Anda di halaman 1dari 99

TEKNIK REAKSI KIMIA /KBTB-2103

Dr. Ir. Endang SR, MT


Jurusan Teknik Kimia Polban
Mei, 2017

1
Rencana Perkuliahan (modul ke-2 TRK)

6-7minggu
Durasi kuliah:

Reaktor Kimia
Reaksi homogen & pengenalan reaksi heterogen
Reaktor batch, semibatch, kontinyu
Materi: Reaktor kontinyu jenis tangki (CSTR) dan pipa (PFR), tunggal dan rangkaian
Latihan soal

Ujian Akhir Semester dan tugas


Ujian modul

2
Buku Rujukan Buku Ajar Teknik Reaktpr, TK Polban, 2010

Lievenspiel

Fogler

3
PELAKSANAAN BELAJAR DG SISTEM SKS

4
TEKNIK REAKSI KIMIA (Modul 2: Tek.Reaktor)
Tujuan Pembelajaran Umum (1)
Mahasiswa mengenal jenis reaksi:
- homogen dan heterogen
- heterogen katalisis dan non katalisis
Mahasiswa mengenal jenis reaktor tangki dan
reaktor pipa
Mahasiswa dapat mengoperasikan reaktor
batch/semi batch /kontinyu dan mengetahui
fungsi dan karakternya.
Mahasiswa dapat memilih reaktor yang tepat
sesuai untuk jenis reaksinya, fasanya atau
kapasitas produknya.
5
Tujuan Pembelajaran Umum (2)
Mahasiswa dapat menurunkan formulasi untuk
reaktor yg beroperasi secara batch, semibatch atau
kontinyu, dengan neraca massa.
Mahasiswa menguasai jenis-jenis reaksi dalam reaksi
kimia dengan berbagai kondisi dan perubahan yang
terjadi dalam reaksi.
Mahasiswa dapat memperkirakan waktu yang
diperlukan untuk mencapai produk dengan
kualitas/derajat konversi tertentu.
Mahasiswa dapat mengenali sebelumnya terhadap ada
dan tidaknya perubahan volume dalam sistem raksi.
Mahasiswa dapat memprediksi kompossi campuran
reaksi dalam reaktor setelah reaksi berlangsung dalam
waktu tertentu.
6
REAKTOR Kimia
1. Model operasi reaktor kimia :
- Batch Tangki/
- kontinyu vesel
- Semibatch
2. Klasifikasi reaktor kimia:
- Ukuran: skala lab dan skala industri
- Bentuk: tangki/vesel dan pipa
- Kondisi campuran/sistem reaksi:
. homogen (fasa gas atau fasa cair),
. heterogen (fasa gas-cair; fasa padat-gas; fasa padat-cair;
fasa padat-cair-gas; fasa cair-cair)
- Penggunaan bentuk reaktor:
. Semua fasa sistem reaksi, dapat diproses dalam : reaktor pipa,
ataupun reaktor tangki
- Jumlah reaktor:
. Tunggal
. Jamak lebih dari satu reaktor, dapat dipasang scr seri atau paralel

7
Klasifikasi Reaktor Berdasarkan Fasa & Cara Operasi

8
1. Deskripsi Reaktor Ideal Aliran non ideal disebabkan:
Reaktor-reaktor ideal: -Terbentuknya daerah stagnan
Batch - Aliran by pass
Semi Batch - Channeling
Reaktor Tangki Berpengaduk Kontinu - Recycling
CSTR (Continous Stirred Tank Reactor)
Reaktor aliran pipa PFR ( Plug Flow Reactor )
Cascade yaitu CSTR dalam bentuk rangkaian seri.

Formulasi Reaktor didasarkan pada kondisi IDEAL


Ideal utk reaktor Batch: apabila bahan baku tercampur secara sempurna sebelum
reaksi mulai.
Ideal bagi reaktor tangki atau CSTR: apabila pengaduk dapat menghasilkan campuran
reaksi teraduk secara sempurna atau well mixing
Ideal bagi reaktor aliran pipa atau PFR: apabila dalam aliran campuran reaksi tidak
terdapat pencampuran ke arah aksial.
Ideal bagi Semi Batch: apabila bahan baku yang dimasukkan secara perlahan ke dalam
reaktor akan tercampur seketika dengan campuran reaksi di dalam reaktor.
Ideal bagi Cascade: apabila di setiap reaktor campuran reaksi tercampur secara
sempurna.

9
Reaktor Batch
Operasi secara batch:
Reaktan dimasukkan sekaligus, dan tidak
terdapat aliran masuk atau keluar selama
reaksi berlangsung.
Konsentrasi bahan baku dalam campuran reaksi
berubah dengan waktu.
Reaktor ini banyak digunakan untuk riset produk baru
dalam skala laboratorium; pada skala industri
digunakan untuk produk dengan kapasitas yang tidak
terlalu besar misalnya untuk produk sabun, bahan
pewarna, kosmetik dan lainnya.
Proses secara batch juga digunakan untuk jenis reaksi
yang memerlukan waktu panjang.
Reaktor batch sering digunakan untuk melakukan
proses untuk produk yang berbeda.
10
Reaktor CSTR (Continous Stirred Tank Reactor)
Reaktor CSTR dapat dalam
Selama bentuk tunggal yang terdiri satu
beroperasi bahan tangki dan bentuk rangkaian
baku dimasukkan dengan beberapa tangki yang
terus menerus disusun seri atau paralel
demikian juga
dengan produk
reaksi akan
dikeluarkan secara
terus menerus atau
kontinu

Sifat ideal reaktor CSTR


memiliki karakter dengan
pengadukan yg Reaktor rangkaian seri
Reaktor tunggal menghasilkan well mixed
bagi campuran reaksi.

