Anda di halaman 1dari 9

TEKNOLOGI SERAT

PROSES SINTESIS VANILLIN

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Serat

Oleh :

Nova Puspita NIM. 131424019

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
Pendahuluan
Vanillin adalah aldehida fenolik, sebuah senyawa organik dengan rumus molekul
C8H8O3. Vanilli (Vanilla planifolia) merupakan salah satu komoditas tanaman tropis
khususnya Indonesia yang bernilai ekonomis tinggi karena kandungan senyawa flavor
yang dapat dihasilkannya. Vanilli.merupakan rempah termahal kedua yang diperdagangkan
di pasar internasional dan Indonesia merupakan negara terbesar yang memproduksi dan
mengekspor vanilli, dimana memenuhi kebutuhan pasar dunia sebesar 682 ton atau setara
dengan 40 % kebutuhan dunia (De Guzman dan Siemonsma, 1999). Negara-negara tujuan
ekspor Indonesia terbesar untuk antara lain Cina, Amerika Serikat, Jerman, Korea, dan
Singapura.
Bentuk komoditas vanilli yang diekspor dan diimpor dapat dikelompokkan dalam 2
bentuk, yaitu whole bean (bentuk vanilli utuh kering) dan other vanilli (bentuk olahan
vanilli lainnya berupa ekstrak vanilli, oleoresin, bubuk, dll). Ekstrak vanili merupakan
salah satu bentuk vanili olahan yang lebih mudah dan luas penggunaannya. Ekstrak vanili
digunakan sebagai flavouring agent dessert, like baked goods, es krim, minuman dan
custard. Selain itu ekstrak vanilli digunakan juga oleh industri selain pangan seperti
parfum, obat-obatan dan kosmetik (de Guzman dan Siemonsma 1999).
Komponen cita rasa yang khas dari biji vanilli adalah vanillin (4-hydroxy-3-
methoxybenzaldehyde) yang merupakan Kristal fenolik aldehid, dengan persentase sebesar
85 % dari senyawa volatile yang terdapat pada buah vanilli. Besarnya kadar vanillin
merupakan parameter terpenting untuk menilai kualitas vanilli. Komponen lainnya adalah
p-hidroksi benzaldehid (sampai 9 %) dan p-hidroksi benzyl metal eter (1 %). Disamping
itu, khusus untuk vanilli Tahiti memiliki flavor berbeda akibat adanya komponen tambahan
yakni piperonal (heliotropin, 3,4-dioksimetilen benzaldehid) dan diasetil (butandion)
(http://www.portal.remarkable food.com 2005).
Selain prekusor dan enzim pembentuk flavor, buah vanilli mengandung komponen
zat gizi lengkap yang meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Menurut
de Guzman dan Siemonsma (1999), per 100 g berat buah vanilli kering vanilla planifolia
Andrews, mengandung 20 g air, 3 5 g protein, 11 g lemak, 7 9 g gula, 15 10 g abu,
1,5 3 g vanillin, 2 g soft resin dan asam vanilat yang tidak berflavor.
Pada umumnya, ekstrak vanilli dibuat dari vanilli kering dengan metode
konvensional (maserasi atau perkolasi ) selama 1 bulan. vanilli kering diperoleh dari vanilli
segar yang telah melewati proses kuring, yaitu proses fermentasi dan pengeringan polong
vanilli segar, karena biji vanilli (vanilla beans) segar tidak memiliki aroma (Deptan, 2004).

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 2


Proses fermentasi berperan dalam pembentukan aroma dan flavor vanilli yaitu mengubah
glukosida menjadi glukosa, vanilin dan kompleks flavor lain. Glukosida dengan jumlah
tertinggi yaitu glukovanilin menghasilkan vanillin (komponen flavor utama vanilli) oleh
aktivitas enzim -glukosidase.
Disamping vanilli yang diperoleh secara alami, terdapat pula vanilli sintetik yang
dapat dibuat dari eugenol (komponen flavor minyak cengkeh), lignin (limbah industi
kertas), dan guaiacol (petrokimia). Vanilli sintetik lebih murah namun flavor yang
dihasilkan tidak dapat menandingi flavor vanilli alami. Pada vanilli sintetik muncul flavor
yang tidak diinginkan yaitu heavy, grassy odor dan bitter aftertaste.

