Anda di halaman 1dari 3

Cara Penularan Anthrax

Anthrax tidak menyebar langsung dari salah satu hewan terinfeksi ke hewan lain tetapi dapat masuk
ke dalam tubuh karena spora anthrax tertelan pada saat digembalakan atau merumput serta dapat
juga melalui air ataupun alat-alat kandang yang mengandung spora anthrax. Selain itu, hewan juga
dapat terinfeksi anthrax melalui pernafasan dengan menghirup spora anthrax saat merumput. Spora
akan mengalami germinasi dan menghasilkan bentuk vegetatif di dalam tubuh hewan yang
terinfeksi, kemudian memperbanyak diri serta dapat mengakibatkan kematian. Bentuk vegetatif
dalam proporsi tertentu dikeluarkan pada saat hewan menjelang kematian atau hewan yang sudah
mati (bangkai) dan menyebar ke lingkungan sekitarnya. Spora kemudian menunggu untuk ditelan
oleh hewan lainnya dan hal ini bisa berlangsung kapan saja, mulai dari waktu kurang satu jam
sampai beberapa dekade kemudian. Spora yang ada di dalam tanah dapat naik ke permukaan karena
pengolahan tanah dan selanjutnya spora tersebut berada di rumput yang kemudian termakan oleh
hewan (ternak).
Pakan terkontaminasi dengan tulang atau makan lain dari hewan yang terinfeksi juga dapat menjadi
sumber infeksi bagi ternak. Daging mentah atau kurang masak yang terkontaminasi merupakan
sumber infeksi untuk karnivora dan omnivora. Kasus anthrax akibat konsumsi daging yang
terkontaminasi telah dilaporkan pada babi, anjing, kucing, cerpelai, karnivora liar dan manusia.
Meskipun belum pernah diteliti di Indonesia, lalat dianggap mempunyai peran penting dalam
menyebarkan anthrax secara mekanis terutama pada situasi wabah hebat di daerah endemis.
Kebanyakan lalat pengigit (biting flies) dari spesies Hippobosca dan Tabanus bertindak sebagai
penular yang bertanggung jawab terhadap terjadinya perluasan wabah besar di Zimbabwe pada
1978-1979, dimana lalat meloncat dari satu komunitas ternak ke komunitas lainnya. Lalat juga
memakan cairan tubuh bangkai ternak terjangkit anthrax dan kemudian mendepositkan feses atau
muntahan yang mengandung kontaminan bakteri anthrax dalam jumlah besar pada helai daun
pepohonan dan semak-semak di sekitarnya.
Penularan anthrax pada manusia bisa melalui tiga rute diantaranya :
melalui kulit, oral (pencernaan) dan melalui pernafasan (Gambar 1). Penularan anthrax melalui kulit
terjadi melalui kontak langsung dengan spora B. anthracis yang ada di tanah, tanaman, maupun
bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Kemudian spora B. anthracis masuk
melalui kulit yang lecet, abrasi, luka atau melalui gigitan serangga. Penularan anthrax melalui oral
terjadi apabila memakan produk hewan yang terkena anthrax, sedangkan penularan anthrax melalui
pernafasan terjadi apabila menghirup udara yang mengandung spora B. anthracis misalnya pada
pekerja di pabrik wool atau kulit binatang (woolsorters disease). Oleh karena itu, anthrax pada
manusia dibagi menjadi empat tipe yaitu : anthrax kulit, anthrax pencernaan atau anthrax usus,
anthrax pernapasan atau anthrax paru-paru dan anthrax otak atau meningitis (terjadi jika bakteri
terbawa melalui aliran darah masuk ke otak).
Gambar 1 Siklus penularan anthrax

Menurut daerah penularannya, anthrax dibagi dalam dua bentuk diantaranya :


1. Anthrax daerah pertanian (agriculture anthrax) yaitu anthrax yang penularan dan kejadiannya
berkisar di daerah-daerah pertanian saja. Anthrax di Indonesia pada umumnya termasuk anthrax
daerah pertanian.
2. Anthrax daerah perindustrian (industrial anthrax) yaitu anthrax yang terjadi di daerah atau
kawasan industri yang menggunakan bahan baku berasal dari hewan atau hasil hewan seperti
bahan-bahan yang terbuat dari kulit (tas, ikat pinggang, topi, alat musik), tulang (perhiasan, industri
makanan ternak), daging (dendeng, abon), darah (campuran makanan ternak), tanduk (perhiasan,
kerajinan) dan lain-lain.

Sumber :
[Depkes RI] Departemen Kesehatan RI. 2003 . Pedoman Tata Laksana Kasus dan Pemeriksaan
Laboratorium Penyakit Antraks di Rumah Sakit. Jakarta : Dirjen PPM dan PLP, Depkes RI.
Kahn CM et al. 2011. The Merck Veterinary Manual. Ed ke-9. USA : Merck & Co. Inc.
WHO, FAO, OIE 2008. Anthrax in Humans and Animals. Ed ke-4. France : WHO Press.
pilihan pengobatan untuk anthrax

Semua jenis anthrax dapat dicegah dan diterapi dengan antibiotik. Orang yang terpapar
anthrax dapat diberikan antibiotik minum, biasanya amoksisilin, ciprofloxacin atau
doksisiklin. Antibiotik ini dilanjutkan selama 60 hari untuk mencegah kekambuhan.

Semakin lama terapi ditunda, semakin besar risiko mendapat dampak yang tidak dapat
diubah. Jadi, terapi biasanya dimulai sesegera mungkin saat diduga menderita anthrax.

Vaksin anthrax tersedia, namun tidak 100% efektif. Vaksin diberikan pada anggota militer,
ilmuwan yang bekerja dengan anthrax, dan kelompok risiko tinggi lain. Vaksin ini tidak
untuk anak kecil, wanita hamil, atau lansia lebih dari 65 tahun. Jika beberapa dosis vaksin
anthrax telah diberikan, tidak perlu diberikan lagi antibiotik.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk anthrax

Anthrax didiagnosis berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik, riwayat paparan berisiko tinggi,
dan dengan memastikan penyakit lain bukan penyebab gejala Anda. Cara terbaik
mendiagnosis secara akurat, dokter Anda dapat melakukan pemeriksaan kulit, darah, dan
feses Anda untuk mencari bakteri B. anthracis. X-ray atau computed tomography (CT) dada,
endoskopi, dan suntikan spinal dapat dilakukan. Untuk endoskopi, selang tipis elastis dengan
kamera kecil di ujungnya digunakan untuk memeriksa tenggorokan atau usus Anda.

Pengobatan di rumah
perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan
untuk mengatasi anthrax

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi
anthrax:

Lakukan vaksinasi jika pekerjaan Anda berisiko tinggi. Dokter hewan, pekerja laboratorium, dan
pekerja darurat yang berisiko harus divaksinasi
Hubungi dokter Anda segera jika Anda mendeteksi gejala awal infeksi
Habiskan antibiotik Anda. Jangan berhenti konsumsi obat kecuali atas anjuran dokter

Sumber Ferri, Fred. Ferris Netter Patient Advisor. Philadelphia / Elsevier, 2012. download
Porter, R. S., Kaplan, J. L., Homeier, B. P., & Albert, R. K. (2009). The Merck manual home health
handbook. Whitehouse Station, NJ, Merck Research Laboratories. Page 1154