Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vertebrata adalah kelompok hewan yang memiliki tulang belakang. Dalam sistem
klasifikasi , kelompok tersebut di tempatkan sebagai sub filum vertebrata dalam filum
chordata. Filum chordata mempunyai 4 ciri pokok yang muncul pada suatu masa di
sepanjang hidupnya. Keempat ciri tersebut adalah sebagai berikut , bagian punggung
(dorsal) di sokong oleh tulang bernama notokorda, notokorda tersebut terbentuk di
dalam embrio dari lapisan mesoderm dorsal, letaknya tepat di bawah batang saraf, tali
saraf dorsal (punggung) batang tersebut mengandung kanal berisi cairan, tali saraf
vertebrata seringkali dinamakan sum-sum punggung yang di lindungi oleh tulang
belakang, kantong insang, kantong tersebut hanya terlihat pada saat perkembangan
embrio sebahagian besar vertebrata, kantong insang pada chordata, invertebrata, ikan
dan amphibi berubah menjadi insang, air masuk melalui mulut dan faring melalui celah
insang yang dilengkapi dengan lengkung insang. Vertebrata terdiri dari tiga bagian
tubuh utama, yaitu kepala, badan dan ekor. Disamping itu, pada bagian badan terdapat
pula pasangan anggota tubuh, kecuali pada beberapa jenis yang sama sekali tidak
mempunyai anggota tubuh (Sukiya, 2001).
Aves merupakan hewan yang paling dikenal orang karena dilihat dimana-mana, aktif
pada saat siang hari dan ada juga pada malam hari serta unik, karena memiliki bulu
sebagi penutup tubuh. Dengan bulu ini tubuh dapat mengatur suhu tubuhnya dan
terbang. Dengan kemampuan terbang itu aves mendiami semua habitat. Warna dan suara
beberapa aves merupakan daya tarik mata dan telinga manusia, banyak diantaranya
mempunyai arti penting dalam ekonomi, sebahagian merupakan bahan makanan, sumber
protein dan beberapa diantaranya di ternakkan (Yatim, 1987).
Aves adalah vertebrata dengan tubuh yang ditutupi oleh bulu (asal epidermal),
sedangkan hewan lainnya tidak ada yang berbulu. Aves adalah hewan vertebrata yang
bisa terbang, karena mempunyai sayap yang merupakan modifikasi dari anggota gerak
anterior. Sayap dari aves berasal dari elemen-elemen tubuh tengah yang distal. Kaki
pada aves digunakan untuk berjalan, bertengger, atau berenang (dengan selaput
interdigital) (Hildebrand, 1983).
Penyebaran aves di dunia ini mencapai 9000 spesies dan ada pula yang
mengatakan 8900 spesies. Habitatnya tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke
pegunungan. Aves aktif di siang hari (ada juga pada malam hari) dan memiliki bulu
sebagai penutup tubuh, keunikan lain dari aves ini adalah pundi-pundi udara yang
dimiliki oleh burung yang berguna membantu pernafasan di saat terbang. Banyak

