Anda di halaman 1dari 8

Proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase

1. Permohonan Arbitrase

Prosedur arbitrase dimulai dengan pendaftaran dan penyampaian Permohonan Arbitrase oleh pihak
yang memulai proses arbitrase pada Sekretariat BANI. Di dalam permohonan tersebut, pemohon
menjelaskan baik dari sisi formal tentang kedudukan pemohon dikaitkan dengan perjanjian
arbitrase, kewenangan arbitrase (dalam hal ini BANI) untuk memeriksa perkara, hingga prosedur
yang sudah ditempuh sebelum dapat masuk ke dalam penyelesaian melalui forum arbitrase.

Penyelesaian sengk

eta di arbitrase dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan para pihak berperkara. Kesepakatan
tersebut dapat dibuat sebelum timbul sengketa (Pactum De Compromittendo) atau disepakati para
pihak saat akan menyelesaikan sengketa melalui arbitrase (akta van compromis).

Sebelum mendaftarkan permohonan ke BANI, Pemohon terlebih dahulu memberitahukan kepada


Termohon bahwa sehubungan dengan adanya

sengketa antara Pemohon dan Termohon maka Pemohon akan menyelesaikan sengketa melalui
BANI.

Sesuai dengan Pasal 8 ayat (1) dan (2) UU No. 30/1999, pemberitahuan sebagaimana dimaksud di
atas harus memuat dengan jelas:

nama dan alamat para pihak;

penunjukan kepada klausula atau perjanjian arbitrase yang berlaku;

perjanjian atau masalah yang menjadi sengketa;

dasar tuntutan dan jumlah yang dituntut, apabila ada;

cara penyelesaian yang dikehendaki; dan

perjanjian yang diadakan oleh para pihak tentang jumlah arbiter atau apabila tidak pernah diadakan
perjanjian semacam itu, pemohon dapat mengajukan usul tentang jumlah arbiter yang dikehendaki
dalam jumlah ganjil.

Setelah menerim

a Permohonan Arbitrase dan dokumen-dokumen serta biaya pendaftaran yang disyaratkan,


Sekretariat harus mendaftarkan Permohonan itu dalam register BANI. Badan Pengurus BANI juga
akan memeriksa Permohonan tersebut untuk menentukan apakah perjanjian arbitrase atau klausul
arbitrase dalam kontrak telah cukup memberikan dasar kewenangan bagi BANI untuk memeriksa
sengketa tersebut.
2. Penunjukan Arbiter

Pada dasarnya, para pihak dapat menentukan apakah forum arbitrase akan dipimpin oleh arbiter
tunggal atau oleh Majelis.

Dalam hal forum arbitrase dipimpin oleh arbiter tunggal, para pihak wajib untuk mencapai suatu
kesepakatan tentang pengangkatan arbiter tunggal pemohon secara tertulis harus mengusulkan
kepada termohon nama orang yang dapat diangkat sebagai arbiter tunggal. Jika dalam 14 (empat
belas) hari sejak termohon menerima usul pemohon para pihak tidak berhasil menentukan arbiter
tunggal ma

ka dengan berdasarkan permohonan dari salah satu pihak maka Ketua Pengadilan dapat
mengangkat arbiter tunggal.

Dalam hal forum dipimpin oleh Majelis maka Para Pihak akan mengangkat masing-masing 1 (satu)
arbiter. Dalam forum dipimpin oleh Majelis arbiter yang telah diangkat oleh Para Pihak akan
menunjuk 1 (satu) arbiter ketiga (yang kemudian akan menjadi ketua majelis arbitrase). Apabila
dalam waktu 14 (empat) belas hari setelah pengangkatan arbiter terakhir belum juga didapat kata
sepakat maka atas permohonan salah satu pihak maka Ketua Pengadilan Negeri dapat mengangkat
arbiter ketiga.