11
Reaktor PFR
Operasi secara kontinyu dan ideal:
o Seperti pada CSTR, selama beroperasi bahan baku
dimasukkan terus menerus dan produk reaksi akan
dikeluarkan secara terus menerus atau kontinu.
o Perilaku ideal pada reaktor aliran pipa: menyerupai aliran
sumbat , dimana tidak terjadi pencampuran ke arah aksial,
dan semua molekul mempunyai waktu tinggal yang sama.
o Untuk keadan tertentu kadang diperlukan pencampuran awal
bahan baku sebelum diumpankan ke dalam reaktor.
o Reaktor PFR berdiameter kecil: 1 15 cm atau diameter besar
hingga bermeter-meter.
o Reaktor aliran pipa sebagai reaktor tunggal dengan panjang >
1000 m, dibentuk sedemikian rupa untuk menyesuaikan
ruang, atau sebagai reaktor PFR rangkaian yang dapat
disusun secara paralel atau seri.
12
o Konsentrasi bahan baku tinggi pada saat baru
masuk reaktor kemudian akan menurun secara
perlahan, terkonversi menjadi produk di
sepanjang pipa.
o Reaktor beroperasi secara kontinu, tidak terdapat
akumulasi bahan baku di dalam reaktor, atau
disebut proses berlangsung dalam kondisi steady
state. 13
Reaktor Kolom Fixed Bed & Fluidized Bed

Packed/fixed bed reactor Fluidized reactor

Sistem reaksi gas-padat


14
Reaktor kolom (Tower) sistem reaksi Gas-Cair

15
Reaktor Batch Pada reaktor batch ini temperatur dan
konsentrasi terdistribusi seragam di
seluruh bagian reaktor, namun konsentrasi
Konversi dalam Reaktor Batch akan selalu berubah setiap saat.

NA0 NA
XA
NA0

NA0 = banyak mol A mula-mula


NA = banyak mol A pada saat t
Harga XA tergantung pada :
jumlah mol mula-mula setiap reaktan, dan
16
bilangan stoikiometri setiap reaktan.
Reaktor Batch
Contoh : Reaksi 2A + B C + 3D
Apabila jumlah mol mula-mula untuk A = 5 mol dan B = 3 mol
dan diketahui pada akhir reaksi terdapat 2 mol A maka :
besar derajat konversi A dan dan produk C dan D dapat dicari spt berikut :

17
Reaktor Batch
Komposisi campuran/sistem reaksi selama reaksi

Komposisi sistem reaksi setelah reaksi berlangsung selama t:

18
Reaktor Batch

19
Reaktor Batch
Reaksi dalam Fasa Cair
Pada reaksi-reaksi dalam fasa cair, perubahan volume molar
dianggap:
V = 0
Sehingga :
V = V0 (1 + XA)
= V0 (1 + 0.XA)
= Vo
Reaksi dalam Fasa Gas
Reaksi dalam fasa gas, V tergantung dr stoikiometri.
XANA0 .VA0 .VA0
V V0 i (Vi ) V V0 .XA
a i a a.V0
.VA0
V V0 1 .XA NA0
XA .NA0 .VA a.V0
V V0 i = a N0 NI
a i = V0 (1 + A.XA) 20
Contoh Soal :
Suatu reaksi dalam fasa gas diberlangsungkan secara isothermal dan P konstan mempunyai
persamaan reaksi
A4R
Pertanyaan :
1. Tentukan volume campuran, apabila diketahui bahwa bahan baku hanya terdapat A murni
2. Tentukan volume campuran, apabila diketahui bahwa bahan baku mengandung 50% A dan
50% inert

Penyelesaian :
1. Volume campuran pada derajat konversi XA adalah : V = V0 (1 + XA)
VA0 = V0 karena A adalah murni sehingga :
= 4 1 . VAO
1 Vo
4 1 1
. 3 : V = Vo (1 + 3 XA)
1 1
2. Apabila pada awal reaksi terdapat 50% A dan 50% inert maka :
VA0 = V inert = 50% Vtotal
VA0
.
a V0 =
4 1 21
V0 3
.
1 V0 2 Sehingga : V = V0 (1 + 3/2 XA)
21
Reaktor Batch
Kondisi reaksi dg T dan P berubah selama reaksi (fasa gas)
Suatu proses dalam fasa gas yang mengalami perubahan T selama
reaksi, maka perubahan volume campuran reaksi adalah:
- Asumsi, gas memenuhi hukum gas ideal
PV = nRT
V0 = Ni. Vi0 + NIVIo.
i
= N0.V0 + NI. Vi0
= V0 (N0 + NI)
= R.T0 (N0 + NI)
P0
(Pada X = XAo)

(Pada X = XA)

22
Reaktor Batch dalam Kondisi T dan V Konstan

Neraca Massa:

Laju massa Laju pembentukan Laju massa Laju akumulasi


komponen masuk komponenakibat komponen keluar massa komponen

ke ruang tilik reaksi kimia dari ruang tilik dalam ruang tilik

d (VC A )
Qin C A,in rAV Qout C A,out
=0 =0 dt

d VC A
t CA
dCA
rAV rA
dC A dt t rA
0 CA0
dt dt menyatakan hubungan antara
waktu reaksi dengan konsentrasi
23
Hubungan Waktu Reaksi (t) dg ---------
CA untuk Jenis-jenis Reaksi dalam
Reaktor Batch (untuk Volume Konstan)

1) Reaksi Irreversibel Orde Nol


Untuk Volume Berubah
dCA
rA kCA0
dt
rA = -k = dCA
dt

- dCA = k dt
CA0 - CA = k.t.

