaksanaannya, salah satu unit yang membantu
Direksi adalah unit audit internal. Audit internal wajib menguji dan
mengevaluasi pelaksanaan sistem manajemen resiko sesuai dengan
kebijakan perusahaan. Dalam peraturan Bapepam-LK disebutkan bahwa
salah satu tanggung jawab Komite Audit adalah melakukan penelaah
terhadap aktivitas pelaksanaan manajemen resiko yang dilakukan oleh
10

Direksi, jika Emiten atau Perusahaan Publik tidak memiliki fungi


pemantau resiko di bawah Dewan Komisaris. Dalam beberapa perusahaan
fungsi tersebut dilakukan oleh Komite Pemantau Resiko di bawah Dewan
Komisaris, begitu juga pada Bank. Bi juga mewajibkan Direksi setiap bank
membentuk Satuan Kerja Manajemen Resiko dan Komite Manajemen
Resiko. Laporan tahunan perusahaan diharuskan (Peraturan Bapepam-LK
No. X.K.6) mengungkapkan mengenai sistem pengendalian internal yang
diterapkan oleh perusahaan, serta sistem manajemen resiko.

F. Peran Akuntansi Profesional


Berikut adalah beberapa peran akuntan profesional terkait prinsip
pengungkapan dan transparansi :
1. Akuntan manajemen mempunyai peranan dalam menyiapkan laporan
keuangan sesuai standar akuntansi yang berlaku, serta emastikan
perusahaan menyampaikan informasi yang transparan, akurat dan tepat
waktu ke pemegang saham dan pemangku kepentingan lain.
2. Akuntan manajemen membantu Direksi dan satuan tugas terkait dalam
merancang dan mengimplementasikan sistem informasi dan sistem
pengendalian internal yang mendorong keterbukaan terhadap pemegang
saham. Akuntan publik pada saat melakukan audit juga melakukan
pengujian atas pengendalian internal dan memberikan rekomendasi
perbaikan yang diperlukan.
3. Auditor internal secara berkala melakukan pengujian atas pengendalian
internal serta melaporkan hasilnya kepada Direksi dan Dewan Komisaris
juga Komite Audit. Auditor internal membantu Direksi dalam memperkuat
dan meningkatkan pengendalian internal. Auditor internal memberikan
saran / masukan untuk memperbaiki proses pengidentifikasian resiko dan
manajemen resiko.
Akuntan profesional sebagai anggota Komite Audit, membantu Dewan
Komisaris dalam melakukan fungsi pengawasan atas sistem pelaporan
keuangan, sistem pengendalian internal dan manajemen resiko perusahaan
11

serta ketaatan terhadap peraturan yang berlaku, termasuk aturan terkait


pengungkapan dan transparansi

G. Pelaksanaan Prinsip pengungkapan dan transparansi di Indonesia


menurut Hasil Penilaian Bank Dunia dan IICD-Asean CG Scorecard
1. Hasil Penilaian oleh Bank Dunia
Pada saat world Bank (2010) melakukan studi belum ada aturan
mengenai kewajiban pengungkapan pemegang saham ultimat, sehingga
salah satu kelemahan yang disebutkan oleh Bank Dunia adalah belum
adanya kewajiban tersebut. Namun pada tahun 2012, Bapepam-LK telah
merevisi peraturan X.K.6 yang mewajibkan perusahaan untuk
mengungkapkan mengenai pemegang saham ultimat tersebut.
Hasil studi World Bank (2010) memberikan beberapa rekomendasi
terkait pengungkapan dan transparansi, yaitu
a. Regulasi yang lebih baik terkait pengungkapan kepemilikan dan
pengungkapan non keuangan lainnya
b. Mengharuskan perusahaan untuk mengungkapkan ketaatan terhadap
kode GCG
c. Meningkatkan kapabilitas Bapepam-LK untuk mengawasi
pengungkapan perusahaan.