Apabila setelah 30 (tiga puluh) hari setelah pemberitahuan diterima oleh termohon dan salah satu
pihak ternyata tidak menunjuk seseorang yang akan menjadi anggota majelis arbitrase, arbiter yang
ditunjuk oleh pihak lainnya akan bertindak sebagai arbiter tunggal dan putusannya mengikat kedua
belah pihak.

3. Tanggapan Termohon

Apabila Badan Pengurus BANI menentukan bahwa BANI berwenang memeriksa, maka setelah
pendaftaran Permohonan tersebut, seorang atau lebih Sekretaris Majelis harus ditunjuk untuk
membantu pekerjaan administrasi perkara arbitrase tersebut. Sekretariat harus menyampaikan satu
salinan Permohonan Arbitrase dan dokumen-dokumen lampirannya kepada Termohon, dan
meminta Termohon untuk menyampaikan tanggapan tertulis dalam waktu paling lama 30 (tiga
puluh) hari.

Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah menerima penyampaian Permohonan
Arbitrase, Termohon wajib menyampaikan Jawaban. Dalam Jawaban itu, Termohon dapat
menunjuk seorang Arbiter atau menyerahkan penunjukan itu kepada Ketua BANI. Apabila, dalam
Jawaban tersebut, Termohon tidak menunjuk seorang Arbiter, maka dianggap bahwa penunjukan
mutlak telah diserahkan kepada Ketua BANI.

Ketua BANI berwenang, atas permohonan Termohon, memperpanjang waktu pengajuan Jawaban
dan atau penunjukan arbiter oleh Termohon dengan alasan-alasan yang sah, dengan ketentuan
bahwa perpanjangan waktu tersebut tidak boleh melebihi 14 (empat belas) hari.

4. Tuntutan Balik

Apabila Termohon bermaksud mengajukan suatu tuntutan balik (rekonvensi) atau upaya
penyelesaian sehubungan dengan sengketa atau tuntutan yang bersangkutan sebagai-mana yang
diajukan Pemohon, Termohon dapat mengajukan tuntutan balik (rekonvensi) atau upaya
penyelesaian tersebut bersama dengan Surat Jawaban atau selambat-lambatnya pada sidang
pertama.

Majelis berwenang, atas permintaan Termohon, untuk memperkenankan tuntutan balik


(rekonvensi) atau upaya penyelesaian itu agar diajukan pada suatu tanggal kemudian apabila
Termohon dapat menjamin bahwa penundaan itu beralasan.

Atas tuntutan balik (rekonvensi) atau upaya penyelesaian tersebut dikenakan biaya tersendiri sesuai
dengan cara perhitungan pembebanan biaya adminsitrasi yang dilakukan terhadap tuntutan pokok
(konvensi) yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak berdasarkan Peraturan Prosedur dan daftar
biaya yang berlaku yang ditetapkan oleh BANI dari waktu ke waktu. Apabila biaya administrasi untuk
tuntutan balik atau upaya penyelesaian tersebut telah dibayar para pihak, maka tuntutan balik
(rekonvensi) atau upaya penyelesaian akan diperiksa, dipertimbangkan dan diputus secara bersama-
sama dengan tuntutan pokok.

Kelalaian para pihak atau salah satu dari mereka, untuk membayar biaya administrasi sehubungan
dengan tuntutan balik atau upaya penyelesaian tidak menghalangi ataupun menunda kelanjutan
penyelenggaraan arbitrase sehubungan dengan tuntutan pokok (konvensi) sejauh biaya administrasi
sehubungan dengan tuntutan pokok (konvensi) tersebut telah dibayar, seolah-olah tidak ada
tuntutan balik (rekonvensi) atau upaya penyelesaian tuntutan.

Jawaban Tuntutan Balik

Dalam hal Termohon telah mengajukan suatu tuntutan balik (rekonvensi) atau upaya penyelesaian,
Pemohon (yang dalam hal itu menjadi Termohon), berhak dalam jangka waktu 30 hari atau jangka
waktu lain yang ditetapkan oleh Majelis, untuk mengajukan jawaban atas tuntutan balik (rekonvensi)
atau upaya penyelesaian tersebut.

