Anda di halaman 1dari 54

SISTEM ENDOKRIN

PADA MANUSIA

ANGGOTA:

Annisa Setya

Haningtyas

11151051

Astrid Dara Qonita 11151054

Elista Lia Vita Loka 11151060

Muhamad Lutfi 11151073

Rizqiya Maulida 11151080

1
A. PENGERTIAN SISTEM ENDOKRIN

Sistem endokrin adalah jaringan kelenjar yang

memproduksi dan melepaskan hormon-hormon yang

membantu fungsi kontrol tubuh yang penting, terutama

kemampuan tubuh untuk mengubah kalori menjadi

energi sel dan organ. Sistem endokrin mempengaruhi

bagaimana jantung Anda berdetak, bagaimana tulang

dan jaringan tumbuh, bahkan kemampuan Anda untuk

membuat bayi. Hal ini memainkan peran penting

dalam apakah atau tidak seseorang dapat terkena

diabetes, penyakit tiroid, gangguan pertumbuhan,

disfungsi seksual, dan sejumlah lainnya yang

berhubungan dengan hormon gangguan. Kelenjar dari

Sistem Endokrin Setiap kelenjar sistem endokrin

melepaskan hormon tertentu ke aliran darah tubuh

2
Anda. Hormon-hormon ini berjalan melalui darah ke

sel lain dan membantu mengontrol atau

mengkoordinasikan proses dalam tubuh.

Kelenjar endokrin adalah kelenjar tanpa

saluran atau kelenjar buntu. Kelenjar endokrin

menghasilkan hormon yang berfungsi untuk mengatur

pertumbuhan, perilaku, reproduksi, keseimbangan, dan

metabolisme. Hormon masuk ke dalam sistem

peredaran darah menuju dan mempengaruhi kerja

organ yang berada jauh dari kelenjar endokrin Jumlah

hormon yang diperlukan untuk mempengaruhi organ

sasaran sangat sedikit dan reaksinya lama.

Berdasarkan macam dan lokasi kerjanya, ada beberapa

kelenjar endokrin, seperti hipotalamus, hipofisis, tiroid,

paratiroid, pankreas, adrenal, gonad, kelenjar pineal

dan timus.

3
B. ANATOMI FISIOLOGI ENDOKRIN

4
1. HIPOFISIS (KELENJAR PITUITARI)

Kelenjar hipofisis adalah organ berbentuk oval,

sebesar kacang dengan berat sekitar 0,5 g. Organ

ini melekat pada bagian dasar hipotalamus otak

pada batang yang disebut infundibulum (batang

hipotalamus). Hipofisis terletak pada lekukan

bentuk pelana di tulang sphenoid (sela tursika) dan

terbungkus dalam perpanjangan dura meter.

5
Hubungan hipofisis-hipotalamus.

Hubungan vascular dan saraf antara hipotalamus

dan hipofisis sangat penting untuk fungsi kelenjar

hipofisis.

a. Suplai darah ke lobus posterior

(neurohipofisis) terjadi melalui dua arteri

hipofisis inferior, yang merupakan cabang

arteri karotis internal, memasuki lobus

posterior dan membentuk jarring-jaring

kapiler. Aliran vena mengalir melalui vena

hipofisis ke dalam sinus dural.

b. Suplai darah ke lobus anterior (hipofisis)

adalah tidak langsung. Arteri hipofisis

superior (cabang arteri karotis internal)

memasuki bagian tengah tonjolan

hipotalamus dan batang infundibulum

6
sehingga membentuk jaring-jaring kapiler

pertama.

c. Jaring kapiler pertama dialiri veba portal

hipofisis. yang menjadi awal jaringan

kapiler kedua di bagian bawah lobus

anterior.

d. Sistem portal hipotalamus-hipofisis

mengacu pada kedua jaring kapiler di atas

(satu di hipotalamus dan satu lagi dalam

adenohipofisis) dan vena yang terletak di

antara keduanya. Melalui sistem ini,

hormon yang diproduksi hipotalamus

langsung dibawa ke adenohipofisis tanpa

memasuki sirkulasi darah besar.

