Anda di halaman 1dari 4

UPHJ 1 (2) (2012)

Unnes Public Health Journal


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/uphj

UJI KEAMANAN EKSTRAK KAYU JATI (TECTONA GRANDIS L.F)


SEBAGAI BIO-LARVASIDA AEDES AEGYPTI
TERHADAP MENCIT

Puguh Ika Listyorini

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahrgaan, Universitas Negeri Semarang
Indonesia

Info Artikel Abstrak


Sejarah Artikel:
Diterima Agustus 2012 Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan papan iP-
Disetujui September 2012 enelitian ini bertujuan mengetahui efek toksisitas akut ekstrak kayu jati (Tectona
Dipublikasikan Oktober 2012 grandis L.f) pada mencit yang diukur secara kuantitatif dengan LD50. Jenis peneli-
tian ini adalah eksperimen murni dengan desain post test only control group de-
Keywords:
Security testing
sign. Sampel 30 ekor mencit Balb/c jantan yang dibagi menjadi 1 kelompok kontrol
Tectona grandis (aquades dan CMC sebanyak 1 ml), kelompok perlakuan I (P1) (0,125 mg/25gBB/
LD50. ml), kelompok perlakuan II (P2) (1,25 mg/25gBB/ml), kelompok perlakuan III
(P3) (12,5 mg/25gBB/ml), dan kelompok perlakuan IV (P4) (125 mg/25gBB/
ml). Sediaan uji diberikan per-oral dengan hanya satu kali pemberian pada awal
masa penelitian. Hasil penelitian menunjukkan LD50 ekstrak kayu jati adalah 253
mg/25 gBB/ml (10.120 mg/KgBB). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak kayu jati
dengan dosis LD50 dan LD90 (27,66 g/ml dan 36,19 g/ml) untuk larva nyamuk
Ae. aegypti masih aman bagi mencit, karena dosis terendah dalam penelitian ini
(0,125 mg/25 gBB/ml) tidak membunuh dan tidak menimbukan gejala toksik.
Abstract
This study aims to determine the effects of the acute toxicity of teak extracts (Tec-
tona grandis Lf) at mice as measured quantitatively by LD50. This type of study
was purely experimental design with post test only control group design. The Sam-
ple of this study were 30 Balb/c males of mice and divided into a control group
(distilled water and CMC as much as 1 ml), treatment group I (P1) (mg/25gBB/ml
0.125), treatment group II (P2) (1.25 mg/25gBB/ml), treatment group III (P3) (12.5
mg/25gBB/ml), and treatment group IV (P4) (125 mg/25gBB/ml). The test prepa-
rations given by per-oral once in the beginning of the study. The results showed that
LD50 teak extract was 253 mg/25 gBB/ml (10.120 mg/kg). It can be concluded
that if the teak extract are LD50 and LD90 (27.66 g/ml and 36.19 g/ml) for larval
mosquito Ae. aegypti are still safe for mice, because the lowest dose in this study
was 0.125 mg/25 gBB/ml and it did not kill and not likely to cause toxic symptoms.

2012 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi: ISSN 2252-6781


Gedung F1 Lantai 2 FIK Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail: fik-unnes-smg@telkom.net
Puguh Ika Listyorini / Unnes Public Health Journal 1 (2) (2012) Puguh Ika Listyorini / Unnes Public Health Journal 1 (2) (2012)

