Anda di halaman 1dari 11

27 Cara Meruntuhkan Teori Darwin

Mitos mengenai runtuhnya teori evolusi telah tersebar begitu luas, terutama akibat
ketidakmengertian masyarakat awam mengenai apa itu evolusi, teorinya dan faktanya. Disini
saya akan menyarikan tulisan dari Douglas Theobald, Ph.D. Tulisannya yang asli
sesungguhnya terdiri dari 4 bagian yaitu konsep, prediksi, bukti dan falsifikasi. Istilah
falsifikasi sendiri artinya adalah cara meruntuhkan sebuah teori. Semua teori ilmiah tidak
boleh kebal. Sebuah teori yang ilmiah harus dapat di falsifikasi, ia harus dapat digugurkan
jika ada bukti yang mengatakan sebaliknya. Sebuah teori dikatakan tidak ilmiah jika ia tidak
mungkin di sangkal. Contoh, teori kalau kita hidup dalam program komputer (teori matrix).
Teori ini tidak ilmiah karena kita tidak dapat membayangkan adanya bukti yang dapat
memfalsifikasikannya. Setiap kali terjadi sesuatu, apapun itu tanpa terkecuali, seorang
pendukung teori matrix dapat mengatakan, memang dari sananya sudah di program demikian.
Sebaliknya, teori bulan terbelah adalah sebuah teori ilmiah. Kita dapat membayangkan bukti
kalau teori ini salah, misalkan pengamatan kalau tidak ada tanda di bulan kalau ia pernah
terbelah.

Ada beberapa teori evolusi. Paling tidak ada tiga, yaitu teori evolusi Lamarck, teori evolusi
Darwin dan teori evolusi Gould. Teori evolusi Lamarck mengatakan kalau peristiwa yang
terjadi dalam hidup organisme dapat diwariskan. Ambil contoh seorang binaraga. Beliau
berlatih dari kecil sehingga awalnya kurus menjadi kekar. Teori evolusi Lamarck mengatakan
bahwa kelak sang anak yang lahir juga akan kekar, tanpa harus berlatih bina raga lagi (karena
ayahnya sudah melakukannya sebelum ia lahir). Falsifikasinya gampang, kalau kita
menemukan bukti ada anak yang kurus padahal orang tuanya kekar, maka teori Lamarck
dapat gugur. Dan teori Lamarck memang sudah lama gugur. Teori Gould lebih dikenal
sebagai Punctuated Equilibrium. Gould mengatakan kalau evolusi berlangsung tersendat-
sendat. Kadang terjadi evolusi berlangsung sangat cepat, kemudian terjadi evolusi yang
sangat lambat. Teori Gould sampai sekarang belum dapat diperiksa, terutama karena teori ini
sangat luas dan komprehensif. Satu contoh tidak cukup, seandainya kita mengamati satu
spesies berevolusi dengan kecepatan tetap, bisa jadi spesies lain tidak. Tapi kita dapat
membayangkan bukti penyangkalnya, yaitu bila kita menemukan sebagian besar spesies atau
seluruh spesies, ber evolusi dengan kecepatan konstan.

Teori evolusi Darwin juga sangat komprehensif. Darwin mengatakan evolusi terjadi karena
adanya seleksi alam terhadap keturunan, yang kemudian secara modern, keturunan ini
ditentukan oleh gen, dan perubahan keturunan adalah mutasi. Kita dapat membayangkan
bukti kalau teori Darwin salah. Bukti-bukti ini, seandainya ditemukan, maka akan
meruntuhkan teori evolusi Darwin atau paling tidak, membuat teori evolusi Darwin harus
direvisi. Sebuah bukti, adalah nyata, artinya bukan hanya hasil berpikir semata. Banyak orang
menganggap teori evolusi gugur hanya karena berpikir lewat akalnya. Perlu diperhatikan,
akal setiap orang berbeda. Ada orang yang dapat menganggap sesuatu masuk akal, ada yang
tidak dapat. Itu juga mengapa kita punya prestasi berbeda dengan orang lain saat sekolah.
Menggunakan pikiran semata, bukanlah penyanggah teori ilmiah. Orang mengistilahkan
berpikir semata sebagai sesuatu yang subjektif. Teori ilmiah adalah objektif, dan karenanya
harus disanggah secara objektif pula. Menyanggah teori secara objektif berarti menggunakan
fakta yang dapat diperiksa kebenarannya semua orang yang kompeten di bidangnya.
Menggunakan fakta ilmiah, itu baru cara menyanggah yang benar.
Berikut apa saja bukti, yang bila ditemukan, dapat dipakai untuk menyanggah teori evolusi.
Silakan anda yang ingin membuktikan kalau teori evolusi salah, mencari salah satu bukti
yang dibayangkan dalam daftar ini. Kalau saudara bisa menemukannya, mungkin saudara
akan mendapatkan hadiah nobel.

