Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KULIAH

PENGANTAR USAHA TANI


MODUL 1

Disusun oleh :

KELOMPOK 5

Felia Rahmatika Santi 155040201111189


Ajral Mukhlisin 155040201111194
Edo Eko 155040201111198
Onni Eprilia Mandasari 155040201111206
Nadya Awaliah 155040201111216

KELAS K

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga
memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha,
pemilihan bibit/benih, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk,
pengolahan dan pengemasan produk dan pemasaran. Apabila seorang petani
memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai
keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif (intensive farming).
Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis.
Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang
demikian dikenal sebagai intensifikasi.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa definisi dari usahatani?
b. Bagaimana sejarah dan perkembangan usahatani?
c. Bagaimana usahatani keluarga dan perusahaan pertanian?
d. Bagaimana klasifikasi usahatani?
BAB II
ISI

2.1 Pengertian dan Definisi Usaha Tani


Ilmu usahatani adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang
berhubungan dengan kegiatan orang melakukan pertanian dan permasalahan yang
ditinjau secara khusus dari kedudukan pengusahanya sendiri atau ilmu usahatani
yaitu menyelidiki cara-cara seorang petani sebagai pengusaha dalam menyusun,
mengatur dan menjalankan perusahaan itu (Adiwilaga, 1982).
Ilmu usahatani ialah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang
mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh
keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu (Soekartawi, 1995).
Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu usahatani adalah ilmu
yang mempelajari bagaimana seorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-
faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga
memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Potret usahatani di Indonesia
ditunjukkan dengan adanya lahan, tanah usahatani yang dapat ditumnuhi oleh
tanaman, ada bangunan pendukung pertanian pada areal lahan budidaya, adanya
alat-alat pertanian penunjang sarana produksi, ada sumber daya manusia sebagai
pengolah proses budidaya dan adanya kegiatan petani yang bertindak sebagai
perencana atas lahan yang dimilikinya.

