Anda di halaman 1dari 3

1.

1 MEMOTIVASI PIHAK YANG DIAUDIT


Motivasi merupakan alat bantu keperilakuan terbesar bagi audit internal. Dalam teori
motivasi, dikenali apa yang disebut dengan lima kebutuhan pokok Maslow. Dua dari kebutuhan
pokok tersebut adalah keinginan untuk menjadi bagian dari organisasi dan kebutuhan untuk
diterima dan dikenal, sehingga dapat melayani auditor internal secara baik.

1.1.1 Kebutuhan Menjadi Bagian dari Organisasi


Bagian audit merupakan bagian dari keseluruhan organisasi yang berdedikasi untuk
memperbaiki operasi organisasi tersebut. Pihak audit yang diaudit dapat dijanjikan bahwa
pendapat mereka akan diterima dan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam pertimbangan
keseluruhan manajemen guna memperbaiki kondisi operasi organisasi. Para auditor diminta
untuk mendekati pihak yang diaudit dengan bahasa yang memperkuat kebutuhan dan potensi
penyelesaian dengan mempercayai pihak yang diaudit untuk membantu atau mengambil bagian
atas pencapaian tujuan dari pekerjaan audit sekarang. Hal ini harus dicapai melalu jaminan dari
pihak yang diaudit bahwa sikap positif mereka akan dicerminkan secara langsung atapun tidak
langsung dalam laporan audit.

1.1.2 Menghormati Diri Sendiri dan Orang Lain


Kebutuhan akan rasa hormat ini dapat dikaitkan dengan keyakinan pihak yang diaudit
untuk bertindak langsung dalam kerja sama dengan staf audit untuk mengidentifikasikan bidang-
bidang yang bermasalah, membantu dalam investigasi terhadap kinerja, serta mengembangkan
tindakan-tindakan korektif. Aspek terpenting di sini adalah auditor mengidentifikasikan
tindakan-tindakan pihak yang diaudit secara langsung sebagai bagian dari usaha audit. Pihak
yang diaudit biasanya akan menerima rasa hormat dan respons manajemen melalui penerapan
audit, yang merupakan bagian dari manajemen, yang berpengaruh dalam melakukan perbaikan
operasional manajemen.

1.2 HUBUNGAN DENGAN GAYA MANAJEMEN


Terdapat empat gaya manajemen (kepemimpinan) secara umum . keempat gaya
manajemen tersebut meliputi :
a. Gaya mengarahkan
Pemimpin memberikan instruksi spesifik dan mengawasi penyelesaian pekerjaan (tugas)
dari dekat.
b. Gaya melatih
Pemimpin tidak hanya memberikan pengarahan dan mengawasi penyelesaian tugas dari
dekat, tetapi juga menjelaskan keputusan, menawarkan saran, dan mendukung kemajuan
bawahannya.
c. Gaya mendukung
Pemimpin memudahkan dan mendukung upaya bawahan untuk penyelesaian tugas serta
berbagi tanggung jawab dalam pembuatan keputusan dengan bawahan.
d. Gaya mendelegaskan
Pemimpin menyerahkan tanggung jawab pembuatan keputusan dan pemecahan masalah
kepada bawahan secara relatif utuh.

Masing-masing agaya manajemen tersebut mempunyai perbedaan yang luas dan


semuanya mencerminkan filosofi serta pendekatan manajemen terhadap manajer. Menggunakan
suatu pendekatan audit yang konflik dengan filosofi manajemen dari manajemen pihak yang
diaudit akan menyebabkan audit menjadi tidak populer dan menimbulkan kesulitan-kesulitan
dalam perolehan bantuan serta kerja sama secara sukarela.
Dari keempat gaya tersebut, gaya pertama dan gaya terakhir merupakan yang terpenting
untuk didiskusikan. Pada gaya pertama, aturan-aturan manajemen dipatuhi secara sangat ketat.
Disini auditor seharusnya tidak membuat ikatan-ikatan dengan staf tanpa persetujuan
manajemen. Akan tetapi, hal ini membuat auditor kesulitan untuk memperoleh informasi
maupun akses terhadap informasi, sehingga harus diambil langkah lain. Auditor seharusnya
mencoba untuk bekerja sama dengan seluruh manajemen dalam proses audit. Hubungan akrab
dan berulang dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa auditor berada di pihak mereka. Oleh
karena itu, kejujuran dalam berdiskusi dapat meyakinkan manajemen bahwa tujuan audit adalah
untuk mengembangkan desain guna membantu memperbaiki operasi. Selain itu, dibutuhkan
suatu pola perilaku audit yang dapat mewujudkan hubungan dengan manajemen karyawan yang
bergaya pelatih.
Sebagaimana dengan gaya mendelegasikan, auditor seharusnya mengambil pendekatan
bahwa mereka merupakan bagian dari tim manajeme dan bertindak sebagai rekan kerja atau
konsultan. Bila audit dilakukan menggunakan pendekatan audit tradisional, maka auditor akan
diklasifikasikan sebagai pihak eksternal dan tidka seorang karyawan pun yang akan
mempercayai atau mau membantu audit tersebut secara penuh. Auditor sebaiknya memilih
pendekatan yang membuatnya dapat berhubungan dengan kelompok pihak yang diaudit.