Pengungkapan aspek non keuangan perlu diatur secara lebih efektif


dan dipatuhi oleh perusahaan publik. Pengungkapan tersebut antara lain
mencakup; remunerasi anggota dewan (termasuk remunerasi tiap individu
anggota dewan, kebijakan remunerasi dan kaitannya dengan kinerja jangka
panjang perusahaan serta kebijakan manajemen resiko dan konflik
kepentingan)
Bank Dunia juga merekomendasikan perusahaan publik untuk
mengembangkan website dan mencantumkan berbagai informasi dalam
website tersebut. Dalam Peraturan X.K.6 yang direvisi tahun 2012,
Bapepam-LK telah mewajibkan perusahaan publik untuk memiliki
12

website. Beberapa hal wajib dimuat di website adalah laporan tahunan,


piagam komite audit, dan piagam internal audit.

2. Hasil Penilaian oleh IICD ASEAN CG Scorecard


Rata-rata skor untuk kategori ini relatif paling tinggi dibandingkan
skor di kategori lain karena beberapa praktik pengungkapan telah
diwajibkan oleh Bapepam-LK atau BEI. Rata-rata skor ini adalah untuk
2012 sebesar 53,7 (dengan skor 19,5-85,0) dan untuk 2013 sebesar 63,5
(dengan skor 33,3-90,0). Beberapa pengungkapan yang diwajibkan antara
lain indikator kinerja keuangan, transaksi pihak berelasi, laporan keuangan
interim, dan laporan keuangan auditan. Laporan leuangan auditan harus di
publikasikan dalam waktu 90 hari sejak tanggal tutup nuku serta harus ada
pernyataan Direksi yang menyatakan kewajaran laporan keuangan.
Berikut adalah beberapa area yang masih perlu ditingkatkan dalam
kategori ini :
a. Perusahaan publik hanya mengungkapkan kepemilikan langsung oleh
pemegang saham besar, anggota direksi dan dewan komisaris.
Perusahaan publik belum melakukan pengungkapan kepemilikan tidak
langsung dari pihak tersebut
b. Perusahaan publik jarang yang melakukan pengungkapan di laporan
tahunan terkait dengan ketaatan terhadap kode GCG, karena beum ada
aturan yang mewajibkan.
c. Perusaahaan publik melakukan pengunkapan profil anggo ta direksi
dan komisaris, tetapi kebanyakan tidak mengungkapkan jabatan yang
dipegang anggota dewan di perusaaan terdaftar lainnya.
d. Sebagian besar perusahaan publik juga tidak mengungkapkan audit fee
dan non-audit fee yang dibayarkan kepada KAP yang mengaudit
perusahaan mereka.
13

H. Menggunakan ASEAN CG Scorecard untuk menilai praktik


pengungkapan dan transparansi
Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian praktik
pengungkapan dan transparansi di perusahaan terbuka dengan menggunakan
ASEAN CG Scorecard :
1. Struktur kepemilikan yang transparan : mengungkapkan identitas pemegang
saham dengan kepemilikan 5% atau lebih, mengungkapkan kepemilikan
saham secara langsung maupun tidak langsung dari pemegang saham
mayoritas / substansi, mengungkapkan kepemilikan saham langsung dan
tidak langsung oleh direktur dan komisaris, menungkapkan perusahaan
induk, perusahaan anak, perusahaan asosiasi, ventura bersama, entitas
bertujuan khusus.
2. Kualitas laporan tahunan, yaitu terkait pengungkapan resiko utama, tujuan
perusahaan, indikator kinerja keuangan dan non keuangan, kebijakan
dividen, kebijakan whistle-blowing, informasi mengenai direktur dan
komisaris secara lengkap, pernyataan engenai kepatuhan terhadap CG Code
(Comply or Explain)
3. Pengungkapan transaksi pihak berelasi : kebijakan review dan persetujuan
terhadap transaksi pihak berelasi, informasi pihak berelasi, sifat serta jumlah
transaksi.
4. Pengungkapan transaksi perdagangan orang dalam oleh pihak dalam
perusahaan.
5. Pengungkapan audit fee dan non-audit fee serta apakah besaran non-audit
fee lebih besar dari audit fee (jika ya, nilainya nol).
6. Penggunaan saluran komunikasi : pelaporan interim, website, analysts
briefing, press conference.
7. Informasi yang terdapat dalam website apakah mencakup informasi yang
lengkap dan terkini. Informasi tersebut adalah : laporan tahunan dan laporan
keuangan, anggaran dasar, panggilan RUPS, operasi bisnis perusahaan,
struktur pemegang saham, struktur pemegang saham, struktur grup bisnis
perusahaan, materi yang disampaikan ke analis dan media.
14

8. Penerbitan laporan keuangan dan laporan tahunan secara tepat waktu serta
pernyataan kewajaran laporan keuangan tahunan oleh Direksi.
9. Pengungkapan nomor kontak unit / pihak yang bertanggung jawab atas
hubungan investor.