1
diantara aves yang memiliki nilai ekonomi karena bentuk dan suara yang indah dan juga
di jadikan peternakan untuk kemudian di konsumsi sebagai sumber konsumsi protein
(Djuhanda, 1982).
Aves adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang
memiliki bulu dan sayap. Fosil tertua burung ditemukan di Jerman dan dikenal sebagai
Archaeopteryx. Jenis-jenis burung begitu bervariasi, mulai dari burung kolibri yang
kecil mungil hingga burung unta, yang lebih tinggi dari orang. Diperkirakan terdapat
sekitar 8.800 10.200 spesies burung di seluruh dunia; sekitar 1.500 jenis di antaranya
ditemukan di Indonesia. Berbagai jenis burung ini secara ilmiah digolongkan ke dalam
kelas aves (Mayakapu, 2013).
Anggota kelas aves memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap
lingkungannya, sehingga hewan ini mampu bertahan dan berkembang biak pada suatu
tempat. Struktur dan fisiologi burung diadaptasikan dalam berbagai cara untuk
penerbangan yang efisien. Yang paling utama di antara semuanya adalah sayap.
Meskipun sekarang sayap itu memungkinkan burung untuk terbang jauh mencari
makanan yang cocok dan berlimpah, mungkin saja sayap itu dahulu timbul sebagai
adaptasi yang membantu hewan ini lolos dari pemangsanya (Kimball, 1999).
Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga terspesialisasi
untuk terbang jauh. Dengan perkecualian pada beberapa jenis yang promitif. Bulu-
bulunya. Terutama di sayap, telah tumbuh semaki lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat.
Bulu-bulu ini juga bersusun sedemikian rupa sehingga mampu menolak air, dan
memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya
menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap
kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih . sebagai tempat
perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang di gantikan oleh paruh
ringan dan zat tanduk (Mattison, 2008).
Ciri- ciri khusus ini akan diketahui jika dilakukan pembedahan terhadap objek
dimana objek yang digunakan dalam pratikum ini adalah burung Streptopelia chinensis .
Dengan dilakukan pembedahan ini kemudian dilanjutkan dengan pengamatan dan
pengenalan yang cermat dan teliti, sehingga didapatkan apa saja organ-organ yang
terdapat dalam tubuh hewan aves.
1.2 Tujuan pratikum
Adapun tujuan dari praktikum anatomi dari Streptopelia chinensis adalah untuk
mengetahui morfologi dan anatominya serta mengetahui anatomi dari sistem organ pada
sistem otot, sistem rangka, dan tipe bulu pada aves.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kelas Aves adalah kelas hewan vertebrata yang berdarah panas dengan memiliki bulu
dan sayap. Tulang dada tumbuh membesar dan memipih, anggota gerak belakang
beradaptasi untuk berjalan, berenang dan bertengger. Mulut sudah termodifikasi menjadi
paruh, punya kantong hawa, jantung terdiri dari empat ruang, rahang bawah tidak
mempunyai gigi karena gigi-giginya telah menghilang yang digantikan oleh paruh
ringan dari zat tanduk dan berkembang biak dengan bertelur. Kelas ini dimanfaatkan
oleh manusia sebagai sumber makanan, hewan ternak, hobi dalam peliharaan. Dalam
bidang industri bulunya dapat dimanfaatkan contohnya baju, hiasan dinding, dan lainnya
(Brotowidjoyo, 1990).
Ordo Accipitriformes adalah kelompok burung dengan ciri-ciri paruh tajam dan
melengkung yang dilengkapi dengan cere (membran dari pangkal rahang atas burung
dimana lubang hidung terbuka); sayap panjang dan lebar dengan 4-6 bulu di bagian tepi
luarnya; dapat terbang lama tanpa mengepakkan sayap; memiliki kaki dan cakar kuat;
karnivora; diurnal (aktif siang hari). Sebelumnya kelompok ini masuk ke dalam ordo
Falconiformes, namun dipisahkan berdasarkan karakter DNA-nya yang cukup jauh
dengan ordo Falconiformes. Ordo Anseriformes Falconiformes adalah ordo dari aves
dengan ciri-ciri sayap berkembang baik; tidak memiliki gigi pada rahang; memiliki
pygostylus; tulang sternum memiliki carina sterni; paruh besar, lebar dan tertutup
lapisan tanduk yang tipis; bagian tepi paruh memiliki lamela; lidah berdaging; tungkai
pendek dan berselaput renang; ekor pendek; waktu muda memiliki bulu seperti kapas.
(Jasin, 1982).
Pada ordo Apodiformes adalah kelompok burung yang memiliki ciri-ciri bertubuh
kecil; ukuran tungkai sangat kecil; bentuk sayap runcing; ukuran paruh kecil serta lunak
dan ada yang langsing dengan lidah berbentuk bulu panjang. Ordo Charadriiformes
adalah ordo dari aves yang memiliki ciri-ciri sayap berkembang baik; tidak memiliki
gigi pada rahang; memiliki pygostylus; tulang sternum memiliki carina sterni; kaki
panjang dan langsing; jari kaki berselaput renang; bulu tebal; paruh panjang dan
melengkung ke bawah / atas. Ordo Ciconiiformes adalah ordo dari aves dengan ciri-ciri
sayap berkembang baik; tidak memiliki gigi pada rahang; memiliki pygostylus; tulang
sternum memiliki carina sterni; leher dan tungkai panjang; jari-jari tidak berselaput;
paruh lurus atau bengkok; suka hidup di air; penyebaran bulu di sebagian betis tidak
terdapat bulu serta contohnya yaitu Leptoptilos javanicus (Iskandar, 2000).
Burung merupakan hewan berdarah panas, meskipun burung berdarah panas, ia
berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku crocodylidae alias
keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut archosauria.

