Anda di halaman 1dari 9

Review Jurnal Tentang Digital Elevation Model ( DEM )

Penulis : Bambang Trisakti


Tahun : 2007
Judul : Ekstraksi Otomotis Informasi DEM drai Citra Stereo Prism - Alos
Jurnal : Researcher Of Remote Sensing Application and Development Center
( LAPAN )

1. Abstrak

Jurnal ini ditulis dengan tujuan untuk meneliti Ekstraksi Otomotis Informasi DEM drai
Citra Stereo Prism - Alos. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi otomatis DEM dari citra
stereo PRISM menggunakan software Prism DEM.. Ekstraksi otomatis DEM dari citra stereo
dilakukan dengan melakukan proses image matching menggunakan teknik area-based
matching. Teknik ini untuk mengkorelasikan area/piksel pada citra utama, dari korelasi
diperoleh paralak yang digunakan untuk menurunkan ketinggian obyek yang terekam pada
citra. Hasil memperlihatkan bahwa DEM hasil ekstraksi otomatis memerlukan koreksi geoid
(koreksi bentuk muka bumi ). DEM hasil koreksi mempunyai distribusi ketinggian relatif
sama, tetapi pola DEM lebih halus dibandingkan dengan DEM Referensi. Kata kunci yang
digunakan : DEM, citra stereo, PRISM-ALOS.

2. Latar Belakang

Informasi topografi yang bersumber dari data DEM dapat dihasilkan dengan
menggunakan citra stereo satelit penginderaan jauh. Citra stereo merupakan 2 atau lebih
citra yang diambil dari sudut perekaman yang berbeda untuk lokasi yang sama pada
permukaan bumi. PRISM salah satu dari tiga instrumen sensor yang berguna untuk
merekam citra optis pankromatik pada panjang gelombang 0.52 0,77 mm dan
mempunyai 3 teleskop utnuk merekam citra stereo dari arah depan, arah tegak lurus dan
arah belakangdengan orbit satelit. Kombinasi citra stereo tersebut dapat digunakan untuk
menghasilkan DEM dengan akurasi yang cukup untuk memetakan permukaan bumi
dalam skala 1:25.000 atau lebih besar.

Penelitian yang terkait dengan penurunan DEM dan pengujian tingkat akurasi yang
menggunakan citra stereo optis PRISM sangat bermanfaat untuk memetakan topografi
dengan skala tinggi untuk wilayah Indonesia yang mempunyai beragam variasi
ketinggian. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian mengenai metode penurunan data
DEM dan tingkat akurasi dari DEM yang dihasilkan dengan menggunakan citra stereo
optis PRISM untuk wilayah Indonesia.

3. Material dan Metode


Data yang digunakan adalah data PRISM ALOS level 1B2R ( Geo Reference data )
untuk kombinasi arah tegal lurus (N) dan arah depan (F), yaitu data yang sudah
dilakukan proses mozaik dan mengalami koreksi sistematis. Daerah penelitian terletak di
di kaki gunung Merapi, Kabupaten Boyolali dan sekitarnya. Topografi wilayah ini sangat
variasi mulai dari 800 m hingga mencapai ketinggian 2500 m dari permukaan laut.
Alur pembuatan DEM secara umum dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu tahap
pertama adalah image matching menggunakan teknink area-based matching. Tahap
kedua adalah perhitungan jarak paralak yang terjadi pada setiap piksel, dan ekstraksi
untuk piksel tersebut.
3.1 Tahap pertama ( Image matching )

Pada tahap awal dilakukan pembuatan piramid layer, yaitu membuat resolusi rendah
dari citra asli, korelasi pada penelitian ini ini dilakukan pada level terendah (1/32 resolusi
awal ) terlebih dahulu, kemudian secara bertahap dnaikkan resolusi hingga menjadi
resolusi awal. Selanjutnya dilakukan masking dan pembuatn titik ikat di 4 titik sudut
dari citra, masking ini dilakukan untuk membatasi suatu wilayah sehingga wilayah
tersebut tidak menjadi error dalam proses korelasi, sedangkan titik ikat dilakukan
sebagai matching awal dari citra master dan target.

Proses berikutnya adalah melakukan korelasi otomatis antar piksel pada citra master
dan citra target. Pada citra master ditetapkan sebuah piksel, kemudian dilakukan
pencarian piksel yang sama pada citra target. Pencarian dilakukan dengan metode line
moving. Besarnya ukuran line moving dan serach windows dapat disetting sesuai
keinginan, tetapi umumnya menggunakan scan 3 piksel sumbu X dan 7 piksel untuk
sumbu Y.