7
2. TIROID

Kelenjar tiroid adalah glandula berbentuk kupu-

kupu yang terdapat pada bagian pangkal leher dan

melilit sisi lateral trakea. Kelenjar tiroid terdiri dari

dua lobus lateral, dihubungkan melalui sebuah

ismus yang sempit. Organ ini terletak diatas

permukaan anterior cartilage tiroid trakea, tepat

dibawah laring.

8
Hormon tiroid meningkatkan laju

metabolik hampir di semua sel tubuh. Hormon ini

menstimulus konsumsi oksigen dan memperbesar

pengeluaran energi, terutama dalam bentuk panas.

Hormon ini juga berperan dalam pertumbuhan

dan maturasi normal tulang gigi, jaringan ikat

dan jaringan saraf bergantung pada hormon-

hormon tiroid.

3. PARATIROID

9
Kelenjar paratiroid adalah empat organ kecil,

masing-masing berukuran sebesar biji apel, terletak

pada permukaan posterior kelenjar tiroid dan

dipisahkan dari kelenjar tiroid oleh kapsul-kapsul

jaringan ikat. Dari sisi histologi, ada dua jenis sel

dalam kelenjar paratiroid, sel utama yang

mensekresi hormon paratiroid (PTH), dan sel

oksifilik yang merupakan tahap perkembangan sel

chief.

4. ADRENAL

10
Kelenjar Adrenal (kelenjar suprarenal) adalah dua

massa triangular pipih berwarna kuning yang

tertanam pada jaringan adipose. Organ ini berada di

kutub atas ginjal. Masing-masing kelenjar adrenal

terdiri dari korteks dibagian luar dan medula

dibagian dalam.

a. Korteks mensekresi hormon steroid

11
b. Medula ysng secara embriologik berasal

dari jenis neuroektodermis yang menjadi

asal neuron simpatis.

5. PANKREAS

Pankreas adalah organ pipih yang terletak

di belakang dan sedikit di bawah lambung dalam

abdomen. Organ ini memiliki dua fungsi, yaitu;

fungsi endokrin dan eksokrin.

a. Bagian eksokrin berfungsi sebagai sel

asinar pankreas, memproduksi cairan

pankreas yang disekresi melalui duktus

pankreas ke dalam usus halus.

b. Bagian endokrin memiliki empat jenis,

yaitu:

12
1). Sel

alfa mensekresi glukagon, yang meningkatkan kadar

gula darah.

2). Sel beta mensekresi insulin, yang menurunkan

kadar gula darah.

3). Sel delta mensekresi somatostatin, atau hormon

penghalang hormone pertumbuhan, yang menghambat

sekresi glucagon dan insulin.

13
4). Sel F mensekresi polipeptida pankreas, sejenis

hormone pencernaan untuk fungsi yang tidak jelas,

yang dilepaskan setelah makan.

14
6. KELENJAR PINEAL

Kele

njar Pineal

(epifisis

serebri)

terbentuk

dari dua

jaringan

saraf dan terletak di langit-langit ventrikel ketiga

otak. Kelenjar ini terdiri dari pinealosit dan sel

neuroglia penopang. Seiring pertambahan usia,

kelenjar mengakumulasi cadangan kalsium yang

disebut sebagai brain sand (acervulus).

7. TIMUS

15
Timus terletak di bagian posterior toraks terhadap

sternum dan melapisi bagian atas jantung. Kelenjar

ini ukurannya besar di masa kanak-kanak dan

mengecil seiring pertambahan usia. Hormon, atau

factor yang diproduksi kelenjar ini meliputi enam

peptide, yang secara kolektif disebut timosin.

Fungsi timosin adalah:

a. Timosin mengendalikan perkembangan sistejm

imun dependen timus dengan menstimulasi

diferensiasi dan proliferasi sel limfosit-T

b. Timosin mungkin berperan dalam penyakit

immunodefisiensi congenital, seperti

16
agammaglobulinemia, yaitu ketidakmampuan total

untuk memproduksi antibodi.