1. Ditemukannya Mahluk Hidup dengan DNA dan protein yang tidak ada
hubungannya dengan mahluk hidup lainnya di bumi

Ribuan spesies baru ditemukan setiap tahun, dan baris DNA dan protein diuraikan setiap hari
dari spesies yang sebelumnya belum diperiksa (Wilson 1992, Ch. 8). Pada laju saat ini, yang
bertambah secara eksponensial, hampir 38 juta barisan basa baru dibaca setiap hari. Masing-
masing merupakan ujian bagi teori evolusi. Hanya berdasarkan pada teori evolusi dan
genetika dari organisme yang telah diketahui, kita dengan yakin meramalkan kalau kita tidak
akan pernah menemukan satupun spesies modern dari filum manapun yang dikenal di bumi
ini dengan bahan genetik asing non-asam nukleat. Kita juga meramalkan dengan penuh
keyakinan kalau semua spesies yang akan ditemukan yang merupakan anggota filum yang
telah dikenal akan memakai kode genetik standar atau turunan dekatnya. Sebagai contoh,
menurut teori, tidak satupun dari ribuan serangga yang baru dan tidak diketahui sebelumnya
yang terus ditemukan di hutan hujan Brazil akan memiliki genome non-asam nukleat. Tidak
pula akan spesies serangga yang belum ditemukan ini akan memiliki kode genetik yang
bukan turunan dekat dari kode genetik standar. Dengan ketiadaan teori evolusi, adalah
mungkin setiap spesies akan memiliki kode genetik berbeda, spesifik padanya, karena ada
sebanyak 1.4 x 10^(70) kode genetik yang ekuivalen secara informasional, semuanya
memakai kodon dan asam amino yang sama seperti kode genetik standar (Yockey 1992).
Kemungkinan ini akan sangat bermanfaat bagi organisme, karena akan menyingkirkan
infeksi virus antar spesies. Walau demikian, ini tidak diamati di alam, dan teori evolusi secara
efektif menjelaskan kenapa pengamatan demikian tidak mungkin didapat.

Sebagai contoh lain, sembilan spesies baru lemur dan dua marmoset (semuanya primata)
ditemukan di rimba Madagaskar dan Brasil tahun 2000 (Groves 2000; Rasoloarison et al.
2000; Thalmann dan Geissmann 2000). Sepuluh spesies monyet baru telah ditemukan di
Brasil sejak tahun 1990 (Van Roosmalen et al. 2000). Tidak ada yang melanggar hukum
biologi bila spesies-spesies ini akan memiliki kode genetik yang tidak digunakan sebelumnya
tidak ada, kecuali teori evolusi. Walau demikian, kita sekarang tahu dengan pasti bahwa
lemur-lemur baru ini memiliki DNA dengan kode genetik standar (Yoder et al. 2000); para
marmoset belum lagi diperiksa. Lebih jauh, masing-masing spesies dapat menggunakan
polimer berbeda untuk katalisis. Polimer yang digunakan dapat tetap identik tapi memiliki
siralitas berbeda pada spesies berbeda.

Ada ribuan jalur glikolisis yang ekivalen secara termodinamis (bahkan bila memakai sepuluh
langkah reaksi yang sama namun urutannya berbeda), jadi adalah mungkin setiap spesies
akan memiliki jalur glikolisisnya sendiri-sendiri, dirancang untuk kebutuhannya sendiri.
Penalaran yang sama berlaku pada jalur metabolik inti lainnya, seperti siklus asam sitrat dan
fosforilasi oksidatif. Terakhir, banyak molekul lain selain ATP yang dapat menjadi alat tukar
energi dalam berbagai spesies (CTP, TTP, UTP, ITP, atau molekul mirip-ATP lainnya
dengan satu dari 293 asam amino yang diketahui atau satu dari selusin basa lain yang dapat
menggantikan adenosin). Penemuan adanya hewan atau tanaman yang memuat salah
satu dari contoh yang disebutkan di atas akan menjadi penemuan yang meruntuhkan
teori evolusi, namun sampai sekarang mereka belum pernah ditemukan.
2. Ditemukannya Melinjo berbunga, Pakis berkayu, Burung yang memiliki susu,
mamalia berbulu burung, atau ikan dengan gigi geraham dan taring sekaligus.

