Anda di halaman 1dari 44

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetian Pengaruh


Pengertian pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(2002:849), yaitu :
Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda)
yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang .

Sedangkan pengertian pengaruh menurut Badudu dan Zain


(1994:1031), yaitu sebagai berikut :
Pengaruh adalah (1) daya yang menyebabkan sesuatu yang terjadi ; (2)
sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain ; dan
(3) tunduk atau mengikuti karena kuasa atau kekuatan orang lain.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa pengaruh merupakan


suatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain.
Sehingga, dalam penelitian ini penulis meneliti mengenai seberapa besar daya
yang ada atau yang ditimbulkan oleh pemahaman auditee tentang fungsi audit
internal terhadap kualitas kinerja auditor internal. Maka, dengan kata lain akan
diteliti apakah kulitas kinerja auditor internal dipengaruhi pemahaman auditee
tentang fungsi audit internal.

2.2 Audit
2.2.1 Pengertian Audit
Pemeriksaan atau yang lebih dikenal dengan istilah audit bertujuan untuk
menilai apakah pelaksanaan sudah selaras dengan apa yang sudah
direncanakan, sehingga dapat disimpulkan bahwa audit merupakan suatu proses
membandingkan antara fakta yang ada dengan yang seharusnya. Berikut definisi
audit menurut The American Accounting Association (AAA) dikutip dari
Robertson dan Louwers (2002 : 7) mendifinisikan auditing :
10

Auditing is systematic process of objectively obtaining and evaluating


evidence regarding assertions and established criteria and communicating
the result to interested users.

Pernyataan tersebut mendefinisikan audit sebagai suatu proses yang


sistematis atas perolehan dan pengevaluasian bukti secara objektif mengenai
asersi dan kriteria yang ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada
para pengguna yang tertarik.
Sedang Arens et al (2006 :4), mendefinisikan audit :
Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about
information to determine and report on the degree of correspondence
between the information and established criteria. Auditing should be done
by competent and independent person.

Dari definisi yang telah dikemukakan tersebut dapat diambil simpulan


tentang beberapa karateristik audit yaitu :
1. Audit merupakan suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian
bukti atau informasi.
2. Adanya bukti audit merupakan informasi atau keterangan yang
digunakan oleh auditor untuk menilai tingkat kesesuaian suatu
informasi.
3. Adanya tingkat kesesuaian informasi ( degree of correspondence
information ) dan kriteria tertentu ( established criteria ).
4. Audit harus dilakukan oleh seseorang yang memiliki kualifikasi yang
diperlukan untuk melakukan audit. Seseorang yang kompeten dan
independen terhadap fungsi atau satuan usaha yang diperiksanya
5. Adanya pelaporan dan mengkomunikasikan hasil audit kepada pihak
yang berkepentingan.

2.2.2 TipeTipe Audit


Menurut Arens et al (2006:14), terdapat tiga penugasan audit yaitu
audit operasional, audit ketaatan, dan audit laporan keuangan. Ketiga jenis
penugasan audit tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
11

Audit Operasional adalah suatu tinjauan atau reviu terhadap setiap


bagian dari prosedur dan metode operasi atau suatu organisasi untuk
menilai keefektifannya.
1. Audit Ketaatan (Compliance Audits)
Tujuan audit ketaatan adalah untuk mempertimbangkan apakah klien
(auditee) telah mengikuti prosedur atau peraturan tertentu yang telah
ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
2. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audits)
Audit laporan keuangan yaitu audit yang dilakukan untuk menentukan
apakah laporan keuangan secara keseluruhan yang merupakan
informasi terukur yang telah disajikan sesuai dengan kriteria tertentu.

2.3 Audit Internal


2.3.1 Perkembangan Audit Internal
Audit internal telah berkembang sepanjang enam puluh tahun terakhir,
profesi yang bertujuan untuk memonitoring efektivitas pengendalian internal ini
telah berkembang menjadi aktivitas-aktivitas yang lebih luas cakupannya
dibandingkan dibandingkan aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada masa awal
profesi ini dikenal. Perkembangan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 1999,
di mana telah terjadi redefinisi audit internal yang disahkan oleh Institute
Internal Auditors (IIA) Board of Directors.
Evolusi tersebut secara nyata terlihat dengan meningkatnya peran auditor
pada entitas tempat ia bekerja. Pada saat ini fungsi tersebut dapat diharapkan
dapat berkembang mencakup fungsi yang lebih luas, di mana auditor tidak hanya
memberikan suatu penilaian semata, tetapi juga memberikan jawaban-jawaban
atas berbagai masalah yang ditemukan auditor internal sehubungan dengan
audit yang dilakukan, dalam rangka meningkatkan manfaat atau nilai dari
aktivitas-aktivitas entitas.
2.3.2 Pengertian Audit Internal
Pengertian audit internal yang berlaku pada saat ini tentunya telah
banyak mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya dunia kerja
dan perekonomian yang menuntut suatu perusahaan untuk menjalankan
12

operasinya secara profesional yang berarti pemanfaatan sumber daya yang


efektif dan efisien sesuai dengan tujuan perusahaan. Pada pernyataan Hiro
Tugiman (1997:11) :
Internal auditing atau pemeriksaan internal adalah suatu fungsi penilaian
yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan
mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan. Tujuan pemeriksaan
internal adalah membantu para anggota organisasi agar dapat
melaksanakan tanggungjawabnya secara efektif. Untuk itu pemeriksa
internal akan melakukan analisis, penilaian, dan cara mengajukan saran-
saran. Tujuan pemeriksaan mencakup pula pengembangan pengawasan
yang efektif dengan biaya yang wajar.

Definisi audit internal mengalami perkembangan, seperti yang telah


ditetapkan oleh IIAs Board of Directors pada tahun 1999. Definisi baru tersebut
tidak hanya merefleksikan perubahan yang telah terjadi dalam profesi, definisi
tersebut juga mengarahkan auditor internal menuju peran yang lebih luas dan
berpengaruh pada masa yang akan datang. Definisi yang telah disahkan oleh
IIAs tersebut adalah :
Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting
activity designed to add value and improve and organization operations.
It helps an organization accomplish its objectives by bringing a
systematic, disciplined approach to evaluate and improve the
effectivenass of risk management, control and governance processes.

Definisi menurut Sawyer ( 2003 :6 ) adalah sebagai berikut :


Audit Internal is systematic, objective aprrisal by auditor internal of the
operation and control and control within organization to determine
wheter:
1. Financial and operating information is accurate and reliable.
2. Risk to the enterprise are identified and minimized.
3. Eksternal regulation and acceptable internal policies and procedure
are followed.
4. Satisfactory operating kriteria are met.
5. Resources are used effectively achived all for the purpose of as sitting
members of the organization in the effective discharge of their
responsibilities.

Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa audit internal adalah suatu
fungsi penilaian yang objektif dan sistematis dalam menilai pengendalian dan
kegiatan operasi dalam suatu organisasi yang dilakukan oleh auditor internal
untuk meyakinkan bahwa :
13

1. Informasi keuangan dan operasi harus akurat dan reliable.


2. Risiko bisnis dapat diidentifikasi dan diminimalisasi.
3. Peraturan, kebijakan dan, prosedur telah ditaati.
4. Tercapainya kriteria kegiatan operasional organisasi.
5. Meyakinkan bahwa sumber daya telah digunakan secara efektif sesuai
dengan tanggungjawabnya.

Dan pengertian audit internal menurut Konsorsium Organisasi Profesi


Auditor Internal ( KOPAI ) (2005: 25), sebagai berikut :
Audit internal adalah kegiatan assurance dan konsultasi yang
independen dan objektif yang dirancang untuk memberikan nilai tambah
dan meningkatkan kegiatan organisasi. Audit internal membantu
organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang
sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas
pengeluaran risiko, penendalian dan proses governance.

Berdasarkan definisi di atas jelas terlihat perkembangan fungsi audit


internal seperti tampak pada tabel 2.1
Tabel 2.1

Lama 1947 Baru 1999


1. Fungsi penilaian independent 1. Suatu aktivitas independen
yang dibentuk dalam suatu objektif
organisasi.
2. Fungsi penilaian. 2. Aktivitas pemberian jaminan
keyakinan dan konsultasi
3. Mengkaji dan mengevaluasi 3. Dirancang untuk memberikan
aktivitas organisasi sebagai suatu nilai tambah serta
bentuk jasa yang diberikan bagi meningkatkan kegiatan operasi
organisasi organisasi.
4. Membantu agar para anggota 4. Membantu organisasi dalam
organisasi dapat menjalankan usaha mencapai tujuannya.
tanggung jawabnya secara
efektif.
5. Memberi hasil analisis, penilaian, 5. Memberikan suatu pendekatan
rekomendasi, konseling, dan disiplin yang sistematis untuk
informasi yang berkaitan dengan mengevaluasi keefektifan
aktifitas yang dikaji dan manajemen risiko, pengendalian,
menciptakan pengendalian dan proses pengaturan dan
efektif dengan biaya yang wajar. pengelolaan organisasi.
Sumber : Hiro Tugiman (2004:13)
14

