Anda di halaman 1dari 18

HUKUM DIPLOMATIK DAN KOSULER

Kumpulan Kasus Hak Istimewa dan Kekebalan Diplomatik

Oleh:
Nama : Robyansyah
NIM : A01112094
Kelas :A
Dosen Pengajar : Silvester Thomas, S.H., Msi & Erwin, S.H., L

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS TANJUNGPURA
FAKULTAS HUKUM
PONTIANAK
2016
Daftar Isi

BAB I HAK ISTIMEWA DAN KEKEBALAN DIPLOMATIK 1


A. Dasar Pemberian Hak Istimewa dan Kekebalan 1
B. Berlakunya Kekebalan dan Keistimewaan Diplomatik 2
C. Berakhirnya Keistimewaan dan Kekebalan Diplomatik 3
D. Keistimewaan Perwakilan Diplomat 3
E. Kekebalan Diplomatik 5
1. Inviolability (tidak dapat diganggu gugat) 5
2. Immunity (kekebalan) 5
BAB II KASUS PELANGGARAN DAN PENYALAHGUNAAN
HAK ISTIMEWA DAN KEKEBALAN DIPLOMATIK 7
1. Penyadapan Kantor Perwakilan Diplomatik Indonesia
di Myanmar Tahun 2004 7
2. Kasus Makharadze (Diplomat Georgia) di Washington
Amerika Serikat .8
3. Kasus Raymond Davis (36 tahun), seorang diplomat anggota
staf teknik dan administratif AS yang di tempatkan di US Embassy,
Islamabad, Pakistan, menembak 2 pria warga negara Pakistan di Mozang
Chowk, Lahore. 10
4. Kasus Pemerkosaan oleh Diplomati Malaysia Di Selandia Baru. 12
5. Pendudukan Kedubes Israel oleh Pendemo Mesir 14
BAB I
HAK ISTIMEWA DAN KEKEBALAN DIPLOMATIK

A. Dasar Pemberian Hak Istimewa dan Kekebalan


Pengertian Kekebalan Diplomatik adalah hal yang penting bagi wakil dari negara-
negara dalam melakukan hubungannya dengan negara lain. Dalam melakukan diplomasi
yang dilakukan oleh wakil-wakil dari negara tersebut. Agar wakil-wakil negara tersebut
dapat melakukan tugasnya dengan baik dan efisien, maka para wakil-wakil negara dalam
berdiplomasi tersebut diberikan hak-hak istimewa dan kekebalan. Sehubungan dengan itu
terdapat 3 teori mengenai landasan hukum pemberian kekebalan dan keisitimewaan
diplomatik luar negeri, yaitu sebagai berikut :
1. Teori Ekstrateritorialitas (Exterritotiality Theory)
Menurut teori ini, seorang pejabat diplomatik dianggap seolah-olah tidak meninggalkan
negaranya, ia hanya berada diluar wilayah negara penerima, walaupun pada
kenyataannya ia sudah jelas berada diluar negeri sedang melaksanakan tugas-tugasnya
dinegara dimana ia ditempatkan. Demikian juga halnya gedung perwakilan, jadi
pemberian kekebalan dan keistimewaan diplomatik itu disebabkan faktor
eksterritorialitas tersebut. Oleh karena itu, seorang diplomat itu dianggap tetap berada
dinegaranya sendiri, ia tidak tunduk pada hukum negara penerima dan tidak dapat
dikuasai oleh negara penerima. Menurut teori ini seorang pejabat diplomatik tersebut
adalah dikuasai oleh hukum dari negara pengirim.
2. Teori Representative Character
Teori ini mengajarkan bahwa baik pejabat diplomatik maupun perwakilan diplomatik,
mewakili negara pengirim dan kepala negaranya. Dalam kapasitas itulah pejabat dan
perwakilan diplomatik asing menikmati hak-hak istimewa dan kekebalan kepada
pejabat-pejabat diplomatik asing juga berarti bahwa negara penerima menghormati
negara pengirim, kebesaran dan kedaulatan serta kepala negaranya.
3. Teori kebutuhan fungsional
Teori ini mengajarkan bahwa hak-hak istimewa dan kekebalan-kekebalan diplomatik
dan misi diplomatik hanya berdasarkan kebutuhan-kebutuhan fungsional agar para
pejabat diplomatik tersebut dapat melaksanakan tugasnnya dengan baik dan lancar.
Dengan memberikan tekanan pada kepentingan fungsi, terbuka jalan bagi pembatasan
hak-hak istimewa dan kekebalan-kekebalan sehingga dapat diciptakan keseimbangan

Page | 1
antara kebutuhan negara pengirim dan hak-hak negara penerima. Teori ini kemudian
didukung untuk menjadi ketentuan dalam Konvensi Wina 1961.
Dalam muadimah Konvensi Wina 1961 tentang hubungan diplomatik dirumuskan
...that the purpose of such privilages and immunities is not to benefit individuals but
to ensure the efficient performance of the function of diplomatik missions as
representing states. Artinya, bahwa tujuan pemberian kekebalan dan keistimewaan
tersebut bukan untuk meenguntungkan orang perseorangan, tetapi untuk menjamin
pelaksanaan yang efisien fungsi-fungsi missi diplomatik sebagai wakil dari negara.
Maka dari itu, jelaslah bahwa landasan yuridis pemberian semua kemudahan, hak-hak
istimewa dan kekebalan yang diberikan kepada para agen diplomatik asing di suatu
negara adalah untuk memperlancar atau memudahkan pelaksanaan kegiatan-kegiatan
para pejabat diplomatik dan bukan atas pertimbangan-pertimbangan lain.

