Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan
ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan
kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks
Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen utama
selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun
1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari fisik, mental dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif
secara sosial dan ekonomi. Tanpa adanya kesehatan yang baik memungkinkan
sulitnya untuk hidup produktif. Saat ini, pelayanan kesehatan belum dinikmati
secara merata oleh penduduk Indonesia. Ini terjadi karena terdapat beberapa
perbedaan seperti jarak geografis, latar belakang pendidikan, keyakinan, status
sosial ekonomi, dan kurang cakupan jaminan kesehatan.
Salah satu sub sistem kesehatan nasional adalah subsistem pembiayaan
kesehatan. Jika ditinjau dari dari defenisi sehat, sebagaimana yang dimaksud
oleh WHO. Pelayanan kesehatan tidak terlepas pembiayaan kesehatan sebab di
zaman seperti ini apa bila kita berobat kerumah sakit atau ke dokter spesialis
pasti membutuhkan biaya. Telah disebutkan bahwa salah satu subsistem
kesehatan adalah subsistem pembiayaan kesehatan. Subsistem pembiayaan
kesehatan membahas mengenai pembiayaan untuk program kesehatan, yakni
program-program yang berhubungan erat dengan penerapan langsung ilmu dan
teknologi kedokteran. Pembatasan tentang subsistem pembiayaan kesehatan ini
tercakup dalam suatu cabang ilmu khusus yang dikenal dengan nama ekonomi
kesehatan ( health economic).

1
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu
a. Apa definisi pembiayaan kesehatan?
b. Dari mana saja sumber biaya kesehatan?
c. Apa saja sistem pembiayaan kesehatan?
d. Bagaiman peraturan jaminan pembiayaan kesehatan?
e. Apa sajan Syarat Pokok dan Fungsi Pembiayaan Kesehatan ?
f. Apa Masalah dan upaya pembiayaan kesehatan?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a. Dapat mengetahui definisi dari pembiayaan kesehatan.
b. Dapat mengetahui sumber biaya kesehatan.
c. Dapat mengetahui sistem pembiayaan kesehatan
d. Dapat mengetahui peraturan pembiayaan jaminan kesehatan
e. Dapat mengetahui Syarat Pokok dan Fungsi Pembiayaan Kesehatan
f. Dapat mengetahui masalah dan upaya penyelesaian pembiayaan kesehatan

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pembiayaan Kesehatan
Biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan/atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat (Azrul A,
2009).
Sub sistem pembiayaan kesehatan merupakan salah satu bidang ilmu
dari ekonomi kesehatan (health economy). Yang dimaksud dengan biaya
kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. Dari
pengertian di atas terdapat dua sudut pandang ditinjau dari :
1. Penyelenggara pelayanan kesehatan (provider)
yaitu besarnya dana untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang
berupa dana investasi serta dana operasional.
2. Pemakai jasa pelayanan
Yang dimaksud dengan biaya kesehatan dari sudut pemakai jasa pelayanan
(health consumer) adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk
dapat memanfaatkan jasa pelayanan. Berbeda dengan pengertian pertama,
maka biaya kesehatan di sini menjadi persoalan utama para pemakai jasa
pelayanan. Dalam batas-batas tertentu, pemerintah juga turut
mempersoalkannya, yakni dalam rangka terjaminnya pemenuhan
kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkannya.
Dari batasan biaya kesehatan yang seperti ini segera dipahami bahwa
pengertian biaya kesehatan tidaklah sama antara penyedia pelayanan
kesehatan (health provider) dengan pemakai jasa pelayanan kesehatan
(health consumer). Bagi penyedia pelayanan kesehatan, pengertian biaya
kesehatan lebih menunjuk pada dana yang harus disediakan untuk dapat
menyelenggarakan upaya kesehatan. Sedangkan bagi pemakai jasa
pelayanan kesehatan, pengertian biaya kesehatan lebih menunjuk pada