PENDAHULUAN manusia untuk mencari pemecahannya. Oleh kertas, serta digunakan untuk pengusir burung. milihan spesies hewan coba. Pada dasarnya tidak
karena itu dilakukan suatu usaha untuk menda- Karena senyawa ini sifatnya pencahar, maka juga ada satu hewan pun yang sempurna untuk uji
Nyamuk Aedes aegypti terdapat pada da- patkan bahan hayati yang lebih selektif dan aman digunakan untuk mengobati sembelit (Wisegeek, toksisitas akut yang kemudian akan digunakan
erah tropis dan subtropis di seluruh dunia, bia- yang dapat menggantikan pemakaian insektisida 2012). oleh manusia. Hewan coba yang biasa digunakan
sanya terletak antara garis lintang 35oLU dan sintetis. (Chemblink, 2012) pada uji toksisitas akut adalah tikus, mencit,
35oLS, dan kira-kira berhubungan dengan musim Ada 300.000 jenis tumbuh-tumbuhan di Struktur 2-methyl-anthraquinone marmut, kelinci, babi, anjing, dan monyet.Tikus
dingin isoterm 10oC.Sekarang ini Ae.aegyptijuga dunia. 30.000 jenis diantaranya diperkirakan (C15H10O2) mempunyai titik lebur 168 OC, dan mencit merupakan spesies hewan coba seca-
telah ditemukan sampai sejauh 45oLU, invasinya tumbuh di Indonesia dan baru 1.000 jenis yang titik didih 236 OC, dan titik nyala 209 OC. ra umum, dalam penentuan dosis LD50 (C. Lu,
telah terjadi selama musim hangat, dan nyamuk telah dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan 2-methyl-anthraquinone dikenal dengan nama 1995:87).
ini tidak hidup di musim dingin. Penyebaran nya- dan insektisida (Aminah, dkk., 2001). Tanaman methylanthraquinone atau tectoquinone, yang Tikus dan mencit biasanya dipilih sebagai
mukAe.aegyptidibatasi oleh ketinggian. Biasanya jati tergolong pula tanaman obat. Senyawa bioak- merupakan senyawa dominan yang terdapat hewan uji karena ukuranya yang kecil, masa hi-
nyamuk ini tidak ditemukan di atas ketinggian tif merupakan senyawa yang bersifat racun dari pada ekstraktif beberapa jenis kayu, salah satu- dupnya relatif pendek, mudah didapat, dan ke-
1.000 m (WHO, 2009: 14). dosis tertentu yang berasal dari ekstrak tumbu- nya kayu jati. Menurut Leyva et al. (1998) dalam tersediaan data dari penelitian sebelumnya.Un-
Aedes aegypti adalah vektor utama de- han.Tingkat konsentrasi suatu senyawa bioaktif Nugraha (2011), kayu jati (T. grandis) dilaporkan tuk pengujian dengan efek yang lebih kompleks,
mam dengue.Di Amerika Serikat, Ae. albopictus- yang dapat menyebabkan keracuanan ditentukan memiliki kandungan tectoquinone sekitar 0,3% biasanya digunakan hewan tingkat tinggi seperti
juga menjadi vektor penyakit ini (CDC, 2003a; dengan lethal concentration (LC).Lethal con- dari bobot kayu yang dihasilkan dengan pelarut anjing dan monyet. Hewan uji yang dipakai ha-
World Resources Institut, 1999; yang dikutip centration ada beberapa tingkatan, seperti LC50 campuran toluen/etanol 1:1. rus berasal dari sumber yang tertelusur, usia yang
oleh Sembel, 2009: 63). Kedua nyamuk ini ak- yaitu konsentrasi dari suatu senyawa bioaktif Uji toksisitas akut adalah uji yang dilaku- sama, dan diaklimatisasi dengan kondisi labora-
tif pada siang hari dan lebih suka menghisap yang menyebabkan 50% dari suatu populasi or- kan dengan memberikan bahan yang akan diuji torium pengujian terlebih dahulu. Penentuan uji