B. Berlakunya Kekebalan dan Keistimewaan Diplomatik


Menurut Konvensi Wina 1961 tentang hubungan diplomatik, setiap orang yang
berhak mendapatkan hak istimewa dan kekebalan diplomatik akan mulai menikmatinya
sejak pengangkatannya diberikan kepada Kementerian Luar Negeri atau kepada
kementerian lainnya sebagaimana mungkin telah disetujui.
Pasal 39 ayat 1 Konvensi Wina 1961 menyebutkan, bahwa:
Every person entitled to privileges and immunities shall enjoy them from the moment he
enters the territory of the receiving State on proceeding to take up his post or, if already in
its territory, from the moment when his appointment is notified to the Ministry for Foreign
Affairs or such other ministry as may be agreed.
Adapun maksudnya adalah, setiap orang berhak atas hak istimewa dan menikmati
kekebalan (immunities) dari saat dia memasuki wilayah negara penerima dan melanjutkan
untuk mengambil pos itu, atau jika sudah dalam wilayah, dari saat ketika itu adalah janji
diberitahukan kepada Departemen Luar Negeri lain atau departemen yang akan disepakati.
Hak istimewa dan kekebalan diplomatik akan tetap berlangsung sampai diplomat
mempunyai waktu sepantasnya menjelang keberangkatannya setelah menyelesaikan
tugasnya di suatu negara penerima.

Page | 2
C. Berakhirnya Keistimewaan dan Kekebalan Diplomatik
Bagi negara pengirim sudah jelas bahwa hak-hak istimewa dan kekebalan
diplomatik dari wakil-wakil diplomatiknya berakhir atau tidak berlaku lagi pada saat
mereka sudah berada kembali di negara-negara mereka sendiri. Karena tidaklah mungkin
negara itu memberikan hak-hak istimewa dan kekebalan diplomatik kepada warga
negaranya sendiri. Sedangkan bagi negara penerima, hak-hak istimewa dan kekebalan dari
seorang perwakilan diplomatik asing yang masa jabatan atau tugasnya telah berakhir,
biasanya pada saat ia meninggalkan negara itu, atau pada saat berakhirnya suatu waktu
yang layak (resonable period/reasonable opportunity) yang diberikan kepadanya untuk
meninggalkan negara penerima. Namun dalam hal tertentu, negara penerima dapat
meminta negara pengirim untuk menarik diplomatnya apabila ia dinyatakan persona non
grata.
Pasal 39 ayat 2 Konvensi Wina disebutkan, bahwa:
When the functions of a person enjoying privileges and immunities have come to an end,
such privileges and immunities shall normally cease at the moment when he leaves the
country, or on expiry of a reasonable period in which to do so, but shall subsist until that
time, even in case of armed conflict. However, with respect to acts performed by such a
person in the exercise of his functions as a member of the mission, immunity shall continue
to subsist.
Artinya, apabila tugas-tugas seseorang yang mempunyai hak istimewa dan
kekebalan itu biasanya berakhir pada waktu ia meninggalkan negeri itu, atau pada habisnya
suatu masa yang layak untuk itu, tetapi harus tetap berlaku sampai waktu berangkat, bahkan
dalam keadaan sengketa bersenjata. Namun sehubungan dengan tindakan-tindakan orang
demikian dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang anggota perwakilan,
kekebalan harus tetap berlaku. Kekebalan tidak berhenti dalam hal tugas-tugas resmi yang
dilakukan dalam rangka melaksanakan tugas-tugas mereka. Sedangkan dalam hal kematian
seorang diplomat, anggota keluarganya masih berhak untuk menikmati kekebalan dan
keistimewaan sampai waktu yang dianggap cukup pantas.

D. Keistimewaan Perwakilan Diplomat


1) Dibebaskan dari semua pungutan dan pajak-pajak, baik pajak barang bergerak maupun
barang tidak bergerak, pajak pusat, daerah, dan kotapraja, kecuali:
(a) Pajak-pajak tidak langsung dari suatu barang yang biasanya telah dimasukan
dalam harga barang atau jasa;
Page | 3
(b) Pungutan dan pajak-pajak atas harta milik pribadi tidak bergerak yang terletak di
wilayah negara penerima, kecuali yang dikuasainya atas nama negara pengirim
atau untuk keperluan perwakilan;
(c) Pajak-pajak tanah milik, suksesi atau warisan yang dikenakan oleh negara
penerima, tunduk pada ketentuan dari ayat 4 pasal 39;
(d) Pungutan dan pajak atas penghasilan pribadi yang bersumber di negara penerima
dan pajak atas modal yang ditanamkan dalam usaha-usaha perniagaan di negara
penerima;
(e) Biaya yang dipungut atas jasa-jasa khusus yang diterimanya;
(f) Biaya-biaya pendaftaran, pengadilan atau pencatatan, hipotik dan bea materai
untuk harta milik tidak bergerak, tunduk pada ketentuan-ketentuan dari Pasal 23.
Negara penerima akan memberikan kemudahan-kemudahan kepada negara
pengirim untuk mendapatkan tempat-tempat yang diperlukan bagi perwakilannya di
negara penerima atau membantu negara pengirim untuk memperoleh akomodasi. Hak
kebebasan pajak ini pada hakikatnya bukanlah hak yang dapat dituntut, melainkan hak
yang bersumber dari kebiasaan yang lebih merupakan kemurahan hati dan
penghormatan dari negara penerima.
2) Pembebasan dari Kewajiban Militer.
Menurut Pasal 35 Konvensi Wina 1961 negara penerima akan membebaskan
semua agen diplomatik dari layanan pribadi, semua layanan publik apapun, dan militer
dari kewajibans eperti yang berhubungan dengan keharusan menyediakan barang
(requisitioning), sumbangan militer, dan penyediaan akomodasi.
3) Pembebasan Bea dan Cukai.
Negara penerima sesuai dengan hukum dan peraturan yang dianutnya,
mengizinkan pemasukan dan memberikan pembebasan dari semua bea dan cukai, pajak
dan biaya yang bersangkutan. Selain dari pada biaya-biaya penyimpanan, angkutan dan
pelayanan jasa semacamnya, atas barang-barang untuk penggunaan resmi dari misi dan
barang-barang untuk keperluan pribadi wakil diplomatik atau anggota
keluarganyayangmerupakanbagiandari rumahtangganya, termasuk barang-barang yang
diperuntukkan kediamannya.Namun apabila negara penerima berkeyakinan bahwa
barang-barang yang dimasukkanke negara penerima itu berisi alat-alat yang tidak
ditujukan untuk keperluan dinas, ataupun barang-barang yang dilarang undang-undang
nasional negara penerima maka dilarang untuk diimpor atau diekspor ataupun diawasi

