Anda di halaman 1dari 19

3.2.

Pneumonia
3.2.1. Definisi
Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru. Walaupun banyak pihak
yang sependapat bahwa pneumonia adalah suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk
merumuskan suatu definisi yang universal.14
Menurut Pedoman Pelayan Medis (2009), pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru
yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial. Pneumonia didefinsikan berdasarkan gejala
dan tanda klinis, serta perjalanan penyakitnya. World Health Organization (WHO)
mendefinisikan pneumonia hanya berdasarkan penemuan klinis yang didapatkan pada
pemeriksaan inspeksi dan frekuensi pernapasan. 16
Pneumonia sebagian besar disebakan oleh mikroorganisme (virus atau bakteri) dan
sebagian kecil disebabkan oleh hal lain (aspirasi, radiasi, dll). Pada pneumonia yang
disebabkan oleh kuman, menjadi pertanyaan penting adalah penyebab dari Pneumonia (virus
atau bakteri). Pneumonia seringkali dipercaya diawali oleh infeksi virus yang kemudian
mengalami komplikasi infeksi bakteri. Secara klinis pada anak sulit membedakan pneumonia
bakterial dengan pneumonia viral. Demikian pula pemeriksaan radiologis dan laboratorium
tidak menunjukkan perbedaan nyata. Namun sebagai pedoman dapat disebutkan bahwa
pneumonia bacterial awitannya cepat, batuk produktif, pasien tampak toksik, leukositosis, dan
perubahan nyata pada pemeriksaan radiologis.16

3.2.2. Epidemiologi
Pneumonia adalah penyakit yang terjadi secara umum di semua bagian dunia.
Pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada semua kelompok usia. Pada anak-anak,
kematian banyak terjadi selama periode neonates. WHO memperkirakan satu dari tiga bayi
mengalami kematian akibat pneumonia dan lebih dari 2 juta anak dengan usia dibawah 5 tahun
meninggal setiap tahunnya.17
Nessen (2007), mengemukakan risiko terbesar dari kematian akibat pneumonia di masa
anak-anak ialah pada masa neonatal. Setidaknya sepertiga dari 10,8 juta kematian pada anak-
anak di seluruh dunia terjadi pada 28 hari kehidupan, dengan proporsi yang besar diakibatkan
oleh pneumonia. Diperkirakan bahwa pneumonia memberikan kontribusi antara 750 000 dan
1,2 juta kematian neonatal per tahun, terhitung 10% kematian anak secara global. Dari semua
kematian neonatal, 96% terjadi di Negara berkembang.
Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama pada anak
di negara berkembang. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas
diseluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita, meninggal setiap tahun akibat pneumonia,
sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara.
Di Indonesia menurut survey kesehatan nasional (2001) 27,6% kematian bayi dan
22,8% kematian balita disebabkan oleh penyakit sistem respiratori, terutama pneumonia (IDAI,
2012). Menurut data yang dikutip dari Pedoman Pelayanan Medis, insiden pneumonia pada
anak <5 tahun di negara maju adalah 2-4 kasus/100 anak/tahun, sedangkan di negara
berkembang 10-20 kasus/100 anak/tahun. Pneumonia menyebabkan lebih dari 5 juta kematian
per tahun pada anak balita di negara berkembang.16

3.2.3. Etiologi
Pada neonatus, agen penyebab infkesi umumnya bakteri daripada virus. Infeksi ini
sering diperoleh pada saat proses persalinan, dapat berasal dari cairan ketuban atau jalan lahir,
tetapi juga dapat terjadi sebagai akibat dari intubasi dan ventilasi. Tanda-tanda klinis dan
radiografi pneumonia pada neonatal dapat non-spesifik. Kegagalan untuk mengobati
pneumonia pada neonatal dapat mengakibatkan kematian, karena itu semua neonatus
menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan baik itu tanpa sebab non-infeksi yang jelas harus
dipertimbangkan untuk pemberian antibiotik secara rutin.
Etiologi pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia di negara maju16.

