Anda di halaman 1dari 82

PERENCANAAN DESAIN INSTALASI STADION

A. PERENCANAAN INSTALASI LAMPU STADION

Gamb

ar1.Luas Lapangan Stadion Perumahan Polinema

Panjang : 110 m

Lebar : 70 m

Lebar Track lari :8m

Untuk merencanakan instalasi penerangan pada Stadion kita harus

mengacu pada standarisasi FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia yang

memiliki tingkatan sesuai dengan kegunaannya.

Untuk penerangan yang baik tentunya mempunyai mempunyai standar

tertentu, maka dari itu FIFA sebagai badan federasi tertinggi sepak bola

memberikan 5 kelas untuk penerangan stadion. Untuk kelas I 200 Lx, kelas II

500 Lx, kelas III 750 Lx, kelas IV iluminasi vertical 1400 Lx dan 2000 Lx

(untuk kamera yang dapat diubah-ubah) juga iluminasi horizontal 2500 Lx, kelas
V iluminasi vertical 1800 Lx dan 2400 Lx (untuk kamera yang dapat diubah-

ubah) juga iluminasi horizontal 3500 Lx. Kelas I digunakan untuk latihan dan

rekreasi, kelas II klub dan liga, kelas III pertandingan nasional, kelas IV

pertandingan nasional, kelas V pertandingan internasional.


B. LAMPU SOROT Floodlight Lamp :

Jenis lampu sorot dilihat dari bentuk sorot cahayanya :

- Circular beam (sorot cahaya melingkar)

- Rectangular beam (sorot cahaya bujur sangkar)

Sorotan cahaya lampu sorot dengan sorot cahaya melingkar dibagi 2 dua yaitu :

- Symetrical beam

- Asymetrical beam

Perbedaan keduanya dapat diperlihatkan oleh gambar berikut :

Gambar 2.11.1. Symmetrical Beam Gambar 2.11. 2.Asymmetrical Beam

Sorotan cahaya lampu sorot dengan sorot cahaya bujur sangkar juga dibagi 2 dua
yaitu :

- Symetrical beam
- Asymetrical beam

Perbedaan keduanya dapat diperlihatkan oleh gambar berikut :

Gambar2.12.1. Symmetrical Beam Gambar2.12.2. Asymmetrical Beam

Contoh Pemasangan lampu Circular Beam dan Rectangular Beam pada sisi
arena
Gambar2.13.1.Circular Beam Gambar 2.13.2.Rectangular Beam

Contoh Pemasangan lampu Circular Beam dan Rectangular Beam pada sistem
diagonal

Gambar 2.14.1.Circular Beam Gambar 2.14.2.Rectangular Beam


C. PERENCANAAN TITIK LAMPU PADA STADION

PERENCANAAN TITIK TENGAH PONDASI MENARA


Standar FIFA tentang peletakan titik tengah pondasi adalah 15 di

belakang titik tengah gawang dan 20 dari sisi lapangan. Dapat dilihat pada

20 15

gambar di bawah ini


Gambar 2.Perencanaan titik tengah pondasi tiang

Warna menandakan area yang tidak boleh ada lampu sorot

Peletakan tiang lampu diletakkan di sudut-sudut dekat dengan tribun di

mana peletakan tiang-tiang lampu tidak mengganggu kenyamanan

penglihatan penonton.

Sehingga ditentukan jarak tiang lampu penerangan dari titik tengah

lapangan 94,5 meter dengan menggunakan standar FIFA dan tidak

mengganggu kenyamanan penglihatan penonton.

PERHITUNGAN TINGGI MENARA

Gambar 3.Perencanaan tiang Lampu Stadion

Contoh penentuan tinggi tiang pada tiang lampu 1 :

Tinggi tiang lampu 1 = tan 25 . jarak titik tengah lapangan ke tiang


= 0,47 x 94,5

= 44,4 m ~> 44,5 m

Ga

mbar 4.Perencanaan jarak tinggi dan jarak titik tengah ke tiang

PERENCANAAN PEMILIHAN ARMATUR LAMPU SOROT


Menggunakan armature polar dengan tipe arena Vision MVF 403 C

Gambar 5 Armature polar tipe arena Vision MVF 403 C


PEMILIHAN LAMPU STADION
Menggunakan lampu tipe MHN-SA 2000 watt,bila di pasang pada armature

polar tipe arena Vision MVF 403C akan menghasilkan flux 200000 lumen.

Gambar 6 Lampu tipe MHN-SA 2000 watt

PERHITUNGAN TITIK LAMPU STADION


Pemilihan kelas stadion sepak bola berdasarkan standar FIFA dengan kelas IV

untuk pertandingan nasional dengan iluminasi sebesar 2000lx (untuk kamera

yang dapat diubah-ubah). Perhitungan titik lampu stadion menggunakan rumus :

E A
n=
FKd
Keterangan :

n= Jumlah armature yang diperlukan

E= Kuat penerangan ( Lux )

A= luas area ( m2 )

= Faktor pemeliharaan

F= Kuat pencahayaan dari lampu ( Lumen )

Kd= Faktor depresi

Data lampu MHN-SA 2000 watt :

F=200000 lm

= 0,5 ( efisiensi total lampu dan arneture )

Data umum :
E= 2000 lux ( yang direncanakan )

A= 110 m x 70 m

Kd= 0,8 ( pada umumnya )

Sehingga jumlah armature yang digunakan adalah :

E A
n=
FKd
200011070
=
0 .5200 . 0000,8
=192,5Lampu
192 ,5
Jumlah lampu per tiang = 4 = 48,125 ~ 48 unit lampu

PERHITUNGAN SUDUT LAMPU SOROT


Jenis lampu sorot yang digunakan adalah jenis Circular beam (sorot
cahaya melingkar) pada sisi arena dengan sistem diagonal. Jumlah lampu yang
telah dihitung dapat berlanjut ke penentuan sudut lampu-lampu tersebut.
Perhitungan sudut lampu-lampu sorot didapatkan dari titik lampu yang telah
ditentukan.
X (m) = 50 m

Y (m) = 80 m

C= 802+50 2=94 ,5 m
h = 44,5 m

D= h2+c2
= 44,52+94,52=104,45m
Gambar 7. Perhitungan sudut Lampu Sorot

Contoh perhitungan lampu sorot 1 di tiang 1 :

Titik lampu yang ditentukan untuk lampu sorot 1 di tiang 1 :

X (m) = 2,9

Y (m) = 3,7

Sehingga

a = 50-2,9 = 47,1 m dan b =80 3,75= 76,25m

Maka C = a2+b2
= 2
47,1 +76,25 2

= 89,62 m

D= h2+c'2
= 44,52+89,62 2=100,06 m
C' 89,62
Cos = = =0.9
D' 100,06

= COS-1 0,9 = 25,80


Untuk sudut-sudut lampu 2 - 48 dengan menggunakan cara yang sama yaitu titik

area yang akan disorot telah ditentukan dapat di lihat pada table yang terdapat

pada lampiran.
D. PERENCANAAN PENGAMAN DAN PENGHANTAR LAMPU STADION

PERENCANAAN PENGHANTAR SDP 1-4


KHA penghantar minimal adalah 125% x In, maka :

125% x In = 125% x 11,3 A = 14,125 A

Dengan memperhatikan suhu 35o C, dengan faktor koreksi sebesar 0,94 :

= 0,94 x In = 0,94 x 11.3 = 10,622 A

Dengan memperhatikan faktor pemasangan :

Menggunakan cable track flat formation

- Number of system : 3

- Number of rack : 3

- Derating factor : 0.81

= 0.81 x In = 0.81 x 11.3 = 9.153 A

Dari perhitungan di atas maka dipilih kabel NYY 4x2,5 mm 2 dengan KHA

sebesar 25A,.