3
Diperkirakan burung berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar
depannya dan tumbuh bulu-bulu yang khusus di badanya. Pada awalnya, sayap primitif
yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat di gunakan untuk
sunggu-sungguh terbang, dan hanya membantunya untuk bias melayang dari suatu
ketinggian ke tempat yang lebih rendah. Kelas aves terdiri dari begitu banyak ordo yang
di kenal baik karekteristiknya, yaitu sub kelas archaeornithes, yang merupakan burung
yang bergigi dan telah punah, hidup dalam periode jurasik dengan metacarpal terpisah,
tidak ada pigostil, vertebrate caudal masing-masing dengan bulu yang berpasangan dan
sub kelas neornithes yang merupakan burung modern, bergigi atau tidak bergigi,
metacarpal bersatu, vertebrate caudal tidak ada yang memiliki bulu yang berpasangan
dan kebanyakan pigostil (Kimball, 1999).
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir
seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal
tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari
papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke
dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada
kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk
bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Sentral
kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah
sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan
selanjutnya (Jasin, 1992).
Warna bulu dihasilkan oleh butir pigmen, dengan difraksi dan refleksi cahaya
oleh struktur bulu atau oleh pigmen dan struktur bulu. Pigmen pokok yang menimbulkan
warna pada bulu adalah melanin dan karotenoid. Karotenoid sering disebut dengan
lipokrom yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam metanol, eter atau karbon
disulfida. Karotenoid terbagi menjadi 2, yaitu zooeritrin (animal red) dan zoosantin
(animal yellow). Pigmen melanin terklarut dalam asam. Butir-butir eumelanin beraneka
macam yaitu dari hitam sampai coklat gelap. Feomelanin yaitu hampir tanpa warna
hingga coklat kemerahan (Kimball, 1999).
Pada sistema digestivum, tractus digestivus terdiri dari cavum oris. Didalamnya
terdapat lingua kecil runcing yang dibungkus oleh lapisan zat tanduk sebagai
lanjutannya adalah faring yang pendek. Kemudia oesophagus yang panjang dan pada
beberapa burung terjadi perluasan yang disebut crop, sebagai tempat penimbunan
bahan makanan sementara dan pelunakan dari crop masuk dalam yang dapat dibedakan
atas proventriculus dan ventriculus yang disebut gizard, proventriculus menghasilkan
cairan lambung, sedang ventriculus berdinding tebal berlapis jaringan epitel keras
sebelah dalam yang menghasilkan sekresi. Di dalam gizard sering terdapat kerikil yang
berfungsi membantu penggilingan bahan makanan. Pada beberapa aves, memiliki vesica
fellea sebagai penampung billus (Eroschenko, 2003).

4
Kaki pada aves di gunakan untuk berjalan, bertengger atau berenang (dengan
selaput inter digital). Karekter tengkorak meliputi tulang-tulang tengkorak yang
berdifusi kuat, paruh berzat tanduk. Aves tidak bergigi, mata besar, kondil oksipetal
tunggal. Jantung terbagi atas dua atrikel dan ventrikel. Struktur tubuh burung terdiri atas
kepala (caput), leher (cervix), bagian dada (truncus). Dengan sepanjang exstremitas
anterior yang merupakan sayap (ala) dan extremitas posterior berupa paha (femur),
tungkai atas (tibiotarsus), tungkai bawah (tarsometatarsus) yang bagian bawahnya
besisik dan bercakar. Pada bagian mulut terdapat paruh (rostrum) yang terbentuk oleh
maxilla pada ruang bagian atas, mandibula bada bagian bawah. Pada bagian luar
rostrum di lapisi oleh lapisan pembungkus selaput zat tanduk. Tubuh dibungkus oleh
kulit, pada bagian kulit terdapat bulu yang berfungsi sebagai pembungkus tubuh.
Perbedaan burung dengan hewan lainnya adalah terletak pada paruh dan bulu (Kimball,
1999).
Klasifikasi Streptopelia chinensis yaitu:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves
Ordo : Columbiformes
Famili : Columbidae
Genus : Streptopelia
Spesies : Streptopelia chinensis (Scopoli, 1768)
Menurut Jasin (1984), berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi:
Filoplumae, bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya
bercabang-cabang pendek dan halus. Plumulae, berbentuk berbentuk hampir sama
dengan filoplumae dengan perbedaan detail. Plumae, Bulu yang sempurna. Susunan
plumae terdiri dari : Shaff (tangkai), yaitu poros utama bulu. Calamus, yaitu tangkai
pangkal bulu. Rachis, yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak
berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan. Vexillum, yaitu
bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis.
Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang
berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan. Letaknya, bulu aves
dibedakan menjadi: Tectrices, bulu yang menutupi badan. Rectrices, bulu yang berada
pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai kemudi. Remiges, bulu
pada sayap yang dibagi lagi menjadi: remiges primarie yang melekatnya secara digital
pada digiti dan secara metacarpal pada metacarpalia dan Remiges secundarien yang
melekatnya secara cubital pada radial ulna. Parapterum, bulu yang menutupi daerah
bahu. Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari.

5
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat


Praktikum tentang anatomi aves ini dilaksanakan pada Selasa, 12 September 2017 di
Laboratorium pendidikan 2 Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat Dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu gunting bedah, pinset, tissu, kertas HVS,
dan jarum suntik 1cc. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalahsepasang
Streptopelia chinensis dan larutan kloroform (Ccl4).