2.2 Sejarah Perkembangan Usahatani di Indonesia


Perkembangan pertanian dan usahatani di Indonesia pada zaman penjajahan
hingga sekarang telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pertanian di
Indonesia diawali dengan sistem ladang berpindah-pindah, dimana masyarakat
menanam apa saja, namun hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ladang
berpindah adalah kegiatan pertanian yang dilakukan dengan cara berpindah-pindah
tempat. Ladang dibuat dengan cara membuka hutan atau semak belukar. Pohon atau
semak yang telah ditebang/dibabat setelah kering kemudian dibakar. Setelah hujan
tiba, ladang kemudian ditanami dan ditunggu sampai panen tiba. Setelah ditanami
3 4 kali, lahan kemudian ditinggalkan karena sudah tidak subur lagi.Kejadian ini
berlangsung terus menerus, setelah jangka waktu 10 - 20 tahun, para petani ladang
kembali lagi ke ladang yang pertama kali mereka buka (Hernanto, 1993).
Gambar 1. Sejarah Usahatani
Selanjutnya, setelah beberapa tahun kemudian sistem bersawah pun mulai
ditemukan oleh penduduk Indonesia. Dalam periode ini, orang mulai bermukim di
tempat yang tetap. Selain itu, tanaman padi yang berasal dari daerah padang rumput
kemudian diusahakan di daerah-daerah hutan dengan cara berladang yang
berpindah di atas tanah kering. Dengan timbulnya persawahan, orang mulai tinggal
tetap disuatu lokasi yang dikenal dengan nama kampong walaupun usaha tani
persawahan sudah dimulai, namun usaha tani secara berladang yang berpindah-
pindah belum ditinggalkan.
Pada zaman Hindia-Belanda sekitar tahun 1620, sejak VOC menguasai di
Batavia kebijakan pertanian bukan untuk tujuan memajukan pertanian di Indonesia,
melainkan hanya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya bagi VOC.
Sedangkan, pada tahun 1830, Van Den Bosch sebagai gubernur Jendral Hindia
Belanda mendapatkan tugas rahasia untuk meningkatkan ekspor dan muncullah
yang disebut tanam paksa. Sebenarnya Undang-undang Pokok Agraria mengenai
pembagian tanah telah muncul sejak 1870, namun kenyataanya tanam paksa baru
berakhir tahun 1921. Dalam system tanam paksa (Cultuurstelsel) ini, Van den
Bosch mewajibkan setiap desa harus menyisihkan sebagian sebagian tanahnya
(20%) untuk ditanami komoditi ekspor khusunya kopi, tebu, nila dan tembakau.
Setelah Indonesia merdeka, maka kebijakan pemerintah terhadap pertanian
tidak banyak mengalami perubahan. Pemerintah tetap mencurahkan perhatian
khusus pada produksi padi dengan berbagai peraturan seperti wajib jual padi kepada
pemerintah. Namun masih banyak tanah yang dikuasai oleh penguasa dan pemilik
modal besar, sehingga petani penggarap atau petani bagi hasil tidak dengan mudah
menentukan tanaman yang akan ditanam dan budidaya terhadap tanamannya pun
tak berkembang. Pada permulaan tahun 1970-an pemerintah Indonesia
meluncurkan suatu program pembangunan pertanian yang dikenal secara luas
dengan program Revolusi Hijau yang di masyarakat petani dikenal dengan program
BIMAS (Bimbingan Massal). Tujuan utama dari program tersebut adalah
meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Pada tahun 1979 pemerintah meluncurkan program INSUS (Intensifikasi
Khusus), yang meningkatkan efektifitas penerapan teknologi Pasca Usaha Tani
melalui kelompok-kelompok tani dengan luas areal per kelompok rata-rata 50
hektar,setiap kelompok diberi bantuan kredit modal dalam menjalankan usaha
pertaniannya (Lokollo, 2002). Kemudian pada tahun 1980-an pemerintah
meluncurkan program SUPRAINSUS (SI). Program ini merupakan pengembangan
dari Panca Usaha Tani untuk mewujudkan peningkatan produktivitas tanaman padi.
Pada tahun 1998 usaha tani di Indonesia mengalami keterpurukan karena
adanya krisis multi-dimensi. Pada waktu itu telah terjadi perubahan yang mendadak
bahkan kacau balau dalam pertanian kita. Kredit pertanian dicabut, suku bunga
kredit membumbung tinggi sehingga tidak ada kredit yang tersedia ke pertanian.
Keterpurukan pertanian Indonesia akibat krisis moneter membuat pemerintah
dalam hal ini departemen pertanian sebagai stake holder pembangunan pertanian
mengambil suatu keputusan untuk melindungi sektor agribisnis yaitu
pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan,
berkelanjutan dan terdesentralisasi.
Untuk sistem pertanian dan usahatani yang ada sekarang ini masih belum efektif
dan efisien dari mulai proses awal sampai pada saat panen dan pasca panen
sehingga masih perlu diintensifkan sehingga dapat memberikan hasil yang
optimum. Untuk itu, pemerintah berusaha untuk mendongkrak kontribusi sektor
pertanian Indonesia terhadap perekonomian dengan mensosialisasikan sistem
agrobisnis, diferensiasi pertanian, diversifikasi pertanian dengan membuka lahan
peranian baru, sistem pertanian organik, berbagai kebijakan harga dan subsidi
pertanian, kebijakan tentang ekspor-impor komoditas pertanian dan lain-lain.
Sistem pertanian organik khususnya, telah dicanangkan pemerintah sejak akhir
tahun 1990-an dan mengusung Indonesia go organik pada tahun 2010, sistem ini
pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk
pertanian mengingat rusaknya kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia
yang berlebihan dan dalam waktu lama serta pencemaran lingkungan oleh
penggunaan pestisida kimia. Semua upaya pemerintah tersebut bertujuan untuk
meningkatkan distribusi pendapatan petani sehingga dengan ini diharapkan dapat
meningkatkan kontribusi sektor pertanian dalam perekonomian.

