Anda di halaman 1dari 21

TUGAS

PENGAUDITAN II

BAB 20
MENYELESAIKAN PENGUJIAN DALAM SIKLUS AKUISISIDAN
PEMBAYARAN: VERIFIKASI AKUN TERPILIH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Pengauditan II
Oleh :

Liliyana Wulandari Putri

NRP : 1351227/AK-B

Fitriani Sultan

NRP :1351238/AK-B

Jessica Chrisca

NRP : 1451200/AK-B

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

JURUSAN AKUNTANSI

2017
A. JENIS AKUN LAIN DALAM SIKLUS AKUISISI DAN PEMBAYARAN
Jenis aktiva, beban, dan kewajiban bagi banyak perusahaan akan berbeda, terutama yang
berkecimpung dalam industri selain ritel, grosir, dan manufaktur. Suatu tinjauan
mengenai pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi khusus untuk
siklus akuisisi dan pembayaran serta yang umumnya digunakan dalam prosedur analitis
dan pengujian atas rincian saldo utang usaha. Masalah yang berkaitan dengan beberapa
akun kunci lainnya dalam siklus ini akan dibahas, terutama audit atas :
- Properti, pabrik, dan peralatan
- Beban dibayar dimuka
- Kewajiban lainnya
- Laba dan akun beban
B. AUDIT ATAS PROPERTI, PABRIK, DAN PERALATAN
Properti, pabrik, dan peralatan adalah aktiva yang memiliki umur yang diharapkan lebih
dari satu tahun, digunakan dalam bisnis, dan tidak diperoleh untuk dijual kembali. Tujuan
penggunaa aktiva itu sendiri sebagai bagian dari operasi bisnis klien dan umur
diharapkannya lebih dari satu tahun merupakan karakteristik yang signifikan yang
membedakan aktiva tersebut dengan persediaan, beban dibayar dimuka, dan investasi.
Metodologi untuk merancang pengujian atas rincian saldo bagi akun lainnya dalam
siklus akuisisi dan pembayaran, antara lain :
Mengindentifikasi resiko bisnis klien yang mempengaruhi akun lainnya
Menetapkan salah saji yang dapat ditoleransi dari menilai resiko inheren untuk akun
lainnya
Menilai resiko pengendalian untuk siklus akuisisi dan pembayaran
Merancang danmelaksanakan pengujian engendalian dan pengujian substantif atas
transaksi untuk siklus akuisisi dn pembayaran
Merancang dan melaksanakan prosedur analitis untuk akun lainnya
Meranang pengujian atas rincian saldo akun lainnya untuk memenuhi tujuan audit
yang berkaitan dengan saldo

C. Tinjauan atas Akun yang Berkaitan dengan Peralatan


Catatan akuntansi yang utama untuk peralatan manufaktur serta akun properti,
pabrik,dan peralatan lain umumnya berupa file induk aktiva tetap. File induk ini meliputi
catatan yang terinci atas setiap bagian peralatan dan jenis properti lainnya yang dimiliki.
Setiap catatan dalam file mencantumkan deskripsi aktiva, tanggal akuisisi, biaya awal,
penyusutan tahun berjalan, dan akumulasi tahun bersangkutan.Total semua catatan dalam
file induk sama dengan saldo buku besar umum untuk akun-akun terkait: peralatan
manufaktur, beban penyusutan, dan akumulasi penyusutan. Fileinduk juga berisi
informasi mengenai properti yang diperoleh dan dibuang selama tahun
bersangkutan.Auditor membedakan cara memverifikasi peralatan manufaktur dengan
akun aktiva lancar karena tiga alasan:
Biasanya akusisi peralatan manufaktur jarang dilakukan pada periode berjalan,
terutama peralatan berat yang digunakan dalam proses manufaktur;
Jumlah setiap akuisisi sering kali material.
Peralatan mungkin tetap disimpan dan dicatat dalam catatan akuntansi selama
beberapa tahun.
Dalam audit atas peralatan manufaktur dan akun-akun yang terkait, auditor harus
memisahkan pengujian ke dalam kategori berikut:
- Melaksanakan prosedur analitis
- Memverifikasi akuisisi tahun berjalan
- Memverifikasi pelepasan atau pembuangan tahun berjalan
- Memverifikasi saldo akhir akun aktiva
- Memverifikasi beban penyusutan
- Memverifikasi saldo akhir akumulasi penyusutan.
1. Melakukan Prosedur Analistis
Bandingkan beban penyusutan dibagi biaya peralatan manufaktur kotor dengan tahun
sebelumnya.
Bandingkan akumulasi penyusutan dibagi biaya peralatan manufaktur kotor dengan
tahun sebelumnya.
Bandingkan beban perbaikan dan pemeliharaan, beban perlengkapan, beban peralatan
kecil tahunan dengan tahun sebelumnya.
Bandingkan biaya peralatan manufaktur kotor.
2. Memverifikasi akuisisi tahun berjalan
Perusahaan harus mencatat penambahan pembelian asset tahun berjalan dengan
benar karena asset tetap memiliki dampak jangka panjang pada laporan keuangan.
Kesalahan dalam mengapitalisasi asset atau mencatat akuisisi dengan jumlah yang
tidak benar akan berdampak pada neraca hingga perusahaan menghentikan
menggunakan asset tersebut.