3.3 Cara Kerja


Diambil senyawa klororforom dengan suntikan kemudian disuntikkan ke Streptopelia
chinensis, tunggu sampai Streptopelia chinensis pingsandan direntangkan di bak bedah.
Lalu difoto morfologi Streptopelia chinensis tersebut dan digambar di buku gambar.
Kemudian, Streptopelia chinensis dibedah menggunakan gunting bedah dimulai dari
cloaca sampai servik. Setelah itu, di amati organ-organ penyusun tubuh.Organ-organ
tubuh Streptopelia chinensis diurai dan diletakkan di atas kertas HVS. Bagian-bagian
organ Streptopelia chinensis difoto dan digambar pada buku gambar.Selanjutnya
dilakukan hal yang sama pada Streptopelia chinensisbetina, dimana Streptopelia
chinensis betina dibius dengan jarum suntik kemudian dibedah dan diurai serta diamati
organ penyusun tubuh Streptopelia chinensis. Untuk Streptopelia chinensis yang
selanjutnya adalah untuk pengamatan otot pada Streptopelia chinensis. Streptopelia
chinensisdikuliti terlebih dahulu dan dilihatsusunan otot pada Streptopelia
chinensis,kemudian difoto sebagai dokumentasi dan digambar pads buku gambar.
Selanjutnya, setelah pengamatan otot selesai, daging Streptopelia chinensistersebut
dibuang sampai akhirnya pada Streptopelia chinensishanya tinggal tulang untuk diamati
sistem rangka pada Streptopelia chinensistesebut.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Morfologi Streptopelia chinensis

i
e
h

g f

b
a
c

Gambar 1. Morfologi Streptopelia chinensis (a). Caput, (b). Organon visus, (c). rostrum, (d).
Servix, (e). Truncus, (f). Caudal, (g). Retrices, (h). Tetrices, (i). Remiges.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil berupa bagian bagian
dari aves yaitu caput, cervix, truncus, dan paruh. Paruh merupakan modifikasi dari gigi,
kemudian juga ditemukan tembolok pada bagian eshopagus yang berguana untuk
menyimpan cadangan makan sebelum ke proventrikulus.
Tubuh burung dibedakan atas caput (kepala), cervix (leher) yang biasanya
panjang, truncus (badan) dan caudal (ekor). Sepasang extremitas anterior merupakan ala
(sayap) yang terlipat seperti huruf Z pada tubuh waktu tidak terbang.
Extremitas posterior berupa kaki, otot daging paha kuat, sedang bagian bawahnya
bersisik dan bercakar. Mulut mempunyai rostum (paruh) yang terbentuk oleh maxilla
pada ruang atas dan mandibula pada ruang bawah. Bagian dalam rostum dilapisi oleh
lapisan yang disebut cera, sedang sebelah luar dilapisi oleh pembungkus selaput zat
tanduk. Pada atap paruh atas terdapat lubang hidung (nares interna pada sebelah dalam

7
dan nares externa sebelah luar). Organon visus relatif besar dan terletak sebelah lateral
pada kepala dengan kelopak mata yang berbulu. Pada sudut medial terdapat membrana
nicitan yang dapat ditarik menutup mata. Di belakang dan di bawah tiap-tiap mata
terdapat lubang telinga yang tersembunyi di bawah bulu khusus. Di bawah ekor terdapat
anus (Jafnir, 1985).
Pada bagian mulut terdapat bagian yang terproyeksi sebagai paruh (Rostrum)
yang terbentuk oleh maxila pada ruang bagian atas dan mandibula pada ruang bagian
bawah. Pada bagian luar dari rostrum dilapisi oleh pembungkus zat tanduk dan pada
kelompok burung Neornithes tidak bergigi (Jasin, 1992).

4.2. Anatomi Streptopelia chinensis


Dari praktikum anatomi Aves yang kami lakukan,di dapatkan hasil sebagai berikut :
a

b m
c l
d k

e j

f i
g
h
Gambar 2. Anatomi Streptopelia chinensis (a). Faring, (b). Esofagus, (c). Inglufiens, (d). Hepar,
(e). Gizzard, (f). Intestinum crassum, (g). Intestinum tenue, (h). Kloaka, (i). Pulmo, (j). Cor, (k).
Ren, (l). Ovarium, (m). Testis.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil anatomi dari Streptopelia
chinensis yaitu Faring, Esofagus, Inglufiens, Hepar, Gizzard, Intestinum crassum, Intestinum
tenue, Kloaka, Pulmo, Cor, Ren, Ovarium dan Testis.
Sistem pencernaan pada aves terdiri dari mulut, esophagus, ventrikulus,
intestinum tenue, intestinum crasum dan bermuara di kloaka, organ khasnya yaitu
tembolok yang berfungsi untuk penyimpanan sementara makanan pada aves, yang
berfungsi juga untuk membantu mencerna biji-bijian yang keras.
Lidah pada burung berbentuk runcing dan panjang dengan lapisan zat tanduk.
Pada rongga mulut bagian atas terdapat lipatan palatal. Dilanjutkan dengan faring,
kemdian saluran esophagus yang dilapisi otot memanjang ke bagian bawah leher tempat
terdapatnya tembolok yang berfungsi sebagai tempat penyimpan makanan. Dan
beberapa diantaranya alat dan fungsi pada burung adalah, paruh yang berfungsi