Page | 4
oleh peraturan karantina yang berlaku di negara penerima adalah terlarang atau tidak
akan diizinkan masuk ke negara penerima.
4) Pembebasan dari ketentuan Jaminan Sosial.
Seorang wakil diplomatik, sehubungan dengan pelayanan yang diberikan untuk negara
pengirim dibebaskan dari ketentuan jaminan sosial yang berlaku dinegara penerima.
Pembebasan ini juga berlaku terhadap pelayan pribadi yang hanya bekerja untuk wakil
diplomatik, dengan syarat bahwa mereka bukan warga negara atau penduduk tetap di
negara penerima danmereka dilindungi oleh ketentuan-ketentuan jaminan sosial yang
dapat berlaku di negara pengirim atau negara ketiga.

E. Kekebalan Diplomatik
Mengenai ketentuan pengklasifikasian kekebalan dan keistimewaan diplomatik di
Indonesia, telah diatur dalam buku Pedoman Tertib Diplomatik dan Protokoler, yang
diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa yang
dimaksud kekebalan dan keistimewaan diplomatik mencakup dua pengertian. Kedua
pengertian tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Inviolability (tidak dapat diganggu gugat)
Inviolability (tidak dapat diganggu gugat) adalah kekebalan terhadap alat-
alat kekuasaan dari negara penerima dan kekebalan dari segala gangguan yang
merugikan para pejabat diplomatik. Dengan demikian terkandung makna bahwa
pejabat diplomatik yang bersangkutan memiliki hak untuk mendapat perlindungan dari
alat-alat perkengkapan negara penerima. Pengartian dalam pedoman tertib diplomatik
dan protokoler, inviolability merupakan terjemahan dari inviolabel, yang terdapat
dalam Konvensi Wina 1961, yang menyatakan bahwa pejabat diplomatik adalah
inviolabel, artinya ia tidak dapat ditangkap maupun ditahan oleh alat negara, atau alat
perlengkapan negara penerima. Dan sebaliknya, negara penerima berkewajiban untuk
mengambil langkah-langkah demi mencegah serangan atas kehormatan dan kekebalan
dari pejabat diplomatik yang bersangkutan.
2. Immunity (kekebalan)
Immunity (kekebalan) adalah pejabat diplomatik kebal terhadap yuridiksi dari hukum
negara penerima, baik hukum pidana, perdata, maupun hukum administrasi.
Sedangkan pengertian immunity dalam pedoman tertib diplomatik yang terdapat pada
Konvensi Wina 1968, yaitu pejabat diplomatik akan menikmati kekebalan dari
yurikdisi kriminal, sipil, serta administrasi dari negara penerima. Kekebalan yang
Page | 5
terdapat dalam buku tertib diplomatik dan tertib protokoler diperinci menjadi tiga
bagian, yaitu sebagai berikut:
a) Kekebalan pribadi (imunitas perorangan) dapat diperinci lagi sebagai berikut:
1. Berhak atas perlindungan istimewa atas pribadi dan atas harta bendanya.
2. Bebas dari alat-alat paksaan, baik soal perdata maupun soal pidana.
3. Bebas dari kewajiban menjadi saksi.
4. Bebas dari semua pajak langsung, kecuali pajak tanah, retribusi, dan bea
materai.
b) Kekebalan kantor perwakilan dan rumah kediaman
1. Kebal terhadap alat-alat kekuasaan dari negara penerima (misal: tindakan paksa
untuk memasukinya)
2. Berhak mendapat perlindungan demi menjaga keamanan
3. Gedung-gedung, perabot-perabot, dan milik lainnya termasuk alat-alat
pengangkutan atau kendaraan bebas dari pemeriksaan dan penahanan
Kantor perwakilan diplomatik dan rumah kediamannya tidak boleh
dimasuki tanpa izin oleh negara penerima, kecuali dalam keadaan darurat,
misalnya ada kebakaran, banjir, dan sebagainya. Bendera asing bebas berkibar di
atas gedung kedutaan dengan tidak perlu didampingi bendera negara penerima di
sebelah kanannya. Kekebalan kantor perwakilan dan rumah kediaman (immunitas
tempat tinggal) menimbulkan hak asy atau hak suaka politik. Hak suaka politik
adalah hak untuk mencari dan mendapatkan perlindungan dari suatu keduatan
asing oleh seorang delliguent politik maupun kriminal.
c) Kekebalan terhadap koresponden (immunitas surat menyurat)
1. Arsip dan dokumen2 perwakilan tidak dapat diganggu gugat
2. Surat menyurat perwakilan dan anggota stafnya berhak mendapat kekebalan
3. Kantong (diplomatik bag) tidak boleh dibuka dan ditahan.
Kekebalan ini memungkinkan surat menyurat tidak boleh disensor. Ini
tidak berarti bahwa duta dan pengikutnya tersebut dapat berbuat sewenang-
wenang. Mereka diharuskan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku
di negara itu. Pelanggaran dapat menyebabkan pemerintah mengajukan protes
kepada kementerian luar negeri negara pengirim. Jika perlu dengan permintaan
kembali atau dipersonanongratakan.

