Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PANCASILA SEBAGAI PEDOMAN HIDUP

Kelompok 9
M. Dimas Mahardika (Ketua) (17/415215/TK/46504)
Angga Verian (17/415209/TK/46498)
Dylan Felyan (17/415212/TK/46501)
Muhammad Dani (17/415219/TK/46508)
Sandika Usman (17/415225/TK/46514)

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA

1
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Prakata 1
B. Latar Belakang 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Pancasila sebagai Pedoman Hidup Pribadi 3
B. Pancasila sebagai Pedoman Hidup Bermasyarakat 5
C. Pancasila sebagai pedoman Hidup Berbangsa 6
D. Pancasila sebagai Pedoman Hidup Bernegara 8
BAB III KESIMPULAN 10
Kesimpulan 10
DAFTAR PUSTAKA 11

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Prakata
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang atas kehendakNya kita semua diberikan
kesempatan untuk mengemban ilmu untuk berbakti kepada diriNya, kepada bangsa, dan kepada
masyarakat. Syukur juga kami panjatkan kepada hadirat-Nya yang atas izinnya kami berhasil
menyusun makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Kami juga mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada dosen kami, Dra. Hj. Widyastini M.Hum., teman-teman kami, baik
dalam satu kelompok yang telah menyusun makalah ini bersama-sama maupun di tempat lain.

Akhir kata, makalah ini masih jauh dari sempurna, dan mempunyai ruang untuk
perbaikan baik dari segi penulisan maupun dari segi konten. Oleh karena itu, kami dengan tangan
terbuka menerima segala jenis timbal balik positif dan kritik konstruktif yang kelak akan berguna
untuk perbaikan makalah ini. Semoga kelak makalah ini akan bermanfaat untuk sesama dan
berhasil untuk berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita bangsa.

Yogyakartra, September 2017

Penyusun

1
A. Latar Belakang

Pancasila adalah ideologi bagi bangsa Indonesia yang telah dirumuskan oleh para pendiri
bangsa. Dipinjam dari Bahasa Sansekerta, Pancasila terdiri dari dua kata, yang pertama adalah
paca yang berarti lima, dan sila yang berarti prinsip. Pancasila memang terdiri dari lima sila,
yaitu ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia,
kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan
yang terakhir ialah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila adalah dasar negara, fondasi kehidupan bangsa, dan ideologi bagi rakyat
Indonesia. Pancasila yang dirumuskan oleh para bapak pendiri bangsa diciptakan untuk
mewadahi karakter bangsa Indonesia yang heterogen dan beragam, berbeda-beda tetapi tetap satu
juga. Dengan diajarkannya mata kuliah Pancasila, diharapkan para mahasiswa akan menjadi
lebih nasionalis, berjiwa pemimpin, dan berjiwa mengabdi kepada masyarakat.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Pancasila Sebagai Pedoman Hidup Pribadi

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tentunya menjadi pedoman hidup bagi negara
Indonesia serta seluruh warganya. Sebagai warga negara Indonesia yang berbudi dan berakhlak
baik, Pancasila merupakan pedoman hidup kita berbangsa dan bernegara.

Sila-sila pada Pancasila adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan Yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila-sila tersebut merupakan sila-sila yang sepatutnya kita terapkan dalam kehidupan pribadi kita
sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

a. .Ketuhanan yang Maha Esa

Sila pertama menunjukkan bahwa negara kita menjunjung tinggi nilai Ketuhanan yang berarti
setiap warga negara Indonesia wajib untuk memiliki agama. Di Indonesia terdapat berbagai
macam agama. Indonesia juga tidak memiliki paham atheism sama sekali. Sebagai pemeluk
agama tentunya kita wajib menjalankan kewajiban agama kita masing-masing serta menjalankan
apa yang diajarkan agama kita. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan karena Indonesia
menolak ajaran-ajaran sesat. Setiap agama pastinya mengajarkan tentang kebaikan dan
kerukunan. Karena itu tidak ada agama yang dapat dinyatakan sebagai agama paling benar
ataupun agama yang salah dan kontroversial di Indonesia. Maka sebagai manusia Pancasila kita
harus menjunjung tinggi toleransi antar agama dan menajalankan kewajiban agama kita masing-
masing