8
mengambil makanan, kerongkongan yaitu saluran makanan menuju tembolok,tembolok
yang berfungsi menyimpan makanan sementara, lambung kelenjar, mencerna makanan
secara kimiawi, lambung pengunyah yang berfungsi menghancurkan makanan, hati
yang berfungsi membantu mancerna makanan secara mekanis, pankreas yang berfungsi
Menghasilkan enzim, usus halus yang berfungsi sebagai tempat pencernaan sari
makanan yang diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus, usus besar yaitu
Saluran sisa makan ke rectum, usus buntu yang berfungsi memperluas daerah
penyerapan sari makanan, Poros usus sebagai tempat penyimpan sisa makanan
sementara, kloaka yaitu muara 3 tiga saluran, yaitu Pencernaan usus, saluran uretra dari
ginjal, saluran kelamin. Sistem Pencernaan burung. Pada mulut terdapat paruh yang
sangat kuat dan berfungsi untuk mengambil makanan. Makanan yang diambil oleh paruh
kemudian masuk kedalam rongga mulut lalu menuju kerongkongan. Bagian bawah
kerongkongan membesar berupa kantong yang disebut tembolok. Kemudian masuk ke
lambung kelenjar. Disebut lambung kelenjar karena dindingnya mengandung kelenjar
yang menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara
kimiawi. Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah. Disebut lambung
pengunyah karena dindingnya mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk
menghancurkan makanan. Didalam hati, empedal sering terdapat batu kecil atau pasir
untuk membantu mencerna makanan secara mekanis. Kemudian, makanan masuk
menuju usus halus (Jafnir, 1985).
Sistem pernafasan pada burung balam (Streptopelia chinensis) secara umum
sudah berkembang dengan baik. Sistem pernafasan pada burung memiliki keunikan
diantara hewan vertebrata lain karena mempunyai paru-paru yang sangat efisien. Bentuk
sangat kompak dan dilengkapi oleh kantong udara dihampir di seluruh bagian abdomen
yang berupa selaput yang sangat tipis dan terdiri dari broncialis, sehingga tidak
memiliki alveola/alveolus pada paru-paru. Fungsi paru-paru pada burung dalam
hubungannya dengan kantong-kantong udara yang tidak mempunyai epitelium
pernafasan, tetapi membantu terhadap ventilasi terhadap pernafasan. Mesobrancus
berakhir didalam sepasang kantong udara abdominalis yang paling besar. Tambahan dari
kantong ini memasuki sinsakum, femur dan otot-otot paha (Djuhanda, 1974).
Sistem respirasi, lubang hidung yang terdapat pada paruh menghubungkan
rongga hidung di atas rongga mulut. Glottis pada bagian bawah faring menghubungkan
saluran trakea yang di perkuat dengan kartilago. Trakea berlanjut ke bawah arah leher
yaitu syring (kotak suara), tempat terdapatnya otot vocal, dari syring dilanjutkan ke
bronkhus paru-paru berukuran kecil melekat pada rusuk dan vertebrata di bagian dorsal
dari trax dengan jaringan ikat, paru-paru dimasuki sejumlah broncheolus yang saling
berhubungan dan sejumlah darah dari pulmonary. Pada broncheolus melekat kantung
udara yang terdapat di sela-sela organ dalam pada rongga badan dan menjulur ke ruang
disekitar vertebrta leher. Paru-paru dapat digerakan sedikit oleh otot yang terdapat

