Anda di halaman 1dari 9

1.

1 Latar belakang
Mikroorganisme sebagai makhluk hidup sama dengan organisme hidup lainnya
sangat memerlukan energi dan bahan-bahan untuk membangun tubuhnya, seperti dalam
sintesis protoplasma dan bagian-bagian sel lainnya. Bahan-bahan tersebut disebut
nutrien. Untuk memanfaatkan bahan-bahan tersebut, maka sel melakukan suatu
kegiatan-kegiatan, sehingga menyebabkan perubahan kimia di dalam selnya. Semua
reaksi yang teratah yang berlangsung di dalam sel ini disebut metabolisme. Metabolisme
yang melibatkan berbagai macam reaksi di dalam sel tersebut, hanya dapat berlangsung
atas bantuan dari suatu senyawa organik yang disebut juga biokatalisator yang
dinamakan enzim.
Semua makhluk hidup memerlukan bahan makanan. Bahan makanan ini diperlukan
untuk sintesis bahan sel dan untuk mendapatkan energi. Demikian juga dengan
mikroorganisme, untuk kehidupannya membutuhkan bahan-bahan organik dan
anorganik dari lingkungannya. Bahan-bahan tersebut disebut dengan nutrient (zat gizi),
sedang proses penyerapanya disebut proses nutrisi. Peran utama nutrien adalah sebagai
sumber energi, bahan pembangun sel, dan sebagai aseptor elektron dalam reaksi
bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang
diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron,
sumber mineral, faktor pertumbuhan, dan nitrogen. Selain itu, secara umum nutrient
dalam media pembenihan harus mengandung seluruh elemen yang penting untuk sintesis
biologik oranisme baru. Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi,
memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba,
dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis
untuk menghindari kontaminasi pada media
Suatu medium yang mengandung substansi kompleks seperti ekstrak daging sapi,
ekstrak khamir, tripton, dan darah disebut sebagai medium buatan atau medium
kompleks (artificial or complex medium). Sebagai lawannya, kita acu medium yang
rumus kimia masing-masing ramuannya dapat dituliskan sebagai medium sintesis
(synthtetical medium) atau medium yang ditentukan (difined medium). Medium sintesis
mungkin sangat rumit dan sangat berbeda sesuai dengan organisme tertentu yang hendak
ditumbuhkan. Untuk sebagian besar, medium sintesis hanya digunakan untuk
menumbuhkan mikroorganisme di laboratorium penelitian.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa nutrisi dan perannya yang dibutuhkan mikroorganisme ?
2. Bagaimana cara pengambilan nutrien oleh mikroorganisme ?
3. Bagaimana teknik kultivasi mikrobiologi ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui nutrisi dan perannya yang dibutuhkan mikroorganisme.
2. Mengetahui cara pengambilan nutrien oleh mikroorganisme.
3. Mengetahui teknik kultivasi mikrobiologi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prinsip nutrisi mikroba
Berdasarkan cara-cara pengambilan nutrient maka mikroba dapat dibagi atas jasad
osmotrof dan jasad fagotrof. Jasad osmotrof mengambil nutrien dalam bentuk larutan,
misalnya bakteri dan fungi, sedangkan jasad fagotrof mengambil nutrien secara
fagositosis lalu dicerna di dalam vakuola makanan, misalnya protozoa, jasad osmotrof
mengeluarkan eksoenzim untuk memecah molekul besar misalnya protease untuk
memecah protein menjadi asam amino, amilase untuk memecah pati menjadi gula, lipase
memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam amino, gula, asam
lemak, dan gliserol diserap ke dalam sel untuk digunakan.
2.2 Nutrisi yang diperlukan mikroba
Mikroorganisme dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat dan dapat pula
yang hanya menggunakan bahan-bahan dalam bentuk cairan atau larutan.
Mikroorganisme yang menggunakan makanannya dalam bentuk padat tergolong tipe
holozoik. Mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk cairan