3
b. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Kemanusiaan adalah tentang nilai-nilai yang dianut oleh manusia dalam kaitan hubungannya
dengan sesama manusia, seperti toleransi, welas-asih, cinta-kasih, tolong-menolong, gotong-
royong, mendahulukan kepentingan umum, dan banyak lainnya. Semua nilai itu adalah antara
manusia dengan manusia. (Atmosuwito, 2016). Pancasila menegaskan kemanusiaan pada sila
ke 2 yang dapat kita mengerti sebagai nilai-nilai antar sesama manusia dalam kehidupan kita.
Dalam hidup kita sebagai manusia Pancasila berarti kita harus menghargai hak dan kewajiban
sesame manusia. Kita juga perlu berani membela kebenaran mutlak. Terutama sebagai seorang
mahasiswa sebagai jembatan rakyat kita harus berani melawan arus yang salah. Kemudian
menghormati bangsa lain. Kita tidak boleh menganggap sebagai satu-satunya bangsa yang benar
dan kita harus menghargai bangsa lain sebagai sesama manusia.

c. Persatuan Indonesia

Persatuan Indonesia berarti Indonesia adalah satu. Sebagai warga negara Indonesia kita perlu
mengingat akan para pejuang kemerdekaan yang berasal tidak hanya dari satu golongan. Sebagai
pribadi yang menjunjung Pancasila kita perlu mengingat bahwa setiap orang yang ada di sekitar
kita berasal dari golongan yang berbeda namun ingat bahwa mereka adalah sama seperti kita
sebagai bagian dari bangsa Indonesia

d. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan/Perwakilan

Indonesia mengutamakan musyawarah mufakat dalam hal pengambilan keputusan. Setiap


pendapat perlu dihargai dalam musyawarah. Pancasila mengajarkan kita untuk menghargai
kesempatan bagi setiap orang untuk berpendapat. Untuk menyelesaikan masalah lebih baik
bermusyawarah dibandingkan menggunakan keputusan sepihak untuk menyelesaikannya.

e. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila ini menunjukkan bahwa manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk
menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat Indonesia. Sebagai pribadi yang berpegang pada
Pancasila maka kita perlu menyadari bahwa setiap dari kita memiliki kewajiban untuk
menciptakan keadilan sosial di sekitar kita. Untuk itu kita perlu mengembangkan sikap adil

4
terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak
orang lain.

B. Pancasila sebagai Pedoman Hidup Masyarakat

Pancasila secara konsepsional memiliki beberapa nilai yaitu nilai dasar, nilai
instrumental, dan nilai praksis. Dalam penerapannya sebagai pandangan hidup dalam
bermasyarakat nilai prakis inilah yang dilaksanakan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Nilai
praksis yang dimaksuda bukan merupakan hal yang sama dengan praktik dikarenakan niai-nilai
dari sila Pancasila ini dalam penerapannya secara hierarkis berada di bawah nilai instrumental
dan menjabarkan nilai instrumental tersebut secara taat asas.

Banyak sekali wujud penerapan Pancasila dalam kenyataan kehidupan sehari-hari


khususnya dalam bermasyarakat, dan semua itu dilakukan baik oleh penyelenggara Negara
ataupun masyarakat itu sendiri. Aktualisasi tersebut tercermin dalam sila-sila Pancasila itu
sendiri, yaitu:

Sila pertama, contoh penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat adalah menghormati


orang lain atau warga negara Indonesia atas kebebasannya dalam menganut agama dan
kepercayaannya masing-masing, serta menjadikan ajaran-ajaran sebagai anutan untuk dijadikan
jalan hidupnya masing-masing. Pandangan yang sudah diterapkan oleh warga negara Indonesia
ini yang mana memiliki agama yang sberagam menjadikan mereka memiliki rasa toleransi yang
tinggi antar sesama umat beragama sehingga konflik antar umat agama minimal.