Dari definisi tersebut di atas kata kunci audit internal sebagai berikut :
1. Kegiatan assurance dan konsultasi.
Aktivitas pemberian jaminan keyakinan dan konsultasi bagi organisasi
atau perusahaan.
2. Independen dan objektif.
Para auditor internal dianggap mandiri jika dapat melaksanakan
pekerjaan secara bebas dan objektif. Kemandirian para pemeriksa
internal dapat memberikan penilaian yang tidak memihak, yang mana
hal ini sangat diperlukan atau bagi pemeriksaan sebagaimana
mestinya. Hal ini dapat diperoleh mengenai status organisasi dan
sikap objektif para auditor internal. Status organisasi unit auditor
internal haruslah memberikan keleluasaan untuk memenuhi atau
menyelesaikan tanggung jawab pemeriksaan yang diberikan.
3. Memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan organisasi
Audit internal diharapkan mampu memberikan solusi dan membantu
organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuan organisasi.
4. Pendekatan sistematis dan teratur.
Auditor internal dalam melaksanakan tugasnya harus tepat pada
pokok permasalahan sehingga permasalahan yang dihadapi organisasi
atau perusahaan dapat segera terdeteksi dan diatasi.
5. Pengelolaan risiko
Audit internal memiliki fungsi dalam membantu organisasi dengan
cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan
memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan
sistem pengawasan intern.
6. Pengendalian
Auditor internal memiliki fungsi audit internal dalam membantu
organisasi dalam memelihara pengendalian internal yang efektif
dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisiensi, dan efektivitas
pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian
internal secara berkesinambungan.
15

7. Proses Governance
Auditor Internal memiliki fungsi audit internal dalam menilai dan
memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses
governance dalam mencapai tujuan-tujuan berikut :
a. Mengembangkan etika dan nilai yang memadai di dalam
organisasi.
b. Memastikan pengelolaan kinerja organisasi yang efektif dan
akuntabilitas
c. Secara efektif mengkomunikasikan risiko dan pengendalian
kepada unit-unit yang tepat dalam organisasi.
d. Secara efektif mengkoordinasikan kegiatan, dan
mengkomunikasikan informasi di antara pimpinan, dewan
pengawas, auditor internal, dan manajemen.

Auditor internal juga memiliki peran dalam pelaksanaan Good Corporate


Governance, selain akibat dari esensi auditor internal dalam manajemen risiko
juga kerena karakter auditor internal memungkinkan auditor internal memiliki
peran yang sangat penting. Menurut Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD), seperti yang dikutip Majalah Manajemen Manusia
edisi Juli tahun 2000, definisi corporate governance adalah sebagai berikut :
Corporate governance is the system by which business corporation are
directed and controlled. The corporate governance structure specifies the
distribution of rights and responsibilities among different participant in the
corporation, such as, the board, manager, shareholders and other
stakeholder, and spells out the rules and procedures for making decisions
on corporation affairs.

Hasil pengkajian yang dilakukan OECD menunjukan bahwa terdapat


empat prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Good Corporate
Governance, empat prinsip tersebut adalah :
1. Fairness (Keadilan)
Fairness adalah prinsip yang menekankan adanya kejelasan hak-hak pemilik
baik modal serta sistem hukum dan penegakan peraturan-peraturan untuk
16

melindungi hak-hak para pemegang saham terutama pemegang saham


minoritas.
2. Tranparancy (Transparansi)
Transparancy adalah prinsip yang menjelaskan bahwa perusahaan secara
reguler dan tepat waktu menyediakan informasi yang cukup dan akurat
terhadap stakeholder.
3. Accountability (Akuntabilitas)
Accontability adalah prinsip yang menyatakan bahwa melalui pengawasan
yang efektif yang mendasarkan pada keseimbangan kekuasaan antara
direksi, pemegang saham, komisaris dan auditor sangat penting dalam
menciptakan pengelolaan yang baik pada suatu perusahaan, melalui hal
tersebut akuntabilitas tercapai. Termasuk didalamnya adalah pembatasan
kekuasaan antara manajer perusahaan yang bertanggungjawab dalam
kegiatan operasional sehari-hari dengan pemegang saham, yang terwakili
oleh dewan komisaris.
4. Responsibility (Tanggung jawab)
Responsibility adalah prinsip yang menjelaskan bahwa perusahaan
mempunyai tanggung jawab dalam mematuhi hukum dan perundang-
undangan yang berlaku. Manajemen berkewajiban memenuhi ketentuan dan
peraturan yang berlaku bagi perusahaan yang sesuai dengan bidang-bidang
industri yang digeluti.

2.3.3 Tujuan Dan Ruang Lingkup Audit Internal


Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (KOPAI) (2004:8),
menyatakan bahwa :
Tujuan kewenangan dan tanggung jawab fungsi audit internal harus
dinyatakan secara formal dalam Charter Audit Internal, konsisten dengan
Standar Profesi Auditor Internal (SPAI) dan mendapat persetujuan dari
pimpinan atau Dewan Pengawas Organisasi.

Dari pernyataan yang dikemukakan oleh Gil Courtemanche yang


dialihbahasakan oleh Hiro Tugiman (1997:99) dapat diartikan :
Tujuan pelaksanaan audit internal adalah membantu para anggota
organisasi agar dapat melaksanakan tanggungjawabnya secara efektif,
17

untuk hal tersebut, auditor internal akan memberikan berbagai analisis


penilaian, rekomendasi, petunjuk dan informasi sehubungan dengan
kegiatan yang akan diperiksa. Tujuan pemeriksaan mencakup pula usaha
mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang wajar.

Dengan kata lain tujuan audit internal adalah memberikan pelayanan


kepada organisasi untuk membantu semua anggota organisasi atau perusahaan
tersebut. Bantuan yang diberikan sebagai tujuan akhir agar semua organisasi
dapat melakukan tanggung jawab yang diberikan dan dibebankan kepadanya
secara efektif. Audit internal membantu manajemen dalam mencari kemungkinan
yang paling baik dalam hal penggunaan sumber modal secara efektif dan efisien,
termasuk efektivitas pegendalian dalam biaya yang wajar. Semua bantuan audit
internal tersebut dapat diberikan melalui analisis-analisis, penilaian, saran-saran,
bimbingan dan informasi tentang aktivitas yang sedang diperiksa.
Ruang lingkup audit internal menurut Hiro Tugiman (1997:99-100)
sebagai berikut :
Ruang lingkup pemeriksaan internal menilai keefektifan sistem
pengendalian internal serta pengevaluasian terhadap kelengkapan dan
keefektifan sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi, serta
kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang diberikan. Pemeriksaan
internal harus :
a. Mereview keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi finansial dan
operasional serta cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi,
mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi tersebut;
b. Mereview berbagai sistem yang telah ditetapkan untuk memastikan
kesesuaiannya dengan berbagai kebijaksanaan, rencana, prosedur,
hukum, dan peraturan yang dapat berakibat penting terhadap
kegiatan organisasi, serta harus menentukan apakah organisasi telah
mencapai kesesuaian dengan hal-hal tersebut;
c. Mereview berbagai cara yang digunakan untuk melindungi harta dan,
bila perlu, memverifikasi keberadaan harta-harta tersebut;
d. Penilaian keekonomisan dan keefsienan penggunaan berbagai sumber
daya;
e. Mereview berbagai operasi atau program untuk menilai apakah
hasilnya akan konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah
ditetapkan dan apakah kegiatan atau program tersebut dilaksanakan
sesuai dengan yang direncanakan.

Ruang lingkup audit internal menurut Konsorsium Organisasi Profesi


Audit Internal (KOPAI ) (2004 : 13 ) :
18

Fungsi audit internal melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi


terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan
governance dengan menggunakan pendekatan sistematis, teratur, dan
menyeluruh. Yang meliputi :
1. Pengelolan Risiko,
Fungsi audit internal harus membantu organisasi dengan cara
mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan
kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem.
2. Pengendalian
Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara
pengendalian internal yang efektif dengan cara mengevaluasi
kecukupan efisiensi, dan efektivitas pengendalian tersebut, serta
mendorong peningkatan pengendalian internal secara
berkesinambungan.
a. Berdasarkan hasil penilaian risiko, fungsi audit internal harus
mengevaluasi kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian
internal, yang mencakup governance, kegiatan operasi dan sistem
informasi organisasi, hal ini harus mencakup :
1. Efektivitas dan efisiensi kegiatan operasi,
2. Keandalan dan integritas informasi,
3. Kepatuhan terhadap peraturan perundangundangan yang
berlaku,
4. Pengamanan aset organisasi.
b. Fungsi audit internal harus memastikan sampai sejauh mana
hasilhasil yang diperoleh konsisten dengan tujuan dan sasaran
yang telah ditetapkan.
c. Auditor internal harus mereview kegiatan operasi dan program
untuk memastikan sampai sejauh mana hasilhasil yang diperoleh
konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
d. Untuk mengevaluasi sistem pengendalian intern diperlukan kriteria
yang memadai.
3. Proses governance
Fungsi auditor internal harus menilai dan memberi rekomendasi yang
sesuai untuk meningkatkan proses governance dalam mencapai
tujuan berikut :
a. Mengembangkan etika dan nilainilai memadai di dalam
organisasi.
b. Memastikasn penelolaan kinerja organisasi yang efektif dan
akuntabilitas
c. Secara efektif mengkomunikasikan risiko dan pengendalian
kepada unitunit yang tepat di dalam organisasi.
d. Secara efektif mengkoordinasikan kegiatan.

2.4 Kinerja
2.4.1 Pengertian Kinerja
19

Secara umum kinrja diartikan sebagai hasil pelaksanaan kerja karyawan


dalam suatu organisasi atau perusahaan. Kinerja dapat dijadikan suatu ukuran
keberhasilan organisasi atau perusahaan. Menurut Mangkunegara (2000:67)
istilah kinerja berasal dari kata Job Performance. Pengertian kinerja adalah :
Hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab
yang diberikan kepadanya.

Menurut Gary Dessler (2003:241) mendefinisikan penilaian kinerja


sebagai berikut :
Performance appraisal mean evaluating on employees current or past
performance relative to the persons performance standards.