atau larutan disebut holofitik. Ada beberapa mikroorganisme yang dapat menggunakan
makanannya dalam bentuk padatan, tetapi makanan tersebut sebelumnya harus dicerna,
di luar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler.
Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun sel, dan
sebagai aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi).
Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber
karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan, dan nitrogen.
Selain itu, secara umum nutrient dalam media pembenihan harus mengandung seluruh
elemen yang penting untuk sintesis biologik oranisme baru .
Mikroba memerlukan nutrien sebagai sumber materi dan energy untuk menyusun
komponen sel seerti genom, membrane plasma dan dinding sel. Bentuk nutrient yang
diperlukan bermacam-macam, tergantung jenis mikrobanya, misalnya kebutuhan karbon
untuk jasad fotoautotrof dalam bentuk CO2, sedangkan bagi jasad kemoorganotrof
dalam bentuk bahan organik. Dengan mengetahuia keperluan nutrien mikroba para
ilmuwan dapat melakukan penelitian untuk menentukan peranan mikroba di alam dan
kegunaannya dalam kehidupan manusia. Uraian berikut akan membahas mengenai tipe
nutrisi yang dijumpai diantara mikroba.
1. Kegiatan sel seperti biosintesis komponen sel, transport nutrient ke dalam sel dan
motilitas memerlukan energy. Berdasarkan sumber energy, mikroba dibagi atas
jasad fototrof yang menggunakan oksidasi senyawa kimia sebagai sumber energy.
Dan jasad kemotrof yang menggunakan oksidasi senyawa kimia sebagai sumber
energy. Terleas dari sumber energy yang digumakan, mikroba akan mengubah
energy yang diperoleh menjadi senyawa pembawa energy yaitu ATP yang dapat
dipakai untuk kegiatan sel. Ada 2 kelompok bakteri fototrof yaitu sianobakteri dan
bakteri fotosintetik. Kedua kelompok ini mengubah energy cahaya menjadi ATP
melalui proses fotosintesis. Mikroba khemotrof mengoksidasi senyawa kimia
seperti glukosa atau ammonium, kemudian energy yang dilepaskan diubah menjadi
ATP dalam proses fermentasi atau respirasi.
2. Semua jasad hidup memerlukan karbon sebab unsurmkarbon terdapat dalam semua
mikromolekul penyusun sel seperti rotein, karbohidrat, asam nukleat dan lipid.
Berdasarkan sumber karbon, mikroba dapat digolongkan atas jasad heterotrof dan
autotrof. Jasad autotrof bila menggunakan karbondioksida sebagai sumber karbon,
bila jasad tersebut memperoleh energinya dari cahaya disebut fotoautotrof, dan bila
jasad tersebutmemperoleh energinya dengan cara mengoksidasi senyawa kimia
maka disebut kemoautotrof. Jasad heterotrof menggunakan bahan organic sebagai
sumber karbon.
3. Semua jasad hidup memerlukan sulfur (blerang) dan fosfor. Sulfur dipergunakan
untuk membentuk asam amino metionin dan sistein serta koensim. Mikroba
memperoleh sulfur dalam bentuk garam sulfat, H2S, granula sulfur, thiosulfat atau
dalam bentuk bahan organic (sistein dan metionin). Fosfor dipergunakan
membentuk asam nukleat, fosfolipid dan koensim. Mikroba dapat mengambil
fosfor dalam bentuk organic dan anorganik. Garam fosfat adalah yang paling
sering digunakan sebagaisumber fosfat meskiun dapat pula memakai nukleotida.
4. Semua jasad hidup memerlukan nitrogen sebab nitrogen dipergunakan untuk
mensintesis asam amino, nukleotida dan vitamin. Keerluan akan nitrogen dapat
dipenuhi dalam berbagai bentuk seperti protein atau polipeptida, garam nitrat atau
amonium bahkan ada mikroba yang dapat mengambil dalam bentuk N2 seperti
Rhizobium dan Azotobacter.
5. Semua jasad hidup memerlukan beberapa unsure logam, natrium, kalium, kalsium,
magnesium, mangan, besi, seng, tembaga dan kobalt untuk pertumbuhannya yang
normal. Mineral ini diperlukan untuk aktivitas enzim dan molekul yang lain
misalnya Mg sebagai penyusun klorofil, Co untuk aktivitas enzim nitrogenase, dan
Fe merupakan komponen sitokrom.

