Anda di halaman 1dari 14

Asersi dalam Laporan Keuangan dan Materialitas

Tugas Mata Kuliah

Auditing 1

Oleh:

Gigih Devanta Widhyarsa

150810301132

Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Jember

Tahun 2017
PENJELASAN

Pent ingnya asersi dalam laporan keuangan dan mater ialit as


dibahas adalah unt uk memahami dan mendalam i isi konsep dari topik
tersebut. Asersi merupakan per nyataan dalam laporan keuangan oleh
manajemen sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia. Sedangkan materialitas memiliki konsep audit ing yang sangat
penting yang dapat mengukur berapa besar dan pent ingnya suatu salah
saji dalam laporan keua ngan. Kedua pembahasan dar i topik tersebut
akan dibahas dalam resume kali ini.
Dalam hal ini kita dapat mempelajar i lebih dalam bagaimana
penggunaan asersi manajemen dalam auditing dan apa saja konsep -
konsep materalitas dari lapor an keuangan suatu ent itas .

PEMB AH AS AN

A. Asersi dalam Laporan Keuangan

I. Pengertian
Asersi (assertion) adalah per nyataan manajemen yang terkandung
di dalam komponen laporan keuangan. Asersi ( assert ion) adalah suat u
deklarasi, atau suatu rangkaian deklarasi secara keselur uhan, oleh
pihak yang bertanggung jawab atas deklarasi tersebut. Jadi, asersi
adalah pernyataan yang dibuat oleh sat u pihak yang secara implisit
dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain (pihak ketiga). Untuk
laporan keuangan historis, asersi merupakan pernyataan dalam laporan
keuangan oleh manajemen sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.

II. Cakupan dan IS A Acuan


Acuan utama aser si dalam laporan keuangan ialah ISA 315
Identifying and Assessing the Risk of M ater ial Misstatement through
Under standing the Entity and It s Environment ( Mengident if ikasi dan
Menilai Risiko Salah Saji Material Melalui P emahaman terhadap Entitas
dan Lingkungannya).
ISA 315 Mendef inisikan Asersi Sebagai berikut :
Asersi Represent asi oleh manajemen, secara eksplisit (dalam bentuk
pernyataan) maupun implisit (tersirat) yang terkandung dalam laporan
keuangan. Representasi ini digunakan oleh audit or untuk
memperhatikan ber bagai salah saj i dalam laporan keuangan yang
mungkin terjadi. [ISA 315 alinea 4 (a)]

Dengan menyerahkan laporan keuangannya kepada auditor atau pihak


lain, menajemen membuat representasi secara tersurat maupun tersirat.
Representasi oleh manajemen kepada auditor, yang paling umum
dikenal adalah laporan keuangan secar a menyeluruh disajikan secara
wajar sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

Representasi umum tersebut sesungguhnya mengandung beberapa


asersi pada gambar di bawah ini:
Correctly stated amount for transaction/balance

Gambar tersebut menunjukan asersi - asersi laporan keuangan dan


dampak keuangannya jika asersi ter sebut salah. Jika manajemen
memberikan asersi yang benar, maka dampak kesalahan keuangannya
tidak ada. Hal ini digambarkan dalam bidang ber war na hijau, correctly
stated amount ang ka-angka disajikan dengan benar, khusus untuk
transaksi dan saldo (karena pengungkapan atau disclosure bersif at
kualitat if ).

Jika manajemen memberikan asersi yang salah, maka dampak


kesalahan keuangannya bisa berupa angka -angka yang d inyatakan
terlalu rendah ( understated), digambarkan di sebelah kiri bidang
ber war na hijau. Atau terlalu t inggi (over stated), digambarkan disebelah
kanan bidang ber war na hijau.
Kesalahan manajemen dalam asersi laporan keuangan mempunyai
dampak kuantitatif d an kualit atif . Audit or harus memberikan perhatian
terhadap asersi laporan keuangan.
Asersi asersi ini berhubungan dengan pengakuan (recognition),
pengukuran (measurement), penyajian (presentat ion), dan
pengungkapan (disclosure) dari ber bagai unsur dalam laporan
keuangan.