Page | 6
BAB II
KASUS PELANGGARAN DAN PENYALAHGUNAAN HAK ISTIMEWA DAN
KEKEBALAN DIPLOMATIK

1. Penyadapan Kantor Perwakilan Diplomatik Indonesia di Myanmar Tahun 2004


Penyadapan yang terjadi di kantor perwakilan diplomatik Indonesia di Myanmar
ditemukan di dinding ruangan Duta Besar Indonesia. Kasus ini terungkap dengan dua
metode, yakni super ground (semacam sistem anti sadap) dan penurunan daya listrik. Jika
daya listrik terjadi penurunan hingga mencapai 50 persen maka terindikasi terjadi
penyadapan. Kasus yang terjadi di kantor perwakilan diplomatik Indonesia di Myanmar
penurunan daya listrik mencapai 70 persen. Sedangkan alat sadap yang ditemukan terdapat
pada saluran telepon Duta Besar Indonesia dan saluran telepon atase pertahanan.
Kekebalan dalam mengadakan komunikasi diatur dalam pasal 27 Konvensi Wina
1961 tentang hubungan diplomatik yang berisi jaminan kebebasan berkomunikasi bagi misi
perwakilan diplomatik dengan cara dan tujuan yang layak. Kebebasan berkomunikasi ini
dapat berlangsung antara pejabat diplomatik yang bersangkutan dengan pemerintah negara
penerima maupun dengan perwakilan diplomatik asing lainnya.
Kasus penyadapan terhadap KBRI di Yangoon, Myanmar telah menimbulkan rasa
kekecewaan luar biasa yang di rasakan oleh bangsa Indonesia. Tindakan ilegal yang
dilakukan oleh pemerintahan Myanmar telah menyalahi tata krama dalam hubungan
diplomatikse bagaimana dituangkan dalam Konvensi Wina 1961 yang menyatakan bahwa
gedumh perwakilan diplomatik kebal terhadap alat-alat negara penerima serta tidak dapat
diganggu gugat. Tindakan ini mengidentifikasikan bahwa rezim penguasa di Myanmar
tidak menghargai dukugan politik dan diplomatik Republik Indonesia selama ini dalam
menghadapi tekanan dunia baik dalam forum internasional melalui PBB maupun dalam
forum regional ASEAN.
Penyelesaian yang di ambil oleh pihak pemerintahan Indonesia sesuai dengan
Piagam PBB pasal 2 ayat (3) dan pasal 33 dimana lebih mengetumakan penyelesaian
sengketa dengan jalan damai yang ditujuakn untuk menciptakan perdamaia di muka bumi
yang yelah di cita citakan oleh setiap bangsa. Penyelesaian tersebut juga dilandaskan pada
prinsip yang utama di dalam penyelesaian sengketa internasional yaitu prinsip itikad baik
(good faith).
Di dalam Konvensi Wina 1961 pasal 1 (i) secara jelas memberikan batasan bahwa
gedung perwakilan merupakan gedung-gedung dan bagian-bagiannya dan tanah tempat
Page | 7
gedung itu didirikan, tanpa memperhatikan siapa pemiliknya yang digunakan untuk
keperluan perwakilan negara asing tersebut termasuk rumah kediaman kepala perwakilan.
Kelalaian dan kegagalan negara penerima dalam memberikan perlindungan terhadap
kekebalan diplomatik merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap ketentuan konvensi,
oleh karenanya negara penerima wajib bertanggung jawab atas terjadinya hal yang tidak
menyenangkan tersebut.
Kelalaian dan kegagalan tersebutlah yang akhirnya memunculkan tanggung jawab
tersendiri yang dikenal sebagai pertanggungjawaban negara. Salah satu gangguan yang
dapat saja terjadi terhadap kekebalan diplomatik, yaitu perlakuan atau kegiatan yang tidak
menyenangkan dari pihak negara penerima dimana perwakilan diplomatik tersebut
ditempatkan.
Apabila hal ini terjadi, maka negara pengirim dapat mengajukan keberatan kepada
Negara penerima (receiving state) dan negara penerima wajib bertanggung jawab
sepenuhnya atas hal tersebut.
Tindakan penyadapan tersebut merupakan pelanggaran terhadap Konvensi 1961
dan kejadian ini sangat disesalkan sekali karena merupakan bukti kegagalan pemerintah
Myanmar dalam melindungi hak kekebalan diplomatic dimana hal tesebut merupakan
kewajiban dari negara penerima sebagaimana telah diatur dalam konvensi.

