Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ekologi Tumbuhan

ASOSIASI DAN POLA PENYEBARAN POPULASI KOMUNITAS


TUMBUHAN DI LINGKUNGAN LABORATORIUM PMIPA FKIP
UNIVERSITAS RIAU

Nita Triana
1305122688
nitatriana63@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian praktikum ekologi tumbuhan ini bertujuan untuk mengetahui


asosiasi dan pola penyebaran populasi komunitas tumbuhan di lingkungan
laboratorium PMIPA FKIP Universitas Riau. Praktikum pola penyebaran
populasi komunitas tumbuhan dilakukan pada tanggal 26 maret 2016,
sedangkan praktikum interaksi antar spesies anggota populasi tumbuhan
dilakukan pada tanggal 2 april 2016. Hasil yang didapat pertama mengenai
pola penyebaran populasi komunitas tumbuhan dengan menghitung jumlah
individu setiap jenis dalam plot per satuan meter persegi, sedangkan hasil data
kedua menghitung jumlah sampel dalam plot kemudian melakukan analisis
asosiasi antar spesies tumbuhan di dalam plot. Hasil data menunjukan pola
penyebaran populasi adalah merata dan mengelompok. Interaksi antar spesies
menunjukkan angka 5,6 menunjukkan adanya asosiasi positif sedangkan untuk
asosiasi antar spesies menunjukkan angka -0,16 yang berarti terjadi asosiasi
negatif lemah.

Kata kunci : populasi, pola penyebaran, interaksi antar spesies

PENDAHULUAN menduduki ruang atau tempat


tertentu, memiliki berbagai ciri atau
Organisme hidup di alam sifat yang merupakan sifat milik
tidak berdiri sendiri-sendiri atau individu di dalam kelompok itu.
tidak hidup sendiri-sendiri, Populasi mempunyai sejarah hidup
melainkan menjadi satu kumpulan dalam arti mereka tumbuh,
individu-individu yang menempati mengadakan pembedaan-
suatu tempat tertentu, sehingga pembedaan dan memelihara diri
antarorganisme akan terjadi seperti yang dilakukan oleh
interaksi. Interaksi-interaksi yang organisme. Sifat-sifat kelompok
terjadi dapat merupakan interaksi seperti laju kelahiran, laju kematian,
antar individu dari spesies yang perbandingan umur, dan kecocokan
sama, dapat juga merupakan genetik hanya dapat diterapkan
interaksi antar individu dari spesies pada populasi (Odum,1993).
yang berbeda (Indriyanto, 2008). Interaksi yang terjadi
Populasi didefinisikan antarspesies anggota populasi akan
sebagai kelompok kolektif mempengaruhi terhadap kondisi
organisme. Organisme dan spesies populasi mengingat keaktifan atau
yang sama ( kelompok-kelompok tindakan individu dapat
lain di mana individu-individu mempengaruhi kecepatan
dapat bertukar informasi genetika ) pertumbuhan ataupun kehidupan

