Anda di halaman 1dari 62

PEDOMAN RUJUKAN

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)


PROVINSI JAWA TIMUR

TAHUN 2016

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... iii
I. Pendahuluan .............................................................................................. 1
II. LandasanHukum ........................................................................................ 3
III. Definisi dan Ketentuan Umum ................................................................... 5
IV. Ruang Lingkup ........................................................................................ 10
V. Tujuan ..................................................................................................... 16
VI. Jenjang Rujukan UKM dan Kewenangan ................................................. 16
A. Jenjang Kecamatan ............................................................................ 17
B. Jenjang Kabupaten/Kota .................................................................... 18
C. Jenjang Provinsi ................................................................................. 19
VII. Pertimbangan Upaya Kesehatan Masyarakat ............................................ 20
VIII. Jenis Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat ............................................ 23
A. Rujukan dari Pelayanan Kesehatan ..................................................... 23
B. Rujukan Dari Masyarakat ................................................................... 25
C. Rujukan Lintas Batas dan Perbatasan ................................................. 25
D. Rujukan pada Kondisi Bencana Alam, Wabah, dan Kejadian Luar Biasa
(Force Mayeur) .................................................................................. 25
E. Rujukan Program Penyakit Khusus Tertentu ...................................... 26
IX. Alur Sistem Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Jawa Timur.............. 26
A. Penjelasan Skema Alur rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Provinsi
Jawa Timur ........................................................................................ 27
B. Peran Dinas Provinsi Jawa Timur ....................................................... 29
C. Peran Dinas Kabupaten/Kota ............................................................. 30
X. Tata Laksana dan Prosedur rujukan UKM .......................................... 30
A. Tata Laksana Rujukan ........................................................................ 31
B. Prosedur Merujuk Masalah Kesehatan Masyarakat............................. 31
C. Prosedur Menerima Rujukan .............................................................. 35
D. Prosedur Membalas Rujukan UKM .................................................... 36
XI. Pembiayaan ............................................................................................. 37
XII. Pencatatan dan Pelaporan......................................................................... 38
A. Pencatatan ................................................................................................... 38
B. Pelaporan..................................................................................................... 40
XIII. Monitoringdan Evaluasi ........................................................................... 41
A. Pengertian Monitoring dan Evaluasi ................................................... 41
B. Tujuan Monitoring dan Evaluasi ........................................................ 43
C. Prosedur Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Sistem Rujukan ........ 44
D. Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Provinsi dalam Monev .. 44
E. Analisis dan Umpan Balik .................................................................. 45
F. Pembinaan dan Pengawasan ............................................................... 46
XIV. Kriteria Keberhasilan ............................................................................... 46
XV. Penutup.................................................................................................... 48

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Alur Rujukan Kesehatan Masyarakat............................................................ 27


Gambar 2 Prosedur Merujukan Masalah Kesehatan Masyarakat .................................... 32

iii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Contoh Surat Rujukan UKM ........................................................... 51


Lampiran 2 Contoh Surat Menerima/Membalas Rujukan UKM ......................... 52
Lampiran 3 Contoh Surat Rujukan Balik ............................................................ 53
Lampiran 4 Matrix Rujukan UKM Provinsi Jawa Timur .................................... 54
Lampiran 5 Contoh Pengisian Matrix Rujukan UKM Provinsi Jawa Timur ........ 55

iv
I. Pendahuluan
Pembangunan Kesehatan diarahkan bukan hanya pada pengobatan
perorangan semata namun juga diarahkan pada pengobatan masalah kesehatan
masyarakat agar terwujud kesehatan yang hakiki. Pembangunan Kesehatan yang
bertujuan untuk dapat mewujudkan Derajat Kesehatan yang setinggi-tingginya,
tidak terlepas dari permasalahan kesehatan yang ada di sekitar masyarakat namun
belum disadari bahwa masalah tersebut merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang sesungguhnya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan pasal 30 ayat (1) menyatakan fasilitas pelayanan kesehatan menurut
jenis pelayanannya terdiri dari Pelayanan Kesehatan Perseorangan dan Pelayanan
Kesehatan Masyarakat, ayat (2) fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan terdiri dari
pelayanan kesehatan tingkat pertama, tingkat dua dan tingkat ketiga, dan dalam
pasal 52 ayat (1) menyatakan bahwa pelayanan kesehatan terdiri atas pelayanan
kesehatan perseorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat, ayat (2) pelayanan
kesehatan meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative. Berbagai upaya penanganan masalah kesehatan masyarakat
ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah
penyakit suatu kelompok dan masyarakat, dilaksanakan secara menyeluruh,
terpadu, berkesinambungan, dan didukung sistem rujukan yang berfungsi secara
mantap.
Sistem rujukan kesehatan masyarakat dapat berupa data masalah kesehatan,
hasil identifikasi atau surveillance, dan pemecahan masalah kesehatan
masyarakat. Rujukan diselenggarakan untuk dapat menyelesaikan masalah
kesehatan masyarakat berdasarkan kewenangan dan kemampuan pembuat
kebijakan pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara cepat, tepat, efektif,
efisien dan dengan tingkat biaya yang sesuai (low cost). Diharapkan penyelesaian
masalah kesehatan yang dipilih dapat mengurangi, mencegah, dan menanggulangi
masalah kesehatan masyarakat yang terjadi sehingga hanya kasus yang benar-
benar tidak mampu dan tidak memiliki kewenangan menangani dirujuk ke
kewenangan yang lebih tinggi atau yang seharusnya.

1
Rujukan merupakan suatu rangkaian kegiatan sebagai respon terhadap
ketidak mampuan suatu pusat pelayanan kesehatan atau fasilitas kesehatan dalam
melaksanakan tindakan medis maupun non medis dalam menyelesaikan masalah
kesehatan masyarakat. Sistem rujukan Kesehatan Masyarakat merupakan suatu
mekanisme pemecahan dan penanganan masalah kesehatan masyarakat yang
berhubungan dengan masalah kelompok masyarakat, namun bukan merupakan
pengobatan perorangan (Upaya Kesehatan Perorangan). Sistem rujukan kesehatan
masyarakat juga dapat diartikan sebagai mekanisme pemecahan masalah yang
terjadi antar fasilitas kesehatan dan atau lembaga yang terkait dalam suatu
jejaring. Dalam arti yang lebih luas, rujukan dapat dimulai dari tingkat masyarakat
sampai ke tingkat layanan kesehatan masyarakat tingkat provinsi dan sebaliknya
(two-way referral) maupun rujukan antar institusi dalam fasilitas kesehatan
tersebut. Sedangkan yang dirujuk dapat berupa data masalah kesehatan, hasil
identifikasi atau surveillance, dan pemecahan masalah kesehatan masyarakat.
Selain itu, sistem rujukan pelayanan kesehatan masyarakat merupakan
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan
tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun
horizontal.
Pelaksanaan sistem rujukan di Provinsi Jawa Timur pada era Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) telah dirumuskan dalam Keputusan Gubernur Jawa
Timur nomor 188/786/KPTS/013/2013 tentang Pelaksanaan Regional Sistem
Rujukan Provinsi Jawa Timur tanggal 25 November 2013. Tujuan kebijakan
tersebut adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas serta kemudahan
akses pelayanan kesehatan pada masyarakat. Selain itu, kebijakan tersebut juga
bertujuan untuk mengatur fasilitas kesehatan, sumber daya manusia di
wilayahnya, serta sebagai landasan untuk memutuskan dan menetapkan petugas
kesehatan, penjamin dan masyarakat dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
yang sesuai kebutuhan, kewenangan pelayanan, serta mengoptimalkan sumber
daya yang dimiliki. Pedoman Teknis Pelaksanaan Regional Sistem Rujukan
Provinsi Jawa Timur sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur nomor
188/786/KPTS/013/2013 diharapkan dapat mengarahkan proses penyelenggaraan
layanan pemecahan masalah perseorangan yang berkualitas dan

2
berkesinambungan dalam satu sistem rujukan yang berfungsi secara efektif,
efisien dan mantap.
Pedoman Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Timur
memiliki integrasi dengan Upaya Kesehatan Perorangan dalam hal masalah
kesehatan yang dapat ditangani menggunakan Rujukan Kesehatan Masyarakat dan
dengan Regional Sistem Rujukan Provinsi Jawa Timur. Pedoman dan surat
Keputusan terkait Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Timur
akan disusun dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur. Pedoman Teknis
Pelaksanaan Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Timur ini
diharapkan dapat mengarahkan proses penyelenggaraan Upaya Kesehatan
Masyarakat yang berkualitas dan berkesinambungan dalam satu sistem rujukan
yang berfungsi secara efektif dan efisien.

II. LandasanHukum
1. UUD 1945 Pasal 28 H ayat 1;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3237);
3. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
4. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456);
5. Undang-Undang No. 25 Tahun 2009, tentang Pelayanan Publik;
6. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
7. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68);
9. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011, tentang Badan Pelaksana Jaminan
Sosial;

3
10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan
Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1991 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3447);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 8737);
13. Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan
Nasional;
14. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/MENKES/PER/VII/2008,
tentang SPM Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota;
15. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 657/MENKES/Per/VIII/2009,
tentang Pengiriman dan Penggunaan Spesimen Klinik, Materi Biologik dan
Muatan Informasinya;
16. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 340/MENKES/PER/III/2010,
tentang Kelasifikasi Rumah Sakit;
17. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 411/MENKES/Per/III/2010 tentang
Laboratorium Klinik;
18. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1464/MENKES/PER/X/I/2010
tentang Ijin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;
19. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2052/MENKES/PER/X/2011
tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
20. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan
Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;
21. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional;

4
22. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2014, Tentang Pusat
Kesehatan Masyarakat;
23. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 462/MENKES/SK/V/2002 Tentang
Safe Community (Masyarakat Hidup Sehat dan Aman);
24. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 828/MENKES/SK/IX/2008
Tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota.

III. Definisi, Gambaran Umum Masalah Kesehatan, dan Ketentuan


Umum

A. Definisi
1) Fasilitas kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif, yang dilakukan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, atau masyarakat baik tingkat dasar maupun tingkat
lanjutan sesuai persyaratan.
2) Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
3) Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.
4) Rumah Sakit Khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan
disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan
lainnya.
5) Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
6) Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
diperlukan,baik secara langsung maupun tidak langsung di sarana
pelayanan kesehatan.

5
7) Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah suatu kejadian kesakitan/kematian
dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam
kurun waktu tertentu.
8) Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah
kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan
lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dpt menimbulkan mala
petaka
9) Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung
jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun
horizontal terhadap kasus penyakit atau masalah penyakit atau
permasalahan kesehatan.
10) Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) adalah setiap kegiatan untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga,
kelompok, dan masyarakat.
11) Rujukan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) adalah rujukan
kasus/spesimen yang diselenggarakan dengan pendekatan kewilayahan
diutamakan untuk tujuan kemudahan akses masyarakat terhadap
pelayanan medik dasar dan atau spesialistik serta subspesialistik yang
bermutu.
12) Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat adalah rujukan masalah
kesehatan masyarakt, sarana dan logistic, tenaga kesehatan, serta
operasinal yang diselenggarakkan dengan pendekatan kewilayahan
secara bertanggung jawab oleh institusi yang kompeten tenaga kesehatan
yang kompeten dan berwenang serta sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah
kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat..

6
B. Gambaran Umum Masalah Kesehatan
Masalah kesehatan bukan hanya masalah penyakit yang diderita
perseorangan namun juga masalah kesehatan keluarga, kelompok, dan
masyarakat. Masalah kesehatan terdiri dari 3 macam yaitu:
1) Masalah Penyakit (individu)
Masalah penyakit merupakan masalah kesehatan yang ditujukan pada
individu berupa sakit yang diderita setiap individu dengan penanganan
melalui Upaya Kesehatan Perorangan (UKP). UKP adalah suatu kegiatan
dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan
akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan. Rujukan UKP
dilakukan dalam bentuk pengiriman pasien, spesimen, dan pengetahuan
tentang penyakit dengan memperhatikan kendali mutu dan kendali biaya.
Masalah yang ditangani pada UKP berupa penyakit yang diderita oleh
seorang indivisu termasuk umum dan jiwa dengan dampak masalah ke
masyarakat lebih kecil dibandingkan masalah kesehatan masyarakat dan
masalah kesehatan ganda. Masalah penyakit perorangan biasanya tergolong
pada penyakit yang tidak menular.
2) Masalah Kesehatan Masyarakat (keluarga, kelompok, dan masyarakat)
Masalah Kesehatan masyarakat merupakan masalah kesehatan yang
memiliki dampak cukup besar terhadap keluarga, kelompok, atau masyarakat
dan dapat ditangani menggunakan mekanisme Upaya Kesehatan Masyarakat
(UKM). UKM adalah Setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang
dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk
pencegahan penyakit, menanggulangi timbulnya masalah kesehatan,
peningkatan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat dengan sasaran
keluarga, kelompok dan/atau masyarakat. Upaya kesehatan diharapkan dapat
menunjang dan menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Masalah
kesehatan masyarakat berhubungan dengan perilaku masyarakat dan
lingkungan masyarakat itu sendiri. Contoh kasus masalah kesehatan
masyarakat diantaranya adalah kebiasaan merokok, PHBS rendah, lingkungan

