Anda di halaman 1dari 29

1.

Definisi Eliminasi
Eliminasi merupakan produk sisa pencernaan yang teratur merupakan
aspek yang penting untuk fungsi normal tubuh. Perubahan eliminasi
dapat menyebabkan masalah pada sistem gastrointestinal dan sistem
tubuh lainnya. Karena fungsi usus bergantung pada keseimbangan
beberapa factor, pola dan kebiasaan eliminasi bervariasi di antara
individu.
2. Klasifikasi Kebutuhan Eliminasi :
1) Eliminasi Fekal

Eliminasi bowel adalah merupakan proses pembuangan sisa


metabolisme tubuh yang tidak terpakai.
a. Anatomi dan Fisiologi Fekal
1) Saluran gastrointestinal bagian atas
Makanan yang masuk akan dicerna secara mekanik dan kimiawi
dimulut dan dilambuung dengan bantuan enzim, asam lambung.
Selanjutnya maknan yang sudah dalam bentuk chyme didorong ke
usus halus.
2) Saluran gastrointestinal bagian bawah
Saluran gastrointestinal bawah meliputi usus halus dan usus besar.
Usus halus terdiri atas duodenum, jejunum, dan ileum yang
panjangnya kira-kira 6 meter dan diameter 2,5 cm. Usus besar terdiri
atas cecum, colon, dan rectum yang kemudian bermuara pada anus.
Panjang usus besar sekitar 1,5 meter dan diameternya kira-kira 6 cm.
Usus menerima zat makanan yang sudah berbentuk chyme (setengah
padat) dari lambung untuk mengabsorrpsi air, nutrien, dan elektrolit.
Usus sendiri mensekresi mucus, potassium, bikarbonat, dan enzim.
Chyme bergerak arena adanya peristaltik usus dan akan berkumpul
menjadi feses di usus besar. Dari makan sampai mencapai rektum
normalnya diperlukan waktu 12 jam. Gerakan haustral adalah gerakan
untuk mendorong materi cair dan semipadat sepanjang kolon, gerkan
peristaltik adalah berupa gelombang, gerakan maju ke anus. (Tarwoto
Wartonah : 2006 hal 67)
b. Proses defekasi
Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa
metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran
pencernaan melalui anus. Dalam proses defekasi terjadi dua macam
refleks yaitu :
1) Refleks defekasi instrinsik
Refleks ini berawal dari feses yang masuk ke rektum sehingga terjadi
distensi rektum, yang kemudian menyebabkan rangsnagan pada
flektus mesentrikus dan terjadilah gerakan peristaltik. Setelah feses
tiba di anus, secara sistematis spinter interna relaksasi maka terjadilah
defekasi.
2) Refleks defekasi parasimpatis
Feses yang masuk ke rektum akan merangsang saraf rektum yang
kemudian diteruskan ke spinal cord. Dari spinal cord kemudian
dikembalikan ke kolon desenden, sigmoid dan rektum yang
menyebabkan intensifnyaa peristaltik, relaksasi spinter interna, maka
terjadinya defekasi.
Dorongan feses juga dipengaruhi oleh kontraksi otot andomen,
tekanan diafragma, dan kontraksi otot elevator. Defekasi dipermudah
oleh fleksi otopt femur dan posisi jongkok. Gas yang dihasilkan dalam
proses pencernaan normalnya 7-10 liter/24 jam. Jenis gas yang
terbanyak adlah CO2 , metana H2S, O2 dan nitrogen.
Fese terdiri atas 75% air dan 25% materi padat. Feses normalnya
berwarna coklat karena pengaruh sterkobilin, mobilin dan aktivitas
bakteri. Bau khas karena pengaruh dari mikroorganisme.
Konsistensinya lembek namun berbentuk. (Tarwoto Wartonah : 2006
hal 67)
Faktor yang memepengaruhi Eliminasi :
a. Usia
Perubahan dalam tahapan perkembangan yang
mempengaruhistatus eliminasi terjadi di sepanjang Kehidupan.
Seorang bayi memiliki lambung yang kecil akan berkembang
sesuai dengan perumbuhan usia bayi tersebut. Lansiasering
mengalami perubahan pada saluran gastrointestinal seiring
dengan penuaan.
b. Diet
Asupan makanan setiap hari secara teratur membantu
mempertahankan pola peristaltic yang teratur di dalam kolon.
c. Asupan Cairan
Asupan cairan yang tidak adekuat atau gangguan yang
menyebabkan kehilangan cairan (seperti muntah)
mempengaruhi karakter feses. Cairan dapat mengencerkan isi
usus memudahkan bergerak melalui kolon. Asupan cairan yang
menurun memperlambat pergerakan makanan yang melalui
usus. Rang dewasa minum 6-8 gelas sehari (1400 2000 ml).
d. Aktivitas fisik
Aktifitas fisik meningkatkan peristaltic, sementara imobilisasi
menekan motilitas kolon. Ambulasi dini setelah klien
menderita satu penyakit dianjurkan untuk meningkatkan
dipertahankannya eliminasi normal.
e. Faktor Psikologis
Stress emosional dapat mempengaruhi fungsi dari hampir
semua sistem tubuh.
f. Kebiasaan Probadi
Kebiasaan pribadi dapat mempengaruhi fungsi usus.
Kebnyakan individu merasa lebih mudah melakukan defekasi
dikamar mandi merka sendiri.
g. Posisi Selama Defekasi
Posisi jongkok adlah posisi yang normal saat melakukan
defekasi. Untuk klien imobilisas di tempat tidur, defekasi
sering kali dirasakan sulit bagi klien. Dengan membantu klien
ke posisi duduk akan merelaksasikan otot-otot prut dan
mempermudah defekasi.
h. Nyeri
Dalam kondisi tertentu seperti hemoroid , bedah rektum, bedah
abdomen, melahirkan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman
pada defekasi.
i. Kehamilan
Seiring meningkatnya kehamilan dapat menambah tekanan
dalam rektum
j. Pembedahan dan Anastesi
Aneastesi dalam pembedah dapat memberhentikan gerakan
peristaltic untuk sementara waktu.
k. Obat-obatan
Beberapa obat-obatan berefek samping pada eliminasi.
l. Pemeriksaan Diagnostik
Klien yang akan dilakukan prosedur diagnostik biasanya
dipuaskan atau dilakukan klisma dahulu agar tidak dapat buang
air besar kecuali setelah makan.