3
dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan upaya kesehatan.
Sesuai dengan terdapatnya perbedaan pengertian yang seperti ini, tentu
mudah diperkirakan bahwa besarnya dana yang dihitung sebagai biaya
kesehatan tidaklah sama antara pemakai jasa pelayanan dengan penyedia
pelayanan kesehatan. Besarnya dana bagi penyedia pelayanan lebih
menunjuk padaa seluruh biaya investasi (investment cost) serta seluruh
biaya operasional (operational cost) yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan. Sedangkan besarnnya dana bagi
pemakai jasa pelayanan lebih menunjuk pada jumlah uang yang harus
dikeluarkan (out of pocket) untuk dapat memanfaatka suatu upaya
kesehatan.
Secara umum disebutkan apabila total dana yang dikeluarkan oleh seluruh
pemakai jasa pelayanan, dan arena itu merupakan pemasukan bagi
penyedia pelayan kesehatan (income) adalah lebih besar daripada yang
dikeluarkan oleh penyedia pelayanan kesehatan (expenses), maka berarti
penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut mengalami keuntungan
(profit). Tetapi apabila sebaliknya, maka berarti penyelenggaraan upaya
kesehatan tersebut mengalami kerugian (loss).
Perhitungan total biaya kesehatan satu negara sangat tergantung dari
besarnya dana yang dikeluarkan oleh kedua belah pihakk tersebut. Hanya
saja, karena pada umumnya pihak penyedia pelayanan kesehatan terutama
yang diselenggrakan oleh ihak swasta tidak ingin mengalami kerugian, dan
karena itu setiap pengeluaran telah diperhitungkan terhadap jasa pelayanan
yang akan diselenggarakan, maka perhitungan total biaya kesehatan
akhirnya lebih banyak didasarkan pada jumlah dana yang dikeluarkan oleh
para pemakai jasa pelayanan kesehatan saja.
Di samping itu, karena di setiap negara selalu ditemukan peranan
pemerintah, maka dalam memperhitungkan jumlah dana yang beredar di
sektor pemerintah. Tetapi karena pada upaya kesehatan pemerintah selalu
ditemukan adanya subsidi, maka cara perhitungan yang dipergunakan
tidaklah sama. Total biaya kesehatan dari sektor pemerintah tidak dihitung

4
dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh para pemakai jasa, dan karena
itu merupakan pendapatan (income) pemerintah, melainkan dari besarnya
dana yang dikeluarkan oleh pemerintah (expenses) untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
Dari uraian ini menjadi jelaslah untuk dapat menghitung besarnya total
biaya kesehatan yang berlaku di suatu negara, ada dua pedoman yang
dipakai. Pertama, besarnya dana yang dikeluarkan oleh para pemakai jasa
pelayanan untuk sektor swasta. Kedua, besarnya dana yang dikeluarkan
oleh para pemakai jasa pelayanan kesehatan untuk sektor pemerintah.
Total biaya kesehatan adalah hasil dari penjumlahan dari kedua
pengeluaran tersebut.
Total biaya dari sektor pemerintah tidak dihitung dari besarnya dana yang
dikeluarkan oleh pemakai jasa (income pemerintah), tapi dari besarnya
mekanisme yang mendasar adalah adanya pemisahan peran pembayar
dengan verifikator melalui penyaluran dana langsung ke Pemberi
Pelayanan Kesehatan (PPK) dari Kas Negara, penggunaan tarif paket
Jaminan Kesehatan Masyarakat di RS, penempatan pelaksana verifikasi di
setiapRumah Sakit, pembentukan Tim Pengelola dan Tim Koordinasi di
tingkat Pusat, Propinsi, danKabupaten/Kota serta penugasan PT Askes
(Persero) dalam manajemen kepesertaan.
2.2 Sumber Biaya Kesehatan
Sumber biaya kesehatan tidak sama antara satu Negara dengan Negara
lainnya. Secara Umum sumber biaya kesehatan di bedakan atas dua macam:
a. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
Tergantung dari bentuk pemerintahan yang di anut, ada Negara yang
bersumber biaya kesehatannya sepenuhnya di tanggung oleh pemerintah.
Maka Negara seperti ini tidak temukan pelayanan kesehatan swasta,
sehingga seluruh pelayanan kesehatan di selenggarakan oleh pemerintah
dan pelayanan kesehatan tersebut di laksanakan tanpa mebutuhkan biaya.
Sumber Pembiayaan Pemerintah:
1. Pemerintah Pusat : 38,14 %