Karena Volume campuran reaksi tetap selama reaksi maka :


XA = NA0 NA dapat ditulis sebagai : XA = CA0 CA
NA0 CA0
24
2) Reaksi Irreversibel Orde 1
A Produk
k

Untuk Volume Tetap


Untuk Volume Berubah

25
3) Reaksi Irreversibel Orde 2
A + B
Produk
k

Untuk Volume Tetap

setiap saat jumlah A yang Untuk Volume Berubah


bereaksi sama dengan
jumlah B yang bereaksi

26
Latihan 1.
Di dalam sebuah reaktor batch terjadi reaksi antara
senyawa A dan B, dlm fasa gas, dg persm reaksi:
A+B P + Q, dan dinyatakan sebagai orde 2.
Konsentrasi A awal = konsentrasi B awal = 3 mol/l.
Setelah reaksi berjalan 30 menit, 60% senyawa A
telah bereaksi.
Pertanyaan:
1.Hitung konversi(XA) setelah berlangsung selama
20, 40, 60, 120, 240, 480 dan 960 menit.
2. Buat kurva XA sebagai fungsi dari waktu reaksi,
dan simpulkan hasilnya.

27
Latihan 2.
Di dalam sebuah reaktor batch terjadi reaksi antara
senyawa A dan B, dalam fasa gas, dg persm reaksi:
A+B 2 P + 3Q, dan dinyatakan sbg orde 2.
Konsentrasi A awal = konsentrasi B awal = 3 mol/l.
Setelah reaksi berjalan 30 menit, 60% senyawa A
telah bereaksi.
Pertanyaan:
1.Hitung konversi(XA) setelah berlangsung selama
20, 40, 60, 120, 240, 480 dan 960 menit.
2. Buat kurva XA sebagai fungsi dari waktu reaksi,
dan simpulkan hasilnya.

28
Latihan 3.
Di dalam sebuah reaktor batch terjadi reaksi antara
senyawa A dan B, dalam fasa gas, dg persm reaksi:
A+B P + Q, dan diketahui nilai konstanta
laju reaksi = 0,01 L/mol.menit.
Konsentrasi A awal = 3, dan konsentrasi B awal =
2.5 mol/l.
Pertanyaan:
1.Berapa waktu dibutuhkan untuk menghasilkan
produk, dimana masih terkandung senyawa B
sebesar 10%.
2. Berapa % kandungan A yang masih terkandung
dalam produk.

29
4) Reaksi Irreversibel Orde 3
A + B + C Produk

dCA
- rA = - k CA CB CC = dt

dCA
- dt
= k (CA0 - CB0XA) (CB0 - CA0XA) (CC0 - CA0XA)

CA0 dXA = k (CA0 - CA0XA) (CB0 - CA0XA) (CC0 - CA0XA)


dt

1 CA0 1 CB0
n n
(CA0 CB0 )(CA0 CC0 ) CA (CB0 CA0 )(CB0 CC0 ) CB
1 CC0
n kt
CC0 CA0 )(CC0 CB0 ) CC

30
31
32
Reaktor Semi Batch
Umpan dimasukkan secara kontinu ke dalam reaktor,
Tidak ada produk yang dikeluarkan sehingga terjadi akumulasi produk.
umpan
FA0
CA0
QV0

A Produk
mis. : reaksi orde 1

33
34
Tujuan Pembelajaran Umum (3)
Mahasiswa dapat menghitung ukuran reaktor PFR (plug
flow reaktor reaktor pipa ideal) dan ukuran reaktor
CSTR (Continous stirred tank reactor reaktor tangki
ideal), untuk memproses bahan dengan kapasitas dan
kualitas produk yang tertentu.
Mahasiswa dapat menjelaskan pengaruh produk yang
dihasilkan , apabila menggunakan reaktor yang
dipasang seri atau paralel.
Mahasiswa dapat memprediksi dan mengantisipasi
produk yang dikehendaki secara optimal dalam reaksi
komplek.
Mahasiswa dapat memperkirakan cara menghasilkan
produk yang dikehendaki dengan maksimal, dalam
reaksi komplek. dalam reaktor CSTR dan PFR.
35
Batch Kontinu
(1) Reaktan : jumlah mol A = NA laju alir molar FA
N = Ni F = Fi
(2) Volume : volume campuran = V laju alir volume = QV
(3) Derajat Konversi : XA = NA0 NA XA = FA0 FA 36
NA0 FA0
Termasuk reaktor kontinu diantaranya :
Reaktor sumbat (Plug Flow Reactor, PFR)
Reaktor Tangki Ideal (Continuous Stirred Tank Reactor, CSTR)

