Anda di halaman 1dari 4

Kerangka Dasar Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang merupakan bagian dari proses manajemen
keseluruhan mempunyai peranan penting di dalam pencapaian tujuan perusahaan melalui
pengendalian rugi perusahaan tersebut. Alasan ini adalah tepat mengingat penerapan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja dalam suatu perusahaan betujuan mencegah, mengurangi dan menanggulangi
setiap bentuk kecelakaan yang dapat menimbulkan kerugian-kerugian yang tidak dikehendaki.
Keberhasilan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam suatu industri sangat bergantung
pada pandangan manajemen terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja itu sendiri. Ungkapan ini
didasarkan pada kenyataan dimana masih banyak terdapat perusahaan yang berpandangan bahwa
penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam kegiatannya akan mengurangi perolehan
keuntungan perusahaan. Pandangan ini sama sekali tidak dapat dibenarkan, karena pada
hakekatnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja justru akan melipatgandakan keuntungan
melalui pencegahan kecelakaan yang dapat menimbulkan kerugian dan peningkatan produktifitas.
Bahkan tidaklah berlebihan kiranya apabila suatu industri yang memiliki resiko tinggi seperti industri
pertambangan berpandangan bahwa pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan
tanggung jawab seluruh karyawan dan tidak semata-mata tanggung jawab suatu bagian atau
pimpinan perusahaan. Hal ini dimungkinkan mengingat adanya pernyataan manajemen yang
mengidentikkan masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan produk yang dihasilkan. Oleh
karena itu segala perlakuan terhadap produk tidak dapat dibedakan dengan perlakuan terhadap
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Kerangka dasar manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat disusun sebagai berikut :
a. Fungsi utama manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengendalian, dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masalah Keselamatan dan
Kesehatan Kerja. Contoh dari kelima fungsi ini ditentukan oleh konsep dasar Keselamatan dan
Kesehatan Kerja yang dianut industri tersebut.
b. Kegiatan utama manajemen yang meliputi pembiayaan dan pelaporannya, pengoperasian, produk
pemasaran dan penjualan serta sistem komunikasi dan informasi. Kegiatan-kegiatan ini merupakan
sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan.
c. Sumber daya dan pembatas yang meliputi manusia, materialisme dan peralatan, kebutuhan
konsumen, kondisi ekonomi, masyarakat dan lingkungan kerja serta peraturan pemerintah dapat
merupakan masukan kegiatan manajemen dan fungsi manajemen.
Dengan melandaskan pada kerangka dasar manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersebut
diatas maka tujuan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah melakukan pencegahan
kecelakaan atau kerugian perusahaan dengan merealisasikan setiap fungsi manajemen dalam
melaksanakan kegiatan yang dibatasi oleh sumber atau masukan yang dimiliki.
2. Konsep Sebab Kecelakaan
Sebab kecelakaan merupakan landasan dari manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, karena
usaha Keselamatan dan Kesehatan Kerja diarahkan untuk mengendalikan sebab terjadinya
kecelakaan. Untuk dapat memahami dengan baik tentang konsep sebab kecelakaan kerja maka
manajemen dituntut memahami sumber penyebab terjadinya kecelakaan.
Dalam kaitannya dengan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, sebab kecelakaan dapat
bersumber dari empat kelompok besar, yaitu :
a. Faktor Lingkungan
Faktor ini berkaitan dengan kondisi fisik ditempat kerja yang meliputi :
- Keadaan lingkungan kerja
- Kondisi proses produksi
- Proses Produksi
b. Faktor Alat Kerja
Dimana bahaya yang ada dapat bersumber dari peralatan dan bangunan tempat kerja yang salah
dirancang atau salah pada saat pembuatan serta terjadinya kerusakan-kerusakan yang diakibatkan
oleh salah rancang. Selain itu kecelakaan juga bisa disebabkan oleh bahan baku produksi yang tidak
sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan, kesalahan dalam penyimpanan, pengangkutan dan
penggunaan.
c. Faktor Manusia
Faktor ini berkaitan dengan perilaku dan tindakan manusia didalam melakukan pekerjaan, meliputi :
- Kurang pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang kerjanya maupun dalam bidang keselamatan
kerja.