Titik awal verifikasi untuk akuisisi tahun berjalan merupakan skedul yang diperoleh
dari klien atas seluruh catatan akuisisi dalam buku besar untuk asset tetap selama
tahun tersebut. Klien menyediakan informasi tersebut dari file induk properti. Daftar
skedul untuk setiap penambahan dilakukan terpisah dan mencakup tanggal akuisisi,
vendor, deskripsi, dan catatan apakah barang tersebut baru atau bekas, umur asset
untuk penentuan depresiasi, metode depresiasi, dan biayanya.
Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan pengujian atas rincian saldo untuk
penambahan peralatan:
Tujuan Audit yang Prosedur Pengujian atas Komentar
Berkaitan engan Saldo Rincian Saldo yang
Umum
Akuisisi tahun berjalan Memfooting skedul Memotong skedul akuisisi
dalam skedul akuisisi akuisisi. Menelusuri setiap dan menelusuri setiap
sama dengan jumlah file akuisisi ke file induk akuisisi yang harus
induk terkait, dan totalnya untuk melihat jumlah dan dibatasi kecuali
sama dengan buku besar deskripsinya. pengendaliannya lemah.
umum (detail tie-in). Menelusuri total ke buku Semua kenaikan saldo
besar umum. buku besar umum selama
tahun tersebut harus
direkonsiliasi dengan
skedul.
Akuisisi tahun berjalan Memeriuksa faktur vendor Bukanlah hal yang umum
seperti yang tercantum dan laporan penerimaan. untuk memeriksa secara
dalam daftar memang ada Memeriksa asset secara fisik asset yang diperoleh
(eksistensi). fisik. kecuali pengendaliannya
lemah atau jumlahnya
material.
Akuisisi yang ada telah Memeriksa faktur vendor Tujuan ini merupakan
dicatat (kelengkapan). yang berhubungan erat salah satu yang paling
dengan akun seperti penting untuk peralatan.
reparasi dan pemeliharaan
untuk mengungkapkan
item-item yang akan
menjadi peralatan.
Meriview perjanjian lease
dan sewa.
Akuisisi tahun berjalan Memeriksa faktur vendor. Luasnya tergantung pada
yang ada dalam daftar risiko inheren dan
sudah akurat (keakuratan). efektivitas pengendalian
internal.
Akuisisi tahun berjalan Memeriksa faktur vendor Tujuannya berkaitan erat
yang ada dalam daftar dalam berbagai akun dengan pengujian untuk
telah diklasifikasikan peralatan untuk kelengkapan. Hal ini
dengan benar (klasifikasi). mengungkapkan item-item dilakukan dalam kaitannya
yang harus dengan tujuan tersebut dan
diklasifikasikan sebagai pengujuian keakuratan.
peralatan manufaktur atau
kantor, baguian dari
bangunan, atau reparasi,.
Memeriksa faktur vendor
yang berhubungan erat
dengan akun reparasi
untuk mengungkapkan
item-item yang harus
dicatat sebagai peralatan.
Memeriksa beban sewa
dan lease untuk lease yang
dapat dikapitalisasi.
Akuisisi tahun berjalan Mereview transaksi yang Biasanya dilakukan
dicatat pada periode yang mendekati tanggal neraca sebagai dari pengujian
benar (pisah batas). pada periode yang benar. pisah batas utang usaha.
Klien memiliki hak atas Memeriksa faktur vendor. Biasanya masalah
akuisisi tahun berjalan utamanya adalah apakah
(hak) peralatan dimiliki atau
dilease.
Kontrak pembelian atau
lease diperiksa untuk
peralatan dan property
berwujud, abstrak, dan
tagihan pajak sering kali
diperiksa untuk dtanah dan
bangunan utama.