V yang direncanakan = 5% dari tegangan sumber 5% x 380 V = 19 V

L = 110 m (diambil sampel yang terjauh)

X = 56 m/mm2 (lihat tabel di lampiran)

3LI 311011,3
V = X A = 56 2.5 = 15,37 V (masih aman)
Penentuan besar luas penampang penghantar dari SDP 1 (*contoh) ke Tiang

lampu arena ditentukan dengan rumus :

2000 x 48 = 96000 Watt

Arus yang mengalir ke satu tiang lampu penerangan stadion adalah :

P 96000
In = 3V cos = 33800,85 = 171,596 A

KHA = 1,25 x In

= 1,25 x 171,596 A= 214,495 A

Penghantar yang dipilih NYY 3(1X70 mm2) dengan KHA kabel

sebesar 260A, dengan memperhatikan beberapa perhitungan

sebagai berikut:

Suhu 35o C, dengan faktor koreksi sebesar 0,93 :

= 0,93 x In = 0,93 x 260x3 = 725,3 A


Teknik pemasangan :

Menggunakan cable track flat formation

- Number of system : 3

- Number of rack : 3

- Derating factor : 0.81

= 0.81 x In = 0.81 x 171,596 x 3 = 416,978 A

Pertimbangan Susut Tegangan Penghantar


Untuk mengantisipasi jarak pendistribusian elati listrik yang
dengan jarak yang elative jauh, maka perlu dipertimbangkan
pula mengenai susut tegangan dari penghantar, dengan
perhitungan sebagai berikut:

3LI
V = X A
Xcu = 56 m/ mm2 ; L=300m (diambil jarak terjauh)

3300171,596
V = 5670 x 3 = 7,58 V
Sehingga penghantar yang digunakan adalah NYY 3 x (1 x 70 mm2)/P + NYY 2 x

(1 x 70 mm2)/N+PE Merk Supreme, yang mempunyai KHA di dalam pipa sebesar

260 A.
PERHITUNGAN PENGAMAN UNTUK GRUP SDP 1-4
MCB

Satu MCB digunakan untuk mengamankan tiap grup dengan beban 8 buah

lampu sorot, dengan 1 daya lampu sorot 2000 watt

Sehingga arus nominal :

P 20006
3V cos = 33800,85 = 21,45 A
Rating pengaman MCB = 250% x 21,45 A = 53,625 A

Dan dipilih MCB dengan rating arus 32 A, 3 Pole.

MCCB

Untuk menentukan besar rating arus MCCB juga digunakan rumus yang

sama seperti pada penentuan rating arus MCB, dalam hal ini akan
dicontohkan penghitungan besar rating arus MCCB pada SDP 1. Total

beban lampu sorot pada SDP 1 adalah 48 lampu (6 grup)

Sehingga arus nominal :

P 200048
In = 3V cos = 33800,85 = 171,596 A

Rating pengaman MCCB = 250% x 171,596 A = 428,99 A

Dan dipilih pengaman tipe EZC250F 200A (18Ka), 3 Pole, Merk Schneider

Electric.

Untuk SDP 2, 3 dan 4 menggunakan cara yang sama.

Berat Total Per Tiang

Berat 1 unit lampu + armature polar = 0,09 Kg + 14,50 Kg =14,59 Kg


Total beban dalam satu tiang = 14,59 x 48 = 700,32 Kg

PERENCANAAN PEMBUMIAN PADA TIANG LAMPU SOROT


Data elektroda batang tembaga, yaitu :

Jenis elektroda : ground rod (tembaga)

Diameter : 16 mm

Jari-jari (r) : 8 mm

Panjang elektroda (l) : 2,4 m

Jarak antar elektroda (L) : 2,4 m


Tahanan jenis (tanah sawah) : 30 m (PUIL 2000)

.K
R=( ) x faktorpengalikonfigurasi
2l
K = faktor pengali elektroda batang tunggal

l 2.4
r = 0.008 = 300

K = 5,3 (*lihat tabel)


Sehingga resistansi yang didapat dengan menggunakan elektroda batang

tunggal :

.K
R=( )
2l

30 5,3
R=( )
23,142,4 = 10,55

Karena menurut standar PUIL 2000 tahanan pentanahan yang standar

harus di bawah 5 maka pentanahan elektroda batang tunggal tidak

dipakai dan menggunakan pentanahan konfigurasi.

Sehingga perencanaan ini menggunakan konfigurasi triple straight agar

mendapatkan tahanan pentanahan di bawah 5 .

Gambar 4.14 Elektroda

1+ L
x= L

1+2 . 4
=1. 4167
x= 2. 4

ln (x )
l
ln ( )
m= r
ln (1 . 4167 )
2. 4
ln ( )
m= 0 . 008

ln (1.4167)
m = ln (300)

0. 3483
m= 5 . 703

m = 0.061

ln Y
l
ln ( )
n= r

1+2 L
Y= 2L

1+2 x 2.4
Y= 2 x 2.4
5 .8
Y= 4 .8

Y = 1.2084

1. 2084
2. 4
ln ( )
n= 0 . 008

1.2084
n = ln (300)

1 . 2084
n = 5 . 7037

n = 0.2118
2
12 m +n
faktor pengali = 34 m+n

2
12 (0 . 061) +0 . 2118
faktor pengali = 34 (0, 061)+0. 2118

1 . 21180. 007442
faktor pengali = 3 .21180. 244

1 . 204358
faktor pengali = 2 . 9678

faktor pengali = 0.4059

Bessarnya tahanan pentanahan :

30 5,3
R=( )
23,142,4 x 0.4059

R = 4,28

Jadi untuk mencapai nilai pembumian sebesar 4,28 ohm pada tiang penerangan ini

diperlukan 3 buah elektroda batang tembaga dengan konfigurasi triple straight.

Untuk perencanaan pentanahan yang lain menggunakan cara yang sama.


E. PERHITUNGAN TOTAL DAYA YANG DIBUTUHKAN DAN
PERENCANAAN TRAFO

TOTAL DAYA YANG DIBUTUHKAN


Untuk memilih trafo yang akan digunakan dalam instalasi TM/TM/TR maka harus

memperhatikan ketentuan-ketentuan diantaranya:

1. Harus mengetahui nilai beban total.

Pemilihan harus memperhatikan hubungan daya terpasang (riil) dan daya tersambung

(dari PLN) dengan daya pada trafo. Hal ini ditujukan untuk menentukan nilai daya

tersambung yang sesuai dengan nilai daya yang tersedia pada tarif dasar listrik (TDL).

Nilai total daya terpasang diperoleh dari penjumlahan keempat kelompok beban yang
sudah ditentukan, sebagai berikut :
S = SDP 1 + SDP 2 + SDP 3 + SDP 4 + SDP 5
S = 112941,12 + 112941,12 + 112941,12 + 112941,12 + 333,333 VA
S = 452097,81 VA ~ 452,1 kVA
Dari nilai total daya terpasang dapat ditentukan nilai daya tersambung yang tersedia

pada TDL. Nilai total daya terpasang yang telah dihitung adalah sebesar 452,1 kVA.

PENENTUAN DAYA TRAFO


Dalam penggunaan energi listrik pada masa mendatang nilai beban dapat kita prediksi

akan bertambah. Pertambahan beban harus diantisipasi dari sekarang dengan

memberikan kuota daya lebih dari total nilai daya terpasang. Oleh karena itu daya

terpasang dapat dipertimbangkan agar dibebankan sebesar 80% dari nilai daya

maksimum trafo. Dan diperkirakan penambahan beban sebesar 20 % Sehingga daya

trafo yang dibutuhkan sebesar :

Kapasitas Daya Terpasang :


= Kebutuhan Beban Maksimum x 120 %

= 452,1 x 120 %

= 542,52 kVA

Sehingga trafo harus memenuhi nilai daya sebesar 542,52 kVA.

Maka dipilih trafo 800 kVA karena untuk mengantisipasi jika ada penambahan beban
dan daya yang memuncak. Jika menggunakan trafo yang lebih kecil akan berdampak
buruk bagi proses produksi dan biaya mahal jika ada penambahan jumlah trafo lagi.
Dengan perhitungan sebagai berikut:
Daya terpasang
DayaTRAFO= x 100
3 x Daya terpasang di atasnya
542,52
DayaTRAFO= x 100
800
DayaTRAFO=67,8 %
Tidak dipilih trafo dengan kapasitas 630kVA, karena jika dipilih, ketika dalam keadaan

beban puncak, pembebanan trafo sebesar 86,06% yang dimana menunjukkan tidak

sesuai standar pembebanan trafo. Dapat dibuktikan dengan perhitungan berikut:

