Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pala merupakan tanaman asli Indonesia (De Guzman dan Siemonsma, 1999)
sehingga dapat ditemukan dengan mudah di Indonesia. Tanaman pala merupakan
tanaman multiguna yang dapat dimanfaatkan hampir seluruh bagian tanamannya.
Tanaman pala dapat dimanfaatkan pada bagian daging buah, biji dan kelopak biji
(fuli) pala, daun, dan batangnya. Biji pala merupakan salah satu komoditas
eksport Indonesia. Maluku merupakan daerah penghasil pala (Myristica fragrans
Houtt) yang terbesar di Indonesia (Bustaman, 2008).
Produksi pala Indonesia pada tahun 2000 sekitar 20 ribu ton yang dihasilkan
di atas areal 60,6 ribu ha (Ditjen Perkebunan, 2000 dalam Marzuki, 2007). Pada
tahun 2000, Indonesia mengekspor sekitar 8 ton biji pala dan lebih dari satu ton
fuli ke berbagai negara (Anonim, 2001 dalam Marzuki, 2007). Biji pala
merupakan hasil utama yang memiliki nilai ekonomi tinggi dari tanaman pala.
Menurut Lawless (2002), biji pala yang diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa,
selain digunakan sebagai rempah dan oleoresin, juga disuling minyak atsirinya.
Saat ini Indonesia memasok 76% kebutuhan pala dunia dan sisanya 20% dari
Grenada, dan 5% dari Sri Lanka, Trinidad dan Tobago (Marks dan Pomeroy,
1995).
Pemanfaatan biji pala pada umumnya digunakan sebagai penyedap makanan
dalam bentuk bubuk. Selain itu, biji dan fuli pala dapat menghasilkan minyak
atsiri yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Ekspor minyak pala
Indonesia pada tahun 2011 tercatat sebesar 400 ton dengan nilai USD 24 juta
(Mulyadi, 2012). Minyak pala merupakan salah satu minyak atsiri yang
permintaannya cukup tinggi di pasar internasional. Minyak pala dikenal pula
dengan nama oleum myristicae, oleum myrist atau minyak miristica. Minyak ini
mudah menguap dan didapat dari hasil destilasi uap (penyulingan) biji pala dan
fuli (Purseglove et al, 1995).

1
2

Hasil penyulingan biji pala Banda oleh Idrus dkk (2014) menggunakan alat
penyulingan yang dibuat di Baristand Industri Ambon menghasilkan rendemen
sebesar 12,5%. Hasil tersebut lebih besar dari yang telah dilaporkan sebelumnya
oleh Lawless (2002) bahwa kadar minyak dalam biji pala Banda berkisar antara 8
sampai 12%. Mamun (2013), melaporkan bahwa kandungan minyak atsiri biji
pala Papua sebesar 3,11%, sedangkan sebelumnya Kartini (2005) telah
melaporkan bahwa rendemen minyak atsiri biji pala Papua berkisar antara 2,25-
3,35%. Rendemen tersebut juga lebih besar dengan yang dihasilkan oleh pengrajin
penyulingan minyak pala di Banda yang hanya berkisar 8-10%.
Komponen minyak biji pala menurut Idrus dkk (2014) camphene, elemicin,
eugenol, isoelemicin, isoeugenol, methoxyeugenol dan elimicin (Chirathaworn et
al., 2007). Sabinene (41.7%), -pinene (9.4%), -pinene (7.3%), terpine-4-ol
(5.8%), limonene (3.7%), safrole (1.4%) dan myristicin (2.7%) juga teridentifikasi
pada minyak biji pala (Pal, et al., 2011). Senyawa-senyawa penting lainnya seperti
alkaloid, saponin, anthraquinon, cardiac glikosida, flavonoid dan phlobatanin juga
terdeteksi pada ekstrak fasa cair pala (Olaleye, et al., 2006). Selain itu, menurut
Nurdjannah (2007) miyak pala juga mengandung komponen yang bersifat tidak
menguap ( fixed oil ) diantaranya trimiristin (73,09%), minyak atsiri (12,2%),
asam miristat, gliserida asam laurat, stearat dan palmitat (Devi, 2009)
Asgarpanah dan Kazemiyaz (2012) melaporkan bahwa trimiristin, bersama
dengan asam miristat, miristisin dan elimisin memiliki aktivitas sebagai anti
oksidan, anticonvulsant, analgesik, anti imflammasi, anti diabet, anti bakteri dan
anti jamur. Trimiristin juga dapat diolah menjadi senyawa turunannya, yaitu asam
miristat dan miristil alkohol. Bahan-bahan tersebut banyak digunakan dalam
pembuatan sabun, detergen, dan bahan kosmetika lainnya, seperti shampo, lipstik,
losion. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor trimiristin dan asam miristat
dari luar negeri. Mengingat Indonesia merupakan penghasil terbesar bahan baku
biji pala di dunia maka peluang untuk mengisolasi trimiristin dan asam miristat di
dalam negeri sangatlah besar, sementara teknologi untuk produksi trimiristin
cukup sederhana dan industri-industri pengguna trimiristin dan turunannya
tersebut terus berkembang (Mamun, 2013).
3

Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini penting untuk dilakukan untuk


mengekstrak trimiristin dan asam miristat dari biji buah pala agar dapat digunakan
sebagai bahan kosmetik lokal sehingga indonesia tidak perlu mengimpor dari luar
Negeri.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, berikut rumusan masalah yang
dipertimbangkan:
1. Bagaimana cara isolasi asam miristat dari buah pala?
2. Bagaimana rendemen asam miristat yang diperoleh dari hasil isolasi?
3. Bagaimana hasil spektra asam miristat menggunakan instrumen UV-Vis, FTIR,
HNMR dan GC-MS?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara isolasi trigliserida dari buah pala.
2. Untuk mengetahui rendemen asam miristat yang diperoleh dari hasil isolasi.
3. Untuk mengetahui hasil spektra asam miristat menggunakan instrumen
Spektrofotometer UV-Vis, FTIR, HNMR dan GC-MS.

1.4 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah dari penelitian ini antara lain yaitu :
1. Sampel yang digunakan adalah biji buah pala yang diperoleh di pasar
Merjosari.
2. Senyawa yang diekstraksi adalah trimiristin
3. Senyawa yang diisolasi ialah asam miristat
4. Metode ekstraksi trimiristin yang digunakan adalah ekstraksi soxhlet dan
metode isolasi asam mirirstat digunakan metode refluks.
4

1.5 Manfaat
Adapun manfaat penelitian inia diantaranya ialah :
1. Dapat diperoleh senyawa trimiristin dan asam miristat
2. Dapat mengetahui metode isolasi senyawa asam lemak dari trigliserida dari
bahan alami