3. Memverifikasi Pelepasan Tahun Berjalan


Transaksi yang mencakup penghentian peralatan sering kali mengalami salah saji
bila pengendalian internal perusahaan tidak memiliki metode formal untuk memberi
tahu manajemen tentang penjualan, tukar tambah, pengabaian, atau pencurian mesin
dan peralatan yang tercatat.
Karena kelalaian untuk mencatat pelepasan peralatan yang tidak lagi digunakan
dalam bisnis dapat secara signifikan mempengaruhi laporan keuangan, pencarian
atas pelepasan yang tidak tercatat merupakan hal yang penting. Prosedur berikut
seringkali digunakan untuk memverifikasi pelepasan:
Mereview apakah asset yang baru diakuisisi menggantikan asset yang ada.
Menganalisa keuntungan dan kerugian akibat pelepasan aset dan pendapat rupa-
rupa dari adanya penerimaan akibat pelepasan aset.
Mereview modifikasi pabrik dan perubahan lini produk, pajak-pajak property, atau
penutupan asuransi atas adanya penghapusan peralatan.
Tanya jawab dengan manajemen dan pelaksana produksi mengenai kemungkinan
pelepasan aset.
Bilamana aset dijual atau dilepaskan tanpa adanya pertukaran dengan aset pengganti,
penilaian keakuratan transaksi dapat diverifikasi dengan melakukan pemeriksaan
terhadap faktur penjualan dan berkas induk property terkait,
Bilamana pertukaran aktiva untuk penggantian terjadi, auditor hendaknya yakin
bahwa aset yang baru dikapitalisasi dengan layak dan aset yang digantikan dengan
layak telah dihapuskan dari catatan, dengan mempertimbangkan nilai buku aset yang
dipertukarkan dan biaya-biaya penambahan aset baru.
4. Verifikasi saldo akhir akun asset
Dua dari tujuan-tujuan auditor sewaktu mengaudit peralatan manufaktur meliputi
penentuan bahwa:
1. Semua peralatan yang dimiliki ada secara fisik pada tanggal neraca (eksistensi).
2. Semua peralatan yang dimiliki telah dicatat (Kelengkapan),
Saat mendesain pengujian audit untuk memenuhi tujuan tersebut, auditor pertama
kali harus mempertimbangkan sifat pengendalian internal atas peralatan.
Pengendalian yang penting harus mencakup pemakaian berkas utama untuk masing-
masing asset tetap, pengendalian fisik yang memadai atas asset yang mudah
dipindahkan, penggunaan nomor identifikasi untuk setiap asset tetap, dan
perhitungan asset tetap secara periodic dan rekonsiliasinya oleh personel akuntansi.
Pertimbangan utama dalam memverifikasi pengungkapan yang terkait dengan asset
tetap adalah kemungkinan adanya rintangan hukum. Auditor dapat menggunakan
beberapa metode untuk menentukan apakah peralatan terbebani, termasuk:
Membaca syarat-syarat dalam perjanjian pinjaman da kredit.
Mengirimkan permintaan konfirmasi pinjaman kepada bank dan industry
pemberi pinjaman lainnya.
Melakukan diskusi dengan klien atau mengirimkan surat ke penasihat hokum.
5. Verifikasi beban penyusutan
Beban depresiasi adalah satu dari sedikit akun beban yang tidak diverifikasi sebagai
bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi. Tujuan
audit-terkait saldo yang paling penting untuk beban depresiasi adalah akurasi. Dalam
menentukan hal tersebut, auditor harus mempertimbangkan empat hal, yaitu:
1. Umur ekonomis untuk akuisisi masa sekarang.
2. Metode depresiasi
3. Estimasi nilai sisa
4. Kebijakan mendepresiasi asset selama tahun akuisisi dan disposisi (penghentian).
Metode yang berguna untuk mengaudit depresiasi adalah pengujian prosedur analitis
atas kewajaran yang dibuat dengan mengalikan asset tetap yang kurang didepresiasi
dengan tingkat depresiasi untuk tahun tersebut. Bila pengujian kewajaran tidak dapat
dilakukan sepenuhnya, maka pengujian perincian perlu dilakukan. Oleh karena
standard akuntansi mensyaratkan adanya penjelasan tambahan sehubungan dengan
depresiasi asset tetap, termasuk pengungkapan metode depresiasi dan umur
ekonomis atas klasifikasi asset, maka auditor melakukan prosedur untuk
mendapatkan bukti bahwa keempat tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan
depresiasi telah dipenuhi.