5
2. Pemerintah Daerah : 14,33 %
3. Hibah : 0,24 %
4. Loan : 47,28 %
Sumber : NHA, 2000
Perubahan peran pemerintah dalam pembiayaan kesehatan
berdasarkan UU no 40/ 2004. SK MENKES 1241 / 2005 bahwa
pemerintah telah mengurangi perannya sebagai pemberi dana langsung,
namun tetap harus memperhatikan kelompom yang rentan ( GAKIN) dan
pelayanan public goods. Terbatasnya anggaran pemerintah untuk
kesehatan diperburuk dengan sistem pembiayaan jaminan kesehatan yang
tidak memberikan jaminan perlindungan bagi setiap orang. Menurut Rox
et al. (2009), penduduk Indonesia yang tidak terlindungi oleh asurasi
kesehatan adalah sebesar 73,9% yang artinya bahwa setiap individu harus
akan menanggung resiko kesehatan yang terus meningkat secara
individual. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan rekomendasi WHO
tahun 2000 yang menyebutkan bahwa sistem pembiayaan jaminan
kesehatan haruslah mampu untuk memusatkan resiko biaya kesehatan dan
membaginya ke seluruh anggota masyarakat secara maksimal.
b. Sebagian ditanggung oleh masyarakat
Suatu Negara yang melibatkan masyarakat sebagai sumber dari
pembiayaan kesehatan dimana masyarakat di ajak untuk berperan serta
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan ataupun pada waktu
memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan, maka akan di temukan pelayanan
kesehatan swasta dan tentunya pelayanan kesehatan tersebut
membutuhkan biaya, karena masyarakat di haruskan membayar pelayanan
kesehatan yang memanfaatkannya.

6
2.3 Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia
a. Jenis pembiayaan.
1. Sistem Pembiayaan Fee For Service
Pada sistem pembiayaan fee for service, pembayaran jasa kesehatan
berasal dari kantong orang itu sendiri. Seperti yang dijelaskan
sebelumnya, pada mekanisme pembiayaan ini, pasien cendrung berada
di dalam posisi menerima sehingga sering terjadi penyimpangan seperti
overutilisasi jasa kesehatan dimana sang dokter memberikan banyak
pelayanan yang pada dasarnya tidak dibutuhkan, namun sengaja
diberikan dengan tujuan agar semakin banyak layanan yang diberikan,
maka pendapatanyang didapat dari layanan tersebut juga akan semakin
besar.
2. Sistem Pembiayaan Kapitasi.
Kapitasi merupakan suatu sistem pembiayaan pelayanan kesehatan
yang dilakukan di muka berdasar jumlah tanggungan kepala per suatu
daerah tertentu dalam kurun waktu tertentu tanpa melihat frekuensi
kunjungan tiap kepala tersebut. Misalnya saja setiap kepala di desa A
ditetapkan biayanya sebesar Rp 10.000,- /bulan, bila sang dokter
bertanggung jawab atas 500 kepala, maka ia akan menerima Rp
10.000,- x 500 / bulannya yaitu Rp 5.000.000,- . Biaya sebesar Rp
5.000.000,- inilah yang akan ia kelola untuk meningkatkan kualitas
kesehatan di 500 warga tersebut, baik melaui tindakan pencegahan
(preventive), pengobatan (curative) maupun rehabilitasi. Sehingga
semakin banyak layanan kesehatan yang diberikan / semakin banyak
pasien yang sakit dan butuh pengobatan, biaya yang akan dipotong
semakin banyak dan penghasilan sang dokter akan semakin sedikit.
Pada sistem ini, termasuk di dalamnya jaminan kesehatan yang
dijalankan oleh PT.Askes
3. Sistem Pembiayaan Berdasar Gaji
Pada sistem ini, sang dokter akan menerima penghasilan tetap di tiap
bulannya sebagai balas jasa atas layanan kesehatan yang telah