Daya terpasang
DayaTRAFO= x 100
3 x Daya terpasang diatasnya
542,52
DayaTRAFO= x 100
630
DayaTRAFO=86,11 %
Dasar Pembebanan trafo adalah sebagai berikut :
- IEEE Std. 446 1980 (Pembebanan trafo antara 75% sampai 85%)
- SPLN_1 1995 (Tegangan tegangan standar hal 4 tabel 3)
- SPLN_2 1978 (Pentanahan netral pada sistem transmisi)
- Umur Trafo:
a. Pembebanan yang terpengaruh minyak
b. Pembebanan yang terpengaruh susut umur minimal sebesar 0,24 PU/hari
(untuk pembebanan sebesar 80%) sedangkan untuk pembebanan sebesar
100% 1 PU/hari. (Mengacu pada standart IEC 354)
Karena daya yang tersambung diatas 200 kVA, maka trafo tidak memakai GTT (Gardu
Trafo Tiang), melainkan Gardu Distribusi. Penyediaan trafo ditanggung pelanggan dan
rugi-rugi (kVARh) pada jaringan di tanggung pula oleh pelanggan. Pelanggan
TM/TM/TR dengan golongan tariff B-3 / TM (pelanggan di atas 200kVA),
menggunakan alat ukur dengan KWH meter kode sambungan 412 dan kVARH meter
kode sambungan 402 yaitu:
412 = 4 kawat, double tarif dan register sekunder, register sekunder menggunakan CT
dan PT.
402 = 4 kawat, single tarif dan register sekunder, register sekunder menggunakan CT
dan PT.
Kehandalan sistem yang dikehendaki :
a. Teknik koordinasi antar pemutus daya menggunakan sistem diskriminasi.
Diskriminasi adalah jika pada salah satu sisi bawah pada MDP-LV terjadi
gangguan maka pengaman terdekat harus harus putus tanpa terjadi
gangguan di pengaman lainnya. Pengaman akan trip jika arus yang
melewati melebihi arus nominal ( In )
b. Mudah dalam perawatan dan pengoperasian
c. Menggunakan supply dari dua sumber yaitu PLN dan Genset. Jika terjadi
pemadaman dapat dialihkan ke genset untuk memenuhi kebutuhan daya
listrik.
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan transformator antara lain :
Daya nominal
Tegangan input
Sistem tegangan ( satu phasa / tiga phasa )
Rugi rugi no load losses and load losses
Noise
Sistem pendinginan
Harga

PERENCANAAN PENGHANTAR DAN PENGAMAN TRAFO

PERENCANAAN BUSHING TRAFO


Untuk pemilihan bushing pada trafo, dapat dilakukan dengan perhitungan arus nominal
pada sisi primer dan sekunder trafo.
Sisi Primer :
S 800 kVA
= = =23,09 A
3 V 3 20 kV
Menggunakan bushing indoor untuk 20 kV
Sisi Sekunder :
S 800 kVA
= = =1154,7 A
3 V 3 400 V
Menggunakan bushing untuk 2000A
F. PERHITUNGAN PERENCANAAN KABEL KUBIKEL, LVMDP

ARUS NOMINAL PRIMER


a. KABEL DARI SUTM MENUJU INCOMING KUBIKEL PLN ( 3 core)
800 kVA
= = 23,09A
3 . 20 kV
KHA = 1,25 x 23,09 A = 28,86 A
Faktor Penempatan = 1 (Grouping of multicore cable, number of grouping 1)
Faktor suhu = 1 ( XLPE insulation 30 0C)

Di rencanakan kabel dibumikan, Maka penghantar yang digunakan adalah


NA2XSEYFGbY 12/20 (24kV) SPLN 43-5/IEC 60502-2 dengan luas penampang
penghantar fasa 1(3x35mm2) dengan KHA 132 A di suhu 30 0C (AL) di tanah (merk
supreme)

b. OUTGOING KUBIKEL PLN MENUJU INCOMING KUBIKEL


PELANGGAN ( 3 core)
800 kVA
= = 23,09A
3 . 20 kV
KHA = 1,25 x 23,09 A = 28,86 A
Faktor Penempatan = 1 (Grouping of multicore cable, number of grouping 1)
Faktor suhu = 1 ( XLPE insulation 30 0C)
Maka penghantar yang digunakan adalah NA2XSY 12/20 (24kV) SPLN 43-5/IEC
60502-2 dengan luas penampang penghantar fasa 3(1x35mm) dengan KHA 155 A di
suhu 30 0C (AL) di udara (merk supreme)

c. OUTGOING KUBIKEL PELANGGAN MENUJU INCOMING TRAFO (1


core)
In = 23,09 A
KHA = 1,25 x 23,09 A = 28,86 A
Faktor Penempatan = 0,96 ( Laid on the racks in flat formation, number of system 3
and number of racks 1)
Faktor suhu = 0,96 ( XLPE insulation 350C)

Maka penghantar yang digunakan adalah NA2XSY 12/20 (24kV) SPLN 43-5/IEC
60502-2 dengan luas penampang penghantar fasa 3(1x35mm) dengan KHA 155 A di
suhu 30 0C (CU) di udara (merk supreme).
KHA = KHA kabel x faktor penempatan x faktor suhu
KHA = 155 x 0,96 x 0,96 = 142,848 A ( memenuhi syarat)
ARUS NOMINAL SEKUNDER (OUTGOING TRAFO MENUJU LVMDP)
800 kVA
= = 1154,7A
3 . 400
KHA = 1,25 X 1154,7 = 1443,38A
Karena di pasaran tidak ada kabel yang KHA nya sampai 1443,38A, maka jumlah kabel
ditambah dengan luas penampangnya yang di pilih.
Di pilih kabel NYY 0,6/1 (1,2) KV SPLN 43-1/ IEC 60502-1 dengan luas penampang
120 mm2 dengan KHA 375 A di suhu 300C di udara (merk supreme)
1154,7
Jumlah penghantar = = 3,08 ~ 4 buah
375
Jadi jumlah per fasa 4 kabel, karena bushing trafo di sisi LV (poercelain bushings
according to EN 50368) jumlahnya 4 lubang, maka setiap 1 lubang ada 2 kabel.
Faktor Penempatan = 0,96 ( Laid on the racks in flat formation, number of system
3 and number of racks 1)
Faktor suhu = 0,93 ( PVC insulation 350C)

KHA = jumlah kabel x KHA kabel x faktor penempatan x faktor suhu


KHA = 4 x 375 x 0,96 x 0,93 = 1339,2 A
Di lihat dengan drop tegangan :

3LI
V = X A ; L=20m, Xcu = 56
3201154,7
V = 56120 x 4 = 1,49V
Drop tegangan pada JTR adalah + 5 % sampai 10% (SPLN 1 : 1995)
Maka kabel yang di gunakan sudah memenuhi syarat.
Jadi - kabel Perfasa 4(1 x 120 mm2)
- Kabel netral 2(1 x 120 mm2)
- Kabel PE 2(1 x 120 mm2)
Busbar dari pengaman utama ke LVMDP
In = 1154,7A
KHA = 1,25 x 1154,7 = 1443,375 A
Dari PUIL 2000 hal 235 tabel 6.6 1 di pilih busbar ukuran 80 x 10 ( 800 mm2)
dengan jumlah 2 batang busbar dilapisi lapisan konduktif dengan KHA 1590 A,
suhu sekitar 30 35 0C dan suhu penghantar tembaga maksimum 35 0C.
G. PERHITUNGAN Isc
Untuk menghitung besarnya Breaking Capasity dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:
1. Menulis data data kelistrikan yang ada di penyulang.

2. Dengan perhitungan melalui rumus yang sudah ditetapkan. Untuk Jawa Timur
besarnya P = 50081,37 MVA

3. S = 800 kVA , Usc = 4,5% , VL = 400 V , Vo = 400 V

Resistansi (m) Reaktansi (m)


A. Sisi Atas TM 20 kV
Cos = 0,15 sin =0,98
R1=0,12 m X 1=0,784 m

2
B. Transformator 410
Z2 = X 4,5 = 9,45 m
800 kVA, Vsc = 4,5% 800

Pcu = 9100 W, Pfe = 1750 W X 2= Z 22R22= 9,452 2,392=9,14 m


In = 800kVA / ( 3 x 400 = 1154,7 A
( 6 500 x 4002 x 103 )
R2 =
6 302

( 9100 x 410 2 x 103 )


= 2,39 m
8002
C. Koneksi kabel dari trafo menuju MDP Untuk sistem 1 phasa
R3=0 m 0,12 x L 0,12 x 20
X 3= =
4 4
0,6 m

D. MCB/Pengaman
X 4 =0 m
R4 =0 m

E. Busbar Trafo
L = 0,25m X5 = 0,15 x L = 0,15 x 0,25 = 0, 0375
A = 250 m 2 (50x5 mm)
R5 = 0 m m
F. Busbar Utama
L = 1m
A = 250 m 2 X6 = 0,15 x L = 0,15 x 1 = 0,15 m
R6 = 0 m

G. Busbar Beban
L = 0,25 m
Kelompok 1 X7 = 0,15 x 0,25 = 0,0375 m
S 112941,12
In = = = 171,16
V x 3 380 x 3
A
KHA = 1,25 x In = 1,25 x 171,16 =
213,95 A
A = 70 mm2
L 0,25
R7 = =22,5 = 0,08 m
S 70