Masalah defekasi yang umum :

1) Konstipasi
Gangguan eliminasi yang diakibatkan adnaya feses yang
kering dan keras melalui usus besar. Biasanya disebabkan oleh
pola defekasi yang tidak diatur, penggunaan laksatif yang
lama, sters psikologis, obat-obatan, kurang aktivitas, usia.
2) Fecal imfaction
Masa feses yang keras dilipatan rektum yang diakibatkna oleh
retensi dan akumulasi material feses yng berkepanjangan.
Biasanya disebabkan ole konstipasi, intake cairan yang kurang,
kurang aktivitas, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot.
3) Diare
Keluarnya feses cairan dan meningkatkan frekuensi buang air
besar akibat cepatnya chyme melewati usus besar, sehingga
usus besar tidak mempunyai waktu yang cukup untuk
menyerap air. Diare dapat disebabkan karena sters fisik, obat-
obatan, alergi, penyakit kolon, dan iritasi intestinal.
4) Inkontinensia
Hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran
feses dan gas yang melalui spinter anus akibat kerusakan
fungsi spinter atau persyarafan di daerah anus. Penyebabnya
karena penyakit-penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord,
tumor spinter anus eksterna.
5) Kembung
Flatus yang berlebihan di daerah di daerah intestinal sehingga
menyebabkan distensi intestinal, dapat disebabkan karena
konstipasi, penggunaan obat-obatan (barbiturat, penurunnan
ansietas, penurunan aktivitas intestinal), mengkonsumsi makan
yang banyak mengandung gas dapat berefek anestesi.
6) Hemorroid
Pelebaran vena didaerah anus sebagai akibat peningkatan
tekanan didaerah tersebut. Penyebabnya adalah konstipasi
kronis, peregangan maksimal saat defekasi, kehamilan, dan
obesitas.
3. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
1) Biodata pasien
2) Biodata penanggung jawab
3) Keluhan utama
Keluhan utama yang biasanya muncul adalah BAB lebih
dari 3 x, konstipasi, impaksi, diare dan sebagainya.