Etiologi yang sering Etiologi yang jarang


Usia
Bakteri Bakteri

Lahir - 20 hari E. colli Bakteri anaerob

Streptococcus group B Streptococcus group D

Liseria monocytogenes Haemophillus influenza

Streptococcus pneumonia

Virus
CMV, HSV

Bakteri Bakteri

Chlamidya trachomatis Bordetella pertussis

Streptococcus Haemophillus influenza tipe


pneumonia B

Virus Moraxella catharallis

3 minggu - 3 bulan
Adenovirus Staphylococcus aureus

Virus Influenza Ureaplasma urealyticum

Virus parainfluenza Virus


1,2,3

Respiratory Syncytial CMV


Virus

Bakteri Bakteri

Chlamidya pneumonia Haemophillus influenza tipe


B

Mycoplasma pneumonia Moraxella catharalis

Streptococcus Neisseria meningitides


4 bulan 5 tahun pneumonia

Virus Staphylococcus aureus

Adenovirus Virus

Virus Parainfluenza Varisela zoster virus

Rinovirus
Respiratory Syncytial
virus

Bakteri Bakteri

Chlamidya pneumonia Haemophillus influenza tipe


B

Mycoplasma pneumonia Legionalle sp

Streptococcus Staphylococcus aureus


pneumonia
5 tahun remaja
Virus

Adenovirus

Varisela Zoster virus

Respiratory Syncytial virus

Epstein-Barr virus

3.2.4. Klasifikasi
Berdasarkan tempat terjadinya infeksi, dikenal dua bentuk pneumonia, yaitu : 1)
Pneumonia-masyarakat (community-acquired pneumonia), bila infeksinya terjadi di
masyarakat, dan 2) pneumonia-RS atau pneumonia nosokomial (hospital-acquired
pneumonia), bila infeksinya didapat di RS. Selain berbeda dalam lokasi tempat
terjadinya infeksi, kedua bentuk pneumonia ini juga berbeda dalam spectrum etiologi,
gambaran klinis, penyakit dasar atau penyakit penyerta, dan prognosisnya. Pneumonia
yang didapat di RS sering merupakan infeksi sekunder pada berbagai penyakit dasar
yang sudah ada, sehingga spectrum etiologinya berbeda dengan infeksi yang terjadi di
masyarakat. Oleh karena itu, gejala klinis, derajat penyakit dan komplikasi yang timbul
lebih kompleks. Pneumonia yang didapat di RS memerlukan penanganan khusus sesuai
dengan penyakit dasarnya.16

3.2.5. Patogenesis
Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran
respiratori. Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermudah proliferasi dan
penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi,
yaitu terjadi serbukan sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema, dan ditemukannya kuman di
alveoli. Stadium ini disebut stadium hepatisasi merah. Selanjutnya deposisi fibrin semakin
bertambah, terdapat fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis yang cepat.
Stadium ini disebut stadium hepatisasi kelabu. Selanjutnya, jumlah makrofag meningkat di
alveoli, sel akan mengalami degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris menghilang. Stadium
ini disebut stadium resolusi. Sistem bronkopulmoner jaringan paru yang tidak terkena akan
tetap normal.19

3.2.6. Manifestasi Klinis


Menurut IDAI (2012), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis
pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomic dan imunologik, mikroorganisme penyebab
yang luas, gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada bayi, terbatasnya
penggunaan prosedur diagnostic invasive, etiologi noninfeksi yang relatif lebih sering dan
faktor pathogenesis. Disamping itu, kelompok usia pada anak merupakan faktor penting yang
menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-beda, sehingga perlu dipertimbangkan dalam
tatalaksana pneumonia.
Pneumonia pada nonatus merupakan gangguan pernapasan pada bayi baru lahir, dengan
gejala seperti pernafasan yang bising atau sulit, Takipnea > 60x/menit, retraksi dada, batuk dan
mendengus. WHO tidak membedakan antara pneumonia neonatal dan bentuk lain dari sepsis
berat, seperti bakteremia, karena gejala-gejala yang tampak hamper sama, dan keterlibatan
organ dan pengobatan empirik rejimen yang sama. Takipnea merupakan tanda yang paling
sering didapatkan dalam 60-89% kasus, termasuk tanda lain seperti retraksi dada (36-91%
kasus), demam (30-56%), ketidakmampuan untuk makan (43 -49%), sianosis (12-40%), dan
batuk (30-84%).18
Kriteria takipnea menurut WHO :
Laju napas normal Takipnea (frekuensi per
Umur
(frekuensi per menit) menit)
30-50 60
0-2 bulan
25-40 50
2-12 bulan
1-5 Tahun 20-30 40
20
>5 tahun 15-25
Dikutip dari Gittens MM. Pediatric Pneumonia. Clin Ped Emerg Med J 2002.20

Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat-ringannya infeksi, tetapi
secara umum adalah sebagai berikut :
Gejala infeksi umum :
Demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan napsu makan, keluhan gastrointestinal
seperti mual, muntah atau diare
Gejala gangguan respiratori :
Batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea, napas cuping hidung, air hunger, merintih dan
sianosis.
Tanda awal dan gejala pneumonia mungkin tidak spesifik, seperti malas makan, letargi,
iritabilitas, sianosis, ketidakstabilan temperatur, dan keseluruhan kesan bahwa bayi tidak baik.
Gejala pernapasan seperti grunting (mendengus), tachypnea, retraksi, sianosis, apnea, dan
kegagalan pernafasan yang progresif. Pada bayi dengan ventilasi mekanik, kebutuhan untuk
dukungan ventilasi meningkat dapat menunjukkan infeksi. Tanda-tanda pneumonia pada
pemeriksaan fisik, seperti tumpul pada perkusi, perubahan suara napas, dan adanya ronki,
radiografi thorax didapatkan infiltrat baru atau efusi pleura. Tanda akhir pneumonia pada
neonates tidak spesifik seperti apnea, takipnea, malas makan, distensi abdomen, jaundice,
muntah, respirasi distress, dan kolaps sirkulasi.21
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi, suara napas
melemah dan ronki. Akan tetapi pada neonates dan bayi kecil, gejala dan tanda pneumonia
lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat. Pada perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak
ditemukan kelainan.15
3.2.7. Pneumonia pada Neonatus dan Bayi Kecil
Pneumonia pada neonates sering terjadi akibat transmisi vertical ibu-anak yang
berhubungan dengan proses persalinan. Infeksi terjadi akibat kontaminasi dengan sumber
infeksi dari ibu, misalnya melalui aspirasi mekonium, cairan amnion, atau serviks ibu. Infeksi
dapat berasal dari kontaminasi dengan sumber infeksi dari RS (hospital-acquired pneumonia),
misalnya dari perawat, dokter atau pasien lain; atau dari alat kedokteran, misalnya penggunaan
ventilator. Di samping itu, infeksi dapat terjadi akibat kontaminasi dengan sumber infeksi dari
masyarakat (community-acquired pneumonia).
Gambaran klinis pneumonia pada neonates dan bayi kecil tidak khas, mencakup
serangan apnea, sianosis, merintih, napas cuping hidung, takipnea, letargi, muntah, tidak mau
minum, takikardi atau bradikardi, retraksi subkosta, dan demam. Pada bayi BBLR sering terjadi
hipotermi. Gambaran klinis tersebut sulit dibedakan dengan sepsis atau meningitis. Sepsis
pada pneumonia nenonatus dan bayi kecil sering ditemukan sebelum 48 jam pertama. Angka
mortalitas sangat tinggi di negara maju, yaitu dilaporkan 20-50%. Angka kematian di Indonesia
dan negara berkembang lainnya diduga lebih tinggi. Oleh kerana itu, setiap kemunkinan adanya
pneumonia pada neonates dan bayi kecil berusida dibawah 2 bulan harus segera dirawat di RS.