MCB R8 = 0 m
X8 = 0 m
Kelompok 2
S 112941,12
In = = = 171,16 X9 = 0,15 x 0,25 = 0,0375 m
V x 3 380 x 3
A
KHA = 1,25 x In = 1,25 x 171,16 =
213,95 A
A = 70 mm2
L 0,25
R9 = =22,5 = 0,08 m
S 70

MCB R10 = 0 m
X10 = 0 m
Kelompok 3
S 112941,12
In = = = 171,16 X11 = 0,15 x 0,25 = 0,0375 m
V x 3 380 x 3
A
KHA = 1,25 x In = 1,25 x 171,16 =
213,95 A
A = 70 mm2
L 0,25
R11 = =22,5 = 0,08 m
S 70
X12 = 0 m
MCB R12 = 0 m

Kelompok 4
S 112941,12 X13 = 0,15 x 0,25 = 0,0375 m
In = = = 171,16
V x 3 380 x 3
A
KHA = 1,25 x In = 1,25 x 171,16 =
213,95 A
A = 70 mm2
L 0,25
R13 = =22,5 = 0,08 m
S 70
X14 = 0 m
MCB R14 = 0 m
X15 = 0,15 x 0,25 = 0,0375 m
Kelompok 5

S 333,333
In = = =0 , 5 A
V 220
KHA = 1,25 x 0,5 = 0,63 A
A = 1,5 mm2
L 0,25
R15 = =22,5 = 3,75 m X16 = 0 m
S 1,5

MCB R16 = 0 m

1. Arus Hubung Singkat Pengaman Utama

Resistansi dan reaktansi total untuk menentukan Isc pada trafo dapat dihitung:
Rt 1=R 1+ R 2+ R 3+ R 4=0,12+ 2,39+ 0+0=2,51 m
X t 1=X 1 + X 2 + X 3 + X 4=0,784+9,14 +0,6+0=10,524 m
Arus hubung singkat pada pengaman utama dapat dihitung dengan rumus :
V0 V0 400
I HS= = =
3 Z 3 R t 1 + X t 1 3 2,512+10,524 2
2 2

21,3 kA
In = 1154,7 A
KHA = 1443,38A
MCCB = 1250 A
Pengaman yang digunakan adalah MCCB Compact NS1250N type

micrologic 2.0 A dengan rated 1250 A.

2. Arus hubung singkat pengaman cabang

Kelompok 1
Rt 2=R t 1 + R5 + R6 + R7 + R8 =2,51+0+0+ 0,08+0=2,59 m
X t 2=X t 1 + X 5+ X 6 + X 7 + X 8=10,524+ 0,0375+0,15+0,0375+0=10,749 m
V0 V0 400
I HS= = =
3 Z 3 R + X
2
t2
2
t2 3 2,592 +10,7492
1,89 kA
In = 171,596 A
KHA = 214,495 A
MCCB = 200A

Pengaman yang digunakan adalah EACY PACT tipe EZC250F dengan rating
200A.

Kelompok 2
Rt 2=R t 1 + R5 + R6 + R9 + R10=2,51+ 0+0+0,08+ 0=2,59 m
X t 2=X t 1 + X 5+ X 6 + X 9 + X 10=10,524+0,0375+ 0,15+0,0375+0=10,749 m

V0 V0 400
I HS= = =
3 Z 3 R t 2 + X t 2 3 2,592 +10,7492
2 2

1,89 kA
In = 171,596 A
KHA = 214,495 A
MCCB = 200A

Pengaman yang digunakan adalah EACY PACT tipe EZC250F dengan rating
200A.
Kelompok 3
Rt 2=R t 1 + R5 + R6 + R11 + R 12=2,51+ 0+0+0,08+ 0=2,59 m

X t 2=X t 1 + X 5+ X 6 + X 11 + X 12=10,524+0,0375+ 0,15+0,0375+0=10,749 m

V0 V0 400
I HS= = =
3 Z 3 R t 2 + X t 2 3 2,592 +10,7492
2 2

1,89 kA
In = 171,596 A
KHA = 214,495 A
MCCB = 200A
Pengaman yang digunakan adalah EACY PACT tipe EZC250F dengan rating
200A.
Kelompok 4

Rt 2=R t 1 + R5 + R6 + R13 + R14 =2,51+ 0+0+0,08+ 0=2,59 m

X t 2=X t 1 + X 5+ X 6 + X 13 + X 14 =10,524+0,0375+0,15+ 0,0375+0=10,749m

V0 V0 400
I HS= = =
3 Z 3 R + X
2
t2
2
t2 3 2,592 +10,7492
1,89 kA
In = 171,596 A
KHA = 214,495 A
MCCB = 200A

Pengaman yang digunakan adalah EACY PACT tipe EZC250F dengan rating
200A.
Kelompok 5

Rt 2=R t 1 + R5 + R6 + R15 + R16 =2,51+0+ 0+3,75+0=6,26 m


X t 2=X t 1 + X 5+ X 6 + X 15 + X 16=10,524 +0,0375+0,15+ 0,0375+ 0=10,749 m

V0 V0 400
I HS= = =
3 Z 3 R + X
2
t2
2
t2 3 6,262 +10,7492
18,56 kA
In = 0,5 A
KHA = 1,875 A
MCB = 6A

Pengaman yang digunakan adalah MCB dengan rating 6A.


H. PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN KUBIKEL

PEMILIHAN KOMPONEN KUBIKEL


Kubikel 20 kV adalah komponen peralatan untuk memutuskan dan
menghubungkan, pengukuran, tegangan, arus maupun daya, peralatan proteksi dan
control. Didalam perencanaan ini, pelanggan memesan daya kepada PLN sebesar
800 kVA, pelanggan ini termasuk pelanggan TM / TM / TR sehinga trafo milik
pelanggan, rugi-rugi di tanggung pelanggan, pengukuran di sisi TM dan trafo
ditempatkan di gardu distribusi.
Kubikel terdiri dari dua unit. Pertama adalah milik PLN (yang bersegel) dan
kubikel milik pelanggan (hak pelanggan sepenuhnya). Setiap kubikel terdiri dari
incoming, metering dan outgoing. Pada perencanaan ini, kubikel pelanggan dan
PLN disamakan spesifikasinya, karena selain PLN, pelanggan juga perlu
memonitoring metering milik pelanggan itu sendiri. Spesifikasi kubikel ialah:
1. Incoming : IM
2. Metering : CM
3. Outgoing : DM1-A
Dari schneider / Merlin Gerin
1. INCOMING (IMC)
Terdiri atas LBS (load break switch), coupling kapasitor dan CT (Current
Transformator)
- LBS ( Laod Break Switch)
LBS ialah pemutus dan penyambung tegangan dalam keadaan berbeban,
komponen berbeban terdiri atas beberapa fungsi yaitu:
1. Earth Switch
2. Disconnect Switch
3. Load Break Switch
Untuk meng-energized, proses harus berurutan (1-2-3) dan memutus
beban harus dengan urutan kebalikan (3-2-1)
- Coupling Capasitor
Dalam penandaan kubikel membutuhkan lampu tanda dengan tegangan kerja
400 kV. Karena pada kubikel mempunyai tegangan kerja 20 kV, maka tegangan
tersebut harus diturunkan hingga 400 V menggunakan coupling capasitor dengan
5 cincin yang menghasilkan output tegangan
= 20 kV/5 = 400 V
2. METERING (CM2)
Terdiri atas LBS type CS, busbar 3 phasa, LV circuit isolation switch, LV fuse, 3
fuse type UTE atau DIN 6.3 A, Potensial Transformer (PT) dan heater 150 W
(karena daerah dengan tingkat kelembaban tinggi).
- Load Break Switch type CS
Dioperasikan dengan pengungkit yang terdiri atas :
1. Earth switch
2. Disconnect switch

- Potensial Transformer (PT)


- Transformer VRQ2 - n / S1 phase to phase 50 Hz
- Reted voltege : 24 kV
- Primary voltage : 20 kV
- Secondary voltage : 100 V
- Thermal power : 250 VA
- Kelas akurasi : 0,5
- Fuse
Fuse yang digunakan pada kubikel metering tergantung dari tegangan
kerja dan transformator yang digunakan.
Maka di pilih fuse dengan spesifikasi :
Fuse solefuse (UTE Standards) dengan
Rating arus 6,3 to 63 A
Rating voltage 24 kV
NB: Keterangan lebih lengkap bisa dilihat katalog kubikel
- Heater 50 W
Heater digunakan sebagai pemanas dalam kubikel. Sumber listrik heater
ini berdiri sendiri 220 V-AC. Difungsikan untuk menghindari flash over akibat
embun yang ditimbulkan oleh kelembaban di sekitar kubikel.

