Anda di halaman 1dari 10

AUDIT SEKTOR PUBLIK

A. TEORI AUDIT SEKTOR PUBLIK

1. Definisi Audit Sektor Publik


Auditing secara umum dapat didefinisikan sebagai berikut : Suatu proses sistematik yang secara
objektif terkait evaluasi bukti-bukti berkenaan dengan asersi tentang kegiatan dan kejadian
ekonomi guna memastikan derajat atau tingkat hubungan anatara asersi tersebut dengan kriteria
yang ada, serta mengomunikasikan hasil yang diperoleh kepada pihak-pihak yang
berkepentingan.
Dari definsi tersebut, beberapa bagian perlu mendapatkan perhatian yaitu :
a. Proses sistematik Audit merupakan aktivitas terstruktur yang mengikuti suatu urutan yang
logis.
b. Objektivitas Hal ini berkaitan dengan kualitas informasi yang disediakan serta kualitas
orang yang melakukan audit.
c. Penyediaan dan evaluasi bukti Hal ini berkaitan dengan pengujian yang mendasari
dukungan terhadap asersi ataupun representasi.
d. Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi Hal ini merupakan deskripsi yang luas
tentang subyek permasalahn yang diaudit.
e. Derajat hubungan kriteria yang ada Hal ini berarti suatu audit memberikan kecocokan
antara asersi dan kriteria yang ada.
f. Mengkomunikasikan hasil Agar bermanfaat hasil audit perlu dikomunikasikan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.

2. Regulasi Dalam Audit Sektor Publik


Untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan organisasi sektor publik, keuangan
organisasi harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang undang, efisien,
ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan serta
kepatutan.
Keuangan negara wajib dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa
keadilan serta kepatuhan.

3. Audit Sektor Publik Dan Sektor Bisnis


Audit sektor publik dan audit sektor bisnis berbeda atau sektor swasta. Audit sektor publik
dilakukan pada organisasi pemerintahan yang bersifat niralaba seperti Pemda, BUMN, BUMD,
instan lain yang berkaitan dengan pengelolaan aset kekayaan negara, dan organisasi sektor
publik lainnya seperti yayasan, LSM, serta partai politik. Sedangkan audit sektor bisnis
dilakukan pada perusahaan milik swasta yang berorientasi laba. Audit sektor publik dan sektor
bisnis sama-sama terdiri dari audit keuangan, audit kinerja, dan audit untuk tujuan tertentu.

4. Jenis-Jenis Audit Sektor Publik


Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN, terdapat tiga jenis audit keuangan negara,
yaitu:
a. Audit keuangan, merupakan audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan telah disajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia.
b. Audit kinerja, memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian
ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. Audit kinerja
merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara
obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi dan efisiensi
operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap
kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang
telah dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan
hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut

Perbandingan Audit Keuangan dengan Audit Kinerja


Audit Keuangan Audit Kinerja
Objek audit: laporan keuangan Objek audit: organisasi, program, aktivitas/
kegiatan, atau fungsi
Menguji kewajaran laporan keuangan Menguji tingkat ekonomi, efisiensi, dan
dari salah saji yang material dan efektivitas dalam penggunaan sumber daya
kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi untuk mencapai tujuan
yang diterima umum
Lebih bersifat kuantitatif keuangan Lebih bersifat kualitatif
Tidak terlalu analitis Sangat analitis
Tidak menggunakan indikator kinerja, Membutuhkan indikator, standar, dan target
standar, dan target kinerja kinerja untuk mengukur kinerja
Biasanya tidak mempertimbangkan Biasanya mempertimbangkan analisis biaya-
analisis biaya manfaat manfaat (cost-benefit analysis)
Waktu pelaksanaan audit tertentu Audit bisa dilakukan sewaktu-waktu
(biasanya pada akhir periode akuntansi)
Audit dilakukan untuk peristiwa Mempertimbangkan kinerja masa lalu,
keuangan masa lalu (post event) sekarang, dan yang akan datang
Tidak dimaksudkan untuk membantu Dimaksudkan untuk memperbaiki alokasi
melakukan alokasi sumber daya secara sumber daya secara optimal dan
optimal memperbaiki kinerja
Tidak terdapat rekomendasi audit Terdapat rekomendasi audit dan follow-
danfollow-up audit upaudit