Secara umum kinerja merupakan hasil pelaksanaan kerja dari


karyawannya yang dapat dinilai perkembangannya melalui evaluasi yang
sistematis oleh pihak yang berwenang untuk menilai, dan juga merupakan
gambaran secara lengkap dan jelas mengenai kondisi yang mampu dikerjakan
seseorang atau kelompok yang terkait dalam tugas tertentu dengan tingkat
keberhasilan yang memuaskan. Dengan adanya suatu penilaian kinerja, maka
kegiatan dan program organisasi dapat diukur dan dievaluasi.
Pada dasarnya, penilaian kinerja merupakan penilaian atas perilaku
manusia dalam menjalankan peran yang mereka mainkan dalam organisasi.
Penilaian kinerja dilakukan untuk menekan perilaku yang semestinya dilakukan
melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta penghargaan baik bersifat
intrinsik maupun ekstrinsik.
Menurut Siegel dan Rawanauskas seperti yang dikutip oleh Mulyadi
(2001 : 415) yang mendefinisikan penilaian kinerja sebagai berikut :
Penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas
operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya
berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya.
20

Jadi berdasarkan definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa


penilaian kinerja adalah suatu proses di mana organisasi mengevaluasi secara
sistematis efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi, dan
karyawannya berdasarkan sasaran atau kriteria yang telah ditetapkan
sebelumnya dengan menggunakan segala potensi yang dimiliki oleh individu
untuk mencapai pengembangan organisasi.
Dalam melakukan penilaian atas kinerja dibutuhkan perbandingan antara
kinerja divisi dengan standarstandar yang telah ditetapkan, maka kinerja
dianggap memadai dan begitu pula sebaliknya.

2.4.2 Tujuan Dan Manfaat Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja merupakan aktivitas yang penting bagi perusahaan
karena penilaian kinerja dapat menjadi penghubung antara maksud dan tujuan
dari pihak perusahaan dan pihak karyawan.
Menurut Mulyadi (2001:416) tujuan pokok penilaian kinerja sebagai
berikut :
Untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan
dalam mematuhi standar perilaku yang ditetapkan sebelumnya, agar
membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan.

Manfaat dari penilaian kinerja menurut Mulyadi (2001:416) sebagai


berikut :
1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui
pemotivasian karyawan secara maksimum.
2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan
karyawan.
3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan
dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program
pelatihan karyawan.
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana
atasan menilai kinerja mereka.

2.4.3 Ukuran Kualitas Kinerja Audit Internal


Ukuran penetapan kinerja merupakan suatu indikator yang menyatakan
hubungan antara hasil-hasil pelaksanaan kinerja dengan sasaran yang telah
21

ditetapkan. Hal pokok yang menjadi pengukuran adalah input dan output dari
suatu aktivitas. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah efisiensi dalam
pelaksanaan dan efektivitas dan hasil yang dicapai.
Pengukuran kinerja audit internal sampai saat ini menjadi perdebatan.
Namun telah dikeluarkan oleh pakar bidang audit internal, diantaranya adalah
kriteria pengukuran kinerja departemen audit internal berdasarkan kepatuhan
terhadap Standar Profesi Auditor Internal ( Compliance With Standard Audit
Internal ) yang dikemukakan menurut Ward yang dikutip oleh Chambers (1981
: 214) sebagai berikut :
The performance of internal audit ( should be ) measured in terms of
their achievement of independently determined proffesional standard.

Dari pernyataan yang dikemukakan oleh Ward dinyatakan bahwa kinerja


audit internal seharusnya diukur berdasarkan syarat-syarat pencapaian
pengukuran kepatuhan audit internal terhadap standar profesi yang berlaku.
Pengukuran kinerja berdasarkan kepatuhan terhadap standar profesi yang
berlaku tidak dapat dilakukan secara kuantitatif. Meskipun begitu pengukuran
tersebut tidak sulit untuk dilakukan di mana telah ditetapkan syarat-syarat yang
harus ditaati. Untuk menjaga adanya jaminan kualitas, maka pengukuran kinerja
berdasarkan ketaatan terhadap standar profesi dapat dijadikan dasar pengukuran
kinerja yang efektif.
Dewasa ini banyak pihak yang mengandalkan peran audit internal dalam
menjaga efektivitas sistem pengendalian internal. Telah banyak peraturan dan
perundang-undangan, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional yang
mencerminkan dan kebutuhan masyarakat terhadap peran audit internal dan
Satuan Pengawas Intern (SPI) dalam menjaga efektivitas organisasi atau
perusahaan untuk menghindari kegagalan organisasi atau perusahaan.
Sedangkan menurut Chambers (1981:201-215), kinerja departemen
audit internal dapat diukur dengan :
1. Tercapainya penghematan biaya (Cost Savings)
Pengukuran ini memiliki keterbatasan, antara lain dapat disebabkan auditor
internal tidak melaksanakan tugas yang diberikan. Hal tersebut dapat
22

mengakibatkan departemen audit internal menyimpang dari tujuan yang


ingin dicapai. Biaya yang dimaksud di sini adalah :
a. Penghematan biaya yang terjadi karena manajemen melaksanakan
rekomendasi yang diajukan auditor internal. Dalam pelaksanaanya sulit
untuk dibandingkan secara langsung, karena penghematan biaya yang
dimaksud adalah biaya yang terjadi pada tahun setelah implementasi
rekomendasi.
b. Pada sisi yang berlawanan sangat mudah untuk mengabaikan biaya
tambahan yang harus dikeluarkan karena adanya perubahan prosedur
sistem operasi perusahaan, sesuai dengan rekomendasi auditor internal
atau jika rekomendasi diajukan, ternyata rekomendasi tersebut tidak
tepat.
c. Pengaruh positif audit internal (internal auditing as a good influence).
Dengan adanya internal maka kecenderunganuntuk berbuat salah dapat
dielimnir dan juga mendorong manajemen melakukan orientasi
pengendalian.
d. Biaya yang dihemat berkaitan biasa yang harus dikeluarkan untuk
membayar auditor eksternal. Auditor internal bertugas membatu auditor
eksternal dalam melakukan tugasnya. Pekerjaan yang dilakukan auditor
eksternal, dengan catatan auditor eksternal harus dapat mengandalkan
pekerjaan auditor internal pekerjaan
2. Penggunaan waktu (Time Utilization)
Sehingga dasar pengukuran kinerja lainnya menurut Chambers adalah
penggunaan waktu dalam melakukan pemeriksaan. Hal itu didukung oleh
peran waktu sebagai sumber daya utama dari departemen audit internal
sehingga diperlukan pengendalian atas penggunaan waktu secara efektif.
Terdapat empat bentuk pengendalian dalam mengukur kinerja :
a. Pengukuran waktu oleh auditor
Setiap departemen audit internal seharusnya memiliki standar
penggunaan waktu oleh auditor. Chamber menyarankan penetapan
alokasi standar waktu dengan menggunakan persentase sehingga
penggunaan waktu oleh auditor menjadi lebih produktif.
23

b. Waktu untuk melakukan pemeriksaan


Sistem pelaporan pada saat bersamaan memberikan kesempatan untuk
mengendalikan waktu yang benar-benar digunakan untuk melakukan
pemeriksaan dibandingkan dengan waktu yang dianggarkan.
c. Tanggal target
Apabila rencana pemeriksaan tahunan merupakan alat pengendalian atas
penggunaan waktu oleh auditor maupun penyelesaian tugas individu
auditor maupun penyelesaian tugas individu auditor internal, maka sangat
realistis bila manajer audit mengendalikan audit denganmenerapkan
tanggal selesai pemeriksaan. Tanggal target merupakan kunci utama
pelaksanaan audit untuk meyalinkan bahwa target tersebut dapat
tercapai. Aktivitas audit yang dikendalikan dengan menggunakan tanggal
target meliputi :
1. Penyelesaian pekerjaan lapangan.
2. Diskusi temuan audit dengan auditee.
3. Penyelesaian draft laporan audit.
4. Menerbitkan laporan audit akhir.
5. Tanggapan kepuasan manajemen.
6. Penyelesaian audit (follow up).

3. Pencapaian rencana pemeriksaan tahunan.


Ketiga aspek pengendalian waktu yang telah dipaparkan sebelumnya
merupakan alat untuk meyakinkan bahwa rencana audit tahunan telah
dicapai. Kepala audit internal harus membandingkan kinerja actual
departemennya dengan rencana audit tahunan. Laporan aktivitasnya disusun
setiap tiga bulan harus menggambarkan analisis kinerja departemen dalam
mencapai rencana yang telah ditetapkan.
4. Laporan keberhasilan
Sebagai service center, depertemen audit internal tidak dapat dievaluasi
dengan melihat efektivitas biaya. Sehingga meskipun memiliki banyak
keterbatasan penggunaan laporan, tingkat keberhasilan merupakan
pengukuran yang tepat untuk mengevaluasi kinerja departemen audit
24

internal. Cranwell menyarankan penggunaan pengukuran tingkat


rekomendasi yang diterima dan diimplementasikan.
5. Kepatuhan atas standar audit internal
Standar audit internal dibutuhkan dengan alasan kepala departemen audit
internal harus menetapkan dan menjaga jaminan kualitas program untuk
mengevaluasi operasi dari departemennya. Standar ini digunakan untuk
menjaga agar jaminan kualitas berfokus pada hasil review yang telah
dilakukan bahwa departemen audit internal telah memenuhi standar.

2.5 Pengertian Fungsi


Pengertian fungsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000 :
751) adalah :
Suatu kegunaan, di mana adanya penilaian yang akan digunakan
sebagai tugas pemakaian bahasa di dalam kedudukan yang diberikan.