- Kurang mampu secara fisik (karena cacat atau kondisi yang lemah) atau secara mental.
- Kurang motifasi kerja dan kurang kesadaran akan keselamatan kerja.
- Tidak memahami dan menaati prosedur kerja secara aman.
Bahaya yang ada bersumber dari faktor manusianya sendiri yang sebagian besar disebabkan tidak
menaati prosedur kerja.
d. Kelemahan Sistem Manajemen
Faktor ini berkaitan dengan kurang adanya kesadaran dan pengetahuan dari pucuk pimpinan untuk
menyadari peran pentingnya masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja, meliputi :
- Sikap manajemen yang tidak memperhatikan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di tempat kerja.
- Organisasi yang buruk dan tidak adanya pembagian tanggung jawab dan pelimpahan wewenang
bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara jelas.
- Sistem dan prosedur kerja yang lunak atau penerapannya tidak tegas.
- Tidak adanya standar atau kode Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dapat diandalkan.
- Prosedur pencatatan dan pelaporan kecelakaan atau kejadian yang kuang baik.
- Tidak adanya monitoring terhadap sistem produksi.
Kelemahan Sistem manajemen ini mempunyai peranan yang sangat besar sbagai penyebab
kecelakaan, karena sistem manajemenlah yang mengatur ketiga unsur produksi (manusia, peralatan,
dan tempat kerja). Ketimpangan yang terjadi pada sistem manajemen akan menimbulkan
ketimpangan pada ketiga unsur sistem produksi yang lain. Sehingga sering dikatakan bahwa
kecelakaan merupakan manifestasi dari adanya kesalahan manajemen dalam sistem manajemen
yang menjadi penyebab timbulnya masalah dalam proses produksi.
3. Konsep Akibat Kecelakaan
Pengertian terjadinya kecelakaan sering dikaitkan dengan akibat yang ditimbulkan, untuk
memahami dengan baik tentang kecelakaan maka hal yang harus dipertimbangkan adalah konsepsi
akibat yang ditimbulkan.
Didalam penerapannya, para manager harus bepandangan bahwa suatu kejadian yang
mengakibatkan terjadinya kecelakaan tidak hanya terbatas pada keadaan didalam lingkungan
pengolahan saja,akan tetapi lingkungan luar pengolahan juga harus dipertimbangkan. Karena pada
dasarnya kejadian di dalam berdampak negatif terhadap lingkungan luar.
Demikiian pula terhadap pengertian kecelakaan tersebut tidak harus selalu dikaitkan dengan akibat
yang ditimbulkan atau kerugian yang dialami. Maksud pengertian ini menekankan bahwa suatu
kejadian baru dikatakan kecelakaan apabila mengakibatkan cedera, korban jiwa, penyakit akibat kerja
atau kerugian-kerugian lainnya.
4. Prinsip Pencegahan Kecelakaan
Pencegahan kecelakaan dalam kaitannya dengan masalah Keselamatan dan Kesehatan
Kerja harus mengacu dan bertitik tolak pada konsep sebab akibat kecelakaan, yaitu dengan
mengendalikan sebab, dan mengurangi akibat kecelakaan.
Upaya ini dilandasi dengan kenyataan bahwa suatu kecelakaan terjadi bila adanya bahaya tidak
dapat terkendali dan penanganan bahaya akan lebih mudah bila dilakukan sejak tahap awal.
Demikian pula terhadap akibat yang terjadi dapat ditekan seminimal mungkin.
Berdasarkan prinsip pencegahan kecelakaan tersebut maka fungsi dasar manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja memegang peranan penting terhadap upaya pengenalian kecelakaan sesuai
dengan program yang telah ditetapkan.
5. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Di industri Pertambangan
Program keselamatan kerja yang baik adalah program yang didasarkan pada prinsip close
the loop atau prinsip penindaklanjutan hingga tuntas. Secanggih apapun program yang ditawarkan,
jikalau berhenti di tengah jalan dan tidak diikuti dengan tindak lanjut yang nyata tentu tidak memiliki
arti. Baik Internationa Loss Control Institute(ILCI) maupun National Occupational Safety
Association (NOSA) menyebutkan bahwa sistem keselamatan kerja yang efektif harus memenuhi
prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Identifikasi Bahaya (Identification Hazzard)
Adalah tidak sama bahaya di lingkungan kerja satu dengan yang lain. Untuk program yang umum
dijumpai di industri pertambangan dalam kaitannya dengan prinsip ini antara lain :
- Program pengenalan dan peduli bahaya (Hazzard Recognition and awareness Program)
- Program komunikasi bahaya dan inventori bahan kimia ( Hazard Communication and Chemical
Inventory Program)
- Program Pemantauan Higiena Perusahaan
- Program Percontoh (Sampling Program)
- STOP Program
- Program Penilaian Resiko (Risk Assesment Program)
- Program Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection Program)
- Audit Dasar Pihak Ketiga (Third Party Baseline Audit)
b. Menyusun Standart Kinerja Dan Sistem Pengukuran (Set Standart of Performance and
Measurement)
Di dalam langkah ini dipandang sangat penting untuk menmbuat standart, prosedur atau kebijakan
yang berkaitan dengan potensi bahaya yang telah diketahui. Dalam penyusunan prosedur ini
sebaiknya melibatkan semua tingkatan managemen dan pelaksana di lapangan.
- Program Penyusunan Kebijakan, Standart Kerja, Prosedur dengan tolok ukur standart institusi
international, pemerintah dan pabrik.
- Program Review Prosedur Kritis (Critical Prosedur Review)
- Program Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection Program)
- Program Pertanggunggugatan Keselamatan Kerja (Safety Accountability Program)
- Program Pertemuan Keselamatan Kerja (Safety Meeting Program)
c. Menyusun Standart Pertangunggugatan (Set Standard of Accountability)
Langkah ini adalah untuk menetapkan sistem pertanggunggugatan untuk masing-masing tingkatan
manajemen. Program yang sering dijumpai berkaitan dengan langkah ini adalah :
- Program Standarisasi Penugasan (Assignment Standardization Program )
- Program Standarisasi Pertanggunggugatan (Accountability Standardisation Program)
- Program Evaluasi Diskripsi Kerja (Job Description Evaluation Program)
- Program KRA-KPI
d. Mengukur Kinerja Terhadap Standar yang Ditentukan (Measure Performance against Standard)
Langkah ini untuk mengetahui seberapa tinggi kinerja yang dipakai terhadap standar yang ada.
Beberapa program yang telah sangat dikenal dalam langkah ini adalah :
- Audit keselamatan kerja Internal dan Eksternal (Internal & External Safety Audit)
- Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection Program)
- Program Analisa Kecelakaan (Accident Investigation Program)
- NOSA Five Starrs Grading Audit
- Housekeeping Evaluation
e. Mengevaluasi Hasil yang dicapai (Evaluate Outcome)
Termasuk dalam langkah ini adalah mengevaluasi adanya penyimpangan dari peraturan
perundangan dan standar internasional yang berlaku. Contoh program dalam langkah ini antara lain:
- Program statistik kecelakaan (Safety Statistic Program)
- Program Pelaporan ke Pemerintah (Government Reporting )
- Program Analisa Kecelakaan (accident Analysis Program)
- Evaluasi Kesehatan Karyawan (Medical Evaluation)
- Program Perlindungan Pendengaran dan Pernafasan
- Audit Follow up
f. Melakukan Koreksi Terhadap Penyimpangan yang Ada (Correct Deviations and Deficiencies )
Salah satu contoh yang amat dikenal dalam langkah ini adalah :
- Program Penghargaan Safety (Safety Recognition Program)
- Program Koreksi Tuntas (Correction Close The Loop Program)
- Program Pertemuan Kepala Teknik Tambang (Technical Manager Meeting)

A. Dasar Hukum K-3 Pertambangan

1. UU Nomor 11 TH 1967
2. UU Nomor 1 TH 1970
3. UU Nomor 13 TH 2003
4. PP Nomor 32 TH 1969
5. PP Nomor 19 TH 197
6. MPR Nomor 341 LN 1930
7. KEPMEN Nomor 2555.K/201/M.PE/1993
8. KEPMEN Nomor 555.K/26/M.PE/1995