Unsur Fungsi Fisiologis dan Peranannya


Karbon (C) Sebagai penyusun bahan-bahan organik sel
Oksigen (O) Penyusun air sel, bahan-bahan organik sel, sebagai O2 aseptor
elektron, dalam respirasi aerob
Hidrogen (H) Penyusun air sel, bahan-bahan organik sel
Nitrogen (N) Penyusun protein, asam nukleat, enzim/koenzim
Fosfor (P) Penyusun asam nuklein, fosfolipida, koenzim-koenzim
Sulfur (S) Penyusun protein-protein (asam amino sistein dan metionin),
beberapa koenzim (koenzim A, karboksilase)
Kalium (K) Salah satu dari kation anorganik sel, kofaktor untuk beberapa
enzim
Mangan (Mn) Kofaktor anorganik untuk beberapa enzim, kadang-kadang
sebagai pengganti Mg
Magnesium(Mg) Kation seluler, kofaktor anorganik untuk reaksi enzimatik
Kalsium (Ca) Kation seluler, kofaktor untuk beberapa enzim
Besi (Fe) Penyusun sitokrom dan protein hem atau nonhem, kofaktor
sejumlah enzim
Kobalt (Co) Penyusun vitamin B12 dan derivat koenzimnya
Cu, Zn, Mo Unsur-unsur anorganik penyusun enzim-enzim tertentu

6. Semua jasad hidup memerlukan vitamin (senyawa organik yang penting untuk
pertumbuhan). Kebanyakan vitamin berfungsi membentuk substansi yang
mengaktivasi enzim.meskipun semua bakteri membutuhkan vitamin di dalam
proses metaboliknya yang normal, beberapa mampu mensintesis seluruh keperluan
vitaminnya dari senyawa-senyawa lain di dalam medium. Yang lain tidak akan
tumbuh kecuali bila ditambahkan satu atau lebih vitamin ke dalam mediumnya,
seperti Leuconostoc mesentroides tidak mampu mensintesis beberapa asam amino
dan vitamin sehingga harus ditambahkan dalam keadaan jadi ke dalam
mediumnya.
7. Oksigen merupakan unsure yang terdaat dalam molekul hayati seperti asam amino,
nukleotida, gliserida dan molekul lain. Keperluan akan oksigen dipenuhi
bersamaan dangan masuknya nutrient lain sepertirotein dan lipid. Disamping itu,
oksigen dalam bentuk O2 juga diperlukan untuk menjalankan respirasi aerobic.
8. Semua jasad hidu memerlukan air bagi kehiduan karena semua aktivitas metabolism
terjadi dalam lingkungan air. Ketersediaan air yang dapat digunakan dalam
mikroba sering dinyatakan dengan aktivitas aair (Aw). Aktivitas air suatu bahan
dapat dihitung dengan menentukan kelembaban relatifnya (RH). Untuk bakteri,
semua nutrient harus ada dalam bentuk larutan sebelum dapat memasuki bakteri
tersebut.
2.3 Kondisi fisik yang diperlukan untuk pertumbuhan
Selain menyediakan nutrisi yang sesuai untuk kultivasi bakteri, juga perlu
disediakan kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan optimum. Mikroba tidak
hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukan respon yang berbeda
terhadap kondisi fisik di lingkungannya. Untuk berhasilnya kultivasi mikroba diperlukan
suatu kombinasi nutrisi serta lingkungan fisik yang sesuai. Ada 5 arameter lingkungan
yang utama yang perlu diperhatikan dalam menumbuhkan mikroba yaitu temperature,
kelembaban (RH), kadar oksigen, pH dan osmosis.