Keduanya bersifat Stationer (steady state) selama operasi


berlangsung dan lama reaktan dalam reaktor waktu tinggal =
waktu reaksi

Reaktor CSTR
Suatu reaktor yang beroperasi dengan kondisi tunak (steady
state),
Komponen yang terkandung dalam reaktor teraduk dengan
sempurna dan uniform sehingga aliran keluar dari reaktor
mempunyai komposisi yang sama dengan komposisi di dalam
reaktor.
37
38
Space Time, Space Velocity dan Waktu tinggal rata2
Sebagaimana t dalam reaktor batch adalah lama atau waktu reaksi yang
dapat diukur,
maka space time dan space velocity merupakan ukuran-ukuran performansi
untuk reaktor-reaktor kontinu, dan waktu tinggal rata2 merupakan waktu
riil bahan di dalam reakt

Space Time
= waktu yang diperlukan untuk memproses feed dalam satu
volume reaktor pada kondisi tertentu
= V/Qvo

Space Velocity
S= jumlah feed atau umpan dalam satuan volume reaktor yang dapat diproses
selama sekian waktu pada kondisi tertentu.
= 1/

Waktu tinggal rata2


V V
T = QV

QV0 . 1 A XA
39
T

CA0 CA
XA =
CA0

Persamaan ini
menghubungkan empat
besaran : XA, (-rA), V dan QV0

40
Contoh Soal 1:

Bahan baku berupa cairan yang mengandung komponen A dan B diumpankan


ke dalam reaktor CSTR dengan laju alir volume 1 l/menit.

Diketahui bahwa CAo = 0.1 mol/l dan CBo = 0.01 mol/l.


Jenis reaksi ini tidak diketahui stokiometrinya dan aliran keluar reaktor
mengandung komponen A, B dan C dengan komposisi :

CA = 0.02 mol/l
CB = 0.03 mol/l
CC = 0.04 mol/l

Volume reaktor = 1 liter

Pertanyaan :
Laju reaksi A, B dan C di dalam reaktor pada kondisi tersebut

Penyelesaian :
Dari persamaan neraca material untuk CSTR :
41
42
Contoh Soal 2
Suatu reaksi irreversibel orde dua dengan persamaan reaksi : 2A P., dilakukan
di dalam reaktor CSTR dengan derajat konversi XA = 75%, dalam sistem
konstan
Pertanyaan :
Bagaimana harga XA apabila reaktor untuk melakukan reaksi diganti dengan
reaktor CSTR lain dengan ukuran 6 x besar reaktor CSTR semula (catatan :
besaran-besaran lain tidak berubah)
Penyelesaian :

43
Latihan 4.
Suatu reaksi fasa cair dilangsungkan dalam reaktor batch, dan dijaga
beroperasi secara isotermal. Reaksi dinyatakan sebagai orde satu, dengan
persamaan reaksi: A B + C. Setelah 13 menit, reaktan A terkonversi
menjadi B dan P sebanyak 75%.
Pertanyaan:
Waktu yang dibutuhkan untuk melangsungkan reaksi hingga konversi A = 95%,
Apabila proses dilakukan dalam reaktor tangki berpengaduk kontinyu.

44
Reaktor PFR
Disebut Plug Flow Reactor disebabkan aliran fluida di dalam reaktor ini
menyerupai sumbat.
Reaktan dan produk mengalir di dalam reaktor sumbat dengan kecepatan
yang benar-benar rata.
Komposisi fluida yang mengalir bervariasi sepanjang jalan alir.

45
46
Pada kondisi sistem dengan volume
tetap , berlaku space time S identik
dengan waktu tinggal campuran di
dalam reaktor, seperti halnya pada
CSTR yang berarti sebagai waktu reaksi
dari reaktan dalam reaktor.
47
48
49
Contoh Soal :
Suatu reaksi dekomposisi phosphine dalam fasa gas homogen orde 1, dengan persamaan
reaksi : 4 PH3(g) P4 (g) + 6 H2 dilangsungkan pada suhu 1.2000 F. Pada kondisi ini,
diketahui -rPH3 = C PH3 dan P sistem konstan selama reaksi.
Pertanyaan :
Ukuran PFR yang diperlukan untuk beroperasi pada suhu 1.2000 F dan tekanan 4,6 atm
sehingga dapat dicapai konversi sebesar 80% dari umpan yang mengandung 4 lb mol
phosphine murni/jam.
Penyelesaian :
Persm reaksi ditulis sebagai : 4 A R + 6 S
dimana : A = PH3 ; R = P4 dan S = H2

50
Penutup
Neraca masa reaktan dari operasi untuk setiap jenis reactor akan menghasilkan
formulasi yang memberikan hubungan antara waktu reaksi dan kualitas
produk atau kandungan reaktan yang masih terdapat pada produk.
Setiap reaksi dapat berlangsung dengan atau tidak mengalami perubahan volume
pada system campuran reaksi.
Untuk reaksi yang mengalami pertambahan volume yang pada umumnya pada
sebagian reaksi fasa gas, perlu dicermati dengan baik terhadap jumlah
penambahan volum yang terjadi, untuk kemudian dikeluarkan dari system
reactor untuk menjaga kestabilan tekanan pada system reaksi, dan untuk
menghindari bahaya yang disebabkan oleh penambahan tekanan reaktor
secara menerus.
Diketahui bahwa penambahan volum yang terjadi dapat disebabkan karena factor
konversi kimia dan factor fisik.