3. OUTGOING (DM1-A)

Terdiri atas:
SF1 atau SF set circuit breaker (CB with SFG gas)
Pemutus dari earth switch
Three phase busbar
Circuit breaker operating mechanism
Dissconector operating mechanism CS
Voltage indicator
Three ct for SF1 CB
Aux- contact on CB
Connections pads for ary-type cables
Downstream earhting switch.
Dengan aksesori tambahan:
Aux contact pada disconnector
Additional enclosure or connection enclosure for cabling from above
Proteksi menggunakan stafimax relay atau sepam progamable electronic unit
for SF1 CB.
Key type interlock
150 W heating element
Stands footing
Surge arrester
CB dioperasikan dengan motor mekanis.
NB: Keterangan lebih lengkap bisa dilihat katalog kubikel

PEMILIHAN KOMPONEN KUBIKEL


Pemilihan Fuse
Fuse = 400% x In
= 4 x 23,09 A
= 92,37 A
Maka di pilih fuse dengan spesifikasi :
Fuse solefuse (UTE Standards) dengan
Rating arus 80 A
Rating voltage 24 kV
NB: Keterangan lebih lengkap bisa dilihat katalog kubikel
Pemilihan Disconnecting Switch (DS).
Disconnecting switch merupakan peralatan pemutus yang dalam kerjanya
(menutup dan membuka) dilakukan dalam keadaan tidak berbeban, karena alat ini
hanya difungsikan sebagai pemisah bukan pemutus.
Jika DS dioperasikan pada saat keadaan berbeban maka akan terjadi flash
over atau percikan-percikan api yang dapat merusak alat itu sendiri.
Fungsi lain dari disconnecting switch adalah difungsikan sebagai pemisah
tegangan pada waktu pemeliharaan dan perbaikan, sehingga dperlukan saklar
pembumian agar tidak ada muatan sisa.
Karena DS dioperasikan sebagai saklar maka perhitungannya adalah :
S (trafo )
I= 1, 15
320 kV
800 kVA
I= 1, 15
320 kV
= 23,09A
Sehingga dipilih DS dengan type SF 6 with earthing switch.
NB: Keterangan lebih lengkap bisa dilihat katalog kubikel
Pemilihan Load Break Switch.
Kemampuan pemutus ini harus disesuaikan dengan rating nominal dari
tegangan kerja, namun LBS juga harus mampu beroperasi saat arus besar ( Ics )
tanpa mengalami kerusakan.
Cara pengoperasian LBS bisa secara manual yaitu digerakkan melalui
penggerak mekanis yang dibantu oleh sisitem pegas dan pneumatic.pemilihan
LBS ditentukan berdasarkan dengan Rating arus nominal dan tegangan kerjannya :
S 800 kVA
= = =23,09 A
3 x 20 kV 3 x 20 kV
LBS = 115 % x In = 1,15 x 23,09 A = 26,55 A
NB: Keterangan lebih lengkap bisa dilihat katalog kubikel
Pemilihan CB
CB = 250% x In
= 250% x 18,18 A
= 57,73 A
NB: Keterangan lebih lengkap bisa dilihat katalog kubikel
Saklar Disconnector dan Saklar Pentanahan

Tabung Udara
Tiga kontak putar ditempatkan dalam satu enclosure dengan tekanan gas
relative 0,4 bar.

Operasi Keamanan
Saklar
memiliki tiga posisi, yaitu:
- Tertutup
- Terbuka
- Ditanahkan
- Dengan system operasi interlock, mencegah terjadinya kesalahan
pengoperasian.
- Current Transformator (CT)
Trafo yang digunakan adalah trafo dengan daya 800 kVA. Sehingga arus
nominalnya ialah:
Daya trafo
=
3 teganganmenengah
800 kVA

3 20 kV
23,09 A
meter yang digunakan hanya mampu menerima arus sampai 5 A.
Sehingga dibutuhkan trafo arus (CT) dengan spesifikasi:
1. Transformer ARM2/N2F
2. Single Primary Winding
3. Double Secondary Winding Untuk Pengukuran dan Pengaman
4. Arus rating : 50 A / 5
5. Measurement 5A : 7,5 VA class 0,5
6. and protection 5A : 10 VA 5P10
I. PERENCANAAN GENSET
Penggunaan genset adalah 60% dari daya total.

Beban total sebesar 452097,81 VA .

Daya genset = beban total x 60%

= 452,1 x 60%

= 271,26 kVA

Namun karena prioritas daya untuk penerangan lapangan, sedangkan dengan

pembebanan sebesar 60% penerangan lapangan masih belum terpenuhi maka diperlukan

pembebanan genset sebesar 80%:

Daya genset = beban total x 80%

= 452,1 x 80%

= 361,68 kVA

Daya genset yang digunakan = daya genset x 120%

= 361,68 x 120%

= 434,02 kVA

Dengan begitu akan digunakan genset dengan daya sebesar 500 kVA dengan Merk

Mitsubishi Tipe EPMIT450 Standby, yang akan meliputi semua penerangan area

lapangan. Dimensi genset dengan kapasitas 500 kVA yang dipilih mempunyai dimensi

sebagai berikut :

Panjang (L) : 3000 mm

Lebar (W) : 1460 mm

Tinggi (H): 1900 mm

Berat Genset : 3700 kg


PERENCANAAN PENGAMAN GENSET
434,02 kVA
= 626,45 A
In= 3400
Ip maks = 250% x 626,45 A

= 1566,12 A

Berdasarkan perhitungan pengaman diatas maka dipilih pengaman genset dengan Ip

maks = 1566,12 A maka pengaman menggunakan ACB:

Merk : Schneider

Tipe : COMPACT NSX630N

Isc : 50 kA

In : 630 A
PERENCANAAN PENGHANTAR GENSET
KHA = 125% x In

KHA = 125% x 626,45

KHA = 783,1 A

Sehingga di pilih kabel NYY 2 (1x185 mm 2) per phasa yang mempunyai KHA 490 A

dan untuk penghantar 3 phasa dipilih NYY 2 ( 1 x 185 mm2 ) Merk Supreme.

Dengan memperhatikan suhu 35o C, dengan faktor koreksi sebesar 0,94 :

= 0,94 x In = 0,94 x 490 x 2 = 921,2 A

Dengan memperhatikan faktor pemasangan :

Menggunakan cable track flat formation

- Number of system : 3

- Number of rack : 3

- Derating factor : 0.81

= 0.81 x In = 0.81 x 490 x 2 = 793.8 A

Perhitungan Jatuh Tegangan


L = 20 m
V=
3 L
xA
V= 3 783,1 20
=1,31 V
56 2 185
PERENCANAAN BUSBAR GENSET
In = 626,45A
KHA = 1,25 x 626,45 = 783,1 A
Dari PUIL 2000 hal 235 tabel 6.6 1 di pilih busbar ukuran 60 x 5 ( 300
mm2) dengan jumlah 2 batang dilapisi lapisan konduktif dengan KHA 825 A,
suhu sekitar 30 35 0C dan suhu penghantar tembaga maksimum 35 0C.
J. PEMILIHAN AUTOMATIC TRANSFER SWITCH
Untuk memindahkan sumber dari PLN ke Genset digunakan ATS (Automatic Transfer

Switch). Pemilihan ATS digunakan sebagai saklar oleh karena itu ATS harus mampu

menghubungkan dan memutuskan dalam keadaan berbeban. Pemilihan ATS digunakan

sebagai saklar oleh karena itu ATS harus mampu menghubungkan dan memutuskan

dalam keadaan berbeban. Kemampuan ATS minimal sama dengan arus nominal beban.