2.5.1 Fungsi Audit Internal


Pada awal perkembangannya, audit internal merupakan suatu aktivitas
pengecekan terhadap ketepatan perhitungan matematis yang bertujuan agar
setiap orang bersikap jujur
Akan tetapi, periode-periode selanjutnya audit internal mengalami
perkembangan menjadi suatu aktivitas yang melakukan penilaian terhadap
efisiensi dan efektivitas dari seluruh operasi perusahaan baik finansial maupun
nonfinansial. Seperti yang dikemukakan oleh William C. Boyton et al ( 1996:
4 ) mengungkapkan hal tersebut sebagai berikut :
Over the years, internal auditing have evolved in to a highly proffesional
activity that extends the appraisal of the efficiency and effectiveness of all
phases of a companys operations both financial and nonfinancial.

Kegiatan audit internal mencakup bidang yang sangat luas dan kompleks
meliputi seluruh tingkatan manajemen baik yang sifatnya administratif maupun
operasional. Hal tersebut sesuai komitmen bahwa fungsi audit internal adalah
25

membantu manajemen dalam mengawasi jalannya roda organisasi atau


perusahaan.
Audit internal merupakan ekstensi bagi pelaksanaan audit, dimana audit
internal mendukung pekerjaan audit eksternal. Kemudian fungsi ini berkembang
menjadi fungsi pengecekan internal. Perkembangan selanjutmya dikenal fungsi
penyelidikan, di mana aktivitas audit internal yang mencakup pengecekan dan
pelaksanaan rangkaian tes audit. Selanjutnya fungsi tersebut menjadi non-
finansial sistem. Fungsi audit internal berikutnya menjadi semakin profesional
dimana audit internal menempatkan seorang chief auditor atas aktivitas yang
dilakukannya yang memungkinkan berbagai akses atas departemen lain dalam
perusahaan. Agar audit internal dapat lebih efektif, maka peran top management
dimanfaatkan, sehingga audit dapat berperan pada berbagai fungsi perusahaan.
Sedangkan definisi audit internal yang baru tersebut dapat dilihat bahwa
perkembangan yang terjadi atas fungsi audit internal adalah untuk mengevaluasi
dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko (Management risk),
pengendalian dan proses governance. Hal tersebut bila dibandingkan dengan
fungsi yang terdapat dalam definisi terdahulu.

2.5.2 Proses Audit Internal


Menurut Ratliff dalam buku Internal Auditing Principles and Techniques
dalam melakukan audit internal terdapat sembilan langkah yaitu :
1. Pemilihan auditee.
Dalam pemilihan auditee terdapat tiga cara pemilihan berdasarkan
pertinmbangan tingkat risiko, mana yang lebih tinggi risikonya itulah yang
menjadi prioritas. Ketiga cara pemilihan ini adalah :
a. Pemilihan sistematik, yaitu dengan membuat jadwal audit tahunan
dengan urutan yang jelas. Umumnya jadwal dikembangkan dengan risiko
sebagai pertimbangan utama.
b. Ad Hoc Audit, yaitu audit yang dilakukan karena terjadi ketidakwajaran
dalam operasi dalam perusahaan, sehingga auditor internal harus
melakukan satu tindakan cepat untuk menanganinya.
26

c. Atas permintaan auditee sendiri, yaitu ketika manajer merasa bahwa


mereka perlu mendapat input dari auditor untuk mengevaluasi kecukupan
dan keefektfan internal kontrol yang mempengaruhi operasi yang menjadi
tanggungjawabnya.
2. Persiapan Audit.
Yang meliputi tujuh tahap yaitu :
a. Penetapan tujuan dan ruang lingkup audit.
b. Tinjauan atas audit files
c. Pemilihan tim audit
d. Pembicaraan awal dengan auditee dan pihak terkait lainnya.
e. Persiapan program audit pendahuluan.
f. Perencanaan laporan audit.
g. Perolehan persetujuan atas pendekatan audit.
3. Survei pendahuluan
Tujuan dari survei pendahuluan adalah untuk mendapakan kesan pertama
dari auditee, untuk mengumpulkan bukti dari perencanaan audit lebih lanjut
dan untuk mendapatkan kerjasama dari pihak auditee.
4. Deskripsi, analisis dan evaluasi atas pengendalian intern.
Meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Mempersiapkan deskrpsi yang cukup terperinci mengenai pemgendalian
internal auditee.
b. Melaksanakan walk through dari transaksi-transaksi dan operasi tertentu.
c. Melaksanakan pengujianpengujian terbatas atas beberapa jenis
transaksi.
d. Menilai pengendalian internal.
e. Menilai kembali risikorisiko pengendalian yang berhubungan dengan
operasi auditee.
5. Pengujian Diperluas.
Berbeda dengan survei dan analisis pendahuluan, pengujian yang diperluas
merupakan pengujian yang lebih mendalam dari auditee. Terdapat tiga
kegiatan dalam pengujian yang diperluas yaitu :
27

a. Mereview operasi dan berbagai macam kontrol yang didesain untuk


membuat operasi efektif dan efisien.
b. Menguji operasi untuk menentukan apakah operasai yang berjalan sesuai
dengan sistem kontrol yang telah didesain.
c. Mengevaluasi desain dari sistem kontrol dari efektivitas dari operasi yang
mengikuti sistem tersebut maupun operasi yang tidak sesuai dengan
sistem tersebut.
6. Temuan-temuan dan rekomendasi.
Temuan-temuan auditor meliputi kondisi yang sebenarnya sebagaimana yang
diamati, kriteria yang menjadi patikan dalam menilai kondisi tersebut,
pengaruh atau risiko yang dihubungkandebgan masalah yang akan diamati,
penyebab masalah-masalah tersebut di atas. Sedangkan untuk rekomendasi
terdapat empat bentuk rekomendasi yaitu jangan mengubah sistem
pengendalian yang sudah ada, tingkatkan pengontrolan dengan memodifikasi
kontrol yang ada, atau menambah kontrol yang baru, tingkatkan kepastian
atas risiko-risiko yang ada sehingga bias diantisipasi, perubahan tingkat
required rate of return untuk investasi-investasi tertentu untuk mencerminkan
perbedaan risiko yan berhubungan dengan investasi tersebut.

7. Pelaporan.
Tahap ini meliputi dokumentasi dan menkomunikasikan hasil audit,
sedangkan isi dari laporan meliputi penjelasan dari tujuan audit, ruang
lingkup audit, pertanyaan-pertanyaan, prosedur umum, temuan-temuan dan
rekomendasi. Pelaporan pada umumnya berbentuk tertulis dan
ditandatangani oleh auditor internal dan dikirimkan kepada manajemen yang
diaudit dan komite audit, sehingga laporan tersebut dapat direspon dengan
baik.
8. Follow Up
Tahap audit ini mengambil tiga bentuk umum yaitu :
a. Top management dapat berkonsultasi dengan auditee untuk memutuskan
bagaimana dan bilamana menyikapi rekomendasi yang diajukan auditor
internal.
28

b. Auditee mengikuti dan melaksanakan rekomendasi yang disarankan


auditor internal.
c. Auditor, setelah menunggu beberapa waktu setelah pelaporan, mengecek
auditee kembali dan melihat apakah pengoreksian telah dilakukan dan
hasil yang diharapkan tercapai, atau jikapun pengoreksian tidak
dilakukan, maka manajemen dan dewan direksi bertanggungjawab atas
hasil yang ditimbulkannya.
9. Evaluasi.
Evaluasi dimaksudkan bagi auditor untuk menilai :
a. Apakah audit yang telah auditor lakukan telah efisien dan efektif.
b. Bagaimana cara melakukan audit yang lebih baik.
c. Bagaimana manfaat audit yang mereka lakukan.

2.5.3 Standar Profesi Audit Internal


Auditor membutuhkan suatu kode etik dan standar profesi yang seragam
dan konsisten yang menggambarkan praktik-praktik terbaik audit internal serta
merupakan ukuran kualitas pelaksanaan tugas dan memenuhi tanggung jawab
profesinya. Maka, Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (KOPAI)
memandang perlu untuk menerbitkan Standar Profesi Audit Internal (SPAI).
Standar Profesi Audit Internal (SPAI) merupakan suatu pedoman bagi
auditor internal dalam menjalankan tugasnya. Standar Profesi Audit Internal ini
mencakup pertimbangan mengenai kualitas profesional yang harus dimiliki,
seperti independensi, keahlian profesi, cakupan kerja, pelaksanaan kerja audit
internal.
Standar Profesi Auditor Internal (SPAI) tersebut terdiri dari Standar
Atribut, Standar Kinerja, Standar Implementasi berkenaan dengan karateristik
organisasi, individu, dan pihak yang melakukan audit internal. Standar kinerja
menjelaskan mengenai sifat dan kegiatan audit internal dan merupakan ukuran
kualitas pekerjaan audit. Standar kinerja memberikan praktik-praktik terbaik
pelaksanaan audit mulai dari perencanaan sampai dengan pemantauan tindak
lanjut. Standar Atribut dan Standar Kinerja berlaku untuk semua penugasan audit
internal namun Standar Implementasi hanya berlaku untuk satu penugasan
29

tertentu. Standar yang ditetapkan secara bersama-sama ini diharapkan dapat


menjadi pedoman bagi auditor internal dalam melaksanakan kegiatannya.
Dipandang dari berbagai hal, Kegunaan dari Standar Profesi Audit
Internal (SPAI) menurut Hiro Tugiman (1997:13) adalah sebagai berikut :
1. Memberikan pengertian tentang peran dan tanggunu jawab audit
internal kepada seluruh tingkatan manajemen, dewan direksi,
badan-badan publik, auditor eksternal dan organisasi-organisasi
profesi yang berkaitan;
2. Menetapkan dasar pedoman dan pengukuran atau penilaian
pelaksanaan auditor internal;
3. Memajukan praktik audit internal.