Contoh-contoh Asersi :
1. Semua aset dalam laporan keuangan benar benar ada ( exist );
2. Semua transaksi penjualan telah dicatat dalam periode terjadinya;
3. Persediaan dicantum kan dengan nilai yang tepat;
4. Utang merupakan kewajiban entitas;
5. Semua transaksi yang dicatat, terjadi dalam periode berjalan;
6. Semua jumlah (amounts) disaj ikan dengan tepat ( proper ly presented )
dan diungkapkan (dengan penjelasan yang memadai) dalam laporan
keuangan.

Asersi - asersi ini disingkat dengan satu kata bahasa inggris seperti :

Completeness (sesuatu itu lengkap)


Existence (eksistensi, atau sesuatu itu ada)
Occurrence (sesuatu itu terjadi)
Accuracy (sesuatu it u akurat, atau secar a matematis benar)
Valuation (sesuatu itu dinilai sesuai dengan kaidah kerangka
pelaporan keuangan yang berlaku).

Sebagai contoh, manajemen membuat asersi kepada auditor bahwa


saldo akun penjualan dalam pembukuan telah mencakup seluruh
transaksi penjualan ( completeness assertion ), dan bahwa transaksi
penjualan telah dibukukan sebagaimana mestinya dan dalam periode
yang benar ( accuracy and cut -off assertion).

III. Penjelasan mengenai Asersi

ISA 315 alinea A111 menjelaskan kelompok asersi yang dapat


digunakan auditor untuk mempertimbangkan berbagai salah saji dalam
laporan keuangan. Kelompok asersi untuk jenis -jenis transaksi dan
perist iwa untuk periode yang diaudit. Lihat tabel berikut:

Aserdi untuk Jenis Transaksi


ASERSI PENJELASAN
Occurence Transaksi dan per ist iwa yang sudah dicatat, memang
terjadi dan mer upakan transaksi dan perist iwa da ri
entitas yang bersang kutan.
Completeness Semua transaksi dan per ist iwa yang seharusnya
dicatat, memang sudah dicatat.
Accuracy Angka-angka, jumlah -jumlah , dan data lain yang
terkait dengan transaksi dan per istiwa yang dicatat,
sudah dicatat dengan akurat.
Cut-off Transaksi dan peristiwa dicatat dalam per iode
akuntansi yang benar.
Classification Transaksi dan peristiwa dicat at dalam akun yang
benar.
Kelompok asersi untuk saldo akun ( account balance ) pada akhir periode
yang diaudit, Lihat tabel ber ikut:

Asersi untuk Saldo Akun


ASERSI PENJELASAN
Existence Aset, Liabilitas, dan ekuitas benar ada.
Rights and Obligat ions Entitas memiliki dan menguasai aset, dan
utang merupakan kewajiban entitas.
Completeness Semua aset, liabilitas, dan ekuitas yang
seharusnya dicatat, sudah dicatat.
Valuat ion and Allocation Aset, liabilitas, dan ekuitas dicant umkan pada
laporan keuangan dalam jumlah yang benar,
dan semua penyesuaian atau adjustment
untuk penilaian dan alokasi telah dicatat
dengan benar.

Kelompok asersi yang berhubungan dengan penyaj ian (presentations)


dan pengungkapan (disclosures) dalam laporan keuangan, dijelaskan
dalam tabel ber ikut:

Asersi tentang Penyajian dan Pengungkapan


ASERSI PENJELASAN
Occurence, Rights and Obligat ions Transak si, perist iwa, dan hal -hal
lain yang sudah diungkapkan
dalam laporan keuangan, memang
terjadi dan berkaitan dengan
entitas yang bersang kutan.
Completeness Semua pengungkapan yang
seharusnya dicantumkan, memang
sudah dicantumkan di dalam
laporan keuangan.
Classification and Inf ormasi keuangan disajikan dan
Under standability dijelaskan dengan tepat, dan
pengungkapan dinyatakan dengan
jelas.
ASERSI PENJELASAN
Accuracy and Valuat ion Inf ormasi keuangan dan inf ormasi
lainnya diungkapkan dengan wajar
dan dalam jumlah yang benar.