Dalam ASEAN CG Scorecard juga diberikan penilaian tambahan (bonus)


dan pengurangan (penalti) untuk beberapa hal, yaitu :
1. Bonus : jika perusahaan mengumumkan laporan keuangan dalam waktu
kurang dari 60 hari dan jika perusahaan mengungkapkan rincian remunerasi
Presiden Direktur.
2. Penalti : jika perusahaan menerima opini audit selain opini wajar tanpa
pengecualian, serta jika perusahan merevisi laporan keuangan selain karena
alasan perubahan kebijakan akuntansi.

I. Kajian Kasus Prinsip 5 dan 6 : Satyam


1. Ringkasan Kasus Skandal Satyam
Satyam adalah salah satu perusahaan IT terbesar di India yang
telah mencatatkan perkembangan di bidang keuangan yang cukup pesat
pada periode 2008. Perusahaan ini mempunyai 50 ribu karyawan yang
tersebar di berbagai pusat pengembangan IT-nya di negara-negara Asia,
Amerika, Eropa, dan Australia. Menjadi rekanan dari 654 perusahaan
global, termasuk General Electric, Nestle, Qantas Airways, Fujitsu, dan
185 perusahaan lainnya. Sahamnya listed di Indias National Stock
Exchange, The New York Stock Exchange dan Euronext di Eropa. didirikan
dan dipimpin oleh Ramalinga Raju, lulusan MBA Ohio University dan
alumnus Harvard University.

2. Kronologi Kasus Satyam


15

a. Pada Maret 2008, Satyam melaporkan kenaikan revenue sebesar 46,3


persen menjadi 2,1 milyar dolar AS. Di Oktober 2008, Satyam
mengatakan bahwa revenue-nya akan meningkat sebesar 19-21 persen
menjadi 2,55-2,59 milyar dolar pada bulan Maret 2009. Melihat semua
reputasinya, pantas saja jika Satyam dinobatkan menjadi raksasa IT
terbesar keempat di India.
b. Pada 7 Januari 2009, Ramalinga Raju tiba-tiba mengatakan bahwa
sekitar 1,04 milyar dolar saldo kas & bank Satyam adalah palsu
(jumlah itu setara dengan 94% nilai kas & bank Satyam di akhir
September 2008). Dalam suratnya yang dikirimkan ke jajaran direksi
Satyam, Ramalinga Raju juga mengakui bahwa dia memalsukan nilai
pendapatan bunga diterima di muka (accrued interest), mencatat
kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya (understated liability)
dan menggelembungkan nilai piutang (overstated debtors).
Pada awalnya, Satyam fraud dilakukan dengan menggelembungkan
nilai keuntungan perusahaan. Setelah dilakukan selama beberapa
tahun, selisih antara keuntungan yang sebenarnya dan yang dilaporkan
dalam laporan keuangan semakin lama semakin besar.
c. Pada 14 Januari 2009, auditor Satyam selama 8 tahun terakhir Price
Waterhouse India mengumumkan bahwa laporan auditnya berpotensi
tidak akurat dan tidak reliable karena dilakukan berdasarkan informasi
yang diperoleh dari manajemen Satyam. Institusi akuntan di
India ICAI, meminta PwC memberikan jawaban resmi dalam 21 hari
terkait skandal Satyam.
Satyam selama enam tahun terakhir melakukan pelaporan yang
salah. Hal ini bermula dari keinginan Ramalingga Raju untuk
mendapatkan ijin perolehan dana dari bank untuk melakukan ekspansi
Satyam. Sehingga Raju melakukan beberapa manipulasi, seperti
dijelaskan di bawah ini:
a. Saldo kas dan bank sebesar 50,40 miliar adalah fiktif jika
dibandingkan dengan RS 53,61 milyar dalam pembukuan
16