6. Memverifikasi Saldo Akhir Akumulasi Penyusutan


Pendebetan ke akumulasi penyusutan biasanya diuji sebagai bagian dari audit atas
pelepasan asset, sementara kredit diverifikasi sebagai bagian dari beban penyusutan.
Dua tujuan yang biasanya ditekankan dalam audit atas saldo akumulasi penyusutan
adalah:
Akumulasi penyusutan yang dinyatakan pada file induk property sama dengan
buku besar umum. Tujuan ini dapat dipenuhi dengan menguji footing
akumulasi penyusutan dalam file induk property dan menelusuri totalnya ke
buku besar umum.
Akumulasi penyusutan dalam file induk sudah akurat.

Dalam beberapa kasus, umur peralatan mungkin saja berkurang secara signifikan
karena menurunnya permintaan pelanggan atas produk, kerusakan fisik yang tidak
diduga, modifikasi operasi, atau perubahan lainnya. Berdasarkan kemungkinan-
kemungkinan tersebut, auditor harus mengevaluasi kememadaian penyisihan untuk
akumulasi penyusutan setiap tahun guna memastikan bahwa nilai buku bersih tidak
melampaui nilai realisasi asset.

D. AUDIT BEBAN DIBAYAR DI MUKA


Beban dibayar di muka, beban yang ditangguhkan, dan aktiva berwujud adalah aktiva
yang umurnya bervariasi dari bebrapa bulan hingga beberapa tahun. Hal tersebut
termasuk:
- Sewa dibayar dimuka
- Biaya organisasi
- Pajak dibayar di muka
- Paten
- Asuransi dibayar dimuka
- Merek dagang
- Beban yang ditangguhkan
- Hak cipta
- Goodwill
Dalam bagian ini, kita akan membahas beberapa pengendalian internal khusus dan
pengujian audit terkait yang biasanya berkaitan dengan beban dibayar di muka. Dalam
Pembahasan berikut, contoh audit atas asuransi dibayar di muka akan digunakan sebagai
representative akun kelompok ini karena:
Asuransi dibayar di muka ditemukan pada sebagian besar audit hamper
semua perusahaan memiliki beberapa jenis asuransi.
Masalah yang umumnya dihadapi dalam audit asuransi dibayar di muka
merupakan hal yang umum bagi kelas akun ini.
Tanggungjawab auditor untuk review cakupan asuransi merupakan
pertimbangan tambahan yang tidak ditemukan pada akun lainnya dalam
kategori ini.

1. Tinjaun terhadap Asuransi Dibayar Di muka


Gambar tersebut mengilustrasikan akun yang umumnya digunakan untuk asuransi
dibayar dimuka serta hubungan antara asuransi dibayar di muka dan siklus akuisisi dan
pembayaran melalui pendebetan ke akun asuransi dibayar di muka. Karena sumber debet
dalam akun asset adalah jurnal akuisisi, pembayaran premi asuransi sebagian telah diuji
dengan menggunakan pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi
akuisisi serta pengeluaran kas.
Asuransi dibayar di muka Beban asuransi

Saldo awal Beban asuransi


Periode berjalan

(1) Akuisisi
(premi asuransi)

Saldo akhir

(1) Akuisisi premi asuransi berasal dari siklus akuisisi dan pembayaran.

2. Pengendalian Internal
Pengendalian Internal untuk asuransi dibayar di muka dan beban asuransi dapat dengan
mudah dibagi ke dalam tiga kategori: Pengendalian terhadap akuisisi dan pencatatan
asuransi, pengendalian terhadap register akuntansi, dan pengendalian terhadap
penghapusan beban asuransi.
Register Asuransi (insurance register) adalah catatan polis asuransi yang berlaku dan
tanggal jatuh tempo setiap polis. Auditor menggunakan register asuransi untuk
mengidentifikasi polis yang berlaku terkait dengan akun asuransi dibayar di muka. Syarat
dan jumlah pembayaran polis yang berlaku dicantumkan dalam register.