7
diberikan. Termasuk di dalamnya sistem pembayaran pada penyedia
layanan kesehatan yang bekerja di instansi dimana dokternya
dibayarkan berdasar gaji bulanan di instansi tersebut, bukan dari jenis
layanan kesehatan yang diberikannya.
4. Sistem reimbursement
Sistem penggantian biaya kesehatan oleh pihak perusahaan berdasar
layanan kesehatan yang dikeluarkan terhadap seorang pasien. Metode
ini pada dasarnya mirip dengan fee for service, hanya saja dana yang
dikeluarkan bukan oleh pasien, tapi pihak perusahaan yang
menanggung biaya kesehatan pasien, namun berbeda dengan kapitasi
karena metode ini melihat jumlah kunjungan dan jenis layanan yang
diberikan oleh provider.
Dari pembahasan sistem pembiayaan diatas, tentu saja setiap metodenya
memiliki segi positif dan negative masing masing. Hal tersebut dapat
dirangkum sebagai berikut:
Sistem Kelebihan Kekurangan
Pembiayaan
Fee For Service Penanganan yang Sering terjadi moral
diberikan dokter cendrung hazard dimana
lebih maksimal dan tidak provider akan sengaja
terkesan terbatas batas secara berlebihan
member layanan
kesehatan dengan
tujuan meningkatkan
pendapatan dari
layanan tersebut
Kapitasi 1. Kepastian adanya 1. Sering terjadi
pasien underutilisasi
2. Jaminan pendapatan di (pengurangan
awal tahun / bulan layanan yang
3. Semakin efisien diberikan)
layanan, semakin 2. Kebanyakan dokter
banyak pendapatan merasa dirugikan

8
4. Dokter lebih taat 3. Bila peserta sedikit,
prosedur dapat merugikan
5. Lebih menekankan dokter
pada pencegahan dan
promosi kesehatan

Gaji Dokter memperoleh 1. Sering terjadi


kerjasama antara
pendapatan yang tetap tiap
pihak provider
bulannya berdasar upah dengan bagian lain
untuk memperoleh
minimal yang telah
pendapatan yang
ditentukan lebih banyak
2. Dokter cendrung
melakukan
pelayanan kesehatan
seadanya dan
kurang optimal

Reimbursement 1. Dokter akan 1. Sering terjadi


melakukan penangan pemalsuan
dengan maksimal identitas dan
2. Biaya kesehatan dimanfaatkan oleh
datang dari pihak pihak lain
perusahaan sehingga 2. Sering terjadi
pasien tidak perlu adanya
mengeluarkan biaya overutilisasi dari
selain premi (bila ada penyedia layanan
premi) kesehatan

Sumber : Health For Indonesia ( Djuhaeini, 2009)

9
b. Badan- badan Dalam Pembiayaan Kesehatan

Pembayaran secara langsung

( out of pocket)

Konsumen Penyedia Pelayanan


Pelyanan Kesehatan

Regulasi Regulasi

Badan
Pemerintah/
Pajak/ premi cakupan klaim
Profesional
Asuransi asuransi

Pembayaran Pelayanan

( Misalnya
Regulasi pemerintah, badan asuransi)
pembayaran

2.4 Peraturan Pembiayaan Jaminan Kesehatan


Di bawah ini adalah pasal-pasal yang mengatur tentang pembiayaan
jaminan kesehatan yang tertuang dalam BAB XV tentang pembiayaan
jaminan kesehatan, yaitu:
a. Pembiayaan jaminan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan
jaminan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang
mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna
dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan
kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-
tingginya, Unsur-unsur pembiayaan jaminan kesehatan terdiri atas sumber
pembiayaan, alokasi, dan pemanfaatan, Sumber pembiayaan jaminan