8. GONAD

Kelenjar gonad merupakan kelenjar yang

dapat ditemukan pada alat kelamin manusia

(ovarium pada wanita dan testis pada laki-laki).

Gonad bertanggung jawab untuk memproduksi

hormon yang terkait dengan karakteristik gender

(maskulin atau feminim).

a. Testis: Hormon ini dapat meningkatkan

pertumbuhan pada tubuh seperti kekuatan otot.

sebagai kontrol pertumbuhan dan perkembangan

dari organ intim serta rambut pada tubuh seorang

pria, termasuk di bagian kemaluan, dada, dan

wajah. Pada pria yang telah mewarisi gen untuk

17
kebotakan, hormon ini memicu timbulnya alopecia

androgenetic (alopesia androgenetik), yaitu kondisi

umum dikenal sebagai pola kebotakan.

b. Ovarium: Ovarium adalah sepasang kelenjar

berbentuk seperti almond yang terletak pada bagian

panggul dan rahim superior pada wanita. Ovarium

memproduksi hormon yang menunjang aktivitas

reprouksi wanita yaitu, progesteron dan estrogen.

Progesteron merupakan hormon yang berperan

terutama selama masa kehamilan dan ovulasi, yang

18
mana ketika itu hormon ini menciptakan kondisi

yang ideal dalam untuk mendukung perkembangan

janin. Sedangkan estrogen adalah hormon terkait

yang berfungsi sebagai hormon utama wanita.

Sekresi estrogen selama masa pubertas dapat

memicu perkembangan karakteristik gender wanita

seperti tumbuh dan berkembangnya bagian rahim,

perkembangan payudara, serta tumbuhnya rambut

kemaluan. Selain itu diketahui, estrogen juga dapat

memicu peningkatan tahap pertumbuhan tulang

selama masa remaja yang mempengaruhi tinggi

dan bentuk badan.

C. PATOFISIOLOGI

Penyebab Gangguan Endokrin

19
Gangguan endokrin biasanya dikelompokkan menjadi

dua kategori:

1. Endokrin penyakit yang terjadi ketika kelenjar

memproduksi terlalu banyak atau terlalu sedikit

hormon endokrin, yang disebut

ketidakseimbangan hormon.

2. Endokrin karena perkembangan lesi (seperti

nodul atau tumor) dalam sistem endokrin, yang

mungkin atau tidak dapat mempengaruhi tingkat

hormon penyakit. Sistem umpan balik endokrin

yang membantu mengontrol keseimbangan

hormon dalam aliran darah. Sebuah

ketidakseimbangan hormon dapat terjadi jika

sistem umpan balik memiliki kesulitan menjaga

tingkat yang tepat dari hormon dalam aliran

20
darah, atau jika tubuh tidak membersihkan

mereka keluar dari aliran darah dengan benar.

D. GANGGUAN PADA SISTEM ENDOKRIN

Ada berbagai jenis gangguan endokrin.

Diabetes adalah gangguan endokrin yang paling umum

didiagnosis di Amerika Serikat. Gangguan endokrin

lainnya meliputi.

1. Dwarfisme

21
Gejala hiporsekresi (kekurangan)

hormon pertumbuhan pada masa anak-anak

yang menyebabkan cebol.

2. Gigantisme (acromegaly)

Gangguan endokrin yang terjadi karena

kelebihan growth hormone sebelum pubertas.

Pertumbuhan berlebihan akibat pelepasan

hormon pertumbuhan berlebihan pada masa

anak-anak dan remaja (sebelum pubertas).

Jika kelenjar pituitary memproduksi hormon

pertumbuhan terlalu banyak, tulang anak dan

bagian tubuh dapat tumbuh tidak normal

cepat. Jika kadar hormon pertumbuhan terlalu

rendah, seorang anak bisa berhenti tumbuh di

ketinggian.

