Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara global dikemukakan bahwa selama tahun 2000, terdapat 4 juta
kematian neonatus (3 juta kematian neonatal dini dan 1 juta kematian neonatal
lanjut). Hampir 99% kematian tersebut terjadi di negara berkembang.
Kematian tertinggi di Afrika (88 per seribu kelahiran), sedangkan di Asia
angka kematian perinatal mendekati 66 bayi dari 1.000 kelahiran hidup. Bayi
kurang bulan dan bayi berat lahir rendah adalah satu dari tiga penyakit utama
kematian neonatus (Rahayu, 2009).
Presentase Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari
seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3% - 38% dan lebih sering terjadi
di negara-negara berkembang atau dengan sosio-ekonomi yang rendah. Secara
statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang
dan angka kematian 35 kali lebih dari 2.500 gram (Pantiawati, 2010).
Menurut World Health Organization WHO, istilah premature baby
diganti dengan istilah "Low Birth Weight Baby" atau Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) hal ini di sebabkan karena tidak semua bayi berat badan kurang dari
2500 gram pada waktu lahir bayi premature, keadaan ini dapat disebabkan
oleh masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai, SGA
(Small for Gestational Age) yaitu bayi yang beratnya kurang dari berat
semestinya/kecil untuk masa kehamilan di singkat dengan KMK (Sarwono,
2007).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2006 (Depkes, 2008), AKI
(Angka Kematian Ibu) Indonesia adalah 307/100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2002, sedangkan AKB (Angka Kematian Bayi) di Indonesia sebesar
35/1000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian maternal yang paling
umum di Indonesia adalah perdarahan 28%, eklamsi 24%, dan infeksi 11%.
Penyebab kematian bayi yaitu BBLR 38,94%, asfiksia lahir 27,97%. Hal ini
menunjukkan bahwa 66,91% kematian perinatal dipengaruhi oleh kondisi ibu

1
saat melahirkan. Mengingat banyaknya masalah mengenai BBLR yang terjadi
di Indonesia maka perlu penanganan yang memadai untuk mencegah
terjadinya masalah BBLR maupun komplikasi lebih lanjut.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan pelaksanaan asuhan kebidanan pada Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR) dengan menggunakan pola pikir ilmiah melalui
pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dan
mendokumentasikan asuhan kebidanan dalam bentuk catatan SOAP.
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan konsep dasar teori Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
b. Menjelaskan konsep dasar manajemen kebidanan pada Bayi Berat
Lahir Rendah (BBLR)
c. Melaksanakan asuhan kebidanan pada Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) dengan pendekatan Varney yang terdiri dari :
1) Melakukan pengkajian pada orang tua, bayi dan status pasien
2) Menginterpretasikan data dasar
3) Mengidentifikasikan diagnosa dan masalah potensial pada Bayi
Berat Lahir Rendah (BBLR)
4) Mengidentifikasikan kebutuhan segera pada Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR)
5) Merancang intervensi pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
6) Melakukan implementasi pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
7) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan yang telah diberikan .
d. Mendokumentasikan asuhan dalam bentuk catatan SOAP.

2
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Teori


1. Definisi
Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah premature baby
dengan low birth weight baby (bayi dengan berat lahir rendah = BBLR).
Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500
gram pada waktu lahir bayi prematur. (Prawirohardjo, 2005)
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahirnya
kurang dari 2.500 gram. (Maryunani, 2009)
BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), adalah kondisi dimana berat
bayi saat dilahirkan tidak mencapai 2,5 kg (2500 gram) tanpa memandang
usia kehamilan. Berat lahir yang diambil biasanya sekitar 1 jam pasca
melahirkan. Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, berat
badan lahir rendah dibedakan dalam berat badan lahir rendah (BBLR) jika
berat lahir 1500-2500 gram, berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) jika
berat lahir < 1500 gram, dan berat badan lahir ekstrem rendah (BBLER)
jika berat lahir < 1000 gram. (Saifuddin, 2006)
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadinya BBLR antara lain
karena ibu hamil anemia, kurang suply gizi waktu dalam kandungan,
ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah
perlu penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah
sekali mengalami hipotermi yang biasanya akan menjadi penyebab
kematian. (Depkes RI, 2006).
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
BBLR yaitu berat bayi yang kurang dari 2500 gram.

4
2. Klasifikasi
Menurut Proverawati (2010), ada beberapa cara dalam
mengelompokkan bayi BBLR, yaitu:
a. Berdasarkan berat badan
1) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berat lahir 1500-2500 gram.
2) Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) berat lahir 1000-1500
gram.
3) Bayi berat lahir ekstrim sangat rendah (BBLER) berat lahir kurang
dari 1000 gram
b. Berdasarkan umur kehamilan:
1) Kurang bulan/Preterm/Prematur
Usia kehamilan kurang dari 37 minggu
2) Cukup bulan/Fullterm/Aterm
Usia kehamilan 37 42 minggu
3) Lebih bulan/Postterm/Serotinus
Usia kehamilan lebih dari 42 minggu
c. Berdasarkan masa gestasinya
1) Prematuritas murni
Prematuritas murni masa gestasinya kurang dari 37 minggu
dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi
berat atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa
kehamilan (NKB SMK).
2) Dismaturitas
Dismaturitas ialah bayi lahir dengan berat badan kurang
dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu. Berat bayi
mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi
yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK). Dismatur dapat
terjadi dalam preterm, term dan post term yang terbagi dalam :
a) Neonatus kurang bulan kecil untuk masa kehamilan (NKB-
KMK).

5
b) Neonatus cukup bulan kecil untuk masa kehamilan (NCB
KMK).
c) Neonatus lebih bulan kecil untuk masa kehamilan (NLB
KMK).

3. Etiologi
Adapun etiologi dari BBLR menurut Surasmi (2003) di antaranya
yaitu :
a. Prematuritas Murni
Penyebab prematuritas murni yaitu :
1) Faktor ibu
a) Penyakit yang di derita ibu (hipertensi, jantung, diabetes
melitus). Penyakit yang berhubungan langsung dengan
kehamilan misalnya toksemia gravidarum, perdarahan
antepartum, trauma fisis dan psikologis. Penyakit lainnya ialah
infeksi akut yang dapat merupakan faktor etiologi prematuritas.
b) Usia ibu saat hamil (kurang dari 16 tahun dan lebih dari 35
tahun). Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia
ibu dibawah 20 tahun dan pada multigravida yang jarak antara
kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah adalah pada usia
ibu antara 26 35 tahun.
c) Multigravida dan jarak kelahiran yang terlalu dekat.
d) Gizi saat ibu hamil.
e) Pekerjaan ibu yang terlalu berat.
f) Trauma fisik dan psikologis.
g) Kebiasaan ibu (merokok, minum alkohol, dan narkotika).