5. Sidang Pemeriksaan

Dalam sidang pemeriksaan sengketa oleh arbiter atau majelis arbitrase dilakukan secara tertutup.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, kecuali atas persetujuan arbiter atau majelis
arbitrase para pihak dapat memilih bahasa lain yang akan digunakan. Para pihak yang bersengketa
dapat diwakili oleh kuasanya dengan surat kuasa khusus.

Pihak ketiga di luar perjanjian arbitrase dapat turut serta dan menggabungkan diri dalam proses
penyelesaian sengketa melalui arbitrase, apabila terdapat unsur kepentingan yang terkait dan
keturutsertaannya disepakati oleh para pihak yang bersengketa serta disetujui oleh arbiter atau
majelis arbitrase yang memeriksa sengketa yang bersangkutan.

Atas permohonan salah satu pihak, arbiter atau majelis arbitrase dapat mengambil putusan
provisionil atau putusan sela lainnya untuk mengatur ketertiban jalannya pemeriksaan sengketa
termasuk penetapan sita jaminan.

Pemeriksaan sengketa dalam arbitrase harus dilakukan secara tertulis. Pemeriksaan secara lisan
dapat dilakukan apabila disetujui para pihak atau dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase.
Arbiter atau majelis arbitrase dapat mendengar keterangan saksi atau mengadakan pertemuan yang
dianggap perlu pada tempat tertentu diluar tempat arbitrase diadakan.

Pemeriksaan saksi dan saksi ahli dihadapan arbiter atau majelis arbitrase, diselenggarakan menurut
ketentuan dalam hukum acara perdata.

Arbiter atau majelis arbitrase dapat mengadakan pemeriksaan setempat atas barang yang
dipersengketakan atau hal lain yang berhubungan dengan sengketa yang sedang diperiksa, dan
dalam hal dianggap perlu, para pihak akan dipanggil secara sah agar dapat juga hadir dalam
pemeriksaan tersebut.

Pemeriksaan atas sengketa harus diselesaikan dalam waktu paling lama 180 (seratus delapan puluh)
hari sejak arbiter atau majelis arbitrase terbentuk. Arbiter atau majelis arbitrase berwenang untuk
memperpanjang jangka waktu tugasnya apabila :

diajukan permohonan oleh salah satu pihak mengenai hal khusus tertentu;
sebagai akibat ditetapkan putusan provisionil atau putusan sela lainnya; atau

dianggap perlu oleh arbiter atau majelis arbitrase untuk kepentingan pemeriksaan.

Dalam hal para pihak datang menghadap pada hari yang telah ditetapkan, arbiter atau majelis
arbitrase terlebih dahulu mengusahakan perdamaian antara para pihak yang bersengketa. Dalam hal
usaha perdamaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercapai, maka arbiter atau majelis
arbitrase membuat suatu akta perdamaian yang final dan mengikat para pihak dan memerintahkan
para pihak untuk memenuhi ketentuan perdamaian tersebut.

Apabila pada hari yang ditentukan sebagaimana dimaksud termohon tanpa suatu alasan sah tidak
datang menghadap, sedangkan termohon telah dipanggil secara patut, arbiter atau majelis arbitrase
segera melakukan pemanggilan sekali lagi.

Paling lama 10 (sepuluh) hari setelah pemanggilan kedua diterima termohon dan tanpa alasan sah
termohon juga tidak datang menghadap di muka persidangan, pemeriksaan akan diteruskan tanpa
hadirnya termohon dan tuntutan pemohon dikabulkan seluruhnya, kecuali jika tuntutan tidak
beralasan atau tidak berdasarkan hukum.