9
disekitar tulang rusuk, jika sternum bergerak turun, dan rusuk menggembung ke
samping udara ke rongga paru-paru , jika kontraksi terjadi sebaliknya. Maka darah
keluar dari rongga paru-paru. Gerakan tersebut dimungkinkan karena struktur torak yang
kaku. Pada sat inspirasi, udara masuk melalui bronchiolus ke kantung udara membantu
penyebaran panas tubuh yang dihasilkan oleh kontraksi otot dan aktivitas metabolic
lainya (Widowati, 2005).
Sistem sirkulasi pada burung balam (Streptopelia chinensis) yaitu jantung yang
berperan untuk memompa dan mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Peredaran darah
burung adalah dari paru-paru mengangkut oksigen masuk ke serambi kiri, kemudian ke
bilik kiri. Dari bilik kiri darah di pompa keseluruh tubuh melalui aorta. Disel -sel tubuh
darah melepaskan O2 dan mengikat CO2. Darah yang mengandung banyak CO2 ini
masuk serambi kananmelalui pembuluh balik. Selanjutnya darah masuk bilik kanan,
kemudian dipompa masuk ke paru-paru. Didalam paru-paru darah melepaskan CO2 dan
mengikat O2 (Campbell, Reece dan Mitchell, 2000).
Ada pemisahan sempurna antara pembuluh darah vena dan arteri. Jantung memiliki
4 ruang. Sistem aorta meninggalkna bilik kiri dan membawa darah ke kepala dan
seluruh tubuh melalui arkus aortikus kanan ke empat. Variasi jumlah terjadi pada arteri
karotis, walaupun umumnya burung mempunyai 2 karotisnya menyatu membentuk
saluran tunggal, sedangkan pada golongan lain mungkin ukurannya mengecil sebelum
menyatu dan pada burung Passerine hanya karotis memiliki serambi kiri saja mamalia.
Ada dua pembuluh prekaval fungsional dan postkaval lengkap. Prekaval terbentuk oleh
penyatuan pembuluh darah dari kerongkongan dan bagian tulang selangka (subklavia)
pada tiap sisi. Postkaval menerima darah dari angggota badan melalui saluran gerbang
ginjal (portal renalis), yang lewat melalui ginjal tetapi tidak terpecah menjadi kapiler-
kapiler dan karenanya tidak dapat disamakan dengan portal renalis dari vertebrata lebih
rendah. Eritrosit burung lebih besar daripada eritrosit mamalia (Sukiya, 2001).
Alat ekskresi berupa ren yang relatif besar, bewarna merah coklat, tertutup oleh
peritonium (retroperitonial). Tiap-tiap ren terbagi atas 4 lobi. Menurut Jasin (1992), dari
dataran ren adalah ventral keluar ureter yang sempit menuju ke cauda dan berakhir pada
cloaca. Daeah yang berasal dari arteri renalis akan disaring secara filtratis. Zat-zat yang
tidak berguna dalam darah terutama berupa ureum akan dibuang dalam proses filtrasi
ini. Ginjal terletak sebelah dorsal dari selom di kedua sisi aorta. Ginjal pada semua
vertebrata terdiri atas unit-unit yang disebut tubulus ginjal atau nefron yang ujungnya
buntu dan menerima filtrat dari darah (Villee et al.,1988).
Menurut Kastowo (1979), saluran keluar pada merpati mengarah ke posterior yaitu
ureter yang bermuara ke vesica urinaria. Langkah pertama dalam pembentukan urin
adalah penyaringan atau filtrasi. Sisa-sisa dan materi lain dibawa ke aliran darah oleh
arteria renalis dan arteriola ke glomerulus. Langkah kedua yaitu penghisapan differensial

10
oleh sel-sel tubulus convoluted proximal dan loop of handle serta tubulus convoluted
distalis.
Sistem genitalia dari burung balam (Streptopelia chinensis) jantan berupa sepasang
testis yang terletak ventro lateral dari ginjal. Sepasang ductus defferens yang merupakan
saluran sperma ke kloaka dan sepasang epidydimis. Organ genitalia betina dibangun
oleh ovarium yang hanya terdapat di sebelah kiri saja dipegang oleh selaput
mesovarium, osteum tuba yang berupa corong, berfungsi menerima sel telur yang telah
diovulasikan, dan oviduct lanjutan dari osteum tuba, merupakan saluran telur yang
bermuara pada kloaka. Dinding mengandung kelenjar-kelenjar yang dapat
menggetahkan albumen, selaput telur, dan garam-garam kapur sebagai bahan cangkang
telur (Radiopoetro, 1977).
Perkembangan burung merpati bersifat monogami, yaitu mengikat hubungan
pasangan selama satu musim mengeram umumnya dari bulan januari sampai september.
Telurnya berjumlah dua butir dan berwarna putih tidak berbercak. Dierami selama 2,5
minggu oleh burung merpati betina atau jantan. Anak yang keluar dari tetasan masih
lemah dengan beberapa lembar bulu tipis yang mirip serabut. Anak itu tumbuh cepat dan
setelah dua minggu sudah bisa untuk terbang dan mencari makan sendiri (Mackkinon,
1988).

4.3. Sistem Otot Streptopelia chinensis

c
a

b
d

Gambar 3. Otot pada Streptopelia chinensis (a). Pectoralis muscle; (b). Supracoracoideus
muscle; (c). Metacarpals; (d). Extrimitas posterior.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan otot-otot yaitu, Pectoralis
muscle, Supracoracoideus, Metacarpals, Extrimitas posterior.
Berdasarkan literature otot daging extrimitas berkembang menjadi besar,
berhubung aktivitas gerak yang cepat. Gerak sayap pada waktu terbang dilakukan oleh
musculus pectoralis yang terdapat pada dada, berupa otot daging putih. Dibedakan atas:
musculus pectoralis mayor yang terletak di sebelah luar, dan muscullus pectoralis minor

11
yang terletak sebelah dalam. Kedua ujung otot dada terikat di carina atau sterni, sedang
ujung lain terikat pada kepala humerus dari sayap di sebelah ventro lateral (Jasin, 1992).
Adaptasi burung yang paling jelas untuk terbang adalah sayap dan bulunya. Bulu
terbuat dari protein -keratin, yang juga ditemukan pada sisik reptil-reptil lain. Bentuk
dan susunan bulu membentuk sayap menjadi airfoilpermukaan yang menghasilkan
gaya angkat di udara, dan mereka mengilustrasikan beberapa prinsip yang sama dengan
aerodinamika sayap pesawat terbang. Daya untuk mengepakkan sayap berasal dari
kontraksi otot-otot pectoral (dada) yang besar dan tertambat pada sebuah taju di sternum
(tulang lunas dada). Beberapa jenis burung, misalnya elang dan rajawali, memiliki sayap
yang teradaptasi untuk melayang seiring aliran udara dan hanya perlu mengepakkan
sayap sesekali. Burung yang lain, termasuk kolobri, haris terus menerus mengepakkan
sayapnya agar mengambang di udara. Salah satu burung tercepat adalah wallet, yang
dapat terbang hingga kecepatam 170 km/jam (Campbell dkk, 2012).
Otot daging dari femur (extrimitas posterior) pada prinsipnya untuk lari dan
menangkap. Otot pada kaki bawah pada telapak kaki adalah sedikit, sebagai penyesuaian
menghindari banyaknya panas yang hilang pada bagian yang tidak berbulu. Gerak dari
jari kaki dilakukan oleh tendon otot daging yang bersambung dengan otot sebelah
atasnya (Jasin, 1992).