Sintesis Vanilli
Pada prinsipnya pembuatan vanilin semi sintetik dari minyak cengkeh melalui tahapan
beberapa produk antara yaitu eugenol dan isoeugenol. Oleh karenanya sintesis vanilin ini
dapat terjadi dengan dua cara, yaitu 1) Dengan memisahkan terlebih dahulu non-eugenol
dalam minyak cengkeh dan 2) Sintesis dilakukan langsung di dalam minyak cengkeh tanpa
perlu memisahkan non-eugenol, artinya non-eugenol baru dipisahkan setelah terbentuknya
isoeugenol. Menurut Soemadiharga (1973), prinsip pembuatan vanilin dari eugenol adalah
reaksi isomerisasi yang disusul dengan reaksi oksidasi.
Proses yang dipilih untuk pembuatan produk vanilin sintetik dengan bahan baku
eugenol ini terdiri atas tiga tahapan proses, yaitu proses isomerisasi, proses oksidasi dan
proses ekstraksi. Pembuatan vanilin sintetik ini menggunakan pemanasan gelombang
mikro, yaitu pada proses isomerisasi dan proses oksidasi. Pemakaian gelombang mikro
untuk aktivasi reaksi telah diketahui dapat mempercepat laju reaksi dalam waktu yang
lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan pemanasan konvensional. Sehingga
efisiensi yang didapatkan dengan pemakaian gelombang mikro untuk proses pemanasan
akan diperoleh lebih tinggi (Cisadesi, 2007).
Menurut Carey (2003), oksidasi pada senyawa organik adalah proses peningkatan
jumlah ikatan di antara karbon dan oksigen (ikatan CO) atau penurunan jumlah ikatan
karbon hidrogen (ikatan CH). Menurut Sastrohamidjojo (2002), oksidasi isoeugenol
menjadi vanilin oleh nitrobenzena dalam media alkali merupakan serangkaian transfer
elektron dari OH ke senyawa nitro melalui substrat tidak jenuh.
Adapun bahan tambahan yang digunakan pada proses produksi vanilin sintetik,
yaitu pada proses isomerisasi dibutuhkan KOH dan pada proses oksidasi dibutuhkan

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 3


oksidator nitrobenzene, pelarut dimetil sulfoksida (DMSO), dan HCl serta pada proses
ekstraksi dibutuhkan pelarut dietil eter.
Masing-masing proses akan menghasilkan hasil samping yaitu, pada proses
isomerisasi akan menghasilkan air dan sisa eugenol yang tidak bereaksi. Lalu, pada proses
oksidasi akan menghasilkan hasil samping antara lain, asetaldehid, azobenzene,
nitrobenzene, DMSO dan K-isoeugenolat yang tidak bereaksi, garam, dan air. Kemudian,
hasil samping yang dihasilkan dari proses ekstraksi adalah residu (nitrobenzene, DMSO,
garam, asam vanilat) dan dietil eter. Di bawah ini adalah tabel rincian dari hasil samping
setiap proses produksi.
Tabel 1. Hasil samping dari setiap proses produksi
Proses Produksi Hasil Samping
Isomerisasi air dan sisa eugenol yang tidak bereaksi
Oksidasi Asetaldehid, azobenzene, nitrobenzene, DMSO dan K-
isoeuegenolat yang tidak bereaksi, garam dan air
Ekstraksi residu (nitrobenzene, DMSO, garam, asam vanilat)

Banyak pelarut dan pereaksi yang digunakan dalam pembuatan vanilin sintetik ini,
antara lain KOH, nitrobenzene, DMSO, dan HCl. Pereaksi dan pelarut ini mudah menguap,
oleh karena itu, mereka dengan sengaja dilepaskan ke atmosfer setelah penggunaan. Di
bawah ini adalah rincian mengenai toksisitas dari masing-masing pelarut yang digunakan
pada pembuatan vanilin sintetik.
a) KOH
Beberapa senyawa alkohol juga memiliki sifat-sifat toksik, salah satunya adalah
KOH. Gugus alkohol menyebabkan senyawa ini bersifat iritasi yang lebih besar dan
narkose atau sebagai pembius, tetapi sifat-sifat ini tidak terdapat pada alkohol
dengan molekul lebih besar. Disisi lain, alkohol dengan molekul besar larut dalam
lemak. Sebagai akibatnya, mereka tinggal lebih lama di dalam tubuh, dan merusak
organ-organ bagian dalam (to damage internal organs). Karena derajat
penguapannya relatif rendah, maka masalah serius terhadap inhalasi uap KOH tidak
umum terjadi.
b) DMSO
Dimetilsulfoksida adalah suatu solven yang juga sering digunakan. Ia bersifat polar,
oleh karena itu ditemukan dalam penggunaan yang khusus. DMSO masuk ke kulit
(penetrasi) secara efektif, tetapi memiliki sifat toksik yang rendah. Namun, ia
membawa bahan-bahan kimia yang bercampur dengannya melewati kulit dan dapat
menyebabkan konsekuensi yang serius bila ia bercampur dengan suatu toksikan