10
kesehatan berasal dari Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, swasta
dan sumber lain (pasal 170).
b. Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5%
(lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji,
besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota
dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan
belanja daerah di luar gaji (pasal 171).
c. Alokasi pembiayaan jaminan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
171 ayat (3) ditujukan untuk pelayanan kesehatan di bidang pelayanan
publik, terutama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia, dan anak
terlantar (pasal 172).
d. Alokasi pembiayaan jaminan kesehatan yang bersumber dari swasta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 ayat (3) dimobilisasi melalui sistem
jaminan sosial nasional dan/atau asuransi kesehatan komersial (pasal 173).
2.5 Syarat Pokok dan Fungsi Pembiayaan Kesehatan
Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat pokok
yakni :
a. Jumlah
Syarat utama dari biaya kesehatan haruslah tersedia dalam jumlah yang
cukup. Yang dimaksud cukup adalah dapat membiayai penyelenggaraan
semua upaya kesehatan yang dibutuhkan serta tidak menyulitkan
masyarakat yang ingin memanfaatkannya.
b. Penyebaran
Berupa penyebaran dana yang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika dana
yang tersedia tidak dapat dialokasikan dengan baik, niscaya akan
menyulitkan penyelenggaraan setiap upaya kesehatan.
c. Pemanfaatan
Sekalipun jumlah dan penyebaran dana baik, tetapi jika pemanfaatannya
tidak mendapat pengaturan yang optimal, niscaya akan banyak
menimbulkan masalah, yang jika berkelanjutan akan menyulitkan
masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

11
Untuk dapat melaksanakan syarat-syarat pokok tersebut maka perlu dilakukan
beberapa hal, yakni :
a. Peningkatan Efektifitas
Peningkatan efektifitas dilakukan dengan mengubah penyebaran atau
alokasi penggunaan sumber dana. Berdasarkan pengalaman yang dimiliki,
maka alokasi tersebut lebih diutamakan pada upaya kesehatan yang
menghasilkan dampak yang lebih besar, misalnya mengutamakan upaya
pencegahan, bukan pengobatan penyakit.
b. Peningkatan Efisiensi
Peningkatan efisiensi dilakukan dengan memperkenalkan berbagai
mekanisme pengawasan dan pengendalian.
Mekanisme yang dimaksud untuk peningkatan efisiensi antara lain:
1. Standar minimal pelayanan. Tujuannya adalah menghindari
pemborosan. Pada dasarnya ada dua macam standar minimal yang
sering dipergunakan yakni:
a. standar minimal sarana, misalnya standar minimal rumah sakit dan
standar minimal laboratorium.
b. standar minimal tindakan, misalnya tata cara pengobatan dan
perawatan penderita, dan daftar obat-obat esensial.
Dengan adanya standard minimal pelayanan ini, bukan saja
pemborosan dapat dihindari dan dengan demikian akan ditingkatkan
efisiensinya, tetapi juga sekaligus dapat pula dipakai sebagai pedoman
dalam menilai mutu pelayanan.
2. Kerjasama. Bentuk lain yang diperkenalkan untuk meningkatkan
efisiensi ialah memperkenalkan konsep kerjasama antar berbagai
sarana pelayanan kesehatan. Terdapat dua bentuk kerjasama yang dapat
dilakukan yakni:
a. Kerjasama institusi, misalnya sepakat secara bersama-sama
membeli peralatan kedokteran yang mahal dan jarang
dipergunakan. Dengan pembelian dan pemakaian bersama ini dapat
dihematkan dana yang tersedia serta dapat pula dihindari