Adapun tujuan dari Standar Profesi Auditor Internal menurut


Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal ( KOPAI ) ( 2004:2 )
sebagai berikut :
1. Memberikan kerangka dasar yang konsisten untuk mengevaluasi
kegiatan dan kinerja satuan audit internal maupun individu audit
internal.
2. Menjadi sarana bagi pemakai jasa dalam memahami peran, ruang
lingkup, dan tujuan audit internal.
3. Mendorong peningkatan praktik audit internal dalam organisasi.
4. Memberikan kerangka untuk melaksanakan dan mengembangkan
kegiatan audit internal yang memberikan nilai tambah dan
meningkatkan kinerja kegiatan operasional.
5. Menjadi acuan dalam menyusun program pendidikan dan pelatihan
bagi audit internal.
6. Menggambarkan prinsip-prinsip dasar praktik audit internal yang
seharusnya.

Standar Profesi Audit Internal memiliki peran yang sangat penting bagi
profesi auditor internal. Dalam menjabarkan peran tersebut, terdapat beberapa
poin yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Audit internal sebagai orang yang diamanatkan.
Pengendalian internal saat ini memiliki peran yang penting dalam operasi
perusahaan. Agar perusahaan dapat terkelola dengan baik maka
pengendalian internal yang dimiliki perusahaan haruslah dikelola dengan
orang yang ahli dan memahami pengendalian internal perusahaan. Satu-
satunya orang yang memahami pengendalian internal perusahaan dengan
baik adalah auditor internal.
30

2. Ekspetasi manajemen.
Paradigma baru audit internal menunjukan pergeseran peran auditor internal
dari seorang watchdog menjadi seorang partner dalam lingkungan kerja yang
mendukung auditee untuk mencapai tujuannya. Terkadang dalam
pelaksanaan audit internal manajemen memiliki suatu harapan atas audit
yang dilakukan dan audit internal tidak dapat memberikan jawaban positif
atas harapan tersebut dikarenakan fakta yang terjadi di lapangan tidak
memungkinkan terpenuhinya ekspetasi tersebut. Standar profesi berperan
sebagai pegangan bagi auditor internal agar ekspetasi manajemen tidak
membuat pelaksanaan audit internal menjadi bias.

3 Audit eksternal.
Audit eksternal dalam pelaksanaan audit akan bergantung pada auditor
internal. Sebelum berhubungan lebih lanjut, auditor internal akan
mempelajari profesi pada perusahaan, pada saat inilah auditor eksternal
melakukan penilaian atas kompetensi dari auditor internal.
4. Kepala unit audit internal.
Kepala unit audit internal menetapkan dan menggunakan standar profesi
sebagai pembantu pelaksanaan audit internal dan pengukur kinerja
departemennya.
5. Pengembangan praktik audit.
Standar sangat penting dalam pengembangan praktik audit internal secara
langsung dan berkesinambungan.
6. Definisi umum.
Standar sangat penting dalam menjelaskan lingkup kerja audit yang
dilakukan oleh auditor internal. Sehingga aktivitas audit internal dilaksanakan
berdasarkan standar yang ditetapkan.
31

BAB III
OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian


Objek dalam penelitian ini adalah Pengaruh Pemahaman Auditee tentang
Fungsi Audit Internal terhadap Kinerja Audit Internal. Dalam melakukan
penelitian, penulis menggunakan persepsi auditor internal pada Perusahaan jasa
milik pemerintah atau yang biasa disebut BUMN. Penulis melakukan penelitian
pada tiga perusahaan BUMN yang terdapat di kota Bandung. Seperti yang
diketahui bahwa jumlah perusahaan BUMN yang terdapat di seluruh Indonesia
berjumlah 154 buah. Perusahaan BUMN yang diteliti oleh penulis dibatasi pada 3
(tiga) buah perusahaan. Ketiga perusahaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. PT. KERETA API (PERSERO)
2. PT. PDAM
3. PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JABAR DAN BANTEN
32

3.2 Sejarah Singkat Perusahaan


1. PT KERETA API (PERSERO)
Keberadaan Kereta Api di Indonesia tidak terlepas dari peran raja-raja di
Jawa, dengan Surat Raja (diperkirakan Raja Mataram) No. 270 tanggal 28 Mei
1842, mengusulkan kepada pemerintah Hindia Belanda agar membangun
jaringan Kereta Api.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pada tahun 1971,
Gurbernur Jenderal Hindia Belanda Bose menyusun Rancangan Undang-Undang
(RUU) pembuatan jalan Kereta Api Pemerintah di Jawa, yang disyahkan pada
tanggal 6 April 1875, hal ini menandai lahirnya Kereta api di bumi Nusantara
secara de jure.
Sedangkan secara de fatco, jalan Kereta Api di Indonesia dibangun oleh
perusahaan swasta, NV, Nederlandsch Indische Spoorweg Mij (NISM) yang
membangun jaringan Kereta Api dari Kemijen-Tanggung, Jawa Tengah,
sepanjang 26 kilometer. Pembangunan Kereta Api ditandai dengan pencangkulan
pertama pembuatan badan jalan rel oleh Gurbernur Jenderal Belanda Mr. L.A.J
Baro Sloet Van De Beele tanggal 17 Juni 1864. Empat tahun kemudian, tanggal
17 Juni 1868 Kereta Api lintas Kemijen-Tanggung dapat dioperasikan, yang
kemudian secara berturut-turut dilanjutkan dengan pembangunan jaringan
Kereta Api diseluruh Jawa, Sumatera Utara, Aceh, Sumatera B arat, Sumatera
Selatan, dan Sulawesi, sebelum dipindahkan di Birma saat penjajahan Jepang
yang dikenal dengan Romusha.
Sejalan dengan perjalanan sejarah, berkat rahmat Allah SWT dan
perjuangan rakyat Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
tanggal 17 Agustus 1945 dapat dikumandangkan yang diikuti pengambilalihan
(Nasionalisasi) secara resmi perusahaan-perusahaan penjajah oleh Bangsa
Indonesia. NAsionalisasi perusahaan Kereta Api terjadi pada tanggal 28
September 1945, yang untuk selanjutnya dijadikan sebagai Hari Kereta Api.
Dengan Nasionalisasi terswebut, maka berdirilah perusahaan Kereta Api
pemerintah di Indonesia dengan bentuk Perusahaan Djawatan Kereta Api
33

Republik Indonesia (DKARI), yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Kepala


Djawatan Kereta Api (DDKA), Ir. Mohamad Efendi Saleh.
Setelah berjalan hampir delapan tahun, kepemimpina tersebut digantikan
oleh Ir. R. Abuprayitno, bentuk perusahaan berubah menjadi Djawatan Kereta
Api (DKA), hingga akhirnya pada tahun 1963, melalui Peraturan Pemerintah No.
22 tahun 1963, Perusahaan berubah staus menjadi Perusahaan Negara Kereta
Api (PNKA).
Karena situasi politik pada tahun 1965 hingga 1967 sukup genting
dengan pecahnya pemberontakan PKI, maka kepemimpinan dipegang oleh
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), dengan Brigjen Sentot
Iskandardinata sebagai pemimpinnya, yang pada tahun 1968 digantikan oleh Ir.
R. Soemali.
Tahun 1971. dengan PP No. 61 tahun 1971, status perusahaan kembali
mengalami perubahan, PNKA diganti menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api
(PJKA). Selanjutnya secara berturut-turut pimpinan PJKA dijabat oleh Ir.
Pantiarso (1978-1981), Ir. Soedjono Kramadibrata (1981-1986), Ir. Soearso
(1986-1989), Ir. Harbani (1989-1991), Drs. Anwar Supriadi, Msc, (dengan
sebutan Kaperjanka).
Pada tanggal 2 Januari 1991, dengan ditandainya dengan pembacaan
ikrar karyawan-karyawati Perumka, status perusahaan berubah lagi menjadi
menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dengan PP 57 tahun 1990
tanggal 1 Oktober 1990, dengan direktur utamanya Drs. Anwar Supriadi Msc.
(1991-1995). Kemudian, tahun 1995 Direktur Utama Perumka dipimpin oleh Ir.
Soemitro Eko Saputro (1995-1998). Kemudian , pada tanggal 31 Juli 1998 Dirut
Perumka digantikan oleh Drs. Edie Haryoto.
Pada masa kepimpinan Drs. Haryoto ini, status perusahaan kembali
mengalami perubahan. Bentuk perusahaan yang semula Perusahaan Umum
Kereta Api (Perumka), melalui PP No. 19 tahun 1998 tanggal 3 Februari 1998,
berubah menjadi PT Kereta Api (Persero).
Selain itu, melalui Keputusan Presiden No. 38 tahun 1999, tentang
pengecualian perusahaan perseroan tertentu yang dapat dikecualikan dari
pengalihan, tugas dan kewenangan Menteri keuangan selaku pemegang saham
34

atau Rapat Umum Pemegang Saham (RPUS) kepada Menteri Pendayagunaan


Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ditetapkan bahwa PT Kereta Api tetap
dibawah naungan Departemen Perhubungan. Keppres yang ditandatangani
Presiden Baharudin Yusuf Habibie tersebut, ditandatangani pada tanggal 17 Mei
1999, menandai mulai diberlakukannya status PT namun demikian, sebagai
tanda peresmian pengalihan status dari perumka menjadi PT Kereta Api
(Persero) di Kantor Pusat Bandung.