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 4


yang kuat. DMSO dapat terinhalasi atau diabsorbsi melalui kulit sehingga merusak
lever. Karbon disulfida sangat mudah menguap, dan memiliki uap bersifat
berbahaya. Lebih signifikan lagi, ia menyebabkan kerusakan yang serius terhadap
otak dan susunan syaraf perifer (peripheral nervous system). Ia juga berkontribusi
terhadap penyakit jantung koroner (coronary heart disease).
c) Nitrobenzene
Nitrobenzene adalah senyawa yang mudah menguap dan terpapar secara luas dalam
bentuk uap. Paparan nitrobenzene ke dalam tubuh menyebabkan kerusakan susunan
syaraf pusat, saluran pencemaan, dan sumsum tulang yang membentuk sel-sel
darah merah. Para pekerja yang terpapar secara berlebihan (overexposed workers)
menderita anemia dan menurunnya jumlah sel darah putih. Kontak dalam waktu
yang lama dengan kulit menyebabkan kerusakan kulit mirip luka bakar, dan
beberapa pekerja menjadi lebih sensitif. Studi epidemiologi terhadap para pekerja
yang terpapar benzene dalam periode waktu yang lama menunjukkan
bertambahnya pekerja yang menderita kanker, terutama kanker darah (leukimia).
d) HCl
Asam klorida adalah asam kuat yang paling tidak berbahaya untuk ditangani
dibandingkan dengan asam kuat lainnya. Walaupun asam, ia mengandung ion
klorida yang tidak reaktif dan tidak beracun. Asam klorida dalam konsentrasi
menengah cukup stabil untuk disimpan dan terus mempertahankan konsentrasinya.
Oleh karena alasan inilah, asam klorida merupakan reagen pengasam yang sangat
baik. Dalam lingkungan industri, pencegahan merupakan tindakan yang lebih baik
daripada membiarkan terjadi keracunan. Antisipasi dan tindakan keamanan harus
merupakan upaya pertama. Prinsip kerja secara aman adalah penting, tetapi sering
dianggap berlebihan karena mengeluarkan biaya lebih banyak dan tidak
menghasilkan nilai tambah yang nyata pada produk.
Pencegahan terjadinya keracunan dalam proses produksi di industri ini
dapat dilakukan dengan mengurangi bahaya dan resiko yang mungkin dapat
ditimbulkan pada pekerja dan lingkungan. Selain itu juga diusahakan upaya
pengamanan seperti menyediakan tempat penyimpanan yang aman, tersedianya
sarana air pembilas di tempat-tempat strategis, menyediakan dokter perusahaan,
melengkapi pekerja dengan masker dan sarung tangan, dan sebagainya.

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 5


Diagram Alir Sintesis Vanillin
Pembuatan produk vanillin sintetik menggunakan bahan baku eugenol yang berasal dari
minyak cengkeh. Proses produksi vanillin sintetik terbagi menjadi 3 macam proses, yaitu
proses isomerisasi, proses oksidasi dan proses ekstraksi. Di bawah ini adalah gambar
diagram alir proses produksi vanillin sintetik.

KOH dan Air Isoeugenol

Nitrobenzen
Pengadukan
dan DMSO

Dipanaskan dengan oven

HCl 25 %
Pendinginan
hingga pH 2-3

Lapisan bawah
Terbentuk dua lapisan
(fase organik)

Lapisan Atas
(fase air)

Ekstraksi 3x dengan 20 ml
dietil eter

Ekstrak vanilin yang didapat diekstraksi


2x dengan larutan NaHSO3

Ditambahkan 2,7 ml asam sulfat pekat


dan dipanaskan pada suhu 50oC, 1 jam

Larutan diekstrak 2x
dengan 20 ml dietil eter

Pelarut dietil
eter diuapkan

Vanilin mentah mengkristal


sempurna pada suhu kamar

Gambar 2. Diagram Alir Blok Sintesis Vanilin

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 6


Sifat Fisika dan Kimia Vanillin
Rumus molekul C8H8O3
Massa molar 152,15 g mol-1
Persis massa 152,047344122 g mol-1
Penampilan Kristal putih
Bau Floral, menyenangkan
Kepadatan 1,056 g cm -3
Titik lebur 81-83 C, 354-356 K, 178-181 F
Titik didih 285 C, 558 K, 545 F
Kelarutan dalam air 10 g dm-3
log P 1.208
Tekanan uap > 1 Pa
Keasaman (p K a) 7.781
Kebasaan (p K b) 6.216
Struktur Struktur kristal Monoklinik