2.3 Usahatani Keluarga dan Perusahaan Pertanian


Usaha tani keluarga adalah usahatani yang sebagian besar tenaga kerjanya
berasal dari keluarga petani sendiri dan sebagian besar pendapatan petani dalam
setahun berasal dari usahataninya. Sedangkan Perusahaan pertanian adalah
perusahaan yang memproduksi hasil tertentu dengan sistem pertanian seragam
dibawah sistem manajemen terpusat dengan berbagai metode ilmiah dan teknik
pengolahan yang efisien untuk memperoleh laba yang sebesar besarnya. Perbedaan
pokok antara usahatani keluarga dan perusahaan pertanian menurut Suratiyah
(2015) terletak pada delapan hal sebagai berikut :
1. Tujuan Akhir
Tujuan akhir usahatani keluarga adalah pendapatan keluarga petani yang
terdiri atas laba, upah tenaga keluarga, dan bunga modal sendiri. Sementara
perusahaan pertanian tujuan akhirnya adalah keuntungan atau laba yang
sebesar-besarnya.
2. Bentuk Hukum
Usahatani keluarga tidak berbadan hukum, sedangkan perusahaan
pertanian pada umumnya mempunyai badan hukum, misalnya PT, Firma, dan
CV.
3. Luas Usaha
Usahatani keluarga pada umumnya berlahan sempit yang biasanya
disebut petani gurem karena penggunaan lahan kurang dari 0,5 Ha dan
perusahaan pertanian pada umumnya berlahan luas karena orientasinya pada
efisiensi dan keuntungan.
4. Jumlah Modal
Usahatani keluarga mempunyai modal per satuan luas lebih kecil
dibandingkan dengan perusahaan pertanian.
5. Jumlah Tenaga yang dicurahkan
Jumlah tenaga yang dicurahkan per satuan luas usahatani keluarga lebih
besar dari pada perusahaan pertanian.
6. Unsur Usahatani
Membedakan unsur usahatani keluarga dengan perusahaan pertanian
terletak pada tenaga luar yang dibayar. Pada usahatani keluarga melibatkan
petani, keluarga serta tenaga luar. Sedangkan perusahaan pertanian hanya
tenaga luar yang dibayar.
7. Sifat Usaha
Usahatani keluarga pada umumnya bersifat transisi dari subsisten ke
komersial. Sedangkan perusahaan pertanian selalu bersifat komersial.
8. Pemanfaatan terhadap Hasil-hasil Pertanian
Perusahaan pertanian selalu berusaha memanfaatkan hasil-hasil
pertanian yang mutakhir, bahkan tidak segan-segan membiayai penelitian demi
kemajuan usahanya. Sementara usahatani keluarga karena keterbatasan modal,
peralatan, dan tenaga kerja maka terobosan-terobosan baru tergantung pada
hasil penelitian, pengembangan pemerintah serta dari tenaga penyuluh

2.4 Klasifikasi Usahatani


2.4.1 Pola Usahatani
Terdapat dua macam pola usahatani, yaitu lahan basah atau sawah lahan
kering. Ada beberapa sawah yang irigasinya dipengaruhi oleh sifat
pengairannya, yaitu:
1) Sawah dengan pengairan tehnis
2) Sawah dengan pengairan setengah tehnis
3) Sawah dengan pengairan sederhana
4) Sawah dengan pengairan tadah hujan
5) Sawah pasang surut, umumnya di muara sungai
2.4.2 Tipe Usahatani
Tipe usahatani menunjukkan klasifikasi tanaman yang didasarkan pada
macam dan cara penyusunan tanaman yang diusahakan.
a. Macam tipe usahatani :
Usahatani padi
1.
2. Usahatani palawija (serealia, umbi-umbian, jagung)
b. Pola tanam:
1. Usahatani Monokultur
Pola tanam monokultur yaitu satu jenis tanaman sayuran yang
ditanam pada suatu lahan. Pola ini tidak memperkenankan adanya jenis
tanaman lain pada lahan yang sama. Jadi bila menanam cabai, hanya cabai
saja yang ditanam di lahan tersebut. Pola tanam monokultur banyak
dilakukan petani sayuran yang memiliki lahan khusus. Jarang yang
melakukannya di lahan yang sempit. Pola tanam ini memang sudah sangat
mengacu ke arah komersialisasi tanaman. Jadi perawatan tanaman pada
lahan diperhatikan dengan sungguh-sungguh (Nazaruddin, 1994). Penataan
tanaman secara tunggal (monokultur), di atas tanah tertentu dan dalam
waktu tertentu (sepanjang umur tanaman) hanya ditanami satu jenis
tanaman. Setelah dilakukan pemanenan atas tanaman itu, maka tanah yang
bersangkutan itu kemudian ditanami lagi dengan jenis tanaman yang sama
dan atau dengan jenis-jenis tanaman lain. Atau dengan kata lain : di atas
tanah itu dilakukan penataan pertanaman secara bergiliran urutan/rotasi
(Tohir, 1983). Menurut Makeham dan Malcolm, 1990, monokultur adalah
mengusahakan tanaman tunggal pada suatu waktu di atas sebidang lahan.
Definisi lain adalah Penanaman berulang-ulang untuk tanaman yang sama
pada lahan yang sama.
2. Usahatani Campuran/tumpangsari
Pola tanam tumpangsari merupakan penanaman campuran dari dua
atau lebih jenis sayuran dalam suatu luasan lahan. Jenis sayuran yang
digabung bisa banyak variasinya. Pola tanam ini sebagai upaya
memanfaatkan lahan semaksimal mungkin.Tumpangsari juga dapat
dilakukan di ladang-ladang padi atau jagung, maupun pematang sawah.
Pola tanam tumpangsari bisa diterapkan untuk tanaman semusim yang
umurnya tidak jauh berbeda dengan tanaman berumur panjang yang
nantinya menjadi tanaman pokok (Nazarudin, 1994). Pola tanam
tumpangsari akan berhasil guna dan berdaya guna apabila beberapa prinsip
tidak ditinggalkan. Menurut Suryanto (1990) dan Tono (1991) bahwa
prinsip tumpangsari lebih banyak menyangkut tanaman diantaranya :
- Tanaman yang ditanam secara tumpangsari, dua tanaman atau lebih
mempunyai umur yang tidak sama
- Apabila tanaman yang ditumpangsarikan mempunyai umur yang
hampir sama, sebaiknya fase pertumbuhannya berbeda.
- Terdapat perbedaan kebutuhan terhadap air, cahaya dan unsur hara.
- Tanaman mempunyai perbedaan perakaran.
Pola tanam tumpangsari memberikan berbagai keuntungan, baik
ditinjau dari aspek ekonomis, maupun lingkungan agronomis. Menurut
Santoso (1990), beberapa keuntungan dari tumpangsari adalah sebagai
berikut :
- Mengurangi resiko kerugian yang disebabkan fluktuasi harga pertanian.
- Menekan biaya operasional seperti tenaga kerja dan pemeliharaan
tanaman.
- Meningkatkan produktifitas tanah sekali guna memperbaiki sifat tanah.
3. Usahatani bergilir/tumpang gilir
2.4.3 Struktur Usahatani
Struktur usahatani menunjukkan bagaimana suatu komoditi
diusahakan mengusahakan dapat secara khusus, tidak khusus dan campuran.
1. Khusus jika petani mengelola usahatani selalu mengusahakan satu macam
komoditi saja sebagai pilihan utama.
2. tidak khusus jika komoditi yang di usahakan selalu berganti-ganti
3. campuran manakala yang diusahakan adalah komoditi lebih dari satu jenis.
Struktur usahatani juga menunjukkan bagaimana suatu komoditi
dikembangkan dan dimanfaatkan. Cara pengusahaan tersebut dapat dilakukan
secara khusus pada satu lokasi, tidak khusus atau berganti-ganti lahan ataupun
varietas tanaman dan campuran dimana terdapat dua jenis atau lebih varietas
tanaman. Pemilihan khusu atau tidak khususnya diitentukan oleh kondisi lahan,
musim atau iklim setempat, pengairan, kemiringan lahan, dan kedalaman lahan
(Khaerizal, 2008).