2) Faktor janin
a) Cacat bawaan
b) Infeksi dalam rahim
c) Kelainan kromosom.

6
3) Faktor kehamilan
a) Hamil dengan hidromion
b) Hamil ganda
c) Perdarahan antepartum
d) Komplikasi saat hamil (preeklamsi/eklamsi, ketuban pecah
dini)

4) Faktor lingkungan dan sosial ekonomi


a) Tempat tinggal
b) Radiasi
c) Keadaan ekonomi keluarga. Keadaan ini sangat berperan
terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat
pada golongan sosial ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan
oleh keadaan gizi kurang baik dan pengawasan antenatal yang
kurang teratur
d) Zat-zat racun

b. Dismaturitas
Beberapa faktor yang dapat menimbulkan dismaturitas janin yaitu :
1) Faktor ibu
a) Malnutrisi
b) Penyakit ibu seperti hipertensi, penyakit paru, dan penyakit
gula
c) Komplikasi kehamilan seperti preeklampsi/eklampsi dan
perdarahan antepartum (plasenta previa, ketuban pecah dini).
d) Kebiasaan ibu seperti merokok dan minum alcohol

2) Faktor uterus dan placenta


a) Gangguan pembuluh darah, gangguan insersi tali pusat
b) Kelainan bentuk placenta
c) Perkapuran placenta

7
3) Faktor janin
a) Kelainan kromosom
b) Hamil ganda atau gemeli
c) Infeksi pada rahim (TORCH)

4. Patofisiologi
Salah satu patofisiologi dari BBLR yaitu asupan gizi yang kurang
pada ibu hamil yang kemudian secara otomatis juga menyebabkan
kurangnya asupan gizi untuk janin sehingga menyebabkan berat badan
lahir rendah (Surasmi, 2003).
Apabila dilihat dari faktor kehamilan, salah satu etiologinya yaitu
hamil ganda yang mana pada dasarnya janin berkembang dan tumbuh
lebih dari satu, maka nutrisi atau gizi yang mereka peroleh pun dalam
rahim tidak sama dengan janin tunggal, yang mana pada hamil ganda gizi
dan nutrisi yang didapat dari ibu harus berbagai sehingga kadang salah
satu dari janin pada hamil ganda juga mengalami BBLR (Surasmi, 2003).
Kemudian jika dikaji dari faktor janin, salah satu etiologinya yaitu
infeksi dalam rahim yang mana dapat mengganggu atau menghambat
pertumbuhan janin dalam rahim yang bisa mengakibatkan BBLR pada
bayi (Surasmi, 2003).

5. Manifestasi Klinis
Secara umum, menurut Proverawati (2010) gambaran klinis dari bayi
BBLR antara lain:
a. Berat kurang dari 2.500 gram
b. Panjang kurang dari 45 cm
c. Lingkar dada kurang dari 30 cm
d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm
e. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
f. Kepala lebih besar
g. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang

8
h. Otot hipotonik lemah
i. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
j. Ekstremitas : paha abdukasi, sendi lutut/kaki fleksi lurus
k. Kepala tidak mampu tegak
l. Pernapasan 40-50 kali/menit
m. Nadi 100-140 kali/menit
Manifestasi klinis pada bayi BBLR Menurut Mochtar (2012) antara
lain:
a. Sebelum bayi lahir
1) Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus
premature dan lahir mati.
2) Pembesaran uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
3) Pergerakan janin yang pertama (quickening) terjadi lebih lambat,
gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak
lanjut.
4) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai dengan
seharusnya,
5) Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidromnion atau bisa juga
dengan hydramnion, hiperemesisi gravidarum dan pada hamil
lanjut dengan toxemia gravidarum atau perdarahan antepartum
b. Setelah bayi lahir
1) Tanda dan gejala yang ditemukan pada bayi prematuritas murni
adalah:
a) Kepala lebih besar daripada badan.
b) Berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang dari
45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang
dari 30 cm.
c) Kulit tipis transparan.
d) Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terutama pada dahi, pelipis,
telinga dan lengan.
e) Lemak subkutan kurang.

9
f) Ubun-ubun dan sutura lebar.
g) Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh
labia mayora (pada wanita), pada laki-laki testis belum turun.
h) Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat
terlihat
i) Rambut tipis, halus.
j) Tulang rawan dan daun telinga immatur (elastis daun telinga
masih kurang sempurna).
k) Puting susu belum terbentuk dengan baik.
l) Bayi kecil, posisi masih posisi fetal.
m) Pergerakan kurang dan lemah.
n) Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur, sering
mengalami serangan apnea.
o) Otot masih hipotonik.
p) Refleks tonus leher lemah, refleks menghisap dan menelan
serta refleks batuk belum sempurna.
q) Kulit tampak mengkilat dan licin.
r) Rajah telapak tangan kurang dari 1/3 bagian atau belum
terbentuk
s) Kadang disertai pernafasan yang tidak teratur
2) Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada bayi dengan
dismaturitas yaitu :
a) Preterm : sama dengan bayi prematuritas murni
b) Term dan postterm
(1) Kulit berselubung vernik kaseosa tipis/tidak ada.
(2) Kulit pucat atau bernoda mekonium, kering, keriput dan
tipis.
(3) Jaringan lemak di bawah kulit tipis.
(4) Abdomen cekung atau rata
(5) Tali pusat berwarna kuning kehijauan.
(6) Gerakannya cukup aktif, tangis cukup aktif

10
(7) payudara dan puting sesuai masa kehamilan
(8) labia mayora menutup labia minora
(9) testis mungkin telah turun
(10) Rajah telapak kaki lebih dari 1/3 bagian
(11) Mengisap cukup kuat

6. Komplikasi
Menurut Surasmi (2003), komplikasi yang terjadi pada bayi berat
lahir rendah adalah :
a. Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematuritas murni adalah :
1) Sindrom distress pernapasan disebut juga penyakit membran hialin
karena pada stadium akhir akan terbentuk membran hialin yang
membungkus alveolus paru.
2) Aspirasi pneumonia, keadaan ini disebabkan karena refleks
menelan dan batuk pada bayi premaur belum sempurna.
3) Perdarahan intraventricular
Perdarahan spontan diventikel otot lateral biasanya disebabkan
oleh karena anoksia otot. Biasanya terjadi bersamaan dengan
pembentukan membran hialin pada paru. Kelainan ini biasanya
ditemukan pada atopsi.
4) Fibroplasia retrolental, keadaan ini disebabkan oleh gangguan
oksigen yang berlebihan.
5) Hiperbilirubinemia
Bayi prematur lebih sering mengalami hyperbilirubinemia
dibandingkan dengan bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor
kematangan hepar pada bayi prematur belum matang sehingga
konjungtiva bilirubium indirek menjadi bilirubium direk belum
sempurna.
6) Masalah suhu tubuh
Masalah ini karena pusat pengeluaran nafas badan masih belum
sempurna. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapan

11
bertambah. Otot bayi masih lemah, lemak kulit kurang, sehingga
cepat kehilangan panas badan. Kemampuan metabolisme panas
rendah, sehingga bayi BBLR perlu diperhatikan agar tidak terlalu
banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar
(36,5 37,50C) (Manuaba, 1998 )
b) Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi dismaturitas adalah :
1) Aspirasi mekonium yang dapat menyebabkan kolaps paru-paru dan
pneumotoraks. Aspirasi mekonium yang sering diikuti
pneumotaritas Ini disebabkan stress yang sering dialami bayi pada
persalinan.
2) Jumlah Hb tinggi sehingga sering diikuti ikterus dan kernikterus.
Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi KMK mempunyai
hemoglobin yang tinggi yang mungkin disebabkan oleh hipoksia
kronik di dalam uterus
3) HipogliKemia janin. Hipoglikemia terutama bila pemberian minum
terlambat agaknya hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya
cadangan glikogen hati dan meningginya metabolisme bayi
4) Asfiksia sedang sampai berat.
5) Perdarahan, panas badan tinggi

7. Penatalaksanaan
Berdasarkan gambaran klinis pada BBLR maka perawatan dan
pengawasannya terutama ditunjukkan pada pengaturan suhu badan
(thermoregulasi), pemberian ASI dan pencegahan infeksi.
a. Pengaturan suhu badan (thermoregulasi)
Bayi prematur mudah dan cepat sekali menderita hipotermi bila
berada dilingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh
permukaan tubuh bayi yang relatif lebih luas bila dibandingkan dengan
berat badan, kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan kekurangan
lemak coklat (Brown fat ). Untuk mencegah hipotermi, perlu dilakukan
usahakan lingkungan yang cukup hangat untuk bayi dan dalam

12
keadaan istirahat konsumsi oksigen paling sedikit, sehingga suhu
tubuh bayi tetap normal.
Bila bayi dirawat dalam inkubataor, maka suhunya untuk bayi
dengan berat badan kurang dari 2000 g adalah 35 C dan untuk bayi
dengan berat badan 2.000 - 2500 gram adalah 34 C , agar ia dapat
mempertahankan suhu tubuh sekitar 37 C. Cara lain untuk
mempertahankan suhu tubuh bayi sekitar 36 37 C adalah dengan
memakai alat perspexheat shield yang diselimuti pada bayi dalam
inkubator. (Wiknjosastro, 2007)
b. Perawatan Metode Kanguru
Perawatan Kanguru (Kangaroo care, KC) digunakan untuk
meningkatkan kedekatan antara bayi dengan ibu, yaitu dengan
menaruh bayi yang dibedong dengan posisi tegak di antara payudara
ibu untuk kontak kulit ke kulit.
Bayi BBLR tetap berada dibawah pakaian ibu untuk periode
waktu yang bervariasi sesuai dengan keinginan ibu. Sebagian ibu
mungkin mengulagi komtak dengan bayinya sepanjang hari, dengan
waktu jeda; ibu yang lain memilih waktu khusus seputar waktu mereka
merencanakan aktivitas kegiatan harian. Tidak ada peraturan atau
batasan waktu, tetapi kontak harus diulang jika ada tanda klinis gawat
neonatus.
KC tampak sebagai mediator sentral untuk semua elemen penting
yang dibutuhkan untuk empertahankan status kesehatan BBLR, yaitu
termoregulasi, menyusui yang efektif, dan pencegahan hipoglikemia.
Berikut adalah manfaat perawatan Kanguru :
1) Menyokong konsep kedekatan yang jauh menghindarkan ancaman
perpisahan
2) Ibu ememperlihatkan kesamaan termal dengan bayi mereka dalam
kisaran termonetral
3) Memberikan rasaaman dan kedekatan yang mengingatkan pada
uterus

13
4) Terdapat peningkatan laporan keberhasilan laktasi karena
peningkatan hormonal dan stimulasi pada produksi ASI
5) Terdapat peningkatan taktil awa, kontak audiovisual dan emosional
untuk keduanya, dan bayi diberikan kesematan untuk menganali
lebih jauh suara, bau dan detak jantung ibunya
6) Dinaggap berpengaruh dalam perkembangan perasaan emosional
yang kuat pada bayi
7) Ibu lebih cepat beradaptasi dengan penampilan bayi mereka
8) Ibu lebih cenderung menjadi advokad bayinya
9) Dianggap memperkuat kepercayaan diri ibu dalam mengendalikan
emosianya, kompetensinya dalam keterampilan menjadi ibu dan
persepsinya kepada diri sendiri sebagai ibu yang baik.

c. Makanan bayi (Wiknjosastro, 2007)


Pada bayi prematur refleks isap, telan dan batuk belum
sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan
terutama lipase masih kurang disamping itu kebutuhan protein 3-5
g/hari dan tinggi kalori (110 kal/kg/hari), agar berat badan bertambah
sebaik-baiknya. Jumlah ini lebih tinggi dari yang diperlukan bayi
cukup bulan. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur tiga
jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia.
Tabel I Kebutuhan Cairan Pada Bayi / Hari
Usia Kebutuhan Cairan
1 hari 60 (ml/kg BB)
2 hari 80 (ml/kg BB)
3 hari 100 (ml/kg BB)
4 hari 120 (ml/kg BB)
10 hari 180 (ml/kg BB)
14 hari 200 (ml/kg BB)
Sumber : (Wiknjosastro H, 2007)