2. PT. PDAM

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung pada mulanya milik
Belanda didirikan tahun 1916 dengan nama Water Leiding Bednif (Perusahaan
Air) yang dikelola oleh Technische Diest Alfading (DTA) dan disebut Dienst
Afleding A. Sumber pendapatan yang di peroleh yaitu melalui penjualan air
bersih yang didapat dengan jalan :
1. Penyadapan sumber-sumber air dari pegunungan disebelah utara
Kota Bandung.
2. Pengeboran sumur-sumur artesis pada tempat-tempat tertentu
didalam Kota.
Pada tahun 1940 terdapat sembilan mata air dan sebelas buah sumur
artesis dengan tiap debit air mencapai 240.000 jiwa dengan prosentase
pelayanan mencapai 40%.
Pada tahun 1954 terjadi perubahan dalam kedudukan perusahaan dimana
perusahaan air berada dibawah Dinas Perusahaan dan disebut Dinas Perusahaan
B (DPB). Data yang didapat pada saat itu luas kota 8098 Ha dengan jumlah
penduduk 950.000 jiwa terdapat sepuluh buah mata air pam, sebelas buah
sumur artesis, debit air 206 liter/detik serta prosentase mencapai 25 minum
untuk Kota Bandung dan pertambahan penduduk yang cukup pesat. Oleh karena
itu pada tahun 1958 mulai dibangun Pengolahan Air Minum yang berlokasi di
jalan Badak Singa dengan sumber air baku diambildari sungai Cisangkuy dengan
produksi rata-rata 850 liter/detik yang mulai berfungsi pada tahun 1960.
Pada tahun 1960 pengolahan air minum dengan sumber air baku yang
diambil dari sungai air sungai Cisangkuy mulai berfungsi sehinga sumber air yang
35

ada yaitu 10 buah mata air, 11 buah sumur artesis dan pengolahan air sungai
Cisangkuy dengan debit air 960.000 jiwa, persentase pelayanan yang dicapai
baru sekitar 25% dari jumlah penduduk.
Pada tahun 1967 perusahaan mengalami perubahan organisasi lagi,
perusahaan air minum kemudian berdiri sendiri dan disebut Teknik Penyehatan,
termasuk didalamnya bagian riul. Struktur organisasi ini berdasarkan surat
keputusan Walikotamadya Bandung No.8364/67 tanggal 15 Juni 1967.
Tahun 1972 Dinas Teknik Kesehatan mengalami penyempurnaan pokok,
yaitu :
1. Penyediaan air bersih
2. Membantu pemerintah daerah
Struktur organisasi ini berdasarkan suatu keputusan Walikotamadya Bandung
No.9226/72 tertanggal 1 Juni 1972.
Pada tahun 1974 dengan surat keputusan Walikotamadya Bandung
No.17496/74 tertanggal 19 Nopember 1974 pada tanggal 16 Desember 1974
Dinas Teknik Penyehatan berubah menjadi status Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM). Ini disebabkan pengolahan air bersih di Kota Bandung dipandang sudah
waktunya diselenggarakan oleh suatu badan hukum otonom yaitu dengan status
perusahaan daerah yang kemudian pada tanggal 24 Mei 1974 atas dasar Surat
Keputusan Gurbernur Propinsi Jawa Barat No. 34/au/18/Perum/SK/74 tertanggal
31 Oktober 1974. Dengan demikian, Perusahaan Daerah Air Minum sudah dapat
mengurus kepentingan sendiri ke luar negeri maupun ke dalam terlepas dari
organisasi pemerintah daerah.
Pada tahun 1980 dengan telah selesainya studi kelayakan dan
perencanaan detail pengembangan air minum kota Bandung mulai dilaksanakan
pengembangan air minum secara fisik. Pada saat itu kondisi air minum kota
Bandung, yaitu dengan luas kota Bandung 8089 Ha dan jumlah penduduk
1.400.000 jiwa terdapat sumber air 10 buah mata air panjang pipa terpasang
484.884 km. Prioritas pelayanan 23,5% dengan jumlah pelanggan 47.000
sambungan terpasang. Hasil yang dicapai pada proyek 1 yang dapat diselesaikan
pada awal tahun 1982 meliputi:
1. Pembuatan 22 buah sumber sumur produksi dan 44 buah sumber
observasi dan pengetesan.
36

2. Pembuatan 3 buah bak penampungan air, yaitu :


a. Reservoir 9 Cikutra berkapasitas 11.000 m untuk melayani
daerah Bandung Tinur dengan debit air 315 liter/detik.
b. Reservoir 10 Cipedes berkapasitas 11.000 m untuk melayani
daerah Bandung Barat dengan debit air 280 lietr/detik.
c. Resrvoir 1 Ledeng berkapasitas 3000 m untuk melayani daerah
Bandung Utara dengan debit air 172 liter/detik.
3. Pengadaan dan pemasangan pipa tranmisi dan distribusi sepanjang 450
km, dengan diameter 80 m s/d 1000 m di seluruh dunia daerah
pelayanan (Bandung Utara, Timur, Tengah/Selatan dan Barat).
4. Pemasangan kran umum sebanyak 200 buah dan MCK 35 buah di
daerah yang di perkirakan kurang mampu berlangganan atau daerah
yang belum memungkinkan untuk diberikan pelayanan langsung
kerumah-rumah.
5. Pengadaan 13.000 buah meter air.
Proyek tahap 1 boleh dikatakan berhasil baik dalam sasaran peningkatan
pelayanan air minum Kota Bandung maupun dalam pengembangannya. Pada
periode transisi ini PDAM Kota Bandung dengan segala daya dan dana yang ada
terus berusaha meningkatkan pelayanan air minum untuk masyarakat Kota
Bandung antara lain pemasangan pipa-pipa tertier dan sambungan rumah serta
perakitan meter-meter air. Untuk memenuhi kebutuhan air minum Kota Bandung
dapat terpenuhi, maka proyek tahap II harus segera terealisir. Rencana proyek
air minum tahap II in meliputi :
1. Sumur air : Air tanah dalam / mata air / sungai
Cisangkuy, sungai Cigulung ditampung
direservoir Pakar dan Pengembangan
sungai Cisangkuy.
2. Debit : 1.200 liter/detik
3. Pelayanan : Target yang harus dicapai sampai akhir
PELITA IV sebesar 75%.
4. Penambahan Pelanggan : 1.286.000 orang
37

5. Distribusi : Permintaan air bersih dari daerah diluar


wilayah kota Bandung ( 550.000 orang)
Proyek tahap II tersebut dilaksanakan oleh PDAM untuk melanjutkan proyek
tahap I, dimana masyarakat masih banyak yang belum menikmati pelayanan air
minum dan agar pada akhir target pelayanan air minum dan agar pada akhir
target pelayanan air minum sebesar 75% pada akhir PELITA IV dapat dilayani.

3. PT.PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JABAR DAN BANTEN


Sejak masa penjajahan Belanda sampai permulaan tahun 1942 di
Indonesia telah dikenal suatu badan atau perusahaan yang menyediakan tenaga
listrik, baik milik pemerintah, Daerah Otonom (Gemete) maupun swasta ataupun
Patungan antara Pemerintah dan Swasta.
Di Jawa Barat (khususnya kota Bandung) perusahaan yang mengelola
tenaga listrik untuk kepentingan umum, yaitu Bandoengsche Electriciteit
Maatschappij (BEM), yang berdiri pada tahun 1905. Pada tanggal 1 Januari 1920
berdirilah Perusahaan Perseroan Gemeenschappelijk Electriciteit Bedrijf Voor
Bandoeng (GEBO) yang menggantikan BEM dengan Akte Pendirian Notaris Mr.
Andrian Hendrik Van Ophuisen No.213 tanggal 31 desember 1919.
Padamasa penjajahan Jepang (1942-1945), pendistribusian tenaga listrik
dilaksanakan oleh Djawa Djigyo Sha Bandoeng, Shi Sha dengan wilayah kerja di
seluruh pulau Jawa.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 agustus
1945, di Indonesia mengalami periode perjuangan fisik sampai tiba saatnya
penyerahan kedaulatan RI dari pemerintah Hindia Belanda.
Tahun !957 merupakan titik tolak dan awal dari pengelolaan dan
penguasaan pelistrikan di seluruh Indonesia yang dikuasai oleh pemerintah
Republik Indonasia, karena pada tahun tersebut dimulai adanya Nasionalisasi
perusahaan asing di Indonesia.
Maka pada tanggal 27 Desember 1957, GEBO diambilalih oleh Pemerintah
RI yang dikukuhkan dengan Peraturan Penerintah No.86 tahun 1958 jo Peraturan
Pemerintah No.18 tahun 1959 tentang Penentuan Perusaahan Listrik dan Gas
milik Belanda yang pada tahun 1961 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.67
38

tahun 1961 dibentuk Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara (BPI-
PLN), sebagai wadah kesatuan pimpinan PLN. Kemudian istilah PLN Bandung
diganti dengan nama PLN Explotasi XI sebagai kesatuan BPU-PLN di Jawa Barat
kecuali Dki Jakarta dan Tangerang.
Bardasarkan Peraturan Pemerintah No.18 tahun 1972 tentang Perusahaan
Umum Listrik Negara, menyebutkan bahwa status PLN menjadi Perusahaan
Umum Lstrik Negara.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Mentri PUTL No.013/PRT/1957
tanggal 8 September 1957 tentang organisasi dan tata kerja Perusahaan
UmumListrik Negara, maka PLN mengadakan reorganisasi menyangkut nama,
tugas dan wilayah kerja di daerah. Kemudian berdasarkan Pengumuman PLN
Exploitasi XI No.05/DIII/Sek?1975 tanggal 14 Juli 1975, PLN Exploitasi XI diubah
namanya menjadi Perusahaan Umum Listrik Negara Distribusi Jawa Barat.
Denag adanya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.23 tahun
1994 tanggal 16 Juni 1994 tentang pengalihan bentuk Perusahaan Umum Listrik
menjadi Perusaan Perseroan (Persero), maka bentuk Perusahaan Umum Listrik
Negara Distribusi Jawa Barat menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dengan
sebutan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat sejak tanggal 30 Juli 1994 sesuai
akte pendirian.
Denagn keluarnya Peraturan Pemerintah No.23 tahun 1994, tanggal 16
Juni 1994, maka PLN semula berbentuk Perusahaan Umum (Perum) berubah
bentuknya menjadi Perusahaan Perseroan terbatas (Persero) dengan nama PT.
Perusahaan Listrik Negara disingkat PT. PLN (Persero) yang bertujuan :
1. Menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum sekaligus memupuk
keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan Negara.
2. Mengusahakan penyediaan tenaga listrik dengan jumlah dan mutu yang
memadai dengan tujuan untuk :
a. Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil
dan merata serta mendorong peningkatan kegiatan ekonomi.
b. Mengysahakan keuntungan agar dapat membiayai pengembangan
tenaga listrik untuk melayani kebutuhan masyarakat.
3. Merintis kegiatan-kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik.
39