Sila kedua, menghormati setiap orang dan warga negara sebagai pribadi utuh sebagai
manusia, manusia sebagai subjek pendukung, penyangga, pengemban, serta pengelola hak-hak
dasar kodrati yang merupakan suatu keutuhan dengan eksistensi dirinya secara bermartabat.
Sila ketiga, dalam kehidupan kita harus bersikap dan bertindak adil dalam mengatasi
segmentasi-segmentasi atau primordialisme sempit dengan jiwa dan semangat Bhinneka
Tunggal Ika, bersatu dalam perbedaan, dan berbeda dalam persatuan dikarenakan
keberagaman yang sangat di Indonesia ini bukan merupakan sesuatu penyebab terpecah-
belahnya Indonesia namun menjadi alasan dan alat pemersatu warga menjadi Indonesia yang
satu, sesuai dengan semboyan negara kita.

5
Sila keempat, kebebasan, kemerdekaan, dan kebersamaan dimiliki dan dikembangkan
dengan dasar musyawarah untuk mencapai kemufakatan secara jujur dan terbuka dalam menata
berbagai aspek kehidupan.
Sila kelima, perwujidannya adalah membina dan mengembangkan masyarakat yang
berkeadilan sosial yang mencakup kesamaan derajat (equality) dan pemerataan (equity) bagi
setiap orang atau setiap warga negara.
Sila-sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan integratif menjadikan
dirinya sebagai sebagai referensi kritik sosial kritis, komprehensif, serta sekaligus evaluatif bagi
etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa ataupun bernegara. Konsekuensi dan
implikasinya ialah bahwa perwujudan yang mencerminkan satu sila akan mendasari dan
mengarahkan sila-sila lain. Apabila semua nilai-nilai pada sila-sila Pancasila benar-benar diresapi
dan dijadikan oleh masyarakat juga penyelenggara negara Indonesia sebagai pandangan dalam
kenyataan kehidupan sehari-hari maka kemungkinan terjadinya masalah, terpecah belahnya
bangsa Indonesia yang disebabkan oleh ketidaksesuaian dengan nilai-nilai sila Pancasila
kuantitasi terjadinya akan kecil. Namun, pada kenyataannya bisa dibilang masih cukup banyak
warga negara Indonesia yang belum sepenuhnya menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup
mereka, karena itulah mengapa pendidikan mengenai Pancasila itu penting.

C. Pancasila sebagai Pedoman Hidup Bangsa

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa adalah suatu bentuk transfomasi yang lebih luas
dari bahasan sebelumnya yang mencakup Pancasila sebagai pandangan hidup bermasyarakat.
Dalam konteks kali ini sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila dinilai berperan sangat
penting dalam kelestarian Bangsa Indonesia sendiri. Tanpa Pancasila Indonesia mungkin tak
akan berbentuk menjadi sebuah negara kesatuan, dan tak hanya itu perpecah belahan antar
golongan pasti akan mudah terjadi jika Pancasila tak dijadikan dasar pandangan hidup bangsa.

Dalam sejarahnya Pancasila telah lahir sejak era Kerajaan Majapahit, namun disaat itu
Pancasila masih berupa suatu ajaran yang berkaitan dengan larangan seperti a) Jangan mencabut
nyawa makhluk hidup; b) Jangan mengambil barang yang tidak diberika;.c) Jangan berbuat zina;
d) Jangan berkata bohong; e) Janganlah minum-minuman yang memabukkan. Namun kini
Pancasila dipahami sebagai pedoman hidup Bangsa Indonesia sehingga sekarang maknanya

6
menjadi lebih luas dari Pancasila pada era Kerajaan Majapahit, pemahaman Pancasila di era ini
yaitu merupakan nilai-nilai luhur yang wajib dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

Nilai nilai luhur bangsa Indonesia dituangkan dan disatukan menjadi lima asas utama
yang saling berkolaborasi menjadi sebuah dasar yang berperan penting dalam persatuan dan
kesatuan Indonesia, lima asas penting itu juga terkandung dalam pembukaan UUD 1945 alinea
ke-4. Karena mengandung nilai nilai bangsa Indonesia inilah Pancasila juga bisa diartikan
sebagai sebuah jalan bagi kehidupan bangsa Indonesia agar perjalanan hidup bangsa menjadi
terarah.