Page 1
Jurnal Ekologi Tumbuhan

populasi. Menurut Odum (1993), berbeda dalam toleransinya


setiap anggota populasi dapat terhadap lingkungan, salah satunya
memakan 13 anggota - anggota ada kemungkinan mempunyai
populasi lainnya, bersaing terhadap kemampuan yang sangat baik dalam
makanan, mengeluarkan kotoran toleransinya terhadap kondisi
yang merugikan lainnya, dapat lingkungan yang ekstrim daripada
saling membunuh, dan interaksi rata-rata anggota populasi lainnya.
tersebut dapat searah ataupun dua Dengan demikian kehetrogenan
arah (timbal balik). Oleh karena itu, struktur gena dari anggota populasi
dari segi pertumbuhan atau mempersiapkan populasi terhadap
kehidupan populasi, interaksi kehancurnnya akibat lingkungan,
antarspesies anggota populasi dapat misal terhadap kemarau yang
merupakan interaksi positif, negatif panjang.
atau nol. Untuk mengetahui apakah
Assosiasi merupakan salah penyebaran individu didalam suatu
satu bentuk dari interaksi dalam populasi dalam suatu vegetasi dapat
suatu populasi. Assosiasi adalah dilakukan pengamatan, dari hasil
suatu tipe komunitas yang khas, pengamatan teersebut akan
ditemukan dengan kondisi yang didapatkan bentuk penyebaran,
sama dan berulang di beberapa diantaranya secara acak, merata,
lokasi. Assosiasi dicirikan dengan atau berkelompok (Anonim, 2011).
adanya komposisi floristik yang Tumbuhan berbagai jenis
mirip, memiliki fisiognomi yang hidup decara alami di suatu tempat
seragam dan sebarannya memiliki membentuk suatu kumpulan yang di
habitat yang khas (Daubenmire, dalamnya menemukan lingkungan
1968; Mueller-Dombois dan yang dapat memenuhi kebutuhan
Ellenberg, 1974; Barbour et hidupnya. Dalam kumpulan ini
al.,1999). Assosiasi terbagi menjadi terdapat kerukunan untuk hidup
assosiasi positif dan assosiasi bersama, toleransi kebersamaan dan
negatif. Asosiasi positif terjadi hubungan timbal balik yang
apabila suatu jenis tumbuhan hadir menguntungkan sehingga dalam
secara bersamaan dengan jenis kumpulan ini terbentuk sutu derajat
tumbuhan lainnya dan tidak akan keterpaduan (Resosoedarmo,
terbentuk tanpa adanya jenis 1990).
tumbuhan lainnya tersebut. Suatu komunitas dapat
Assosiasi negatif terjadi apabila mengkarakteristikkan suatu unit
suatu jenis tumbuhan tidak hadir lingkungan yang mempunyai
secara bersamaan (McNaughton kondisi habitat utama yang
dan Wolf, 1992). seragam. Unit lingkungan ini
Salah satu jalan suatu disebut biotop. Biotop ini juga
populasi lokal dapat teradaptasi dapat dicirikan oleh unsur
terhadap suatu lingkungan adalah organismenya, misalnya padang
dengan pengembangan dan alang-alang, hutan tusam, hutan
pengelolaan diversitas genetikanya cemara, rawa kumpai, dan
melalui reproduksi seksual dalam sebagainya (Santoso, 1994).
populasi. Hasilnya adalah Penyebaran atau distribusi
sekelompok atau susunan individu- individu dalam duat populasi
individu yang masing-masing bermacam-macam, pada umumnya