Akan menjadi sangat problematik bila banyak spesies ditemukan memiliki karakteristik
gabungan dari beragam kelompok. Sebagai contoh, sebagian tanaman tak berpembuluh dapat
saja memiliki bunga atau biji, seperti tanaman berpembuluh, tapi ternyata tidak ada.
Gymnosperma (seperti melinjo atau pinus) dapat saja memiliki bunga, tapi tidak pernah
ditemukan. Tanaman tanpa biji, seperti pakis, dapat saja memiliki kayu; walau begitu hanya
sebagian angiosperma yang memiliki kayu. Begitu pula, burung dapat saja memiliki kelenjar
susu atau rambut; sebagian mamalia bisa saja memiliki bulu (ini sangat berguna untuk
isolasi). Ikan atau amfibi tertentu dapat saja memiliki gigi terdiferensiasi, tapi ini hanya
dimiliki oleh mamalia. Sebuah karakteristik campuran seperti ini akan membuatnya sangat
sulit di organisasi secara objektif dalam hirarki. Tidak seperti organisme, mobil memang
memiliki karakter campuran, dan ini persis mengapa hirarki bersarang tidak dapat secara
alami dipakai untuk klasifikasi mobil.

Bila mustahil, atau sangat bermasalah, menempatkan spesies dalam skema klasifikasi
yang objektif (seperti pada mobil, kursi, buku, unsur atom dan partikel elementer),
teori evolusi akan runtuh secara efektif. Lebih tepatnya, bila pohon filogenetis dari
semua kehidupan memberikan nilai rendah dari sinyal filogenetis (struktur hirarkis
tertutup), teori evolusi akan hancur.

Faktanya, adalah mungkin memiliki pola resiprokal dari hirarki tertutup. Secara matematis,
sebuah hirarki tertutup adalah hasil dari korelasi spesifik antara karakter atau organisme
tertentu. Saat tingkat evolusi cepat, karakter menjadi tersebar secara acak satu sama lain, dan
korelasi melemah. Walau demikian, karakter juga dapat anti korelasi adalah mungkin bagi
mereka berkorelasi dalam arah berlawanan dari apa yang dihasilkan hirarki bersarang (Archie
1989; Faith dan Cranston 1991; Hillis 1991; Hillis dan Huelsenbeck 1992; Klassen et al.
1991). Pengamatan pola anti korelasi demikian akan menjadi sebab keruntuhan teori
evolusi, tanpa perlu melihat pada tingkat evolusioner.

Ukuran yang dipakai secara luas untuk struktur hirarkis kladistik adalah indeks konsistensi
(CI). Sifat statistik dari ukuran CI diteliti dalam paper terkenal oleh Klassen et al. (1991).
Nilai pasti CI tergantung pada jumlah taksa dalam pohon filogenetis yang diteliti. Dalam
paper ini, penulis menghitung nilai berapa yang signifikan secara statistik untuk beragam
jumlah taksa. Nilai CI yang tinggi menunjukkan derajat tinggi strutur hirarkis. Sebagai
contoh, CI 0,2 diperkirakan dari data acak 20 taksa. Nilai 0,3 walau begitu adalah signifikan
sekali secara statistik. Paling menarik pada point saat ini adalah fakta bahwa CI 0,1 dari 20
taksa juga sangat signifikan secara statistik, namun ia terlalu rendah-ia adalah indikator dari
struktur anti kladistik. Klassen et al. mengambil 75 nilai CI dari kladogram yang diterbitkan
dalam tahun 1989 (digabung dalam tiga paper) dan menemukan bagaimana mereka sangat
signifikan secara statistik. Kladogram yang dipakai mulai dari 5 hingga 49 taksa (yaitu
spesies berbeda). Tiga dari 75 kladogram jatuh dalam batas kepercayaan 95% dari data acak,
yang artinya mereka tidak dapat dibedakan dari data acak. Semua sisanya merupakan nilai CI
yang tinggi signifikansinya secara statistik. Tidak satupun menunjukkan nilai rendah
signifikan; tidak ada yang menunjukkan pola anti hirarkis, anti korelasi. Catat, studi ini
dilakukan sebelum ada ukuran signifikansi statistik yang dapat memungkinkan peneliti
menyingkirkan kladogram yang buruk. Dapat diramalkan, tiga himpunan data buruk memiliki
dibawah sepuluh taksa-tentu saja lebih rumit menentukan signifikansi statistik dengan sangat
sedikit data. 75 studi independen dari peneliti-peneliti berbeda pada organisme dan gen
berbeda dengan nilai CI tinggi (P < 0.01) adalah konfirmasi luar bisaa pada tingkat
astronomis dari signifikansi statistik gabungan (P 10^(-300), Bailey dan Gribskov 1998;
Fisher 1990). Bila sebaliknya yang benar bila studi memberikan nilai CI signifikan
secara statistik (yaitu struktur hirarkis kladistik) yang rendah dari yang diharapkan
dari data acak- teori evolusi akan runtuh dengan seketika.

Perlu dicatat bahwa ada 1,5 juta spesies yang diketahui saat ini, dan mayoritas spesies ini
telah ditemukan semenjak Darwin menyatakan hipotesis evolusinya. Walau begitu, semuanya
cocok dengan pola hirarkis tertutup dalam error metode kita. Lebih jauh lagi, diperkirakan
hanya 1 hingga 10% dari semua spesies hidup telah kita catat, belum lagi diteliti secara detil.
Spesies baru ditemukan setiap hari, dan masing-masing merupakan ujian untuk teori Evolusi
(Wilson 1992, Ch. 8).