7
tidak sehat, pola makan tidak sehat, dll. Rujukan Upaya Kesehatan
Masyarakat dibedakan atas tiga macam:
a Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging,
peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual,
bantuan obat, vaksin, bahan-bahan habis pakai dan bahan makanan.
b Rujukan tenaga antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyelidikan
kejadian luar biasa, bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan,
penanggulangan gangguan kesehatan karena bencana alam.
c Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya masalah kesehatan
masyarakat dan tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan
masyarakat dan atau penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat
(antara lain Upaya Kesehatan Sekolah, Upaya Kesehatan Kerja, Upaya
Kesehatan Jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas
tidak mampu.
3) Masalah Kesehatan yang mencangkup masalah penyakit dan masalah
kesehatan masyarakat.
Masalah kesehatan yang mencangkup masalah penyakit dan masalah
kesehatan masyarakat merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan
penanganan ekstra dari Upaya Kesehatan Perorangan dan Upaya Kesehatan
Masyarakat. Masalah kesehatan Kesehatan yang mencangkup masalah
penyakit dan masalah kesehatan masyarakat dapat berasal dari masalah
perorangan namun memiliki dampak juga terhadap masyarakat yang cukup
besar seperti adanya penyakit menular, penyakit endemis, KLB dan wabah.
Rujukan yang dilakukan pada Masalah kesehatan Ganda adalah rujukan
UKM dan Rujukan UKP. Penanganan masalah perorangan untuk
penyembuhan individu melalui prosedur rujukan UKP, sedangkan
penanganan dampak masalah kesehatan masyarakat yang ditimbulkan
dilakukukan berdasarkan prosedur rujukan UKM bila dibutuhkan. Perlu
adanya kerjasama yang baik antara pelaksana Rujukan UKP dan UKM.
Penyakit yang termasuk dalam Masalah Kesehatan yang mencangkup
masalah penyakit dan masalah kesehatan masyarakat diantaranya adalah

8
TBC, Kusta, Gizi Buruk, Diare, DBD, Malaria, HIV-AiDS, dipteri,
Pneumoni, dll.

C. Ketentuan Umum
Sumber masalah kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai
macam data yaitu:
1) Rekam medis pasien datang ke fasilitas kesehatan
Rekam medis pasien dapat menjadi salah satu sumber masalah kesehatan
masyarakat apabila pasien menderita penyakit yang termasuk dalam:
a) 18 Penyakit potensial wabah (Kholera, Pes, Demam Kuning, Demam
Bolak-balik, Tifus Bercak wabah, DBD, Campak, Polio, Difteri, Pertusis,
Rabies, Malaria, Influenza, Hepatitis, Tifus Perut, Meningitis, Ensefalitis,
dan Antraks);
b) Penyakit Nasional,
c) Keracunan
d) Penyakit Menular (terutama TB Paru, Malaria, HIV/AIDS, DBD, dan
Diare)
e) penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases) antara lain
filariasis, kusta, dan frambusia cenderung meningkat kembali, serta
penyakit pes masih terdapat di berbagai daerah, dan
f) PD3I (TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Campak, Influenza, Demam
Tifoid, Hepatitis, Meningitis, Pneumokokus, MMR, Rotavirus, Varisela,
dan Hepatitis A).
g) Lainnya yang dianggap penting.
2) Laporan masyarakat
Laporan masyarakat dapat menjadi sumber masalah kesehatan apabila
laporan masyarakat tersebut terkait dengan masalah kesehatan yang
diperkirakan dapat memiliki dampak terhadap kehidupan dan kesehatan
keluarga atau masyarakat seperti keracunan masal, bencana, dll.
3) Laporan dari fasilitas kesehatan lain
Laporan dari fasilitas kesehatan lain dapat menjadi sumber masalah kesehatan
apabila terdapat pasien yang dirawat di fasilitas lain memiliki penyakit

9
tergoolong masalah kesehatan masyarakat dan pasien tersebut bertempat
tinggal di wilayah fasilitas kesehatan yang mendapatkan laporan.
4) Data kinerja fasilitas kesehatan
Data kinerja fasilitas kesehatan dapat menjadi sumber masalah kesehatan
apabila hasil rekapitulasi penyakit atau masalah kesehatan masyarakat
memiliki kecenderungan menjadi masalah kesehatan masyarakat. contohnya
seperti terdapat kejadian salah satu penyakit di suatu wilayah puskesmas yang
lebih tinggi dibandingkan puskesmas yang lain di suatu wilayah
kabupaten/kota sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
masalah tersebut.
Pelaksanaaan rujukan penanganan masalah kesehatan masyarakat antar
Fasilitas kesehatan dapat dilaksanakan dengan alasan sebagai berikut:
1) Fasilitas Kesehatan tidak memiliki wewenang untuk dapat menangani
masalah kesehatan masyarakat yang terjadi.
2) Fasilitas kesehatan mengalami keterbatasan sumberdaya (sarana, prasarana,
alat, tenaga) dan kompetensi untuk mengatasi suatu kondisi, baik yang
sifatnya sementara ataupun menetap.
3) Fasilitas Kesehatan tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani
masalah kesehatan masyarakat
Proses rujukan dianggap sudah terjadi apabila telah terdapat serah terima
secara tertulis antara perujuk dengan penerima rujukan, sehingga terjadi
pelimpahan tanggung jawab dan wewenang dari fasilitas kesehatan perujuk
kepada fasilitas kesehatan penerima rujukan, dikecualikan untuk koordinasi
pemberian informasi masalah kesehatan yang terjadi di wilayah rujukan.
Pelaksanaan Pedoman Teknis Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat ini
tidak berlaku pada kondisi bencana alam, wabah, kejadian luar biasa (force
mayeur) termasuk kekhususan permasalahan kesehatan masyarakat, dan
pertimbangan geografis.

IV. Ruang Lingkup


Ruang lingkup Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat adalah untuk menata
dan mengembangkan Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat di wilayah Provinsi

10
Jawa Timur serta tidak ada keterkaitan dengan pembiayaan program jaminan
kesehatan nasional. Sistem rujukan Kesehatan Masyarakat ini adalah untuk
mengatur sistem rujukan kasus masalah keluarga, kelompok, dan atau masyarakat
yang ada di Jawa Timur.
Berbagai hal yang tidak dimasukkan dalam pembahasan ini adalah upaya
kesehatan yang bersifat kasus umum dan jiwa atau Upaya Kesehatan Perorangan.
Ruang lingkup Rrujukan Upaya Kesehatan Masyarakat terdiri dari 18 ruang
lingkup yaitu:
1. Analisis Situasi Kesehatan Masyarakat
Analisis Situasi Kesehatan Masyarakat adalah langkah awal untuk
mengetahui masalah kesehatan di suatu wilayah dengan situasi faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan tersebut. Analisis kesehatan didasarkan
pada konsep L Blum tentang Determinan derajat kesehatan penduduk yaitu
Genetika dan kependudukan, lingkungan kesehatan, perilaku kesehatan, dan
program pelayanan kesehatan. Dilakukan penilaian periodik status kesehatan
masyarakat termasuk Identifikasi risiko kesehatan, faktor penentu kesehatan,
dan penentuan kebutuhan pelayanan kesehatan.
2. Penetapan Populasi bermasalah dan penilaian faktor
Penetapan populasi yang berisiko tinggi dan faktor-faktor risikonya dari isu
strategis kesehatan masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu. Penetapan
dilakukan menggunakan metode ilmiah kesehatan yang dilakukan
sebelumnya yaitu Asessment masalah kesehatan masyarakat yang terjadi
berdasarkan laporan masyarakat maupun temuan kasus. Penetapan dan
penilaian faktor yang beresiko dilakukan oleh petugas pelaksana yang
memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan penetapan.
3. Promosi Kesehatan
Promosi Kesehatan adalah suatu proses yang memungkinkan individu untuk
meningkatkan kontrol pengembangan kesehatan masyarakat. Promosi
Kesehatan merupakan ilmu dan seni yang membantu masyarakat menjadikan
gaya hidup yang lebih sehat optimal. Ruang lingkup Promosi kesehatan dapat
dikategorikan menjadi 2 yaitu Aspek pelayanan Kesehatan (promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitative) dan Aspek Tatanan (tempat pelaksanaan

11
promosi Kesehatan yang terdiri dari keluarga, pendidikan sekolah, tempat
kerja, tempat umum, pendidikan kesehatan di fasilitas kesehatan). Promosi
kesehatan menurut Ottawa Charter terbagi ke dalam tiga hal utama yaitu:
a. Enabeling (Faktor Memungkinkan)
promosi kesehatan berfokus pada pencapaian kesetaraan dalam kesehatan.
Tindakan promosi kesehatan bertujuan mengurangi perbedaan status
kesehatan saat ini dan memastikan kesempatan yang sama dan sumber
daya untuk memungkinkan semua orang untuk mencapai potensi
kesehatan mereka sepenuhnya. Ini termasuk landasan aman dalam
lingkungan yang mendukung, akses ke informasi, keterampilan hidup dan
kesempatan untuk membuat pilihan yang sehat. Orang tidak dapat
mencapai potensi kesehatan mereka sepenuhnya kecuali mereka mampu
mengendalikan hal-hal yang menentukan kesehatan mereka. Ini harus
berlaku untuk perempuan dan laki-laki.
b. Advocacy (Advocacy)
Kesehatan yang baik adalah sumber utama bagi, pembangunan ekonomi
dan pribadi sosial dan dimensi penting dari kualitas hidup. faktor-faktor
politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, perilaku dan biologis semua
dapat mendukung kesehatan atau membahayakan itu. Tindakan promosi
kesehatan bertujuan untuk membuat kondisi ini menguntungkan melalui
advokasi untuk kesehatan. Sasarannya advocacy adalah pemerintah agar
mengeluarkan kebijakan public yang berwawasan kesehatan
pembengunan berwawasan kesehatan.
c. Mediation (Mediasi)
Kesehatan yang baik adalah sumber utama bagi, pembangunan ekonomi
dan pribadi sosial dan dimensi penting dari kualitas hidup. faktor-faktor
politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, perilaku dan biologis semua
dapat mendukung kesehatan atau membahayakan itu. Tindakan promosi
kesehatan bertujuan untuk membuat kondisi ini menguntungkan melalui
mediasi dengan lembaga non pemerintahan yang terkait dalam
penyelesaian masalah kesehatan seperti arisan ibu-ibu, LSM, dll.
4. Kemitraan Layanan (Private Public Mix)

12
Kemitraan layanan adalah upaya pemerintah dalam melibatkan sektor swasta
dan masyarakat untuk lebih jauh terlibat dalam penanganan masalah
kesehatan. Melakukan kerjasama program kesmas dengan lembaga layanan
kesehatan swasta dan LSM untuk kegiatan promosi, preventif, serta
pemberian, pendampingan layanan pengobatan kesmas dan Imunisasi.
5. Sosial Marketing Program
Sosial Marketing Program adalah suatu pemasaran yang menggunakan
kombinasi konsep tradisional dan teknik komunikasi budaya untuk analisis,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program yang dirancang untuk
mempengaruhi perilaku sukarela dari sasaran dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan pribadi dan masyarakat.
6. Skrining aktif dan Pasif
Skrining adalah deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha untuk
mengidentifikasi penyakit atau kelainan klinis yang belum jelas dengan
menggunakan tes yang bertujuan untuk mengurangi morbiditas atau
mortalitas. Skrining aktif dilakukan pemeriksaan yang dilakukan tenaga
kessehatan kepada kelompok atau masyarakat beresiko seperti ibu hamil,
remaja, anak-anak, lansia, Haji, TKI, napi, dll. Skrining pasif dilakukan
pemeriksaan kesehatan masyarakat secara rutin pada keluarga, kelompok,
atau masyarakat.
7. Imunisasi
Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh
dengan cara memasukkan vaksin yaitu virus atau bakteri yang telah
dilemahkan atau dibunuh. Imunisasi dilakukan pada kelompok atau
masyarakat yang beresiko. Terdapat beberapa penyakit yang dapat ditangani
menggunakan imunisasi atau yang biasa dikenal dengan PD3I meliputi TBC,
Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Campak, Influenza, Demam Tifoid,
Hepatitis, Meningitis, Pneumokokus, MMR, Rotavirus, Varisela, dan
Hepatitis A.
8. Pengobatan dan Pencegahan masal
Pengobatan dan Pencegahan masal adalah upaya yang dilakukan untuk dapat
mengurangi peningkatan jumlah kasus penyakit yang dilakukan secara

13
serentak pada masyarakat waktu yang hampir bersamaan. Misalnya: Obat
Cacing, Obat Filarisis, dll)
9. Upaya Kesehatan Berbasis masyarakat
Upaya Kesehatan Berbasis masyarakat adalah upaya yang dilakukan
masyarakat yang peduli kesehatan untuk dapat membantu secara aktif
pembangunan kesehatan yang lebih baik. Bentuk UKBM yang ada di
masyarakat seperti Posyandu, Polindes, Posbidu, POD (Pos Obat Desa),
Toga, dll.
10. Manajemen Sumber Daya Manusia
Pengaturan sumber daya manusia yaitu tenaga kesehatan secara efektif dan
efisien agar dapat mencapai tujuan organisasi yang diinginkan. MSDM
meliputi perencanaan, penyusunan, pengembangan, pengelolaan, evaluasi
kinerja, kompensasi, dan hubungan ketenagakerjaan.
11. Manajemen Logistik medik dan Non Medik
Pengaturan sumber daya logistik medik dan non medik secara efektif dan
efisien. Pengaturan meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan,
penyimpanan, perawatan, dan pendistribusian secara tepat.
12. Monitoring dan Evaluasi Program
Monitoring adalah pengumpulan dan analisis informasi berdasarkan indikator
yang ditetapkan secara sistematis dan terus-menerus tentang
program/kegiatan yang dijalankan sehingga dapat dilakukan tindakan koreksi
atau penyempurnaan program atau proyek selanjutnya. Monitoring yang
dilakukan di rujukan kesmas meliputi pencatatan dan pelaporan kegiatan
secara tepat dan valid. Evaluasi adalah proses pengukuran evektivitas
program yang digunakan dalam upaya mencapai target serta ada upaya
perbaikan.
13. Riset Operasional
Riset Operasional adalah penerapan metode-metode ilmiah terhadap masalah-
masalah rumit yang muncul dalam pengarahan dan pengolahan dari suatu
sistem atau program baik mengenai bisnis, ekonomi, kesehatan untuk
mendapatkan solusi yang optimal. Untuk mengambil keputusan tepat waktu
(timely), multidisiplin dengan tetap menggunakan metode ilmiah,