2.4.4 Corak Usahatani


Corak usahatani dimaksudkan sebagai tingkatan dari hasil pengelolaan
usahatani yang ditentukan oleh berbagai ukuran,atau kriteria untuk menentukan
tingkat komerialisasi suatu usahatani. Terdapat sepuluh kriteria yang umumnya
digunakan yaitu terdiri dari:
1. Nilai umum, sikap dan motivasi;
2. Tujuan berproduksi;
3. Pengambilan keputusan;
4. Tingkat teknologi;
5. Derajat komerialisasi dari produksi usahatani;
6. Derajat komersialisasi dari input usahatani;
7. Proporsi dari penggunaan faktor produksi dan tingkat keuntungan;
8. Pemberdayaan lembaga pelayanan pertanian setempat;
9. Ketersediaan sumber yang digunakan dalam usahatani; dan
10. Tingkat dan keadaan sumbangan pertanian dalam keseluruhan.
Corak dan sifat dibagi menjadi dua, yakni komersial dan subsistem.
Usahatani komersial harus memperhatikan kualitas serta kuantitas produk untuk
mencari keuntungan, sedangkan usahatani subsistem, hanya memenuhi
kebutuhan sendiri (Suratiyah, 2015).
2.4.5 Bentuk Usahatani
Menurut Suratiyah (2015), Usahatani berdasarkan organisasinya, dibagi
menjadi tiga yaitu usaha individual, usaha kolektif dan usaha kooperatif.
1. Usaha Individual
Usaha individual merupakan kegiatan usahatani yang seluruh proses
usahataninya dikerjakan oleh petani sendiri beserta keluarganya mulai dari
perencanaan, mengolah tanah hingga pemasaran, sehingga faktor produksi
yang digunakan dalam kegiatan usahatani dapat ditentukan sendiri dan
dimiliki secara perorangan (individu).
2. Usaha Kolektif
Usaha kolektif merupakan kegiatan usahatani yang seluruh proses
produksinya dikerjakan bersama oleh suatu kelompok kemudian hasilnya
dibagi.
3. Usaha koorperatif
Usahatani kooperatif ialah usahatani yang tiap proses produksinya
dikerjakan secara individual, hanya pada beberapa kegiatan yang dianggap
penting dikerjakan oleh kelompok, misalnya pembelian saprodi,
pemberantasan hama, pemasaran hasil dan pembuatan saluran.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Usahatani adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan
kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Semua usaha pertanian pada dasarnya
adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang
sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan bibit/benih, metode budidaya,
pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk dan
pemasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga. 1982. Ilmu Usahatani. Penerbit Alumni Bandung. Bandung
Hernanto, F. 1993. Ilmu Usaha Tani. Jakarta: Penebar Swadaya, Jakarta.