b. Piutang bunga fiktif sebesar RS 3,67 miliar


c. Utang yang understated senilai RS 12,3 miliar
d. Piutang yang terlalu tinggi (overstated) senilai RS 4,90 miliar.
e. Untuk Q2 September, pendapatan lebih besar RS 5,88 milyar dan
operating margin yang dilaporkan senilai Rs 6,49 miliar
seharusnya bernilai Rs 610 juta. Hal ini mengakibatkan adanya
saldo kas fiktif senilai Rs 5,88 miliar.
Menyusul skandal fraud dalam laporan keuangan Satyam, pada 10
Januari 2009 harga saham Satyam jatuh menjadi 11,5 rupees, atau
hanya senilai 2% dari harga saham tertingginya di tahun 2008 sebesar
544 rupees.

3. Pembahasan Terkait OECD Prinsip 5 dan 6


a. Keterbukaan dan Tranparansi
Kerangka kerja corporate governance harus memastikan bahwa
keterbukaan informasi yang tepat waktu dan akurat dilakukan atas
semua hal yang material berkaitan dengan perusahaan, termasuk di
dalamnya keadaan keuangan, kinerja, kepemilikan dan tata kelola
perusahaan. Selain itu informasi harus disajikan dan diungkapkan
sesuai dengan standar akuntansi yang berkualitas tinggi dan
keterbukaan keuangan dan non-keuangan. Audit tahunan harus
dilakukan oleh auditor yang independen, kompeten dan memenuhi
kualifikasi, dalam rangka menyediakan jaminan/kepastian eksternal
dan objektif kepada pengurus dan pemegang saham bahwa laporan
keuangan perusahaan menyajikan secara wajar dalam semua hal yang
material, posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dalam kasus fraud
Satyam, pihak yang berwenang dalam hal melakukan audit tersebut
adalah PWC. Price Waterhouse Coopers India (PwC) sebagai akuntan
publik tidak memiliki kode etik akuntan publik. Diantaranya adalah
sebagai berikut:
1) Independensi
17

Dalam SA Seksi 220, pada paragraph 02, independensi adalah


auditor mempertahankan sikap yang tidak memihak dalam
melaksanakan perkerjaannya. Namun dalam kenyataannya, PwC
mengacuhkan bukti-bukti penggelembungan dana. Misalnya
dalam saldo kas dan bank itu fiktif sebanyak Rs 50,40 miliar
dibandingkan dengan Rs 53,61 miliar yang ditunjukkan dalam
pembukuan. Independensi penampilan merupakan independensi
yang dipandang dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
perusahaan yang diaudit dan pihak tersebut mengetahui hubungan
antara auditor dan kliennya. PwC India praktis telah melanggar
independensi penampilan karena PwC memiliki hubungan
istimewa dengan Satyam, yakni kemitraan strategis hingga akhir
tahun 2009 meski aturan internasional U.S Securities and
Exchange Comission dan standar audit India melarang kemitraan
semacam itu.
2) Integritas dan Objektivitas Akuntan
Integritas mengharuskan seorang auditor untuk bersikap jujur dan
berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa,
pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh
keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang
tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak
dapat menerima kecurangan atau peniadaan prinsip (Mulyadi).
Tetapi dari dokumen sec yang memeriksa kasus ini, terdapat bukti
bahwa PwC melanggar integritas, seperti PwC yang meskipun
mengetahui sistem pengendalian internal Satyam yang lemah,
tetapi tid ak melakukan tindakan untuk melaporkan hasil
temuannya itu.
Objektivitas mengharuskan akuntan publik bebas dari benturan
kepentingan dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material
yang diketahuinya dan mengalihkan pertimbangan kepada pihak
lain. PwC jelas melanggar benturan kepentingan karena tidak
18