12
penggunaan peralatan yang rendah. Dengan demikian efisiensi juga
akan meningkat.
b. Kerjasama sistem, misalnya sistem rujukan, yakni adanya
hubungan kerjasama timbal balik antara satu sarana kesehatan
dengan sarana kesehatan lainnya.
Fungsi pembiayaan kesehatan antara lain :
a. Penggalian dana
1. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Sumber
dana untuk UKM terutama berasal dari pemerintah baik pusat maupun
daerah, melalui pajak umum, pajak khusus, bantuan dan pinjaman
serta berbagai sumber lainnya. Sumber dana lain untuk upaya
kesehatan masyarakat adalah swasta serta masyarakat. Sumber dari
swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip public-private
patnership yang didukung dengan pemberian insentif, misalnya
keringanan pajak untuk setiap dana yang disumbangkan. Sumber dana
dari masyarakat dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri guna
membiayai upaya kesehatan masyarakat, misalnya dalam bentuk dana
sehat atau dilakukan secara pasif yakni menambahkan aspek
kesehatan dalam rencana pengeluaran dari dana yang sudah terkumpul
di masyarakat, contohnya dana sosial keagamaan.
2. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) berasal
dari masing-masing individu dalam satu kesatuan keluarga. Bagi
masyarakat rentan dan keluarga miskin, sumber dananya berasal dari
pemerintah melalui mekanisme jaminan pemeliharaan kesehatan
wajib.
b. Pengalokasian dana
1. Alokasi dana dari pemerintah yakni alokasi dana yang berasal dari
pemerintah untuk UKM dan UKP dilakukan melalui penyusunan
anggaran pendapatan dan belanja baik pusat maupun daerah sekurang-
kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan
belanja setiap tahunnya.

13
2. Alokasi dana dari masyarakat yakni alokasi dana dari masyarakat
untuk UKM dilaksanakan berdasarkan asas gotong royong sesuai
dengan kemampuan. Sedangkan untuk UKP dilakukan melalui
kepesertaan dalam program jaminan pemeliharaan kesehatan wajib
dan atau sukarela.
c. Pembelanjaan
1. Pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan public-private patnership
digunakan untuk membiayai UKM.
2. Pembiayaan kesehatan yang terkumpul dari Dana Sehat dan Dana
Sosial Keagamaan digunakan untuk membiayai UKM dan UKP.
3. Pembelajaan untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat rentan dan
kesehatan keluarga miskin dilaksanakan melalui Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan wajib.
2.6 Masalah Pokok Pembiayaan Kesehatan dan Upaya Penyelesaiannya.
Masalah Pokok Pembiayaan Kesehatan yaitu
a. Kurangnya dana yang tersedia
Di banyak negara terutama di negara yang sedang berkembang, dana yang
disediakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan tidaklah memadai.
Rendahnya alokasi anggaran ini kait berkait dengan masih kurangnya
kesadaran pengambil keputusan akan pentingnya arti kesehatan.
Kebanyakan dari pengambilan keputusan menganggap pelayanan kesehatan
tidak bersifat produktif melainkan bersifat konsumtif dan karena itu kurang
diprioritaskan. Kita dapat mengambil contoh di Indonesia misalnya, jumlah
dana yang disediakan hanya berkisar antara 2 3% dari total anggaran
belanja dalam setahun.
b. Penyebaran dana yang tidak sesuai
Masalah lain yang dihadapi ialah penyebaran dana yang tidak sesuai, karena
kebanyakan justru beredar di daerah perkotaan. Padahal jika ditinjau dari
penyebaran penduduk, terutama di negara yang sedang berkembang,
kebanyakan penduduk bertempat tinggal di daerah pedesaan.