Majelis wajib menetapkan Putusan akhir dalam waktu paling lama 30 hari terhitung sejak ditutupnya
persidangan, kecuali Majelis mempertimbangkan bahwa jangka waktu tersebut perlu diperpanjang
secukupnya. Selain menetapkan Putusan akhir, Majelis juga berhak menetapkan putusan-putusan
pendahuluan, sela atau Putusan-putusan parsial.

6. Biaya-biaya

Permohonan Arbitrase harus disertai pembayaran biaya pendaftaran dan biaya administrasi sesuai
dengan ketentuan BANI. Biaya administrasi meliputi biaya administrasi Sekretariat, biaya
pemeriksaan perkara dan biaya arbiter serta biaya Sekretaris Majelis.

Mengenai biaya ini didasarkan juga pada besarnya nilai tuntutan yang dicantumkan dalam
permohonan arbitrase, baik materiil juga imateriil. Oleh karena itu, pemohon arbitrase hendaknya
lebih bijak dalam menetapkan nilai tuntutannya. Satu dan lain hal, karena pendaftaran biaya
arbitrase dihitung berdasarkan prosentase nilai tuntutan dan majelis arbitrer hanya akan
mengabulkan nilai tuntutan yang dapat dibuktikan oleh pemohon. Silahkan merujuk pada tabel
biaya di BANI.

Apabila terdapat pihak ketiga di luar perjanjian arbitrase turut serta dan menggabungkan diri dalam
proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase seperti yang dimaksud oleh pasal 30 Undang-undang
No. 30/1999, maka pihak ketiga tersebut wajib untuk membayar biaya administrasi dan biaya-biaya
lainnya sehubungan dengan keikutsertaannya tersebut.

Dalam hal Termohon tidak memberikan tanggapan atau diam saja, maka Pemohon arbitrase
berkewajiban untuk membayar beban biaya perkara Termohon. Pemeriksaan perkara arbitrase tidak
akan dimulai sebelum biaya administrasi dilunasi oleh kedua belah pihak.

Kelebihan arbitrase

Di samping berbagai kelebihan dari penyelesaian sengketa di arbitrase, yang menurut saya menjadi
keunggulan adalah arbitrer pemeriksa perkara adalah ahli yang memiliki kompetensi dalam bidang
usaha yang dipersengketakan. Dengan demikian, sang arbiter telah memiliki dasar pemahaman yang
lebih dari cukup tentang bisnis/industri itu sendiri.
Bahkan sepanjang pengalaman saya, belum pernah ditemukan adanya kolusi dengan arbiter ataupun
pungli yang dilakukan petugas di sekretariat BANI. Hal ini tentunya menjadi keunggulan lain yang
membuat kita lebih nyaman untuk menyelesaiakan sengketa di arbitrase, dibanding pengadilan
dengan segala intrik mafia peradilannya.

syarat sebagai Arbiterdalam ICC dan BANIS

2.1 Syarat-syarat Arbiter dalam ICC ((International Chamber of Commerce)

IIC berlaku secara internasional hal ini dianut dalam pasal 1 ketentuan Pengadilan. Arbitrase
Internasional yang menyatakan Mahkamah Internasional Arbitrase (Pengadilan) dari International
Chamber of Commerce (the ICC) adalah badan arbitrase melekat pada ICC. Statuta Pengadilan
ditetapkan dalam Lampiran I.
Anggota Pengadilan ditunjuk oleh World Council of ICC. Fungsi Mahkamah adalah untuk
menyediakan untuk penyelesaian melalui arbitrase sengketa bisnis internasional karakter sesuai
dengan Peraturan Arbitrase International Chamber of Commerce (Peraturan). Jika demikian
diberdayakan oleh perjanjian arbitrase, Pengadilan juga harus memberikan penyelesaian melalui
arbitrase sesuai dengan Aturan ini sengketa bisnis bukan karakter internasional.