memperhatikan independensi penampilan dengan memiliki


hubungan kemitraan strategis dengan Satyam.
3) Standar Umum
Ada beberapa standar yang harus dipatuhi akuntan publik, yakni
kompetensi profesional, kecermatan dan keseksamaan
professional, perencanaan dan supervisi, dan data relevan yang
memadai. PwC juga melanggar standar umum akuntan publik.
Dari hasil bukti kasus Satyam, diketahui bahwa PwC tidak
memperhatikan kompetensi, kecermatan dan keseksamaan
professional dengan tidak memeriksa secara keseluruhan sejumlah
invoice dalam transaksi Satyam. PwC juga melanggar standar
perencanaan dan supervisi karena tidak melakukan dengan benar
pemeriksaan dari awal perikatan audit hingga akhir perikatan
audit.
4) Kepatuhan Terhadap Standar
PwC melanggar aturan Indian Audit and Accounts Service
(IAAS), yaitu basic postulate dimana akuntan publik harus
mengikuti standar auditing yang berlaku dan melaporkan hasil
temuannya terhadap laporan keuangan. Sedangkan PwC justru
menutupi laporan pemeriksaan audit tersebut.
5) Prinsip-Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi mengharuskan akuntan publik untuk memeriksa
dan menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan penerima
jasa. Dalam perikatan umum, auditor melaksanakan auditnya atas
dasar pengujian, bukan atas dasar pemeriksaan terhadap seluruh
bukti. Namun auditor internal Satyam tidak melakukan pengujian,
meneliti atas verifikasi setiap transaksi mulai dari awal terjadinya
transaksi setiap tahun hingga berakhirnya tahun laporan. Selain
itu, auditor juga tidak memverifikasikan cash and bank balance.
6) Fee Profesional
19

Besarnya fee anggota bervarasi tergantung risiko penugasan,


komplesitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian, biaya yang
bersangkutan dan hal-hal lannya. Tetapi ada kejanggalan dalam
audit fee PwC yang dibayarkan oleh Satyam. Dari hasil
perbandingan audit fee yang sama-sama menggunakan jasa PwC,
yaitu Satyam, Wipro dan Infosys didapat bahwa pendapatan PwC
2007 sebagai berikut. Satyam: Wipro: Infosys = 0,059% : 0,006%
: 0,004%. Sedangkan pendapatan PwC tahun 2008 adalah
Satyam: Wipro: Infosys = 0,046% : 0,006% : 0,005%. Bisa dilihat
bahwa fee yang dibayarkan oleh Satyam tidak wajar dan berkali-
kali lipat dibanding pesaing Satyam.

4. Pelanggaran Prinsip GCG


Pengertian GCG menurut Bank Dunia (World Bank) adalah
kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang
dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara
efisien, menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang
berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar
secara keseluruhan. Satyam juga melakukan pelanggaran prinsip GCG
antara lain:
a. Transparansi (transparency) adalah keterbukaan dalam melaksanakan
proses pengambilan keputusan dan mengemukakan informasi materil
yang relevan mengenai perusahaan. Raju tidak terbuka dalam
mengemukakan informasi materil perusahaan. Hal ini bisa dilihat dari
tindakan Raju yang memalsukan saldo sebesar Rs 50,40 miliar, piutang
bunga sebesar Rs 3,76 miliar dan utang yang tidak dinyatakan sebesar
Rs 12,3 miliar.
20

b. Pengungkapan (disclosure) adalah penyajian informasi kepada


stakeholders, baik diminta maupun tidak diminta, mengenai hal-hal
yang berkenaan dengan kinerja operasional, keuangan, dan resiko
usaha perusahaan. Raju juga menyajikan informasi palsu dengan bukti
seperti poin diatas.
c. Kemandirian (independence) adalah suatu keadaan dimana perusahaan
dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan
pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat. PwC India tidak seharusnya menjadi auditor eksternal
Satyam karena keduanya memiliki benturan kepentingan berupa
kemitraan strategis dalam bentuk jasa IT.
d. Akuntabilitas (accountability) adalah kejelasan fungsi, pelaksanaan
dan pertanggungjawaban manajemen perusahaan sehingga
pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif dan ekonomis. Aksi
CEO Satyam, Raju tentu kebalikan dari prinsip akuntabilitas. Raju
melebih-lebihkan dana sebesar Rs 53,61 miliar. Tindakan tidak benar
itu diketahui sistem pengendalian internal Satyam yang hanya
mengabaikan Raju dan justru mengindahkan faktur-faktur palsu dalam
transaksi Satyam. Pelaksanaan tugas masing-masing pihak menjadi
tidak jelas.
e. Pertanggungjawaban (responsibility) adalah kesesuaian dalam
pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Jika dilihat dari
standar aturan Indonesia, ada pelanggaran yang dilakukan Auditor
Satyam dan PwC. Misalnya dalam Pasal 55 khususnya ayat (b) dan
Pasal 56 UU RI Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik yang
dijadikan sebagai subjek uji materiil Pemohon dinyatakan bahwa
akuntan publik yang dengan sengaja melakukan manipulasi,
memalsukan, dan/atau menghilangkan data atau catatan pada kertas
21