3. Pengujian Audit
Dalam audit atas asuransi dibayar di muka, auditor memperoleh skedul dari klien yang
mencantumkan setiap polis yang berlaku:
Informasi tentang polis, termasuk nomor polis, jumlah cakupan, dan premi
tahunan.
Saldo awal asuransi dibayar di muka.
Pembayaran premi polis.
Jumlah yang dikenakan ke beban asuransi.
Saldo akhir asuransi dibayar di muka.
Selama proses audit asuransi dibayar di muka dan beban asuransi, auditor harus
mengingat bahwa jumlah beban asuransi merupakan nilai residu.
Saldo awal dan akhir asuransi dibayar di muka kadang-kadang tidak material dan
seringkali ada beberapa transaksi yang didebet dan dikredit ke saldo selama tahun
bersangkutan, dimana sebagian berjumlah kecil dan mudah dipahami.
Biasanya auditor melakukan prosedur analitis berikut untuk asuransi dibayar dimuka dan
beban asuransi:
Membandingkan total asuransi dibayar dimuka dan beban asuransi dengan
tahunsebelumnya.
Menghitung rasio asuransi dibayar di muka terhadap beban asuransi
danmembandingkannya dengan tahun sebelumnya.
Membandingkan setiap cakupan polis asuransi skedul asuransi yang diperoleh
dariklien dengan skedul tahun sebelumnya sebagai pengujian atas eliminasi polis
tertentuatau perubahan cakupan asuransi.
Membandingkan saldo asuransi dibayar di muka yang dihitung selama tahun
berjalanatas dasar polis per polis dengan yang ada tahun sebelumnya sebagai
pengujianterhadap kesalahan perhitungan.
Mereview cakupan asuransi yang tercantum pada skedul asuransi dibayar di muka
dengan pejabat klien yang berwenang atau broker asuransi menyangkut
kememadaian cakupan.

4. Polis Asuransi dalam Skedul Asuransi Dibayar di Muka Memang ada dan
Polis yang ada telah Dicantumkan (Eksistensi dan Kelengkapan).
Pengujian atas eksistensi dan pengabaian polis asuransi yang berlaku dapat dilakukan
pada skedul asuransi dibayar di mukaklien dengan salah satu dari dua cara berikut:
Memeriksa sampel faktur asuransi dan polis yang berlaku untuk dibandingkan
denganskedul.
Memperoleh konfirmasi informasi asuransi dari agen asuransi perusahaan.

5. Klien Memiliki Hak atas Semua Polis Asuransi dalam skedul Asuransi
Dibayar DiMuka (Hak).
Biasanya, penerima yang disebutkan dalam polis adalah klien, tetapi apabilaada hipotik
atau hak gadai lainnya, klaim asuransi mungkin dapat dibayarkan kepadakreditor.

6. Jumlah Dibayar di Muka pada Skedul Sudah Tepat dan Totalnya Sudah
Dijumlahkandengan Benar Serta Sama dengan Buku Besar Umum
(Keakuratan dan Detail Tie-In).
Pengujian audit untuk memverifikasi keakuratan asuransi dibayar di muka
melibatkanverifikasi jumlah premi asuransi, lama periode polis, dan alokasi premi ke
asuransi yang belum jatuh tempo. Jumlah premi untuk polis tertentu dan periode
waktunya dapatdiverifikasi dengan pemeriksaan faktur premi atau konfirmasi dari agen
asuransi. Skedulasuransi dibayar di muka tersebut kemudian dapat difooting dan totalnya
ditelusuri ke buku besar umum untuk menyelesaikan pengujian detail tie-in.