Pener apan asersi pada seluruh area laporan keuangan/rengkuman dari


asersi tabel sebelumnya, dir ingkas pada t abel ber ikut :

Asersi-Jenis Transak si, Saldo Akun, Penyajian dan Pengungkapan

IV. Asersi Gabungan

ISA 315 membolehk an auditor menggunakan asersi seperti dijelaskan


diatas, atau dengan cara yang berbeda, sepanjang semua aspek
yang dibahas diats telah tercakup. Untuk memudahkan penggunaan
asersi dalam ent itas kecil, aser si -asersi ini dapat digabungkan.
Penggabungan ini dapat dilih at dalam tabel berikut, dalam
pembahasan ini asersi gabungan disingkat sebagai berikut: C-
Completeness; E - Existence; A-Accuracy and cut -off ; dan V-Valuation.
Penggabungan asersi dalam empat kombinasi, memudahkan
penerapan pada ketiga kategori (jenis transa ksi, saldo akun, dan
presentasi serta pengungkapan).
Penggabungan Asersi

Penjelasan Asersi G abungan


ASERSI GABUNGAN PENJELASAN
C Completeness Segala sesuatu yang harus dicatat atau
diungkapkan dalam laporan keuangan, telah
dicakup.
Tidak ada aset, utang, dan liabilitas, transaksi
yangb elum tercatat atau diungkapkan; tidak
ada catatan dalam laporan keuangan, yang
hilang/dihilangkan atau tidak lengkap.
E Existence Segala sesuatu yang harus dicatat atau
diungkapkan dalam laporan keuangan,
memang ada pada tanggal yang
bersangkutan, dan m emang harus dicakup.
Aset, utang, dan liabilitas, transaksi, dan hal -
hal lain dalam catatan laporan keuangan,
memang ada, terjadi, dan terkait dengan
entitas.
A Accuracy and Cutoff Semua liabilitas, pendapata n, beban, dan hak
atas aset ( yang dikuasai atau di bawah
pengendalian) merupakan kewajiban atau
kekayaan entitas dan telah dicatat dalam
jumlah yang benar dan dialokasikan ke
periode yang benar. Juga telah dilakukan
pengklasif ikasian dan pengungkapan yang
benar dalam laporan keuangan.
V - Valuat ion Aset, liabilitas, dan ekuitas dicatat dalam
jumlah atau nilai dalam lapor an keuangan.
Penyesuaian untuk penilaian atau alokasi
yang diperlukan karena sif atnya atau sesuai
dengan pr insip akunt ansi yang diter apkan ,
telah dicatat sebagaimana mestinya.

V. Asersi dalam Auditing

Berikut ini kutipan dari ISA 315 alinea 25 (terjemahan bebas):

Auditor waj ib mengidentif ikasikan dan menilai risiko salah saj i pada :
a) Tingkat laporan keuangan; dan
b) Tingkat asersi untuk jenis transaksi, saldo akun, dan
pengungkapan untuk merancang dan melaksanakan pr osedur
audit selanjutnya.
Sepert i yang disebutkan diatas, lapor an keuangan mengandung
berbagai asersi. Asersi ini dapat digunak an auditor dalam menilai risiko
di tingkat laporan keu angan dan di t ingkat asersi.