14
14. Penyelidikan Epidemiologi
Penyelidikan Epidemiologi adalah suatu kegiatan penyelidikan atau survey
yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran masalah kesehatan atau
penyakit secara menyeluruh sehingga dapat memberikan pencegahan dan
penanggulangan penyakit tersebut. tujuan penyelidikan epidemiologi untuk
mendapatkan gambaran besaran sesungguhnya, mendapatkan gambaran klinis
suatu penyakit, mendapatkan gambaran kasus menurut variabel epidemiologi,
mendapatkan informasi tentang faktor resiko (vector, lingkungan, perilaku,
dll) dan etiologi. Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan,
analisis dan interpretasi data yang berhubungan dengan kesehatan yang
diperlukan untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi praktik kesehatan
masyarakat secara terus menerus. pengawasan tersebut dapat berfungsi
sebagai sistem peringatan dini untuk keadaan darurat kesehatan masyarakat
yang akan datang; mendokumentasikan dampak dari intervensi , atau melacak
kemajuan menuju tujuan yang ditentukan; dan memantau dan memperjelas
epidemiologi masalah kesehatan, untuk memungkinkan prioritas harus
ditetapkan dan untuk menginformasikan kebijakan kesehatan masyarakat dan
strategi
15. Penanggulangan KLB dan Wabah
Penanggulangan KLB dan Wabah adalah upaya yang dilaksanakan untuk
mencegah, menghadapi, atau mengatasi suatu keadaan yang mencangkup
preventif sekaligus berupaya untuk dapat memperbaiki status kesehatan
masyarakat untuk menangani KLB dan Wabah. Upaya Penanggulangan
wabah memiliki 2 tujuan pokok yaitu berusaha memperkecil angka kematian
akibat wabah dengan pengobatan dan membatasi penularan dan penyebaran
penyakit agar penderita tidak bertambah banyak dan wabah tidak menular ke
daerah lain. Upaya penanggulangan wabah di suatu daerah wabah haruslah
dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan masyarakat setempat antara
lain: agama, adat, kebiasaan, tingkat pendidikan, sosial ekonomi, serta
perkembangan masyarakat.

15
16. Penilaian Cepat bidang Kesehatan saat Bencana
Penilaian Cepat bidang Kesehatan saat Bencana adalah serangkaian kegiatan
yang meliputi pengumpulan informasi subjektif dan objektif guna mengukur
kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan dasar penduduk yang menjadi
korban kegawat daruratan. Penilaian dilakukan dengan cepat dan tepat selaa
atau sesudah kedaruratan.
17. Penanggulangan Kesehatan Masyarakat saat Bencana
Penanggulangan Kesehatan Masyarakat saat Bencana adalah upaya yang
dilaksanakan untuk mencegah, menghadapi, atau mengatasi suatu keadaan
yang mencangkup preventif sekaligus berupaya untuk dapat memperbaiki
status kesehatan masyarakat pada saat bencana agar tidak terjadi KLB atau
wabah di tempat bencana.
18. Peraturan Program Kesmas
Peraturan Program Kesmas adalah keputusan pihak berwenang yang harus
ditaati dan dijadikan landasan dasar dalam melakukan kegiatan/program
kesehatan masyarakat. peraturan yang berlaku antara lain adalah UU, PP,
Kepres/ Kepmen/ PerPres, Permen, Perda, Pergub/Perwali, PerDes.

V. Tujuan
Tujuan dari penyusunan Pedoman Teknis Rujukan Masyarakat Provinsi
Jawa Timur ini adalah antara lain:
1. Tertatanya alur pelayanan kesehatan masyarakat secara berjenjang dari
tingkat kecamatan sampai ke tingkat provinsi secara berkesinambungan.
2. Adanya kepastian hukum bagi fasilitas kesehatan dalam memberikan
pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu
3. Terselenggaranya Upaya Kesehatan Masyarakat yang efektif dan efisien.

VI. Jenjang Rujukan UKM dan Kewenangan


Rujukan UKM berdasarkan jenjang administratif pemerintahan yang
berlaku. Berdasarkan Lampiran BAB 5 Peraturan Presiden Republik Indonesia No
72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional, menyebutkan bahwa

16
penyelenggaraan upaya kesehatan meliputi Upaya Kesehatan Perorangan dan
Upaya Kesehatan Masyarakat. Sumber daya dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan meliputi terutama tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, perbekalan
kesehatan, dan teknologi serta produk teknologi. Terdapat tiga tingkatan Upaya
Kesehatan Masyarakat menurut Lampiran BAB 5 Peraturan Presiden Republik
Indonesia No 72 tahun 2012 tentang sistem Kesehatan Nasional yaitu Upaya
Kesehatan Masyarakat Primer, Upaya Kesehatan Masyarakat Sekunder, dan
Upaya Kesehatan Masyarakat Tersier. Jenjang Rujukan UKM yang digunakan di
Provinsi Jawa Timur menganalogikan jenjang Upaya Kesehatan Masyarakat
Primer adalah jenjang Upaya Kesehatan Masyarakat di tingkat Kecamatan, Upaya
Kesehatan Masyarakat Sekunder adalah jenjang Upaya Kesehatan Masyarakat di
tingkat Kab/Kota, dan Upaya Kesehatan Masyarakat Tersier adalah jenjang Upaya
Kesehatan Masyarakat di tingkat Provinsi. Sehingga, jenjang Rujukan Upaya
Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Timur memiliki 3 Jenjang yaitu jenjang
Kecamatan, jenjang kabupaten/kota, dan Jenjang Provinsi. Penjelasan masing-
masing jenjang adalah sebagai berikut:
A. Jenjang Kecamatan
Jenjang Kecamatan merupakan jenjang pemerintahan dan perwakilannya
yang berada pada tingkat maksimal adalah kecamatan. Yang masuk dalam
wilayah jenjang kecamatan adalah jenjang administrative pemerintahan
mulai dari RT sampai Kecamatan. Penanggung jawab bidang kesehatan di
level kecamatan adalah puskesmas. Jenjang kecamatan ini memiliki
kewenangan:
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan kecamatan (pelayanan
peningkatan, pencegahan tanpa mengabaikan pengobatan dan pemulihan
dengan sasaran keluarga, kelompok, dan masyarakat) secara operasional
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
2. Memberikan pembiayaan pelaksanaan rujukan UKM yang berada di
wilayah kerja administrative berdasarkan kewenangan pemerintahan
yang berlaku bila mampu bersama dengan masyarakat.

17
3. Melakukan kegiatan pendukung rujukan seperti surveillance, pencatatan,
pelaporan yang diselenggarakan oleh institusi yang berwenang
(puskesmas).
4. Membentuk fasilitas kesehatan secara khusus untuk dapat melaksanakan
tugas Upaya Kesehatan Masyarakat di wilahnya berdasarkan perundang-
undangan yang berlaku.
5. Memfasilitiasi pengaduan masalah kesehatan masyarakat dan melakukan
rujukan kepada jenjang yang lebih tinggi bila diperlukan.
6. Menerima rujuk balik dari jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan
peraturan yang berlaku
7. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan rujukan UKM kerja
administrasi masing-masing.
B. Jenjang Kabupaten/Kota
Jenjang Kabupaten/Kota merupakan merupakan jenjang pemerintahan dan
perwakilannya dalam bidang kesehatan (Dinas Kesehatan kab/kota) yang
berada pada tingkat kabupaten/kota. Jenjang Kabupaten Kota ini memiliki
kewenangan:
1. Menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat
tingkat kecamatan dan memberikan fasilitas dalam bentuk sarana,
teknologi, dan sumber daya manusia kesehatan serta didukung oleh
pelayanan kesehatan masyarakat tingkat provinsi
2. Memberikan pembiayaan pelaksanaan rujukan UKM yang berada di
wilayah kerja administrative berdasarkan kewenangan pemerintahan
kab/kota yang berlaku.
3. Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggung jawab dalam pelayanan
kesehatan masyarakat sebagai fungsi teknis yaitu melaksanakan
pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau tidak memadai
dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat tingkat kecamatan.
4. Menjadi fasilitator atau merekomendasi rujukan ke instansi non
kesehatan yang terkait dengan masalah kesehatan secara horizontal.
5. Melakukan kegiatan pendukung rujukan seperti surveillance, pencatatan,
pelaporan yang diselenggarakan oleh institusi yang berwenang.

18
6. Membentuk fasilitas kesehatan secara khusus untuk dapat melaksanakan
tugas Upaya Kesehatan Masyarakat di wilahnya berdasarkan perundang-
undangan yang berlaku.
7. Memfasilitiasi pengaduan masalah kesehatan masyarakat dan melakukan
rujukan kepada jenjang yang lebih tinggi bila diperlukan.
8. Menerima rujuk balik dari jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan
peraturan yang berlaku
9. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan rujukan UKM kerja
administrasi masing-masing.
C. Jenjang Provinsi
Jenjang Provinsi merupakan merupakan jenjang pemerintahan dan
perwakilannya dalam bidang kesehatan (Dinas Kesehatan atau Kementerian
Kesehatan) yang berada pada tingkat Provinsi. Jenjang Nasional tidak diatur
dalam pedoman Rujukan UKM di Jawa Timur karena pedoman ini hanya
sampai pada tingkat Provinsi. Jenjang UKM tingkat provinsi ini memiliki
kewenangan:
1. Menerima rujukan kesehatan dari pelayanan kesehatan masyarakat
tingkat kabupaten/kota dan memberikan fasilitas dalam bentuk sarana,
teknologi, sumber daya manusia kesehatan dan rujukan operasional serta
melakukan penelitian dan pembangunan bidang kesehatan masyarakat
dan penapisan teknologi dan produk teknologi yang terkait
2. Memberikan pembiayaan pelaksanaan rujukan UKM yang berada di
wilayah kerja administrative berdasarkan kewenangan pemerintahan
provinsi yang berlaku.
3. Dinas Kesehatan provinsi bertanggung jawab dalam pelayanan
kesehatan masyarakat tingkat provinsi sebagai fungsi teknis yaitu
melaksanakan pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak sanggup atau
tidak memadai dilakukan pada pelayanan kesehatan masyarakat tingkat
kecamatan.
4. Menjadi fasilitator atau merekomendasi rujukan ke instansi non
kesehatan yang terkait dengan masalah kesehatan secara horizontal.

19
5. Melakukan kegiatan pendukung rujukan seperti surveillance, pencatatan,
pelaporan yang diselenggarakan oleh institusi yang berwenang.
6. Membentuk fasilitas kesehatan secara khusus untuk dapat melaksanakan
tugas Upaya Kesehatan Masyarakat di wilahnya berdasarkan perundang-
undangan yang berlaku.
7. Memfasilitiasi pengaduan masalah kesehatan masyarakat dan melakukan
rujukan kepada jenjang yang lebih tinggi bila diperlukan.
8. Menerima rujuk balik dari jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan
peraturan yang berlaku
9. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan rujukan UKM kerja
administrasi masing-masing.
VII. Pertimbangan Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat
Pelaksanaan Rujukan kesehatan masyarakat dapat dilaksanakan dengan
alasan sebagai berikut:
1. Urgensi merujuk
Pentingnya suatu kejadian untuk dirujuk dan membutuhkan kecepatan
penanganan dengan waktu yang sesingkat mungkin. Urgensi merujuk pada
setiap permasalahan kesehatan masyarakat berbeda-beda berdasarkan ciri-
ciri setiap permasalahan yang ada. Penentuan Urgensi suatu masalah
kesehatan masyarakat ditentukan oleh petugas yang berwenang dalam
menangani masalah kesehatan masyarakat (analis kesehatan atau sarjana
kesehatan masyarakat)
2. Luas wilayah
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap
unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan/atau aspek fungsional (uu no 26 tahun 2007). Wilayah
terjadinya suatu kejadian mencangkup dari wilayah tertentu berdasarkan
wilayah administrasi pemerintahan yaitu desa, kecamatan, kota/kabupaten,
dan provinsi. Apabila luas wilayah yang terdampak penyakit melebihi
batas wilayah suatu jenjang administrasi yaitu desa, kecamatan, kab/kota,
dan provinsi maka dilakukan rujukan UKM pada jenjang yang lebih tinggi.
3. Geografi

20
Geografi merupakan sebuah ilmu yang menjabarkan tentang permukaan
bumi, iklim, cuaca, flora dan fauna, serta basil-basil yang diperoleh dari
bumi itu sendiri. Geografi yang dimiliki berdasarkan batas wilayah
administrasi pemerintahan yang berlaku. Dalam panduan rujukan UKM
ini, geografi menjadi pertimbangan merujuk karena keterbatasan akses
yang terjadi di wilayah tersebut seperti desa terpencil, terdalam, dan
terluar. Apabila wilayah tidak dapat menjangkau karena akses yang
dimiliki kurang mencukupi maka dilakukan rujukan UKM.
4. Kewenangan
Kewenangan merupakan kekuasaan yang memiliki kekuatan hukum
berdasarkan Undang-undang yang berlaku di Indonesia. Kewenangan juga
diartikan sebagai kekuasaan membuat keputusan memerintah dan
melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain. Pasal 10 ayat 3 Undang-
undang No32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah menyatakan bahwa
urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah (pusat) mekiputi:
Politik luar negeri, Pertahanan, Keamanan, Yustisi, Agama, Moneter dan
fiscal nasional. Kewenangan yang dimaksud dalam pedoman UKM ini
berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh jenjang administrasi
pemerintahan dalam bidang kesehatan ataupun non kesehatan yang terkait
dengan penyelesaian masalah kesehatan masyarakat.
5. Keterkaitan Sektor
Kerjasama lintas sektor adalah program yang melibatkan suatu institusi
atau instansi negeri atau swasta yang membutuhkan pemberdayaan dan
kekuatan dasar dari pemerintah atau swasta mengenai peraturan yang
ditetapkan untuk mewujudkan alternatif kebijakan secara terpadu dan
komprehensif sehingga adanya keputusan dan kerjasama. Lintas sektor
kesehatan merupakan hubungan yang dikenali antara bagian atau bagian-
bagian dari sektor yang berbeda, dibentuk utnuk mengambil tindakan pada
suatu masalah agar hasil yang tercapai dengan cara yang lebih efektif,
berkelanjutan atau efisien disbanding sektor kesehatan bertindak sendiri
(WHO 1998).
6. Disiplin Ilmu