2. Kasus Makharadze (Diplomat Georgia) di Washington Amerika Serikat.


a. Kronologi
Gueorgui Makharadze, diplomata senior, orang kedua pada Kedutaan
BesarRepublik Georgia di Washington, pada malam 3 Januari 1997, dalam kecepatan
tinggi menabrak sebuah mobil dan menewaskan seorang gadis berusia sepuluh tahun
dan melukai empat orang lainnya. Atas kejadian tersebut reaksi masyarakat setempat
sangat keras apalagi setelah mengetahui bahwa diplomat tersebut dalam keadaan
mabukdan mengendarai mobilnya dalam kecepatan yang tinggi di tengah kota.
Dalam proses selanjutnya, mula-mula Deplu Republik Georgia merujuk pada
ketentuan-ketentuan konvensi yang memberi kekebalan hukum pada diplomat, setelah
itu mememutuskan untuk memanggilnya pulang. Keputusan tersebut menyebabkan
Menlu AS menghibau kepada presiden Georgia agar menanggalkan kekebalan
diplomatik diplomat tersebut dan membiarkannya mematuhi hukum setempat.
Akhirnya presiden Georgia bersedia menanggalkan kekebalan diplomatik tersebut atas

Page | 8
alasan hubungan baik kedua negara dan atas dasar moral dan etika. Apalagi Georgia
membutuhkan bantuan ekonomi dari amerika.
Selanjutnya Makhadze diadili di Distric of Colombia Superor Court dan pada
19 Desmber 1997 diiatuhi hukuman penjara 10-21 tahun. Di pengadilan, diplomat
tersebut mengakui kesalahannya dan menerima pertanggujawaban atas kejadian
tersebut.
Demikianlah prinsip kekebalan mutlak yang menjadi pegangan selama ini
dalam pergaulan diplomatik sudah mulai melonggar dan penanggalan kekebalan
tersebut juga banyak tergantung dari keadaan hubungan anatar negara yang
bersangkutan.

b. Tanggapan Penulis
Meskipun para pejabat diplomatik diberikan kekebalan-kekebalan terhadap
yurisdiksi peradilan negara penerima baik yurisdiksi sipil maupun kriminal, tetapi
kekebalan tersebut dapat ditanggalkan atau dihapus. Mengenai penanggalan atau
penghapusan kekebalan diplomatik ini ditentukan dalam Pasal 32 Konvensi Wina 1961:
1. Kekebalan agen diplomatik dan orang-orang yang menikmati kekebalan dari
yurisdiksi negara penerima sebagaimana yang diatur dalam pasal 37, dapat
ditanggalkan oleh negara pengirim.
2. Penanggalan harus dinyatakan dengan tegas.
3. Jika agen diplomatik dan orang-orang yang memperoleh kekebalan bedasarkan
pasal 37, berinisiatif mengajukan gugatan maka hal ini akan menyebabkan dia
kehilangan hak untuk memohon kekebalan dari yurisdiksi negara penerima jika ada
gugatan balik yang berhubungan langsung dengan gugatan semula.
4. Penanggalan kekebalan didalam tuntutan pengadilan perdata atau administrasi tidak
dengan sendirinya menanggalkan kekebalan diplomatik dalam eksekusi putusan
hakim, melainkan harus terdapat sendiri suatu pernyataan penanggalan diplomarik
secara terpisah.
Hak untuk menanggalkan kekebalan diplomatik adalah negara pengirim tetapi biasanya
terlebih dahulu diajukan permohonan yang dilakukan oleh negara penerima. Baik itu
dengan adanya pengesahan khusus dari negara pengirim atau hanya diwakilkan oleh
kepala perwakilan diplomatik.

Page | 9
3. Kasus Raymond Davis (36 tahun), seorang diplomat anggota staf teknik dan
administratif AS yang di tempatkan di US Embassy, Islamabad, Pakistan, menembak
2 pria warga negara Pakistan di Mozang Chowk, Lahore.
a. Kronologi
Kasus bermula pada hari Kamis, tanggal 27 Januari 2011, Raymond Davis (36
tahun), seorang diplomat anggota staf teknik dan administratif AS yang di tempatkan
di US Embassy, Islamabad, Pakistan, telah menembak 2 pria warga negara Pakistan di
Mozang Chowk, Lahore. Raymond Davis mengklaim bahwa penembakan tersebut
dilakukan atas dasar self-defense, karena 2 pria warga negara Pakistan yang berkendara
motor tersebut menodongkan senjata api ke arahnya dengan maksud untuk
merampoknya. Raymond Davis yang sedang berkendara dengan mobil Honda Civic
pada saat berhenti di traffic light mengaku terpaksa menembakkan pistol Glock 9 mm
semi otomatis miliknya demi keselamatan nyawanya, sehingga mengakibatkan
terbunuhnya 2 warga negara Pakistan tersebut. Pria ketiga meninggal karena ditabrak
oleh sebuah kendaraan diplomatik AS yang datang untuk menyelamatkan Raymond
Davis dari amukan massa.
Pakistan menangkap dan menjerat Raymond Davis dengan pasal pembunuhan
serta kepemilikan senjata api ilegal. Pada saat pemeriksaan, Raymond Davis juga tidak
dapat menunjukkan paspor yang membuktikan bahwa dirinya adalah seorang diplomat,
hal ini menyebabkan Pakistan berspekulasi bahwa Raymond Davis adalah seorang
agen CIA (Central Intelligence Agency) yang menyamar sebagai diplomat AS.
Pejabat polisi senior yang menangani kasus ini mengatakan bahwa tindakan
yang dilakukan Raymond Davis tersebut tidak sepadan dengan ancaman sehingga
pemerintah Pakistan menolak untuk membebaskan Raymond Davis walaupun di
bawah kekebalan diplomatiknya. Raymond Davis kemudian ditangkap dan ditahan di
penjara Lakhpat Kot, Lahore.
AS terus mendesak agar Pakistan mematuhi isi dari Konvensi Wina 1961
dengan menuntut Pakistan agar segera melepaskan Raymond Davis dari tahanan. Dua
orang pria yang terbunuh tersebut juga ternyata memiliki catatan kriminal telah
merampok uang dan barang berharga di bawah todongan senjata dari seorang warga
Pakistan di wilayah yang sama.
Raymond Davis ditahan selama 2 bulan di penjara Pakistan dan dibebaskan
pada Rabu, 16 Maret 2011. Berdasarkan berkas pengadilan Lahore High Court, sesuai
dengan Hukum Islam, Raymond Davis dibebaskan dari tahanannya setelah keluarga
Page | 10
dari korban atas terbunuhnya 2 pria warga negara Pakistan itu menerima uang
kompensasi atau diyyat atau blood-money sebesar $2.34 juta. Perbuatan Davis yang
mengakibatkan terbunuhnya 2 warga negara Pakistan tersebut didasarkan oleh
pembelaan diri atau self defense, sehingga sanksi qishas (hukum bunuh bagi siapapun
yang sengaja melakukan pembunuhan dengan perencanaan terlebih dahulu) tidak dapat
diberlakukan pada Davis, melainkan dengan membayar diyyat. Senator AS John Kerry
menyatakan penyesalan mendalam atas peristiwa tersebut dan berjanji bahwa Raymond
Davis akan menghadapi investigasi hukum di AS setelah dibebaskan oleh pemerintah
Pakistan.