Page 2
Jurnal Ekologi Tumbuhan

memperlihatkan tiga pola Penyebaran acak (random


penyebaran, yaitu (Surasana, 1990) dispersion) juga sangat jarang
:1. Penyebaran secara acak, jarang terjadi dialam. Penyebaran
terdapat di alam. Penyebaran ini semacam ini biasanya terjadi
biasanya terjadi apabila faktor apabila factor lingkunganya sangat
lingkungan sangat seragam untuk seragam unuk seluruh daerah
seluruh daerah dimana populasi dimana populasi berada, selain itu
berada, selain itu tidak ada sifat- tidak ada sifat sifat untuk
sifat untuk berkelompok dari berkelompok dai organisme
organisme tersebut. Dalam tersebut,, dalam tumbuhan ada
tumbuhan ada bentuk-brntuk organ bentuk bentuk organ tertentu yang
tertentu yang menunjang untuk menunjang untuk terjadinya
terjadinya pengelompokan pengelompokan tumbuhan
trmbuhan. 2. Penyebaran secara (Surasana, 1990).
merata, penyebaran ini umumnya Interaksi spesies anggota
terdapat pada tumbuhan. populasi merupakan suatu kejadian
Penyebaran semacam ini terjadi yang wajar di dalam suatu
apabila da persaingan yang kuat komunitas, dan kejadian tersebut
antara individu-individu dalam mudah dipelajari. Interaksi yang
populasi tersebut. Pada tumbuhan terjadi antarspesies anggota
misalnya persaingan untuk populasi akan memengaruhi
mendapatkan nutrisi dan ruang.3. terhadap kondisi populasi karena
Penyebaran secara berkelompok, tindakan individu dapat
penyebaran ini yang paling umum memengaruhi kecepatan
terdapat di alam. pertumbuhan ataupun kehidupan
Penyebaran adalah pola tata populasi. Menurut Odum (1993),
ruang individu yang satu relative setiap anggota populasi dapat
terhadap yang lain dalam populasi. memakan anggota-anggota populasi
Penyebaran atau distribusi individu lainnya, bersaing terhadap
dalam satu populasi biasbermacam makanan, mengeluarkan kotoran
macam, pada umumnya yang merugikan lainnya, dapat
memperlihatkan tiga pola saling membunuh, dan interaksi
penyebaran, yaitu : enyebaran tersebut dapat searah ataupun dua
secara acak, penyebaran secara arah (timbal balik). Oleh karena itu,
merata, dan penyebaran dari segi pertumbuhan atau
berkelompok (Rahardjanto, 2001) kehidupan populasi, interaksi
Penyebaran secara teratur (regular antarspesies anggota populasi dapat
dispersion) dengan individu berupa interaksi yang positif,
individu yang kurang lebih berjarak negatif dan nol.Dengan kata lain,
sama satu dengan yang lain, jarang anggota-anggota populasi saling
terdapat di alam, tetapi umumnya di bersaing dan berkompetisi untuk
dalam suatu ekosistem yang mempertahankan kehidupan untuk
dikelola, dan disini tanaman atau eksis pada tempat tertentu.
pohon memang sengaja datur Persaingan yang terjadi antara
seperti itu yaitu jarak yang sama organisme-organisme tersebut
untuk menghasilkan produk yang mempengaruhi pertumbuhan dan
optimal (Setiono, 1999). hidupnya, dalam hal ini bersifat
merugikan (Odum, 1993). Setiap

Page 3
Jurnal Ekologi Tumbuhan

organisme yang berinteraksi akan di antara lain makanan atau zat hara,
rugikan jika sumber daya alam sinar matahari, dan lain lain
menjadi terbatas jumlahnya. Yang (Setiyadi,1989).
jadi penyebab terjadinya persaingan

METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam


Penelitian ini dilaksanakan analisis pola penyebaran populasi
di Laboratorium PMIPA Pendidikan adalah metode analisis pola
Biologi, FKIP Universitas Riau penyebaran bdengan metode plot
pada tanggal 26 Maret2016 dan 2 yaitu dengan pola penyebaran
April 2016. Alat dan bahan yang Poisson dengan rumus
digunakan adalah tali rafia, patok
kayu,alat tulis, dan buku catatan.

S2= EX2 ( Exi)2 l N


( N-1)
S2 = Variasi
Xi = Jumlah individu pada sampel ke I
N = Jumlah plot/sampel
Jika variasi/X rata-rata = 1, maka pola penyebaran adalah acak
Jika variasi/X rata-rata < 1, maka pola penyebaran adalah merata
Jika variasi/X rata-rata > 1, maka pola penyebaran adalah mengelompok

Sedangkan metode asosiasinya.Spesies 1


yang digunakan untuk Cyperus rotundus dan
analisis interaksi anggota spesies 2 Boreria
spesies dalam populasi yaitu Sp.menempatkan kuadrat
dengan teknik koefisien. sebanyak 10 plot sepanjang
Langkah kerja yang transek, mencatat kehadiran
dilakukan yatitu spesies tumbuhan yang
menentukan lokasi untuk diamati pada setiap kuadrat,
mengamati tingkat asosiasi menguji data dengan Khi
spesies tumbuhan, membuat Kuadrat pada taraf 5 %
transek dengan tali raffia, dengan df = 1 adalah 3,8.
menentukan spesies Koefisien interaksi
tumbuhan yang akan diperoleh dengan rumus
ditentukan derajat