14
c. Pengelolaan dana yang belum sempurna
Seandainya dana yang tersedia amat terbatas, penyebaran dan
pemanfaatannya belum begitu sempuma, namun jika apa yang dimiliki
tersebut dapat dikelola dengan baik, dalam batas-batas tertentu tujuan dari
pelayanan kesehatan masih dapat dicapai. Sayangnya kehendak yang seperti
ini sulit diwujudkan. Penyebab utamanya ialah karena pengelolaannya
memang belum sempurna, yang kait berkait tidak hanya dengan pengetahuan
dan keterampilan yang masih terbatas, tetapi juga ada kaitannya dengan
sikap mental para pengelola.
d. Pemanfaatan dana yang tidak tepat
Pemanfaatan dana yang tidak tepat juga merupakan salah satu masalah yang
dihadapi dalam pembiayaan kesehatan ini.. Padahal semua pihak telah
mengetahui bahwa pelayanan kedokteran dipandang kurang efektif dari pada
pelayanan kesehatan masyarakat.
e. Biaya kesehatan yang makin meningkat
Masalah lain yang dihadapi oleh pembiayaan kesehatan ialah makin
meningkatnya biaya pelayanan kesehatan itu sendiri. Banyak penyebab yang
berperanan di sini, beberapa yang terpenting adalah:
1. Tingkat inflasi.
Meningkatnya biaya kesehatan sangat dipengaruhi oleh tingkat inflasi
yang terjadi di masyarakat. Apabila terjadi kenaikan harga di
masyarakat, maka secara otomatis biaya investasi dan biaya operasional
pelayanan kesehatan masyarakat akan meningkat.
2. Tingkat permintaan.
Meningkatnya biaya kesehatan sangat dipengaruhi oleh tingkat
permintaan yang ditemukan di masyarakat. Untuk bidang kesehatan
peningkatan permintaan tersebut dipengaruhi setidak-tidaknya oleh dua
faktor. Pertama, karena meningkatnya kuantitas penduduk yang
memerlukan pelayanan kesehatan, yang karena jumlah orangnya lebih
banyak menyebabkan biaya yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan akan lebih banyak pula. Kedua,

15
karena meningkatnya kualitas penduduk, yang karena pendidikan dan
penghasilannya lebih baik, membutuhkan pelayanan kesehatan yang
lebih baik pula. Kedua keadaan yang seperti ini, tentu akan besar penga
ruhnya pada peningkatan biaya kesehatan.
3. Kemajuan ilmu dan teknologi.
Meningkatnya biaya kesehatan sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan
berbagai ilmu dan teknologi, yang untuk pelayanan kesehatan ditandai
dengan makin banyaknya dipergunakan berbagai peralatan modern dan
canggih.
Terjadinya perubahan pola penyakit dimasyarakat. Jika dahulu banyak
ditemukan berbagai penyakit yang bersifat akut, maka pada saat ini telah
banyak ditemukan berbaga penyakit yang bersifat kronis. Dibandingkan
dengan berbagai penyakit akut, perawatan berbagai penyakit kronis ini
temyata lebih lama.
4. Perubahan pola penyakit
Meningkatnya biaya kesehatan sangat dipengaruhi oleh terjadinya
perubahan pola penyakit dimasyarakat. Jika dahulu banyak ditemukan
berbagai penyakit yang bersifat akut, maka pada saat ini telah banyak
ditemukan berbaga penyakit yang bersifat kronis. Dibandingkan dengan
berbagai penyakit akut, perawatan berbagai penyakit kronis ini temyata
lebih lama. Akibatnya biaya yang dikeluarkan untuk perawatan dan
penyembuhan penyakit akan lebih banyak pula. Apabila penyakit yang
seperti ini banyak ditemukan, tidak mengherankan jika kemudian biaya
kesehatan akan meningkat dengan pesat.
5. Perubahan pola pelayanan kesehatan.
Meningkatnya biaya kesehatan sangat dipengaruhi oleh perubahan pola
pelayanan kesehatan. Pada saat ini sebagai akibat dari perkembangan
spesialisasi dan subspesialisasi menyebabkan pelayanan kesehatan
menjadi terkotak-kotak (fragmented health services) dan satu sama lain
tidak berhubungan. Akibatnya, tidak mengherankan jika kemudian