a. Temperatur
Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dank arena laju
reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh temperature, maka pola pertumbuhan mikroba sangat
dipengaruhi oleh temperature. Temperature juga mem pengaruhi laju pertumbuhan dan
penambahan jumlah sel. Keragaman suhu dapat juga mengubah proses-proses metabolic
serta morfologi sel. Setiap mikroba tumbuh pada suatu kisaran suhu tertentu. Atas dasar
ini maka mikroba ada yang bersifat psikrofilik yang tumbuh pada 00 dampai 200 C,
mesofilik yang tumbuh pada 200 sampai 450 C dan termofilik yang tumbuh pada
temperature 450 sampai 800 C. Temperature inkubasi yang memungkinkan pertumbuhan
tercepat selama periode waktu yang singkat (12 sampai 24 jam) dikenal sebagai
temperature pertumbuhan optimum.
b. Kondisi atmosfer seperti kadar oksigen, RH dan tekanan udara
Mikroba memperlihatkan keragaman yang luas dalam hal respons terhadap oksigen
bebas dan atas dasar ini maka mikroba dibagi menjadi empat yaitu aerobik (memerlukan
oksigen), anaerobik (tumbuh tanpa oksigen molekuler), anaerobic fakultatif (tumbuh
pada keadaan aerobic dan anaerobik), dan mikroaerofilik (tumbuh bila ada sedikit
oksigen atmosferik). Beberapa mikroba bersifat anaerobik obligat, bila terkena oksigen
akan terbunuh, oleh karena itu untuk menumbuhkan mikroba anaerobic diperlukan
teknik khusus agar tercapai keadaan anaerob. Keperluan penumbuhan jasad anaerob
obligat dapat dipenuhi dengan menggunakan alat yang disebut anaerobic jar.
c. Konsentrasi ion hydrogen (pH)
pH optimum bagi kebanyakan mikroba terletak antara 6.5 sampai 7,5. Bagi
kebanyakan mikroba pH minimum dan maksimum antara 4 sampai 9. Pertumbuhan
mikroba sangat dipengaruhi oleh pH karena nilai pH sangat menentukan aktivitas enzim.
Bila mikoba di kultivasi di dalam suatu medium yang mula-mula pH-nya 7 maka
kemungkinan pH ini akan berubah. Pergeseran pH ini dapat sedemikian besar sehingga
menghambat pertumbuhan. Pergeseran pH dapat dicegah dengan menggunakan larutan
penyangga atau bufer dalam medium. Bufer merupakan senyawa yang dapat menahan
perubahan pH misalnya KH2PO4 dan K2HPO4. Beberapa bahan nutrisi medium seperti
pepton mempunyai kapasitas bufer. Perlu atau tidaknya suatu medium diberi bufer
tergantung kepada maksud penggunaannya dan dibatasi oleh kapasitas bufer yang
dimiliki senyawa-senyawa yang digunakan.
d. Tekanan osmosis
Tekanan osmosis adalah besarnya tekanan minimum yang dierlukan untuk
mencegah aliran air yang menyebrangi membrane di dalam larutan. Contohnya : jika
larutan 10 % sukrosa di dalam kantong membrane dialysis diletakkan dalam air dalam
gelas maka molekul air yang ada dalam gelas akan mengalir ke dalam kantong analisis.
Besarnya tekanan yang diperlukan untuk mencegah aliran molekul air dalam gelas ke
dalam kantong dialisis merupakan nilai tekanan osmosis larutan sukrosa tersebut.
Berdasarkan tekanan osmosanya maka larutan tempat pertumbuhan mikroba dapat
digolongkan atas larutan hipotonis, isotonis dan larutan hipertonois. Mikroba biasanya
hidup di lingkungan yang bersifat agak hipotonis sehingga air akan mengalir dari
lingkungannya ke dalam sel sehingga sel menjadi mengembang kaku. Adanya dinding
sel dapat mencegah pecahnya sel mikroba.
2. 4 Metode Kultivasi Mikroba
Di habitat alaminya, mikroorganisme biasanya tumbuh dalam populasi yang
kompleks dan terdiri dari beberapa spesies. Hal ini menyebabkan penelitian mengenai
mikroorganisme dalam berbagai habitat menjadi sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu,
diperlukan suatu teknik untuk memisahkan populasi yang kompleks ini menjadi spesies
yang berbeda-beda sebagai biakan murni. Biakan murni adalah suatu populasi sel yang
ditumbuhkan dari satu sel induk.
Proses isolasi dan upaya mempertahankan keadaan murni memerlukan teknik
aseptik . Oleh karena itu, sebelum mengkultur suatu mikroba harus dilakukan suatu
proses sterilisasi.
2.5 Teknik Kultivasi Mikroba
Setelah semua bahan dan alat yang akan digunakan dalam proses kultivasi
disterilkan, maka dimulailah proses isolasi untuk mendapatkan biakan murni. Bahan
yang diinokulasikan pada medium disebut inokulum. Di bawah ini ada beberapa teknik
inokulasi yang umum dilakukan di laboratorium mikrobiologi.
a. Teknik Penyebaran (The Spread-Plate Technique)
Teknik penyebaran yang lebih sering disebut dengan Spread-Plate adalah teknik
langsung dan mudah untuk mendapatkan suatu biakan murni. Di bawah ini adalah
gambar saat menginokulasi mikroba dengan menggunakan teknik Spread-
Plate. Campuran dari beberapa spesies bakteri disebarkan di permukaan medium agar,
sehingga setiap sel akan tumbuh menjadi koloni yang terpisah sempurna dan dapat
dilihat secara makroskopis berupa kumpulan mikroba di atas medium padat. Setiap
koloni yang terbentuk merupakan biakan murni. Di bawah ini adalah gambar dari biakan
murni yang diperoleh dengan menggunakan teknik Spread-Plate.
b. Teknik Goresan (The Streak-Plate Technique)
Biakan murni juga dapat diperoleh dengan teknik goresan ( Streak-Plate Technique
). Inokulum digoreskan di atas medium dengan memakai ose menurut pola tertentu,
yaitu:
1. Goresan T
Untuk membuat biakan murni dangan teknik goresan T, ada beberapa langkah yang
harus diikuti, yaitu :
Lempengan dibagi menjadi 3 bagian dengan hutuf T pada bagian luar dasar cawan
petri.
Inokulasi daerah I sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung.
Panaskan ose dan biarkan dingin kembali.
Gores ulang daerah I sebanyak 3-4 kali dan teruskan goresan di daerah II.
Pijarkan kembali ose dan biarkan dingin kembali.
Prosedur diatas diulang untuk daerah III
2. Goresan Kuadran
Teknik ini sama dengan goresan T, hanya lempengan agar dibagi menjadi empat.