Konstipasi merupakan gejala, bukan penyakit yaitu


menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran
feses yang sulit, keras, dan mengejang. BAB yang keras
dapat menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena
feses berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak air
diserap.
Penyebabnya :
1. Kebiasaan BAB tidak teratur, seperti sibuk, bermain,
pindah tempat, dan lain-lain
2. Diet tidak sempurna/adekuat : kurang serat (daging,
telur), tidak ada gigi, makanan lemak dan cairan
kurang

3. Meningkatnya stress psikologik. Kurang olahraga /


aktifitas : berbaring lama.

4. Obat-obatan : kodein, morfin, anti kolinergik, zat besi.


Penggunaan obat pencahar/laksatif menyebabkan
tonus otot intestinal kurang sehingga refleks BAB
hilang.

5. Usia, peristaltik menurun dan otot-otot elastisitas perut


menurun sehingga menimbulkan konstipasi.

6. Penyakit-penyakit : Obstruksi usus, paralitik ileus,


kecelakaan pada spinal cord dan tumor.

Impaction merupakan akibat konstipasi yang tidak


teratur, sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak
bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai
pada kolon sigmoid.
Penyebabnya pasien dalam keadaan lemah, bingung,
tidak sadar, konstipasi berulang dan pemeriksaan yang dapat
menimbulkan konstipasi. Tandanya : tidak BAB, anoreksia,
kembung/kram dan nyeri rektum.

4) Riwayat penyakit sekarang


Perlu dikaji warna BAB (kuning, kuning kehijauan,
hijau), bercampur lendir dan darah atau lendir saja.
Tentukan konsistensinya (encer,padat), tentukan
frekuensinya (> 3 kali sehari).
Perlu dikaji waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare
akut), > 7 hari ( diare berkepanjangan), > 14 hari
(diare kronis).

Waktu terjadinya sakit

Kapan mulai terjadi konstipasi/diare dan seberapa


sering atau frekuensinya yang dirasakan,

Proses terjadinya sakit

Perlu dikaji bagaiamana proses dapat terjadinya


konstipasi/diare, dan kapan mulai terjadinya.
Upaya yang telah dilakukan selama sakit

Hasil pemeriksaan sementara / sekarang

5) Riwayat penyakit dahulu.


Perlu dikaji apakah pasien pernah mengalami diare
sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka
panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi
parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
6) Riwayat kesehatan keluarga.
Ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang
mengalami sakit seperti pasien sebelumnya, apakah
sebelumnya pasien pernah mengalami penyakit seperti saat
ini.

7) Riwayat kesehatan lingkungan klien


Perlu dikaji penyimpanan makanan, apakah pada suhu
kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat
tinggal.

b. Pola Fungsi Kesehatan (Gordon)


1. Persepsi Terhadap Kesehatan Manajemen Kesehatan
1) Tingkat pengetahuan kesehatan / penyakit meliputi sebelum
sakit dan selam sakit
2) Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan meliputi sebelum
sakit dan selam sakit
3) Faktor-faktor resiko sehubungan dengan kesehatan

2. Pola Aktivitas Dan Latihan


Menggunakan tabel aktifitas meliputi makan, mandi berpakaian,
eliminasi, mobilisaasi di tempat tidur, berpindah, ambulansi, naik
tangga, serta berikan keterangan skala dari 0 4 yaitu :
0 : Mandiri
1 : Di bantu sebagian
2 : Di bantu orang lain
3 : Di bantu orang dan peralatan
4 : Ketergantungan / tidak mampu

Aktifitas 0 1 2 3 4
Makan
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilisasi ditempat tidur
Berpindah
Ambulansi
Naik tangga

3. Pola Istirahat Tidur


Ditanyakan :
1) Jam berapa biasa mulai tidur dan bangun tidur
2) Sonambolisme
3) Kualitas dan kuantitas jam tidur

4. Pola Nutrisi - Metabolic


Ditanyakan :
1) Berapa kali makan sehari
2) Makanan kesukaan
3) Berat badan sebelum dan sesudah sakit
4) Frekuensi dan kuantitas minum sehari

5. Pola Eliminasi
1) Frekuensi dan kuantitas BAK dan BAB sehari
2) Nyeri
3) Kuantitas

6. Pola Kognitif Perceptual


Adakah gangguan penglihatan, pendengaran (Panca Indra)