7. Beban Asuransi yang Berhubungkan dengan Asuransi Dibayar di Muka


telah Diklasifikasikan dengan Benar (Klasifikasi).
Contoh: asuransi kebakaran atas suatu bangunan mungkin memerlukan alokasi ke
beberapa akun, termasuk overhead manufaktur.Membebankan akun yang tepat dan
konsistensi dengan tahun sebelumnya merupakan pertimbangan utama dalam
mengevaluasi klasifikasi.
8. Transaksi Asuransi Telah Dicatat pada Periode yang Benar (Pisah Batas).
Jika auditor mengecek pisah batas akuisisi asuransi, mereka melakukannya sebagai
bagaian dari pengujian pisah batas utang usaha.
E. AUDIT KEWAJIBAN AKRUAL
Kategori utama akun yang ketiga dalam siklus akuisisi dan pembayaran adalah
kewajiban akrual, yang merupakan estimasi kewajiban yang belum dibayar atas jasa dan
manfaat yangtelah diterima sebelum tanggal neraca. Kewajiban serupa lainnya termasuk:
Gaji akrual
Pajak gaji akrual
Bonus pejabat akrual
Komisi akrual
Fee profesional akrual
Sewa akrual
Bunga akrual
Verifikasi beban akrual bervariasi tergantung pada sifat akrual dan situasi yang dihadapi
klien. Bagi sebagian besar audit, akrual hanya memerlukan waktu audit yang sedikit.

1. Mengaudit Pajak Properti Akrual


Karena sumber debet adalah jurnal pengeluaran kas, pembayaran pajak properti. Ketika
auditor memverifikasi pajak properti, kedelapan tujuan audit yang berkaitan dengan saldo
kecuali nilai realisasi bersifat relevan. Dua yang paling penting adalah :
1. Properti yang ada pada skedul akrual sudah tepat untuk mengakrualkan pajak.
Kelalaian untuk mencantumkan properti dimana pajak harus diakrualkan akan
menyatakan terlalu rendah kewajiban pajak properti (kelengkapan). Sebagai contoh salah
saji yang material dapat terjadi jika pajak properti belum dibayarkan hingga tanggal
neraca dan tidak dimasukkan sebagai pajak properti akrual.
2. Pajak properti akrual telah dicatat secara akurat. Auditor memperhatikan perlakuan
yang konsisten terhadap akrual dari tahun ke tahun (keakuratan).
Auditor memverifikasi akrual pada saat yang bersamaan dengan audit pembayaran pajak
properti tahun berjalan. Auditor juga membandingkan akrual itu dengan tahun
sebelumnya.
Auditor memulainya dengan memperoleh skedul pembayaran pajak properti dari klien,
dan membandingkan setiap pembayaran dengan skedul tahun sebelumnya untuk
menentukan apakah semua pembayaran dengan skedul tahun sebelumnya telah
dicantumkan dalam skedul yang disiapkan klien. Skedulaudit aktiva tetap juga harus
diperiksa untuk melihat penambahan dan pelepasan aktiva yangmungkin mempengaruhi
akrual pajak properti. Semua properti yang dipengaruhi olehregulasi pajak properti lokal
harus dicantumkan dalam skedul.
Auditor akan mengevaluasi kelayakan pajak properti atas setiap properti yangdigunakan
oleh klien untuk mengestimasi akrual. Auditor dapat memverifikasi pajak properti akrual
dengan menghitung kembali bagian dari total pajak yang dikenakan pada tahun berjalan
bagi setiap bagian properti. Setelah akrual dan beban pajak properti untuk setiap bagian
properti telah dihitung kembali, totalnya harus ditambahkan dan dibandingkan dengan
buku besar umum.
F. AUDIT AKUN LABA DAN BEBAN
Dua konsep berikut dalam audit atas akun laba dan beban akan diperlukan
ketikamempertimbangkan tujuan laporan laba rugi:

1. Penandingan laba dan beban periodik diperlukan untuk menentukan hasil operasi
yang tepat.
2. Aplikasi prinsip-prinsip akuntansi yang konsisten selama bperiode yang
berbedadiperlukan untuk komparabilitas.

1. Pendekatan untuk Mengaudit Akun Laba dan Beban


Audit atas akun laba dan beban berkaitan langsung dengan neraca bukan merupakan
bagian terpisah dari proses audit. Salah saji akun laporan laba rugi hamper selalu
mempengaruhi akun neraca, dan sebaliknya. Bagian audit yang secara langsung
mempengaruhi akun-akun tersebut adalah:

Prosedur analitis
Pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi
Pengujian atas rincian saldo