Pemilihan penasehat arbiter wajib memenuhi kapasitas utama yakni adanya pengalaman arbiter, hal
ini dimaknai sebagai Pertimbangkan menunjuk berkonsultasi dengan keterampilan yang diperlukan
untuk menangani arbitrase di tangan. Nasehat tersebut lebih mungkin untuk dapat bekerja dengan
pengadilan arbitrase dan yang lainnyanasihat pihak untuk menyusun prosedur yang efisien untuk
kasus tersebut.

Sedangkan untk waktu yang dipilih digunakan untuk memastikan bahwa nasihat Anda pilih memiliki
cukup waktu untuk berbakti kepada kasus ini.Pemilihan arbiter. Disamping Penggunaan arbiter
tunggal dengan tujuan Setelah perselisihan telah timbul, pertimbangkan menyepakati memiliki arbiter
tunggal, ketikasesuai. Secara umum, sebuah pengadilan satu orang akan dapat bertindak lebih cepat
daripengadilan tiga orang, karena diskusi antara anggota pengadilan tidak diperlukan dan buku
harianbentrokan untuk pemeriksaan akan diminimalkan. Sebuah pengadilan satu orang jelas akan
juga lebih murah.

Arbiter dengan waktu dipilih dengan alasan Apakah memilih arbiter tunggal atau pengadilan tiga
orang, maka disarankan untuk membuat pertanyaan yang cukup untuk memastikan bahwa individu-
individu yang dipilih memiliki cukup waktu untuk mencurahkan ke kasus yang bersangkutan. Jika ada
kebutuhan khusus untuk kecepatan, hal ini harus dibuat jelas kepada ICC sehingga yang dapat
dipertimbangkan ketika membuat janji apapun.

Seleksi dan pengangkatan oleh ICC dengan cara; Pertimbangkan memungkinkan ICC untuk memilih
dan menunjuk pengadilan arbitrase, apakah itu menjadi satu-satunyaarbiter atau pengadilan tiga
orang. Ini umumnya akan menjadi cara tercepat untuk merupakanpengadilan arbitrase, jika tidak ada
kesepakatan antara para pihak tentang identitas semuaarbiter. Ini juga akan mengurangi risiko
tantangan, memfasilitasi konstitusi pengadilandengan berbagai ketrampilan khusus dan menciptakan
dinamis yang berbeda dalam sidang arbitrase. Jikapihak-pihak yang ingin memiliki masukan ke dalam
pemilihan pengadilan oleh ICC pada tahap ini, mereka dapatmeminta ICC mengungkapkan nama-
nama arbiter mungkin bagi seleksi oleh ICC sesuaidengan prosedur yang disepakati oleh para pihak
dalam konsultasi dengan ICC.

Cara untuk menghindari keberatan dilakukan dengan berbagai alasan. Keberatan terhadap
penunjukan seorang arbiter, maupun tidak dibenarkan, akan menunda konstitusi sidang arbitrase.
Ketika memilih seorang arbiter, memikirkan hati-hati untuk apakah penunjukan arbiter yang mungkin
menimbulkan keberatan.
Memilih arbiter dengan keterampilan kasus-manajemen yang kuat merupakan Sebuah pengadilan
yang proaktif dan terampil dalam manajemen kasus akan dapat membantu dalam mengelola
arbitrase sehingga untuk menjadikannya sebagai biaya dan waktu-efektif mungkin, mengingat isu-isu
sengketa dan sifat para pihak. Ini mungkin nilai khusus di mana para pihak yang inginmenggunakan
prosedur jalur cepat. Hati-hati karena itu pertimbangan harus diberikan untuk memilih anggota
pengadilan, terutama arbiter tunggal atau ketua.

Permintaan Arbitrase dan Jawaban Mematuhi Peraturan ICC dimanaPemohon harus memastikan
bahwa itu mencakup semua elemen yang dibutuhkan oleh Pasal 4 Peraturan ICC dalam Permintaan
untuk Arbitrase. Kegagalan untuk melakukannya dapat mengakibatkan Sekretariat membutuhkan
untuk kembali ke Pemohon sebelum Permintaan dapat diteruskan ke Termohon dalam sesuai
dengan Pasal 4 (5). Hal ini menyebabkan keterlambatan. Demikian pula, saat mengajukan nya
Jawab, yang Responden harus meliputi semua elemen yang dibutuhkan dalam Pasal 5 dari
Peraturan.