3. Goresan Radian
a. Goresan dimulai dari bagian pinggir lempengan.
b. Pijarkan ose dan dinginkan kembali.
c. Putar lempengan agar 90o dan buat goresan terputus dimulai dari bagian
pinggir lempengan.
d. Putar lempengan agar 900 dan buat goresan terputus di atas goresan
sebelumnya.
e. Pijarkan ose.
4. Goresan Sinambung
Ambil satu mata ose suspensi dan goreskan setengah permukaan lempengan agar.
Jangan pijarkan ose, putar lempengan 1800, gunakan sisi mata ose yang sama dan
gores pada sisa permukaan lempengan agar.
Setelah inkubasi, sel-sel mikroba memperbanyak diri dan dalam waktu 18-24 jam
akan terbentuk suatu massa sel yang disebut koloni. Koloni yang terbentuk ini adalah
biakan murni. Di bawah ini adalah hasil kultivasi berupa biakan murni yang diperoleh
dengan teknik goresan.
c. Teknik lempeng tuang (Pour Plate Technique )
Teknik pour-plate (lempeng tuang) adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan
mikroorganisme di dalam media agar dengan cara mencampurkan media agar yang
masih cair dengan stok kultur bakteri. Teknik ini biasa digunakan pada uji TPC (Total
Plate Count). Kelebihan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar
merata pada media agar. Kultivasi mikroba dengan teknik ini dimulai dengan
mengencerkan kultur bakteri yang telah ada dengan aquades. Selanjutnya, diaduk hingga
rata dengan cara memutar tabung reaksi dengan telapak tangan selama beberapa kali.
Larutan dilusi tadi sebanyak + 1 ml dituang ke dalam cawan petri. Cawan petri diputar
secara perlahan-lahan di atas meja horizontal untuk mengaduk campuran media agar
dengan dilusi kultur mikroba. Terakhir, inkubasi kultur ini pada kondisi yang sesuai.
Tahapan di atas diilustrasikan pada gambar 5 di bawah ini.
Biakan murni yang dihasilkan, jika disimpan dalam jangka waktu yang lama akan
mudah sekali mengalami mutasi. Ini berarti, biakan murni yang disimpan terlalu lama
bukan lagi biakan murni yang semula. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus
dilakukan untuk mencegah atau setidaknya mengurangi kemungkinan terjadinya mutasi,
yaitu :
a. Secara periodik, biakan harus dipindahkan ke medium baru, sebaiknya pemindahan
dilakukan pada fase log.
b. Biakan harus disimpan pada suhu rendah dan terhindar dari radiasi.
Mikroba diliofilisasikan, yaitu dimasukkan dalam ampul berisis susu kering
bercampur CO2 kemudian disimpan pada tempat bersuhu rendah.