3. Penemuan Ketidak cocokan yang signifikan antara pohon evolusi yang dibuat secara
morfologis dengan yang dibuat secara molekuler

Saat menjadi mungkin untuk membariskan molekul biologis, realisasi dari pohon berbeda
berdasarkan bukti molekuler independen akan menjadi hantaman keras bagi teori evolusi,
walaupun jauh dari hasil yang paling mungkin. Lebih tepatnya, teori evolusi akan runtuh
bila pohon filogeni universal yang diperoleh dari bukti morfologis dan molekuler yang
independen tidak cocok dengan signifikansi statistik. Lebih jauh, kita kini dalam posisi
mulai membangun pohon filogenetis berdasarkan pada garis data lain yang independen,
seperti organisasi kromosom. Secara umum, jumlah dan panjang kromosom serta posisi gen
pada kromosom semuanya independen dari identitas morfologi dan barisan. Filogeni yang
dibangun dari data ini harus menunjukan pohon filogenetis yang standar pula (Hillis et al.
1996; Li 1997).

4. Ditemukannya Hewan Separuh Mamalia


separuh Burung seperti Pegasus

Penemuan apapun dari bentuk peralihan separuh mamalia separuh burung akan tidak
konsisten dengan teori evolusi. Banyak contoh dari bentuk peralihan yang tidak mungkin
berdasarkan pohon standar (Kemp 1982; Stanley 1993; Carroll 1997; Chaterjee 1997).
Sebuah point penting adalah sebuah penafsiran kladistik evolusioner yang ketat
mengeluarkan kemungkinan menemukan leluhur sejati; hanya bentuk peralihan dapat
ditentukan secara positif. Bukti non kontroversi satu-satunya dari hubungan leluhur-
keturunan adalah pengamatan kelahiran; jelas ini secara normal mustahil dalam catatan fosil.
Bentuk peralihan tidak perlu sama pasti dengan yang leluhur yang diramalkan; faktanya,
hampir mustahil kalau mereka sama. Hanya karena pertimbangan kemungkinan, bentuk
peralihan yang kita temukan sepertinya bukanlah leluhur sejati dari spesies modern manapun,
tapi akan paling berhubungan dengan leluhur yang diramalkan. Jadi, bentuk peralihan yang
kita temukan akan memiliki karakter turunan tambahan yang menunjukkan mereka
merupakan bentuk peralihan. Karena pertimbangan ini, saat sebuah fosil peralihan baru dan
penting ditemukan, paleontolog yang hati-hati akan sering mencatat bahwa spesies peralihan
pada studi mungkin bukan leluhur, namun wakil dari leluhur bersama atau sebuah cabang
tetangga evolusioner. Semakin sedikit karakter turunan tambahan yang dimiliki sebuah fosil
peralihan, semakin tinggi kemungkinan kalau fosil peralihan ini leluhur yang sejati.

5. Ditemukannya fosil mamalia, burung atau bunga di batuan zaman Silur atau
sebelumnya

Akan sangat tidak konsisten dengan teori evolusi bila urutan kronologis terbalik dalam
contoh reptil-burung dan reptil-mamalia. Bahkan menemukan bahwa tidak ada korelasi
keseluruhan antara stratigrafi dan filogeni konsesus dari taksa utama akan sangat
problematik untuk teori evolusi. Sebagai tambahan, korelasi yang teramati dapat menurun
pada bingkai waktu lebih panjang atau saat kita mendapat lebih banyak data paleontologis
namun tidak pernah terjadi (Benton et al. 1999; Benton dan Storrs 1994). Berdasarkan pada
keyakinan tinggi dalam beberapa cabang pohon filogenetis, sebagian batasan temporal sangat
kaku. Sebagai contoh, kita tidak akan mungkin menemukan fosil mamalia atau burung pada
atau sebelum deposit Devon, sebelum reptil berpisah dari garis tetrapoda amfibi. Ini
mengeluarkan deposit prakambria, kambria ordovisian, dan silur, memuat 92% sejarah
geologis bumi dan 65% sejarah biologis organisme multiseluler. Bahkan satu saja temuan
fosil mamalia, burung atau bunga dari pra devon akan meruntuhkan teori evolusi
dalam seketika (Kemp 1982; Carroll 1988; Stanley 1993; Chaterjee 1997).