4.4. Sistem Rangka Streptopelia chinensis


a

b
l

c k

d j

e i

h
f
g

Gambar 4. Sistem Rangka pada Streptopelia chinensis (a). Cranial; (b). Vertevrae cervicales;
(c). Radius; (d). Ulna; (e). Tulang panggul; (f). Femur; (g). Digiti; (h). Tulang kering; (i).
Costae; (j). Toraks; (k). Tulang sayap; (l). Humerus.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sistem rangka
pada Streptopelia chinensis yaitu, Cranial, Vertebrae cervicales, Radius, Ulna, Tulang panggul,
Femur, Digiti, Tulang kering, Costae, Toraks, Tulang sayap dan Humerus.

12
Pada bagian truncus, tepatnya bagian sternum (dada) terdapat cinglum anterior/
cinglum pektoral (gelang bahu) yang dibentuk oleh tulang-tulang frucula (tulang garpu),
korakoid (tulang leher), dan skapula (tulang belikat). Ketiga tulang tersebut bersama-
sama membentuk pektoral korset. Sisi dada dibentuk oleh tulang rusuk, yang bertemu di
tulang dada (Hasan, 2012). Frucula berfungsi sebagai penopang otot pada saat
terbang, atau serupa pada penguin untuk menopang otot pada saat berenang. Adaptasi ini
tidak dimiliki oleh burung yang tidak bisa terbang seperti burung unta. Menurut catatan,
burung perenang memiliki tulang dada yang lebar, burung yang berjalan memiliki tulang
dada yang panjang atau tinggi, sementara burung yang terbang memiliki tulang dada
yang panjang dan tingginya mendekati sama (Mutiara, 2012).
Burung memiliki bengkokan tulang rusuk yang merupakan perpanjangan tulang
yang membengkok yang berfungsi untuk menguatkan tulang rusuk dengan saling
bertumpang tindih. Fitur ini juga ditemukan pada Sphenodon. Sphenodon juga memiliki
tulang panggul tetradiate yang memanjang seperti pada beberapa reptil. Sphenodon
memiliki tengkorak diapsid seperti pada reptil dengan lekukan air mata. Tengkoraknya
memiliki oksipital kondilus tunggal (Hasan, 2012).
Pada bagian kosta (tulang-tulang iga) terdapat kosta servikalis yang melekat pada
vertebra servikalis dan kosta torakalis yang melekat pada vertebra torakalis. Extremitas
anterior pada aves tersusun atas tulang bahu yang terdiri dari skapula (tulang belikat),
korakoid (tulang leher), dan humerus (tulang lengan atas). Humerus bergabung dengan
radius (tulang pengumpil) dan ulna (tulang hasta) untuk membentuk siku. Tulang-tulang
karpal dan metakarpal membentuk karpometakarpus (Rani, 2012).
Pinggul aves terdiri dari panggul yang meliputi tiga tulang utama: Illium (atas
pinggul), iskhium (bagian posterior), dan pubis (bagian anterior). Ketiga tulang ini
menyatu menjadi satu membentuk tulang innominate. Tulang innominate merupakan
evolusi yang signifikan yang memungkinkan burung untuk bertelur. tulang innominate
bertemu di acetabulum (soket pinggul) dan mengartikulasikan dengan femur (tulang
paha), yang merupakan tulang pertama dari kaki belakang (Hasan, 2012).
Extremitas posterior aves berupa kaki. Bagian atas terdiri dari os femur (tulang
paha). Pada sendi lutut (patella), femur menghubungkan ke tibiotarsus (tulang tibia yang
bersatu dengan bagian proksimal dari tulang tarsal) dan fibula (sisi tungkai bawah).
Tarsometatarsus (persatuan antara tulang-tulang tarsal bagian distal dengan metatarsal)
membentuk bagian atas kaki aves, serta jari (digiti) yang membentuk kaki. Tulang kaki
burung merupakan tulang yang paling berat, berkontribusi pada rendahnya titik berat
burung. Hal ini membantu dalam penerbangan. Sebuah kerangka burung terdiri dari
hanya sekitar 5% dari total berat badan burung (Rani, 2012).