kerja, atau tidak membuat kertas kerja yang berkaitan dengan jasa yang
diberikan.
Dalam hal ini, auditor satyam dan PwC bersalah karena tidak
melakukan pengujian dan verifikasi dari awal terjadinya transaksi
hingga pelaporan tiap tahun juga mengabaikan bukti-bukti berupa
invoice palsu dalam transaksi. Raju juga melanggar Pasal 56
dinyatakan bahwa pihak terasosiasi yang melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55, dipidana dengan pidana
penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak 300 juta
rupiah.

5. Tanggung Jawab Dewan Komisaris dan Direksi


Kerangka kerja corporate governance harus memastikan pedoman
strategis perusahaan, monitoring yang efektif terhadap manajemen oleh
dewan, serta akuntabilitas dewan terhadap perusahaan dan pemegang
saham. Setahun sebelum munculnya skandal tersebut, Satyam
memenangkan penghargaan Golden Peacock untuk kesempurnaan dalam
corporate governance dari World Council for Corporate Governance.
Dewan tersebut kemudian membatalkan penghargaan dan mengeluhkan
kegagalan perusahaan Satyam untuk mengungkap fakta-fakta materi
sebenarnya. Namun, reporter Business Week Beverly Behan menulis
bahwa dewan Satyam jelas-jelas mencemooh praktik-praktik corporate
governance yang baik. Para wartawan dapat mengetahui dengan menelaah
komposisi dewan bahwa dewan direksi Satyam kurang memiliki keahlian
ekonomi, hampir sama sekali tidak independen dan gagal untuk memenuhi
syarat manajemen yang independen dimana hal ini berlawanan dengan
praktik-praktik corporate governance yang baik. Seperti yang
diperlihatkan kasus Satyam, penghargaan bisnis yang mengesankan dan
laporan tahunan yang mengkilap bukanlah jaminan bahwa perusahaan-
perusahaan tersebut beroperasi secara legal dan penuh etika.
22

Banyak bisnis keluarga yang menunjuk dewan keluarga untuk


menyelaraskan kepentingan mereka dan bertindak sebagai penghubung
utama antara keluarga, dewan dan manajemen senior. Dewan juga
mengajukan kandidat untuk keanggotaan dewan dan membuat rancangan
kebijakan atas hal-hal seperti mempekerjakan keluarga, kompensasi dan
kepemilikan saham. Kemandirian Dewan merupakan isu utama dalam
kelanjutan skandal Satyam Computer Systems Ltd. di India.
Laporan BusinessWeek menghitung sinyal-sinyal masalah yang
tidak terdeteksi pada kasus Satyam sebagai berikut:
a. Dewan di Satyam memiliki enam direktur non-manajemen, tetapi
empat diantaranya akademisi dan satu adalah seorang mantan
sekretaris kabinet pada pemerintahan. Hanya satu anggota dewan yang
sebelumnya pernah menjabat eksekutif puncak di suatu perusahaan
teknologi.
b. Perusahaan tersebut tidak memiliki pakar keuangan pada komite
auditnya.
c. Meskipun Satyam membedakan posisi CEO dan kepala dewan, dua
posisi tersebut diduduki oleh bersaudara yang memiliki kepentingan
utama dalam perusahaan dan anggota manajemen.
d. Dewan tidak memiliki kepemimpinan dewan independen.