Tahap pertama pembuatan vanilin sintetik adalah proses isomerisasi yaitu mengubah
eugenol enjadi K-isoeugenolat dalam suasana basa. Proses isomerisasi eugenol menjadi
isoeugenol dilakukan dengan menggunakan panas dari gelombang mikro yang didapatkan
pada alat microwave. Proses ini menggunakan katalis basa kuat kalium hidroksida (KOH)
yang proses konversi atau reaksi isomerisasinya terjadi pada sekitar suhu 120oC. Di bawah
ini adalah gambar dari reaksi yang terjadi.

Gambar 2. Reaksi perubahan eugenol menjadi isoeugenol dengan KOH

Setelah itu, tahap kedua adalah proses oksidasi. Reaksi oksidasi k-isoeugenolat
menjadi vanilin menggunakan oksidator nitrobenzene. Nitrobenzene tersebut digunakan
untuk mengubah K-isoeugenolat menjadi K-vanilat dan menghasilkan hasil samping
berupa azobenzene dan asetaldehid.
Sastrohamidjojo (2002) mengatakan reaksi oksidasi isoeugenol dapat dilakukan
dengan menggunakan oksidator nitrobenzene. Reaksi oksidasi ini berlangsung dalam fase
organik, sehingga untuk membawa oksidator nitrobenzene ke dalam fase organik
dibutuhkan pelarut dimetil sulfoksida (DMSO). Agar reaksi berjalan sempurna, jumlah
oksidator dan pelarut yang digunakan harus melebihi jumlah bahan yang akan direaksikan.
Berdasarkan literatur di atas maka pada tahap oksidasi ini ditambahkan pula DMSO
dan dipanaskan dalam oven gelombang mikro. Di dalam oven gelombang mikro terjadi

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 7


radiasi gelombang mikro yang diserap oleh bahan dan mengubah energi radiasi menjadi
energi panas yang akan memanaskan larutan sampel secara langsung sehingga akan
menaikkan suhu larutan dan terjadi reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi isoeugenol dengan
oksidator nitrobenzene dalam suasana basa menghasilkan kalium vanilat seperti yang
terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 3. Reaksi oksidasi menggunakan nitrobenzene

Untuk merubah kalium vanilat menjadi vanilin maka dilakukan tahapan hidrolisis
menggunakan asam. Pada tahapan ini ion K+ pada senyawa vanilat digantikan oleh ion
OH- dan garam KCl hasil reaksi terendapkan sehingga dapat dipisahkan dari komponen
vanilin. Reaksi hidrolisis vanilin dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Selanjutnya
garam kalium vanilat yang terbentuk diasamkan dengan HCl. Reaksinya :

Gambar 4. Reaksi oksidasi pembentukan vanilin (Soemadiharga,1973)

Hasil akhir dari tahapan hidrolisis adalah terbentuknya dua lapisan yaitu lapisan
atas (air) yang mengandung vanilin dan lapisan bawah yang mengandung azobenzene,
asetaldehid, DMSO dan reaksi hasil samping lainnya.
Vanilin yang terdapat pada lapisan atas hasil reaksi oksidasi dan hidrolisis
selanjutnya diekstraksi menggunakan dietil eter. Menurut Carey (2003), dietil eter
mempunyai tingkat volatil tinggi dan titik didih yang rendah (350C) sehingga mudah
digunakan pada saat proses penguapan. Dietil eter digunakan untuk memisahkan

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 8


komponen vanilin dari air dan campuran lain hasil oksidasi yang ikut tercampur seperti
nitrobenzene, dimetil sulfoksida, azobenzene dan asetaldehid, sehingga vanilin terikat
dengan pelarutnya (dietil eter). Kemudian dilakukan destilasi atau penguapan pelarut untuk
memisahkan campuran vanillin dan pelarut dietil eter, sehingga pada akhirnya akan
didapatkan produk vanillin sintetik.

Gambar 5. Diagram Alir Proses Sintesis Vanilin

Proses Sintesis Vanilin Nova Puspita (131424019) | 9