3.2.8. Pemeriksaan Penunjang15


Darah Perifer Lengkap
Pada pneumonia virus dan juga pada pneumonia mikoplasma umumnya ditemukan
leukosit dalam batas normal atau sedikit meningkat. Akan tetapi, pada pneumonia
didapatkan leukositosis yang berkisar antara 15.000-40.000/mm3 dengan predominan
PMN. Leukopenia (<5000/mm3) menunjukkan prognosis yang buruk. Leukositosis
(>30.000/mm3) hampir selalu menunjukkan adanya infeksi bakteri, sering ditemukan pada
keadaan bakterimi dan risiko terjadinya komplikasi lebih tinggi.
Pada hitungan jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta terjadi peningkatan
LED. Untuk menentukan diagnosis etiologi diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah
dan serologi. Kultur darah dapat positif pada 20- 25% penderita yang tidak diobati. Analisis
gas darah menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi
asidosis respiratorik.
Uji Serologis
Uji serologik untuk mendeteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri tipik
mempunyai sensitivitas dan spesifitas yang rendah. Akan tetapi, diagnosis infeksi
Streptokokkus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibodi seperti
antistreptolisin O, streptozim atau antiDnase B.
Secara umum, uji serologis tidak selau bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi
bakteri tipik. Akan tetapi, untuk deteksi infeksi bakteri atipik seperti Mikoplasma dan
Klamidia, serta beberapa virus seperti RSV, CMV, campak, Parainfluenza 1,2,3, Influenza
A dan B, dan Adeno, peningkatan antibody IgM dan IgG dapat mengkonfirmasi diagnosis.

Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin dilakukan
kecuali pada pneumonia berat yang dirawat di RS. Untuk pemeriksaan mikrobiologik,
specimen dapat berasal dari usap tenggorok, secret nasofaring, bilasan bronkus, darah,
pungsi pleura, atau aspirasi paru. Diagnosis dikatakan definitive bila kuman ditemukan dari
darah, cairan pleura, atau aspirasi paru. Kecuali pada masa neonates, kejadian bakteremia
sangat rendah sehingga kultur darah jarang yang positif.

PemeriksaanPencitraan Thoraks
Kelainan foto rontgen thoraks pada pneumonia tidak selalu berhubungan dengan
gambaran klinis. Kadang-kadang bercak-bercak sudah ditemukan ada gambaran radiologis
sebelum timbul gejala klinis. Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk mennunjang
diagnosis pneumonia di IGD hanyalah pemeriksaan rontgen thoraks posisi AP. Secara
umum gambaran foto toraks terdiri dari :
Infiltrate interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,
peribronchial cuffing, dan hiperaerasi
Infiltrate alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.
Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris, atau
terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas
yang tidak terlalu tegas, dan menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai round
pneumonia.
Bronkopneumonia, ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru,
berupa bercak-bercak infiltrate yang dapat meluas hingga daerah perifer paru,
disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.
Gambaran foto rontgen thoraks dapat membantu mengarahkan kecenderungan
etiologi pneumonia. Penebalan peribronkial, infiltrate interstitial merata dan hiperinflasi
cenderung terlihat pada pneumonia virus. Infiltrate alveolar berupa konsolidasi segmen
atau lobar, bronkopneumonia, dan air bronchogram sangat mungkin disebabkan oleh
bakteri. Pada pneumonia Stafilococcus sering ditemukan abses-abses kecil dan
pneumatokel dengan berbagai ukuran.

Neonatal pneumonia.Bercak konsolidasi diseuluruh kedua lapangan paru22


Pada kebanyakan kasus pneumonia, perbercakan asimetris dan hiperaerasi dapat terlihat.23

Perbercakan retikulogranular seperti pada HMD dapat terlihat, terutama pada pneumonia
akibat S.pneumoniae grup B.23
Komsolidasi pada lobus superior kiri paru akibat S. pneumonia.23

Penyakit b-hemolytic streptococcal grup B. seorang bayi umur 2 hari, tampak bayangan
infiltrate yang luas pada kedua paru terutama pada paru kiri dan efusi pleura pada paru kiri.
Mediastinum terdiring ke sisi kanan.24
Pneumonia aspirasi. Tampak granular kasar dengan aerasi tidak teratur dari aspirasi bahan
yang terkandung dalam cairan ketuban, seperti verniks kaseosa, sel-sel epitel, dan
mekonium.25

Pneumotoraks sisi kiri. Merupakan Komplikasi dari pneumonia neonatal. Perhatikan


ruang lobus atas terdapat bayangan udara pada kedua sisi paru.26
Bayi baru lahir segera setelah lahir dengan sianosis dan gangguan pernapasan dan menjalani
operasi untuk penyakit jantung bawaan. Terdapat bayangan udara sebelum operasi, yang
diinterpretasikan sebagai edema paru. Namun, setelah operasi, dengan tindakan aspirasi
bronkial didapatkan Staphylococcus aureus.26