Khaerizal, H. 2008. Analisis Pendapatan dan Faktor-Faktor Produksi Usahatani


Komoditi Jagung Hibrida dan Bersari Bebas (lokal). Skripsi. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Lokollo, E.M. 2002. Linking Farmers with Markets: Ways to Reduce Poverty
Through Supply Chain Management. CGPRT Flash 2(9): September 2004.
Nazaruddin. 1994. Penghijauan Kota. Penebar Swadaya, Jakarta.
Santoso. 1990. Klasifikasi Usahatani. ISSN 2302-3015. Jurnal Lahan Suboptimal.
Kabupaten Lombok Timur.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia. Jakarta.
Suratiyah, K. 2015. Ilmu Usaha Tani: Edisi revisi. Jakarta: Penebar Swadaya,
JakartaMakeham and Malcolm. 1981. Manajemen Usahatani di daerah
Tropis.
Suryanto. 1990. Tono. 1991. Klasifikasi Usahatani. ISSN 2252-6188 Jurnal
Penelitian Pertanian.
Tohir, Kaslan. 1983. Seuntai Pengetahuan Tentang Usaha Tani Indonesia. Bina
Aksara. Jakarta.
TUGAS KULIAH
PENGANTAR USAHA TANI
MODUL 2

Disusun oleh :

KELOMPOK 5

Felia Rahmatika Santi 155040201111189


Ajral Mukhlisin 155040201111194
Edo Eko 155040201111198
Onni Eprilia Mandasari 155040201111206
Nadya Awaliah 155040201111216

KELAS K

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
1. Sejarah Perkembangan Usahatani di Indonesia mulai dari jaman penjajahan
hingga sekarang