c. Audit dengan tujuan tertentu, merupakan audit yang bertujuan untuk memberikan
simpulan atas hal yang diaudit bersifat eksaminasi (examination), reviu (review), atau
prosedur yang disepakati (agrees-upon procedures). Audit ini mencakup audit atas hal-hal
lain di bidang keuangan, audit investigatif, dan audit atas sistem pengendalian internal.

5. Audit keuangan sektor publik


Secara spesifikasi pendefinisian audit atas laporan keuangan dapat ditemukan sbb:
Tujuan penguji atas laporan keuangan oleh auditor adalah
1. Ekspresi suatu opini secara jujur tentang posisi keuagan.
2. Hasil operasi.
3. Arus kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi.
Laporan auditor merupakan media mengepresikan opini auditor atau dalam kindisi
tertentu dalam mrnyangkal opini.
Perbandingan antara definis audit laporan keuangan tersebut dengan definis audit secara
umum dapat mengungkapkan aspek esensial audit keuagan sbb:
a) Proses sistematik secara objektif.
b) Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi.
c) Derajat atau tingkat hubungan.
d) Hasil audit atas laporan keuangan dikomunikasikan dalam suatu pelaporan audit.
Audit atas hal yang berkaitan dengan keuangan meliputi sbb:
a) Segmen laporan keuangan, dokumen permintaan anggaran dan perbedaan antara realisasi
kinerja keuangan serta yang diperkirakan.
b) Pengendalian internal atas ketaatan terhadap perUU yang berlaku
c) Pengendalian atau pengawasan internal atas penyusunan laporan keuangan dan atas
pengamanan aktiva
d) Ketaatan terhadap peraturan perUU yang berlaku dan dugaan kecurangan
B. SISTEM AUDIT KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

1. Pemeriksaan Siklus Pendapatan


Tujuan audit siklus pendapatan adalah untuk mengungkapkan ada tidaknya salah saji yang
material dalam proses Pendapatan Daerah/Organisasi, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lain-
lain yang sah.
Pemeriksaan atas siklus pendapatan mencakup :
1. Pendapatan Daerah seperti pos pajak daerah, retribusi laba, dll.
2. Dana perimbangan mencakup bagi hasil pajak, bukan pajak.
3. Pendapatan lain-lain yang sah sesuai dengan lingkup pemeriksaan.
Jenis koreksi pembukuan yang harus dilakukan atas pendapatan adalah sebagai berikut:
a) Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo awal tahun anggaran/sisa perhitungan
anggaran tahun lalu.
b) Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian pendapatan daerah.
c) Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo akhir tahun anggaran sisa perhitungan
anggaran tahun perhitungan.
d) Kesalahan penyajian dalam daftar lampiran perhitungan anggaran tahun anggaran
perhitungan.
e) Kesalahan yang wajib dikoreksi oleh auditor, yang terdiri atas:
Kesalahan pembukuan (kekeliruan pencatatan)
Kesalahan pembebanan.
Kesalahan penjumlahan dan pengurangan angka (aritmatika).