3.2 Tahap kedua ( Ekstraksi DEM )


Proses korelasi otomatis menghasilkan informasi besarnya jarak antara piksel yang
sama pada citra master dengan citra target atau lebih dikenal dengan jarak paralak.
Proses editing dilakukan untuk melakukan interpolasi pada piksel yang tidak mempunyai
nilai ketinggian akibat terjadi error atau tingkat korelasi yang rendah. Editing juga dapat
dilakukan dengan mengisi nilai pada suatu wilayah yang diketahui ketinggiannya.
4. Hasil
Dari tabel diatas memperlihatkan adanya perbandngan nilai uji statistik anatar DEM
dari stereo PRISM yang dihasilkan menggunakan model ekstraksi otomatis dan DEM
Referensi. Dari hasiluji statistik diketahui bahwa nilai rata-rata ketinggian antara kedua
DEM tidak terlalu beda, tetapi DEM PRISM mempunyai perbedaan nilai utama antara
nilai maksimum dan minimu yang lebih besar dibandingkan dengan DEM referensi. hal
ini disebabkan karena terjadinya tingkat korelasi yang rendah saat proses matching
sehingga menghasilkan nilai DEM yang lebih tinggi atau lebih rendah dari semestinya
dan perbedaan titik acuan ketinggian dimana algoritma perhitungan DEM yang
digunakan verauan pada model bumi bentuk Ellipsoid sedangkan SRTM sudah beacuan
pada model Geoid atau muka bumi yang sebenarnya berdasarkan tingkat muka laut.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa DEM yang dihasilkan dalam proses ekstraksi
otomatis masih memerlukan koreksi geoid dengan mengurangkan ketinggian yang
diperoleh dengan undulasi dilokasi tersebut. Pada penelitian ini tidak mneggunakan
distribusi undulasi, tetapi hanya mengurangkan nilai DEM tersebut dengan rata-rata
perbedaan ketinggian ( 55 m ) antara PRISM dan DEM referensi yang dapat diasumsikan
sebagai rata-rata nilai undulasi di lokasi tersebut.

5. Kesimpulan
Software PRISM DEM dapat digunakan untuk menurunkan DEM Stereo
PRISM secara otomatis dengan resolusi spasial bervariasi mulai 80 m, 40 m, 20 m
dan 10 m. Penurunan DEM dapat dilakukan dengan berbagai kombinasi citra yaitu :
nadir-forward, forward-backward, dan nadir-backward.
Ketinggian DEM dari software DEM beracuan pada model elipsoid, sehingga
memerlukan koreksi geoid. Walaupun begitu DEM PRISM mempunyai pola distribusi
ketinggian yang relatif sama dengan DEM referensi, tetapi dengan tingkat kedetilan
dan gradasi warna yang lebih halus.

Analisis tingkat akurasi memeprlihatkan RMSE relatif lebih rendah antara


DEM yang dibuat dengan DEM referensi adalah 16 m. RMSE dapat dikurangi dengan
memasukkan pengaruh kurva bumi dan pengaturan seting parameter ( line moving dan
window search) dalam proses korelasi antara citra master dan citra target.

Review Journal about of Digital Elevation Models ( DEM )


Author : J.R Sulebak
Year : 2000
Title : Applications of Digital Elevation Models
Journal : Department of Geographic Information Technology

1. Introduction
Environmental issues are of vital importance for human life on Earth. To answer the
question and a question is, how can 3-dimensional information of the topography of the
Earth surface help us in understanding our vulnerable environment and secure a more
sustainable management and use of our environmental resources.This journal tries to
answer some of these questions by giving a presentation of representative applications
and possible business opportunities with respect to digital elevation models. The paper is
intended to focus on the potential use of digital elevation data in science, security
relevant applications or in management and decision making related to environmental
issues in community.A problem however so far is that analysis and interpretation of
remotely sensed data as well as the generation of scientific computer models require
terrain models for data correction and simulation of a quality that is currently not
available. Thus, a prerequisite for a fully exploitation of the potential of DEMs is to
make them available for the community at sufficient accuracy, detail, projection and
format to sustain a variety of applications need for topographical information.

2. Topographic
The knowledge of the surface topography is of major importance to the Earth
sciences. It isessential in any discipline concerned with process modeling like hydrology,
climatology, geomorphology etc. Topography is, therefore, a detailed study or
description of a particular place or region. By describing the elevation of each point and
its neighborhood, topography is a graphic representation of landscapes natural surface
features including hills, valleys, rivers, lakes and such, as principle man-made features.
Typically, topography is drawn on maps and charts or otherwise presented.Early
topographic models were made of wood, pasteboards, plaster or moulded material, maps
were, then painted by hand onto the surface of the model.The first two methods gives a
strong visual effect of 3-dimension (or rely 2.5 dimension) helping the reader of the map
to grasp the essential characteristics of the landscape features.These methods of
displaying relief are, however inadequate in that they do not give any information on the
elevation above sea level of all points on the map or how steep the slopes are.Today, the
techniques of radar interferometry with Synthetic Aperture Radar systems (SAR) and
laser interferometry (LIDAR) are currently the most advanced technology and the most
effective way of acquiring topographic information. It is independent of cloud covers,
sun illumination and the contrast of the Earth's surface.
3. Digitals Elevation Models
When modern aerial photography and satellite remote sensing started to provide
continuos surface information by means of optical cameras, radar or laser beams, for
example, and the derivation of terrain elevation was made possible by stereoscopy and
interferometry, topography gained whole new meaning in spatial studies.Today, the
elevation information is represented in computers as elevation data in a digital format.
This format is usually called digital elevation models (DEM). Thus a DEM is a
computerized representation of the Earths relief. Different formats exists, among the
most usual are triangulated irregular networks (TIN), regular grids, contour lines and
scattered data points and it usually described either by a wire frame model or an image
matrix in which the value of each pixel is associated with a specific topographic
height.Digital elevation models are in combination with other spatial data, an important
database for topography-related analyses or 3D video animations (e.g. fly-throughs).