Peraturan ICC tidak memerlukan permohonan Arbitrase atau Jawaban untuk ditetapkan khusus
penuh baik klaim atau pertahanan (atau, jika berlaku, balasan a). Apakah atau tidak keterangan rinci
klaim diberikan dalam Permohonan Arbitrase dapat memiliki dampak pada manajemen efisien
arbitrase. Dimana Permintaan memang mengandung rinci khusus dari klaim, dan pendekatan yang
sama diambil oleh Termohon di Jawab, para pihak dan sidang arbitrase akan berada dalam posisi
untuk memegang kasus manajemen konferensi untuk menetapkan prosedur untuk arbitrasi pada
tahap sangat awal dalamproses (lihat paragraf 31-34 di bawah).

3.1 Syarat-Syarat sebagai Arbiter dalam BANI

Pengaturan kesepakatan arbitrase diatur dalam Pasal 1 Peraturan BANI yang menyatakan Apabila
para pihak dalam suatu perjanjian atau transaksi bisnis secara tertulis sepakat membawa sengketa
yang timbul diantara mereka sehubungan dengan perjanjian atau transaksi bisnis yang bersangkutan
ke arbitrase di hadapan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), atau menggunakan Peraturan
Prosedur BANI, maka sengketa tersebut diselesaikan dibawah penyelenggaraan BANI berdasarkan
Peraturan tersebut, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan khusus yang disepakati secara
tertulis oleh para pihak, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan undang-undang yang
bersifat memaksa dan kebijaksanaan BANI. Penyelesaian sengketa secara damai melalui Arbitrase di
BANI dilandasi itikad baik para pihak dengan berlandasan tata cara kooperatif dan non-konfrontatif.

Dalam Pasal 4 peraturan BANI, prosedur pengajuan, dan pelaksaan arbitrase dilakukan dengan
beberapa tahapan yaitu;

1. Pengajuan komunikasi tertulis dan jumlah salinan.

Semua pengajuan komunikasi tertulis yang akan disampaikan setiap pihak, bersamaan dengan
setiap dan seluruh dokumen lampirannya, harus diserahkan kepada Sekretariat BANI untuk
didaftarkan dengan jumlah salinan yang cukup untuk memungkinkan BANI memberikan satu salinan
kepada masing-masing pihak, arbiter yang bersangkutan dan untuk disimpan di Sekretariat BANI.
Untuk maksud tersebut, para pihak dan/atau kuasa hukumnya harus menjamin bahwa BANI pada
setiap waktu memiliki alamat terakhir dan nomor telepon, faksimili, e-mail yang bersangkutan untuk
komunikasi yang diperlukan. Setiap komunikasi yang dikirim langsung oleh Majelis kepada para pihak
haruslah disertai salinannya kepada Sekretariat dan setiap komunikasi yang dikirim para pihak
kepada Majelis harus disertai salinannya kepada pihak lainnya dan Sekretariat.

2. Komunikasi dengan Majelis.

Apabila Majelis Arbitrase telah dibentuk, setiap pihak tidak boleh melakukan komunikasi dengan satu
atau lebih arbiter dengan cara bagaimanapun sehubungan dengan permohonan arbitrase yang
bersangkutan kecuali: (i) dihadiri juga oleh atau disertai pihak lainnya dalam hal berlangsung
komunikasi lisan; (ii) disertai suatu salinan yang secara bersamaan dikirimkan ke para pihak atau
pihak-pihak lainnya dan kepada Sekretariat (dalam hal komunikasi tertulis).