b. Tanggapan Penulis
Konvensi Wina 1961 menyebutkan bahwa seorang diplomat tidak dapat
dituntut di bawah hukum negara penerima kecuali jika negara pengirim menanggalkan
kekebalan diplomatiknya seperti pada kasus ke-2 di atas sehingga diplomat tersebut
dapat diadili berdasarkan hukum negara penerima. Konvensi Wina 1961 memberikan
kekebalan bagi para diplomat dari yurisdiksi pidana negara penerima, sehingga
diplomat tidak boleh ditangkap apalagi ditahan. Namun, ternyata dalam kasus ini
Pakistan justru tidak mengindahkan aturan hukum internasional tersebut dan tidak ada
sanksi internasional yang dijatuhkan kepada Pakistan atas pelanggaran hukum
diplomatik ini.
Pasal 32 Konvensi Wina 1961 menjelaskan mengenai ketentuan-ketentuan
tentang penanggalan kekebalan dari kekuasaan hukum. Disebutkan pula bahwa
kekuasaan dari agen diplomatik dapat ditanggalkan oleh negara pengirim, namun
penanggalan tersebut harus dinyatakan dengan jelas. Untuk mengadakan hubungan
diplomatik antar negara, diperlukan adanya sebuah perwakilan yang mewakili suatu
negara di negara lain, yang disebut sebagai perwakilan diplomatik. Sedangkan
pelaksanaan dari perwakilan diplomatik dijalankan oleh agen diplomatik. Agen
diplomatik atau yang disebut juga dengan diplomat, merupakan wakil dari negara yang
mengirimnya. Sebagaimana telah diatur oleh hukum internasional, agen diplomatik
memiliki kekebalan diplomatik selama menjalankan tugasnya. Hal tersebut diberikan
agar agen diplomatik dapat menjalankan tugasnya dengan baik tanpa ada gangguan
yang menimpa dirinya.
Salah satu kekebalan yang dimiliki oleh agen diplomatik adalah kekebalan
terhadap dirinya, yaitu bahwa seorang diplomat tidak dapat diganggu gugat, tidak dapat
Page | 11
dipertanggungjawabkan dalam bentuk apapun dari penahanan maupun penangkapan.
Ketentuan tersebut terdapat dalam Pasal 29 Konvensi Wina 1961. Selain itu, negara
penerima harus memperlakukannya dengan hormat dan mengambil semua langkah
yang tepat untuk mencegah setiap serangan terhadap badannya, kekebasannya, dan
martabatnya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, kekebalan tersebut sering dilanggar
oleh negara penerima sehingga menyebabkan insiden yang dapat merugikan atau
mengganggu agen diplomatik. Insiden yang terjadi dapat diselesaikan dengan
menganalisa dan meneliti sebaik-baiknya bahwa kekebalan diplomatik terhadap diri
diplomat merupakan kekebalan yang tidak dapat diganggu gugat dan juga diatur secara
tegas oleh hukum internasional, dalam hal ini Konvensi Wina 1961.
Kelalaian dan kegagalan negara penerima dalam memberikan perlindungan
terhadap kekebalan diplomatik merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap
konvensi, oleh karenanya negara penerima wajib bertanggung jawab atas terjadinya hal
yang tidak menyenangkan tersebut.

4. Kasus Pemerkosaan oleh Diplomati Malaysia Di Selandia Baru.


a. Kronologi
Muhammad Rizalman bin Ismail adalah staf asisten atase pertahanan di
Kedutaan Besar Malaysia di Wellington. Menurut media setempat Rizalman tinggal di
Selandia Baru
dengan istri dan anaknya kurang dari satu tahun sebelum ia ditahan dan meninggalkan
Selandia Baru. Rizalman yang bertugas sebagai atase militer, ditangkap pada bulan Mei
2014 setelah dituduh membuntuti dan mencoba memperkosa wanita berusia 21 tahun,
Tania Billingsley, di rumah korban di Wellington. Insiden ini terjadi pada 9 Mei dan
polisi mendakwa Rizalman masuk ke rumah orang lain dan berniat memperkosa
korbannya. Namun dengan memanfaatkan kekebalan diplomatik yang dimilikinya ia
kemudian berhasil lolos dan meninggalkan Selandia Baru untuk pulang ke Malaysia,
yang akhirnya memicu kemarahan di kedua negara.
Kasus perkosaan yang dilakukan diplomat Malaysia di Selandia Baru, Muh.
Rizalman bin Ismail telah membuat pemerintah setempat geram. Bahkan, otoritas
Selandia Baru telah memanggil atasan Rizalman terkait kasus ini. Perdana Menteri
Selandia Baru John Key mengatakan bahwa Selandia Baru sangat serius dalam
menangani kasus ini. Tindakan tegas yang diambil oleh Selandia Baru menurut Key ,