Tanpa sebuah dasar suatu bangsa akan mudah terombang ambing di dalam era globalisasi
ini. Hal itu akan berdampak negatif untuk bangsa itu sendiri, karena tanpa jalan yang terarah
dapat membuat bangsa itu menjadi tertinggal oleh bangsa bangsa lain yang memiliki
pandangan hidup yang terarah dan bangsa itu nantinya akan mudah terpecah belah jika ada
suatu konflik yang muncul di tengah tengah bangsa itu.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dinilai sangat tepat untuk
perkembangan bangsa Indonesia dalam era global saat ini, namun dewasa ini nilai nilai
Pancasila mulai dilupakan oleh Bangsa Indonesia sendiri. Pengaruh global sedikit banyak
mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, banyak hal positif yang kita peroleh dari era
global saat ini namun tak dapat kita tutup sebelah mata bahwa dampak negatif umumnya lebih
besar dibandingkan dampak positif yang ada. Hal ini lah yang perlu digarisbawahi oleh
pemerintah saat ini. Namun bukan berarti kita membebankan seluruh tanggung jawab kita
kepada pemerintah, melainkan kita harus memulai untuk mencintai, mempelajari, dan
mengamalkan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan kita.

Selain itu, Pancasila sebagai suatu pandangan hidup dalam kehidupan berbangsa tidak
bersifat tertutup dan kaku, tetapi bersifat dinamis dan terbuka. Hal ini berarti pandangan hidup
berdasar Pancasila besifat aktual, dinamis, antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan
dengan perkembangan zaman, iptek, serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat.
Keluwesan dan fleksibilitas serta keterbukaan yang dimiliki oleh pandangan hidup berdasar
Pancasila menjadikan Pancasila tidak ketinggalan zaman dalam tatanan sosial, namun sifatnya

7
yang terbuka bukan berarti nilai-nilai dasar Pancasila dapat dirubah atau diganti dengan nilai
dasar yang lain.

Pancasila besifat aktual, dinamis, antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan
perkembangan zaman, iptek, serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat membuat
Pancasila menjadi pandangan hidup yang dinilai mampu mencakup seluruh aspek yang ada, dan
dapat terus digunakan diwaktu kapan pun juga. Namun dewasa kini pandnagan hidup berbangsa
dengan berdasar pada Pancasila mulai terdegradasi di tengah kehidupan bangsa. Seperti
banyaknya kasus yang sebenarnya bertentangan dengan nilai Pancasila namun karena orang yang
melanggar itu memiliki suatu kekuasaan maka kasus itu menjadi tak cepat terselesaikan atau
terkadang hilang tanpa kabar.

Hal ini sungguh menjadi hal yang ironis di negeri ini, nilai nilai Pancasila sudah mulai
luntur bahkan bukan hanya di lingkungan masyarakat tetapi juga di pemerintahan sendiri. Tak
hanya itu bahkan seorang pemimpin DPR yang seharusnya menjadi panutan Bangsa Indonesia
justru terjerumus kedalam jeratan korupsi. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Bangsa
Indonesia. Bahwa nilai nilai Pancasila kini mulai hilang seiring berjalannya waktu, jika tak
ditangani secara tanggap hal ini tentu akan menjadi faktor utama hancurnya Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

D. Pancasila sebagai Pedoman Hidup Bernegara

Sebuah negara membutuhkan pedoman, ideologi, dan falsafah utama dalam menjalankan
pemerintahan didalamnya. Tanpanya, sebuah negara akan menjadi seperti kapal yang terombang-
ambing di lautan lepas tanpa nahkoda dan tanpa tujuan. Oleh karena itu, negara membutuhkan
pedoman dan falsafah utama agar mempunyai tujuan jelas dan dalam mewujudkan tujuan
tersebut, terdapat pedoman utama yang dapat dijadikan rujukan dan referensi utama.