The availability of DEM data


The science community and the commercialmarket are increasingly aware of the
importance of DEMs in their applications. It certain limitations in their employment.At
present, currently available digital elevation models exhibit discontinuities with respect
to coverage, resolution, accuracy and reference datum.Unfortunately, the acquisition of
digital terrain models is too expensive for most environmental authorities and private
users.

DEM and Geographical information systems


DEMs can be used together with other spatial data, image data in geographic
information systems (GIS), for instance. And DEMs provides a basic spatial reference
system to the GIS spatial data set. Images or vector information can automatically be
draped over and integrated with the DEM for more advanced analysis.

4. Applications of DEM
Geographycal information technology and digital image processing have become very
important tools that we can use for scientific, commercial and operational application.
Demcan be appliedtovarious fields, among others:

Scientific application
Exact information about the earth surface is very important for all geosciences. Data
from Digital Elevation Model about earth surace, can be use for:
a) Climate Impact Study
b) Water and wildlife management
c) Geological and hydrological modeling
d) Geographyc information technology
e) Geomorphology and landscape analysis
f) Mapping purpose and
g) Education program
Commercial Application

Commercial applications are more marked andbusiness oriented applications related


to sale anddistribution of DEM and DEM products. Application of DEM in
commercial field such as:
a) Telecommunication
b) Air traffic routing and navigation
c) Planning and construction
d) Geological exploration
e) Hydrological and meteorological services
f) Geokoding of remote sensing and
g) Market of multimedia application and computer games
Industrial Application
For industrial applications digital elevation models are used for development of
marketorientedproduct technology, improved servicesand to increase the economic
outcome of theindustrial production. Such applications are foundwithin e.g. the
Telecom, Telematics, Avionics,Mining, Mineral exploration, Tourism and Engineering
industry.

Operational Application
For operational application DEM is used to improve management and planning of
natural resources and within areas of regional planning, environmental protection,
hazard reduction, military and other security-relevant applications,insurance issues,
health services, agriculture,foresty and soil conservation.
Below follows some examples of operational applications.
a) Reconnaissance for mineral and water resources
b) Aircraft guidance system flight simulations
c) Forest planning and management
d) Planning of breakwater constructions
e) Mass movement and hazar prediction
f) Hydrology Flooding risk assessment
g) Disaster management (prevention, relief, assessment)

5. Concluding Remarks
The terrain surface is 3D and should be treated like that. There is a large gap between
the behavior of the observed phenomena and processes of the earth surface and their
digital representation forms in existing commercial GIS. More effective dynamic
representation forms and data structures are necessary to better capture the complexity
and interactions of geographic phenomena and processes. This is essential to carry out
more advanced studies of the complex behavior of geographic process and observed
shape, patterns, and morphometric structures of the earth surface. In this new
representation model the DEMs should behave as a carrier of geoinformation
representing features related to the earth surface. This should provide new mechanisms
satisfying the increasing demand for operational applications for effectively carry out
more complex modeling issues and analysis operations to investigate the complex
interactions among geospatial features and processes identified at the Earth surface.
Existing DEMs however, still show large drawbacks with respect to consistency,
availability, cost, degree of resolution, and coverage.

SISTEM INFORMASI PERENCANAAN


REVIEW JURNAL
DIGITAL ELEVATION MODELS
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
Ketua : IMAM NUR ALAM D52113503
Anggota : AHMAD AULIA BAHRUN A D52113017
IBNU MUNZIR D52113323
GALANG LANGIT PERSADA D52113324
ERWIN BAHAR D52113008
YOGA PRATAMA D52113316
NUR FITRIANI D52113010
AULIA HANIF ERYA D52113015
PUTRI PERMATASARI D52113019
WIRANDA MZ DAIPAHA D52113025
WISNAYANTI D52113022
INDAH RUKMANA D52113509

PRODI PENGEMBANGAN WILAYAH DAN KOTA


JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015