3. Pemberitahuan.
Setiap pemberitahuan yang perlu disampaikan berdasarkan Peraturan Prosedur ini, kecuali Majelis
menginstruksikan lain, harus disampaikan langsung, melalui kurir, faksimili atau e-mail dan dianggap
berlaku pada tanggal diterima atau apabila tanggal penerimaan tidak dapat ditentukan, pada hari
setelah penyampaian dimaksud.

4. Perhitungan Waktu.

Jangka waktu yang ditentukan berdasarkan Peraturan Prosedur ini atau perjanjian arbitrase yang
bersangkutan, dimulai pada hari setelah tanggal dimana pemberitahuan atau komunikasi dianggap
berlaku, sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Prosedur Pasal 4 ayat (3) di atas. Apabila tanggal
berakhirnya suatu pemberitahuan atas batas waktu jatuh pada hari Minggu atau hari libur nasional di
Indonesia, maka batas waktu tersebut berakhir pada hari kerja berikutnya setelah hari Minggu atau
hari libur tersebut.

5. Hari-hari Kalender.

Penunjukan pada angka-angka dari hari-hari dalam Peraturan Prosedur ini menunjuk kepada hari-
hari dalam kalender.

6. Penyelesaian cepat.

Dengan mengajukan penyelesaian sengketa kepada BANI sesuai Peraturan Prosedur ini maka
semua pihak sepakat bahwa sengketa tersebut harus diselesaikan dengan itikad baik secepat
mungkin dan bahwa tidak akan ditunda atau adanya langkah-langkah lain yang dapat menghambat
proses arbitrase yang lancar dan adil.

7. Batas Waktu Pemeriksaan Perkara.

Kecuali secara tegas disepakati para pihak, pemeriksaan perkara akan diselesaikan dalam waktu
paling lama 180 (seratus delapan puluh) hari sejak tanggal Majelis selengkapnya terbentuk. Dalam
keadaan-keadaan khusus dimana sengketa bersifat sangat kompleks, Majelis berhak
memperpanjang batas waktu melalui pemberitahuan kepada para pihak.

Untuk hal penunjukan Arbiter dalam BANI dilakukan oleh Ketua BANI yang diatur dalam Pasal 9
tentang penunjukan arbiter. Dalam Pasal 9 dinyatakan bahwa;

1. Majelis Arbitrase

Kecuali dalam keadaan-keadaan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) di bawah ini,
hanya mereka yang diakui termasuk dalam daftar arbiter yang disediakan oleh BANI dan/atau
memiliki sertifikat ADR/Arbitrase yang diakui oleh BANI dapat bertindak selaku arbiter berdasarkan
Peraturan Prosedur ini yang dapat dipilih oleh para pihak.

Daftar arbiter BANI tersebut terdiri dari para arbiter yang memenuhi syarat yang tinggal di Indonesia
dan diberbagai yurisdiksi di seluruh dunia, baik pakar hukum maupun praktisi dan pakar non hukum
seperti para ahli teknik, para arsitek dan orang-orang lain yang memenuhi syarat. Daftar arbiter
tersebut dari waktu ke waktu dapat ditinjau kembali, ditambah atau diubah oleh Badan Pengurus.