Begitu juga dengan Indonesia. Indonesia membutuhkan suatu dasar dan falsafah negara
untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara didalamnya. Dasar negara tersebut ialah
Pancasila, yang secara etimologis berarti lima prinsip (paca=lima, sila=prinsip; dipinjam dari
Bahasa Sansekerta). Pancasila telah dirancang oleh para pendiri bangsa dengan matang dan

8
didesain untuk menjadi identitas bangsa Indonesia yang heterogen dan terdiri dari banyak suku,
ras, dan agama.

Karena Pancasila adalah dasar negara Indonesia, hal itu mempunyai sebuah implikasi.
Implkasi tersebut mempunyai arti bahwa kehidupan bernegara di Indonesia haruslah mengikuti
prinsip-prinsip dasar Pancasila. Pancasila juga menjadi dasar bagi konstitusi negara Indonesia,
dan semua undang-undang serta peraturan di Indonesia haruslah menjadikan Pancasila sebagai
rujukan pamungkas. Pancasila juga harus dijadikan sebagai landasan bagi ketatangeraan di
Indonesia.

Fungsi Pancasila sebagai dasar negara dikukuhkan didalam alinea keempat UUD 1945.
Dalam alinea tersebut dituliskan lima sila dalam Pancasila dan dinyatakan bahwa Pancasila
adalah landasan bagi pemerintahan Indonesia. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya,
Pancasila adalah sumber dari semua hukum di Indonesia. Setiap dari keputusan yang dilakukan
oleh pemerintahan Indonesia haruslah sesuai dengan sila sila Pancasila, dan dengan begitu
menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup dalam bidang kenegaraan.

Posisi Pancasila sebagai pedoman hidup dalam bernegara diratifikasi lebih lanjut lagi
dalam Ketetapan MPR No.XX/MPRS/1966, Ketetapan MPR No.V/MPR/1973, dan Ketetapan
MPR No.IX/MPR/1978.

9
BAB 3
KESIMPULAN
Pancasila adalah dasar negara, falsafah hidup, dan identitas nasional bagi bangsa
Indonesia. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya bagi Pancasila untuk diimplementasikan dan
dijadikan pedoman hidup bagi seluruh elemen berbangsa, bernegara, dan kehidupan di Indonesia.
Pancasila haruslah diterapkan di kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, kehidupan
berbangsa, dan kehidupan bernegara di Indonesia. Pancasila haruslah dihidupkan mulai dari
masing-masing rumah, di kehidupan bermasyarakat, hingga pada sidang-sidang dan rapat di
parlemen.

Pancasila terdiri dari lima sila, yang pertama ialah ketuhanan yang maha esa, yang kedua
ialah kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ketiga ialah persatuan Indonesia, yang keempat
ialah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakila,
dan yang terakhir ialah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sila tersebut
dirancang oleh para pendiri bangsa, masing-masing dari mereka mengandung makna positif dan
berfungsi untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

10
Daftar Pustaka
Ariawantara, P., 2017. Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.
[online] Tersedia di: http://s2mkp.fisip.unair.ac.id/implementasi-Pancasila- dalam-kehidupan-
berbangsa-dan-bernegara/ [diakses pada 9 September 2017]

Atmosuwito, D., 2016. Pancasila dan Kemanusiaan Kita [online] Tersedia di:
http://hmifisipolugm.or.id/pancasila-dan-kemanusiaan-kita/ [dikases pada 9 September 2017]

Farisyi, S., 2017. Kedudukan Pancasila Dalam Ketatanegaraan Republik Indonesia [online]
Tersedia di:
https://www.academia.edu/9667796/Kedudukan_Pancasila_Dalam_Ketatanegaraan_Republik_In
donesia [diakses pada 8 September 2017]

Kaelan., 2014. Pendidikan Pancasila, edisi ke 10. Yogyakarta: Paradigma.

11