Merk : CATERPILLAR

Ampere Rating : 800 A

Pole :4

Height : 74 (1880) mm

Width : 40 (1016) mm

Depth : 20 (508) mm

Reference figure :B

Weight : 490 (222) kg


K. PERHITUNGAN ARRESTER DAN CUT OUT

ARRESTER
Arrester dipakai sebagai alat proteksi utama dari tegangan lebih. Oleh karena
pemilihan arrester harus sesuai dengan peralatan yang dilindunginya. Karena
kepekaan arrester terhadap tegangan, maka pemakainya harus disesuikan dengan
tegangan sistem.
Pemilihan lightning arrester dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat isolasi dasar
yang sesuai dengan Basic Insulation Level (BIL) peralatan yang dilindungi,
sehingga didapatkan perlindungan yang baik.
Pada pemilihan arrester ini dimisalkan tegangan impuls petir yang datang
berkekuatan 400 KV dalam waktu 0,1s, jarak titik penyambaran dengan
transformator 5 Km.
Tegangan dasar arrester
Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi tegangan tinggi
(primer) yaitu 20 PPPPKV. Tegangan dasar yang dipakai adalah 20 KV sama
seperti tegangan pada sistem. Hal ini dimaksudkan agar pada tegangan 20 KV
arrester tersebut masih bisa bekerja sesuai dengan karakteristinya yaitu tidak
bekerja pada tegangan maksimum sistem yang direncanakan, tetapi masih tetap
mampu memutuskan arus ikutan dari sistem yang effektif.Tegangan sistem
tertinggi umumnya diambil harga 110% dari harga tegangan nominal sistem.
Pada arrester yang dipakai PLN adalah :
Vmaks = 110% x 20 KV
= 22 KV, dipilih arrester dengan tegangan teraan 28 KV.
Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke tanah
dalam keadaan gangguan pada tempat dimana penagkal petir, dengan tegangan
rms fasa ke fasa tertinggi dari sistem dalam keadaan tidak ada gangguan. Untuk
menetukan tegangan puncak (Vrms) antar fasa dengan ground digunakan
persamaan:

Vm
Vrms = 2
22
= 2
= 15,5 KV
Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan phasa
dengan ground pada sistem 3 phasa didapatkan persamaan :
Vrms2
Vm(L - G) = 3
15 ,5 2
= 3 = 12,6 KV
12,6 KV
Koefisien pentanahan = 15,5 KV
= 0,82
Keterangan :
Vm = Tegangan puncak antara phasa dengan ground (KV)
Vrms = Tegangan nominal sistem (kV)
Tegangan pelepasan arrester
Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus
pelepasan, tetapi kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier dari penangkap
petir.
Tegangan yang sampai pada arrester :
e
Eo = K .e. x
400 KV
Eo = 0,00065 Km
= 133,3 KV
Keterangan :
Eo = tegangan yang sampai pada arrester (KV)
e = puncak tegangan surja yang datang
K = konsatanta redaman (0,0006)
x = jarak perambatan
Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran
yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi teganagn flasover dan
probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga
harga e adalah :
e =1,2 BIL saluran
Keterangan :
e = tegangan surja yang datang (kV)
BIL = tingkat isolasi dasar transformator (kV)
Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)
2 eEo
I = Z+R
Z adalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena jarak
perambatan sambaran tidak melebihi 10 Km dalam arti jarak antara GTT yang
satu dengan yang GTT yang lain berjarak antara 8 KM sampai 10 KM. ( SPLN
52-3,1983 : 11 )
tegangan kejut impuls100
R =
arus pemuat
105 KV
= 2,5 KA
= 42
2400 KV 133 , 3 KV
I = 0+42 = 15,8 KA
Keterangan :
I = arus pelepasan arrester (A)
e = tegangan surja yang datang (KV)
Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)
Z = impedansi surja saluran ()
R = tahanan arrester ()
Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
V =IxR

Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai persamaan :


ea = Eo + (I x R)
Keterangan :
I = arus pelepasan arrester (KA)
Eo = tegangan arrester pada saat arus nol (KV)
ea = tegangan pelepasan arrester (KV)
Z = impedansi surja ()
R = tahanan arrester ()
Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)
Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam
impulse crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu
gelombang 1,5 x 40 s. Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus
mempunyai karakteristik ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL
tersebut.
Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran
yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan flasover dan
probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamananny sehingga
harga E adalah :
e =1,2 BIL saluran
e = 1,2 x 150 KV
e = 180 KV
Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam
impulse crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu
gelombang 1,2/50 s. Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus
mempunyai karakteristik ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL
tersebut. Sehingga dipilih BIL arrester yang sama dengan BIL transformator
yaitu 150 kV
Margin Perlindungan Arrester
Untuk mengitung dari margin perlindungan dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :
MP = (BIL / KIA-1) x 100%
MP = (150 KV/ 133,3 1) x 100%
= 125.28 %
Keterangan :
MP = margin perlindungan (%)
KIA = tegangan pelepasan arrester (KV)
BIL = tingkat isolasi dasar (KV)
Berdasarkan rumus di atas ditentukan tingkat perlindungan untuk tafo
daya. Kriteria yang berlaku untuk MP > 20% dianggap cukup untuk melindungi
transformator .
Jarak penempatan Arrester dengan Peralatan
Penempatan arrester yang baik adalah menempatkan arrester sedekat
mungkin dengan peralatan yang dilindungi. Jarak arrester dengan peralatan Yang
dilindungi digunakan persamaan sebagai berikut :
2Ax
Ep = ea + v
24000 KV /sx
125 = 133,3 KV+ 300 m/s
8,3 = 26,6x
x = 0,31 m
jadi jarak arrester sejauh 31 cm dari transformator yang dilindungi.
Perhitungan jarak penempatan arrester di atas digunakan untuk transformator
tiang. Namun di wilayah Malang juga terdapat penempatan transformator di
permukaan tanah dengan menggunakan kabel tanah. Transformator tersebut
berada dalam tempat terpisah dengan pengaman arresternya. Transformator
diletakkan di atas tanah dan terhubung dengan arrester yang tetap diletakkan di
atas tiang melalui kabel tanah.

Tabel Batas Aman Arrester


IMPULS BIL BIL KONDISI KETERANGAN
PETIR ARRESTER TRAF0
(KV) (150 KV) (125 KV)
Tegangan masih di
bawah rating
120 KV < 150 KV <125 KV Aman transformator
maupun arrester
Tegangan masih
125 KV <150 KV =125 KV Aman memenuhi batasan
keduanya
Tegangan lebih
130 KV <150 KV >125 KV Aman diterima arrester dan
dialirkan ke tanah

Masih memenuhi
batas tegangan
150 KV =150 KV >125 KV Aman tertinggi yang bisa
diterima arrester.
Arrester rusak,
200 KV >150 KV >125 KV Tidak transformator rusak
aman

Berdasarkan keterangan diatas maka pemilihan BIL arrester harus


mempunyai kemampuan yang sama atau diatas tegangan BIL petir (150 kV),
sedangkan untuk BIL trafo dapat menggunakan BIL yang lebih rendah yaitu 125
kV.

KARAKTERISTIK DAN PEMILIHAN CUT-OUT


Karakteristik utama suatu cut-out adalah sehubungan dengan kebuuhan
antara waktu dan arus. Hubungan antara minimum melting dan maksimim
clearing time, ditentukan dari test data yang menghasilkan karakteristik waktu
dan arus. Kurva minimum melting time dan maksimum clearing time adalah
petunjuk yang penting dalam penggunaan fuse link pada system yang
dikoordinasikan.
Melting time adalah interval waktu antara permulaan arus gangguan dan
pembusuran awal. Interval selama dalam masa pembusuran berakhir adalah
arching time. Sedangkan clearing time adalah melting time ditambah dengan
arching time
Faktor-faktor dalam pemilihan fuse cut-out

Penggunaan cut-out tergantung pada arus beban, tegangan, type system, dan
arus gangguan yang mungkinterjadi. Keempat factor diatas ditentukan dari tiga
buah rating cut-out, yaitu :
1) Pemilihan rating arus kontinyu
Rating arus kontinyu dari fuse besarnya akan sama dengan atau lebih besar
arus arus beban kontinyu maksimum yang diinginkan akan ditanggung. Dalam
menentukan arus beban dari saluran, pertimbangan arus diberikan pada kondisi
normal dan kondisi arus beban lebih ( over load ). Pada umumnya outgoing
feeder 20 kV dari GI dijatim mampu menanggung arus beban maksimum 630 A,
maka arus beban sebesar 100 A.
2) Pemilihan Rating tegangan
Rating tegangan ditentukan dari karakteristik sebagai berikut :
Tegangan system fasa atau fasa ke tanah maksimum.
System pentanahan.
Rangkaian satu atau tiga fasa.
Sesuai dengan tegangan sisitem dijatim maka rated tegangan cut-out
dipilih sebesar 20 kV dan masuk ke BIL 150 kV.
3) Pemilihan rating Pemutusan.
Setiap transformator berisolasi minyak harus diproteksi dengan gawai
proteksi arus lebih secara tersendiri pada sambungan primer, dengan
kemampuan atau setelan tidak lebih dari 250 %dari arus pengenal transformator.
(PUIL 2000 Hal.191)
Setelah melihat data- data diatas maka perhitungan pemilihan fuse cut-
out adalah sebagai berikut :
800 kVA
Arus nominal =23,09 A
3 x 20 kV
Arus = In x 250% = 57,725 A
Rating arus kontinyu dari fuse besarnya dianggap sama atau lebih besar
dari beban kontinyu maksimal yang diinginkan / ditanggung. Oleh karena itu dipilih
HUBBELL CO dengan arus sebesar 100 A, yang mempunyai spesifikasi umum
sebagai berikut:
Type : CP710311
BIL :150 kV
Voltage Nominal : 27 kV
Current continuous : 100 A
Interupting RMS Asym : 8 kA