14
Sebelum pemberian minum pertama harus dilakukan pengisapan
cairan lambung. Hal ini perlu untuk mengetahui ada tidaknya adresia
esofagus dan mencegah muntah. Pada umumnya dengan berat lahir
2.000 gram dapat menyusu pada ibunya. Bayi dengan berat kurang dari
1.500 gram kurang mampu mengisap air susu ibu atau susu botol,
terutama pada hari-hari pertama. Dalam hal ini bayi diberi minum
melalui sonde lambung (orogastrisc intubation ). (Wiknjosastro,
2007)
d. Pencegahan infeksi
Bayi BBLR, terutama bayi prematur, rentan terhadap infeksi
karena imaturitas sistem pertahanan tubuh mereka. Daya tahan tubuh
yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang, dan
pembentukan antibody belum sempurna. Oleh karena itu, upaya
preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak
terjadi persalinan prematuritas (BBLR).
Tindakan aseptik dan anti septik harus selalu digalahkan, baik
dirawat gabung maupun di bangsal neonatus. Infeksi yang sering
terjadi ialah infeksi silang melalui para dokter, perawat, bidan dan
petugas lain yang berhubungan dengan bayi. Untuk mencegah hal ini
pada petugas perlu disadarkan akan bahaya infeksi pada bayi.
(Prawirohardjo, 2010)
1) Diadakan pemisahan antara bayi yang kena infeksi dengan bayi
yang tidak kena infeksi.
2) Mencuci tangan setiap kali dan sesudah memegang seorang bayi.
3) Membersihkan tempat tidur bayi segera sesudah tidak di pakai lagi
(paling lama seorang bayi memakai tempat tidur salama 1 minggu
untuk kemudian di bersihkan dengan cairan antiseptik
4) Membersihkan ruangan pada waktu-waktu tertentu
5) Setip bayi mempunyai perlengkapan tersendiri
6) Setiap bayi di mandikan di tempat tidurnya masing-masing dengan
perlengkapanya tersendiri

15
7) Setiap petugas di bangsal bayi harus memakai pakaian yang telah
di sediakan
8) Petugas yang menderita penyakit menular (infeksi saluran nafas,
diare, konjungtifitis) dilarang merawat bayi
9) Mulut dan tali pusat bayi harus di bersihkan sebaik baiknya
10) Para pengunjung orang sakit hanya bisa melihat bayi dari belakang
kaca.
e. Pencegahan Hipoglikemia
Hipoglikemia berarti konsentrasi glukosa darah yang rendah dan
hipoglikemia sendiri bukanlah kondisi medis, tetapi merupakan
gambaran penyakit atau kegagalan untuk beradaptasi dari keadaan
janin yang terus-menerus mendapat konsumsi glukosa transplasenta ke
pola suplai nutrient yang intermiten di ekstrauterin.
Hipoglikemia ini cenderung terjadi saat bayi kedinginan atau jika
permulaan pemberian susu (dalam jam pertama) tertunda. Oleh karena
itu perlunya untuk menjaga kadar gula darah normal terendah yaitu 2,6
mmol/dl.
Pada BBLR dengan hipoglikemia penatalaksanaanya yaitu di
skrinning kecuali pada bayi BBLR yang mendapatkan makanan bergizi
secara teratur dan mempertahankan suhu tubuh. (Myles, 2009)
f. Pengaturan Suara dan Cahaya
Pada cahaya lampu yang redup bayi premature dan BBLR lebih
dapat meningkatkan kualitas tidur dan status terjaga mereka.
Mengurangi tingkat cahaya pada malam hari akan membatu
meningkatkan terbentuknya irama sirkadian dan silkus diurnal. Tingkat
cahaya dapat diatur di siang hari dengan tirai atau penutup yang
mengahlangi jendela dan menghambat ruangan dari sinar matahari
langsung. Tirai untuk menutupi bayi yang berdekatan dari cahaya
fototerapi juga sangat penting.

16
g. Melakukan Resusitasi
Melakukan resusitasi atau menghisap lender dengan
menggunakan saction sampai bersih sehingga bayi dapat bernafas
secara baik.
h. Penimbangan Ketat
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi / nutrisi bayi
dan berat kaitanya dengan daya tahan tubuh. Oleh sebab itu
penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat.
i. Personal Hygiene
Pentingnya menjaga personal hygiene bayi, agar bayi merasa
nyaman dan tidak gelisah. Apalagi pada bayi BBLR karena masih
sangat rentan.

8. Pencegahan
Adapun upaya pencegahan yang dapat dilakukan bidan menurut
Surasmi (2003) dalam mengurangi angka kejadian BBLR yaitu :
a. Upayakan agar melakukan antenatal care yang baik, segera melakukan
konsultasi dan merujuk penderita bila terdapat kelaiMeningkatkan
pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun
kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang
diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi
BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi
pelayanan kesehatan yang lebih mampunan.
b. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri
selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin
yang dikandung dengan baik.
c. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya
persalinan dengan berat badan lahir rendah.
d. Tingkatkan penerimaan keluarga berencana.

17
e. Anjurkan lebih banyak istrahat, bila kehamilan mendekati aterm atau
istirahat baring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari keadaan
normal kehamilan.
f. Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam
meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar
mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan
antenatal dan status gizi ibu selama hamil.

18
B. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan pada BBLR

I. PENGKAJIAN
A. DATA SUBYEKTIF
1. Identitas
a. Identitas klien
Nama :
Umur/tanggal lahir : penyebab depresi bayi pada saat lahir
mencangkup bayi yang kurang bulan
(Prawirohardjo, 2010 )
Faktor Persalinan kurang bulan / lewat
bulan dapat memungkinkannya terjadi
implikasi pada bayi baru lahir berupa
berat badan lahir rendah (Varney, 2008)
Jenis kelamin :
Tanggal MRS :
Diagnosa medis :
b. Identitas orang tua
Nama ayah :
Nama ibu :
Usia ayah/ibu : Angka kejadian prematuritas tertinggi
ialah pada usia ibu dibawah 20 tahun
(Surasmi, 2003)
Pendidikan ayah/Ibu :
Pekerjaan ayah/ibu : Kejadian tertinggi terdapat pada
golongan sosial ekonomi rendah
(Pantiawati, 2010).
Agama :
Suku/bangsa :
Alamat :

19
2. Riwayat kesehatan klien
a. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama : Secara umum, menurut Proverawati (2010)
gambaran klinis dari bayi BBLR antara lain:
1) Berat kurang dari 2.500 gram, Panjang kurang dari 45 cm,
Lingkar dada kurang dari 30 cm, Lingkar kepala kurang dari 33
cm
2) Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
3) Kepala lebih besar
4) Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang
5) Otot hipotonik lemah
6) Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
7) Ekstremitas : paha abdukasi, sendi lutut/kaki fleksi lurus
8) Kepala tidak mampu tegak
9) Pernapasan 40-50 kali/menit
10) Nadi 100-140 kali/menit
b. Riwayat kesehatan yang lalu
1) Riwayat kehamilan dan kelahiran
Riwayat antenatal : penyebab depresi pada bayi saat lahir
mencangkup obat-obatan yang diberikan atau diminum oleh
ibu (Prawirohardjo, 2010)
Faktor Ibu :
- Factor Umur (Faktor ibu yang lain dikaitkan adalah umur
ibu yang muda) (obs.william,2006).
- Jumlah paritas (jarak kelahiran sebelumnya)
- Penyakit kehamilan (sekitar 28 % kelahiran preterm
diindikasikan disebabkan oleh pre eklamsi (43%), gawat
janin (27%), pertumbuhan janin terhambat (10%), abrupsio
plasenta (7%) (terlepasnya sebagian plasenta dari dinding
uterus), dan kematian janin (7%). (obsetri William,2006)
- Gizi kurang atau malnutrisi