Page | 12
salah satunya agar hubungan baik Malaysia-Selandia Baru terus terjaga. Walau telah
berada di Malaysia, Key
tetap berharap Rizalman dapat diadili di Selandia Baru. Sebelumnya, John Key
mengatakan bahwa Selandia Baru telah secara resmi meminta penanggalan kekebalan,
namun kemudian ditolak oleh negara pengirim. Key mengatakan agar diplomat tersebut
dapat menghadapi konsekuensi dari perbuatan yang ia lakukan, namun Key
menambahkan bahwa sebagai peserta penandatangan konvensi Wina 1961 Selandia
Baru tidak punya pilihan selain membiarkan diplomat tersebut untuk bebas.
Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman sendiri mengatakan
bahwa diplomat tersebut akan dikembalikan ke Selandia Baru jika diperlukan. Selandia
Baru dan Malaysia memiliki catatan yang berlawanan tentang bagaimana diplomat
tersebut dapat kembali ke Malaysia. Selandia Baru merilis dokumen kepada media
lokal yang menunjukkan bahwa Komisi Tinggi Malaysia menolak untuk menanggalkan
kekebalan diplomatik diplomat tersebut. Tetapi kemudian Menteri Luar Negeri
Malaysia dalam konferensi pers mengatakan bahwa pada awalnya Malaysia telah
berkeinginan untuk menanggalkan kekebalannya, namun berdasarkan hasil diskusi,
Selandia Baru menawarkan sebuah alternatif untuk mengembalikan diplomat tersebut
ke Malaysia. Namun begitu, Menteri Luar Negeri Malaysia sendiri berkomitmen bahwa
pemerintah tidak akan melindungi diplomat tersebut. Dan berpendapat bahwa
kekebalan diplomatik dari seorang diplomat bukanlah merupakan sebuah lisensi
untuknya melakukan sebuah kejahatan.
Muhammad Rizalman akhirnya diterbangkan kembali ke Selandia Baru pada
bulan Oktober 2014. Ia dikawal 2 petugas kepolisian Selandia Baru dan 2 polisi militer
Malaysia. Dalam kasus ini ia menghadapi hukuman maksimal penjara 10 tahun untuk
pencurian dan penyerangan dengan maksud untuk memperkosa.

b. Tanggapan Penulis
Menurut Grant v McClanahan permintaan untuk menanggalkan kekebalan
seorang diplomat dapat dikaitkan sebagai suatu jalan yang layak untuk membatasi
kekebalan diplomat dari yurisdiksi negara penerima. Permintaan penanggalan
kekebalan dapat dilakukan oleh Menteri Luar Negeri negara penerima sebelum
deklarasi persona non grata dinyatakan. Ketika seorang diplomat tidak dapat diterima
(unacceptable) karena pelanggaran yang dilakukannya, Kementerian Luar Negeri dapat
menyarankan secara lisan kepada Kepala Perwakilan Diplomatik diplomat tersebut
Page | 13
untuk memulangkannya agar hubungan baik kedua negara dapat tetap terjaga. Jika
saran tersebut ditolak atau diabaikan, maka Kementerian Luar Negeri boleh meminta
diplomat tersebut ditanggalkan kekebalannya sehingga tindakan terhadapnya dapat
dilakukan atas kejahatannya. Jika permintaan tersebut ditolak deklarasi persona non
grata dapat dikenakan.
Namun kemudian apabila dikaitkan dengan kasus di atas, langkah-langkah
yang diambil dalam teori ini berbeda dengan langkah-langkah yang diambil oleh
Selandia Baru dalam menyikapi pelanggaran yang dilakukan oleh seorang diplomat di
wilayahnya. Dimana dalam kasus dibahas, masing-masing negara penerima sama-sama
meminta penanggalan kekebalan terlebih dahulu sebagai sikap awal kepada negara
pengirim. Dan pada kasus yang kedua dapat dilihat bahwa setelah negara pengirim
menolak permintaan dari negara penerima untuk penanggalan kekebalan barulah
diplomat tersebut dipulangkan untuk menghadapi proses peradilan di negaranya.
Dari kasus di atas dapat dilihat bahwa penanggalan kekebalan terhadap
diplomat yang melanggar tergantung pada itikad baik dari negara pengirim dan
bagaimana cara negara penerima dalam meyakinkan bahwa diplomat tersebut akan
mendapatkan perlakuan yang adil di negaranya. Karena dalam Konvensi Wina 1961
tentang Hubungan Diplomatik sendiri memang tidak dijelaskan tentang standar ataupun
alasan untuk dapat menanggalkan kekebalan dari seorang diplomat yang melakukan
pelanggaran.