4. Menyelenggarakan usaha-usaha lain yang mennjang usaha penyediaan


tenaga listrik sesuai dengan Peraturan Perundangan yang berlaku.
Sejalan dengan maksud dan tujuan tersebut PT PLN (Persero)
mengemban misi sebagai berikut :
1. Fungsi bisnis atau Memupuk Keuntungan
Sebagai badan usaha, melakukan kegiatan usaha berdasarkan kaidah
bisnis yang sehat guna menjamin keberadaan dan pengembangannya
dalam jangka panjang.
2. Fungsi Sosial atau Agen Pembangunan
Sebagai pelaksana pembangunan, melakukan kegiatan baik yang bersifat
program pembangunan sebagaimana layaknya, maupun yang bersifat sosial dan
perintis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
sekalipun kegiatan tersebut mendatangkan keuntungan.
Abad 21 yang diwarnai dengan perubahan yang semakin cepat, menuntut
kompetisi yang semakin ketat. Persaingan tidak lagi terbatas dengan perusahaan
sejenis dalam negri, melainkan juga harus mampu menghadapi persaingan
global. Oleh karena itu sebagai perusahaan, PLN memiliki visi ke depan : maju,
modern dan mandiri.
Maju : Dengan pengertian harus mempunyai wawasan
bisnis yang mencerminkan unsur-unsur kompetitif,
efisien dan produktif.
Modern : Memanfaatkan teknologi maju untuk mendukung
efisiensi dan efektivitas kerja.
Mandiri : Mampu menentukan arah dan kebijakan untuk
melaksanakan misi yang diembannya.

Dengan wawasan tersebut PLN akan survive menghadapi tantangan masa


depan. Berdasarkan visi di atas PLN menyusu rencana dan strategis jangka
menengah dan jangka panjang. Rencana ini secara bertahap direalisasikan
melalui rencana kerja jangka pendek dalam wujud Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP) setiap tahun anggaran.
40

3.3 Metodologi Penelitian


3.3.1 Metode yang Digunakan
Dalam menyusun skripsi ini, dibutuhkan data dan informasi yang sesuai
dengan sifat permasalahannya, agar data dan informasi yang diperoleh cukup
lengkap untuk digunakan sebagai dasar dalam membahas masalah yang ada.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian asosiatif
dengan menggunakan pendekatan survei.
Menurut Sugiyono (2004:11), yang dimaksud dengan metode
penelitian asosiatif adalah:
Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih.

Dengan demikian metode penelitian asosiatif bertujuan untuk mencari


hubungan antar fenomena yang diselidiki secara terperinci untuk menghasilkan
rekomendasi-rekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang.
Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan survai.
Metode survei menurut Moh. Nazir (2003; 56) adalah:
Penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-
gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik
tentang institusi sosial, ekonomi atau politik dari suatu kelompok atau
suatu daerah. Metode survei membedah serta menguliti serta mengenal
masalah-masalah serta mendapatkan pembenaran terhadap keadaan dan
praktik-praktik yang sedang berlangsung.

3.3.2 Teknik Pengumpulan Data


Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian dan pengumpulan data
dalam penelitian ini adalah :
41

1. Penelitian Lapangan (field research).


Yaitu pengumpulan data primer dengan cara meninjau secara lanngsung
ke perusahaan BUMN yang ada di kota Bandung, data primer diperoleh
melalui wawancara, penyebaran kuesioner dan observasi dengan pihak yang
berkepentingan dengan masalah yang diteliti.

2. Penelitian Kepustakaan (library research)


Penelitian kepustakaan yaitu teknik berdasarkan literatur guna
memperoleh dasar teoritis dalam pemecahan masalah yang diteliti. Data dari
literatur berguna sebagai bahan pertimbangan atas data yang diperoleh dari
penelitian.
Data yang diperoleh akan diolah, dianalisis dan diproses lebih lanjut
dengan dasar-dasar teori yang telah dipelajari, sehingga akhirnya dapat
disimpulkan yang akan menjawab permasalahan. Hal ini dilakukan untuk
menyederhanakan analisis agar lebih mudah dipahami dan ditindaklanjuti.

3.3.3 Pemilihan Populasi


Menurut Sugiyono (2004; 72), yang dimaksud dengan populasi
adalah:
Wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Berdasarkan pengertian di atas, populasi dari penelitian ini yaitu auditor


internal yang bekerja di perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang berlokasi di
Bandung dengan asumsi auditor internal responden yang terlibat, hanya
perwakilan auditor internal dari setiap Badan Usaha Milik Negara. Populasi ini
dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa mereka umumnya mewakili kondisi
antara orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai
pemahaman auditee tentang fungsi audit internal terhadap kinerja audit internal.
Menurut Sugiyono (2004; 78), yang dimaksud dengan sampling jenuh
adalah:
42

Teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan


sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil,
kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana
semua anggota populasi dijadikan sampel.

Oleh karena itu, metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sampling jenuh karena semua anggota populasi dijadikan sampel. Selain
itu, jumlah populasinya relatif kecil (kurang dari 30) yaitu 3 perusahaan Badan
Usaha Milik Negara yang bergerak di sektor jasa yang berlokasi di Bandung.

3.3.4 Operasionalisasi Variabel


3.3.4.1 Identifikasi Variabel Independen dan Variabel Dependen
Variabel penelitian pada dasarnya adalah sesuatu hal yang berbentuk
apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh
informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2004:31).
Terdapat dua jenis Variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel
independen dan variabel dependen. Variabel Independen atau variabel bebas
(Variabel X) yaitu suatu variabel yang keadaanya tidak dipengaruhi oleh variabel
lain, sebaliknya variabel ini akan mempengaruhi variabel lain. Sedangkan variabel
dependen atau variabel terikat (variabel Y) yaitu suatu variabel yang
keberadaannya merupakan sesuatu yang dipengaruhi oleh variabel independen.
Sesuai dengan judul penelitian, yaitu Pengaruh Pemahaman
Auditee tentang Fungsi Audit Internal terhadap Kinerja Auditor
Internal, maka identifikasi variabel independen dan variabel dependen dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pemahaman Auditee tentang Fungsi Audit Internal, sebagai variabel
independen (variabel X).
Pemahaman Auditee tentang Fungsi Audit Internal tersebut mengacu
pada definisi audit internal yang dikeluarkan oleh Konsersium Organisasi
43

Profesi Audit Internal (2004:5), terdapat 7 kata kunci dari definisi


tersebut yaitu :
1. Kegiatan assurance dan konsultasi,
2. Independen dan objektif,
3. Memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasi organisasi,
4. Pendekatan yang sistematis dan teratur,
5. Pengelolaan risiko,
6. Pengendalian,
7. Proses Governance.

2. Kinerja auditor internal, sebagai variabel dependen (variabel Y).


Kinerja auditor internal tersebut mengacu pada Standar Profesi Audit
Internal yang disahkan oleh Konsersium Organisasi Profesi Audit
Internal (2004:11-18) :
Standar Kinerja :
1. Pengelolaan Fungsi Audit Internal.
2. Lingkup Penugasan
3. Perencanaan Penugasan.
4. Pelaksanaan Penugasan.
5. Komunikasi Hasil Penugasan.
6. Pemantauan Tindaklanjut.
7. Resolusi Penerimaan Risiko oleh Manajemen.

3.3.4.2 Pengukuran Variabel


Jenis pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
ukuran ordinal yang digunakan untuk mengukur variabel X dan variabel Y.
Nur Indriantoro (1999; 97-98) menyebutkan bahwa :
Ukuran ordinal adalah ukuran yang tidak hanya menyatakan kategori,
tetapi juga manyatakan ranking atau peringkat dari objek atau variabel
yang diukur.
44

Jadi, ukuran ordinal merupakan pengukuran variabel yang digunakan


untuk mengukur variabel yang menyatakan kategori, ranking atau peringkat.
Untuk mengukur variabel X dan variabel Y digunakan teknik skala Likert, di mana
variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian
indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item
instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Sugiyono (2004;
76), menyatakan bahwa:
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

Skala Likert yang digunakan adalah Skala Likert dengan lima angka
penilaian, yaitu sebagai berikut:
Skala Skor
1. Sangat setuju 5
2. Setuju 4
3. Ragu-ragu 3
4. Tidak setuju 2
5. Sangat tidak setuju 1

3.3.4.3 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian merupakan suatu alat ukur dalam penelitian, yaitu
suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang
diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian
(Sugiyono, 2004; 97).
Instrumen penelitian ini disusun dari indikator-indikator yang dianggap
mewakili keberadaan variabel penelitian. Indikator-indikator ini merupakan
penjabaran dari variabel penelitian dan kemudian dituangkan ke dalam butir-
butir pernyataan.
45

Ikhtisar variabel dan indikatornya serta skala pengukurannya dapat dilihat


pada tabel 3.1 di bawah ini :

Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel Penelitian

Variabel
Indikator Sub-Indikator Skala Instrumen
Penelitian
Kegiatan Ordinal Kuesioner
assurance dan
konsultasi
Independen dan Ordinal Kuesioner
objektif,
Variabel X :
Pemahaman
Auditee tentang Definisi audit Memberikan Ordinal Kuesioner
Fungsi Audit internal nilai tambah dan
Internal meningkatkan
operasi
organisasi
Pendekatan Ordinal Kuesioner
yang sistematis
dan teratur

Pengelolaan Ordinal Kuesioner


risiko

Ordinal Kuisioner
Pengendalian
Ordinal Kuisioner
Proses
Governance
46

Variabel Indikator Sub-Indikator Skala Instrumen


Penelitian

Standar Kinerja : Ordinal Kuisioner


1. Pengelolaan
Fungsi Audit
Internal
2. Lingkup
Penugasan
Variabel Y : Standar 3. Perencanaan
Kinerja audit Profesi Penugasan
internal 4. Pelaksanaan
Penugasan
5. Komunikasi
Hasil Penugasan
6. Pemantauan
Tindak lanjut
7. Resolusi
Penerimaan
Risiko oleh
Manajemen

3.3.5 Teknik Pengolahan Data


Sebelum data diolah, langkah-langkah yang perlu dilakukan yaitu sebagai
berikut:
1. Editing, yaitu memeriksa kembali seluruh data yang masuk sehingga dapat
diketahui apabila terjadi atau terdapat kesalahan.
2. Tabulasi, yaitu mengubah semua jawaban yang diterima ke dalam bentuk
angka sehingga dapat mempermudah analisis data dalam penelitian ini.
Untuk pengolahan penulis menggunakan tabel untuk mempermudah
dalam melihat kumpulan data atau dalam melihat masing-masing variabel. Untuk
menganalisis Pengaruh Pemahaman Auditee tentang Fungsi Audit Internal
terhadap Kinerja Audit Internal, penulis menggunakan analisis kuantitatif, yaitu
statistik berupa analisis korelasi, untuk uji validitas, uji reliabilitas, dan uji
47

hipotesis. Semua analisis tersebut menggunakan software SPSS 12.0 for


windows.

3.3.6 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen


Ada dua syarat penting yang berlaku untuk sebuah kuesioner yaitu valid
dan reliabelnya instrumen yang ada dalam kuesioner tersebut, untuk itu perlu
dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas dilakukan untuk melihat
sejauh mana suatu instrumen dapat digunakan untuk mengukur apa yang
seharusnya diukur, sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk melihat sejauh
mana suatu instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek
yang sama, akan menghasilkan data yang sama ( Sugiyono, 2004; 109-110).
Untuk uji validitas, dapat dilakukan dengan perhitungan korelasi antara
masing-masing item pernyataan dengan skor total. Item yang mempunyai
korelasi positif dengan skor total serta korelasi yang tinggi menunjukkan bahwa
item tersebut memiliki validitas yang tinggi pula. Biasanya syarat minimal untuk
dianggap memenuhi syarat adalah jika r kritis = 0,3. Jadi jika korelasi antara butir
dengan skor total kurang dari 0,3 maka butir dalam instrumen tersebut
dinyatakan tidak valid (Masrun; 1979, yang dikutip oleh Sugiyono, 2004; 124).
Dalam penelitian ini pengujian validitas dari instrumen atau kuesioner,
dilakukan perhitungan korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor
total dengan menggunakan rumus teknik korelasi Product Moment (Sugiyono,
2004:182), yaitu:

rxy = xy
(x )(y )
2 2

dimana : X = skor setiap item pernyataan


Y = skor total seluruh item pernyataan
XY = skor pernyataan dikalikan skor total
Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
- Jika rxy hitung r kritis maka pernyataan dinyatakan valid
48

- Jika rxy hitung < r kritis maka pernyataan dinyatakan tidak valid
Pengujian reabilitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah kuesioner
dapat memberikan ukuran yang konstan atau tidak. Instrumen (kuesioner) yang
handal berarti mampu mengungkapkan data yang dapat dipercaya. Pengujian
reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik belah dua ganjil-genap, di
mana penelitian dilakukan dengan mengelompokkan skor butir bernomor ganjil
sebagai belahan pertama dan kelompok skor butir genap sebagai belahan kedua
(Sugiyono, 2004; 122). Rumus pengujian reliabilitas yang digunakan adalah
rumus Spearman brown yaitu:

2 rb
ri =
1 + rb
dimana: ri = Reliabilitas internal seluruh instrumen.
rb = Korelasi antara belahan pertama dan kedua.

Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:


- Jika r hitung r kritis maka peryataan dinyatakan reliabel.

- Jika r hitung <r kritis maka peryataan dinyatakan tidak reliabel.

3.3.7 Rancangan Pengujian Hipotesis


Rancangan pengujian hipotesis dalam penelitian ini meliputi langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Penetapan hipotesis Nol
2. Pemilihan tes statistik dan perhitungannya.
3. Penetapan tingkat signifikansi.

3.3.7.1 Penetapan Hipotesis


Untuk menguji hipotesis digunakan analisis korelasi Rank Spearman, yang
bertujuan untuk melihat hubungan antara kedua variabel yang ada, yaitu
variabel independen dan variabel dependen, dengan sekurang-kurangnya dalam
skala pengukuran ordinal sehingga dapat dilakukan pe-ranking-an. Dalam analisis
data penulis telah menetapkan dua variabel yaitu:
49

1. Pemahaman Auditee tentang Fungsi Audit Internal sebagai variabel


independen dengan notasi X.
2. Kinerja auditor internal sebagai variabel dependen dengan notasi Y.

Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan dengan ada
tidaknya hubungan antara variabel X dan variabel Y, dimana hipotesis nol (Ho)
yaitu suatu hipotesis tentang tidak adanya hubungan, umumnya diformulasikan
untuk ditolak. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) merupakan hipotesis yang
diajukan oleh penulis dalam penelitian ini. Masing-masing hipotesis tersebut
dijabarkan sebagai berikut:
Ho: = 0 ( tidak ada pengaruh yang signifikan antara pemahaman Auditee
tentang Fungsi Audit Internal dengan kinerja auditor internal).
Ha: 0 ( terdapat pengaruh yang signifikan antara pemahaman Auditee
tentang Fungsi Audit Internal dengan kinerja auditor internal).

3.3.7.2 Pemilihan Test Statistik dan Perhitungannya


Untuk menguji hipotesis akan digunakan test statistik non parametrik,
karena teknik ini sesuai untuk digunakan dalam penelitian ilmu sosial dan skor
yang digunakan bukan skor yang digunakan eksak dalam pengertian keangkaan,
melainkan semata-mata merupakan jenjang-jenjang (rank).
Dalam menganalisis pengaruh antara pemahaman auditee tentang fungsi
audit internal dengan kinerja auditor internal digunakan rumus korelasi Rank
Spearman. Sugiyono (2004:282) mengemukakan bahwa: Korelasi Spearman
digunakan untuk menguji signifikansi hipotesis asosiatif bila masing-masing
variabel yang dihubungkan berbentuk ordinal, dan sumber data antar variabel
tidak harus sama. Yaitu :
n
6 di 2
rs = 1 i 1

( n 3 n)

di 2 = jumlah kuadrat dari selisih ranking antara dua variabel


n = jumlah sampel atau responden
50

Agar rs dapat dihitung, berilah ranking untuk X dan Y. Dalam


memberikan rank dapat dimulai dari besar hingga kecil atau sebaliknya. Untuk
setiap di rank X dikurangi dengan rank Y kemudian dikuadratkan.
Nilai koefisien korelasi Rank Spearman ( rs ) berkisar antara -1 < rs < 1

tanda negatif / positif oleh Sugiyono (2004:183) diartikan sebagai berikut:

Interval Koefisien Koefisien Korelasi Tafsirannya

0.00 0.199 + dan - Hubungan sangat rendah

0.20 0.399 + dan - Hubungan rendah

0.40 0.599 + dan - Hubungan cukup kuat

0.60 0.799 + dan - Hubungan kuat

0.80 1.000 + dan - Hubungan sangat kuat


Untuk lebih meyakinkan lagi maka pengujian hipotesis dilakukan dengan
menggunakan uji t. Pengujian uji t menurut Anto Dajan (1996:353) dapat
dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

rs n 2
t=
1 rs 2
Dimana: n = jumlah sampel
rs = nilai koefisien korelasi
Apabila nilai t hitung lebih besar daripada nilai t tabel maka hipotesis nol (Ho)
ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima, apabila nilai t hitung lebih kecil
daripada nilai t tabel maka hipotesis nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha)
ditolak dan apabila nilai t hitung lebih besar atau sama dengan nilai t tabel maka
hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima.
Untuk menghitung besarnya sumbangan atau kontribusi dari variabel X
terhadap naik atau turunnya variabel Y dihitung koefisien determinasi dengan
rumus:

K d = rs 2 100%
dimana: Kd = koefisien determinan
rs = nilai koefisien korelasi Rank Spearman
51

3.3.7.3 Penetapan Tingkat Signifikansi atau Taraf Nyata ()


Sebelum pengujian dilakukan, maka terlebih dahulu harus ditentukan
taraf signifikan atau taraf nyata. Hal ini dilakukan untuk membuat suatu rencana
pengujian agar dapat diketahui batas-batas untuk menentukan pilihan antara Ho
dan Ha. Taraf nyata yang dipilih adalah = 5 % (0,05). Angka ini dipilih karena
dapat mewakili hubungan antara variabel yang diteliti dan merupakan suatu
signifikansi yang sudah sering digunakan dalam penelitian bidang sosial.
52