7. Pola Konsep Diri


1) Gambaran diri
2) Identitas diri
3) Peran diri
4) Ideal diri
5) Harga diri

8. Pola Koping
Cara pemecahan dan penyelesaian masalah

9. Pola Seksual Reproduksi


Ditanyakan : adakah gangguan pada alat kelaminya.
10. Pola Peran Hubungan
1) Hubungan dengan anggota keluarga
2) Dukungan keluarga
3) Hubungan dengan tetangga dan masyarakat.
11. Pola Nilai Dan Kepercayaan
1) Persepsi keyakinan
2) Tindakan berdasarkan keyakinan

c. Pemeriksaan Fisik
a) Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan
mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar.
b) Keadaan umum :
Klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun. Tekanan darah
mmHg, suhu tubuh C, pernapasan ..x/menit, nadi ..x/menit (regular),
GCS :E=.. M= Vapasia. BB ( sakit ) : tidak diketahui, BB ( Sebelum
Sakit ) ; tidak diketahui, hasil pengukuran LL 25 cm.(BB=2xLL; 50 kg).
c) Kepala :
Ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1
tahun lebih
d) Mata :
Cekung, kering, sangat cekung
e) Sistem pencernaan :
Mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt,
nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus,
minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum
f) Sistem Pernafasan :
Dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi
otot pernafasan)
g) Sistem kardiovaskuler :
Nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
h) Sistem integumen :
Warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral
hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt,
kemerahan pada daerah perianal.
i) Sistem perkemihan :
Urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi
berkurang dari sebelum sakit.
Perlu dikaji :
Pola berkemih : Pada orang-orang untuk berkemih sangat
individual.
Frekuensi : Frekuensi untuk berkemih tergantung kebiasaan dan
kesempatan. Banyak orang-orang berkemih kira-
kira 70 % dari urine setiap hari pada waktu bangun
tidur dan tidak memerlukan waktu untuk berkemih
pada malam hari. Orang-orang biasanya berkemih :
pertama kali pada waktu bangun tidur, sebelum
tidur dan berkisar waktu makan.
Volume : Volume urine yang dikeluarkan sangat bervariasi.
Jika volume dibawah 500 ml atau diatas 300 ml dalam periode 24 jam
pada orang dewasa, maka perlu lapor.

j) Dampak hospitalisasi :
Semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa
perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon
yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.

d. Pemeriksaan Laboraturium

a. Laboratorium :
feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2
meningkat, HCO3 menurun )
Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
b. Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni

e. Terapi
a. obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30 mg
klorpromazine 0,5 1 mg / kg BB/hari
b. onat anti spasmotik : Papaverin, opium, loperamide
c. antibiotik : bila penyebab jelas, ada penyakit penyerta

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan eliminasi alvi: Konstipasi (actual/resiko)

Definisi : Gangguan eliminasi alvi yang diakibatkan adanya feses yang kering
dan keras melalaui usus besar

Kemungkinan berhubungan dengan:

1. Immobilisasi.

2. Menurunnya aktivitas fisik.

3. Ileus.
4. Stress.

5. Kurang privasi.

6. Menurunnya mobilitas intestinal.

7. Perubahan atau pembatasan diet.

Kemungkinan ditandai dengan:

1. Menurunnya bising usus.

2. Mual.

3. Nyeri abdomen.

4. Adanya massa pada abdomen bagian kiri bawah.

5. Perubahan konsistensi feses, frekuensi buang air besar.

Kondisi klinik yang mungkin terjadi:

1. Anemia.

2. Hipotiroidisme.

3. Dialisa ginjal.

4. Pembedahan abdomen.

5. Paralisis.

6. Cedera spinal cord.

7. Immobilisasi yang lama.

Tujuan yang diharapkan:


1. Pasien kembali ke pola normal dari fungsi bowel.

2. Terjadi perubahan pola hidup untuk menurunkan factor penyebab konstipasi.

INTERVENSI RASIONAL
1. Catat dan kaji warna,
konsitensi, jumlah dan waktu
buang air besar