Operasi reactor kontinu tetap menggunakan dasar-dasar reaksi dengan operasi


batch.
Perbedaan yang ada merupakan hasil penurunan neraca masa reaktan
berdasarkan operasi dan formulasi yang dihasilkan.
Reaktor kontinu tunggal yang terdiri dari reactor tangki (CSTR) dan reactor pipa
(PFR) memberikan formulasi yang serupa atas dasar sama-sama beroperasi
secara kontinu.
Perbedaan yang ada adalah harga konsentrasi reaktan A yang sama di seluruh
system reaksi pada CSTR, dan konsentrasi reaktan A yang menurun secara
gradual di sepanjang reactor pipa sehingga persamaan yang ada memerlukan
integrasi. 51
PR5.
Suatu reaksi fasa cair dilangsungkan dalam reaktor batch, dan dijaga
beroperasi secara isotermal. Reaksi dinyatakan sebagai orde satu, dengan
persamaan reaksi: A B + C. Setelah 13 menit, reaktan A terkonversi
menjadi B dan P sebanyak 75%.
Pertanyaan:
o Waktu yang dibutuhkan untuk melangsungkan reaksi hingga konversi A
= 95%, apabila proses dilakukan dalam reaktor aliran sumbat.
o Bandingkan dengan hasil apabila proses dilakukan pada reaktor tangki
berpengaduk kontinu

52
PEMAKAIAN REAKTOR
Reaktor tunggal batch atau kontinu
Reaktor rangkaian dipasang secara seri atau paralel

jenis dan ukuran sama ataupun berbeda

Pemilihan didasarkan pada faktor ekonomi

o Ukuran reaktor
o Distribusi produk pada reaksi komplek.

53
Perbandingan Ukuran Antar Reaktor Tunggal
Perbandingan Ukuran Reaktor : Batch dan PFR

Batch: Vol tetap PFR: Vol tetap


t CA
dCA
dt t rA
0 CA0

Batch: Vol Berubah PFR: Vol Berubah

.
Pada kasus dengan = 0 komponen yang
bereaksi baik dalam batch atau PFR adalah
sama pada t tertentu, sehingga dapat dipilih
batch atau PFR, namun tetap ditinjau faktor-
faktor lainnya
54
Perbandingan Ukuran Reaktor CSTR - PFR
Perbandingan ukuran reaktor CSTR dan reaktor PFR

Orde 2

55
Orde 2

56
1) Reaktor tangki selalu memerlukan ukuran lebih besar dari ukuran
reaktor PFR.
2) Perbandingan ukuran kedua reaktor menaik dengan besarnya orde reaksi.
3) Pada reaksi orde nol, ukuran reaktor tidak bergantung dengan jenis
aliran.
4) Harga y akan menaik dengan cepat pada derajat konversi XA yang tinggi.
5) Perubahan selama reaksi akan mempengaruhi design reaktor.
6) Pengembangan yang terjadi selama reaksi ( mengecil), akan
menurunkan perbandingan volume/ukuran reaktor CSTR/PFR
7) Penyusutan yang terjadi selama reaksi ( membesar), akan menaikkan
perbandingan volume/ukuran CSTR/PFR

Ordinat y: perbandingan volume atau space time (apabila digunakan


umpan dan jumlah yang sama).
Dengan kurva-kurva di atas dapat dibandingkan jenis & ukuran reaktor
yang berbeda pada derajat konversi XA tertentu.

57
Contoh Soal ( penggunaan kurva di atas) metoda grafis

1. Reaksi dalam fasa cair, dg persamaan reaksi A + B produk,
500 l
laju reaksi: (-rA) = mol.menit CA CB,

Proses dilangsungkan di dalam reaktor pipa yg dianggap sebagai plug flow, di bawah
kondisi :
- volume reaktor V = 0.1 L
- laju alir volume QV = 0.05 l/menit
- CA0 = CB0 = 0.01 mol/l

Pertanyaan :
1. Konversi reaktor yang dapat diharapkan
2.Untuk konversi seperti yang dicapai no. 1, berapa ukuran reaktor CSTR yang
diperlukan
3.Berapa konversi yang dapat diharapkan apabila digunakan reaktor CSTR dengan
ukuran yang sama dengan ukuran PFR

Penyelesaian :
Dalam umpan CA0 = CB0 (-rA) = kCA2
1) Konversi reaktan yang dapat diharapkan di dalam PFR
58
o space time = S = = 2 menit
o untuk reaksi orde 2, harga kCA0S = = 10
Dengan digunakan grafik untuk reaksi
orde 2, maka pada nilai kCA0S = 10,
akan diperoleh (1-XA) = 0.09
(mengikuti garis putus putus)
XA = 1 - 0.09 = 0.91

2) Dalam kasus yang sama dengan no. 1,


apabila digunakan reaktor CSTR, maka
diperlukan CSTR dengan ukuran yang
dapat ditemukan dengan cara sbb. :
Kasus adalah sama berarti (CA0 & FA0)T identik dengan (CA0 & FA0)S,,
VT
Sehingga : ordinat kemudian menjadi perbandingan langsung dari
VS
untuk harga XA sama yaitu = 0.91
= 11 (dari titik (1-XA) = 0.09, ditarik garis // ordinat hingga memotong
garis N = 1)
VT = 11VS = 11 x 0.1
= 1.1 liter

59
3) Apabila digunakan ukuran CSTR sama dengan ukuran PFR, derajat konversi
yang dapat diharapkan dicari dengan cara sbb :
Kasus sama & volume sama maka [k & CA0 & ]T = [k & CA0 & ]S
[k CA0 ]T = [k CA0 ]S = 10
k CA0 T =10, dari grafik (1 - XA) = 0.27
(dari titik k CA0 = 10, ditarik garis ordinat hingga memotong garis N = 10)
XA = 1 - 0.27 = 0.73
Jadi Derajat konversi yang diharapkan dapat dicapai bila digunakan reaktor CSTR
dengan ukuran = adalah 73%.