VI. Penilaian Risiko di Tingkat Laporan Keuangan


Risiko salah saji yang material pada tingkat laporan keuangan,
cender ung bersif at per vasif (tersebar luas) dan karenanya mencakup
semua asersi. Sebagai contoh, j ika kepala pembukuan tidak cukup
kompeten, sangat boleh jadi kekeliruan t erjadi dalam laporan keuangan.
Kekeliruan semacam ini ser ing kali t idak terbatas pada satu saldo akun,
atau satu jenis transaksi, atau suatu pengungkapan saja. Kekeliruan
juga tidak terbatas pada satu as ersi saja, sepert i lengkapnya
(complet eness ) transaksi penjualan. Kekeliruan dengan mudah
merambah ke asersi lain seperti accuracy, existence, dan valuation.
VII. Penilaian Risiko di Tingkat Asersi
Risiko pada tingkat asersi berkaitan dengan saldo dar i akun t ertentu
(secara individu) pada saat tertent u (misalnya akhir tahun), atau untuk
asersi tertentu pada suatu periode tertentu (misalnya dalam tahun buku
bersangkutan), dan berkenaan dengan penyajian dan pengungkapan
tertentu dalam lapor an keuangan.
Relevansi set iap asersi untuk saldo akun (atau jenis transaksi,
atau penyaj ian dan pengngkapan) tertentu, akan ber beda, tergantung
pada ciri saldo akun itu dan potensi salah saj i yang material. Sebagai
contoh, ketika menilai Valuat ion asser tion, auditor mungkin men ilai
risiko terjadinya kekeliruan sebagai rendah. Namun, untuk persediaan
dimana keusangan (obsolescence) mer upakan f aktor penting, auditor
menilai Valuat ion risk tinggi. Contoh lain, karena kemungkinan
hilangnya persediaan relat if kecil, audit or menilai r isiko salah saji yang
material berkenaan dengan completeness assertion, rendah. Akan
tetapi, kelemahan dalam menangani transaksi penjualan m enyebabkan
auditor menilai risiko salah saji karena tidak lengkapnya saldo akun
penjualan, sebagai risiko yang tingg i.

Auditor menggunakan asersi untuk:


1. Menentukan jenis risiko salah saj i yang bisa terjadi;
2. Menilai seberapa besar kemungkinan terjadinya r isiko salah saji yang
material; dan
3. Merancang prosedur audit selanjutnnya (f urther audit procedures)
sebagai jawaban atau tanggapan terhadap r isiko yang dinilai
(responsive to the assessed risk)

B. Materialitas

I. Pengertian
Dalam SA 320 dijelaskan bahwa mater ialitas pelaksanaan
(perf ormance materialit y) adalah suatu jumlah yang ditet apkan oleh
auditor, pada t ingkat yang lebih rendah daripada mater ialitas untuk
laporan keuangan secara keseluruhan, untuk mengurangi ke tingkat
rendah yang semestinya kemungkinan kesalahan penyajian yang tidak
dikoreksi dan yang tidak terdeteksi yang secara agregat melebihi
materialit as untuk laporan keuangan secara keseluruhan. Jik a berlaku,
materialit as pelaksanaan dapat ditetapkan oleh auditor p ada jumlah
yang lebih rendah daripada materialitas golongan transaksi, saldo akun
atau pengungkapan tertentu.Pada saat menetapkan strat egi audit
secara keseluruhan, auditor har us menentukan mater ialitas untuk
laporan keuangan secara keseluruhan. Jika, dala m kondisi spesif ik
entitas, ter dapat sat u atau lebih golong an transaksi, saldo akun atau
pengungkapan tertentu yang mengandung kesalahan penyajian yang
jumlahnya lebih rendah daripada materialitas laporan keuangan secara
keseluruhan diperkirakan secara mas uk akal akan memengaruhi
keputusan ekonom i yang dibuat oleh para pengguna berdasarkan
laporan keuangan tersebut, maka auditor harus menetapkan
materialit as yang akan diterapkan terhadap golongan transaksi, saldo
akun atau pengungkapan tertentu tersebut.
Auditor har us menet apkan materialitas pelaksanaan untuk menilai
risiko kesalahan penyaj ian material dan menentukan sif at, saat dan luas
prosedur audit lanjut an.