2. Pemeriksaan Siklus Belanja


Tujuan audit siklus belanja adalah untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi
yang signifikan, yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus belanja. Tujuan audit
ditentukan berdasarkan kategori berikut :
Siklus belanja organisasi sektor publik mencakup berbagai proses dan keputusan untuk
memperoleh barang dan jasa yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi sektor
publik. Dua kelompok transaksi utama dalam siklus ini adalah transaksi pembelian dan
pengeluaran kas. Kedua transaksi tersebut mempengaruhi berbagai akun berikut:
Kas,
Persediaan barang habis pakai,
Aktiva tetap,
Aktiva lain-lain,
Utang.
Risiko bawaan pos belanja organisasi sektor publik pada banyak organisasi sangatlah tinggi.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan tingginya risiko bawaan siklus belanja ini, yaitu:
Volume transaksi yang selalu tinggi,
Pembelanjaan dan pengeluaran tanpa otoritasi yang dapat terjadi,
Pembelian aset yang tidak perlu,
Masalah akuntansi yang berkembang.
Tingginya volume transaksi akan memperbesar kemungkinan terjadinya salah saji. Semakin
tinggi volume transaksi, semakin tinggi kemungkinan kesalahan pencatatan transaksi
tersebut.
Tingginya risiko bawaan siklus belanja menyebabkan banyak organisasi sektor publik
memprioritaskan atau memperluas struktur pengendalian internal siklus belanja untuk
mencegah dan mendeteksi salah saji.
Pengujian pengendalian tergantung pada pertimbangan biaya manfaat. Auditor harus
membandingkan biaya melakukan pengujian pengendalian internal degnan penghematan
yang diperoleh akibat berkurangnya pengujian substantif.

3. Pemeriksaan Aktiva Tetap
Aktiva tetap merupakan aset/harta yang dimiliki oleh organisasi sektor publik yang
digunakan dalam kegiatan operasi organisasi. Tujuan audit aktiva tetap adalah untuk
memperoleh bukti tentang setiap asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo
aktiva tetap. Audit atas aktiva tetap sangat penting karena biasanya aktiva tetap merupakan
aset/kekayaan terbesar yang dimiliki oleh suatu organisasi sektor publik.

4. Pemeriksaan Jasa Personalia


Siklus jasa personalia sangat penting karena masalah gaji, pajak penghasilan pegawai,
dan biaya ketenagakerjaan lainnya merupakan komponen biaya utama di hampir semua entitas.

5. Pemeriksaan Siklus Investasi (Pembiayaan)


Investasi ini pada umumnya merupakan bagian dari strategi jangka panjang suatu
organisasi sektor publik. Jangka waktu investasi sementara tidak lebih dari satu periode
akuntansi. Risiko salah saji pada transaksi investasi organisasi sektor publik umumnya rendah
karena jarangnya transaksi yang terjadi.

6. Pemeriksaan Siklus Saldo Kas


Saldo kas berasal dari pengaruh kumulatif siklus belanja, siklus investasi, dan siklus jasa
personalia. Tujian audit saldo kas adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing asersi
yang signifikan, ynag berkaitan dengan transaksi dan saldo kas. Tujuan audi ditentukan
berdasarkan kelima kategori asersi laporan keuangan:
Asersi keberadaan dan keterjadian
Asersi kelengkapan
Asersi hak dan kewajiban
Asersi penilaian dan pengalokasian
Asersi pelaporan dan pengungkapan

C. SIKLUS AUDIT KEUANGAN SEKTOR PUBLIK


Terdapat 17 siklus dalam audit keuangan sektor publik:

1. Perencanaan Audit Keuangan


Pemahaman atas sistem akuntansi keuangan sektor publik. Hal ini sangat penting karena saat
ini audit sektor publik tidak lagi berfokus pada laporan realisasi anggaran saja tetapi juga
laporan keuangan lainnya.
Penentuan tujuan dan lingkup audit. Dalam menentukan tujuan dan ruang lingkup, auditor
harus memastikan bahwa tujuan dan ruang lingkup audit yang ditetapkan telah sesuai
dengan mandat serta wewenang lembaga audit dan pengawas yang bersangkutan.
Penilaian resiko. Kegiatan audit dilaksanakan melalui berbagai pengujian yang mengandung
resiko kesalahan, sehingga penilaian risiko pengendalian (control risk), risiko bawaan
(inherent risk), dan risiko deteksi (detection risk) harus dilakukan.
Penyusunan rencana audit. Suatu rencana audit harus disusun berdasarkan tahapan kegiatan
perencanaan audit.
2. Penetapan Regulasi Audit Keuangan
Bagian ini penting dalam proses audit karena dibutuhkan aturan untuk memberikan
arahan yang jelas, dan sebagai kontrol agar pelaksanaan audit laporan keuangan bisa
memberikan opini yang tepat.
3. Penyusunan Perencanaan Audit Tahuann Oleh Lembaga Auditor
Setelah ditetapkan aturan dan regulasi langkah selanjutnya adalah menyusun
perencanaan. Perencanaan audit yang matang akan sangat menentukan kesuksesan audit.
4. Temu Rencanaan Audit Tahunan
Setelah lembaga auditor selesai menyusun perencanaan audit tahunan, kemudian mereka
bertemu dengan kepala atau pimpinan organisasi sektor publik untuk membicarakan perencanaan
audit yang sudah disusun.
5. Penerbitan Regulasi Tentang Tim Dan Kebijakan Audit Tahunan
Regulasi yang ditetapkan dalam tahap ini menyangkut tim atau personel yang akan
melakukan audit terhadap organisasi sektor publik maupun regulasi dalam menjalankan proses
audit.
6. Penerimaan Regulasi Organisasi Yang Akan Diaudit
Kemudian regulasi yang telah diterbitkan tersebut akan diterima oleh lembaga pemeriksa
sehingga bisa melakukan proses audit di lembaga atau organisasi sektor publik.
7. Survei Awal Karakter Industri/Organisasi Yang Akan Diaudit
Tahapan selanjutnya dalam siklus audit audit sektor publik ini adalah survei awal
terhadap karakter industri/organisai yang akan diaudit.
8. Pembuatan Program Audit
Untuk setiap area yang diaudit, auditor harus menyusun langkah-langkah audit yang akan
dilakukannya. Langkah-langkah ini tertuang dalam program audit.
9. Penerbitan Surat Tugas Audit
Pihak organisasi sektor publik segera mengeluarkan surat tugas kepada lembaga
pemeriksa untuk melaksanakan audit.
10. Pelaksanaan Audit Keuangan
Dalam melaksanakan audit keuangan, auditor melakukan hal-hal berikut:
Menilai Pengendalian Internal
Melakukan Prosedur Analtis
11. Pembuatan Daftar Temuan
Setelah melakukan kegiatan pelaksanaan audit, auditor biasanya mendapatkan temuan-
temuan terkait dengan keuangan klien. Temuan-temuan tersebut kemudian didaftar sebagai bukti
dalam penyampaian pendapat nantinya.
12. Pembicaraan Awal Tentang Daftar Temuan
Berdasarkan temuan-temuan di lapangan , kemudian auditor melakukan pembicaraan
dengan pimpinan organisasi sektor publik terkait temuan-temuan tersebut. Dalam tahapan ini,
auditor akan melakukan cross-check atas hasil temuannya dengan fakta yang terjadi di lapangan.
13. Penyusunan Draft Laporan Hasil Pemeriksaan
Setelah hasil temuan hasil auditor di bicarakan atau melakukan cross-check dengan
pejabat organisasi sektor publik, auditor kemudian menyusun draft laporan hasil pemeriksaan.
14. Pembahasan Draft Laporan Hasil Pemeriksaan Dengan Organisasi Yang Diaudit
Dalam tahapan ini, auditor memastikan apa yang telah di susun di dalam draft laporan
hasil pemeriksaan sudah selesai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
15. Penyelesaian Laporan Hasil Pemeriksaan
Setelah melakukan pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dan di pastikan
kellengkapan serta kesepakatan mengenai draft tersebut sudah tercapai, kemudian akan di
lakukan penyelesaian atau finalisasi draft tersebut menjadi laporan hasil pemeriksaan akhir.
16. Tindak Lanjut Temuan Laporan Hasil Pemeriksaan
Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, auditor melakukan tindak lanjut atau
dengan kata lain, memberikan rekomendasi perbaikan kepada organisasi sektor publik.
17. Penerbitan Laporan Hasil Pemeriksaan
Tahapan terakhir dari siklus audit keuangan adalah penerbitan laporan hasil pemeriksaan
kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi yang telah di audit tersebut.
D. TEKNIK AUDIT KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