20
- Trauma
- Kelelahan
- Merokok (Perilaku seperti merokok, gizi buruk, dan
penambah berat badan yang kurang baik selama kehamilan,
serta penggunaan seperti kokain atau alcohol telah
dilaporkan memainkan peranan penting pada kejadian dan
hasil akhir dengan berat lahir rendah (Obstetri William,
2006))
Faktor plasenta
- Penyakit vaskuler
- Kehamilan ganda
Faktor janin
- Kelainan bawaan
- Infeksi
Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat
antenatal pada kasus BBLR yaitu:
- Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi
buruk, merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan
penyakit seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru
- Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya
kelahiran multiple, kelainan kongenital, riwayat persalinan
preterm.
- Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau
periksa tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak
pada petugas kesehatan.
- Hari pertama haid terakhir tidak sesuai dengan usia
kehamilan (kehamilan postdate atau preterm).

Riwayat intranatal : Infeksi koriomnion yang disebabkan oleh


berbagai mikroorganisme telah muncul sebagai kemungkinan

21
penjelasan berbagai kasus pecah ketuban dan persalinan
preterm. Bobbitt dan ledder,1995 dalam obs.william, 2005)

Riwayat post natal : Yang perlu dikaji pada bayi dengan


BBLR gangguan absorbsi gastrointentinal, muntah aspirasi,
kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan parentral
atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi
kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengoreksi
dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk
pemberian obat intravena.
Riwayat imunisasi :
Riwayat alergi :
Riwayat penyakit yang pernah diderita :
Riwayat tumbuh kembang :
Riwayat pertumbuhan :
Riwayat perkembangan :

3. Riwayat kesehatan keluarga


1) Penyakit menular
2) Penyakit menurun
3) Riwayat penyakit menahun

4. Pola Fungsional Kesehatan

Pola Keterangan
Pola nutrisi Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir,
Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/
hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar
200 cc/kg BB/ hari. (Mochtar, Rustam.1998).
Pola eliminasi Pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
penting mengkaji pola eliminasi, sebab pada bayi

22
BBLR kebutuhan nutrisi yang diberikan berbeda
dengan bayi yang berat badannya normal, oleh
sebab itu akan berpengaruh juga pada frekuensi
BAB dan BAK nya setiap harinya. (Soepardan,
Suryani. 2009)
Pola istirahat Bayi yang mengalami berat badan lahir rendah
(BBLR) memiliki pola tidur yang lebih banyak
dari bayi normal, sebab nutrisi yang dikonsumsi
sangat cukup dan memiliki frekuensi yang
ditetapkan setiap jam, sehingga bayi lebih sering
tertidur nyenyak dengan nutrisi yang cukup.(
Soepardan, Suryani.2009)
Pola personal Pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
hygiene personal hygine juga perlu dikaji sebab
kebersihan pada bayi sangat diutamakan untuk
pencegahan infeksi.(Soepardan, Suryani.2009)
Pola aktifitas Aktivitas yang terlihat pada bayi BBLR tentunya
tidak banyak karena pergerakan bayi terbatas,
tangis bayi juga tidak keras berbeda dengan bayi
normal.

5. Riwayat psikososiokultural spiritual


Psikologi : Salah satu faktor bblr pada bayi adalah kehamilan yang
tidak diinginkan (Depkes, 2005).
Sosial :
Kultural :
Spiritual :

23
B. Data objektif
1. Pemeriksaan umum
Kesadaran : Compos mentis sampai somnolent
Tanda tanda vital
Nadi : Nadi apical mungkin cepat dan/atau tidak
teratur dalam batas normal 120-160 dpm
(Doengoes, 2001).
Suhu : Suhu berfluktuasi dengan mudah (Doengoes,
2001)
Pernafasan : Skor apgar mungkin rendah, Pernafasan
mungkin dangkal, tidak teratur, pernafasan
diafragmatik intermiten atau periodic (40-
60x/mnt) (Doengoes, 2001)

Antropometri
Tinggi badan : < 46 cm
Berat badan : < 2500 gram
Lingkar kepala : < 33cm
Lingkar dada : < 34 cm
Lingkar perut : < 28 cm

2. Pemeriksaa fisik
Inspeksi
Kulit : (NKB) Tampak kulit kemerahan atau tembus
pandang, warna mungkin merah muda/kebiruan,
akrosinosis/ sianosis/ pucat, Tampak lanugo
terdistribusi secara luas di seluruh tubuh (Doegoes,
2001).
(NCB, NLB) Kulit berselubung vernik kaseosa
tipis/tidak ada. Kulit pucat atau bernoda mekonium,

24
kering, keriput dan tipis. Jaringan lemak di bawah
kulit tipis. (Surasmi, 2003)
Kepala : Tampak kepala tidak mampu tegak, kulit kepala
tampak bersih, rambut tipis, distribusi rambut tidak
merata dan halus.
(NCB, NLB) Ukuran kepala agak besar dalam
hubungannya dengan tubuh. Fontanel mungkin
besar atau terbuka (Dongoes, 2001).
Wajah : Wajah mungkin tampak memar (Doengoes, 2001).
Mata : Edema kelopak mata mungkin terjadi, mata
mungkin merapat (tergantung usia gestasi)
(Doegoes, 2001).
Bayi dengan BBLR dapat mengalami retinopathy of
prematurity (ROP) yang disebabkan karena
ketidakmatangan retina.
Tampak simetris, bersih, tidak tampak strabismus,
fungsi penglihatan baik, konjungtiva tidak tampak
pucat, sklera tidak tampak kuning, tidak tampak
perdarahan, pupil kontriksi bila sinar mendekati,
dilatasi bila sinar menghilang (Donna L. Wong,
2009)
Telinga : Tampak lanugo pada telinga dan bagian tubuh lain
seperti telinga dan punggung
Hidung : Batang hidung cekung, hidung pendek mencuat,
adanya tanda-tanda distress pernapasan khususnya
pada adanya sindrom aspirasi mekonium,
pernapasan cuping hidung dan terdapat
penumpukan lender (Sarwono, 2002).
Mulut : bibir atas tipis, dagu maju, mukosa mulut
(kotor/bersih) ada lendir atau tidak (Sarwono,
2002).