II. Proses Penent uan Materialitas

Langkah 1
Auditor mempelajari inf ormasi - inf ormasi berkenaan dengan
laporan keuangan yang akan diauditnya.
Auditor mengidentif ikasi risiko salah saj i: pada akun mana, atau
tentang pengungkapan apa, dalam lapor an keuangan yang mana
(Laporan Posisi Keuangan, Lap. Laba/ Rugi, dst). Dalam langkah
pertama, auditor seperti membaca peta bencana, dan berusaha
melokalisasi wilayah bencana.

Langkah 2
Auditor menggeser titik pandangnya kepada pengguna laporan
keuangan. Audit or menggunakan pikiran imijinatif nya dan seolah -
olah berpikir seperti pengguna laporan k euangan (contohnya:
investor di pasar modal) atau selaku pim pinan per usahaan.

Langkah 3
Auditor menentukan, menakar, dan menetapkan besarnya
materialit as .

III. Materialitas pada Dua Tingkat

Mater ialit as dibagi m enjadi dua t ingkat:


1. Tingkat laporan keuangan secara menyeluruh.Tingkat
pertama bersif at overall.
2. Tingkat saldo akun, jenis transaksi dan pengungkapan
(account balance, class of transactions, and disclosure
level). Tingkat kedua disebut specif ic.

Empat Konsep Mater ialit as


Overall Overall materiality didasarkan atas apa yang layaknya
Mater ialit y diharapkan ber dampak terhadap keputusan yang dibuat
pengguna laporan keuangan.

Overall Performance mater iality ditetapkan lebih rendah dari


Performance overall mater iality. Performance materiality
Mater iality memungkinkan audit or menanggapi penilaian risiko
tertentu (tanpa meng ubah overall mater iality), dan
menurunkan ke tingkat yang rencah yang tepat
(appropr iately low level) probabilit as salah saji yang
tidak dikoreksi dan salah saji y ang tidak terdeteksi
secara agregat melampaui overall materiality.

Specific Specific Mat eriality untuk jenis transaksi, saldo akun


Mater iality atau disclosur e tertentu dimana jumlah salah sajinya
akan lebih rendah dari overall materiality.
Specific Specific Performance Mater iality ditetapkan lebih
Performance rendah dari Specif ic Mater iality. Hal ini memungkinkan
Mater iality auditor menanggapi penilaian risiko tertentu, dan
memperhitungkan kemungkinan adanya salah saji yang
tidak terdeteksi dan salah saj i yang tidak material , yang
secara agregat dapat berjumlah mater iality.

KESIMPUL AN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa asersi


manajemen dalam laporan keuangan memiliki k ewajaran laporan
keuangan dinilai berdasarkan asersi yang terkandung dalam setiap
unsur yang disajikan dalam laporan keuangan. Asersi ( Assert ions)
adalah pernyataan manajemen yang terkandung di dalam komponen
laporan keuangan. Pernyat aan tersebut dapat bersif at implisit atau
eksplisit.
Mater ialit as me rupakan pertimbangan utama dalam penerimaan
jenis laporan audit yang tepat untuk diter bitkan. Tanggung jawab auditor
adalah menentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan
penyaj ian yang material. Jika auditor memutuskan bahwa terdapat suatu
salah saj i mater ial, maka ia akan menunjukan kepada klien sehingga
suatu koreksi dapat dilakukan.
Para auditor harus memiliki pengetahuan tentang pihak -pihak
yang akan memanf aatkan laporan k euangan klien mereka serta
keputusan-keputusan apakah yang akan dibuat. Suatu nilai yang
dianggap material oleh auditor dalam audit mungkin bernilai lebih
rendah dar i pada nilai yang dianggap material pada suatu proses audit
yang sejenis.
REFERENSI

1. Tuanakotta, T. M. 2015. Audit Kontemporer. Salemba Empat,


Jakarta.
2. Al Har yono Jusup. 2001. Audit ing (Peng auditan), Buku 1, BP STIE
YKPN, Yog yakarta .
3. www. iapi. or.id