21
Disiplin ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang didalami oleh seseorang
dan merupakan keahlian utama seseorang dalam melaksanakan tugas
ataupun menyelesaikan masalah yang teringgi jadi. Ketepatan penempatan
penanganan masalah berdasarkan disiplin ilmu yang tepat maka akan
menghasilkan solusi yang akurat. Dalam dalam pemecahan masalah
kesehatan masyarakat yang ada sebaiknya diselesaikan oleh seseorang
yang memiliki disiplin ilmu yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan.
Apabila disiplin ilmu yang dibutuhkan tidak memenuhi atau tidak sesuai
dengan kebutuhan maka dapat dilakukan rujukan UKM secara vertical
maupun horizontal.
7. Ketersediaan Teknologi
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang
yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia
(KBBI). Teknologi kesehatan adalah adalah segala bentuk alat dan/atau
metode yang ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosa,
pencegahan, dan penanganan permasalahan kesehatan manusia.
8. Ketersediaan SDM
Sumber daya manusia adalah salah satu faktor yang sangat penting yang
harus dipenuhi dalam organisasi maupun institusi baik pemerintahan
maupun non pemerintahan. Sumber Daya Manusia adalah kemampuan
terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu. Pelaku dan
sifatnya dilakukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi
kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya.
Ketersediaan SDM sesuai dengan keahliannya menentukan tindakan yang
dilakukan untuk menangani masalah kesehatan masyarakat.
9. Ketersediaan Anggaran
Anggaran merupakan rencana keuangan periodik yang disusun
berdasarkan program yang telah disahkan dan merupakan rencana tertulis
mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan
umumnya dinyatakan dalam satuan moneter untuk jangka waktu tertentu.
Ketersediaan anggaran pada pelayanan kesehatan dan administrasi
pemerintahan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan

22
masing-masing pihak yang berwenang. Apabila tidak memiliki anggaran
dalam melakukan penyelesaian masalah kesehatan masyarakat maka dapat
di rujuk pada jenjang yang lebih tinggi.
Ababila salah satu alasan merujuk ditemukan berdasarkan 18 ruang
lingkup UKM dalam suatu masalah, maka harus dilakukan rujukan berdasarkan
prosedur yang telah diatur. Proses rujukan dianggap sudah terjadi apabila telah
terdapat serah terima secara tertulis antara perujuk dengan penerima rujukan,
sehingga terjadi pelimpahan tanggung jawab dan wewenang dari fasilitas
kesehatan perujuk kepada fasilitas kesehatan penerima rujukan, dikecualikan
untuk rujukan kasus ringan, rujukan kasus elektif atau rawat jalan.

VIII. Jenis Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat


Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat terdiri dari beberapa jenis yaitu:
A. Rujukan dari Pelayanan Kesehatan
1. Rujukan Horisontal
Rujukan Horisontal merupakan rujukan antar fasilitas kesehatan atau
antar instansi dalam satu tingkatan. Rujukan horisontal adalah mekanisme
rujukan yang dilakukan antar fasilitas kesehatan atau antar instansi dalam satu
tingkatan, rujukan horisontal sebagaimana dimaksud dilakukan apabila
perujuk tidak dapat memberikan penanganan pelayanan kesehatan sesuai
dengan kebutuhan berdasarkan hasil identifikasi atau assessment masalah
kesehatan masyarakat yang terjadi.
2. Rujukan Vertikal
Rujukan vertikal merupakan rujukan antar fasilitas kesehatan atau antar
instansi kesehatan yang berbeda tingkatan. Rujukan vertikal dapat dilakukan
dari jenjang rujukan yang lebih rendah ke jenjang rujukan yang lebih tinggi
atau sebaliknya. Rujukan vertikal dari jenjang rujukan yang lebih rendah ke
jenjang yang lebih tinggi sebagaimana dimaksud dilakukan apabila:
a. Perujuk tidak memiliki kemampuan untuk dapat menangani masalah
kesehatan masyarakat yang terjadi karena keterbatasan fasilitas,
sumberdaya, dan kompetensi pegawai;

23
b. Perujuk tidak memiliki wewenang untuk dapat melakukan penanganan
masalah kesehatan masyarakat yang terjadi.
c. Masalah kesehatan yang harus ditangani merupakan masalah antar wilayah
administratif pemerintahan.
Rujukan vertikal dari jenjang rujukan yang lebih tinggi ke jenjang rujukan
yang lebih rendah sebagaimana dimaksud dilakukan apabila:
a. Permasalahan kesehatan masyarakat dapat ditangani oleh fasilitas
kesehatan di jenjang rujukan yang lebih rendah sesuai dengan kompetensi
dan kewenangannya;
b. Kompetensi dan kewenangan pelayanan kesehatan masyarakat pada
tingkat pertama atau kedua lebih baik dalam menangani permasalahan
kesehatan masyarakat;
3. Rujukan Lintas sektor
Rujukan Lintas Sektor adalah rujukan yang ditujukan pada sector lain
selain bidang kesehatan namun berhubungan dengan proses penangnan
masalah kesehatan masyarakat baik sektor pemerintahan seperti pertanian,
pariwisata, dll ataupun sector non pemerintahan seperti LSM, Perkumpulan
tertentu, dll. Rujukan lintas sector dilakukan oleh pemegang wewenang
kesehatan di tiap jenjangnya. Rujukan lintas sektor berupa:
a. Mediasi masalah kesehatan masyarakat yang terjadi pada sector terkait.
b. Kerjasama dalam pemenuhan fasilitas dan pelengkapan data penunjang
diagnosis masalah kesehatan masyarakat.
4. Rujukan Balik
Rujukan balik merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada
fasilitas kesehatan yang memiliki wewenang dan kemampuan menangani
masalah kesehatan masyarakat atas rekomendasi/rujukan dari petugas
pelayanan kesehatan yang memiliki kompetensi danwewenang lebih tinggi.
Rujukan balik juga merupakan pelimpahan wewenang kepada pelayanan
kesehatan tingkat kecamatan apabila penanganan masalah kesehatan
masyarakat dianggap sudah dapat ditangani fasilitas kesehatan di jenjangyang
lebih rendah. Pelayanan rujuk balik harus mematuhi prosedur rujuk balik yang
telah ditetapkan sebagaimana ketentuan yang berlaku.

24
B. Rujukan dari Masyarakat
1. Masyarakat dapat mendatangi Poskesdes, Polindes, Kader Kesehatan,
Posyandu, Upaya Kesehatan Kerja (UKK) untuk mendapatkan pertolongan
pertama terhadap masalah yang dianggap masalah kesehatan masyarakat.
Apabila masalah tersebut bukan masalah yang harus segera ditangani maka
dirujuk ke fasilitas kesehatan masyarakat tingkat kecamatan.
2. Masyarakat dapat melaporkan atau memberikan informasi mengenai
temuan masalah kesehatan setelah mendapatkan rujukan dari fasilitas
Pelayanan Kesehatan Tingkat kecamatan, atau pada keadaan gawat
darurat, bencana, kekhususan permasalahan kesehatan pasien, dan
pertimbangan geografis.
C. Rujukan Lintas Batas dan Perbatasan
Berdasarkan hasil pertimbangan geografis dan keselamatan masyarakat
atau kelompok yang tidak memungkinkan untuk dilakukan rujukan dalam satu
kabupaten, maka diperbolehkan melakukan rujukan lintas kabupaten atau lintas
provinsi. Prosedur pelayanan rujukan lintas perbatasan pada kasus emergency bisa
langsung menuju fasilitas kesehatan rujukan lintas perbatasan untuk mendapatkan
pelayanan kasus emergency. Rujukan lintas batas dan perbatasan untuk kasus non
emergency mendapatkan surat rujukan dari fasilitas kesehatan Upaya Kesehatan
Masyarakat tingkat kecamatan.
Kabupaten atau kota di wilayah lintas batas dan perbatasan apabila
diperlukan dapat membuat Perjanjian Kerja Sama/PKS antar masing-masing
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan juga dilakukan Perjanjian Kesepakatan
Bersama/MoU antar Pemerintah Daerah Provinsi bagi wilayah perbatasan antar
provinsi, untuk memudahkan akses layanan guna mendukung sistem rujukan di
tiap wilayah perbatasan. Rujukan Lintas batas dan perbatasan harus mematuhi
prosedur rujukan yang telah ditetapkan sebagaimana ketentuan yang berlaku.

D. Rujukan pada Kondisi Bencana Alam, Wabah, dan Kejadian Luar Biasa
(Force Mayeur)

Pelaksanaan Pedoman Teknis Rujukan UKM ini tidak berlaku pada


bencana alam, wabah, dan kejadian luar biasa (force mayeur) termasuk

25
kekhususan permasalahan kesehatan masyarakat. Penanganan masalaha kesehatan
masyarakat berdasarkan kondisi tersebut ditangani berdasarkan ketentuan yang
berlaku pada masing-masing kondisi.

E. Rujukan Program Penyakit Khusus Tertentu


Pelaksanaan Pedoman Teknis Rujukan UKM ini tidak berlaku pada pada
program penyakit khusus tertentu, misalnya TB-MDR, HIV-AIDS, Kusta, Mata,
Jiwa atau penyakit tertentu lainnya. Ketentuan dan prosedur rujukan untuk
penyakit khusus yang dikelola dalam program tertentu, mengikuti proses rujukan
yang berlaku pada program tersebut.

IX. Alur Sistem Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Jawa Timur


Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat adalah pengaturan sistem rujukan
dengan penetapan batas wilayah administrasi daerah berdasarkan kemampuan
pelayanan medis, penunjang, dan fasilitas kesehatan yang terstruktur sesuai
dengan kemampuan dan kewenangan, kecuali dalam kondisi KLB, Wabah dan
bencana alam.
Wilayah cakupan Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) adalah
pengaturan wilayah berdasarkan kemampuan dan kewenangan yang dimiliki
fasilitas pelayanan kesehatan yang terstruktur untuk mempermudah akses
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sesuai dengan permasalahan kesehatan
masyarakat yang dimiliki dengan efektif dan efisien. Penentuan Rujukan UKM
Provinsi Jawa Timur ditetapkan sesuai kondisi dan kebutuhan.

26
Keterangan:
: Rujukan
: Rujukan Balik
: Rujukan Kondisi Tertentu
: Rujukan Lintas Sektor
: Batas Jenjang rujukan
: Perwakilan Pemerintah daerah dalam bidang Kesehatan

Gambar 1. Alur Rujukan Kesehatan Masyarakat

A. Penjelasan Skema Alur rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Provinsi


Jawa Timur

Penjelasan Skema Alur Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa


Timur adalah sebagai berikut:
1. Alur rujukan ini mengatur rujukan vertikal, rujukan horisontal dan rujukan
balik dalam sistem rujukan antar fasilitas kesehatan dan non kesehatan yang
berhubungan dengan pemecahan masalah kesehatan masyarakat
berdasarkan jenjang administrative pemerintahan.
2. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat dilakukan secara berjenjang dari
Pelayanan UKM dan non kesehatan tingkat kecamatan ke tingkat kab/kota
dan provinsi;

27
3. Rujukan akhir adalah Presiden dan Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia;
4. Dalam kondisi normal, masyarakat yang membutuhkan Pelayanan UKM,
harus terlebih dahulu menuju Fasilitas Upaya Kesehatan Masyarakat tingkat
kecamatan yaitu Puskesmas;
5. Jika Fasilitas Upaya Kesehatan Masyarakat tingkat kecamatan tidak
memiliki memiliki kemampuan dan dan kewenangan menangani masalah
kesehatan masyarakat yang ada, Fasilitas UKM tingkat kecamatan wajib
merujuk secara secara vertikal ke Fasilitas UKM tingkat kab/kota yang
memiliki kemampuan kewenangan dalam menangani masalah kesehatan
masyarakat tersebut berdasarkan hasil asessment yang dilakukan;
6. Jika Fasilitas Upaya Kesehatan Masyarakat tingkat Kab/Kota tidak
memiliki memiliki kemampuan dan dan kewenangan menangani masalah
kesehatan masyarakat yang ada, Fasilitas UKM tingkat Kab/Kota wajib
merujuk secara horisontal secara vertikal ke Fasilitas UKM tingkat Pusat
yang memiliki kemampuan kewenangan dalam menangani masalah
kesehatan masyarakat tersebut berdasarkan hasil asessment yang dilakukan.
7. Rujukan yang ditujukan pada Instansi non kesehatan yang terkait dalam
pemecahan masalah kesehatan masyarakat dalam kondisi normal harus
melalui instansi kesehatan di wilayah pemerintahan (dinas kesehatan/
kementerian kesehatan) sesuai kewenangan administratif yang berlaku.
8. Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan terdiri dari 3 fasilitas kesehatan
adalah poskesdes, pustu, dan puskesmas. Fasilitas Kesehatan di tingkat
Kab/Kota adalah Rumah sakit tingkat kabupaten/kota dan Dinas Kesehatan
kabupaten/kota. Fasilitas Kesehatan di tingkat Provinsi adalah rumah sakit
tingkat Provinsi dan Dinas Kesehatan Provinsi.
9. Rujukan penemuan masalah dari Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan
ke Fasilitas Kesehatan di tingkat Kota secara vertikal, dilakukan secara
berjenjang dari Fasilitas Kesehatan di tingkat Provinsi ke dinas kesehatan
kabupaten kota, dinas kesehatan kabupaten kota ke dinas kesehatan
Provinsi, dinas kesehatan Provinsi ke kementerian kesehatan atau