22
3. Penyakit Cushing (Sindrom Cushing)

Sindrom yang disebabkan oleh berbagai

penyakit seperti obesitas, impaired glucose

tolerance, hipertensi, diabetes mellitus dan

disfungsi gonadal yang berakibat pada

berlebihnya rasio serum hormon kortisol.

Kelebihan produksi hormon korteks

adrenal (khususnya kortisol) dan hormon

androgen serta aldosteron. Kondisi serupa

disebut sindrom cushing bisa terjadi pada

orang, terutama anak-anak, yang mengambil

dosis tinggi obat kortikosteroid. Penyakit

Chusing yang ditandai dg kelebihan

23
kortikotropin yg diproduksi oleh kelejar

hipofisis (80% kasus).

4. Goiter (gondok)

Kelenjar tiroid yang membesar disertai

hipofungsi maupun hiperfungsi tiroid.

5. Hiperparatiroidisme

Terjadi karena produksi (sekresi)

berlebih hormon paratiroid (PTH), hormon

asam amino polipeptida. Perubahan patologis

yang terjadi akibat hiperparatiroidisme

adalah: tulang mudah patah.

6. Hypothyroidisme

Suatu efek hormon tiroid berkurang

dimana kelenjar tiroid tidak memproduksi

hormon tiroid yang cukup, menyebabkan

kelelahan, sembelit, kulit kering, dan depresi.

24
Kelenjar kurang aktif dapat menyebabkan

perkembangan melambat pada anak-anak.

Beberapa jenis hipotiroidisme yang hadir

pada saat lahir.Kelainan akibat hipotiroidisme

adalah Kretinisme

7. Hipertiroidisme (tirotoksikosis)

Adalah suatu kelebihan sekresi

hormonal yang tidak seimbangpada

metabolisme. Kelenjar tiroid menghasilkan

hormon tiroid terlalu banyak, menyebabkan

penurunan berat badan, denyut jantung yang

cepat, berkeringat, dan gugup. Penyebab

paling umum untuk tiroid yang terlalu aktif

adalah suatu gangguan autoimun yang disebut

penyakit Grave.

8. Hiperpituitarisme

25
Merupakan suatu sekresi yang

berlebihan hormon hipifisis anterior yang

terjadi akibat adanya tumor.

9. Hypopituitarisme

Adalah hilangnya fungsi lobus anterior

kelenjar hiposfisa terutama pada bagian

anterior. Kelenjar pituitari melepaskan

hormon sedikit atau tidak ada. Ini mungkin

disebabkan oleh sejumlah penyakit yang

berbeda.

Wanita dengan kondisi ini mungkin

berhenti mendapatkan menstruasi. Beberapa

neoplasia endokrin I dan II (MEN I dan II

MEN). Ini, kondisi genetik langka yang

diturunkan melalui keluarga. Mereka

menyebabkan tumor paratiroid, adrenal, dan

26
kelenjar tiroid, menyebabkan kelebihan

produksi hormon.

10. Adrenal insufisiensi

Kelenjar adrenal melepaskan terlalu

sedikit hormon kortisol dan kadang-kadang,

aldosteron. Gejala termasuk kelelahan, sakit

perut, dehidrasi, dan perubahan kulit.

Penyakit Addison adalah jenis insufisiensi

adrenal.

11. Tiroiditis

Adalah sutu peradangan pada kelenjar

tiroid yang disebabkan infeksi viral seperti

HFV dan virus beguk pada tiroiditis subakut.

12. Tumor tiroid

Adalah neoplasma unik pada

kelenjar tiroid yang sangat kerap disertai

27
dengan metastasis pada organ yang jauh dari

lokasi primer.

13. Tiroidektomi

Adalah sebuah operasi yang melibatkan

operasi pemindahan semua atau sebagian dari

kelenjar tiroid.

14. Hipoparatiroid

Adalah penurunan produksi hormon

oleh kelenjar paratiroid menyebabkan kadar

kalsium dalam darah rendah.