25
Gusi tampak berwarna merah, gigi tidak tampak
tumbuh, lidah tampak bersih, tonsil tidak tampak
mengalami pembesaran, tidak tampak kelainan
palatum (Donna L. Wong, 2009)
Leher : Tidak tampak kelainan
Dada : Tampak retraksi dinding dada
Abdomen : (NKB) Abdomen biasanya tampak lebih besar, Tali
pusat tebal dan segar (Sinopsis Obstetri)
(NCB,NLB) Abdomen Cekung atau rata, tali pusat
berwarna kuning kehijauan (Mochtar, 2012)
Genetalia : (NKB) pada bayi perempuan Labia minora wanita
lebih besar dari labia mayora, dan klitoris menonjol.
Pada bayi laki-Laki testis pria mungkin tidak turun,
rugae mungkin banyak atau tidak ada pada scrotum.
(NCB, NLB) pada bayi perempuan labia mayora
menutupi labia minora, dan pada bayi laki-laki
testis sudah turun.
Anus : Tidak tampak kelainan
Ekstremitas : Pada penilaian APGAR tonus otot yang lemas
menunjukan bayi dalm keadaan kurang baik
(obstetri fisiologi UNPAD,1983 )
(NKB) Pergerakan bayi kurang aktif. Kuku jari
tangan dan kaki belum mencapai ujung jari, Tampak
edema, garis telapak kaki tidak ada pada semua
atau sebagian telapak (Doengoes, 2001).

Palpasi
Kepala : (NKB) Sutura mungkin mudah digerakkan
(Doengoes, 2001)
Wajah : Tidak teraba oedema

26
Telinga : (NKB) daun telinga immatur (elastis daun telinga
masih kurang sempurna). (Mochtar, 2012)
Hidung : Tidak teraba polip
Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening,
tiroid, dan vena jugularis
Abdomen : Tidak teraba kelainan
Anus : Tidak terdapat atresia ani
Ektremitas : Tidak teraba oedema

Auskutasi
Dada : Jantung
Evaluasi bunyi jantung terkait dengan (1) kualitas
(harus jelas dan dapat dibedakan, tidak tertutupi,
tidak difus, atau jauh) (2) Intensitas (3) frekuensi
(harus sama dengan denyut nadi radialis (4) irama
(Wong, 2009)
Bunyi jantung I karena katup mitral dan
trikuspidalis menutup pada permulaan systole
(kontraksi), bersamaan dengan ictus kordis,
denyutan karotis, terdengar jelas di apeks), bunyi
jantung II karena katup aorta dan katup pulmonal
menutup pada permulaan diastole (relaksasi
jantung), paling jelas di sela iga 2 tepi kiri sternum
terpecah pada inspirasi dan tunggal pada ekspirasi)
(Aziz, 2009)
Bagi bayi baru lahir keadaan normal denyut jantung
janin yaitu berkisar antara 120-160 x/menit. Bayi
dengan berat lahir rendah biasanya relatif lebih
cepat.

27
Pernafasan :
Biasanya terdapat wheezing, stridor, crackless, dan
tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and
Wong; 2005)
Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur,
pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik
(40-60x/mnt) (Doengoes, 2001)
Abdomen : Bising usus normal 3-5 x/menit

3. Pemeriksaan Neurologis/Refleks
Refleks tampak lemah
Morro : Positif, gerakan lengan dan kaki yang terjadi ketika bayi
yang baru lahir dikejutkan oleh suara atau gerakan
keras, tampak pada gestasi minggu ke-28.
Rooting : Positif, menoleh kearah dimana terjadi sentuhan pada
pipinya. Bayi akan membuka mulutnya apabila bibirnya
disentuh dan berusaha untuk mengisap benda yang
disentuhkan tersebut, biasanya terbentuk pada gestasi
minggu ke-32.
Sucking : Positif, bayi menimbulkan refleks mengisap, biasanya
terbentuk pada gestasi minggu ke-32.
Swallowing : Positif, bayi mendesak otot-otot di daerah mulut dan
faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan
mendorong ASI ke dalam lambung bayi, biasanya
terbentuk pada gestasi minggu ke-32.
Babinski : Positif, stimulus gerakan pada telapak kaki,
menyebabkan semua jari-jari menekuk ke bawah,
biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke-32.
Graf : Positif, tangan bayi menggenggam, biasanya terbentuk
pada gestasi minggu ke-32.(Asuhan Persalinan Normal,
2008).(Doengoes,2001)

28
4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin : 15-20 gram/dl
Leukosit : 18.000/mmg
Hematokrit : 43%-61%
Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl
1-2 hari dan 12 mg/dl pada 3-5 hari
Dektroksit : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama
kelahiran rata- rata 40-50 mg/dl, meningkat 60-
70 mg/dl pada hari ke-3
Pemeriksaan usg

II. INTERPRETASI DATA DASAR


Diagnosis : NKB/NCB/NLB, KMK/SMK usia .... hari dengan BBLR

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSIS MASALAH POTENSIAL


Diagnosis Potensial
1. Asfiksia Neonatorum
2. Hiperbillirubinemia
3. Hipoglikemia
4. Pneumonia Aspirasi
5. Infeksi

Masalah Potensial :
1. Ketidakseimbangan suhu tubuh
2. Masalah pemberian ASI
3. Penurunan turgor kulit
4. Perdarahan karena pembuluh darah yang rapuh

29
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA
1. Pemasangan infus
2. Pemasangan oksigen
3. Perawatan bayi denngan metode kanguru, pencegahan kehilangan panas
dan infeksi
4. Kolaborasi dengan dr. SpA dan tim medis lain

V. INTERVENSI
Yang perlu diperhatikan pada perawatan bayi berat badan lahir rendah
adalah pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan siap sedia
dengan tabung oksigen. Pada bayi premature makin pendek masa kehamilan,
makin sulit dan banyak persoalan yang akan dihadapi, dan makin tinggi
angka kematian perinatal. Biasanya kematian disebabkan oleh gangguan
pernafasan, infeksi, cacat bawaan, dan trauma pada otak (Synopsis Obstetri,
2004.)
1. Jaga Kehangatan Bayi .
Rasional : mempertahankan lingkungan termonetral, membantu mencegah
stress dingin (Hipotermia) (Doengoes, 2001).
2. Pantau sistem pengaturan suhu, penyebaran hangat, atau incubator.
(pertahankan batas atas pada tergantung pada ukuran atau usia bayi)
Rasional : Hipertermia dengan akibat peningkatan pada laju metabolisme,
kebutuhan oksigen dan glukosa, kehilangan air tidak kasatmata dapat
terjadi bila suhu lingkungan yang dapat dikontrol, terlalu tinggi. (Dongoes,
2001).
3. Lakukan perawatan metode kanguru
Rasional : Perawatan metode kanguru (Kangaroo Mother Care) atau
disebut juga asuhan kontak kulit dengan (skin to skin contact) merupakan
metode khusus asuhan bagi bayi berat lahir rendah atau bayi prematur.
4. Lakukan pemeriksaan TTV pada bayi
Rasional : Tanda-tanda vital merupakan parameter awal untuk mendeteksi
dini kelainan dalam tubuh