2. Pengkajian dasar untuk


mengetahui adanya masalah
bowel

3. Kaji dan catat pergerakan usus

4. Deteksi dini penyebab konstipasi

5. Jika terjadi fecal impaction:

Lakukan pengeluaran manual 1. Membantu mengeliuarkan feses

Lakukan gliserin klisma 2. Konsultasikan dengan dokter


tentang:
Pemberian laksatif 1. Meningkatkan eliminasi

Enema 2. Berikan cairan adekuat

Pengobatan 3. Membantu feses lebih lunak

4. Berikan makanan tinggi serat dan


hindari makanan yang banyak
mengandung gas dengan
konsultasi bagian gizi
5. Menurunkan konstipasi

6. Bantu klien dalam melakukan


aktivitas pasif dan aktif

7. Meningkatkan pergerakan usus

8. Berikan pendidikan kesehatan


tentang:

Personal hygiene 1. Menguatkan otot dasar pelvis

Kebiasaan diet

Cairan dan makanan yang


1. Mengurangi/menghindari
mengandung gas
inkontinensia
Aktivitas

Kebiasaan buang air besar

2. Gangguan eliminasi: Diare

Definisi: Keluarnya feses cair dan meningkatkan frekuensi buang air


besar akibat cepatnya anyme melewati usus besar, sehingga usus besar
tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menyerap air.

Kemungkinan berhubungan dengan:

1. Inflamasi, iritasi, dan malabsorpsi


2. Pola makan yang salah.

3. Perubahan proses pencernaan.

4. Efek samping pengobatan.

Kemungkinan data yang ditemukan:

1. Feses berbentuk cair.

2. Meningkatnya frekuensi buang air besar.

3. Meningkatnya peristaltik usus.

4. Menurunnya nafsu makan.

Kondisi klinik yang mungkin ditemukan:

1. Peradangan bowel.

2. Pembedahan saluran pencernaan bawah.

3. Gastritis/enteristis.

Tujuan yang diharapkan:

1. Pasien kembali buang air besar ke pola normal.

2. Keadaan feses berbentuk dan lebih keras.

INTERVENSI RASIONAL
1. 1. Monitor/kaji konsistensi,
warna, bau feses, pergerakan
usus, cekberat badan setiap hari

2. Dasar memonitori kondisi

3. 2. Monitor dan cek elektrolit,


intake dan output cairan

4. Mengkaji status dehidrasi

1. 3. Kolaborasi dengan dokter


pemberian cairan IV, oral, dan
makanan lunak

2. Mengurangi kerja usus

3. 4. Berikan antidiare,
tingkatkan intake cairan

4. Mempertahankan status hidrasi

5. 5. Cek kulit bagian perineal


dan jaga dari gangguan integritas

6. Frekuensi buang air besar yang


meningkat menyebabkan iritasi kulit
sekitar anus

7. 6. Kolaborasi dengan ahli diet


tentang diet rendah serat, dan
lunak

8. Menurunkan stimulasi bowel

9. 7. Hindari stress dan lakukan


istirahat cukup

10. Stress meningkatkan stimulus bowel

11. 8. Berikan pendidikan


kesehatan tentang:

Cairan 1. Meningkatkan pengetahuan dan


mencegah diare
Diet

Obat-obatan

Perubahan gaya hidup

3. Gangguan eliminasi alvi: inkontinensia

Definisi: Ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses dan gas dari


anus.

Kemungkinan berhubungan dengan:

1. Menurunnya tingkat kesadaran.

2. Gangguan spinter anus.

3. Gangguan neuromuskuler.

4. Fecal impaction.
Kemungkinan data yang ditemukan:

1. Tidak terkontrolnya pengeluaran feses.

2. Baju yang kotor oleh feses.

Kondisi klinis yang mungkin ada:

1. Injuri spinal cord.

2. Pembedahan usus.

3. Pembedahan ginokologi.

4. Stroke.

5. Trauma pada daerah pelvis.

6. Usia tua.

Tujuan yang diharapkan:

