Anda di halaman 1dari 4

Hadits sering sekali digunakan sebagai penguat dalil terhadap sesuatu yang masih belum jelas

hukumnya. Pengertian dari hadits sendiri adalah sebuah sabda atau perkataan, perbuatan dan
ketetapan serta persetujuan Rasulullah SAW yang digunakan sebagai landasan hukum Islam
setelah Alquran.

Banyak sekali hadits-hadits yang ada di dunia ini, namun perlu diketahui bahwa tidak semua
hadits itu shahih. Untuk itulah kita perlu untuk mengetahui berbagai macam jenis-jenis hadits
agar kita tidak tersesat dengan dalil-dalil dari hadits palsu.

Yang Harus diketahui Tentang Hadits

1. Sanad dan Matan

Seperti kita ketahui bahwa sanad/isnad dan matan merupakan dua komponen utama dalam
hadits. Lalu apakah itu sanad?

Sanad adalah seorang yang menuturkan hadits atau meriwayatkannya, atau mudahnya adalah
orang yang menuturkan hadits atau periwayat hadits yang dimulai dari orang yang mencatat
hadits tersebut hingga sampai ke Rasulullah. Contoh sanad: "Musaddad mengabari bahwa
Yahya sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW
bahwa beliau bersabda: ...", sehingga sanad dalam hadits tersebut adalah Musaddad -->
Yahya --> Syubah --> Qatadah --> Anas --> Nabi Muhammad.

Selain sanad ada pula rawi, yakni orang yang menyampaikan hadits. Adapun ciri-ciri ideal
seorang rawi antara lain:

Bukan pendusta atau tidak dituduh sebagai pendusta


Tidak banyak salahnya, Teliti
Tidak fasik
Tidak dikenal sebagai orang yang ragu-ragu (peragu)
Bukan ahli bid'ah
Kuat ingatannya (hafalannya)
Tidak sering bertentangan dengan rawi-rawi yang kuat
Sekurangnya dikenal oleh dua orang ahli hadits pada jamannya.

Matan ialah redaksi hadits atau isi dari hadits. Sebagai contoh matan: "Tidak sempurna iman
seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya
sendiri."

Jenis Hadits Berdasarkan Tingkat Keasliannya

Seperti yang sudah dikatakan diatas, bahwa dalam mengutip sebuah hadits tidak boleh
dilakukan dengan sembarangan. Karena ada juga hadits-hadits yang tidak asli alias palsu.
Tapi mirisnya ada banyak sekali hadits-hadits palsu tetapi sangat populer dikalangan
masyarakat. Untuk mengertahui jenis hadits berdasarkan tingkat keasliannya, berikut adalah
penjelasannya.

1. Hadits Shahih

Hadits shahih yaitu hadits yang sudah tidak diragukan lagi keasliannya, sehingga sudah pasti
hadits tersebut asli selama tidak menyalahi syarat-syarat berikut:

1. Sanadnya bersambung (lihat Hadits Musnad di atas);


2. Diriwayatkan oleh para penutur/rawi yang adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak
baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
3. Pada saat menerima hadits, masing-masing rawi telah cukup umur (baligh) dan
beragama Islam.
4. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab
tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits (illat).

2. Hadits Hasan

Hadits hasan hampir sama dengan hadits shahih, namun memiliki beberapa kelemahan yaitu
pada rawi. Biasanya pada rawi terdapat rawi yang kurang baik ingatannya.

3. Hadits dhoif

Hadits dho'if adalah hadits lemah dilihat dari sanadnya yang tidak bersambung, terdapat
periwayat yang lemah ingatannya-bahkan pembohong, terdapat kejanggalan dalam matan-
nya. Oleh karena itu, hadits-hadits yang dianggap dha'if tidak boleh dijadikan landasan untuk
menetapkan sesuatu.

4. Hadits Maudhu'

Sedangkan hadits maudhu adalah hadits yang dicurigai sebagai hadits palsu. Adapun ciri-ciri
hadits tersebut adalah: dalam sanadnya terdapat periwayat pembohong, matan-nya
bertentangan dengan Al-Qur'an, bahasanya jelek, mengandung unsur dongeng yang tidak
masuk akal.

Hadits ini haris ditolak salah satu contoh hadits tersebut adalah: "Laba - laba itu adalah setan
yang dirubah bentuknya oleh Allah, maka bunuhlah binatang itu."

Jenis Hadits Berdasarkan Jumlah Penuturnya

1. Hadits Mutawattir

Hadits mutawattir adalah hadits yang diriwayatkan oleh beberapa orang atau sanadnya
banyak sehingga tidak mungkin hadits tersebut hadits dusta atau palsu.
2. Hadits Ahad

Hadits Ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih namun tidak memenuhi
persyaratan hadits mutawattir.

Jenis Hadits Berdasarkan Ujung Sanad

1. Hadits Marfu'

Hadits ini adalah hadits yang sanadnya berujung langsung kepada Rasulullah SAW.

2. Hadits Mauquf

Hadits ini adalah hadits yang sanadnya terhenti pada sahabat nabi dan tidak memiliki tanda-
tanda marfu'

3. Hadits Maqtu'

Yaitu hadits yang sanadnya terhenti kepada para Tabi'in (orang yang pernah bertemu sahabat
nabi).

Berdasarkan Keutuhan Sanad

Sebagai ilustrasi sanad: Pencatat Hadits > penutur 4 > penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) >
penutur 1(sahabat) > Rasulullah SAW

1. Hadits Musnad = yaitu hadits yang urutan sanadnya tidak terpotong pada bagian
tertentu.
2. Hadits Mursal = yaitu hadits yang penutur 1 tidak ditemui, dengan kata lain seorang
tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW.
3. Hadits Munqati' = yaitu hadits yang sanadnya terputus pada penutur ke 3 atau ke 4.
4. Hadits Mu'dal = yaitu hadits yang terputus pada dua generasi berturut2.
5. Hadits Mu'allaq = yaitu hadits yang terputus dari penutur ke 4 sampai penutur ke 1.

Itulah hadits berdaasarkan keutuhan sanad.

Hadits Qudsi

Anda tentu pernah mengenal istilah hadits qudsi bukan? Hadits qudsi adalah hadits yang
berisi firman Allah yang langsung diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW namun tidak
sama dengan Alquran, kata-katanya adalah kata-kata Rasulullah. Hadits ini juga harus diukur
ke sahihannya sebagaimana hadits-hadits yang lainnya.

Mengenal Para Ahli Hadits dan Kitabnya


Ahli hadits yaitu orang yang mengetahui tentang hadits, mereka juga mengumpulkan,
mendaftar, menyeleksi dan menuliskan hadits-hadits dalam suatu kitab hadits. Dikenal
sebagai mudawwin atau mukharrij. Adapun para periwayat hadits yang dikenal hingga saat
ini antara lain:

Shahih Bukhari, disusun oleh Bukhari (194-256 H).


Shahih Muslim, disusun oleh Muslim (204-262 H).
Sunan Abu Dawud, disusun oleh Abu Dawud (202-275 H).
Sunan at-Turmudzi, disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H).
Sunan an-Nasa'i, disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H).
Sunan Ibnu Majah, disusun oleh Ibnu Majah (209-273).
Musnad Ahmad, disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H).
Muwatta Malik, disusun oleh Imam Malik (93-179 H).
Sunan Darimi, disusun oleh Ad-Darimi (181-255 H).