L. PERHITUNGAN KAPASITOR

PEMASANGAN KAPASITOR
Untuk memaksimalkan penggunaan daya pada tranformator maka direncanakan
pemasangan kapasitor. Beberapa keuntungan pemasangan kapasitor adalah :
Menurunkan pemakaian kVA total
Mengoptimalkan daya trafo
Menurunkan rugi tegangan
dll

Diketahui data stadion sebagai berikut :


Total daya 452,1 kVA
Power factor 0.85
Power factor yang diinginkan 0.95
Daya aktif 593362,4 W

PERHITUNGAN PEMAKAIAN
Pemakaian per bulan : 10 jam / hari x 593362,4 W = 5933,6 kWh
Batas kVARh yang di bebaskan PLN : 0,62 x 5933,6 = 3678,8 kVARh
Tanpa kompensasi Dengan kompensasi
Cos = 0,85 maka tan = 0,62 Cos = 0,95 maka tan = 0,33
Daya reaktif terpakai : Daya reaktif terpakai :
= daya beban x tan = daya beban x tan
= 593362,4 x 0,62 = 593362,4 x 0,33
= 367,88 kVAR = 195,8 kVAR
Pemakaian daya reaktif / bulan : Pemakaian daya reaktif / bulan :
= 367,88 x 10 jam/hari x 30 hari = 195,8 x 10 jam/hari x 30 hari
= 110364 kVARh = 58740 kVARh
Denda kelebihan pemakaian daya reaktif : Denda kelebihan pemakaian daya reaktif :
= (110364 73835 ) x Rp. 573 ,- = (58740 73835) x Rp. 573 ,-
= Rp 20.931.117,- / bulan = Rp. -

Dengan meningkatkan faktor daya menjadi 0,95 maka stadion PERUMDIN


tidak membayar denda pada PLN. Penghematan per bulan Rp 20.931.117,-

Kapasitor yang diperlukan :


Q = 593362,4 W x ( 0,62 0,33 ) = 172,1 kVAR
Sehingga menggunakan kapasitor bank merk ABB Series 300, 175 kVAR dengan 3 step
100+50+25 kVAR
PENGAMAN UTAMA KAPASITOR
In = 172075,1 : (400 x 1,73) = 248,37 A
KHA = In x 125 %
= 248,37 x 125 % = 310,46 A
Ip = In x 250%
= 248,37 x 250% = 620,9 A

Menggunakan pengaman MCCB tipe COMPACT NSX250F dengan rated 160


-250 A (250) dan Ihs = 36 kA.

PENGAMAN TIAP KAPASITOR


In = Q : (400 x 1,73) = 100000 : (400 x 1,73) = 144,34 A
KHA = In x 125 %
= 144,34 x 125 % = 180,4 A

Menggunakan pengaman MCB tipe EASYPACT CVS160B dengan rated 160 A


dan Ihs = 25 kA.
In = Q : (400 x 1,73) = 50000 : (400 x 1,73) = 72,2 A
KHA = In x 125 %
= 72,2 x 125 % = 90,25 A

Menggunakan pengaman MCB dengan rated 80 A

In = Q : (400 x 1,73) = 25000 : (400 x 1,73) = 36,1 A


KHA = In x 125 %
= 72,2 x 125 % = 45,125 A

Menggunakan pengaman MCB dengan rated 40 A


M. PERENCANAAN BANGUNAN GARDU DISTRIBUSI

PERHITUNGAN SANGKAR FARADAY


Perhitungan sangkar faraday bertujuan untuk mengetahui besarnya medan listrik

yang berpengaruh dan berbahaya bagi pekerja yang bekerja dekat dengan bagian yang

bertegangan. Pekerja dapat menggunakan perlindungan untuk hal tersebut seperti

sangkar faraday dimana kuat medan listrik didalam pelindung konduktor ini merupakan

fungsi dari derajad perlindungan.

Faraday telah membuktikan bahwa kuat medan listrik didalam dalam sangkar

adalah nol (0) bila sangkar berbujur kotak penuh. Tetapi perlindungan terhadap medan

ini hanya dilakukan untuk sangkar yang berbentuk setengah kotak yang bertujuan agar

pekerja dapat bekerja dengan tenang.

Dalam perhitungan ini yang perlu diperhatikan adalah system pengaman dari sisi

TR maupun TT pada trafo. Sesuai dengan catalog yang ada jarak aman trafo under build

TM-TR = 1m. Diambil 1 meter dan panjang manusia 500 mm.

Dimensi trafo yang digunakan dengan data sebagai berikut :

Panjang (L) : 1710 mm

Lebar (W) : 985 mm

Tinggi (H) : 1680 mm

Sehingga diperoleh sangkar faraday sebagai berikut :

Panjang : ((jarak aman trafo + panjang tangan manusia) x 2) +

panjang trafo

: ((1000 + 500)x 2) + 1710 mm = 4710 mm


Lebar : ((jarak aman trafo + panjang tangan manusia) x 2) +

lebar trafo

: ((1000 + 500)x 2) + 985 mm = 3985 mm

Tinggi : jarak aman trafo + tinggi trafo

: 1000 mm + 1680 mm = 2680 mm


N. PERHITUNGAN, PERENCANAAN, DAN DESAIN CELAH UDARA
PADA GARDU INDUK

Dalam kerjanya transformator tidak lepas dari kerugian salah satunya adalah

panas, panas yang berlebihan pada trafo dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak

diinginkan antara lain :

1) Drop tegangan.

2) Pemanasan pada minyak trafo yang berlebihan, sehingga menyebabkan

turunnya kualitas minyak trafo yang dapat mengakibatkan tegangan

tembus minyak trafo turun.

Sehingga dalam kerjanya trafo menuntut sistem pendinginan yang baik, oleh

karena itu sistem pendinginannya harus mempunyai kinerja yang baik, dari berbagai

macam faktor yang mempengaruhi pendinginan salah satunya adalah sirkulasi udara,

karena dalam perencanaan ini trafo yang digunakan diletakkan dalam ruangan (indoor).

Untuk itu kita harus menghitung seberapa besar celah ventilasi yang dibutuhkan agar

sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik.


2
Celah minimal suatu ventilasi trafo adalah 20 cm / KVA terpasang, dengan

perhitungan sebagai berikut:

Celah ventilasi pada trafo dihitung pada saat load losses dengan losses sebesar 9100

watt hal tersebut dapat dilihat pada data trafo.

Data lain yang diketahui adalah sebagai berikut:

1) Temperatur udara masuk(t1) 20oC

2) Temperatur udara keluar (t2) 35oC


1
( )=
3) Koefisiensi muai udara 273

4) Tinggi ruangan = 4,5 meter.

Dengan data diatas dapat dicari volume udara yang dibutuhkan untuk mensirkulasi

panas adalah sebagai berikut:

860 Pv
V= x (1 t1 )
1116 (t2 t 1 )

dimana:

Pv = rugi trafo (Kw)/ no load losses + load losses = 1,75 + 9,1 = 10,85 kW

t1 = temperatur udara masuk (oC)

t2 = temperatur udara keluar (oC)

= koefisien muai udara

H = ketinggian ruangan (m)

sehingga:

860 x 10,85 1
V= x(1 .20)
1116 (3520) 273
9331
V= x ( 10,07326 )
16740

3
V= 0,52 m /s
Kemampuan pemanasan udara yang mengalir disepanjang tangki trafo adalah

H
v=

dimana:

H=ketinggian (m)

= koefisien tahanan aliran udara


Koefisien tahanan aliran udara berbeda-beda tergantung pada kondisi daripada tempat

diletakkannya trafo itu sendiri.

Kondisi tempat
Sederhana 4.....6

Sedang 7.....9

Baik 9.....10 (jaringan konsen)>20

Apabila kondisi tempat dimisalkan adalah baik maka = 9.

Sehingga:

4,5
v=
9

v =0,5

Maka dapat kita hitung celah ventilasi sebagai berikut:

V
qc (penampang celah udara yang masuk) : v

3
0,52 m / s
qc = 0,5 = 1,04

Karena udara yang keluar memiliki temperatur yang lebih tinggi daripada udara yang

masuk yang diakibatkan proses pendinginan trafo dalam ruangan sehingga terjadi

pemuaian maka ventilasi udara keluar yang dibutuhkan harus lebih besar daripada celah

ventilasi udara masuk, dengan kata lain:


qA
qC

Sehingga:

q A= 1,1. qC
q A= 1,1 . 1,04
2
q A= 1,144 m

Nilai perhitungan diatas adalah nilai minimum, sehingga pemakaian ventilasi

udara bisa memakai ukuran yang lebih besar dari ukuran perhitungan diatas.