darah manusia daripada darah hewan (Sembel, ganisme mengalami mortalitas dan LC90 yaitu selama jangka waktu pendek, misalnya 24 jam toksisitas baiknya dilakukan pada kedua jenis
2009: 63). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia konsentrasi dari suatu senyawa bioaktif yang atau sampai dengan 7 -14 hari pada kasus-kasus kelamin hewan uji bila memungkinkan. Tetapi
(WHO) (2009: 14),Ae. aegyptiadalah salah satu menyebabkan 90% dari suatu populasi organisme tertentu. Uji Toksisitas ini selain untuk menge- sekarang ini biasanya hanya dilakukan pada satu
vektor nyamuk yang paling efisien untuk penya- mengalami mortalitas (Andriani, 2008). tahui dosis lethal suatu senyawa juga bertujuan jenis kelamin saja, yaitu jantan karena menghin-
kit-penyakit albovirus, karena nyamuk ini sangat Ada beberapa senyawa bioaktif yang ter- untuk mengetahui efek suatu bahan uji terhadap dari faktor bias yang berasal dari hormonal (Far-
antropofilik, hidup dekat dengan manusia, dan dapat di alam yang memiliki sifat racun terha- fungsi fisiologi tubuh, seperti respirasi, sirkulasi, hani, 2011: 49).
sering hidup di dalam rumah. Adanya wabah dap larva nyamuk A. aegypti seperti saponin, lokomosi, dan perilaku hewan coba (Kusumawa- Dalam penelitian ini mencit dipilih seba-
dengue juga disertai dengan Ae. albopictus, Ae. alkaloid, dan quinone (Mulyana 2002, Cheng et ti, 2004: 70).Pengujian toksisitas ini dilakukan gai hewan coba. Alasan memilih mencit dikare-
polynesiensis, dan banyak spesies kompleksAe. al. 2003, Chapagain et al. 2008).Kayu jati meru- untuk menentukan dosis atau konsentrasi letal nakan mencit mempunyai karakteristik antara
scutellaris. Setiap spesies mempunyai distribusi pakan salah satu tumbuhan yang mengandung median toksikan atau dikenal dengan istilah Le- lain dalam laboratorium mencit mudah ditanga-
geografis sendiri-sendiri yang terbatas.Meskipun senyawa bio-aktif yang bersifat racun terhadap thal Dose 50 (LD50) atau Lethal Consentration ni, ia bersifat penakut, fotofobik, cenderung ber-
merupakan vektor yang baik untuk virus dengue, larva nyamuk Ae.aegypti. Komponen senyawa 50 (LC50).Nilai LD50 atau LC50 didefinisikan kumpul sesamanya, mempunyai kecenderungan
mereka merupakan vektor epidemi yang kurang yang terkandung dalam kayu jati antara lain tri sebagai dosis atau konsentrasi suatu toksikan untuk bersembunyi, dan lebih aktif pada malam
efisien dibandingkan dengan Aedes aegypti. poliprena, phenil naphthalene, antraquinone, yang secara statistik diharapkan dapat membu- hari. Kehadiran manusia akan menghambat
Nyamuk yang menjadi vektor dari penya- dan komponen lain yang belum terdeteksi (Sipon nuh 50% hewan uji.Nilai uji akut dapat dipakai mencit. Suhu tubuh normal: 37,4C. Laju respi-
kit demam berdarah ini dikenal dengan nama ny- et al., 2001 dalam Siregar, 2005). Berdasarkan sebagai acuan untuk uji selanjutnya, yaitu uji tok- rasi normal 163 tiap menit (Anonim, 2006). Ala-
amuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Zul- penelitian yang dilakukan oleh Haupt et al. 2003, sisitas subkronik dan uji toksisitas kronik (White- san lain memilih mencit sebagai hewan coba di-
koni, 2010). Demam Berdarah Dengue (DBD) 2-methyl-anthraquinone merupakan komponen house, 2001). karenakan ukurannya kecil (berat badan kurang