Perkembangan pertanian dan usahatani di Indonesia pada zaman penjajahan


hingga sekarang telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pertanian di
Indonesia diawali dengan sistem ladang berpindah-pindah, dimana masyarakat
menanam apa saja, namun hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ladang
berpindah adalah kegiatan pertanian yang dilakukan dengan cara berpindah-
pindah tempat. Ladang dibuat dengan cara membuka hutan atau semak belukar.
Pohon atau semak yang telah ditebang/dibabat setelah kering kemudian dibakar.
Setelah hujan tiba, ladang kemudian ditanami dan ditunggu sampai panen tiba.
Setelah ditanami 3 4 kali, lahan kemudian ditinggalkan karena sudah tidak subur
lagi.Kejadian ini berlangsung terus menerus, setelah jangka waktu 10 - 20 tahun,
para petani ladang kembali lagi ke ladang yang pertama kali mereka buka
(Hernanto, 1993).
Selanjutnya, setelah beberapa tahun kemudian sistem bersawah pun mulai
ditemukan oleh penduduk Indonesia. Dalam periode ini, orang mulai bermukim
di tempat yang tetap. Selain itu, tanaman padi yang berasal dari daerah padang
rumput kemudian diusahakan di daerah-daerah hutan dengan cara berladang yang
berpindah di atas tanah kering. Dengan timbulnya persawahan, orang mulai
tinggal tetap disuatu lokasi yang dikenal dengan nama kampong walaupun
usaha tani persawahan sudah dimulai, namun usaha tani secara berladang yang
berpindah-pindah belum ditinggalkan.
Pada zaman Hindia-Belanda sekitar tahun 1620, sejak VOC menguasai di
Batavia kebijakan pertanian bukan untuk tujuan memajukan pertanian di
Indonesia, melainkan hanya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya
bagi VOC. Sedangkan, pada tahun 1830, Van Den Bosch sebagai gubernur Jendral
Hindia Belanda mendapatkan tugas rahasia untuk meningkatkan ekspor dan
muncullah yang disebut tanam paksa. Sebenarnya Undang-undang Pokok Agraria
mengenai pembagian tanah telah muncul sejak 1870, namun kenyataanya tanam
paksa baru berakhir tahun 1921. Dalam system tanam paksa (Cultuurstelsel) ini,
Van den Bosch mewajibkan setiap desa harus menyisihkan sebagian sebagian
tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor khusunya kopi, tebu, nila dan
tembakau.
Setelah Indonesia merdeka, maka kebijakan pemerintah terhadap pertanian
tidak banyak mengalami perubahan. Pemerintah tetap mencurahkan perhatian
khusus pada produksi padi dengan berbagai peraturan seperti wajib jual padi
kepada pemerintah. Namun masih banyak tanah yang dikuasai oleh penguasa dan
pemilik modal besar, sehingga petani penggarap atau petani bagi hasil tidak
dengan mudah menentukan tanaman yang akan ditanam dan budidaya terhadap
tanamannya pun tak berkembang. Pada permulaan tahun 1970-an pemerintah
Indonesia meluncurkan suatu program pembangunan pertanian yang dikenal
secara luas dengan program Revolusi Hijau yang di masyarakat petani dikenal
dengan program BIMAS (Bimbingan Massal). Tujuan utama dari program
tersebut adalah meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Pada tahun 1979 pemerintah meluncurkan program INSUS (Intensifikasi
Khusus), yang meningkatkan efektifitas penerapan teknologi Pasca Usaha Tani
melalui kelompok-kelompok tani dengan luas areal per kelompok rata-rata 50
hektar,setiap kelompok diberi bantuan kredit modal dalam menjalankan usaha
pertaniannya (Lokollo, 2002). Kemudian pada tahun 1980-an pemerintah
meluncurkan program SUPRAINSUS (SI). Program ini merupakan
pengembangan dari Panca Usaha Tani untuk mewujudkan peningkatan
produktivitas tanaman padi.
Pada tahun 1998 usaha tani di Indonesia mengalami keterpurukan karena
adanya krisis multi-dimensi. Pada waktu itu telah terjadi perubahan yang
mendadak bahkan kacau balau dalam pertanian kita. Kredit pertanian dicabut,
suku bunga kredit membumbung tinggi sehingga tidak ada kredit yang tersedia ke
pertanian. Keterpurukan pertanian Indonesia akibat krisis moneter membuat
pemerintah dalam hal ini departemen pertanian sebagai stake holder
pembangunan pertanian mengambil suatu keputusan untuk melindungi sektor
agribisnis yaitu pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing,
berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi.
Untuk sistem pertanian dan usahatani yang ada sekarang ini masih belum
efektif dan efisien dari mulai proses awal sampai pada saat panen dan pasca panen
sehingga masih perlu diintensifkan sehingga dapat memberikan hasil yang
optimum. Untuk itu, pemerintah berusaha untuk mendongkrak kontribusi sektor
pertanian Indonesia terhadap perekonomian dengan mensosialisasikan sistem
agrobisnis, diferensiasi pertanian, diversifikasi pertanian dengan membuka lahan
peranian baru, sistem pertanian organik, berbagai kebijakan harga dan subsidi
pertanian, kebijakan tentang ekspor-impor komoditas pertanian dan lain-lain.
Sistem pertanian organik khususnya, telah dicanangkan pemerintah sejak akhir
tahun 1990-an dan mengusung Indonesia go organik pada tahun 2010, sistem ini
pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk
pertanian mengingat rusaknya kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia
yang berlebihan dan dalam waktu lama serta pencemaran lingkungan oleh