6. Ada bayi yang dilahirkan berbulu seperti burung

Tidak ada organisme yang dapat memiliki struktur vestigial yang sebelumnya tidak
fungsional dalam salah satu leluhurnya. Jadi, untuk setiap spesies, pohon filogenetis standar
membuat sejumlah besar prediksi mengenai karakter vestigial yang boleh dan mustahil untuk
setiap spesies. Karakter yang dimiliki bersama dan data barisan molekuler, bukan karakter
vestigial, menentukan filogeni dan karakteristik leluhur bersama yang diprediksi. Jadi, bila
teori evolusi salah, karakter vestigial sangat mungkin tidak dapat dijelaskan secara
evolusioner. Sebagai contoh, paus digolongkan mamalia atas dasar banyak kriteria, seperti
memiliki kelenjar susu, plasenta, satu tulang di rahang bawah, dll. Ular begitu pula
digolongkan reptil karena memiliki fitur turunan lainnya. Walau demikian, adalah mungkin
secara teoritis kalau ular atau paus digolongkan sebagai ikan (seperti yang dilakukan
Linnaeus pada awalnya). Bila ini kasusnya, kaki vestigial dari paus atau tulang paha vestigial
pada ular tidak akan masuk akal secara evolusioner dan tidak akan konsisten dengan teori
evolusi. Selanjutnya, maka, kita tidak akan pernah menemukan puting susu vestigial
atau tulang incus vestigial pada amfibi, burung atau reptil. Tidak ada mamalia yang akan
ditemukan memiliki bulu vestigial. Tidak akan ada primata yang akan ditemukan
memiliki tanduk vestigial atau sayap terdegenerasi tersembunyi dibalik kulit
punggungnya. Kita tidak akan menemukan anthropoda manapun yang memiliki tulang
belakang vestigial. Ular dapat memiliki kaki atau tangan vestigial, namun mereka tidak
akan memiliki sayap vestigial. Manusia dapat ditemukan memiliki caecum vestigial, karena
kita keturunan dari mamalia herbivora, namun tidak akan pernah satupun primata dapat
memiliki gizzard vestigial seperti yang ada pada burung. Mutatis mutandis ad infinitum.

7. Ada anak ayam yang berekor monyet atau memiliki rambut

Pada dasarnya sama dengan tantangan pada struktur vestigial di atas.

8. Ditemukannya gen kloroplas pada hewan

Akan sangat membingungkan bagi teori evolusi bila kita tidak menemukan pseudogen L-
gulano-alpha-lactone oxidase atau gen vestigial lainnya. Sebagai tambahan, kita dapat
memprediksi kalau kita tidak akan pernah menemukan gen kloroplas vestigial dalam
metazoan (yaitu hewan) manapun (Li 1997, pp. 284-286, 348-354).

9. Ditemukannya puting dan rambut pada janin ikan, amfibi atau reptil

Berdasarkan pada pohon filogenetika standar kita, kita bisa menduga kalau menemukan
sarung ingsang atau kulit telur pada suatu saat di masa perkembangan embrionik (dan kita
benar-benar menemukannya). Walau begitu, kita tidak pernah menduga kalau bisa
menemukan puting, rambut, atau tulang inkus telinga tengah pada saat apapun dalam
embrio ikan, amfibi atau reptil. Begitu juga, kita bisa menduga menemukan gigi dalam
mulut sebagian embrio burung (dan memang ditemukan), namun kita tidak menduga kalau
bisa suatu saat menemukan paruh mirip burung dalam embrio mamalia eutheria
(eutheria adalah mamalia dengan plasenta seperti manusia, sapi, anjing atau kelinci).
Kita bisa menduga menemukan embrio manusia dengan ekor (dan benar kenyataannya)
namun kita tidak akan pernah menemukan tonjolan kaki atau tangan dalam embrio
pari, belut, ikan teleostoi atau hiu. Penemuan demikian bila terjadi akan langsung
bertentangan dengan teori evolusi. (Gilbert 1997, esp. Ch. 23).

10. Ditemukannya asal usul gajah asli kepulauan Pasifik

Dari pengetahuan yang terbatas pada persebaran spesies, kita meramalkan kalau kita tidak
akan pernah menemukan gajah di kepulauan Pasifik, bahkan kalau mereka mampu bertahan
hidup disana. Serupa pula, kita meramalkan kalau kita tidak akan menemukan amfibi di
pulau-pulau terpencil, atau kaktus asli dari Australia. Spesies yang berkerabat dekat dapat
tersebar seragam di dunia, sesuai dengan habitat manapun yang sesuai dengannya. Bila
ini adalah pola biogeografi ruang umum, maka ini akan menjadi sebuah hantaman
keras untuk teori evolusi (Brown dan Lomolino 1998).