28
sebaliknya sesuai dengan kondisi, kewenangan dan kemampuan
permasalahan kesehatan yang ada.
10. Apabila penemuan masalah kesehatan masyarakat bermula dari RS atau
Fasilitas Kesehatan kabupaten kota, provinsi, atau nasional, maka dilakukan
konfirmasi pada Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan yang
bertanggung jawab dalam penanganan kasus di daerah asal kasus untuk
dapat dilakukan tindakan.
11. Jika Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan atau Fasilitas Kesehatan di
tingkat Kab/Kota tidak memiliki kemampuan namun memiliki kewenangan
dalam menangani kasus, Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan atau
Fasilitas Kesehatan di tingkat Kab/Kota dapat melakukan rujukan horisontal
sesama Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan atau Fasilitas Kesehatan
di tingkat Kab/Kota;
12. Dalam kondisi tertentu, yaitu bencana, KLB, Wabah, kekhususan
permasalahan kesehatan pasien, pertimbangan geografis, dan pertimbangan
ketersediaan fasilitas, masyarakat dapat mengakses fasilitas kesehatan tanpa
melalui prosedur rujukan UKM.
B. Peran Dinas Provinsi Jawa Timur
Peran Dinas Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut:
1. Merekomendasi fasilitas kesehatan rujukan Provinsi;
2. Merekomendasi area rujukan UKM dan fasilitas kesehatan di kabupaten/kota
yang dia punya;
3. Melakukan koordinasi dengan stakeholder dalam pelaksanaan Rujukan
UKM;
4. Menfasilitasi pemenuhan standar sumber daya manusia, sarana, prasarana,
dan alat kesehatan di fasilitas kesehatan milik pemerintah;
5. Memfasilitasi terbentuknya forum komunikasi antar fasilitas kesehatan di
tingkat provinsi;
6. Melakukan rujukan dan koordinasi dengan instansi terkait pemecahan
masalah kesehatan di tingkat provinsi (Lintas Sektor).
7. Melakukan Rujukan ke Kementerian kesehatan jika diperlukan.

29
8. Melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi regionalisasi sistem rujukan
di tingkat provinsi.
C. Peran Dinas Kabupaten/Kota
Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota adalah :
1. Menyusun Rujukan UKM kabupaten/kota;
2. Menfasilitasi pemenuhan standar sumber daya manusia, sarana, prasarana,
dan alat kesehatan di fasilitas kesehatan milik pemerintah;
3. Melakukan koordinasi dengan stakeholder dalam pelaksanaan sistem rujukan;
4. Memfasilitasi terbentuknya forum komunikasi antar fasilitas kesehatan di
tingkat kabupaten/kota;
5. Melakukan rujukan dan koordinasi dengan instansi terkait pemecahan
masalah kesehatan di tingkat kabupaten kota (Lintas Sektor).
6. Melakukan Rujukan ke Fasilitas Kesehatan di tingkat Provinsi jika diperlukan
7. Melakukan pembinaan, monitoring dan evaluasi regionalisasi sistem rujukan
di tingkat kabupaten/kota.

X. Tata Laksana dan Prosedur rujukan UKM


Prosedur rujukan selalu diawali dengan penentuan masalah kesehatan
masyarakat, yang termasuk dalam masalah kesehatan masyarakat adalah:
1. Masalah yang harus menggerakkan birokrasi.
2. 18 Penyakit potensial wabah (Kholera, Pes, Demam Kuning, Demam Bolak-
balik, Tifus Bercak wabah, DBD, Campak, Polio, Difteri, Pertusis, Rabies,
Malaria, Influenza, Hepatitis, Tifus Perut, Meningitis, Ensefalitis, dan Antraks);
3. Penyakit Nasional,
4. PHBS
5. Keracunan
6. Penyakit Menular (terutama TB Paru, Malaria, HIV/AIDS, DBD, dan Diare)
7. penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases) antara lain
filariasis, kusta, dan frambusia cenderung meningkat kembali, serta penyakit
pes masih terdapat di berbagai daerah

30
8. PD3I (TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Campak, Influenza, Demam
Tifoid, Hepatitis, Meningitis, Pneumokokus, MMR, Rotavirus, Varisela, dan
Hepatitis A), dan
9. Masalah lain yang dianggap penting
Persyaratan tata laksana dan prosedur rujukan dalam pelaksanaan rujukan
UKM ini sifatnya umum, antara lain:
A. Tata Laksana Rujukan
1. Pemberi pelayanan kesehatan berkewajiban merujuk permasalahan
kesehatan masyarakat bila memerlukannya (tidak memiliki kemampuan
dan kewenangan), kecuali dengan alasan yang sah (keterbatasan
wewenag, sumber daya atau geografis);
2. Rujukan harus mempertimbangkan pertimbangan rujukan Upaya
Kesehatan Masyarakat dan mendapat persetujuan dari tenaga kesehatan
yang berwenang setelah melakukan prosedur rujukan UKM sesuai
ketentuan.
3. Perujuk harus menyertakan pertimbangan dan hasil identifikasi masalah
yang telah dilakukan sebelum diputuskan dirujuk dalam bentuk pelaporan
tertulis.
B. Prosedur Merujuk Masalah Kesehatan Masyarakat
Prosedur dalam merujuk masalah kesehatan masyarakat berdasarkan
penemuan kasus di fasilitas kesehatan dapat dilihat pada gambar berikut:

31
Gambar 2 Prosedur Merujukan Masalah Kesehatan Masyarakat
1. Prosedur Umum
a. Petugas melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang medis untuk menentukan diagnosa utama dan diagnosa
banding;
b. Apabila hasil diagnose bukan merupakan gejala penyakit khusus
(penyakit potensial wabah, PD3I, KLB, Program Nasional) maka
langsung ditangani berdasarkan prosedur UKP. Apabila hasil
diagnose merupakan gejala penyakit khusus maka untuk pengobatan
perorangan ditangani di Fasilitas Kesehatan bila mampu sesuai
prosedur UKP namun untuk masalah kesehatan masyarakat diberikan
kepada penanggung jawab kesehatan masyarakat di Fasilitas
Kesehatan tersebut untuk dilakukan identifikasi lebih lanjut.
c. Petugas analis kesehatan menganalisa dan memperhatikan domisili
pasien.
1) Apabila domisili pasien berada di wilayah kerja fasilitas kesehatan
tersebut maka segera dilakukan identifikasi penyebab masalah

32
terjadi dan menentukan prioritas masalah utama yang harus segera
ditangani. Apabila prioritas yang dihasilkan mampu dan
merupakan kewenangan fasilitas kesehatan maka segera ditangani,
namun apabila tidak mampu dan tidak memiliki kewenangan
dalam menangani maka di rujuk ke horizontal maupun vertical
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2) Apabila domisili pasien tidak berada di wilayah kerja fasilitas
kesehatan tersebut maka segera dilakukan identifikasi penyebab
masalah terjadi dan mengkoordinasikan atau member informasi
kepada pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan domisili
pasien dan melampirkan hasil temuan penyakit khusus yang
ditemukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
d. Perujuk memastikan penerima rujukan bisa dan mampu menerima
informasi masalah kesehatan masyarakat secara jelas dengan
memanfaatkan fasilitas radiomedik dan atau media komunikasi. Bila
keadaan pasien gawat darurat, wajib diinformasikan pada penerima
rujukan;
e. Apabila kasus penyakit berada pada suatu daerah tertentu maka bisa
langsung komunikasi dengan Fasilitas Kesehatan di tingkat
Kecamatan di wilayah asal pasien yang menderita penyakit khusus.
f. Apabila terdapat kasus perpindahan seseorang ke luar daerah kab/kota
pada masa inkubasi maka dilakukan identifikasi terhadap pola
penyebaran penyakit sehingga dapat ditentukan/ diperkirakan sumber
penyakit berasal dari wilayah asal pasien atau di wilayah kunjungan
pasien. Dilakukan komunikasi dengan Fasilitas Kesehatan di tingkat
Kecamatan yang ada di wilayah asal pasien. (prosedur member tahu
Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan asal melalui dinas kesehatan
wilayah asal atau langsung ke Fasilitas Kesehatan di tingkat
Kecamatan asal)
g. Apabila masyarakat sakit khusus dan ingin berkunjung ke luar daerah
selama beberapa hari, maka pasien tersebut harus melaporkan ke
puskesmas untuk surat keterangan sakit dari puskesmas untuk control

33
di tempat tujuan. Pihak puskesmas mengkomunikasikan perpindahan
pasien tersebut ke Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan terdekat
dengan tempat tujuan pasien. Lama pergi atau berpindah ke wilayah
lain, apabila masih diperkirakan menular maka diperlukan surat
keterangan.
2. Prosedur Penanganan Masalah Kesehatan Masyarakat
a. Melakukan identifikasi masalah kesehatan masyarakat yang akan
ditangani
b. Menentukan prioritas penyelesaian masalah yang ditangani.
c. Melakukan analisis ruang lingkup rujukan dan kriteria pertimbangan
merujuk dengan ketentuan:
1) Apabila fasilitas kesehatan memiliki dapat melakukan tindakan
berdasarkan analisis matrix rujukan (tidak ada centang pada salah
satu kolom matrix), maka dilanjutkan dengan penanganan
langsung pada masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi.
2) Apabila fasilitas kesehatan tidak dapat melakukan tindakan
berdasarkan analisis matrix rujukan (ada centang pada salah satu
kolom matrix), maka di lakukan tindakan rujukan pada jenjang
yang lebih tinggi.
d. Menentukan tujuan dan mekanisme rujukan yang digunakan sesuai
dengan kebutuhan dan prosedur yang berlaku
e. Mempersiapkan berkas administrasi rujukan
f. Melakukan Rujukan UKM
3. Prosedur Administratif
a. Dilakukan setelah melakukan identifikasi masalah kesehatan yang
terjadi.
b. Membuat catatan temuan masalah kesehatan masyarakat. Apabila
masalah kesehatan adalah masalah ganda yaitu masalah kesehatan
perorangan dan masalah kesehatan masyarakat maka disertakan
catatan rekam medis pasien.
c. Perujuk membuat surat rujukan untuk disampaikan kepada penerima
rujukan minimal dalam rangkap 2 (dua) :

34
(1) Lembar pertama dikirim ke penerima rujukan bersama data
masalah kesehatan masyarakat;
(2) Lembar kedua disimpan sebagai arsip.
d. Surat pengantar rujukan tersebut sekurang-kurangnya memuat :
(1) Identitas fasilitas pemohon;
(2) Waktu rujukan;
(3) Tujuan rujukan
(4) Jenis Objek rujukan
(5) Kondisi masalah kesehatan yang dihadapi;
(6) Upaya yang telah dilaksanakan;
(7) Jenis bantuan yang diharapkan;
(8) Alasan merujuk.
e. Mencatat masalah kesehatan pada buku register rujukan UKM;
f. Menjalin komunikasi dengan penerima rujukan; terkait persyaratan
rujukan UKM:
(1) Tersedianya unit yang memiliki tanggung jawab dalam rujukan
baik yang merujuk maupun yang dirujuk.
(2) Tersedianya tenaga, sarana, teknologi, dan operasional yang
dibutuhkan
(3) Tersedianya surat pengantar rujukan.
g. Pengiriman data dapat menggunakan teknologi yang sudah ada dan
dirasa cepat mudah dan jelas
C. Prosedur Menerima Rujukan
1. Prosedur umum
a. Menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan masalah
kesehatan;
b. Melakukan identifikasi masalah kesehatan dengan terjun ke lapangan
untuk memastikan masalah kesehatan
c. Menentukan prioritas penyebab masalah kesehatan
d. Menyusun penanganan masalah kesehatan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku

35
e. Apabila tidak sanggup menangani masalah kesehatan berdasarkan
prioritas penyebab dan penanganan masalah maka fasilitas kesehatan
harus merujuk ke Fasilitas Kesehatan yang lebih mampu dan
berwenang dengan membuat surat rujukan, prosedur selanjutnya sama
seperti prosedur pengiriman.
2. Prosedur Administratif
a. Penerima rujukan menginformasikan tentang ketersediaan sarana dan
prasarana serta kompetensi dan ketersediaan tenaga kesehatan dan
bila mendapat informasi bahwa keadaan gawat darurat, wajib
memberikan pertimbangan kegawatdaruratannya;
b. Rujukan dianggap telah terjadi apabila semua persyaratan administrasi
telah diterima oleh penerima rujukan;
c. Apabila data masalah kesehatan masyarakat tersebut dapat diterima,
selanjutnya penerima rujukan membuat tanda terima pasien sesuai
aturan masing-masing sarana;
d. Mencatat identitas fasilitas kesehatn perujuk di buku register atau
pencatatan yang ditentukan;
e. Penerima rujukan wajib memberikan informasi kepada perujuk
mengenai perkembangan pemecahan masalah kesehatan masyarakat
setelah selesai memberikan penanganan.
D. Prosedur Membalas Rujukan UKM
1. Prosedur umum
Fasilitas kesehatan yang menerima rujukan, wajib mengembalikan
penanganan masalah kesehatan pada pengirim setelah dilakukan proses
antara lain:
a. Penanganan masalah kesehatan masyarakat dirasa sudah optimal dan
dapat ditangani lebih lanjut di fasilitas kesehatan pengirim;
b. Pemantauan masalah kesehatan masyarakat dalam kurun waktu
tertentu.
c. Fasilitas kesehatan yang menerima rujukan harus memberikan laporan
atau informasi penanganan masalah berdasarkan prioritas yang sudah
diberikan oleh pengirim kepada fasilitas kesehatan pengirim pasien

36
mengenai perkembangan penanganan masalah dari fasilitas kesehatan
tersebut.
2. Prosedur Administratif
a. Fasilitas kesehatan yang memberikan penanganan masalah kesehatan
masyarakat berkewajiban memberi surat balasan rujukan untuk setiap
masalah yang ditangani kepada fasilitas kesehatan yang mengirim
rujukan;
b. Surat balasan rujukan bisa dititipkan petugas kesehatan, pengiriman
atau melalui teknologi yang sudah ada dan sedapat mungkin
dipastikan bahwa informasi balik tersebut diterima petugas kesehatan
yang dituju;
c. Semua fasilitas pelayanan kesehatan wajib mengisi format pencatatan
dan pelaporan.
E. Prosedur Menerima Balasan Rujukan
1. Prosedur
a. Memperhatikan anjuran tindakan yang disampaikan oleh fasilitas
kesehatan yang terakhir menangani masalah tersebut;
b. Melakukan tindak lanjut atau perawatan kesehatan masyarakat dan
memantau (follow up) sampai masalah mereda atau terselesaikan.
2. Prosedur Administratif
a. Meneliti isi surat balasan rujukan dan mencatat informasi tersebut di
buku register atau pencatatan rujukan UKM, kemudian
menyimpannya pada riwayat penanganan masalah kesehatan
masyarakat dan memberi tanda tanggal/jam telah ditindak lanjuti;
b. Segera memberi kabar kepada fasilitas kesehatan pengirim bahwa
surat balasan rujukan telah diterima.