30
5. Berikan nutrisi melalui OGT pada BBLR
Rasional : sebelum usia 32 minggu sebagian besar bayi premature atau
BBLR yang sehat akan membutuhkan pemberian susu melalui selang
secara teratur untuk memenuhi kebutuhan kalori sesuai pertumbuhannya.
6. Lakukan pemantauan tanda bahaya pada BBLR bersama orangtua bayi
Rasional : Pengenalan tanda bahaya pada ibu dan keluarga dimaksudkan
agar dapat mengetahui tanda bahaya pada bayinya dan apabila menemukan
salah satu tanda tersebut untuk member tahu segera ke tenaga kesehatan
7. Lakukan penimbangan berat badan secara ketat setiap hari
Rasional : Penimbangan berat badan merupakan salah satu cara untuk
memonitor perkembangan bayi BBLR
8. Jaga Personal hygiene bayi
Rasional : Sebagai salah satu upaya penatalaksanaan yang harus dilakukan
guna menghindari infeksi
9. Jaga pengaturan lingkungan BBLR
Rasional : Menciptakan lingkungan yang ideal dapat menstimulasi
perkembangan fisik bayi dan dapat memberikan dukungan psikologis bagi
ibu dan keluarganya.
10. Jaga pengaturan suara dan cahaya
Rasional : Bayi membutuhkan masa istirahat dan pemulihan bagi dirinya.
Pada cahaya lampu yang reduo dapat meningkatkan kualitas tidur dan
status terjaga mereka.
11. Kolaborasi dengan dr.Spa dalam pemberian terapi.
Rasional : Kolaborasi merupakan cara untuk bekerjasama dalam
menyelesaikan suatu masalah.

VI. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan dilakukan dengan efisien dan aman sesuai dengan rencana
asuhan yang telah disusun.pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.

31
VII. EVALUASI
Evaluasi merupakan penilaian tentang kebersihan dan kefektifan asuhan
kebidanan yang telah dilakukan. Evaluasi didokumentasikan dalam bentuk
SOAP.

32
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY. N USIA 5 hari DENGAN
BBLR DI RUANG NICU RSUD AW. SYAHRANIE SAMARINDA

Tanggal : 12 Desember 2013


Tempat : Ruang NICU
Oleh :

I. PENGKAJIAN
DS :
1) Identitas
(a) Identitas Klien
Nama : Neonatus Ny. N
Umur/Tanggal lahir : 5 hari/ 07 Desember 2013
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal MRS : 12 Desember 2013
Diagnosa Medis : NKB KMK dengan BBLR
(b) Identitas orang tua
Nama ayah : Tn. R
Nama ibu : Ny. N
Usia ayah/ibu : 28 tahun/23 tahun
Pendidikan ayah/ibu : S1/SMA
Pekerjaan ayah/ibu : Swasta (kontraktor)/ Swasta
Agama : Islam
Suku/bangsa : Bugis/Sunda
Alamat : Perum Citra Griya Blok C No.16

2) Riwayat Kesehatan Klien


Riwayat Kesehatan Sekarang : BB klien sekarang 1200 g

33
Keluhan utama : Klien masih terlihat lemah dan
gerakannya kurang aktif

3) Riwayat Kesehatan yang Lalu


Prenatal
Selama hamil ibu rutin memeriksakan kehamilannya ke bidan dan
selama hamil mendapatkan vitamin prenatal dan rutin
meminumnya seiap hari. Dalam kehamilannya ibu rajin
mengkonsumsi sayuran, dan buah-buahan. Penambahan berat
badan ibu selama hamil 6 kg, yaitu sebelum hamil BB ibu 50 kg
dan dalam UK 28 minggu (menjelang persalinan) BB ibu 56 kg.
Lila ibu normal 26 cm, dan ibu mengatakan tidak merokok. Ibu
mengatakan kehamilan ini dinginginkan.
Natal
Ibu mengatakan melahirkan tgl 07 Desember 2013 di Rumah Sakit
ditolong oleh bidan. Sebelumnya ibu mengeluh ada keluar flek-flek
kemudian ibu membawanya ke rumah sakit. Sesampainya dirumah
sakit ibu dilakukan pemeriksaan namun setelah itu ibu kembali
kerumah, sekitar pukul 01.00 malam ibu mengatakan keluar darah
dan ibu langsung pergi kerumah sakit. Sekitar pukul 02.00 ibu
sampai dirumah sakit ibu mengatakan nyeri semakin bertambah
dan dilakukan pemeriksaan dan pembukaannya sudah 5 cm. Pada
pukul 02.30 wita bayi lahir dan langsung menangis. BB bayi ibu
saat lahir yaitu 1300 g dengan PB 35 cm.
Post Natal
Ibu mengatakan memiliki masalah dalam pemberian ASI ke
bayinya karena bayi ibu dilakukan perawatan di ruang NICU.
Namun bayi masih dalam keadaan puasa.
Penyakit yang pernah diderita : Tidak Ada
Alergi : Tidak Ada
Pola kebiasaan : Tidak Ada

34
4) Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan didalam keluarganya, tidak ada yang sedang /
memiliki riwayat penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi),
hepatitis, diabetes melitus, asma, ginjal maupun TBC serta
penyakit lain yang menular ataupun berpotensi menurun,serta tidak
ada riwayat keturunan kembar.

5) Pola Fungsional Kesehatan


Kebutuhan Dasar Keterangan
Pola Nutrisi Bayi dalam keadaan puasa
Pola Eliminasi BAK (+)
BAB (+)
Pola Istirahat Bayi lebih banyak beristirahat dikarenakan
kondisinya yang lemah , dan gerakannya juga
tidak aktif
Pola Personal Bayi diseka 1x /hari di pagi hari dan
Hygiene digantikan diapers dan kassa steril (untuk tali
pusat setiap selesai BAK/BAK
Pola Aktivitas Aktivitas bayi terbatas hanya di dalam
inkubator, gekaran bayi kurang akif,
tangisannya pun lemah

6) Riwayat Psikososiokultural Spiritual :


Kehamilan ini direncanakan. Sehingga ibu dan suami sengaja
tidak menggunakan kontrasepsi. Ibu , suami dan keluarga menerima
kehamilan ini dengan senang hati. Di dalam keluarga, tidak ada
kebiasaan, mitos ataupun tradisi selama persalinan yang dapat
membahayakan kesehatan ibu dan janin.