11. Ditemukannya fosil kuda atau australopithecus di Australia dan Antartika

Kita dengan percaya diri meramalkan kalau fosil dari hewan yang baru berevolusi seperti
kera dan gajah tidak akan ditemukan di amerika selatan, antartika atau Australia (kecuali,
tentu saja, kera yang berlayar dengan perahu). Akan sangat menyedihkan nasib teori
evolusi bila kita menemukan di amerika selatan fosil dari Epihippus atau Merychippus
(atau bentuk peralihan di antaranya) dari Zaman Paleosen, Eosen, Oligosen, Miosen,
atau kapanpun sebelum Panama muncul menghubungkan amerika utara dan selatan
(sekitar 12 juta tahun lalu). Lebih lanjut, kita tidak akan pernah menemukan fosil
leluhur kuda di Australia atau antartika dari era geologis manapun (MacFadden 1992;
Brown dan Lomolino 1998). Kita juga tidak mengharap mendapatkan fosil
Australopithicus, Ardipithecus, atau Kenyanthropus di Australia, Amerika Utara,
Amerika Selatan, Antartika, Siberia atau pulau samudera manapun yang jauh dari
Afrika. Penemuan demikian akan meruntuhkan teori evolusi dengan seketika.

12. Ditemukannya Griffin (burung dengan


dua sayap, dua tangan dan dua kaki)

Catatan fosil dapat menunjukkan sebuah kemajuan kronologis dimana sayap burung perlahan
berubah menjadi tangan reptil; walau begitu, kebalikannya yang selalu terjadi. Sebagai
tambahan, sebuah hantaman besar akan muncul bila secara positif ditunjukkan kalau struktur
primitif dari organisme yang diramalkan teori evolusi tidak beralasan termodifikasi menjadi
struktur turunan organisme modern. Contoh yang sangat jelas, dan sepenuhnya serius, adalah
mustahil secara evolusioner menemukan mahluk yang namanya Pegasus. Karena seekor
Pegasus harusnya mamalia yang berkerabat dekat dengan kuda, jadi sayapnya akan dinilai
sebagai karakter turunan. Tapi, sayap Pegasus tidak mungkin merupakan modifikasi struktur
leluhurnya, karena leluhur yang diramalkan dari pegasus dan kuda tidak punya struktur yang
mungkin untuk dimodifikasi (Futuyma 1998, p. 110). Secara analog, kita meramalkan kalau
kita tidak akan pernah menemukan burung dengan sayap dan tangan sekaligus, atau
kerang dengan kloroplas, walau struktur ini akan sangat membantu organisme ini.
Begitupula, akan sebuah penyebab runtuhnya teori evolusi bila pohon filogenetis tidak
memiliki kontinuitas struktural, namun kontinuitas fungsional atau bahkan tidak
punya kontinuitas sama sekali.

13. Protein yang melakukan fungsi baru sepenuhnya berbeda dengan protein pelaku
fungsi inti

Protein melakukan fungsi yang baru berevolusi harus memiliki kesamaan signifikan secara
statistik dengan protein yang melakukan fungsi inti. Adalah sangat problematik secara
evolusioner bila ini tidak terjadi. Lebih lanjut, akan tidak konsisten dengan teori evolusi
bila kita menemukan gen yang terlibat dalam fungsi multiseluler lebih dalam berakar
dalam filogeni mereka (yaitu bila gen ini lebih purba dari gen fungsi inti) (Li 1997; Chervitz
et al. 1998).

14. Ditemukannya Paus, lumba-lumba atau penguin yang memiliki Insang

Kita tidak akan menduga spesies yang baru ditemukan apakah itu lumba-lumba, paus,
penguin, atau kerabat dekat mamalia manapun memiliki insang (analogi yang mungkin
dengan ikan), karena leluhur mereka tidak memiliki insang atau struktur mirip insang yang
dapat menurun pada mereka. Ini adalah ramalan teori evolusi, walau faktanya insang akan
sangat menguntungkan bagi mamalia dan burung air.

15. Ditemukannya organisme yang berbentuk modular, yaitu bentuk rakitan seperti
perangkat komputer, yang bisa ditempeli modem, keyboard, mouse, USB, speaker,
kamera, dsb. Contoh, tangan kita bisa hidup sendiri, kepala bisa hidup sendiri, kaki
bisa hidup sendiri, dsb.

Parahomologi dan analogi adalah ramalan khusus teori evolusi dan prinsip dari oportunisme
evolusioner. Adalah mungkin ada sebuah dunia dimana tidak ada kasus parahomologi atau
analogi biologis. Sebagai contoh, organisme hidup dapat disusun dalam bentuk modular,
seperti sebagian besar ciptaan antropogenik, dimana setiap struktur memiliki fungsi khusus.

16. Ditemukannya ikan dengan mata seperti gurita

Sebuah bukti kuat yang dapat meruntuhkan teori evolusi dalam hal ini adalah penemuan
mamalia tanpa persilangan antara saluran pencernaan dengan saluran pernapasan, atau reptil
atau mamalia tanpa titik buta di matanya, dll. Ini karena rancangan yang buruk tidak dapat
cocok lewat proses evolusioner, bahkan bila memperbaiki masalah ini akan bermanfaat bagi
organisme. Satu-satunya pencocokan yang diizinkan oleh teori evolusi adalah modifikasi
relatif kecil pada apa yang telah ada.