XI. Pembiayaan
1. Rujukan UKM bertujuan untuk menata dan mengembangkan sistem rujukan
rujukan UKM di wilayah Provinsi Jawa Timur dan tidak ada keterkaitan
dengan pembiayaan program Jaminan Kesehatan Nasional.

37
2. Pembiayaan rujukan UKM ditanggung oleh pemerintah yang memiliki
kewenangan dalam menangani masalah kesehatan masyarakat (public good)
apabila diperlukan dapat di atur dalam sebuah perjanjian kerjasama.
3. Pembiayaan yang timbul akibat proses rujukan dilaksanakan sesuai ketentuan
yang berlaku.

XII. Pencatatan dan Pelaporan


Setiap fasilitas kesehatan wajib melakukan pencatatan dan pelaporan
rujukan. Masalah UKM menggunakan buku register atau pencatatan rujukan.
Pencatatan dan Pelaporan ini merupakan bagian penting dalam Rujukan UKM di
fasilitas kesehatan.
A. Pencatatan
1. Pencatatan kasus rujukan menggunakan buku register/pencatatan rujukan,
dimana setiap masalah UKM yang diterima dan yang akan dirujuk dicatat
dalam buku register tersebut, dan data yang berhubungan dengan
pengiriman dan penerimaan masalah rujukan UKM maupun rujukan balik
dicatat pada kolom-kolom yang disediakan untuk kepentingan pencatatan
aktivitas masing-masing dalam proses rujukan;
2. Kolom-kolom dalam pencatatan rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat
seharusnya dapat mencakup informasi yang perlu dicatat sebagai
dokumentasi, antara lain meliputi: Identitas fasilitas pemohon, Waktu
rujukan, Tujuan rujukan, Jenis Objek rujukan, Kondisi masalah kesehatan
yang dihadapi, Upaya yang telah dilaksanakan, Jenis bantuan yang
diharapkan, Alasan merujuk, Bantuan yang diberikan, follow up yang
dianjurkan, kondisi masalah terakhirn baik sebagai format pencatatan
manual dan atau dalam bentuk soft copy bagi yang telah memiliki
perangkatnya. Dengan model pencatatan demikian diharapkan disetiap
Fasilitas Kesehatan yang telah memiliki perangkat sistem informasi, akan
mempunyai arsip pencatatan masalah rujukan UKM di Fasilitas Kesehatan,
sebagaimana tertulis dalam lampiran tentang register pengiriman,
penerimaan rujukan, balasan rujukan atau rujukan balik masalah UKM di
Fasilitas Kesehatan, tanpa membedakan tingkat Fasilitas Kesehatannya.

38
3. Aspek yang perlu dicatat oleh Fasilitas Kesehatan pada buku
register/pencatatan antara lain :
a. Merujuk Masalah UKM: Identitas fasilitas pemohon, waktu rujukan,
Tujuan Rujukan, Jenis Objek rujukan, kondisi masalah kesehatan yang
dihadapi, upaya yang telah dilaksanakan, jenis bantuan yang ingin
diterapkan, dan alasan merujuk.
b. Menerima rujukan: Identitas fasilitas pemohon, Asal Rujukan waktu
rujukan, Tujuan Rujukan, Jenis Objek rujukan, kondisi masalah
kesehatan yang dihadapi, upaya yang telah dilaksanakan, dan jenis
bantuan yang ingin diterapkan.
c. Membalas rujukan: Identitas penerima rujukan, Unit Pembalas
Rujukan, waktu rujukan, Asal Rujukan, Jenis Objek rujukan, kondisi
masalah kesehatanyang dihadapi perujuk, upaya yang telah dilakukan
perujuk, jenis bantuan yang diharapkan perujuk, informasi penyebab
dirujuk.
d. Menerima balasan rujukan: Identitas penerima rujukan, Unit Pembalas
Rujukan, waktu rujukan, Asal Rujukan, Jenis Objek rujukan, kondisi
masalah kesehatanyang dihadapi perujuk, upaya yang telah dilakukan
perujuk, jenis bantuan yang diharapkan perujuk, informasi penyebab
dirujuk.
e. Rujukan Balik: Identitas penerima rujukan, Unit Pembalas Rujukan,
waktu rujukan, Tujuan Rujukan, Jenis Objek rujukan, kondisi masalah
kesehatan pada saat dirujuk, upaya Bantuan yang telah diberikan,
kondisi terakhir masalah kesehatan masyarakat, dan follow up yang
dianjurkan.
4. Untuk lebih melengkapi data yang diperlukan di masing-masing Fasilitas
Kesehatan, diberi kelonggaran untuk menambahkan kolom-kolom yang
diperlukan Fasilitas Kesehatan bersangkutan;
5. Pengisian kolom-kolom dalam pencatatan rujukan UKM sedapat mungkin
mudah diisi, proses pencatatan diupayakan tidak harus banyak menulis, dan
setiap pelayanan harus segera didokumentasikan dalam buku register sejak

39
Fasilitas Kesehatan penerima rujukan menerima kepastian bahwa ada
masalah kesmas yang sudah akan dirujuk dari Fasilitas Kesehatan perujuk.
6. Informasi tentang pengiriman masalah UKM dari Fasilitas Kesehatan
perujuk segera dicatat di kolom yang ditentukan dalam pencatatan rujukan,
dan akan menjadi peringatan bagi Fasilitas Kesehatan rujukan, terutama bila
masalah UKM yang dirujuk adalah masalah emergensi, sehingga Fasilitas
Kesehatan rujukan harus siap siaga. Proses rujukan dapat berjalan dengan
baik, selain harus didukung dengan pelayanan yang baik dan segera, juga
harus didukung kepatuhan petugas mencatat data pelayanan secara teratur,
segera dan tidak menunda untuk setiap masalah kesehatan yang dilayani.
7. Sementara untuk masalah kesehatan rujukan balik, pencatatan dalam
register rujukan balik UKM akan menjadi arsip Fasilitas Kesehatan yang
dirujuk balik. Selain itu informasi yang diberikan kepada Fasilitas
Kesehatan perujuk semula akan menjadi informasi untuk telusur masalah
kesehatan dalam upaya tindak lanjut pelayanan secara komprehensif.
Sedangkan dan kemungkinan masalah yang tidak terkontrol dalam rujukan
akan dapat diketahui dan diberitahukan kepada Fasilitas Kesehatan perujuk
ataupun Fasilitas Kesehatan perujuk balik.
B. Pelaporan
1. Secara rutin triwulan, setiap fasilitas kesehatan melaporkan masalah rujukan
UKM kepada Dinas Kesehatan setempat sesuai dengan stratanya.
2. Selain itu, fasilitas kesehatan juga diharapkan melaporkan pelaksanaan
kegiatan, hasil-hasil kegiatan, masalah dan hambatan yang dihadapi dalam
menjalankan tugas dan fungsinya dalam pelayanan.
3. Secara rutin sarana pelayanan kesehatan melaporkan masalah rujukan UKM
menggunakan format sebagai berikut:
a. Format Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan
Merupakan laporan rujukan Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan
yang mencakup berbagai kegiatan Rujukan Pasien, Rujukan
Spesimen/Penunjang Diagnostik lainnya dan Rujukan Pengetahuan.
Laporan rujukan Puskesmas yang menggunakan format Fasilitas
Kesehatan di tingkat Kecamatan dibuat setiap triwulan oleh masing-
masing Puskesmas berdasarkan registrasi masalah Rujukan UKM.

40
Laporan ini dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota paling lambat
tanggal 5 (lima) pada awal bulan triwulan berikutnya.
b. Format Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Format laporan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang merupakan
rekapan rujukan Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan yang
mencakup berbagai kegiatan Rujukan UKM. Laporan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota merupakan laporan rekapan setiap bulan berdasarkan
laporan Puskesmas. Laporan ini dikirim/diemail ke Dinas Kesehatan
Provinsi setiap triwulan, paling lambat tanggal 10 (lima) bulan pertama
triwulan berikutnya.

XIII. Monitoringdan Evaluasi


Monitoring dan evaluasi dilaksanakan dengan tujuan agar fasilitas
kesehatan yang menyelenggarakan rujukan melaksanakan rujukan sesuai dengan
Rujukan UKM Provinsi Jawa Timur.
A. Pengertian Monitoring dan Evaluasi
Monitoring adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan
regionalisasi sistem rujukan, mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan
yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin.
Evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan
(input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar.
Monitoring dan evaluasi merupakan kegiatan rutin yang berkesinambungan
dan harus terus menerus dilakukan. Pada dasarnya monev merupakan kegiatan
pemantauan pelaksanaan kegiatan bukan suatu kegiatan untuk mencari kesalahan,
tetapi membantu melakukan tindakan perbaikan secara terus menerus. Berbagai
kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang dilakukan, antara lain :
1. Kegiatan pemantauan dan penilaian proses pengiriman rujukan.
Dari kegiatan pengiriman masalah kesehatan yang dinilai :
a. Komunikasi pra rujukan;
b. Kelengkapan isian format rujukan;
c. Ketepatan waktu merujuk, dan kemana masalah kesehatan dirujuk;
d. Proses pendampingan rujukan dan pelayanan yang diberikan;

41
e. Persentase kasus yang dirujuk tiba di lokasi yang disarankan;
f. Persentase masalah kesehatan yang dirujuk mendapat/diberi tanda terima
rujukan.
2. Kegiatan pemantauan dan penilaian proses penerimaan rujukan.
Dari kegiatan menerima masalah rujukan UKM yang dinilai :
a. Komunikasi pra rujukan;
b. Proses penerimaan dan penanganan yang dilakukan;
c. Persentase rujukan yang dapat ditangani;
3. Kegiatan pemantauan dan penilaian proses membalas rujukan.
Dari kegiatan membalas rujukan, dinilai:
a. Kelengkapan isian format balasan rujukan;
b. Saran yang diberikan ke pelayanan kesehatan perujuk;
c. Persentase balasan rujukan yang dikirim dari semua kasus rujukan yang
diterima;
d. Pencatatan dan pelaporan.
4. Kegiatan pemantauan dan penilaian proses menerima balasan rujukan.
Dari kegiatan menerima balasan rujukan, dinilai:
1. Proses penerimaan dan penanganan balasan rujukan yang diberikan;
2. Konsistensi dan kepatuhan menindaklanjuti saran yang diberikan fasilitas
pelayanan rujukan;
3. Prosentase surat balasan rujukan yang diterima dari semua masalah yang
dirujuk;
4. Prosentase atas ketepatan identifikasi masalah yang dirujuk dengan
diagnosa setelah dilakukan penanganan;
5. Pencatatan dan pelaporan.
5. Dari kasus yang perlu tindak lanjut atas saran dari fasilitas rujukan.
a. Prosentase kasus rujukan balik yang dapat ditangani di fasilitas pengirim
rujukan;
b. Masalah dan hambatan yang dijumpai dalam menindaklanjuti saran-saran
yang diberikan;
c. Konsistensi dan kepatuhan menindaklanjuti saran yang diberikan fasilitas
pelayanan rujukan.