adalah salah satu penyakit yang tidak ada obat utama hasil ekstrak kayu jati, yang lebih dikenal Penentuan DL50 merupakan tahap awal dari 1kg), mudah dipegang dan dikendalikan,
maupun vaksinnya. Pengobatannya hanya su- dengan tectoquinone. untuk mengetahui keamanan bahan yang akan pemberian materi (ekstraksi mudah dilakukan
portif berupa tirah baring dan pemberian cairan Anthraquinone merupakan golongan qui- digunakan manusia dengan menentukan besar- dengan berbagai rute, mudah dikembangbiakkan
intravena. Tindakan pencegahan dengan membe- none terbesar yang ada di alam.Anthraquinone nya dosis yang menyebabkan kematian 50% pada dan mudah dipelihara dilaboratorium, lama hi-
rantas sarang nyamuk dan membunuh larva serta yang terdapat di alam pada umumnya berben- hewan uji setelah pemberian dosis tunggal. DL50 dup relatif singkat, dan fisiologi diperkirakan se-
nyamuk dewasa, merupakan tindakan yang ter- tuk glikosida, tidak dalam bentuk bebas.Bany- bahan obat mutlak harus ditentukan karena ni- suai atau identik dengan manusia (Kusumawati,
baik (Daniel, 2008). ak anthraquinone dalam bentuk glikosida yang lai ini digunakan dalam penilaian rasio manfaat 2004: 67).
Lebih dari 70% dari populasi penduduk bagian gulanya terikat dengan salah satu gugus (khasiat) dan daya racun yang dinyatakan sebagai Pada dasarnya, pemberian toksikan dibe-
dunia pada tahun 2007 berisiko terjangkit penya- hidroksil fenolik.Anthraquinone memiliki ben- indeks terapi obat (DL50/ DE50).Makin besar rikan melalui jalur yang sama dengan pemapa-
kit demam berdarah dan sekitar 75%nya terdapat tuk berupa kristal dengan titik leleh yang tinggi indeks terapi, makin aman obat tersebut jika di- ran ke manusia. Beberapa teknik yang biasa di-
di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan In- dan memiliki sifat larut pada pelarut organik. gunakan (Soemardji, 2002).Uji LD50 juga dapat gunakan adalah oral, dermal, inhalasi, atau jalur
donesia masih merupakan negara dengan kasus Anthraquinone pada umumnya berwarna merah, digunakan untuk membantu mengidentifikasi re- parental berupa injeksi intravena dan intraperito-
penyakit demam berdarah tertinggi di Asia Teng- namun ada juga yang berwarna kuning sampai aksi racun, memberikan informasi tentang dosis neal (Farhani, 2011: 49).
gara (WHO, 2009). Upaya-upaya pengendalian coklat (Mulyana, 2002).Anthraquinone meru- yang terkait dengan target-organ toksisitas, ser- Cara pemberian senyawa pada hewan
yang telah dilakukan meliputi pengendalian ling- pakan senyawa organik yang terjadi secara ala- ta dapat diekstrapolasi untuk digunakan dalam coba yang lazim adalah per-oral, namun yang
kungan, pengendalian biologis, dan pengendali- mi pada tanaman tertentu, salah satunya adalah diagnosis dan pengobatan reaksi beracun pada paling tepat adalah dengan mempertimbangkan
an kimiawi. (Zulkoni, 2010).Dampak merugikan kayu jati.Senyawa ini digunakan secara komer- manusia (Hodgson, 2004: 353). kemungkinan cara pemberian senyawa tersebut
yang terjadi akibat pengendalian kimiawi meng- sial untuk memproduksi pewarna, digunakan Menurut Loomis dan Hayes (1996: 208- pada manusia. Kebanyakan orang lebih memi-
gunakan insektisida sintetis telah mendorong sebagai katalis dalam produksi bubur kayu dan 213), tidak ada aturan tetap yang mengatur pe- lih memakai obat dari kulit atau melalui inhalasi