60
Sistem Reaktor Rangkaian
Reactor PFR
Pada berbagai proses pengolahan bahan menjadi produk, banyak
digunakan reaktor rangkaian yang dapat dipasang secara seri atau
paralel.
Untuk reaktor PFR, pemasangan secara seri akan diperoleh derajat
konversi XA untuk setiap reaktor yaitu : XA1, XA2, XA3 .. XAn,
merupakan konversi A yang meninggalkan reaktor
PFR1, PFR2, PFR3, PFRn.

Dari neraca material komponen A untuk reaktor PFR :


X
V A
dXA tinjauan untuk setiap reaktor PFR

FA0 0
( rA )

Xi
Vi dXA dimana : i adalah nomor reaktor PFR

FA0 X ( rA )
i 1
61
Sehingga untuk N reaktor dalam rangkaian seri diperoleh persamaan:

V n
Vi V1 V2 V3 .......V n X1 X
dXA 2 dXA 3 dXA
X X N
dXA
= .......... .
FA0 i1 FA0 FA0 X0 0
(rA ) X (rA ) X (rA ) X
(rA )
1 2 N 1

XA
dXA
( rA )
0

Hal-hal Penting:
N reaktor PFR dalam seri akan mempunyai volume total sebesar V dan
derajat konversi sebesar XN, dimana seolah-olah sistem rangkaian
reaktor-reaktor PFR tadi adalah reaktor tunggal PFR dengan volume V.
Untuk reaktor-reaktor PFR yang dipasang secara paralel atau secara
paralel-seri, dianggap pula sebagai sistem reaktor tunggal PFR dengan
volume V sebagai volume total dari seluruh reaktor yang dirangkaikan.
Dalam operasinya, feed (umpan) didistribusikan sedemikian rupa
sehingga nantinya apabila aliran-aliran fluida saling bertemu harus
dalam kondisi mempunyai komposisi yang sama.
Dengan demikian untuk reaktor dengan rangkaian paralel maka
atau nya harus sama untuk setiap garis paralel.
62
Contoh Soal
o Sistem rangkaian reaktor dipasang secara seri-paralel, terdiri dari 3 reaktor
PFR, dalam cabang 2 paralel seperti gambar berikut :
FAD Cabang D

FAD
Produk

Cabang E
FAE

Cabang D mempunyai reaktor dengan volume 50 liter , diikuti reaktor


dengan volume 30 liter .
Cabang E mempunyai reaktor dengan volume 40 liter

Pertanyaan :
Besar umpan yang sebaiknya dialirkan ke cabang D

Penyelesaian :
Dari gambar, cabang D terdiri dari dua reaktor dalam seri, dapat dianggap
single reactor dengan volume : VD = 50 L + 30 L = 80 L
63
V
Kemudian, untuk reaktor-reaktor dalam rangkaian paralel, harus identik,
FA
untuk menghasilkan konversi setiap cabang sama.

Sehingga: V harus sama dengan V



FA D FA E

FAD VD 80
2
FAE VE 40

FAD = 2 FAE
Berarti : 2 3 total umpan harus diumpankan ke cabang D.

64
Reaktor CSTR
Apabila dalam reaktor PFR, konsentrasi reaktor akan menurun secara
bertahap sepanjang sistem PFR., maka untuk reaktor CSTR, konsentrasi
reaktor akan menurun dengan segera ke suatu harga yang rendah.
Pada sistem dengan N reaktor CSTR, yang dirangkaikan secara seri, maka
penurunan konsentrasi di dalam sistem reaktor ini dapat dijelaskan sbb :

CA0 sistem reaktor CSTR, dengan N > 30 identik dengan flug flow

1
sistem reaktor CSTR, dengan N = 5
2
CS
3
sistem reaktor CSTR tunggal atau N = 1
4

CA
volume sistem reaktor
65
Profil konsentrasi komponen melewati N tahap dari
sistem reaktor CSTR, dibandingkan dengan aliran
pada reaktor tunggal.
Di sini setiap reaktor CSTR mempunyai volume
sama, dan dianggap konsentrasi adalah uniform
di dalam setiap reaktor. Pada gambar ditunjukkan
bahwa penurunan konsentrasi terjadi secara
bertahap dari reaktor ke reaktor berikutnya.
Sehingga untuk kondisi sistem rangkaian CSTR
secara seri dengan sejumlah besar unit reaktor
CSTR yang saling berdekatan, maka karakter
sistem akan mendekati karakter reaktor PFR.
66
Contoh sistem rangkaian CSTR berukuran sama dengan rangkaian seri :
CA1, XA1 CA2, XA2 CAi-1, XAi-1 CAi, XAi CAN-1, XAN-1
CA0, XA0
FA0, QV0