35
DO :
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran : Somnolent
Ku : Lemah
Tanda Vital :
Nadi : 152 x/menit
Pernafasan : 59 x/menit
Suhu : 36,9 0C

Antropometri :
BBL : 1300 g
PB : 34 cm
LK : 26,3 cm
LD : 27 cm
LP : 29 cm
LILA : 6,5 cm
BB sekarang : 1200 g
APGAR Score : Tidak dapat diketahui

2. Pemeriksaan Fisik
Kepala :
Inspeksi : Tampak kepala tidak mampu tegak, lonjong, kulit
kepala tampak bersih, tidak tampak kelainan,
ukuran kepala agak besar, ubun-ubun besar.
Palpasi : Tidak teraba benjolan
Kulit : Tampak tipis, ikterik (+), tampak lanugo
Wajah : Tidak tampak oedem
Mata : Tampak simetris kiri dan kanan, tidak tampak
perdarahan, sclera tidak tampak ikterik, kelopak
mata tampak edema.
Telinga : Telinga tampak simetris dan terdapat lanugo

36
Hidung :
Inspeksi :Tidak tampak pernapasan cuping hidung, tidak
tampak kelainan, hidung tampak pendek dan
mencuat, terpasang cpap.
Palpasi : Tidak teraba polip
Mulut : Terpasang OGT, bibir tampak kering, tidak
tampak cyanosis
Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening,
tiroid, dan vena jugularis
Dada : Tampak ada retraksi dinding dada
Inspeksi : Tampak simetris kiri dan kanan, tampak tarikan
dinding dada
Auskultasi : RR : 59 x/m, napas masih tidak teratur
Abdomen :
Inspeksi :Tidak tampak kelainan, tampak cembung, tali pusat
tampak segar
Palpasi : Tidak teraba benjolan
Auskultasi : Bising usus 3 x/m
Genetalia Eksterna : Testis tampak belum turun
Anus : Berlubang (+) tidak tampak kelainan
Ekstremitas : Tidak tampak kelainan, gerakan tangan dan kaki
kurang aktif, garis-garis tangan dan kaki belum
tampak sempurna.
Data Pemberian Terapi :
Terpasang infuse
KN4A 90 cc/hr (3,8 cc/jam)
Aminofusin 24 cc/hr (1 cc/jam)
Ivelip 20 % 6 cc/hr

3. Pemeriksaan Neurologis/Refleks
Morro : lemah

37
Rooting : lemah
Sucking : lemah
Swallowing : lemah
Babinski : lemah
Graf : lemah
4. Pemeriksaan penunjang :
Kultur darah : masih menunggu hasil

A : Diagnosis : NKB KMK usia 5 hari dengan BBLR


Diagnosis Potensial : Hipotermia
Masalah : Refleks menelan dan batuk yang belum sempurna
Masalah Potensial : Kurangnya oral hygiene
Kebutuhan Segera : Menjaga kehangatan bayi

P :
Tanggal: 12 Desember 2013
NO JAM TINDAKAN EVALUASI
1 22.00 Mengobservasi TTV Hr : 134x/menit RR : 39x/menit
SPO2 : 85% T : 36,40C
2 22.00 Melihat memberikan injeksi - Ampicillin : 30mg
- Aminophilin : 6 mg
3 23.00 Mengobservasi TTV Hr : 141x/menit RR : 40x/menit
SPO2 : 99% T : 36,50C
4 00.00 Mengobservasi TTV Hr : 143x/menit RR : 40x/menit
SPO2 : 84% T : 36,50C
5 01.00 Mengobservasi TTV Hr : 141x/menit RR : 40x/menit
SPO2 : 92% T : 36,70C
6 02.00 Mengobservasi TTV Hr : 145x/menit RR : 40x/menit
SPO2 : 81% T : 37,10C

38
7 03.00 Mengobservasi TTV Hr : 140x/menit RR : 58x/menit
SPO2 : 69% T : 37,30C
8 04.00 Mengobservasi TTV Hr : 165x/menit RR : 57x/menit
SPO2 : 100% T : 36,90C
9 05.00 Mengobservasi TTV Hr : 156x/menit RR : 59x/menit
SPO2 : 96% T : 37,20C
10 06.00 Mengobservasi TTV Hr : 185x/menit RR : 42x/menit
SPO2 : 100% T : 36,60C
11 06.00 Mengganti diapers BAB : 5 cc
BAK : 15 cc
Merawat tali pusat Terbungkus kassa steril
Menghitung cairan intake dan Cairan intake : 40 cc
output Cairan output : 20 cc

39
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang
dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi
yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Prevalensi bayi berat lahir
rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan
batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau
sosio-ekonomi rendah.
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu
yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit
vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan
penyebab terjadinya BBLR.
B. Saran
1. Bagi Petugas
a. Seorang petugas harus mengetahui gejala Pertumbuhan Janin
Terhambat ( PJT ) secara dini agar dapat di identifikasi
b. Meningkatkan konseling kepada masyarakat tentang tanda dan
gejala PJT
c. Mengadakan penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan
kehamilan (ANC).
2. Bagi Klien
a. Klien memiliki kesadaran untuk memeriksakan kehamilannya
sesuai jadwal yang di tentukan dan sebagai tenaga kesehatan kita
patut menginformasikan hal tersebut kepada klien.
b. Cepat tanggap terhadap sesuatu yang dirasakan kurang nyaman.
c. Tetap memperhatikan pola istirahat, kondisi kesehatan tubuh

40
DAFTAR PUSTAKA
Deslidel,Hasan Z, Hevrialni R, dkk, 2011, Asuhan neonatus,Bayi dan Balita,
Jakarta:EGC
Maryunani A,Nurhayati,2009, Asuhan Kegawatdaruratan Dan Penyakit Pada
Neonatus , Jakarta:CV Trans Info Media
Pantiawati I, 2010, Bayi Dengan BBLR , Jogyakarta:Nuha Medika
Proverawati S, Ismawati C, 2010, BBLR , Jogyakarta:Nuha Medika
Prawirohadjo S, 2010, Ilmu Kebidanan , Jakarta:PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Simatuppang E.J, 2008, Manajemen Pelayanan Kebidanan , Jakarta:EGC Sudarti,
Khoirunnisa E, 2010, Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi Dan Anak Balita
, Jogyakarta:Nuha Medika
Wiknjosastro H, 2007, Ilmu kebidanan Edisi 3, Jakarta:Yayasan bina pustaka
sarwono prawirohardjo,
ZR Arief, Kristiyanasari W, 2009, Neonatus dan Asuhan Keperawatan Anak ,
Jogyakarta:Nuha Medika

41