1. Pasien dapat mengontrol pengeluaran feses.

2. Pasien kembali pada pola eliminasi normal.

INTERVENSI RASIONAL
1. 1. Tentukan penyebab
inkontinensia

2. Memberikan data dasar untuk


memberikan asuhan keperawatan

3. 2. Kaji penurunan masalah


ADL yang berhubungan dengan
masalah inkontinensia

4. Pasien terganggu ADL karena takut


buang air besar

5. 3. Kaji jumlah dan


karakteristik inkontinensia

6. Menentukan pola inkontinensia

7. 4. Atur pola makan dan sampai


berapa lama terjadinya buang air
besar

8. Membantu mengontrol buang air


besar

9. 5. lakukan bowel training


dengan kolaborasi fisioterapis

10. Membantu mengontrol buang air


besar

11. 6. Lakukan latihan otot


panggul
12. Menguatkan otot dasar pelvis

13. 7. Berikan pengobatan dengan


kolaborasi dengan dokter

14. Mengontrol frekuensi buang air


besar

2. Eliminasi Urine
Eliminasi Urine
Liminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran
ini sangat tergantung pada fungsi-fungsi organ liminasi urine seperti
ginjal, ureter, bladder, dan uretra.
a. Anatomi dan Fisiologi
1) Ginjal
Ginjal adalah organ yang berbentuk kacang berwarna merah tua,
panjang 12,5 cm dan tebalnya 2, 5 cm. Beratnya kurang lebih 125-
175 gr pada laki-laki dan 115-155 gr pada wanita. Ginjal terletak
pada bagian rongga abdomn bagian atas stinggi vertebra thorakal
11 dan 12. Ginjal dilindungi oleh otot-otot abdomen, jaringan
lemak atau adipose.
Ginjal mnghasilkan hormone eritropoitin yang berfungsi
merangsang produksi ritropoisetil yang merupakan bahan baku sel
darah merah sumsum tulang.
Hormone ini dirangsang oleh adanya kekurangan aliran darah.
Fungsi utama ginjal:
Mengeluarkan sisa nitrogen, toksin, ion dan obat-obatan
Mengatur jumlah dan zat-zat kimia dalam tubuh.
Mempertahankan kesimbangan antara air dan garam-
garam serta asam dan basa.
Menghasilkan renin, enzim untuk membantu pengaturan
tekanan darah.
Mengasilkan hormone eritropoitin yang menstimulasi
pembentukan sel-sel darah merah disumsum tulang.
Membantu dalam pembentukan vitamin D (Tarwoto,
wartonah, 2006).
2) Ureter
Setlah urine terbentuk kemudian akan dialirkan ke pelvis ginjal
lalu ke bladder melalui ureter. Lapisan tengah ureter terdiri atas
otot-otot yang distimulasi oleh transmisi impuls elektrik berasal
dari syaraf otonom. Akibat gerakan peristaltik ureter maka urine
didorong ke kandung kemih (Tarwoto, wartonah, 2006).
Ureter merupakan stuktut trubuler yang mmiliki panjang 25-30 cm
dan berdiameter 1,25 cm pada orang dewasa. Ureter membentang
pada posisi retroperitoneum untuk memasuki kandung kemih
didalam rongga panggul (pelvis) pada sambungan ureterovesikalis.
Urine yang keluar dari ureter ke kandung kemih umumnya steril.
(Fundamental Keperawatan vol. 2 edisi 4, 2005)
3) Kandung kemih
Kandung kemih merupakan tempat penampungan urine. Terdiri
atas 2 bagian yaitu bagian fundus atau body yang merupakan otot
lingkat, tersususn dari otot detrusol dan bagian leher yang
berhubungan langsung dengan uretra. (Tarwoto, wartonah, 2006).
Kandung kemih merupakan suatu organ cekung yang dapat
berdistensi dan tersusun atas jaringan otot serta merupakan tempat
urine dan merupakan organ eksresi. Apabila kandung kemih berada
pada rongga panggul dibelakan simfisis pubis. Pada pria, kandung
kemih terletak pada rektum bagian posterior dan pada wanita
kandung kemih terletak pada dinding anteriour uterus dan vagina.
(Fundamental Keperawatan vol. 2 edisi 4, 2005)
4) Uretra
Merupakan saluran pembuangan urine yang langsung keluar tubuh.
Kontrol pengeluaran urine terjadi karena adanya spinter kedua
yaitu spinter eksternal yang dapat dikontrol oleh kesadaran kita.
(Tarwoto, wartonah, 2006)
Urine keluar tubuh melalui uretra dan keluar dari kandung kemih
melalui meatus uretra. Dalam kondisi normal aliran urine yang
mengalami turbulansi membuat urine bebas dari bakteri. Membran
mukosa melapisi uretra dan kelenjar urtra mensekresi lendir
kedalam saluran uretra. Lendir dianggap bersifat bakteriostatis dan
membentuk plak mukosa untuk mencegah masuknya bekteri.
Lapisan otot polos yang tbak mengelilingi uretra. (Tarwoto,
wartonah, 2006).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine


1) Pertumbuhan dan perkembangan
Usia dan berat badan dapat mempengaruhi jumlah pengeluaran
urine. Pada usia lanjut, volum bladder berkurang, demikian juga
wanita hamil sehingga frekuensi berkemih juga akan lebih sering.
2) Sosiokultural
Budaya masyarakat dimana sebagian masyarakat hanya dapat
miksi pada tempat tertutup dan sebaliknya pada masyarakat yang
dapat miksi pada lokasi terbuka.
3) Psikologis
Pada keadaan cemas dan stress akan meningkatkan stimulasi
berkemih.
4) Kebiasaan Seseorang
Misalnya seseorang hanya bisa berkemih di toilet sehingga ia tidak
dapat berkemih menggunakan pot urin.
5) Tonus otot
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot bladder, otot abdomen,
dan pelvis untuk berkontraksi. Jika ada gangguan tonus otot,
dorongan untuk berkemih juga akan kurang.
6) Intake cairan dan makanan
Alcohol menghambat antideuretik hormon (ADH) untuk
meningkatkan pembuangan urin. Kopi, teh, coklat, cola
(mengandung Cafeine) dapat meningkatkan pembuangan dan
ekskresi urin.
7) Kondisi penyakit
Pada pasien yang demam terjadi penurunan produksi urin karena
banyak cairan yang dikeluarkan melalui kulit. Radangan dan iritasi
organ kemih menimbulkan retensi urin.
8) Pembedahan
Penggunaan anastesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga
produksi urin akan menurun.
9) Pengobatan
Penggunaan duritik meningkatkan output urin, anti kolinergik, dan
anti hipertensi menimbulkan retensi urin.
10) Pemriksaan diagnostik
Intravenus pyelogram dimana pasien dibatasi intak sebelum
prosedur untuk mengurangi output urine. Cystocospy dapat
mnimbulkan edema lokal pada uretra, spasme, dan spinter bladder
sehingga dapat menimbulkan urine.
c. Masalah Eliminasi Urine
1) Retensi Urine
Merupakan penumpukan urine dalam bladder dan
ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih. Penyebab
distensi bladder adalah urine yang terdapat dalam bladder melebihi
400 ml. Normalnya 250-400 ml.
2) Inkontinensia Urine
Ketidakmampuan otot spinter eksternal sementara atau menetap
untuk mengontrol ekskresi urine. Ada 2 jnis inkontinensia :
pertama, stress inkontinensia yaitu stress yang terjadi pada saat
tekanan intra-abdomen meningkat seperti pada saat batuk atau
tertawa
kedua, urge inkontinensia yaitu inkontinensia yang terjadi saat
klien terdesak ingin berkemih, hal ini terjadi akibat infeksi saluran
kemih bagian bawah atau spasme bladder.
3) Enurisis
Merupakan ketidaksanggupan menahan kemih (mengompol) yang
diakibatkan karena ketidakmampuan untuk mengendalikan spinter
eksterna. Biasanya terjadi pada anak-anak atau orang jompo.
d. Perubahan Pola Berkemih
1) Frekuensi : meningkatnya frekuensi berkemih tanpa intake cairan
yang meningkat, biasanya terjadi pada cystitis, stress dan wanita
hamil.
2) Urgency : perasaan ingin segera berkemih dan biasanya terjadi
pada anak-anak karena kemampuan spinter untik mengontrol
berkurang.
3) Dysuria : rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih misalnya pada
infeksi saluran kemih, trauma dan struktur uretra.
4) Polyuria : produksi urine melebihi normal, tanpa peningkatan
intake cairan misalnya pada pasien DM.
5) Urinary supression : keadaan diman ginjal memproduksi urin
secara tiba-tiba. Anuria (urine kurang dari 100 ml/24 jam),
olyguria (urine berkisar 100-500 ml/24 jam).

ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
- Pola berkemih
- Gejala dari perubahan berkemih
- Faktor yang memengaruhi berkemih
b. Pemeriksaan fisik
1. Abdomen
Pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena, distensi
bladder, pembesaran ginjal, nyeri tekan, tenderness,
bising usus.
2. Genetalia wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus,
keadaan atropi jaringan vagina.
3. Genetalia laki-laki
Kebersihan, adanya lesi, terderness, adanya pembesaran
skrotum.
c. Intake dan output cairan
- Kaji intake dan output cairan dalam sehari (24 jam).
- Kebiasaan minum di rumah.
- Intake, cairan infus, oral, makanan, NGT.
- Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui
ketidakseimbangan cairan.
- Output urine dari urinal, cateter bag, drainage
ureterostomy, sistostomi.
- Karakteristik urine : warna, kejernihan, bau,
kepekatan.
d. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan urine (urinalisis):
Warna (N : jernih kekuningan)
Penampilan (N: jernih)
Bau (N: beraroma)
pH (N:4,5-8,0)
Berat jenis (N: 1,005-1,030)
Glukosa (N: negatif)
Keton (N:negatif)
Kultur urine (N: kuman patogen negatif).
2. Diagnosa keperawatan dan intervensi
a. Gangguan pola eliminasi urine: inkontinensia
Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu
mengendalikan pengeluaran urine.
Kemungkinan berhubungan dengan :
1. Gangguan neuromuskuler
2. Spasme bladder
3. Trauma pelvic
4. Infeksi saluran kemih
5. Trauma medulla spinalis

Kemungkinan data yang ditemukan :


1. Inkontinentia
2. Keinginan berkemih yang segera
3. Sering ke toilet
4. Menghidari minum
5. Spasme bladder
6. Setiap berkemih kuramg dari 100 ml atau lebih dari
550 ml.

Tujuan yang diharapkan :


1. Klien dapat mengontrol pengeluaran urine setiap 4 jam.
2. Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urine.
3. Klien berkemih dalam keadaan rileks.

Intervensi Rasional
1. Monitor keadaan bladder
1. Membantu mencegah
setiap 2 jam distensi atau komplikasi
2. Tingkatkan aktivitas
2. Meningkatkan kekuatan
dengan kolaborasi otot ginjal dan fungsi
dokter/fisioterapi bladder
3. Kolaborasi dalam bladder
3. Menguatkan otot dasar
training pelvis
4. Hindari faktor pencetus
4. Mengurangi/menghidari
inkontinensia urine seperti inkontinensia
5. Mengatasi faktor penyebab
cemas
6. Meningkatkan pengetahuan
5. Kolaborasi dengan dokter
dan diharapkan pasien lebih
dalam pengobatan dan
kooperatif.
keteterisasi
6. Jelaskan tentang:
Pengobatan
Kateter
Penyebab
Tindakan lainnya.

b. Retensi urine
Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu
mengosongkan bladder secara tuntas.
Kemungkinan berhubungan dengan :
- Obstruksi mekanis.
- Pembesaran prostat.
- Trauma.
- Pembedahan.
- Kehamilan.
Kemungkinan data yang ditemukan :
- Tidak tuntasnya pengeluaran urine
- Distensi bladder.
- Hipertropi prostat.
- Kanker.
- Infeksi saluran kemih.
- Pembedahan besar abdomen.

Intervensi Rasional
1. Monitor keadaan bladder 1. Menentukan masalah
2. Memonitor keseimbangan
setiap 2 jam
2. Ukur intake dan output cairan
3. Menjaga defisit cairan
cairan setiap 4 jam
4. Mencegah nokturia
3. Berikan cairan 2000 ml/hari
5. Membantu memonitor
dengan kolaborasi
keseimbangan cairan
4. Kurangi minum setelah jam
6. Meningkatkan fungsi ginjal
6 malam
dan bladder
5. Kaji dan monitor analisis
7. Relaksasi pikiran dapat
urine elektrolit dan berat
meningkatkan kemampuaan
badan
berkemih
6. Lakukan latihan pergerakan
8. Menguatkan otot pelvis
7. Lakukan relaksasi ketika
9. Mengeluarkan urine
duduk berkemih
8. Ajarkan tehniklatihan
dengan kolaborasi
dokter/fisioterapi
9. Kolaborasi dalam
pemasangan kateter

Tujuan yang diharapkan :


a. Pasien dapat mengontrol pengeluaran bladder setiap 4
jam.
b. Tanda dan gejala retensi urine tidak ada.