2 3
Puguh Ika Listyorini / Unnes Public Health Journal 1 (2) (2012) Puguh Ika Listyorini / Unnes Public Health Journal 1 (2) (2012)

karena kemudahannya. Tetapi uji toksisitas mela- METODE PENELITIAN dengan rumus sebagai berikut: YN = Y1 x RN- perlakuan (ekstrak), hanya diberi aquadest dan
lui kedua cara tersebut sulit dilakukan. Menurut 1(Setyawati, 2008). CMC per oral 1ml.
Loomis dan Hayes (1996: 79), ada beberapa ala- Penelitian ini menggunakan rancangan Keterangan: 2. Kelompok perlakuan 1 ( P1 ) :
san mengenai hal ini antara lain pemberian zat penelitian ekperimen murni. Rancangan atau de- Y1 = Dosis pertama, 0,125 mg/25 gBB/ml
kimia melalui oral secara cepat akan diabsorbsi sain penelitian yang digunakan adalah post test YN = Dosis ke-N, 3. Kelompok perlakuan 2 ( P2 ) : 1,25
oleh saluran cerna, zat kimia akan dimetabolis- only control group design. R = Faktor geometris 0 mg/25 gBB/ml
me di hati sesuai dengan kadar yang tertelan dan Alat dan Bahan. Alat yang diperlukan da- atau 1 kelipatan dosis. 4. Kelompok perlakuan 3 ( P3 ) : 12,5
hal ini tidak terjadi pada jalur pemberian lainnya. lam penelitian ini adalah kandang mencit, mik- Berdasarkan perhitungan tersebut, untuk mg/25 gBB/ml
Senyawa yang telah diketahui toksik pada hati, ro pipet kepekaan 0,001 ml, timbangan digital, mendapatkan 4 dosis digunakan kelipatan antar 5. Kelompok perlakuan 4 (P4) : 125
dapat diduga akan lebih toksik lewat pemberian sonde lambung, tabung erlenmeyer, stop watch/ dosis sebesar 2, sehingga perhitungan dosis yang mg/25 gBB/ml
oral yang berulang-ulang. Penggunaan berulang- jam, dan alat untuk membuat simplisia bahan uji akan diberikan sebagai berikut: Pemberian ekstrak kayu jati (Tectona gran-
ulang melalui jalur oral pada hewan percobaan tectona grandis Lin. f. Bahan yang diperlukan 1) Dosis 1 = 0,125 mg/25 gBB/ml atau 5 dis Lin. F) pada mencit Balb/c dilakukan mela-
mungkin menimbulkan perubahan degeneratif dalam penelitian ini adalah ekstrak etanol/toluen mg/KgBB lui sonde lambung dan hanya diberikan satu kali
dalam hati. (3:1) kayu jati (Tectona grandis Lin. f), mencit 2) Dosis 2 = 1,25 mg/25 gBB/ml atau 50 dengan mengencerkan ekstrak kayu jati dengan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan jantan strain Bablb/c, makanan (pelet) dan mi- mg/KgBB aquades dan CMC 1 ml. Volume pemberian
oleh Haupt et al. 2003, 2-methyl-antrhraquinone numan mencit. 3) Dosis 3 = 12,5 mg/25 gBB/ml atau 500 pada empat kelompok perlakuan dan kelompok
merupakan komponen utama hasil ekstrak kayu Hewan Uji. Adapun kriteria inklusi untuk mg/KgBB kontrol sama yaitu 1ml. Pemberian ekstrak dila-
jati, yang lebih dikenal dengan tectoquinone. hewan uji dalam penelitian ini adalah mencit 4) Dosis 4 = 125 mg/25 gBB/ml atau 5.000 kukan pada hari ke- 8. Pengamatan gejala toksik
Kayu jati (T. grandis) dilaporkan memiliki kan- strain Balb/c, jenis kelamin jantan, berat badan mg/KgBB dilakukan 24 jam pertama dan tujuh hari setelah
dungan tectoquinone sekitar 0,3% dari bobot 20-30 gram, umur 2-3 bulan, tingkah laku dan Pelaksanaan Penelitian. Sebelum menda- perlakuan. Penghitungan tikus mati dilakukan
kayu yang dihasilkan dengan pelarut campura aktifitas normal, dan tidak ada kelainan anatomi pat perlakuan, 30 ekor mencit Balb/c jantan se- sejak perlakuan hingga 24 jam berikutnya dan
toluen/etanol 1:1 (Leyva et al. 1998 dalam Nu- yang tampak.Kriteria ekslusinya adalah mencit hat, berusia 23 bulan dengan berat badan 2030 tujuh hari setelah perlakuan. Selain pengamatan
graha 2011). Nugraha (2011) telah melakukan tampak sakit, terdapat abnormalitas anatomi gram, mengalami masa adaptasi dan diberi pa- gejala toksik dan perhitungan jumlah kematian