Menurut PUIL 2000 celah udara yang diijinkan pada Gardu induk adalah

sebesar 20 cm2/kVA maka dari itu, perhitungan luas celah udara untuk ventilasi

GI adalah sebagai berikut :

Daya trafo = 800 kVA

Celah udara total = 800 x 20 = 16000 cm2

Ruang yangdigunakan sebagai tempat peletakan transformator , mepunyai

dimensi panjang x lebar x tinggi(7m x 6m x 4,5m )

Celah udara seluas 16000 cm2 ini dibagi 4 celah ventilasi, 2 celah

ventilasi terdapat didinding sisi bawah sebagai tempat masuknya udara , dan 2

celah ventilasi terdapat sisi atas dinding sebagai tempat keluarnya udara.

Celah udara sisi bawah

Berdimensi 70 cm x 30 cm = 2100 cm2 x 2 = 4200 cm2

Perencanaan celah ventilasi sisi bawah didisain agak miring

Celah udara sisi atas

Berdimensi 105 cm x 40 cm = 4200 cm2 x 2 = 8400 cm2

Perencanaan celah ventilasi sisi atas didisain lebih luas dari

ventilasi sisi bawah karena udara yang memuai akibat

pemanaan trafo memiliki volume yang lebih besar daripada

udara yang masuk.


O. PENTANAHAN

PENTANAHAN BODY TRAFO, SANGKAR FARADAY DAN BODY


CUBICLE
Pada pentanahan body trafo, sangkar faraday dan body cubicle harus

mempunyai tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan

sistem pentanahan elektroda batang tunggal dan Elektroda ditanam pada tanah

sawah dengan tahanan jenis ( ) : 30 ohm/m.

Di pilih elektroda batang dengan spesifikasi sebagai berikut :

Diameter 25 mm dan jari jari 12,5 mm = 0,0125 m (r)

Panjang elektroda = 2 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda

4L
R pentanahan = 2 . . L
(
ln 1
a )
30 4 x2
= ( ln
2. .2 0,0125
1 )
= 13,03 Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5

Menggunakan konfigurasi DOUBLE STRAIGHT

l 4
k=In =In =5,7
r 0, 0125
1+ L 1+4
x= = =1, 25
L 4

In.x In. 1, 25
m= = =0,039
k 5,7
1+m 1+ ( 0, 039 )
= =
Factor pengali konfigurasi 2 2 = 0,5


Rpt= x
2 L factor pengali konfigurasi

30
= x 0,5=0, 59
2 x 4 memenuhi persyaratan karena Rpt < 5

Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang

tunggal sistem double straight adalah sebesar 0,59 . Sehingga memenuhi syarat

PUIL.

PENTANAHAN ARESTER DAN KABEL N2XSEFGbY


Agar bahaya sambaran petir tidak masuk ke dalam siatem maka arrester harus

di tanahkan danharus mempunyai tahanan maksimum 1 ohm.Dalam pentanahan

ini menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal dan Elektroda

ditanampada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ) : 30 ohm/m.

Di pilih elektroda batang dengan spesifikasi sebagai berikut :

Diameter 25 mm dan jari jari 12,5 mm = 0,0125 m (r)

Panjang elektroda = 3 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda


4L
R pentanahan = 2 . . L
(
ln 1
a )
30 4 x3
= (
ln
2. .3 0, 0125
1 )
= 9,3 Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 1

Menggunakan konfigurasi metode TRIANGLE

1+2 m
k=
3

Nilai x:
1+l 1+6
x= = =1,17
l 6
Nilai m:
lnx ln1,17
m= = =0,025
l 6
ln ln
r 0,0125

1+2 m 1+2 x 0,025


k=
3
=
2
=0,35 (faktor pengali)
Rpt=R ( batang tunggal ) x f . pengali

30
= x 0,35=0, 27 ohm
2 x 6
Jadi, pentanahan yang diperoleh dengan sistem pentanahan elektroda
batang dengan metode square sejumlah 3 buah. Sehingga nilai R
pembumiannya menjadi 0,27 ohm
PENTANAHAN TITIK NETRAL TRAFO
Pada pentanahan titik netral trafo harus mempunyai tahanan maksimum 5

ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem pentanahan elektroda batang

tunggal dan Elektroda ditanampada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 30

ohm/m.

Di pilih elektroda batang dengan spesifikasi sebagai berikut :

Diameter 25 mm dan jari jari 12,5 mm = 0,0125 m (r)

Panjang elektroda = 2 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda

4L
R pentanahan = 2 . . L
(
ln 1
a )
30 4 x2
= ( ln
2. .2 0, 0125
1 )
= 13,03 Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5

Menggunakan konfigurasi DOUBLE STRAIGHT

l 4
k=In =In =5,7
r 0, 0125
1+ L 1+4
x= = =1, 25
L 4

In.x In. 1, 25
m= = =0,039
k 5,7
1+m 1+ ( 0, 039 )
= =
Factor pengali konfigurasi 2 2 = 0,5


Rpt= x
2 L factor pengali konfigurasi

30
= x 0,5=0, 59
2 x 4 memenuhi persyaratan karena Rpt<5

Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang

tunggal sistem double straight adalah sebesar 0,59 . Sehingga memenuhi syarat

PUIL.

PENTANAHAN PANEL MDP LV, BODY GENSET DAN PANEL GENSET


Panel MDP, body Genset, dan panel genset harus mempunyai tahanan

maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem pentanahan

elektroda batang tunggal dan elektroda ditanam pada tanah ladang dengan

tahanan jenis ( ) : 30 ohm/m.

Di pilih elektroda batang dengan spesifikasi sebagai berikut :

Diameter 25 mm dan jari jari 12,5 mm = 0,0125 m (r)

Panjang elektroda = 2 meter

Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda


4L
R pentanahan = 2 . . L
(
ln 1
a )
30 4 x2
= (ln
2. .2 0,0125
1 )
= 13,03 Tidak memenuhi syarat karena lebih dari 5

Menggunakan konfigurasi DOUBLE STRAIGHT

l 4
k=In =In =5,7
r 0, 0125
1+ L 1+4
x= = =1, 25
L 4

In.x In. 1, 25
m= = =0,039
k 5,7
1+m 1+ ( 0, 039 )
= =
Factor pengali konfigurasi 2 2 = 0,5


Rpt= x
2 L factor pengali konfigurasi

30
= x 0,5=0, 59
2 x 4 memenuhi persyaratan karena

Rpt<5
Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan pentanahan elektroda batang

tunggal sistem double straight adalah sebesar 0,59 . Sehingga memenuhi syarat

PUIL.

P. PERENCANAAN KOMPONEN PANEL dan MDP LV

CURRENT TRANSFORMER
Untuk MDP LV, mempunyai arus nominal pada busbar utama sebesar
1154,7A sehingga membutuhkan current transformer dengan rating di atas
1154,7A untuk bisa membaca arus. Selain itu, juga mencocokan dengan ukuran
busbar yang digunakan. Karena busbar utama yang digunakan pada MDP LV
berukuran 80 x 10 ( 800 mm2) berjumlah 2 , maka dipilih CT yang sesuai dengan
ukuran busbar.
Spesefikasi CT yang digunakan adalah :
type CT : CT 110
merk : GAE
rated current rating(SR) : 1200 A
Class : 0,5
Burden : 10 VA
Untuk panel genset, mempunyai arus nominal pada busbar utama sebesar
626,03 A. Sehingga membutuhkan Current transformer dengan rating di atas
626,03 A untuk bisa membaca arus. Selain itu, juga mencocokan dengan ukuran
busbar yang digunakan. Karena busbar utama yang digunakan pada MDP LV
berukuran 2 (5 x 60mm), maka dipilih CT yang sesuai dengan ukuran busbar.
Spesefikasi CT yang digunakan adalah :
type CT : CT110
merk : GAE
rated current rating(SR) : 750 A
Class :1
Burden : 15 VA
LAMPU PILOT
Type lampu pilot : XB4
Daya : 2,4 W
Tegangan : 230 -240 V AC (50- 60 Hz)
Burden : 5 VA
FUSE
type fuse : Size 000, 400 V gG
Merk : MERSEN
rated current rating :2A
Tegangan : 400 V

Power meter
- Pengukuran di kubikel pelanggan menggunakan Power Meter.
Power meter yang di pilih :
type : PM1200
Merk : Merlin Gerlin

- Pengukuran di panel LVMDP menggunakan Power Meter.


Power meter yang di pilih :
type : PM870
Merk : Merlin Gerlin