15. Addison

Adalah kerusakan kelenjar adrenal yang

tidak mampu memenuhi kebutuhan hormon

korteks adrenal.

16. Aldosteronisme primer

28
Adalah merupakan keadaan klinis yang

sebabkan oleh produksi aldosteron suatu

hormon steroid mineralokortikoid korteks

adrenal secara berlebih.

17. Tumor hipofisis

Adalah sesorang yang menderita tumor

pada selaput kecil pada otak.

18. Hipofisektomi

Merupakan suatu tindakan

pengangkatan adenoma hipofise melalui

pembedahan.

19. Pangkreatitis

Adalah peradangan pada pangkreas

yang dapat mengeluarkan enzim pencernaan

dalam saluran pencernaan sekaligus

29
mensintesis dan mensekresi insulin dan

glukagon.

20. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).

Kelebihan produksi androgen

mengganggu perkembangan telur dan

pembebasan mereka dari indung telur

perempuan. PCOS adalah penyebab utama

infertilitas. Dewasa sebelum waktunya

pubertas. Abnormal pubertas dini yang terjadi

ketika kelenjar memerintahkan tubuh untuk

mengeluarkan hormon seks terlalu cepat

dalam hidup.

21. Diabetes Insipidus

Adalah suatu keadaan yang di tandai

rasa haus di akibatkan karena kurangnya

hormon antidiuretik (hormon vasopresin).

30
22. Diabetes Militus (DM)

Gangguan metabolik yang ditandai oleh

hiperglikemia (meningkatnya kadar gula

dalam darah) akibat kurangnya hormon

insulin, menurunnya efek insulin atau

keduanya.

Ada 3 (tiga) jenis DM yang dikenal, yaitu :

a DM Tipe I : Bergantung insulin.

Biasanya terjadi sebelum usia 30

tahun, meskipun bisa pada umur

berapapun.

b DM Tipe II : Tidak bergantung

insulin. Terjadi pada usia 40 tahun.

Resistensi insulin yang disertai defek

sekresi insulin dengan derajat

31
bervariasi. Terjadi penurunan

sensitivitas terhadap insulin.

c DM Gestasional (DM Kehamilan) :

Muncul saat kehamilan.

Penyebab :

1) Hereditas (faktor keturunan)

2) Lingkungan (infeksi, makanan,

toksin, stres)

3) Perubahan gaya hidup pada

orang yang secara genetik

rentan.

E. PEMERIKSAAN PADA SETIAP SISTEM

1. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar

Hipofise

a. Foto tengkorak (kranium)

32
Dilakukan untuk melihat kondisi sella

tursika. Dapat terjadi tumor atau juga atropi.

Tidak dibutuhkan persiapan fisik secara

khusus, namun pendidikan kesehatan tentang

tujuan dan prosedur sangatlah penting.

b. Foto tulang (osteo)

Dilakukan untuk melihat kondisi tulang.

Pada klien dengan gigantisme akan dijumpai

ukuran tulang yang bertambah besar dari

ukuran maupun panjangnya. Pada akromegali

akan dijumpai tulang-tulang perifer yang

bertambah ukurannya ke samping. Persiapan

fisik secara khusus tidak ada, pendidikan

kesehatan diperlukan.

c. CT scan otak

33
Dilakukan untuk melihat kemungkinan

adanya tumor pada hipofise atau hipotalamus

melalui komputerisasi. Tidak ada persiapan

fisik secara khusus, namun diperlukan

penjelasan agar klien dapat diam tidak

bergerak selama prosedur.

2. Pemeriksaan Darah dan Urine

a. Kadar growth hormon

Nilai normal 10 p.g ml baik pada anak

dan orang dewasa. Pada bayi dibulan-bulan

pertama kelahiran nilai ini meningkat

kadarnya. Spesimen adalah darah vena lebih

kurang 5 cc. Persiapan khusus secara fisik

tidak ada.