studi tentang pemanfaatan ekstrak kayu jati den- yang tampak, dan mencit mati. kan pallet dan minum selama tujuh hari secara mencit, penelitian ini juga menilai histopatologi
gan pelarut etanol/toluen (3:1) sebagai larvasida Persiapan Mencit. Mencit yang digunakan ad libitum. Proses aklimatisasi dilakukan di Kan- organ hati untuk menilai potensi toksik ekstrak
nyamuk Aedes aegypti. dalam penelitian adalah mencit stain balb/c ha- dang Hewan Coba Laboratorium Biologi, FMI- kayu jati.
Dalam penelitian inidan dapat dilaporkan sil biakan laboratorium Biologi Fakultas Mate- PA Universitas Negeri Semarang. Analisis data. Data yang diperoleh da-
bahwa ekstrak kayu jati efektif sebagai larfasida matika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Penelitian Pada penelitian ini, 30 ekor mencit Balb/c lam penelitian ini adalah data primer dari hasil
nyamuk A. aegypti dengan nilai LC50 dan LC90 ini menggunakan 30 ekor mencit, dimana setiap dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yang masing pengamatan mencit. Data primer yang dipero-
masing-masing sebesar 27,66 g/ml dan 36,19 kelompok menggunakan 6 ekor mencit. masing terdiri dari 6 ekor mencit yang ditentu- leh berupa data kuantitatif dan data kualitatif.
g/ml, akan tetapi belum ada studi tentang uji Bahan dan Alat Pembuatan Ekstrak Kayu kan secara acak. Lima kelompok perlakuan ter- Data kuantitatif yang didapatkan meliputi data
lanjutan untuk menentukan keamanan untuk Jati. Bahan dan alat yang digunakan dalam pem- sebut adalah : jumlah kematian mencit dan berat badan mencit,
hewan coba, maka peneliti ingin melakukan buatan ekstrak kayu jati adalah kayu jati atau ser- 1. Kelompok kontrol ( K ) : tidak diberi sedangkan data kualitatif yang diperoleh melipu-
uji toksisitas akut yang diukur dengan penemu- buk kayu jati sebagai bahan pembuatan ekstrak,
an LD50 ekstrak kayu jati sebagai bio-larvasida etanol/toluen (3:1) digunakan sebagai pelarut
Aedes aegypti terhadap mencit agar dapat dikem- dalam pembuatan ekstrak, tabung erlenmeyer,
bangkan lebih lanjut pada manusia. untuk mengukur volume pelarut dan volume
ekstrak kayu jati, alat soxhlet beserta perlengka-
Penentuan DL50 merupakan tahap awal pannya, dan elektromanthel pada suhu 60Cun-
untuk mengetahui keamanan bahan yang akan tuk menguapkan pelarut sehingga diperoleh ekst-
digunakan manusia dengan menentukan besar- rak berupa ekstrak serbuk.
nya dosis yang menyebabkan kematian 50% pada Penetapan Dosis. LD50 dan LD90ekstrak
hewan uji setelah pemberian dosis tunggal. DL50 kayu jati pada larva nyamuk Ae. aegypti masing-
bahan obat mutlak harus ditentukan karena ni- masing sebesar 27,66 g/ml dan 36,19 g/ml,
lai ini digunakan dalam penilaian rasio manfaat akan tetapi tidak ada faktor konversi dari larva
(khasiat) dan daya racun yang dinyatakan seba- ke mencit. Dosis terbesar untuk hewan coba
gai indeks terapi obat (DL50/ DE50). Makin be- adalah 5.000 mg/KgBB, rata-rata berat badan
sar indeks terapi, makin aman obat tersebut jika mencit dalam sampel penelitian adalah 24,53
digunakan (Soemardji, dkk., 2002). Penelitian gram, dibulatkan menjadi 25 gram. Dosis ter-
ini dilakukan secara in vivo, menggunakan he- besar yang didapat adalah 5.000 mg/kgBB/ml
wan coba mencit dengan paparan tunggal dosis 125 mg/25gBB/ml. Setelah diorientasi dida-
bertingkat. Pengamatan meliputi jumlah hewan patkan dosis terbesar untuk penelitian adalah
yang mati serta gejala toksik pada 24 jam perta- 125 mg/25gBB/ml dan dosis terkecil adalah
ma setelah pemberian ekstrak (Anonim, 2006). 0,125 mg/25gBB/ml. Untuk mendapatkan hasil
yang baik digunakan dosis secara berturrut-turut
yang akan mengikuti progresi geometris yaitu