42
6. Kegiatan memantau dan menilai koordinasi rujukan antar sarana kesehatan,
dalam rangka memberikan kepastian bahwa masalah kesehatan yang dirujuk
akan mendapatkan penanganan yang lebih baik dan sesuai yang diharapkan,
maka sebelum melakukan rujukan harus dilakukan komunikasi dengan
fasilitas kesehatan yang akan menerima masalah kesehatan guna untuk
memastikan bahwa fasilitas kesehatan yang dimaksud dapat, siap dan mampu
menerima masalah kesehatan yang akan dirujuk.
7. Kemampuan memanfaatkan data dan informasi yang ada, untuk perbaikan dan
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan rujukan.
B. Tujuan Monitoring dan Evaluasi
1. Pelaksanaan pemantauan dan penilaian (monitoring dan evaluasi/Monev)
dalam penyelenggaraan pelayanan rujukan kesehatan masyarakat,
dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan, dan merupakan
kegiatan rutin dalam manajemen penyelenggaraan pelayanan kesehatan
masyarakat. Adapun tujuan pemantauan dan penilaian penyelenggaraan
Rujukan UKM adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan fungsi sistem
rujukan pelayanan kesehatan masyarakat termasuk rujukan masalah
gawatdarurat dan kebencanaan.
2. Pada dasarnya proses Monev penyelenggaraan Rujukan UKM, bukan suatu
kegiatan untuk mencari kesalahan, tetapi merupakan kegiatan yang
dilaksanakan secara berkala dan terus menerus dalam rangka membantu
upaya perbaikan dan peningkatan fungsi Rujukan UKM.
3. Kegiatan Monev dilakukan sebagai usaha untuk mengetahui apa yang sedang
dilaksanakan, bagaimana proses pelaksanaan dan hasilnya ataupun prestasi
yang dapat dicapai, dan bila terjadi penyimpangan dari standar yang telah
ditentukan, dapat segera diperbaiki, sehingga semua hasil dan atau prestasi
dapat dicapai sesuai dengan rencana.
4. Kegiatan Monev sebagai upaya manajemen akan berjalan dengan lebih baik,
apabila didukung pembinaan dan pengawasan yang dilakukan oleh para
pembina fasilitas kesehatan ditingkatnya secara berjenjang, berturut-turut dari
tingkat terdepan oleh supervisor di Dinas KesehatanKabupaten/Kota dan

43
Dinas Kesehatan Provinsi, sesuai kewenangan masing-masing dengan
melibatkan Organisasi Profesi bersangkutan.
C. Prosedur Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Sistem Rujukan
Pihak-pihak yang terlibat dalam sistem rujukan diwajibkan melakukan
monitoring evaluasi dengan kegiatan sebagai berikut:
1. Mengumpulkan data dan informasi mengenai kegiatan pelayanan rujukan
yang telah dilaksanakan di unit pelayanan kesehatannya.
2. Pimpinan fasilitas kesehatan ini melaporkan pelaksanaan sistem rujukan, dan
kegiatan rujukan UKM.
3. Laporan ini dibuat dan ditandatangani yang berwenang.
a. Dikirimkan/diemail ke Dinas Kesehatan setempat untuk bahan penilaian
dari pelaksanaan sistem rujukan;
b. Laporan ini juga disimpan sebagai arsip oleh fasilitas pelayanan
kesehatan tersebut.
4. Data dan informasi kegiatan rujukan dilakukan analisis sebagai masukan
perencanaan perbaikan sistem rujukan di masing-masing unit dan antar unit
pelayanan kesehatan serta Dinas Kesehatan baik Kabupaten/Kota maupun
Provinsi.
5. Penanggung jawab pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi sistem
rujukan adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
D. Peran Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Provinsi dalam Monev
1. Evaluasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Provinsi
minimal setahun sekali.
2. Menganalisis tiap laporan fasilitas kesehatan diwilayahnya dan laporan dari
sumber lain tentang permasalahan dalam pelaksanaan sistem rujukan di
fasilitas kesehatan.
3. Mengambil keputusan perlu tidaknya melakukan penyelidikan lapangan.
Bila perlu, segera melakukan kunjungan ke lapangan dan membuat laporan
hasil penyelidikan lapangan.
4. Membuat laporan minimal satu tahun sekali mengenai kondisi sistem
rujukan di daerahnya.

44
5. Melakukan koordinasi dengan semua fasilitas kesehatan yang ada diwilayah
kerja, guna perbaikan sistem rujukan secara berkesinambungan.
6. Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota disampaikan ke Kepala Dinas
Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Timur.
7. Dinas Kesehatan Provinsi berperan mengkoordinasikan fasilitas kesehatan
yang menangani pelayanan kesehatan rujukan lintas wilayah
Kabupaten/Kota. Monitoring dan evaluasi sistem rujukan di internal Rumah
Sakit merupakan tanggung jawab Direktur Rumah Sakit yang bersangkutan
melalui pejabat dibidangnya.
E. Analisis dan Umpan Balik
Setiap fasilitas kesehatan menganalisis setiap masalah kesehatan
masyarakat rujukan yang dilayani guna mengevaluasi secara mandiri pada
kemampuan fasilitas baik dari aspek kemampuan sumber daya manusia, sarana
dan prasarana, dan sumber daya pendukung lainnya. Hasil analisis dapat
dipergunakan untuk memperbaiki sistem yang ada serta membuat kebijakan di
bidang kesehatan.
Data yang diharapkan ditindaklanjuti, diolah dan dianalisis lebih lanjut
antara lain berupa data pemeriksaan dan penanganan atau tindakan terhadap
masalah kesehatan masyarakat rujukan:
1. 18 Penyakit potensial wabah (Kholera, Pes, Demam Kuning, Demam Bolak-
balik, Tifus Bercak wabah, DBD, Campak, Polio, Difteri, Pertusis, Rabies,
Malaria, Influenza, Hepatitis, Tifus Perut, Meningitis, Ensefalitis, dan Antraks)
2. Penyakit Nasional,
3. PHBS
4. Keracunan
5. Penyakit Menular (terutama TB Paru, Malaria, HIV/AIDS, DBD, dan Diare)
6. penyakit yang kurang mendapat perhatian (neglected diseases) antara lain
filariasis, kusta, dan frambusia cenderung meningkat kembali, serta penyakit
pes masih terdapat di berbagai daerah
7. PD3I (TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Campak, Influenza, Demam
Tifoid, Hepatitis, Meningitis, Pneumokokus, MMR, Rotavirus, Varisela, dan
Hepatitis A)

45
8. Lain-lain yang dipandang penting.
Fasilitas kesehatan secara rutin melaporkan masalah rujukan kesehatan
masyarakat rujukan kepada Dinas Kesehatan setempat sesuai dengan stratanya
dan ditembuskan/diteruskan kepada Dinas Kesehatan Provinsi. Selanjutnya Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi membuat umpan balik
kepada fasilitas kesehatan tersebut.
F. Pembinaan dan Pengawasan
Pembinaan dan pengawasan dilakukan secara berjenjang oleh Dinas
Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan melibatkan
Organisasi Profesi sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
1. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Organisasi Profesi Wilayah Provinsi
bertanggung jawab atas pembinaan dan pengawasan Rujukan UKM tingkat
provinsi;
2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Organisasi Profesi Cabang
Kabupaten/Kota bertanggung jawab atas pembinaan dan pengawasan
regionalisasi Rujukan UKM di tingkat kabupaten/kota;
3. Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengikut sertakan
asosiasi perumah sakitan dan organisasi profesi kesehatan;
4. Dalam rangka memantau pelaksanaan kegiatan regionalisasi sistem rujukan
Provinsi Jawa Timur, kegiatan pembinaan dan pengawasan dilaksanakan
secara berjenjang dari pelayanan kesehatan tingkat kecamatan ke pelayanan
kesehatan tingkat Kab/Kota dan Provinsi yang dilakukan secara berurutan
mulai dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sampai Dinas Kesehatan
Provinsi.

XIV. Kriteria Keberhasilan


Untuk mengukur keberhasilan Rujukan UKM dalam rangka Penataan dan
Pengembangan Rujukan di Provinsi Jawa Timur, digunakan suatu indikator
keberhasilan.
A. Indikator Keberhasilan

46
1. Angka Ketepatan Rujukan UKM, yaitu proporsi antara kesesuaian
pelaksanaan alur rujukan regional yang seharusnya dibandingkan dengan
seluruh pelayanan rujukan di suatu fasilitas kesehatan.
2. Angka Rujukan Fasilitas Kesehatan di tingkat Kecamatan, yaitu proporsi
antara jumlah masalah kesehatan rujukan di Fasilitas Kesehatan di tingkat
Kecamatan dibandingkan dengan seluruh masalah rujukan di Fasilitas
Kesehatan di tingkat Kecamatan.
3. Angka Ketidakmampuan Penanganan Rujukan, yaitu proporsi antara jumlah
masalah kesehatan masyarakat rujukan yang tidak mampu dilayani
dibandingkan seluruh masalah kesehatan rujukan di suatu fasilitas kesehatan.
(diukur di Fasilitas Kesehatan penerima rujukan).
4. Angka Balasan Rujukan Dikirim, yaitu proporsi antara jumlah balasan
rujukan yang dikirim dibandingkan dengan seluruhkasus rujukan yang
diterima di suatu fasilitas kesehatan.(diukur di Fasilitas Kesehatan penerima
rujukan).
5. Angka Balasan Rujukan Diterima, yaitu proporsi antara jumlah balasan
rujukan yang diterima dibandingkan dengan seluruh kasus rujukan di suatu
fasilitas kesehatan. (diukur di Fasilitas Kesehatan perujuk).
6. Index Kepuasan Rujukan, yaitu proporsi antara jumlah sampling masalah
kesehatan masyarakat rujukan yang puas dibandingkan dengan seluruh
sampling masalah kesehatan masyarakat rujukan yang disurvei pada suatu
waktu di fasilitas kesehatan. (diukur di Fasilitas Kesehatan penerima
rujukan).
B. Cara Menghitung Indikator Keberhasilan

1 Angka Kesesuaian Regionalisasi Sistem Rujukan


Rujukan Regional yg Sesuai per bulan
X 100 = %
Seluruh Rujukan per bulan

2 Angka Rujukan Fasilitas Kesehatan

Kasus Rujukan di Fasilitas Kesehatan per bulan


X 100 = %
Seluruh Kasus di Fasilitas Kesehatan per bulan

47
3 Angka Ketidakmampuan Pelayanan Rujukan

Rujukan yg Tidak Mampu dilayani per bulan


X 100 = %
Seluruh Masalah Kesmas Rujukan per bulan
4 Angka Balasan Rujukan Dikirim

Balasan Rujukan Dikirim per bulan


X 100 = %
Seluruh Masalah Kesmas Rujukan per bulan
5 Angka Balasan Rujukan Diterima
Balasan Rujukan Diterima per bulan
X 100 = %
Seluruh Masalah Kesmas Rujukan per bulan

6 Index Kepuasan Pelayanan Rujukan

Pasien Rujukan (sampling) yg Puas


X 100 = %
Seluruh Masalah Kesmas Rujukan yg disampling

C. Target Indikator Keberhasilan Regionalisasi Sistem Rujukan


Tabel 1 : Target Indikator Keberhasilan Regionalisasi Sistem Rujukan

Target Kinerja Regionalisasi Sistem Rujukan


Indikator Th Th Th Th
Th 2015 2016 2017 2018 2019
Angka Ketepatan
70% 75% 80% 85% 90%
Rujukan UKM
Angka Rujukan PUKM <30% <25% <20% <15% <15%
Angka Ketidakmampuan
<30% <25% <20% <15% <15%
Penanganan Rujukan
Angka Balasan Rujukan
70% 75% 80% 85% 85%
Dikirim
Angka Balasan Rujukan
70% 75% 80% 85% 85%
Diterima
Index Kepuasan
70% 75% 80% 85% 85%
Rujukan

XV. Penutup
Demikian Pedoman Teknis Rujukan UKM di Provinsi Jawa Timur ini
disusun. Semoga dapat membantu pemahaman tentang sistem rujukan dan bisa
mewujudkan penataan serta pengembangan Rujukan UKM.

48
DAFTAR PUSTAKA

UUD 1945 Pasal 28 H ayat 1;


Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3237);
UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456);
Undang-Undang No. 25 Tahun 2009, tentang Pelayanan Publik;
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5072);
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68)
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011, tentang Badan Pelaksana Jaminan Sosial;
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah
Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3447);
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan(Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3637);
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 8737);
Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional;

49
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/MENKES/PER/VII/2008, tentang
SPM Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 657/MENKES/Per/VIII/2009, tentang
Pengiriman dan Penggunaan Spesimen Klinik, Materi Biologik dan Muatan
Informasinya;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 340/MENKES/PER/III/2010, tentang
Kelasifikasi Rumah Sakit;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 411/MENKES/Per/III/2010 tentang
Laboratorium Klinik;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1464/MENKES/PER/X/I/2010 tentang
Ijin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2052/MENKES/PER/X/2011 tentang Izin
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan
Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional;
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2014, Tentang Pusat Kesehatan
Masyarakat;
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 462/MENKES/SK/V/2002 Tentang Safe
Community (Masyarakat Hidup Sehat dan Aman);
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 828/MENKES/SK/IX/2008 Tentang
Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota.

50
Lampiran 1 Contoh Surat Rujukan UKM
Contoh_SURAT RUJUKAN UKM
Sistem Rujukan UKM Kabupaten/Kota..
Faskes Perujuk : Kasus:
Bag/Unit :
Alamat Faskes :
Telp/Fax :
No Rujukan :
Hari/Tanggal :
Jam :

Jenis Objek Rujukan Kepada Yth:


1. Sarana/Logistik ................................................................................
2. Tenaga ahli Di :
3. Rujukan Operasional ................................................................................

Mohon Konsul dan bantuan penanganan masalah kesehatan masyarakat:


Kasus :...............................................................................................
Kondisi masalah kesehatan yang dihadapi
:...............................................................................................
................................................................................................
Upaya yang telah dilakukan:
:..
................................................................................................
Jenis Bantuan Yang diharapkan
:...............................................................................................
................................................................................................
Alasan di rujuk :...
................................................................................................

Demikian atas bantuannya banyak terimakasih.

Penerima : Pengirim :
Salam Sejawat

(...................................................) (...................................................)