Catatan: Anggota dari kelas argumen ini dapat dimentahkan bila sebuah struktur suboptimal
sebelumnya pada kenyataannya ditemukan efisien secara fungsional. Walau demikian, untuk
sebagian besar contoh, penemuan sebuah fungsi penting pada susunan struktural tertentu
tidak merubah kesimpulan dasar. Sebagai contoh, mungkin titik buta retina pada vertebrata
sesungguhnya punya fungsi penting, atau mungkin saat ini tidak diketahui fungsinya pada
hewan darat. Faktanya, sebagian anti evolusionis telah mengajukan kalau mata vertebrata
yang masuk ke dalam rongga yang rumit, yaitu bintik buta, dibutuhkan untuk kehidupan
darat, sementara mata keluar pada cephalopoda penting untuk pandangan bawah air
(Bergman 2000). Namun pertanyaannya kenapa ikan vertebrata punya mata kedalam?
Untuk ikan, bidang mata vertebrata dengan kompleksitas tambahan yang tidak diperlukan
adalah suboptimal, karena semakin elegan, semakin efisien, semakin sederhananya mata
cepalopoda dapat melakukan fungsi bawah air yang sama baiknya. Argumen suboptimalitas
belum terpatahkan; penekanan telah diberikan terus dari satu organism eke organisme
lainnya. Lebih lanjut, hipotesis teori evolusi akan tetap dapat runtuh dengan penemuan
ikan tulang vertebrata dengan mata keluar.

17. Ditemukannya mahluk hidup yang efisien

Karena evolusi tidak punya pandangan ke depan, dan tidak dapat merencanakan fungsi masa
depan, akan sangat mencurigakan bila sistem molekuler biologis dirancang secara efisien.
Kembali, ini tidak mengeluarkan kompleksitas tapi efisiensi mekanisme.
18. Ada protein yang setiap mahluk hidup miliki
tapi dengan barisan sandi genetik yang tidak sama dalam semua spesies

Tanpa menganggap teori evolusi, hasil paling mungkin adalah barisan protein sitokrom c
dalam semua organisme akan sangat berbeda satu sama lain. Bila hal ini yang terjadi, sebuah
analisis filogenetis akan mustahil, dan akan memberi bukti kuat kalau tidak ada kaitan
keturunan antar spesies (Dickerson 1972; Yockey 1992; Li 1997). Lebih lanjut, dasar utama
dari argumen evolusi akan runtuh dengan mudah bila ada yang bisa menunjukkan:

(1) kalau protein spesifik spesies sitokrom c secara eksklusif fungsional dalam spesies yang
bersangkutan, atau

(2) tidak ada barisan sitokrom c lain yang dapat berfungsi dalam organisme itu selain barisan
sitokrom aslinya, atau

(3) sebuah mekanisme yang teramati dalam pewarisan dapat menyebabkan barisan protein
berlebih berhubungan secara sebab akibat dengan morfologi organisme tertentu

19. Sama dengan nomor 18 hanya saja barisan yang berbeda adalah barisan penyandi,
bukan barisan sandi

Hasil yang paling mungkin adalah kalau barisan koding DNA untuk protein mestinya
berbeda secara radikal. Ini akan menjadi penyebab runtuhnya teori evolusi, dan
menjadi bukti kuat kalau simpanse dan manusia tidak berkerabat dekat secara keturunan.
Tentu saja kemungkinan salah dari nomor 18 juga berlaku untuk barisan DNA.

20. Ditemukannya dua spesies mamalia yang memiliki transposon yang sama dalam
lokasi yang sama di kromosom

Lihat nomor 21 dan 22, prinsipnya sama.

21. Ditemukannya dua spesies mamalia yang memiliki pseudogen berlebih dalam lokasi
yang sama di kromosom, dan mutasi yang sama
Duplikasi gen yang teramati adalah peristiwa langka dan acak. Jadi, hampir mustahil kalau
mamalia lain akan memiliki pseudogen berlebih yang sama pada lokasi kromosom yang
sama, dengan mutasi yang sama yang merubah fungsi normalnya. Sebagai contoh, pada
dasarnya mustahil bagi tikus untuk membawa pseudogen 21-hydroxylase, di lokasi genomik
yang sama, dengan delesi delapan pasangan basa yang sama yang menghancurkan fungsi
enzimatisnya. Lebih lanjut, sekali sebuah gen terduplikasi dan mutasi memberinya psedogen
berlebih, ia akan diwarisi semua keturunan. Jadi, sekali satu organisme ditemukan membawa
pseudogen yang sama, teori evolusi mensyaratkan kalau semua organisme secara filogenetis
peralihan harus juga membawa pseudogen. Sebagai contoh, anggap kita menemukan kalau
manusia dan monyet dunia lama memiliki pseudogen yang berlebih yang sama. Menurut teori
evolusi, semua kera (termasuk simpanse, gorilla, orang utan, dan siamang) harus juga
memiliki pseudogen berlebih ini pada lokasi kromosom yang sama. Kesimpulan ini
berdasarkan pada premis kalau tidak ada mekanisme untuk menghilangkan pseudogen dari
genome (atau mekanisme yang sangat efisien untuk itu). Ini tampaknya benar untuk
vertebrata, namun sebagian organisme dengan waktu perkembangbiakan pendek, seperti
bakteri, protista dan Drosophila memiliki mekanisme yang dapat membuang DNA
berebihnya. Catat, kemungkinan salah ini independen pada apakah pseudogen tertentu
memiliki fungsi atau sepenuhnya non fungsional. Seperti unsur genetik atau struktur
organisme lainnya, oportunisme evolusioner dapat mengambil pseudogen dan menekannya
menjadi fungsi baru dan berbeda.