34
b. Kadar tiroid stimulating hormon (tsh)

Nilai normal 6-10 1.1.g/ml. Dilakukan

untuk menentukan apakah gangguan tiroid

bersifat primer atau sekunder. Dibutuhkan

darah lebih kurang 5 cc. Tanpa persiapan

secara khusus.

c. Kadar adrenokartiko tropik (acth)

Pengukuran dilakukan dengan test

supresi deksametason. Spesimen yang

diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5

cc dan urine 24 jam.

Persiapan melakukan pemeriksaan darah

dan urine

1). Tidak ada pembatasan makan dan

minum

35
2). Bila klien menggunakan obat-obatan

seperti kortisol atau antagonisnya

dihentikan lebih dahulu 24 jam

sebelumnya.

3). Bila obat-obatan harus diberikan,

lampirkan jenis obat dan dosisnya pada

lembaran pengiriman specimen

4). Cegah stres fisik dan psikologis

Pelaksanaan pemeriksaan darah dan urine

1). Klien diberi deksametason 4 x 0,5

ml/hari selama-lamanya dua hari

2). Besok paginya darah vena diambil

sekitar 5 cc

3). Urine ditampung selama 24 jam

4). Kirim spesimen (darah dan urine) ke

laboratorium.

36
Hasil Normal bila:

1). ACTH menurun kadarnya dalam darah.

Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl

2). 17-Hydroxi-Cortiko-Steroid (17-OHCS)

dalam urine 24 jam kurang dari 2,5 mg.

Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan

pemberian deksametasaon 1 mg per oral tengah

malam, baru darah vena diambil lebih kurang 5

cc pada pagi hari dan urine ditampung selama 5

jam. Spesimen dikirim ke laboratorium. Nilai

normal bila kadar kortisol darah kurang atau

37
sama dengan 3 mg/dl dan eksresi 17 OHCS

dalam urine 24 jam kurang dari 2,5 mg.

3. Pemeriksaan Dignostik Pada Kelenjar Tiroid

Up take Radioaktif (RAI)

Tujuan Pemeriksaan adalah untuk

mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam

menangkap iodide

Persiapan

1). Klien puasa 6-8 jam

2). Jelaskan tujuan danm prosedur

Pelaksanaan

1). Klien diberi Radioaktoif Jodium (I131)

per oral sebanyak 50 microcuri. Dengan

alat pengukur yang ditaruh diatas

38
kelenjar tiroid diukur radioaktif yang

tertahan.

2). Juga dapat diukur clearence I131 melalui

ginjal dengan mengumpulkan urine

selama 24 jam dan diukur kadar

radioaktiof jodiumnya.

Banyaknya yang ditahan oleh kelenjar

tiroid dihitung dalam persentase sebagai

berikut:

1). Normal: 10-35%

2). Kurang dari: 10% disebut menurun,

dapat terjadi pada hipotiriodisme.

3). Lebih dari: 35% disebut meninggi, dapat

terjadi pada tirotoxikosis atau pada

defisiensi jodium yang sudah lama dan

pada pengobatan lama hipertiroidisme.

39
a. T3 dan T4 Serum

Persiapan fisik secara khusus tidak ada.

Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena

sebanyak 5-10 cc.

Nilai Normal

1). orang dewasa: Jodium bebas: 0,1-0,6

mg/dl T3: 0,2-0,3 mg/dl. Ta: 6-12 mg/dl

2). Nilai normal pada bayi/anak: T3: 180-

240 mg/dl

b. Up take T3 Resin

Bertujuan untuk mengukur jumlah

hormon tiroid (T3) atau tiroid binding globulin

(TBG) tak jenuh. Bila TBG naik berarti

hormon tiroid bebas meningkat. Peningkatan

TBG terjadi pada hipertiroidisme dan menurun

pada hipotiroidisme. Dibutuhkan spesimen

40
darah vena sebanyak 5 cc. Klien puasa selama

6 8 jam.

Nilai Normal

1). Dewasa: 25-35% uptake oleh resin

Anak: Pada umumnya tidak ada Protein

Bound Iodine (PBI). Bertujuan

mengukur jodium yang terikat dengan

protein plasma. Nilai normal 4-8 mg%

dalam 100 ml darah. Specimen yang

dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc.

Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan

6-8 jam.

c. Laju Metabolisme Basal (BMR)

Bertujuan untuk mengukur secara tidak

langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan

41
tubuh di bawah kondisi basal selama beberapa

waktu.

Persiapan

1). Klien puasa sekitar 12 jam

2). Hindari kondisi yang menimbulkan

kecemasan dan stress

3). Klien harus tidur paling tidak 8 jam

4). Tidak mengkonsumsi obat-obat

analgesik dan sedative

5). Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan

dan prosedurnya

6). Tidak boleh bangun dari tempat tidur

sampai pemeriksaan dilakukan.

Pelaksanaan

42
1). Segera setelah bangun, dilakukan

pengukuran tekanan darah dan nadi

2). Dihitung dengan rumus: BMR (0,75 x

pulse) + (0,74 x Tek Nadi)-72

3). Nilai normal BMR: -10 s/d 15%.

Pertimbangkan faktor umur, jenis

kelamin dan ukuran tubuh dengan kebutuhan

oksigen jaringan. Pada klien yang sangat

cemas, dapat diberikan fenobarbital yang

pengukurannya disebut Sommolent

Metabolisme Rate. Nilai normalnya 8-13%

lebih rendah dari BMR.

d. Scanning Tyroid

Dapat digunakan beberapa teknik antara

lain:

43
Radio Iodine Scanning. Digunakan untuk

menentukan apakah nodul tiroid tunggal atau

majemuk dan apakah panas atau dingin

(berfungsi atau tidak berfungsi). Nodul panas

menyebabkan hipersekresi jarang bersifat

ganas. Sedangkan nodul dingin (20%) adalah

ganas.

Up take Iodine. Digunakan untuk menentukan

pengambilan jodium dari plasma. Nilai normal

10 s/d 30% dalam 24 jam.

4. Pemeriksaan Diagnostik Pada Kelenjar

Paratiroid

a. Percobaan Sulkowitch

Dilakukan untuk memeriksa perubahan

jumlah kalsium dalam urine, sehingga dapat

44
diketahui aktivitas kelenjar paratiroid.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan

Reagens Sulkowitch. Bila pada percobaan

tidak terdapat endapan maka kadar kalsium

plasma diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan

sedikit one white cloud) menunjukkan kadar

kalsium darah normal (6 ml/d1). Bila endapan

banyak, kadar kalsium tingg.

Persiapan Pemeriksaan

1). Urine 24 jam ditampung

2). Makanan rendah kalsium 2 hari

herturut-turut

Pelaksanaan Pemeriksaan

1). Masukkan urine 3 ml ke dalam tabung

(2 tabung)

45
2). Kedalam tabung pertama dimasukkan

reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua

hanya sebagai control

Pembacaan hasil secara kwantitatif:

1). Negatif (-): Tidak terjadi kekeruhan

2). Positif (+): Terjadi kekeruhan yang

halus

3). Positif (+ +): Kekeruhan sedang

4). Positif (+ + +): Kekeruhan banyak

timbul dalam waktu kurang dari 20

detik

5). Positif (+ + + +): Kekeruhan hebat,

terjadi seketika

b. Percobaan Ellwort-Howard

Percobaan didasarkan pada diuresis

pospor yang dipengaruhi oleh parathormon.

46
Cara Pemeriksaan

Klien disuntik dengan paratharmon

melalui intravena kemudian urine di-tampung

dan diukur kadar pospornya. Pada

hipoparatiroid, diuresis pospor bisa mencapai

5-6 x nilai normal.

Pada hiperparatiroid, diuresis pospornya tidak

banyak berubah.

c. Percobaan Kalsium intravena

Percobaan ini didasarkan pada

anggapan bahwa bertambahnya kadar serum

kalsium akan menekan pembentukan

paratharmon. Normal bila pospor serum

meningkat dan pospor diuresis berkurang.