16
sering dilakukan pemeriksaan yang sama secara berulang-ulang yang
pada akhirya akan membebani pasien.
Untuk mengatasi berbagai masalah sebagaimana dikemukakan, telah
dilakukan berbagai upaya penyelesaian yang memungkinkan. Berbagai upaya
yang dimaksud secara sederhana dapat dibedakan atas beberapa macam yakni
:
a. Upaya meningkatkan jumlah dana
1. Terhadap pemerintah, meningkatkan alokasi biaya kesehatan dalam
anggaran pendapatan dan belanja negara.
2. Terhadap badan-badan lain di luar pemerintah, menghimpun dana dari
sumber masyarakat serta bantuan luar negri.
b. Upaya memperbaiki penyebaran, pemanfaatan dan pengelolaan dana
1. Penyempurnaan sistem pelayanan, misalnya lebih mengutamakan
pelayanan kesehatan masyarakat dan atau melaksanakan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terpadu.`
2. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga pengelola.
c. Upaya mengendalikan biaya kesehatan
1. Memperlakukan peraturan sertifikasi kebutuhan, dimana penambahan
sarana atau fasilitas kesehatan hanya dapat dibenarkan jika dibuktikan
dengan adanya kebutuhan masyarakat. Dengan diberlalukannya
peraturan ini maka dapat dihindari berdiri atau dibelinya berbagai
sarana kesehatan secara berlebihan
2. Memperlakukan peraturan studi kelayakan, dimana penambahan
sarana dan fasilitas yang baru hanya dibenarkan apabila dapat
dibuktikan bahwa sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut
dapat menyelenggarakan kegiatannya dengan tarif pelayanan yang
bersifat sosial.
3. Memperlakukan peraturan pengembangan yang terencana, dimana
penambahan sarana dan fasilitas kesehatan hanya dapat dibenarkan
apabila sesuai dengan rencana pengembangan yang sebelumnya telah
disetujui pemerintah

17
4. Menetapkan standar baku pelayanan, diman pelayanan kesehatan
hanya dibenarkan untuk diselenggarakan jika tidak menyimpang dari
standar baku yang telah ditetapkan.
5. Menyelenggarakan program menjaga mutu.
6. Menyelenggarakan peraturan tarif pelayanan.
7. Asuransi kesehatan.

18
BAB III

PENUTUP

1.1 Kesimpulan
1. Biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan/atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat (Azrul A,
2009).
2. Secara Umum sumber biaya kesehatan di bedakan atas dua macam:
a. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
b. Sebagian ditanggung oleh masyarakat
3. Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia
a. Sistem Pembiayaan Fee For Service
b. Sistem Pembiayaan Kapitasi.
c. Sistem Pembiayaan Berdasar Gaji
d. Sistem reimbursement
4. Pembiayaan jaminan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan
jaminan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang
mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna
dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan
kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-
tingginya, Unsur-unsur pembiayaan jaminan kesehatan terdiri atas sumber
pembiayaan, alokasi, dan pemanfaatan, Sumber pembiayaan jaminan
kesehatan berasal dari Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, swasta
dan sumber lain.
5. Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat
pokok yakni :
a. Jumlah
b. Penyebaran
c. Pemanfaatan
Fungsi pembiayaan kesehatan antara lain :

19
a. Penggalian dana
Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)
b. Pengalokasian dana
Alokasi dana dari pemerintah yakni alokasi dana yang berasal
dari pemerintah untuk UKM dan UKP dilakukan melalui
penyusunan anggaran pendapatan dan belanja baik pusat
maupun daerah sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15%
dari total anggaran pendapatan dan belanja setiap tahunnya.
Alokasi dana dari masyarakat yakni alokasi dana dari
masyarakat untuk UKM dilaksanakan berdasarkan asas gotong
royong sesuai dengan kemampuan. Sedangkan untuk UKP
dilakukan melalui kepesertaan dalam program jaminan
pemeliharaan kesehatan wajib dan atau sukarela.
c. Pembelanjaan
6. Masalah Pokok Pembiayaan Kesehatan yaitu
a. Kurangnya dana yang tersedia
b. Penyebaran dana yang tidak sesuai
c. Pemanfaatan dana yang tidak tepat
d. Biaya kesehatan yang makin meningkat
Untuk mengatasi berbagai masalah sebagaimana dikemukakan, telah
dilakukan berbagai upaya penyelesaian yang memungkinkan. Berbagai
upaya yang dimaksud secara sederhana dapat dibedakan atas beberapa
macam yakni :
a. Upaya meningkatkan jumlah dana
b. Upaya memperbaiki penyebaran, pemanfaatan dan pengelolaan dana
c. Upaya mengendalikan biaya kesehatan

20

Anda mungkin juga menyukai