penggunaan pestisida kimia. Semua upaya pemerintah tersebut bertujuan untuk
meningkatkan distribusi pendapatan petani sehingga dengan ini diharapkan dapat
meningkatkan kontribusi sektor pertanian dalam perekonomian.
2. Analisis kondisi pertanian di indonesia saat ini berdasarkan pandangan
mahasiswa pertanian indonesia.
Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis
dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini merupakan
sektor yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam
pembangunan bangsa. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu
pun yang menguntungkan bagi sektor ini. Program-program pembangunan
pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini
pada kehancuran. Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat
banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita
tergantung padanya.
Perjalanan pembangunan pertanian Indonesia hingga saat ini masih belum
dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan
petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Pembangunan pertanian di
Indonesia dianggap penting dari keseluruhan pembangunan nasional. Ada
beberapa hal yang mendasari mengapa pembangunan pertanian di Indonesia
mempunyai peranan penting, antara lain: potensi Sumber Daya Alam yang besar
dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya
pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya penduduk Indonesia yang
menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan
masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi pertanian
Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar
dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin. Hal ini
mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang
memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan
(Prawirokusumo, 1990).
Di Indonesia, usahatani dikategorikan sebagai usahatani kecil karena
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang meningkat
2. Mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat hidup
yang rendah
3. Bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang subsisten
4. Kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan
lainnya.
Usahatani tersebut masih dilakukan oleh petani kecil, maka telah
disepakati batasan petani kecil (Soekartawi, 1986) Pada seminar petani kecil
di Jakarta pada tahun 1979, menetapkan bahwa petani kecil didefinisikan
sebagai berikut :
1. Petani yang pendapatannya rendah, yaitu kurang dari setara 240kg beras per
kapita per tahun
2. Petani yang memiliki lahan sempit, yaitu lebih kecil dari 0,25 ha lahan
sawah untuk di P.Jawa atau 0,5 ha di luar P.Jawa. Bila petani tersebut juga
memiliki lahan tegal maka luasnya 0,5 ha di P. Jawa dan 1,0 ha di luar P.
Jawa.
3. Petani yang kekurangan modal dan memiliki tabungan yang terbatas.
4. Petani yang memiliki pengetahuan terbatas dan kurang dinamis. Dari segi
otonomi, ciri yang sangat penting pada petani kecil adalah terbatasnya
sumberdaya dasar tempat petani tersebut berusahatani. Pada umumnya
mereka hanya menguasai sebidang lahan kecil, disertai dengan
ketidakpastian dalam pengelolaannya. Lahannya sering tidak subur dan
terpencar-pencar dalam beberapa petak. Mereka sering terjerat hutang
dan tidak terjangkau oleh lembaga kredit dan sarana produksi. Bersamaan
dengan itu, mereka menghadapi pasar dan harga yang tidak stabil, mereka
tidak cukup informasi dan modal.
Walaupun petani-petani kecil mempunyai ciri yang sama yaitu memiliki
sumberdaya terbatas dan pendapatan yang rendah, namun cara kerjanya tidak
sama. Karena itu petani kecil tidak dapat dipandang sebagai kelompok yang serba
sama, walaupun mereka berada di suatu wilayah kecil. Jelas bahwa hal
ini diperlukan penelitian-penelitian mengenai usahatani di bebagai daerah
dengan berbagai karakteristik petani, iklim, sosial, budaya yang berbeda,
sehingga diperoleh perumusan masalah yang dapat digunakan untuk
merumuskan suatu kebijakan.
Dengan melihat ciri-ciri petani kecil di atas, mempelajari usahatani
merupakan salah satu cara untuk melihat, menafsirkan, menganalisa,
memikirkan dan berbuat sesuatu (penyuluhan, penelitian, kunjungan,
kebijakan dll) untuk keluarga tani dan penduduk desa yang lain sehingga dapat
meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya. Kesulitan utama dalam
menganalisis perekonomian rumah tangga tani di negara berkembang seperti
Indonesia karena, Sifat dwifungsinya : produksi dan konsumsi yang kadang
tidak terpisahkan, serta kuatnya peranan desa sebagai unit organisasi sosial
dan perekonomian.
Pembangunan pertanian pada masa lalu mempunyai beberapa kelemahan,
yakni hanya terfokus pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta
pendekatannya yang sentralistik. Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai
saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan: (a) skala kecil, (b) modal
yang terbatas, (c) penggunaan teknologi yang masih sederhana, (d) sangat
dipengaruhi oleh musim, (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha
dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi
pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi dan