AP
k C 1, 1 C 2, 2 Ci , i CN, N CAN
Skematik Reaktor CSTR Rangkaian-Seri XAN
QV

Pada kondisi sistem konstan penulisan persamaan


Space Time ini dapat dalam bentuk konsentrasi
seperti berikut :

67
Apabila space time berharga sama pada semua
reaktor berukuran yang sama (=Vi), maka :

68
Contoh soal:
Suatu proses reaksi orde dua, 90% reaktor A terkonversi menjadi produk di
dalam reaktor CSTR. Kemudian direncanakan untuk menempatkan reaktor
kedua yang sejenis untuk dirangkaikan secara seri dengan reaktor pertama
Pertanyaan :
1. Pada proses yang sama, apakah penambahan reaktor tadi akan
mempengaruhi terhadap konversi reaktan
2.Pada hasil konversi yang sama (90%), berapa laju alir volume yang harus
diberikan.
Penyelesaian :
Dengan bantuan grafik, untuk single reaktor
pada XA = 90% sehingga 1 - XA = 0.1,
diperoleh kCA0 = 90
Dengan penambahan reaktor sejenis N = 2,
space time akan menjadi 2 kali lebih besar,
kCA0 = 2 x 90 = 180
Pada N = 2, diperoleh 1 = XA = 0.027
XA = 0,973 (97,3%)

69
Apabila konversi dikehendaki sama (90%), dengan jumlah reaktor N-2,
berarti 1 - XA = 0.1. Dari grafik diperoleh harga kCA0 = 27.5
kCA0
N 2 N 2

kCA0 N1 N1

V
= Q
V N 2 27,1
0.305
V 90
Q
V N 1

Sehingga laju alir volume yang harus diberikan apabila


tangki berjumlah 2 namun harga XA tetap sebesar 90%
adalah sebesar 6.6 kali QV semula (apabila tangki hanya 1)

70
Apabila reaktor berjumlah 2
Dari persamaan neraca material pada reaktor II :
FA1 = FA2 + k2CA22V
QVCA1 = QVCA2 + k2CA22V
CA1 = CA2 + k2CA02 (1-XA2)22
CA1 - CA2 = k2CA02 (1-XA2)22
CA0(1-XA1) - CA0 (1-XA2) = k2CA02 (1-XA2)22
CA0 (1-XA1 - 1 + XA2) = k2CA02 (1-XA2)22
XA2 - XA1 = k2CA0 (1-XA2)22
kCA02 = XA2 XA1
1 XA2 2
90 = XA2 0.9
1 XA2 2
XA2 = 0.973
71
Latihan 5
1. Suatu reaksi fasa cair, dengan persamaan reaksi: A + B P, dinyatakan sebagai
orde 2. Reaksi dilakukan di dalam 4 raktor berukuran sama yaitu 2500 liter, yang
dipasang seri. Bahan baku mengandung A dan B diumpankan ke dalam reaktor,
masing-masing 10 mol/menit dan dalam konsentrasi masing-masing 1 mol/liter.
Proses berlangsung dalam kondisi di mana kecepatan reaksi pada reaktor ke-4
adalah 0,0005 mol/liter.mnt, dan dihasilkan produk akhir nasih mengandung A
sebesar 0,05 mol/liter.
Pertanyaan:
a. Konversi pada setiap produk dari setiap reaktor
b. Komposisi produk akhir.

2. Suatu reaksi fasa gas dengan persamaan reaksi A P + Q, dinyatakan sebagai


orde 1, dan dilakukan dalam reaktor pipa dalam 3 bundel terikat, bundel ke-1 =
1000 liter, bundel ke-2 = 1750 liter dan bundel ke-3 = 2250 liter, yang dipasang
secara paralel. Bahan baku mengandung 70% A dan 30% inert. Diketahui pula
bahwa kapasitas produk reaktor ikatan bundel ke-1 adalah 20 liter/menit dengan
capaian konversi A = 94%.
Pertanyaan:
a. Nilai k dan space time pada semua bundel reaktor
b. Laju alir bahan baku masuk ke semua bundel reaktor
c. Kapasitas produk yang dihasilkan bundel reaktor ke-2 dan ke-3.

72
=

Reaktor Dengan Sistem Resirkulasi


Operasi reaktor dengan resirkulasi dilakukan bila output dari reaktor masih
banyak mengandung reaktan yang belum terkonversi.
Besar resirkulasi R = recycle ratio, merupakan perbandingan antara volume
campuran yang dikembalikan dan volume campuran output dari reaktor.
Di sini akan ditinjau terhadap reaktor PFR.
Harga R = QV3 , dapat bervariasi dari 0 hingga
QVf

73
Persamaan dasar PFR :
XA
dXA
V FA0 (rA )
0

Persamaan PFR dg resirkulasi


XAf
1 dXA
V FA0 ( rA )
XA1

74
75
Reaksi Komplek dalam Fasa Tunggal Ideal
Pada reaksi-reaksi komplek (paralel, konsekutif,
dan lain-lain) perlu diciptakan kondisi operasi
untuk dapat dicapai selektifitas tinggi thd
produk yang dikehendaki dan dapat dicapai
seoptimal mungkin.
Secara umum kinetika reaksi dari berbagai reaksi
yang terjadi harus ditinjau.
Disamping kondisi operasi, faktor ukuran dan
jenis reaktor juga dapat berpengaruh terhadap
distribusi produk yang dihasilkan.
76
77
78
79
80
81
82
83
84
2)