Ket :
Form Rangkap 2
Lembar 1 : disertakan penerima rujukan
Lembar 2 : Arsip monev

51
Lampiran 2 Contoh Surat Menerima/Membalas Rujukan UKM
Contoh_SURAT Menerima/Membalas RUJUKAN UKM
Sistem Rujukan UKM Kabupaten/Kota..
Faskes Penerima rujukan: Kasus:
Bag/Unit :
Alamat Faskes :
Telp/Fax :
No Rujukan :
Hari/Tanggal :
Jam :

Jenis Objek Rujukan Kepada Yth :


1. Sarana/Logistik
........................................................................
2. Tenaga ahli
Di :
3. Rujukan Operasional
........................................................................

Mohon Konsul dan bantuan penanganan masalah kesehatan masyarakat:


Kasus : .............................................................................................
Kondisi masalah kesehatan yang dihadapi perujuk:
:...............................................................................................
................................................................................................
Upaya yang telah dilakukan perujuk:
:...
...............................................................................................
Jenis Bantuan Yang diharapkan perujuk:
:..............................................................................................
............................................................................................
Informasi penyebab dirujuk
: ..
............................................................................................

Demikian atas bantuannya banyak terimakasih.

Penerima: Pengirim:
Salam Sejawat

(...................................................) (...................................................)

Ket :
Form Rangkap 2
Lembar 1 : disertakan penerima rujukan
Lembar 2 : Arsip monev

52
Lampiran 3 Contoh Surat Rujukan Rujukan Balik
Contoh_SURAT RUJUKAN RUJUKAN BALIK
Sistem Rujukan UKM Kabupaten/Kota..
Faskes rujukan Balik: Kasus:
Bag/Unit :
Alamat Faskes :
Telp/Fax :
No Rujukan :
Hari/Tanggal :
Jam :

Jenis Objek Rujukan Kepada Yth :


1. Sarana/Logistik
........................................................................
2. Tenaga ahli
Di :
3. Rujukan
........................................................................
Operasional
Dengan ini disampaikan bahwa masalah yang sejawat rujuk :
Kasus :...............................................................................................
Kode Kasus :...
Kondisi saat rujuk :...............................................................................................
:...
:...
Bantuan yang telah diberikan:
:
:
Kondisi terakhir masalah
:............................................................................................
:
:
Follow Up yang di anjurkan :
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
....................................................................................................................................
Atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih
Pengirim :
Salam Sejawat

(....................................................................)
Dari Puskesmas/RS :......................................
Telp/HP:.......................................................
Ket :
Form Rangkap 2
Lembar 1 : disertakan penerima rujukan
Lembar 2 : Arsip monev

53
Lampiran 4 Matrix Rujukan UKM Provinsi Jawa Timur
MATRIX RUJUKAN UKM PROVINSI JAWA TIMUR
Kabupaten/Kota.. Kasus :
Faskes : No rujukan :
Bag/Unit : Hari/Tanggal :
Alamat Faskes : Jam :
Telp/Fax :
Luas Lintas Disiplin
No Upaya Kesehatan Masyarakat Urgensi Geografi Kewenangan Teknologi SDM Anggaran
wilayah Sektor Ilmu
1 Analisis Situasi Kesmas
2 Populasi bermasalah dan penilaian
faktor
3 Promosi Kesehatan
3.1 Enabeling (PHBS)
3.2 Advokasi
3.3 Mediasi
4 Kemitraan Layanan
5 Sosial Marketing Program
6 Skrining aktif dan Pasif
7 Imunisasi
8 Pengobatan dan Pencegahan Masal
9 Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
10 Manajemen Sumber Daya Manusia
11 Manajemen Logistik
12 Monitoring dan Evaluasi
13 Riset Operasional
14 Penyelidikan Epidemiologi
15 KLB dan Wabah
16 Penilaian Cepat saat Bancana
17 Penanggulangan Kesmas saat Bencana
18 Peraturan Program Kesmas
Catatan: Cara pengisian pada tabel adalah sebagai berikut: Ketua Pelaksana Diagnosis
X : Ada kendala
na (Not Aplicable) : Tidak ada kendala ( )
54
Lampiran 5 Contoh Pengisian Matrix Rujukan UKM Provinsi Jawa Timur
Contoh Pengisian Matrix Rujukan UKM Provinsi Jawa Timur
PROBLEM 1.MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT TIDAK PERLU
DIRUJUK

Puskesmas Y merupakan puskesmas yang terdapat di kecamatan Sumbian


Kabupaten Y. Puskesmas ini memiliki Sumberdaya Manusia yang cukup beragam
dari berbagai bidang profesi. Anggaran yang dimiliki oleh puskesmas X cukup
besar untuk menangani masalah kesehatan yang ada di wilayahnya. Teknologi
yang dimiliki sudah canggih dan modern. Wilayah kerja Puskesmas X mudah
diakses karena berada di pinggiran kota.
Berdasarkan hasil laporan tahunan di wilayah puskesmas Y kejadian
Kanker cervik meningkat dibandingkan tahun lalu. Upaya yang dilakukan untuk
dapat mengurangi resiko peningkatan kejadian kanker cervik di wilayah kerja
puskesmas Y adalah dengan melakukan skrining aktif kepada populasi yang
beresiko yaitu remaja putri dan wanita. Oleh karena itu dilakukan upaya skrining
aktif untuk mendeteksi dini kanker servik di wilayah kerja puskesmas yang
bertempat di puskesmas Y secara gratis. Dilakukanlah diagnose masalah
kesehatan masyarakat berdasarkan rujukan UKM yang terlihat pada Lampiran
PROBLEM 1.
Berdasarkan Lampiran PROBLEM 1 menunjukkan hasil analisis yang
dilakukan oleh tim UKM di puskesmas Y. Untuk Upaya Kesehatan Masyarakat
yang berupa penentuan populasi beresiko menunjukkan bahwa tidak ada faktor
merujuk yang terpenuhi dengan kata lain dapat ditangani sendiri oleh puskesmas
sendiri karena populasi beresiko kanker servik sudah jelas yaitu remaja putri dan
wanita. Dalam melakukan upaya skrining, tim diagnose masalah kesehatan
masyarakat menganggap bahwa skrining bukan merupakan hal yang urgensi untuk
dilakukan karena bukan termasuk bencana, KLB, ataupun Wabah penyakit.
Wilayah yang dicangkup adalah wilayah kerja puskesmas Y saja dengan geografi
yang mudah diakses karena berdekatan dengan kota. Pelaksanaan upaya skrining
sendiri merupakan wewenang puskesmas sebagai penanggung jawab bidang
kesehatan di wilayah kecamatan Y sehingga tidak membutuhkan lintas sector.
Sumber daya manusia yang dimiliki oleh puskesmas sudah cukup lengkap dan
memiliki kompetensi yang baik untuk melakukan tindakan skrining kanker cervik.
Untuk skrining kanker cervik tersebut, puskesmas memiliki peralatan yang
memadai dan memiliki anggaran yang cukup untuk melaksanakannya.
Berdasarkan hasil tersebut maka puskesmas TIDAK PERLU MERUJUK ke
jenjang yang lebih tinggi yaitu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk
melakukan tindakan skrining maupun penentuan populasi beresiko.
Lampiran PROBLEM 1.
MATRIX RUJUKAN UKM PROVINSI JAWA TIMUR

Kabupaten/Kota Y Kasus : Skrining Ca Servix


Faskes : Puskesmas Y No rujukan : 01
Bag/Unit : UKM Hari/Tanggal : Selasa, 22 Januari 2016
Alamat Faskes : Jl Jasa no 1 kec Sumbian Jam : 11.09 WIB
Telp/Fax : 0346 (824356)
Luas Lintas Disiplin
No Upaya Kesehatan Masyarakat Urgensi Geografi Kewenangan Teknologi SDM Anggaran
wilayah Sektor Ilmu
1 Analisis Situasi Kesmas
2 Populasi bermasalah dan penilaian na na na na na na na na na
faktor
3 Promosi Kesehatan
3.1 Enabeling (PHBS)
3.2 Advokasi
3.3 Mediasi
4 Kemitraan Layanan
5 Sosial Marketing Program
6 Skrining aktif dan Pasif na na na na na na na na na
7 Imunisasi
8 Pengobatan dan Pencegahan Masal
9 Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
10 Manajemen Sumber Daya Manusia
11 Manajemen Logistik
12 Monitoring dan Evaluasi
13 Riset Operasional
14 Penyelidikan Epidemiologi
15 KLB dan Wabah
16 Penilaian Cepat saat Bancana
17 Penanggulangan Kesmas saat Bencana
18 Peraturan Program Kesmas
Catatan: Cara pengisian pada tabel adalah sebagai berikut: Ketua Pelaksana Diagnosis
X : Ada kendala ttd
na (Not Aplicable) : Tidak ada kendala ( Nadia, S.KM. )
PROBLEM 2.MASALAH TERKAIT PENYAKIT DAN KESEHATAN
MASYARAKAT PERLU DIRUJUK

Penanganan masalah Pneumonie untuk yang diderita pada setiap orang


dilakukan secara medis, apabila perlu dilakukan rujukan maka menggunakan
pedoman sistem rujukan UKP yang di jawa timur dikenal dengan Sistem
Regionalisasi Rujukan. Namun untuk masalah pengurangan, pencegahan, dan
penanganan masalah pneumonie secara umum, apabila perlu rujukan maka
dilakukan rujukan UKM sesuai dengan sistem yang berlaku. Sehingga perlu
dilakukan 2 bentuk rujukan apabila diperlukan yaitu rujukan UKP (Sistem
Regionalisasi Rujukan Jawa Timur) dan Rujukan UKM (rujukan Upaya
Kesehatan Masyarakat).
Puskesmas X merupakan puskesmas yang terdapat di kecamatan
Sumberjaya Kota Pengiling. Puskesmas ini memiliki Sumberdaya Manusia yang
cukup beragam dari berbagai bidang profesi. Anggaran yang dimiliki oleh
puskesmas X cukup besar untuk menangani masalah kesehatan yang ada di
wilayahnya. Teknologi yang dimiliki sudah canggih dan modern. Wilayah kerja
Puskesmas X mudah diakses karena berada di pinggiran kota. Namun Puskesmas
X terletak di tepi jalan raya yang biasa dilewati oleh penambang pasir tanpa tutup.
Hasil evaluasi puskesmas X menunjukkan bahwa kejadian pneumonie meningkat
dengan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan puskesmas lain yang jauh dari
jalan raya. Tim asessmen puskesmas melakukan identifikasi pada wilayah
puskesmas untuk menemukan penyebab permasalahan yang terjadi. Berdasarkan
karakteristik puskesmas dan lingkungannya, ditemukan bahwa kemungkinan
penyebab terjadinya pneumonia berasal dari debu pasir yang sering melewati jalan
di wilayah kerja puskesmas x. Berdasarkan hasil prioritas tim assessment
puskesmas maka ditentukanlah penyelesaian yang dianggap tepat adalah
mengenai pengurangan kadar debu udara yang disebabkan oleh penambangan
pasir yang berlebihan dan truk yang tanpa tutup. Solusi yang dianggap tepat
adalah dengan mengeluarkan kebijakan mengenai kewajiban truk penambang
pasir untuk menutup menggunakan terpal. Oleh karena itu dilakukan pengisian
matrix Rujukan UKM provinsi Jawa Timur yang dapat dilihat pada Lampiran
PROBLEM 2.
Hasil Lampiran PROBLEM 2 menunjukkan bahwa terdapat tanda silang
(X) pada kolom analisis situasi terhadap lintas sector dan kewenangan. Terdapat
tanda silang pada kewenangan dikarenakan untuk membuat kebijakan berdasarkan
solusi yang ditetapkan yaitu setiap truk penambang pasir harus ditutupi
menggunakan terpal bukan kewenangan dan kapasitas puskesmas untuk
mengeluarkan kebijakan tersebut. tanda silang pada lintas sector dikarenakan
kebijakan mengeluarkan peraturan mengenai peraturan truk penambang pasir
harus menggunakan terpal sebagai penutup bukan tanggung jawab bidang
kesehatan melainkan kebijakan pemerintah daerah serta bidang transportasi.
Terdapat dua tanda silang (X) pada matrix yang berarti bahwa puskesmas
HARUS MERUJUK pada jenjang yang lebih tinggi yaitu pada Dinas
Kabupaten/Kota sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Lampiran PROBLEM 2.
FORM 1.MATRIX RUJUKAN UKM PROVINSI JAWA TIMUR

Kabupaten/Kota Pengiling Kasus : Pneumonie


Faskes : Puskesmas X No rujukan : 01
Bag/Unit : UKM Hari/Tanggal : Rabu, 25 Januari 2016
Alamat Faskes : Jl Pengiling no 1 kec Sumberjaya Jam : 08.09 WIB
Telp/Fax : 0344 (811356)
Luas Lintas Disiplin
No Upaya Kesehatan Masyarakat Urgensi Geografi Kewenangan Teknologi SDM Anggaran
wilayah Sektor Ilmu
1 Analisis Situasi Kesmas na na na X X na na na na
2 Populasi bermasalah dan penilaian
faktor
3 Promosi Kesehatan
3.1 Enabeling (PHBS)
3.2 Advokasi
3.3 Mediasi
4 Kemitraan Layanan
5 Sosial Marketing Program
6 Skrining aktif dan Pasif
7 Imunisasi
8 Pengobatan dan Pencegahan Masal
9 Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
10 Manajemen Sumber Daya Manusia
11 Manajemen Logistik
12 Monitoring dan Evaluasi
13 Riset Operasional
14 Penyelidikan Epidemiologi
15 KLB dan Wabah
16 Penilaian Cepat saat Bancana
17 Penanggulangan Kesmas saat Bencana
18 Peraturan Program Kesmas
Catatan: Cara pengisian pada tabel adalah sebagai berikut: Ketua Pelaksana Diagnosis
X : Ada kendala ttd
na (Not Aplicable) : Tidak ada kendala ( Sanjaya, S.KM. )

Anda mungkin juga menyukai