13
4.5 Bulu pada Streptopelia chinensis

a
f
b
d
e c

Gambar 5. Bulu pada Streptopelia chinensis (a). Rectrices; (b). Remiges; (c). Tectrices; (d). Bulu
kepala; (e). Calamus; (f). Rachis; (g). Barb; (h). Vane.
Berdasarkan praktikum yang kami lakukan kami menemukan beberapa tipe bulu pada
aves yaitu, Rectrices, Remiges, Tectrices, Bulu kepala, Calamus, Rachis, Barb dan Vane.
Dari gambar terlihat beberapa tipe dari bulu pada tubuh aves yaitu rectrices (
bulu pada ekor), remiges (bulu pada sayap ) dan tetrices (bulu pada badan). Hal ini
sesiau dengan penjelasan dari Djuhanda (1982), pada pengamatan morfologi aves
terdapat berbagai macam bulu diantaranya bulu tetrices, rectices, remiges. Menurut
letaknya, bulu pada burung dibedakan jadi: Tetrices, merupakan bulu-bulu yang
menutupi badan; Retrices, merupakan bulu-bulu yang berpangkal pada ekor; Remiges,
merupakan bulu yang terdapat di sayap yang terdiri dari remiges primarie yang melekat
secara digital dan metacarpal pada metacarpalia, remiges secundaria yang melekatnya
secara curbital pada radiul ulna; Parapterum, merupakan bulu yang menutupi daerah
bahu; Ala sporia, merupakan sebagian bulu kecil yang menempel pada poluk.

14
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Morfologi pada Streptopelia chinensis yang dapat diamati yaitu caput, organon
visus, rostrum, servix, truncus, caudal, retrices, tetrices, dan remiges.
2. Anatomi pada Streptopelia chinensis yang dapat diamati antara lain faring,
esofagus, inglufiens, hepar, gizzard, intestinum crassum, intestinum tenue,
kloaka, pulmo, cor, ren, ovarium, dan testis.
3. Sistem otot pada Streptopelia chinensis antar lain pectoralis muscle,
supracoracoideus muscle, metacarpals, dan extrimitas posterior.
4. sistem rangka pada streptopelia chinensis cranial, vertevrae cervicales, radius,
ulna, tulang panggul, femur, digiti, tulang kering, costae, toraks, tulang sayap,
dan humerus.
5. Bulu pada Streptopelia chinensis dibedakan menjadi 5 yaitu Rectrices, Remiges,
Tectrices, Parapterum dan Ala spuria.

5.2 Saran
Diharapkan kepada praktikan agar lebih berhati-hati dalam melakukan pembedahan pada
reptilia agar organ-organ yang ada didalam tubuhnya tidak rusak pada saat diteliti dan
berhati-hati dalam penggunaan benda tajam pada saat praktikum. Serta praktikan harus
lebih cepat dalam melakukan pengamatan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, M.1989. Zoologi Dasar. Erlangga: Jakarta.


Campbell, N.A. Jane, B. Reece and Lawrence G. Mitchel. 2000. Biologi Edisi Kelima
Jilid 3. Erlangga: Jakarta.
Djuhanda, E. A. 1974. Analisa Struktur Vertebrata 2. Armico: Bandung.
Djuhanda, T. 1983. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Armico: Bandung.
Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata II. Armico: Bandung.
Eroschenko. 2003. Anatomi dan Histologi. New York:Mc.Graw Hill Companies
Inc.
Hasan, Muhammad. 2012. Zoologi Vertebrata. Sinar Wijaya: Jakarta.
Iskandar, D. T. 2000. Buaya dan Kura-Kura Indonesia. Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor :
Indonesia.
Jafnir. 1985. Pengantar Anatomi Hewan Vertebrata.Universitas Andalas: Padang.
Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Jaya: Surabaya.
Kastowo, Hadi. 1979. Zoologi Umum. Alumni: Bandung.
Kimball, J. 1999. Biologi edisi kelima jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Mackkinon, J. 1988. field Guide To The Birds Of Java And Bali. Gajah Mada.
Yogyakarta: Yogyakarta.
Mattison, C. 2008. Ensiklopedia Dunia Hewan. Lentera Abadi: Jakarta.
Mayapaku. 2013. Laporan Praktikum Biologi Vertebrata. Erlangga: Jakarta.
Mutiara, Dian. 2011. Zoologi Vertebrata . dari:
https://www.academia.edu/8837867/Zoologi_Vertebrata. Diakses pada tanggal
13 September 2017.
Radiopoetra. 1997. Zoologi Vertebrata. Erlangga: Jakarta.
Rani. 2012. Anatomi Rangka Vertebrata. CV Regina: Jakarta.
Sukiya. 2001. Biologi Vertebrata. JICA: Yogyakarta.
Villee, C. A. Walker, W. F. And Smith, F. E. 1988. General Zoology. Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta.
Widowati,H. 2005.Zoologi Vertebrata. UM Metro: Metro.
Yatim, W. 1985. Biologi Jilid II. Tarsito: Bandung.

16