pasar sangat rendah, (h) pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni
yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga
yang merugikan petani. Selain itu, masih ditambah lagi dengan permasalahan-
permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian di Indonesia seperti
pembaruan agraria (konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian) yang
semakin tidak terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih bermutu bagi petani,
kelangkaan pupuk pada saat musim tanam datang, swasembada beras yang tidak
meningkatkan kesejahteraan petani dan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi
Petani, menuntut pemerintah untuk dapat lebih serius lagi dalam upaya
penyelesaian masalah pertanian di Indonesia demi terwujudnya pembangunan
pertanian Indonesia yang lebih maju demi tercapainya kesejahteraan masyarakat
Indonesia.
Pembangunan pertanian di masa yang akan datang tidak hanya dihadapkan
untuk memecahkan masalah-masalah yang ada, namun juga dihadapkan pula pada
tantangan untuk menghadapi perubahan tatanan politik di Indonesia yang
mengarah pada era demokratisasi yakni tuntutan otonomi daerah dan
pemberdayaan petani. Disamping itu, dihadapkan pula pada tantangan untuk
mengantisipasi perubahan tatanan dunia yang mengarah pada globalisasi dunia.
Oleh karena itu, pembangunan pertanian di Indonesia tidak saja dituntut untuk
menghasilkan produk-produk pertanian yang berdaya saing tinggi namun juga
mampu mengembangkan pertumbuhan daerah serta pemberdayaan masyarakat.
Ketiga tantangan tersebut menjadi sebuah kerja keras bagi kita semua apabila
menginginkan pertanian kita dapat menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan
masyarakat dan dapat menjadi motor penggerak pembangunan bangsa.
Menurut Gustiana (2004), terdapat beberapa rekomendasi, tawaran, saran,
masukan dan juga tuntutan hasil dari pemikiran mahasiswa-mahasiswa pertanian
Indonesia yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Pertanian
Indonesia (FKMPI) terkait strategi pembangunan pertanian di Indonesia, yaitu
sebagai berikut:
1. Optimalisasi program pertanian organik secara menyeluruh di Indonesia
serta menuntut pemanfaatan lahan tidur untuk pertanian yang produktif dan
ramah lingkungan.
2. Regulasi konversi lahan dengan ditetapkannya kawasan lahan abadi yang
eksistensinya dilindungi oleh undang-undang.
3. Penguatan sistem kelembagaan tani dan pendidikan kepada petani, berupa
program insentif usaha tani, program perbankan pertanian, pengembangan
pasar dan jaringan pemasaran yang berpihak kepada petani, serta
pengembangan industrialisasi yang berbasis pertanian/pedesaan, dan
mempermudah akses-akses terhadap sumber-sumber informasi IPTEK.
4. Perbaikan infrastruktur pertanian dan peningkatan teknologi tepat guna
yang berwawasan pada konteks kearifan lokal serta pemanfaatan secara
maksimal hasil-hasil penelitian ilmuwan lokal.
5. Mewujudkan kemandirian pangan di Indonesia.
6. Peningkatan mutu dan kesejahteraan penyuluh pertanian.
7. Membuat dan memberlakukan Undang-Undang perlindungan atas Hak
Asasi Petani.
8. Memposisikan pejabat dan petugas di setiap instansi maupun institusi
pertanian dan perkebunan sesuai dengan bidang keilmuannya masing-
masing.
9. Mewujudkan segera reforma agraria.
10. Perimbangan muatan informasi yang berkaitan dengan dunia pertanian serta
penyusunan konsep jam tayang khusus untuk publikasi dunia pertanian di
seluruh media massa yang ada.
11. Bimbingan lanjutan bagi lulusan bidang pertanian yang terintegrasi melalui
penumbuhan wirausahawan dalam bidang pertanian (inkubator bisnis)
berupa pelatihan dan pemagangan (retoling) yang berorientasi life skill,
entrepreneurial skill dan kemandirian berusaha, program pendidikan dan
pelatihan bagi generasi muda melalui kegiatan magang ke negara-negara
dimana sektor pertaniannya telah berkembang maju, peningkatan mutu
penyelenggaraan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi pertanian,
pengembangan program studi bidang pertanian yang mampu menarik
generasi muda, serta program-program lain yang bertujuan untuk menggali
potensi, minat, dan bakat generasi muda di bidang pertanian serta
melahirkan generasi muda yang mempunyai sikap ilmiah, professional,
kreatif, dan kepedulian sosial yang tinggi demi kemajuan pertanian
Indonesia, seperti olimpiade pertanian, gerakan cinta pertanian pada anak,
agriyouth camp, dan lain-lain.
12. Melibatkan mahasiswa dalam program pembangunan pertanian melalui
pelaksanaan bimbingan massal pertanian, peningkatan daya saing
mahasiswa dalam kewirausahaan serta dana pendampingan untuk program
program kemahasiswaan.
DAFTAR PUSTAKA
Hernanto, F. 1993. Ilmu Usaha Tani. Jakarta: Penebar Swadaya, Jakarta.
Lokollo, E.M. 2002. Linking Farmers with Markets: Ways to Reduce Poverty
Through Supply Chain Management. CGPRT Flash 2(9): September 2004.
Soekartawi. 1986. Ilmu Usaha Tani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani
Kecil. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Prawirokusumo, Soeharto. 1990. Ilmu Usaha Tani. Yogyakarta: BPFE.
Gustiyana, H. 2004. Analisis Pendapatan Usahatani untuk Produk Pertanian.
Jakarta: Salemba Empat.