B. Apabila pada t awal: CR = CS 0


1) CA = CA0e-k1t
2) CR = k1 .CA0
Orde 1
k2 k1
e k1 .t
e k2 .t
CC
R0
e k2 .t
A0

r S = k 2 CR 3) CS dihitung dari neraca massa:


CA0 + CR0 + CS0 = CA + CR + CS
Reaksi Berturutan pada PFR/ Batch
A.Bila pada awal reaksi CR dan CS = 0,
1. Konsentrasi A yang meninggalkan
reaktor adalah :

2. Rmaks akan tercapai pada waktu t


maks, dimana:

85
Kurva konsentrasi relatif komponen-komponen di dalam reaktor sumbat
Untuk reaksi : A R S , orde 1
86
Reaksi Berurutan pada reaktor CSTR

Neraca masa untuk setiap komponen adalah :


masa masuk = masa keluar + masa hilang krn reaksi

87
dCR
# Konsentrasi R maks diperoleh dengan membuat dt 0
dCR CA0 k1 (1 k1 T )(1 k2 T ) CA0 k1 T k1 1 k2 T k2 1 k1 T = 0

dt (1 k1 T ) 2 (1 k2 T ) 2

Sehingga diperoleh :

T maks = 1
k1 .k2
CR maks 1

CA0 1
2

k2 2 1
k1

88
89
Merupakan kurva fractional Yield dari R sebagai fungsi XA dengan parameter
perbandingan k2/k1
Kurva-kurva tersebut menjelaskan hal-hal sebagai berikut :

o Fractional Yield untuk R dalam reaktor PFR selalu lebih besar dari reaktor
tangki, berapapun besarnya harga XA.
o Makin besar XA, fractional Yield akan makin turun.
o Bila k2/k1 sangat kecil, kita bisa mendapatkan besar pada XA yang tinggi,
sehingga adanya daur ulang dari reaktan yang tidak terkonversi mungkin
tidak diperlukan lagi.
o Bila k2/k1 > 1, fractional Yield R akan menurun dengan tajam walau pada
konversi yang rendah
dengan dmk untuk menghindari terbentuknya S yang besar, kita harus
bekerja pada XA yang rendah, dan mendaur ulang A yang belum terkonversi
setelah R dipisahkan terlebih dahulu.

90
Reaksi Seri Paralel
Merupakan reaksi yang mempunyai tahap berurutan dan tahap
paralel secara bersamaan.

k1
o A+B R atau:
o R + B k2
S

Reaksi berlangsung dengan kecepatan reaksi:


rA = dCA/dt = - k1 CA CB
rB = dCB/dt = - k1 CA CB - k2 CR CB
rR = dCR/dt = k1 CA CB - k2 CR CB
rS = dCS/dt = k2 CR CA

91
Distribusi Produk Reaksi Seri Paralel dalam Reaktor PFR atau Batch

92
Distribusi Produk Reaksi Seri Paralel dalam ReaktorCSTR
Hubungan waktu reaksi dengan tingkat konversi yang bersifat linier pada reaksi sederhana tidak lagi berlaku pada reaksi kompl ek baik

Dari persamaan neraca masa A dan R untuk reaktor CSTR :

dapat ditentukan CA, CB, CR dan CS pada setiap saat, secara


analitis ataupun grafis
93
B yang telah bereaksi

94
Dari gambar-gambar yang memperlihatkan distribusi produk dengan berbagai
harga k2/k1 dan CR0 = CS0 = 0 terdapat beberapa hal seperti berikut :
Sederetan garis lurus ( miring titik2) dengan kemiringan = a, menunjukkan
jumlah B yang bereaksi
Kedua gambar menunjukkan bahwa pada XA yang rendah akan
memberikan hasil fraksi R yang lebih tinggi. Sehingga apabila cukup
mungkin untuk memisahkan komponen-komponen dari aliran output dari
reaktor, maka kondisi terbaik untuk menghasilkan R adalah dengan
membuat XA rendah, kemudian R dipisahkan dari campurannya, kemudian
A yang belum terkonversi dikembalikan kedalam reaktor
Seperti halnya pada reaksi berurutan, maka pada reaksi seri-paralel ini,
distribusi produk dalam reaktor PFR akan memberikan CR yang lebih tinggi
dari pada dalam reaktor CSTR

95
96
97
Resume untuk Reaksi Komplek

Hubungan waktu reaksi dengan tingkat konversi yang


bersifat linier pada reaksi sederhana tidak lagi berlaku
pada reaksi komplek baik reaksi parallel, reaksi seri
ataupun reaksi seri parallel.
Proses dalam waktu lama bahkan dapat memberikan
kualitas produk yang tidak baik. Sehingga disamping
penetapan kondisi proses secara tepat, juga diperlukan
pengamatan terhadap nilai waktu reaksi atau tingkat
konversi yang akan memberikan produk yang
dikehendaki dalam nilai yang tertinggi.
Pada reaksi komplek pemilihan reactor secara tepat juga
dapat memberikan keuntungan disebabkan jenis
reactor merupakan factor penting untuk diperoleh
produk yang dikehendaki tinggi.
98
Selamat Belajar Secara Maksimal
Semoga Berhasil

99

Anda mungkin juga menyukai