X2 = n { (ad bc) n/2 }2


(a+c) (b+d)(a+b)

Dalam analisis asosiasi dengan tabel chi kuadrat

V = ad bc

(a+b) (c+d)(a+c)(b+d)

Page 4
Jurnal Ekologi Tumbuhan

a = jumlah sampel yang ditempati oleh spesies A dan B


b = jumlah sampel yang hanya ditempati oleh spesies B saja
c = jumlah sampel yang hanya ditempati oleh spesies A saja
d = jumlah sampel yang tidak ditempati

PEMBAHASAN
1. Pola penyebaran populasi
Tabel 1. Luas tutupan tajuk (kerimbunan) jenis-jenis tumbuhan pada masing-
masing plot pengamatan
Jumlah Individu pada Plot Ke X
No. Jenis
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Cyperus rotundus 2
-
1 1
-
2
6 4 3 4 86
4 4 1 0
2 Pennisetum 1
2
1 1
8 7 11 8 4 5 89
purpureum 3 5 6
3 Spesies A
9
1
3 2
1
9 8 8 5 - 67
0 3
4 Spesies B - - - - 1 - 6 3 6 - 16
5 Cyperus rotundus - - - - - - - - 3 - 3
6 Arachis hypogaea - 3 - - - - - - - - 3
4 1 3 2 2 3 2 2
Total 31 9 264
6 5 2 9 2 6 3 1

Tabel 2. Koefisien Interaksi (S2) Tiap Jenis


No
Jenis Koefisien Interaksi (S2) Pola Penyebaran
.
1 Cyperus rotundus 8,14 mengelompok
2 Pennisetum purpureum 0,022 merata
3 Spesies A 5,59 mengelompok
4 Speseis B 2,82 mengelompok
5 Cyperus rutundus 3 mengelompok
6 Arachis hypogaea 3 mengelompok

Pada tabel pertama dilihat penyebaran yang umum terdapat di


masing masing plot memiliki alam karena faktor nutrisis dalam
jumlah yang berbeda beda, namun tanah. Hal ini sesuai dengan
pada spesies Pennisetum pendapat Surasana (1990).
purpureum adalah spesies yang Penyebaran secara merata
paling menyebar menyebar, umumnya terdapat pada tumbuhan.
sedangkan pada spesies lainnya Penyebaran semacam ini terjadi
pola penyebarannya adalah apabila ada persaingan yang kuat
mengelompok. Pola penyebaran antara individu-individu dalam
menyebar pada Pennisetum populasi tersebut. Pada tumbuhan
purpureum disebabkan oleh misalnya persaingan untuk
persaingan yang kuat antara mendapatkan nutrisi dan ruang.3.
individu rumput gajah untuk Penyebaran secara berkelompok,
mendapat dan ruang. Sedangkan penyebaran ini yang paling umum
pola penyebaran mengelompok terdapat di alam.
pada spesies lain adalah pola

Page 5
Jurnal Ekologi Tumbuhan

2. Interaksi Antar Spesies Anggota Populasi

Tabel 3. Keberadaan jenis tumbuhan pada masing-masing plot pengamatan


N Keberadan Jenis pada Plot Ke
Jenis
o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Plot I
1 Cyperus rotundus
2 Boreria sp. - -
Plot II
1 Cyperus rotundus - - - -
2 Boreria sp.

Keterangan : = ada

- = tidak ada

Koefisien Interaksinya yaitu 5,6 > 3,84 berarti terjadi asosiasi positif
antara Cyperusrotundus dan Boreria sp.