Prosedur analitis (Analitycal Procedures)


Prosedur ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana, analisis
vertikal, atau laporan persentase, perbandingan jumlah yang sederhana dengan data historis atau
anggaran, serta penggunaan model matematis dan statistik, seperti analisis regresi.
Inspeksi (Inspecting)
Inspeksi meliputi pemeriksaan yang rinci terhadap dokumen dan catatan serta
pemeriksaan sumber daya berwujud. Inspeksi seringkali digunakan dalam mengumpulkan dan
mengevalusai bukti, baik bottom-up mapun top-down. Dengan melakukan inspeksi atas
dokumen, auditor dapat menentukan ketepatan persyaratan dalam faktur atau kontrak yang
memerlukan pengujian bottom up atas akuntansi transaksi tersebut.
Konfirmasi (Confirming)
Kegiatan konfirmasi adalah bentuk kegiatan keterangan yang memungkinkan auditor
memperoleh informasi secara langsug dari sumber independen di luar organisasi sektor publik
yang di audit. Dalam kasus yang lazim, klien (organisasi yang di audit) mengajukan permintaan
kepada pihak luar secara tertulis, namun auditor yang mengirimkan permintaan keterangan
tersebut.
Permintaan keterangan (Inquiring)
Kegiatan ini meliputi permintaan keterangan secara lisan maupun tertulis oleh auditor.
Permintaan keterangan tersebut biasanya ditunjukan kepada manajemen atau karyawan
organisasi sektor publik, yang umumnya berupa pernyataan-pernyataan yang timbul setelah
dilaksanakannya prosedur analitis. Auditor juga dapat secara langsung meminta keterangan
kepada pihak external.
Perhitungan (Counting)
Dua aplikasi yang paling umum adalah perhitungan (counting) adalah (1) perhitungan
fisik sumber daya berwujud, seperti jumlah kas dan persediaan yang ada dan (2) akuntansi
seluruh dokumen, dengan nomor urut yang telah dicetak (prenumbered).
Penelusuran (Tracing)
Dalam penelusuran seringkali disebut penelusuran ulang, auditor (1) memilih dokumen
yang dibuat pada saat transaksi dilaksanakan, dan (2) menentukan bahwa informasi yang
diberikan oleh dokumen tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi (jurnal dan
buku besar).
Pemeriksaan bukti pendukung (Vouching)
Pemeriksaan bukti pendukung meliputi (1) pemilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi,
dan (2) mendapatkan serta memeriksa dokumen yang digunakan sebagai dasar ayat jurnal
tersebut untuk menentukan validitas dan ketelitian pencatatan akuntansi.
Pengamatan (observing)
Pengamatan berkaitan dengan memerhatikan dan menyaksikan pelaksanaan beberapa
kegiatan atau proses. Kegiatannya berupa pemrosesan rutin atau jenis transaksi tertentu, seperti
penerimaan kas, untuk melihat apakah para pekerja sedang melaksanakan tugas yang telah
diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur organisasi sektor publik.
Pelaksanaan ulang (Reforming)
Salah satu prosedur audit yang penting adalah pelaksanaan ulang perhitungan dan
rekonsiliasi ynag dilakukan oleh organissasi sektor publik yang di audit. Auditor juga dapat
melakukan ulang beberapa aspek pemrosesan transaksi tertentu untuk menentukan bahwa
pemrosesan awal sudah sesuai dengan pengendaliaan internal yang sudah dirumuskan.
Teknik audit berbantuan computer
Apabila catatan akuntansi organisasi sektor publik dilaksanakan melalui media
elektronik, maka auditor dapat menggunakan teknik ini untuk membantu melaksanakan beberapa
prosedur yang telah diuraikan sebelumnya.
Pengujian pengendalian
Terdapat dua jenis pengujian pengendalian, yaitu:
1. Pengujian pengendalian yang berkaitan langsung dengan keefektifan desain
kebijakan atau posedur dan apakah benarbenar digunakan dalam kegiatan organisasi
2. Pengujian pengendalian yang berkaitan dengan keefektifan kebijakan dan
prosedur serta bagaiman pengaplikasiannya, konsistensinya dengan aplikasi terdahulu
dan oleh siapa aplikasi itu dilaksanakan selama satu periode.
Pengujian substansif
Dua kateegori umum pengujian substansif adalah:
1. Prosedur analitis, yang merupakan prosedur dalam penyediaan buktibukti
tentang validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca, atau sebaliknya tentang
kesalahan atau ketidak beresan yang terjadi;
2. Pengujian terinci atas transaksi atau neraca merupakan pengujian untuk
menyediakan bukti-bukti tentang validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca
atau sebaliknya atas kesalah dan ketidak beresan yang terjadi.
E. CONTOH PRAKTEK AUDIT SEKTOR PUBLIK DI ORGANISASI SEKTOR PUBLIK