2. Arbiter Luar

Dalam hal para pihak, memerlukan arbiter yang memiliki suatu keahlian khusus yangdiperlukan
dalam memeriksa suatu perkara arbitrase yang diajukan ke BANI, permohonan dapat diajukan
kepada Ketua BANI guna menunjuk seorang arbiter yang tidak terdaftar dalam daftar arbiter BANI
dengan ketentuan bahwa arbiter yang bersangkutan memenuhi persyaratan yang tercantum dalam
ayat 1 diatas dan ayat 3 dibawah ini. Setiap permohonan harus dengan jelas menyatakan alasan
diperlukannya arbiter luar dengan disertai data riwayat hidup lengkap dari arbiter yang diusulkan.
Apabila Ketua BANI menganggap bahwa tidak ada arbiter dalam daftar arbiter BANI dengan
kualifikasi profesional yang dibutuhkan itu sedangkan arbiter yang dimohonkan memiliki kualifikasi
dimaksud memenuhi syarat, netral dan tepat, maka Ketua BANI dapat, berdasarkan per-
timbangannya sendiri menyetujui penunjukan arbiter tersebut.
Apabila Ketua BANI tidak menyetujui penunjukan arbiter luar tersebut, Ketua harus
merekomendasikan, atau menunjuk, dengan pilihannya sendiri, arbiter alternatif yang dipilih dari
daftar arbiter BANI atau seorang pakar yang memenuhi syarat dalam bidang yang diperlukan namun
tidak terdaftar di dalam daftar arbiter BANI. Dewan Pengurus dapat mempertimbangkan penunjukan
seorang arbiter asing yang diakui dengan ketentuan bahwa arbiter asing itu memenuhi persyaratan
kualifikasi dan bersedia mematuhi Peraturan Prosedur BANI, termasuk ketentuan mengenai
biaya arbiter, dimana pihak yang menunjuk berkewajiban memikul biaya-biaya yang berhubungan
dengan penunjukan arbiter asing tersebut.

3. Kriteria-kriteria

Disamping memiliki sertifikat ADR/Arbitrase yang diakui oleh BANI seperti dimaksud dalam ayat 1
diatas, dan/atau persyaratan kualifikasi lainnya yang diakui oleh BANI semua arbiter harus memiliki
persyaratan sebagai berikut:

a. berwenang atau cakap melakukan tindakan-tindakan hukum;

b. sekurang-kurangnya berusia 35 tahun;

c. tidak memiliki hubungan keluarga berdasarkan keturunan atau perkawinan sampai dengan
keturunan ketiga, dengan setiap dari para pihak bersengketa;

d. tidak memiliki kepentingan keuangan atau apa pun terhadap hasil penyelesaian arbitrase;

e. berpengalaman sekurang-kurangnya 15 tahun dan menguasai secara aktif bidang yang dihadapi;

f. tidak sedang menjalani atau bertindak sebagai hakim, jaksa, panitera pengadilan, atau pejabat
pemerintah lainnya.

4. Pernyataan Tidak Berpihak.

Arbiter yang ditunjuk untuk memeriksa sesuatu perkara sesuai ketentuan Peraturan Prosedur BANI
wajib menandatangani Pernyataan Tidak Berpihak yang disediakan oleh Sekretariat BANI.

5. Hukum Indonesia.

Apabila menurut perjanjian arbitrase penunjukan arbiter diatur menurut hukum Indonesia, sekurang-
kurangnya seorang arbiter, sebaiknya namun tidak diwajibkan, adalah seorang sarjana atau praktisi
hukum yang mengetahui dengan baik hukum Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia.

Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri, final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai
kekeuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan
atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Kewenangan memeriksa yang dimiliki
Ketua Pengadilan Negeri, terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase
nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase.

4.1 Kesimpulan

Mahkamah Internasional Arbitrase (Pengadilan) dari International Chamber of Commerce (the


ICC) adalah badan arbitrase melekat pada ICC. Statuta Pengadilan ditetapkan dalam Lampiran I,
Anggota Pengadilan ditunjuk oleh World Council of ICC.

Sedangkan di dalam Bani, para pihak dalam suatu perjanjian atau transaksi bisnis secara tertulis
sepakat membawa sengketa yang timbul diantara mereka sehubungan dengan perjanjian atau
transaksi bisnis yang bersangkutan ke arbitrase di hadapan Badan Arbitrase Nasional Indonesia
(BANI), atau menggunakan Peraturan Prosedur BANI, maka sengketa tersebut diselesaikan
dibawah penyelenggaraan BANI berdasarkan Peraturan tersebut, dengan memperhatikan ketentuan-
ketentuan khusus yang disepakati secara tertulis oleh para pihak, sepanjang tidak bertentangan
dengan ketentuan undang-undang yang bersifat memaksa dan kebijaksanaan BANI.