Pneumonia pada paru kiri lobus atas: Pada hemidiaphragm kiri terlihat
menunjukkan keadaan patologi. Pada foto lateral, didapatkan kekeruhan yang luas pada pada
bagian anterior ke fissure obliq pada atas lobus.26
Meskipun pneumonia neonatal tidak memiliki tanda karakteristik yang jelas, Banyak
hasil radiografi thorax yang ditemukan konsisten dengan pneumonia neonatal. Ada beberapa
tanda seperti kekeruhan yang luas pada parenkim paru yang menyerupai tanda ground-glass
appearance dari sindrom distress pernapasan . Tanda ini tidak spesifik ditemukan pada proses
hematogen. Aspirasi cairan yang terinfeksi dapat memberikan gambaran serupa.24
Kekeruhan yang merata atau konsolidasi umumnya dianggap sebagai komplikasi
antepartum atau aspirasi intrapartum, terutama ketika bagian perifer dari paru-paru terlibat.
Densitas yang merata di bada bagian basa di kedua paru terutama paru kanan menunjukkan
aspirasi postnatal.26
Hiperinflasi terkait dengan konsolidasi merata menunjukkan obstruksi jalan napas
parsial yang disebabkan oleh sumbatan lender dan debris inflamasi. Tanda air bronchogram
biasanya menunjukkan konsolidasi yang luas, tetapi tanda ini tidak pesifik dan mungkin
berkaitan perdarahan paru atau edema. Kehadiran pneumatoceles terkait dengan efusi pleura
menunjukkan proses infeksi pneumonia.23
Dalam sebuah studi tentang radiografi thorax didapatkan 30 bayi yang di otopsi dengan
parau-paru yang terinfeksi, kelainan yang paling umum diidentifikasi adalah densitas alveolar
bilateral (77%). Dari pasien ini, sepertiga memiliki karakteristik yang luas, perubahan densitas
alveolar dengan air bronchograms yang banyak. Kehadiran efusi pleura pada penyakit membran
hialin dan transien takipnea yang menetap selama 1-2 hari merupakan tanda yang sangat
membantu membantu dalam diagnosis pneumonia neonatal. Perubahan radiografi yang didapat
dapat membantu dalam diagnosis pneumonia neonatal, terutama jika informasi ini berkorelasi
dengan gambaran klinis.25
CT scan dapat membantu meninykirkan kemungkinan tumor, kelainan pembuluh darah,
kelainan lobus, dan untuk menetapkan adanya infiltrate.

CT scan axial menggambarkan bayanngan udara ruang yang luas pada kedua paru dan konsolidasi
pada basal paru yang berhubungan dengan air bronchogram yang berasal dari pneumonia neonatal.25
Ultrasonography merupakan pemeriksaan radiografi yang berguna dalam keadaan
tertentu. Ultrasonography sangat berguna untuk mengidentifikasi dan melokalisasi cairan
dalam ruang pleura dan perikardial. Ultrasonography merupkana teknik noninvasif yang cocok
untuk neonatus. Ultrasonography memiliki sensitivitas yang tinggi dalam mendeteksi efusi
pleura dan mendeteksi konsolidasi di basis paru-paru. Tidak ada radiasi yang terlibat dan
prosedur dapat diulang berkali-kali.25