BAB III

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari hasil makalah yang dibuat yaitu :
1. Berdasarkan cara-cara pengambilan nutrient maka mikroba dapat dibagi atas jasad
osmotrof dan jasad fagotrof.
2. Jasad osmotrof mengambil nutrien dalam bentuk larutan, misalnya bakteri dan
fungi.
3. Jasad fagotrof mengambil nutrien secara fagositosis lalu dicerna di dalam vakuola
makanan, misalnya protozoa, jasad osmotrof mengeluarkan eksoenzim untuk
memecah molekul besar misalnya protease untuk memecah protein menjadi asam
amino, amilase untuk memecah pati menjadi gula, lipase memecah lemak menjadi
asam lemak dan gliserol.
4. Selain menyediakan nutrisi yang sesuai untuk kultivasi bakteri, juga perlu
disediakan kondisi fisik yang memungkinkan pertumbuhan optimum.
5. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukan
respon yang berbeda terhadap kondisi fisik di lingkungannya.
6. Untuk berhasilnya kultivasi mikroba diperlukan suatu kombinasi nutrisi serta
lingkungan fisik yang sesuai.
7. Ada 5 arameter lingkungan yang utama yang perlu diperhatikan dalam
menumbuhkan mikroba yaitu temperature, kelembaban (RH), kadar oksigen, pH dan
osmosis.

3.2 SARAN
Karena keterbatasan informasi dan pengetahuan tentang nutrisi dan kultivasi
mikroorganisme ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman tentang pembuatan
makalah ilmiah, mengakibatkan terdapat sedikit kesulitan dalam pembuatan makalah
ilmiah ini. Tetapi karena keterbatasan itulah saya termotivasi untuk menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Nutrisi Mikroba, Sebuah Esensi Dasar Untuk Kehidupan Mikroba.
http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/31/nutrisi-mikroba-sebuah-esensi-dasar-
untuk-kehidupan-mikroba/. Diakses pada tanggal 19 maret 2015.
Djide, M., dan Sartini. 2006. Mikrobiologi Farmasi Dasar. Universitas Hasanuddin :
Makassar.
Dwyana, Zaraswaty dan Nur Haedar. 2009. Penuntun praktikum Mikrobiologi Pangan.
Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin : Makassar.
Jawetz, dkk. 1995. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika, Surabaya.
Irianto, K. 2006. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 1. CV. Yrama
Widya : Bandung
Diposting oleh Rehanum Muhksin di 08.53
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Posting Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

ilmu biologi

Rehanum Muhksin
Lihat profil lengkapku

18)
ber (2)
mber (3)

MENGOPERASIKAN PERANGKAT LUNAK PENGOLAH K...


ves
OPHYTA, ANAK DIVISI CYCADOPHYTINA, KELAS...
ntuk daun
DAN KULTIVASI MIKROORGANISME
MAKNA LAMBANG UNIVERSITAS TADULAKO FISI D...
PENGEMBANGAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP SEBAGA...
ETOLOGI FENOMENA KOMUNIKASI HEWAN DAN POL...
5)
Laman

Berand
a
Tema Sederhana. Gambar tema oleh gmutlu. Diberdayakan oleh Blogger.