22. Ditemukannya dua mamalia yang memiliki retrogen


yang sama di lokasi kromosom yang sama

Akan tidak masuk akal secara evolusi, bila mamalia tertentu (misalnya anjing, sapi,
platypus, dll) memiliki retrogen yang sama di lokasi kromosom yang sama. Sebagai
contoh, akan sangat tidak mungkin anjing juga memiliki tiga insersi HERV-K yang unik pada
manusia, karena tidak satupun primata lain memiliki barisan retroviral ini.

23. Ditemukan tidak adanya perubahan genetik yang signifikan seiring bertambahnya
waktu dan generasi

Saat bahan genetik diperoleh, adalah jelas kalau bagi evolusi untuk menempuh sejumlah
besar perubahan yang dibutuhkan dalam bahan genetik. Bila pengamatan umum ahli
genetika adalah kalau genomik stasis dan tidak memiliki perubahan genetik signifikan,
itu akan menjadi bukti kesalahan teori evolusi. Sebagai contoh, adalah mungkin kalau
kapanpun kita memberikan mutasi pada genome organisme, DNA dapat melakukan mutasi
ulang ke keadaan awalnya. Walau begitu, sebaliknya lah yang terjadi genome sangat plastis
dan perubahan genetik diwariskan dan pada dasarnya irreversible (Lewin 1999).

24. Ditemukannya fosil dinosaurus berdampingan dengan fosil manusia di lapisan


umur yang sama
Penyangkalannya akan sangat sederhanasedimen dari bumi dapat mengandung
komposisi spesies yang sangat serupa dengan kehidupan modern sejauh yang bisa kita
lihat dalam lapisan berurutan.

25. Ditemukannya spesies yang tidak berinteraksi dengan spesies lainnya

Bila semua spesies yang dikenal secara genetik sepenuhnya terisolasi satu sama lain,
dan tidak ada hibrida, akan sangat sulit untuk membenarkan secara rasional postulasi jutaan
pada jutaan peristiwa spesiasi bertahap di masa lalu.

26. Tiba-tiba tercipta mahluk hidup begitu saja tanpa proses, misalnya terbukti kalau
manusia tiba-tiba muncul di masa lalu begitu saja dari tanah

Bila tingkat modern yang teramati dari evolusi tidak mampu menunjukkan tingkat yang
ditemukan dalam catatan fosil, teori evolusi akan sangat sulit menjelaskan. ada rumus ini
r = (ln(x2) ln(x1)) / Dt
dimana
r = kecepatan evolusi, satuannya darwin
x1 = nilai rata-rata karakter pada sampel pertama
x2 = nilai rata-rata karakter pada sampel kedua
Dt = selisih waktu geologis sampel pertama dan sampel kedua

nah, karakter tersebut bisa masa reproduksi, panjang gigi, panjang kaki, dsb. Karakter apapun
sejauh bisa di kuantifikasi.
Seandainya equus muncul secara mendadak pada masa kenozoikum akhir nilainya bisa lebih
dari 80 ribu darwin, tapi nilainya ternyata sekitar 400 darwin. Kalau ditemukan kecepatan
4000 darwin dalam catatan fosil , teori evolusi dapat runtuh.

27. Ditemukan ketidaksesuaian yang nyata antara laju mutasi dengan bukti fosil

Dapat terjadi kalau mutasi genetik yang diukur dalam pengamatan organisme modern
besarnya kurang dari yang diperlukan oleh tingkat catatan fosil dan persebaran
barisan.

Nah, silakan anda yang berniat meruntuhkan teori evolusi mencoba menemukan salah satu
dari 27 hal di atas. Selamat ber eksperimen, melakukan pengamatan dan semua langkah
ilmiah. Siapa tahu beberapa tahun ke depan, anda mendapatkan nobel di bidang kedokteran
dan fisiologi.