3.2.9. Diagnosis
Diagnosis etiologi berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan/atau serologis
merupakan dasr terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan bakteri penyebab tidak selalu
mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang memadai. Oleh karena itu,
pneumonia pada anak umumnya didagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan
keterlibatan sistem respiratori, serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adanya
pneumonia adalah demam, sianosis, dan lebih dari satu gejala respiratori sebagai berikut:
takipnea, batuk, napas cuping hidung, retraksi, ronki dan suara napas melemah.
Akibat tingginya angka morbiditas dan mortalitas pneumonia pada balita, maka dalam
upaya penanggulannya, WHO mengembangkan pedoman diagnosis dan tatalaksana yang
sederhana. Pedoman ini terutama ditujukan untuk Pelayanan Kesehata Primer, dan sebagai
pendidikan kesehatan untuk masyarakat di negara berkembang. Tujuannya adalah
menyederhanakan kriteria diagnosis berdasarkan gejala klinis yang dapat langsung dideteksi.
Gejala klinis sederhana tersebut meliputi napas cepat, sesak napas, dan berbagai tanda bahaya
agar anak segera dirujuk ke pelayanan kesehatan. Tanda bahaya pada anak berusia 2 bulan-5
tahun adalah tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk; tanda
bahaya untuk bayi berusia dibawah 2 bulan adalah malas minum, kejang, kesadaran menurun,
stridor, mengi dan demam/badan terasa dingin.27
Berikut adalah klasifikasi pneumonia berdasarkan pedoman tersebut:
Bayi dan anak berusia 2 bulan 5 tahun:28
Pneumonia berat
Bila ada sesak napas
Harus dirawat dan diberikan antibiotic
Pneumonia
Bila tidak ada sesak napas
Ada napas cepat dengan laju napas :
>50 x/menit untuk anak usia 2 bulan-1 tahun
>40 x/menit untuk anak > 1-5 tahun
Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotic oral
Bukan pneumonia
Bila tidak ada napas cepat dan sesak napas
Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotic, hanya diberikan pengobatan
simptomati seperti penurun panas

Bayi berusia dibawah 2 bulan:


Pada bayi berusia dibawah usia 2 bulan, perjalanan penyakitnya lebih bervariasi, mudah terjadi
komplikasi, dan sering menyebabkan kematian.
Klasifikasi pneumonia pada kelompok usia ini adalah sebagai berikut :
Pneumonia
Bila ada napas cuping cepat (>60 x/menit) atau sesak napas
Harus dirawat dan diberikan antibiotik
Bukan pneumonia
Tidak ada napas cepat atau sesak napas
Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatis.

3.2.10. Penatalaksanaan15
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit, misalnya toksis, distress pernapasan, tidak mau
makan/minum, atau ada penyakit dasar lain, komplikasi, dan terutama mempertimbangkan usia
pasien. Neonates dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis pneumonia harus dirawat inap.
Dasar penatalaksanaan pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan
antibiotic yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi pemberian cairan
intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam-basa, elektrolit, dan
gula darah. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik. Penyakit penyerta
harus ditanggulangi dengan adekuat, komplikasi yang mungkin terjadi harus dipantau dan
diatasi.
Penggunaan antibiotic yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan.
Terapi antibiotic harus segera diberikan pada anak dengan pneumonia yang diduga disebabkan
oleh bakteri.
Identifikasi dini mikroorganisme penyebab tidak dapat dilakukan karena tidak
tersedianya uji mikrobiologis cepat. Oleh karena itu, antibiotic dipilih berdasarkan pengalaman
empiris. Umumnya pemilihan antibiotic empiris didasarkan pada kemungkinan etiologi
penyebab dengan mempertimbangkan usia dan keadaan klinis pasien serta faktor
epidemiologis.

Pneumonia Rawat Jalan15


Pada pneumonia rawat jalan dapat diberikan antibiotic lini pertama secara oral,
misalnya amoksislin atau kotrimoksazol. Pada pneumonia ringan berobat jalan, dapat diberikan
antibiotic tunggal oral dengan efektifitas yang mencapai 90%. Dosis amoksisilin yang
diberikan adalah 25mg/kgBB sedangkan kotrimoksazol adalah 4 mg/kgBB TMP 20mg/kgBB
sulfametoksazol.