Pada hiperparatiroid, pospor serum dan pospor

diuresis tidak banyak berubah. Pada

47
hipoparatiroid, pospor serum hampir tidak

mengalami perubahan tetapi pospor diuresis

meningkat.

d. Pemeriksaan radiologi

Persiapan khusus tidak ada.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat

kemungkinan adanya kalsifikasi tulang,

penipisan dan osteoporosis. Pada hipotiroid,

dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar

tengkorak. Densitas tulang bisa normal atau

meningkat. Pada hipertiroid, tulang meni-pis,

terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae

pada tulang.

e. Pemeriksaan Elektrocardiogram (ECG).

48
Persiapan khusus tidak ada.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk

mengidentifikasi kelainan gambaran EKG

akibat perubahan kadar kalsium serum

terhadap otot jantung. Pada hiperparatiroid,

akan dijumpai gelombang Q-T yang

memanjang sedangkan pada hiperparatiroid

interval Q-T mungkin normal.

f. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk

mengidentifikasi perubahan kontraksi otot

akibat perubahan kadar kalsium serum,

persiapan khusus tidak ada.

49
5. Pemeriksaan Diagnostik Pada Kelenjar

Pankreas

a. Pemeriksaan Glukosa

Jenis pemeriksaannya adalah gula darah

puasa. Bertujuan untuk menilai kadar gula

darah setelah puasa selama 8-10 jam

Nilai normal:

1). Dewasa: 70-110 md/d1 Bayi: 50-80

mg/d

2). Anak-anak: 60-100 mg/dl

Persiapan

1). Klien dipuasakan sebelum

pemeriksaan dilakukan

2). Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan

Pelaksanaan

50
1). Spesimen adalah darah vena lebih

kurang 5 s/d 10 cc

2). Gunakan anti koagulasi bila

pemeriksaan tidak dapat dilakukan

segera

3). Bila klien mendapat pengobatan

insulin atau oral hipoglikemik untuk

sementara tidak diberikan

4). Setelah pengambilan darah, klien

diberi makan dan minum serta

obatobatan sesuai program.

Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat

dengan gula darah 2 jam PP (post prandial).

Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam

setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan

dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya

51
setelah pengambilan gula darah puasa, kemudian

klien disuruh makan menghabiskan porsi yang

biasa lalu setelah dua jam kemudian dilakukan

pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga

dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi

klien.

Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja

namun perlu diingat waktu yang tepat untuk

pengambilan spesimen karena hal ini dapat

mempengaruhi hasil pemeriksaan. Bagi klien yang

mendapat obat-obatan sementara dihentikan

sampai pengambilan spesimen dilakukan.

6. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar

Adrenal

a. Pemeriksaan Hemokonsentrasi darah

Nilai Normal

52
1). Dewasa wanita: 37-47% Pria: 45-54%

2). Anak-anak: 31-43%

3). Bayi: 30-40%

4). Neonatal: 44-62%

Tidak ada persiapan secara khusus.

Spesimen darah dapat diperoleh dari perifer

seperti ujung jari atau melalui pungsi intravena.

Bubuhi antikoagulan ke dalam darah untuk

mencegah pembekuan.

Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K , CI),

Nilai Normal

1). Natrium: 310-335 mg (13,6-14

meq/liter)

2). Kalium: 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter)

3). Chlorida: 350-375 mg% (100-106

meq/liter)

53
Pada hipofungsi adrenal akan terjadi

hipernatremi dan hipokalemi, dan sebaliknya

terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu

hiponatremia dan hiperkalemia. Tidak

diperlukan persiapan fisik secara khusus.

b. Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA)

Bertujuan untuk mengukur katekolamin

dalam urine. Dibutuhkan urine 24 jam. Nilai

normal 1-5 mg. Tidak ada persiapan khusus.

Stimulasi Test

Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan

menedeteksi hipofungsi adrenal. Dapat

dilakukan terhadap kortisol dengan pemberian

ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan

pemberian sodium.

54