Pemerintah Pusat
Audit atas pemerintah pusat ditujukan pada perolehan bukti audit yang cukup dan tepat.
Sebagai contoh, akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah pusat
maupun daerah sebagai organisasi sektor publik merupakan tujuan penting dari reformasi
akuntansi dan administrasi sektor publik. Untuk dapat memastikan bahwa pengelolaan keuangan
pemerintah yang telah dilakukan aparatur pemerintah , maka fungsi akuntabilitas dan audit atas
pelaporann keuangan sektor publik harus berjalan dengan baik.
Pemerintah Daerah
Audit yang diselenggarakan atas kegiatan pemerintah daerah dapat dibagi menjadi audit
keuangan dan audit kinerja. Audit dapat mempunyai gabungan tujuan audit keuangan dan audit
kinerja, atau dapat juga mempunyai tujuan yang terbatas pada beberapa aspek dari masing-
masing jenis audit tersebut.
Pemeriksaan atas pos pendapatan asli daerah mencakup:
Melakukan pengujian terhadap nilai realisasi pos
Melakukan verifikasi atas bukti-bukti penerimaan
Melakukan konfirmasi kepada instansi yang terkait dengan pemungutan pajak
Mengetahui adanya kesalahan atau tidak atas penyetoran pendapatan
Melakukan koreksi
Melakukan pengujian.
LSM
Di Indonesia ada dua jenis LSM. Pertama, LSM yang melakukan fungsi kontrol
masyarakat. Kedua, LSM yang melaksanakan program entitas. Menjamurnya LSM terutama
dipicu oleh persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh lembaga-lembaga keuangan
internasional. Dalam organisasi LSM dilakukan dua jenis audit yaitu Audit kinerja keuangan dan
Audit kinerja nonkeuangan.
Yayasan
Audit yang diselenggarakan atas semua kegiatan yang dilaksanakan yayasan dapat dibagi
menjadi audit keuangan dan audit kinerja. Contohnya pelaksanaan audit atas kontrak
pemborongan pekerjaan atau atas bantuan pemerintah kepada yayasan atau badan hukum
lainnya. Tujuan audit semacam ini sering kali mencakup baik tujuan keuangan maupun tujuan
audit kinerja. Audit semacam ini umunya disebut audit kontrak.
Partai Politik
Sama seperti organisasi-organisasi sektor publik lainnya, audit dalam organisasi partai
politik juga dibedakan menjadi dua, yaitu audit kinerja keuangan dan audit kinerja nonkeuangan.