Pneumonia Rawat Inap15


Kriteria rawat inap menurut Pedoman Pelayanan Medis 2009 adalah :
Bayi :
- Saturasi Oksigen 92%, sianosis
- Frekuensi napas > 60x/menit
- Distress pernapasan, apnea intermiten, atau grunting
- Tidak mau minum/menetek
- Keluarga tidak bisa merawat di rumah
Anak :
- Saturasi oksigen < 92%, sianosis
- Frekuensi napas > 50x/menit
- Distress pernapasan
- Grunting
- Terdapat tanda dehidrasi
- Keluarga tidak bisa merawat di rumah
Pasien dengan saturasi oksigen 92% pada saat bernapas dengan udara kamar harus
diberikan terapi oksigen dengan kanul nasal, head box, atau sungkup untuk mempertahankan
saturasi oksigen >92%.
- Pada pneumonia berat atau usapan per oral kurang, diberikan cairan intravena dan
dilakukan balans cairan ketat
- Fisioterapi dada tidak bermanfaat dan tidak direkomendasikan untuk anak dengan
pneumonia
- Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk mejaga kenyamanan pasien dan
mengontrol batuk
- Nebulisasi dengan 2 agonis dan/atau NaCl dapat diberikan untuk memperbaiki
mucociliary clearance
- Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus diobservasi setidaknya setiap 4 jam
sekali, termasuk pemeriksaan saturasi oksigen
Pilihan antibiotic lini pertama dapat menggunakan antibiotic golongan beta-laktam atau
kloramfenikol. Pada pneumonia yang tidak responsive terhadap beta laktam dan kloramfenikol,
dapat diberikan antibiotic lain seperti gentamisin, amikasin, atau sefalosporin, sesuai dengan
petunjuk etiologi yang ditemukan. Terapi antibiotic diteruskan selama 7-10 hari pada pasien
dengan pneumonia tanpa komplikasi, meskipun tidak ada studi kontrol mengenai lama terapi
antibiotic optimal.
Pada neonates dan bayi kecil, terapi awal antibiotic intravena harus dimulai sesegera
mungkin. Oleh karena pada neonates dan bayi kecil sering terjadi sepsis dan meningitis,
antibiotic yang direkomendasikan adalah antibiotic spectrum luas seperti kombinasi beta
laktam/klauvulanat dengan aminoglikosid, atau sefalosporin generasi ketiga. Bila keadaan
sudah stabil, antibiotic dapat diganti dengan antibiotic oral selama 10 hari.

3.2.11. Kriteria Pulang15


Gejala dan tanda pneumonia telah menghilang
Asupan peroral adekuat
Pemberian antibiotic dapat diteruskan di rumah (per oral)
Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol
Kondisi rumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan di rumah.
3.2.12. Komplikasi15
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis purulenta,
pneumotoraks, atau infeksi ekstrapulmoner seperti mengitis purulenta. Empiema torasis
merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bacteria.
Ilten F, dkk melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan sistolik ventrikel
kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung) yang cukup tinggi pada seri
pneumonia anak berusia 2-24 bulan. Oleh karena miokarditis merupakan keadaan yang fatal,
maka dianjurkan untuk melakukan deteksi dengan teknik noninavasif seperti EKG,
ekokardiografi, dan pemeriksaan enzim.

3.2.13. Perawatan Suportif dan Pencegahan15


Perawatan supportif pada neonatus dengan pneumonia akan memberikan hasil akhir
yang lebih baik dan menurunkan angka kematian. Hal ini termasuk penggunaan oksigen,
deteksi dan pengobatan hipoksemia dan apnea, termoregulasi, deteksi dan pengobatan
hipoglikemia, dan meningkatkan penggunaan cairan intravena dan suplemen gizi melalui
nasogastrik. Pemberian ASI yang sering sangat dianjurkan kecuali bila ada kontraindikasi yang
pasti, seperti muntah, intoleransi gastrointestinal atau risiko tinggi aspirasi.
Strategi untuk mencegah dan mengobati pneumonia neonatal membutuhkan intervensi
di semua tingkat penyediaan layanan kesehatan seperti masyarakat dan perawatan primer.
Langkah-langkah yang telah terbukti efektif dalam pencegahan pneumonia neonatal meliputi:
(1) manajemen aktif pada penanganan pecah ketuban (2) Inisiasi menyusi dini dan pemberian
ASI eksklusif, dan (3) Menghindari pneumonia nosokomial pada unit perawatan intensif di
mana akibat infeksi yang umum ditemukan seperti enterik basil Gram negatif (E. coli,
Klebsiella, Enterobacter dan Pseudomonas spp), Staphylococcus koagulase negatif dan S.
aureus multiresisten.