5. Pendudukan Kedubes Israel oleh Pendemo Mesir


a. Kronologi
Republik Arab Mesir, lebih dikenal sebagai Mesir adalah sebuah negara yang
sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian timur laut. Pada akhir Januari 2011
rakyat Mesir menuntut Presiden yang sekarang berkuasa Hosni Mubarak untuk
meletakan jabatannya. Hingga 18 hari aksi demonstrasi besar-besaran menuntut
Presiden Hosni Mubarak mundur, akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011 Hosni
Mubarak resmi mengundurkan diri. Pengunduran diri Hosni Mubarak ini disambut baik
oleh rakyatnya, dan disambut baik oleh dunia Internasional.
Setelah pengunduruan diri dari Hosni Mubarak dari kursi presiden Mesir, pada
tanggal 9 September 2011, kembali terjadi unjuk rasa besar-besaran di negara Mesir
yang menuntut reformasi dipercepat. Massa yang terdiri dari sekitar 1000 orang

Page | 14
tersebut berjalan menuju kedutaan besar Israel dan melakukan penyerbuan di kedutaan
besar Israel tersebut.
Kemarahan warga Mesir tersebut dipicu oleh tewasnya enam polisi Mesir
akibat serangan pasukan Israel pada bulan september saat mengejar para militan di
perbatasan Israel-Mesir. Setelah peristiwa tersebut para demonstran Mesir terus
berdemo di luar gedung kedutaan besar (kedubes) Israel dan menuntut pengusiran duta
besar Israel serta permohonan maaf dari pemerintah Israel atas kematian enam polisi
tersebut. Dalam unjuk rasa tersebut massa merobohkan tembok pengaman kedubes
Israel serta membakar truk serta kendaraan di sekitar kedutaan besar. Polisi anti huru
hara pun dikerahkan untuk meredam kerusuhan tersebut, namun polisi huru hara
dilempari batu sehingga harus melepaskan gas air mata. Selain merobohkan tembok
pengaman warga Mesir juga merusak arsip-arsip serta dokumen-dokumen di dalam
kedutaan besar tersebut. Israel meminta bantuan kepada pemerintahan Amerika Serikat
untuk campur tangan menangani kerusuhan di Mesir. Kemarahan rakyat Mesir terhadap
Israel saat ini sampai pada sebuah tindakan penyerangan kantor kedutaan besar Israel
di Kairo dan pengusiran duta besar Israel dari negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendesak pemerintah Mesir untuk
melindungi kedutaan itu setelah Israel meminta bantuan Washington. Serangan
demonstran ke kedutaan Israel itu dinilai sebagai bentuk ketegangan hubungan antara
Mesir dan Israel. Tuntutan rakyat Mesir hanya satu, yaitu memutus hubungan bilateral
antara dua negara tersebut. Tumbangnya rezim presiden Hosni Mubarok dan tewasnya
enam polisi di perbatasan Mesir-Israel membuat masa depan hubungan kedua negara
yang dulunya dekat sekarang mencapai titik terburuk selama 30 tahun terakhir. Persepsi
dan sentimen negatif sebagian masyarakat Mesir terhadap Israel semakin terlihat jelas.
Tewasnya enam polisi Mesir yang diduga akibat terjangan peluru operasi militer Israel
segera direspons secara keras oleh para pemimpin sipil maupun militer, dan ditanggapi
secara keras oleh rakyat dan pemuda Mesir. Tuntutan untuk memutus hubungan
diplomatik dengan Israel yang mulai menguat pasca revolusi 25 Januari 2011 kini
semakin memperoleh momentum emasnya setelah kerusuhan di depan kompleks
kedutaan Israel di Giza, Kairo. Serangan terhadap kedubes itu adalah yang terburuk
sejak Israel menempatkan misinya setelah Mesir menjadi negara Arab pertama
menandatangani perjanjian perdamaian dengan negara Yahudi itu sejak tahun 1979.

Page | 15
b. Tanggapan Penulis
Mesir dan Israel telah meratifikasi Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan
Diplomatik, Mesir meratifikasinya pada tanggal 19 Juni 1964 sedangkan Israel
meratifikasinya pada tanggal 11 Agustus 1970. Mesir memiliki kewajiban internasional
untuk melindungi para pejabat diplomatik dan konsuler di dalamnya termasuk gedung
perwakilan dalam melaksanakan setiap kegiatan hubungan diplomatik. Penyerangan
yang dilakukan warga Mesir menyebabkan Mesir harus bertanggungjawab atas
kejadian tersebut karena, berdasarkan hukum internasional negara bertanggungjawab
bilamana terjadi suatu perbuatan atau kelalaian yang dapat melahirkan pelanggaran
terhadap suatu kewajiban internasional, baik yang lahir dari suatu perjanjian
internasional maupun dari sumber hukum internasional lainnya. Pelanggaran yang
dilakukan oleh Mesir telah memenuhi unsur-unsur tanggung jawab negara, yaitu:
a. Adanya perbuatan atau kelalaian dari Mesir sehingga terjadi pernyerangan
terhadap kedutaan besar Israel yang menyebabkan adanya pertanggungjawaban.
b. Perbuatan atau kelalaian itu merupakan pelanggaran suatu kewajiban internasional
baik dari perjanjian maupun dari sumber hukum lainnya, yaitu Mesir melanggar
ketentuan Konvensi Wina 1961 mengenai Hubungan Diplomatik dan juga
Perjanjian Perdamaian Israel-Mesir tahun 1979.
Pelanggaran yang dilakukan oleh Mesir terhadap ketentuan Konvensi Wina
1961 adalah pelanggaran terhadap hak-hak dan kekebalan diplomatik karena para
pejabat diplomatik dan misi-misi diplomatik serta gedung perwakilan berada dalam
situasi yang khusus untuk melakukan tugas atau fungsi resmi di negara penerima.

Page | 16