Berdasarkan Pasal 92 ayat (1) UU No 40 Tahun 2007 tentang


Perseroan Terbatas tugas Direksi adalah menjalankan pengurusan
Perseroan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan
tujuan Perseroan. Direksi PT dapat terdiri atas 1 orang atau lebih.
Sedangkan, tugas dari Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan
atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik
mengenai Perseroan maupun usaha Perseroan, dan memberi nasihat
kepada Direksi (Pasal 108 ayat [1] UUPT). Dewan Komisaris dapat terdiri
dari 1 (satu) orang atau lebih (Pasal 108 ayat [3] UUPT).
Bila melihat dua ketentuan mengenai Direksi dan Dewan
23

Komisaris tersebut, sudah dapat diketahui bahwa tugas utama Direksi


adalah melakukan pengurusan PT, sedangkan tugas utama Dewan
Komisaris adalah melakukan pengawasan atas pengurusan PT. Jika di
dalam suatu PT Direksi merangkap sebagai Dewan Komisaris, terlebih lagi
bila dipegang oleh satu orang, maka akan berakibat munculnya benturan
kepentingan. Benturan kepentingan ini karena jalannya pengurusan PT
dikhawatirkan tidak terkendali sebab kewenangan untuk melakukan
pengawasan dan pengurusan dipegang oleh orang yang sama. Kaitannya
dalam kasus Satyam, meskipun posisi Direksi dan Komisaris dipegang
oleh orang yang berbeda, namun kedua posisi tersebut diduduki oleh
bersaudara yang memiliki kepentingan utama dalam perusahaan dan
anggota manajemen. Penyalahgunaan wewenang dan sistem pengendalian
internal Satyam yang lemah. Hal ini menjadi salah satu faktor yang
memungkinkan kasus fraud Satyam terjadi.
Kasus kecurangan yang menyangkut masalah praktek tranparansi
dan akuntabilitas pelaporan keuangan perusahaan harus mendorong
profesi akuntan, pengguna laporan keuangan, dan pemerintah memberikan
perhatian yang serius terhadap pentingnya keberadaan komite audit dan
mekanisme gcg menjadi suatu kebutuhan di dunia bisnis sebagai
barometer akuntabilitas dari suatu perusahaan.

BAB IV
SIMPULAN
24

Berdasarkan hasil analisis dan kajian yang sudah diuraikan di pembahasan


seblumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Bila melihat dua ketentuan mengenai Direksi dan Dewan Komisaris
tersebut, sudah dapat diketahui bahwa tugas utama Direksi adalah melakukan
pengurusan PT, sedangkan tugas utama Dewan Komisaris adalah melakukan
pengawasan atas pengurusan PT. Jika di dalam suatu PT Direksi merangkap sebagai
Dewan Komisaris, terlebih lagi bila dipegang oleh satu orang, maka akan berakibat
munculnya benturan kepentingan. Benturan kepentingan ini karena jalannya
pengurusan PT dikhawatirkan tidak terkendali sebab kewenangan untuk melakukan
pengawasan dan pengurusan dipegang oleh orang yang sama. Kaitannya dalam
kasus Satyam, meskipun posisi Direksi dan Komisaris dipegang oleh orang yang
berbeda, namun kedua posisi tersebut diduduki oleh bersaudara yang memiliki
kepentingan utama dalam perusahaan dan anggota manajemen. Penyalahgunaan
wewenang dan sistem pengendalian internal Satyam yang lemah. Hal ini menjadi
salah satu faktor yang memungkinkan kasus fraud Satyam terjadi.
Kasus kecurangan yang menyangkut masalah praktek tranparansi dan
akuntabilitas pelaporan keuangan perusahaan harus mendorong profesi akuntan,
pengguna laporan keuangan, dan pemerintah memberikan perhatian yang serius
terhadap pentingnya keberadaan komite audit dan mekanisme gcg menjadi suatu
kebutuhan di dunia bisnis sebagai barometer akuntabilitas dari suatu perusahaan.

DAFTAR
25PUSTAKA
25

Ikatan Akuntan Indonesia. (2015). Modul Chartered Accountant : Etika Profesi


dan Tata Kelola Korporat. Jakarta : Ikatan Akuntan Indonesia. Hal 156-165.

http://justisiamaabuat.blogspot.co.id/2016/04/prinsip-tanggung-jawab-dewan-
etika.html diakses tanggal 10 Agustus 2017 Pukul 14.50 WITA

http://nyarimakalah.blogspot.co.id/2015/06/makalah-good-corporate-governance-
dan.html diakses tanggal 10 Agustus 2017 Pukul 14.20 WITA

26