Asosiasi antar spesiesnya yaitu 0,16 berarti terjadi asosiasi negative


lemah

Berdasarkan perhitungan pada bilangan negatif yang artinya terjadi


tabel menunjukkan bahwa koefisien asosiasi negatif lemah antara
asosiasi atau derajat interspesifik Cyperus rotundus dan Boreria sp.
dari pengamatan yang dilakukan Apabila kehadiran pasangan spesies
menunjukkan asosiasi positf. Ini yang ingin dilihat asosiasinya
artinya kedua spesies itu saling rendah, maka indeks asosiasinya
mempengaruhi keberadaannya. Jika juga rendah. Demikian halnya
dua populasi saling menarik satu dengan penghitungan Djufri
sama lain, maka mereka akan ada (2002), menegaskan bahwa
dalam bentuk asosiasi positif. sesungguhnya yang paling baik
Sedangkan pada perhitungan adalah penggabungan kedua teknik
asosiasi antar spesies menunjukkan tersebut. Barbour et al. (1999),

Page 6
Jurnal Ekologi Tumbuhan

menyebutkan bahwa bila jenis kehidupan populasi, interaksi


berasosiasi secara positif maka akan antarspesies anggota populasi dapat
menghasilkan hubungan spasial berupa interaksi yang positif,
positif terhadap pasangannya. Jika negatif dan nol. Dengan kata lain,
satu pasangan didapatkan dalam anggota-anggota populasi saling
sampling, maka kemungkinan besar bersaing dan berkompetisi untuk
akan ditemukan pasangan lainnya mempertahankan kehidupan untuk
tumbuh di dekatnya. Oleh karena eksis pada tempat tertentu.
itu, dari segi pertumbuhan atau

KESIMPULAN
Pola penyebaran populasi omunitas sp memiliki asosiasi positif
tumbuhan dan asosiasi antar spesies sedangkan untuk asosiasi antar
di lingkungan laboratorium PMIPA spesies menunjukkan angka asosiasi
FKIP Universitas Riauadalah negatif lemah.
merata dan mengelompok. Asiosiasi
antar Cyperusrotundus dan Boreria

DAFTAR PUSTAKA
Kedua. Penerjemah:
Anonim, 2011.Penyebaran Sunaryono P. dan
Populasi. http://www.wikipe Srigandono. Penyunting:
dia.com. Diakses pada Soedarsono. Yogyakarta:
tanggal 19 April 2016 pukul Gadjah Mada Univ. Press.
20.00 WIB. 22 Info Teknis Dipterokarpa
Barbour, B.M., J.K. Burk, and W.D. Vol. 5 No. 1, September
Pitts. 1999. Terrestrial Plant 2012 : 13 - 23
Ecology. New York: The Mueller-Dombois, D.; H. Ellenberg.
Benjamin/Cummings. 1974. Aimand Methods of
Djufri. 2002. Penentuan pola Vegetation Ecology. John
distribusi, asosiasi dan Willey and Sons. Canada
interaksi spesies tumbuhan Odum, H. , 1993. Ekologi Sistem
khususnya Padang Rumput Suatu
di Taman Nasional Baluran, Pengantar. Universitas
Jawa Timur. Biodiversitas 3 Gadjah Mada. Yogyakarta
(1):181-188. Rahardjanto, A., 2001. Ekologi
Daubenmire, R. 1968. Plant Tumbuhan. UMM Press.
Communities: A Text Book Malang.
of Plant Synecology. New Resosoedarmo, Soedjiran,.
York: Harper & Row 1984. Pengantar Ekologi. PT
Publishers.Indriyanto, 2008. Remaka Rosdakarya. Bandung
Ekologi Hutan. Bumi Santoso, 1994. Ekologi Umum.
Aksara. Jakarta. UMM Press. Malang.
Indriyanto. 2006. Ekologi Surasana,syafeieden.
Hutan. Bumi Aksara: 1990. Pengantar Ekologi
Jakarta Tumbuhan. FMIPA Biologi
McNaughton, S.J. and W.L. Wolf. ITB. Bandung
1992. Ekologi Umum. Edisi

Page 7
Jurnal Ekologi Tumbuhan

Setiadi, D., 1989. Dasar-dasar


Ekologi. Pusat Antar Ilmu
Hayat. IPB, Bogor.

Page 8

Anda mungkin juga menyukai