2. Prosedur Analitis
Prosedur Analistis harus dianggap sebagai bagian dari pengujian atas kewajaran
penyajian baik akun neraca maupun laba rugi. Tabel tersebut menunjukan beberapa
prosedur analitis dan salah saji yang mungkin terungkap dalam audit atas akun laba
dan beban.
3. Pengujian batas Rincian Saldo Analisis Beban
Auditor harus menganalisis jumlah yang tercantum dalam akun laporan laba rugi
terntentu walaupun pengujian yang telah disiunggung sebelumnya sudah dilakukan.
Analisis Akun Beban (expense account analysis) melibatkan pemeriksaan auditor
terhadap pendokumentasian yang mendasari setiap transaksi dan jumlah yang terdiri
dari rincian total akun beban. Dokumen itu sejenis dengan yang digunakan untuk
memeriksa transaksi sebagai bagian dari pengujian transaksi akuisisi, termasuk
faktur, laporan penerimaan, pesanan pembelian, dan kontrak.
Meskipun analisis akun beban berfokus pada transaksi, pengujian tersebut berbeda
dengan pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi. Pengujian
pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi ditunjukan untuk menilai
risiko pengendalian. Karena itu, pengujian tersebut menguji kelas transaksi, seperti
akuisisi sehingga melibatkan banyak akun yang berbeda.
Dengan Asumsi pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi
memberikan hasil yang memuaskan, umumnya auditor membatasi analisis beban
pada akun-akun tersebut dengan kemungkinan adanya salah saji uji material yang
tinggi. Sebagai contoh, auditor sering kali menganalisis:
Akun beban reparasi dan pemeliharaan untuk menentukan apakah mereka
telah salah mencantumkan transaksi property,pabrik, dan peralatan.
Beban sewa dan lease guna menentukan kebutuhan untuk mengkapitalisasi
lease.
Beban hokum untuk menentukan apakah ada kewajiban kontijenyang
potensial, perselisihan, tindakan illegal, atau masalah hokum lainnya yang
dapat mempengaruhi laporan keuangan.

4. Pengujian atas Rincian Saldo Akun-Alokasi


Beberapa akun beban berasal dari alokasi (allocation) data akuntansi dan bukan
dari transaksi diskret. Beban semacam itu termasuk penyusutan, depresi, dan
amortisasi hak cipta serta biaya catalog. Alokasi overhead manufaktur antara
persediaan dan harga pokok penjualan merupakan contoh jenis alokasi lainnya
yang mempengaruhi beban.
Jenis alokasi lainnya yang secara langsung mempengaruhi laporan keuangan
akan muncul karena umur asset yang lebih singkat belum jatuh tempo pada
tanggal neraca.
Dalam mengaudit alokasi pengeluaran seperti asuransi dibayar di muka dan
overhead manufaktur, dua pertimbangan yang paling penting adalah mengacu
pada standar akuntansi dan konsistensi dengan periode sebelumnya. Dua
prosedur audit yang paling penting untuk mengaudit alokasi adalah pengujian
atas kelayakan secara keseluruhan dengan menggunakan prosedur analitis dan
penghiutungan ulang hasil klien.
Biasanya auditor melaksanakan pengujian tersebut sebagai bagian dari audit atas
akun asset atau kewajiban terkait. Hali ini meliputi memverifikasi beban
penyusutan sebagai bagian dari audit property, pabrik,dan peralatan, pengujian
amortisasi paten sebagai dari memverifikasi paten baru atau pelepasan paten
yang ada, dan memverifikasi alokasi antara persediaan serta harga pokok
penjualan sebagai bagian dari audit pelepasan.
IKHTISAR
Bab ini menyimpulkan mengenai pembahasan kita mengenai akun dan transasksi
dalam siklus akuisisi dan pembayaran. Agar audit atas sejumlah besar akun yang
berkaitan dengan siklus ini memadai, auditor harus memahami akun-akun kunci,
kelas transaksi, fungsi bisnis, dokumen, serta catatan yang berhubungan dengan
siklus akuisisi dan pembayaran. Banyak dari akun-akun tersebut, seperti utang
usaha, property, pabrik dan peralatan, beban penyusutan, serta beban dibayar di
muka, memiliki karakteristik yang unik yang mempengaruhi cara auditor
mengumpulkan bukti yang mencukupi tentang saldo akun terkait. Dan terakhir,
keterkaitan diantara pengujian audit yang berbeda dalam siklus akuisisi dan
pembayaran dapat menyediakan dasar bagi verifikasi auditor atas banyak akun
laporan keuangan.