4 5
Puguh Ika Listyorini / Unnes Public Health Journal 1 (2) (2012) Puguh Ika Listyorini / Unnes Public Health Journal 1 (2) (2012)

ti data gejala-gejala toksik yang muncul setelah dosis tunggal oral ekstrak kayu jati terhadap hati bahwa dosis ekstrak kayu jati yang digunakan toksik yang muncul setelah pemberian ekstrak
perlakuan dan data dari hasil histopatologi hepar. mencit dengan pemeriksaan mikroskopik hepar dalam penelitian tidak mencapai LD50. Dosis kayu jati (Tectona Grandis L.f) menunjukkan
Data kuantitatif yang diperoleh selama penelitian dari sampel yang digunakan dalam penelitian. untuk mencapai LD50 ternyata lebih besar dari bahwa pada kelompok kontrol, P1, dan P2 tidak
kemudian dideskripsikan dengan menggunakan Perhitungan jumlah mencit yang mati dila- dosis tertinggi yang digunakan (125mg/25 gBB/ menimbulkan gejala toksik yang berarti, sedang-
program komputer, sedangkan data kualitatif kukan selama tujuh hari setelah sonde lambung ml). Dan dari hasil analisis probit tersebut dipero- kan pada kelompok P3 dan P4 mencit mengalami
yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk ta- ekstrak kayu jati. Jumlah mencit yang mati da- leh LD50 sebesar 253 mg/25 gBB/ml atau 10.120 penurunan pada respon sentuh, reaksi pinal me-
bel dan akan dideskripsikan dalam bentuk narasi. lam penelitian dapat dilihat pada grafik berikut: mg/kgBB. Menurut kategori toksisitas Loomis nurun, agresifitas mencit menurun, serta adanya
dan Hayes (1996: 25) hasil tersebut mempuny- piroleksi, namun ini hanya terjadi pada beberapa
HASIL DAN PEMBAHASAN Dari grafik diatas menunjukkan bahwa ke- ai makna toksikologi bahwa potensi ketoksikan mencit.
lompok kontrol, P1, dan P2 tidak menimbulkan akut ekstrak kayu jati termasuk dalam kategori Berat Badan Mencit Sebelum dan Sesu-
Penelitian ini dilaksanakan di Labora- kematian mencit dalam waktu 24 jam sampai praktis tidak toksik (5.000-15.000 mg/kgBB). dah Perlakuan. Perhitungan rata-rata berat badan
torium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu dengan 168 jam (tujuh hari) setelah perlakuan. Apabila dikaitkan dengan hasil penelitian Nug- mencit dilakukan sebelum perlakuan dan selama
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang Pada kelompok P3 dan P4 menunjukkan ada ke- raha (2011) yaitu LD50 dan LD90 ekstrak kayu 7 hari setelah sonde lambung ekstrak kayu jati.
pada bulan Juni-Juli 2012. Dalam penelitian matian satu ekor mencit dalam waktu 24 jam se- jati pada larva nyamuk Ae. aegypti masing-ma- Sebelum perlakuan, tidak ada perbedaan ber-
uji keamanan ekstrak kayu jati (Tectona grandis telah perlakuan, dan setelah 48 jam sampai tujuh sing sebesar 27,66 g/ml dan 36,19 g/ml, maka makna berat badan mencit. Berat badan mencit
L.f) sebagai biolarvasida Aedes aegypti terhadap hari tidak meimbulkan kematian. Hasil tersebut apabila dosis tersebut tertelan oleh mencit dapat setelah perlakuan di analisis menggunakan uji
mencit dilakukan uji toksisitas akut yang meru- menunjukkan bahwa tingkat kematian mencit disimpulkan bahwa dosis tersebut masih aman, OneWay Anova, adapun hasilnya disajikan da-
pakan uji keamanan pendahuluan terhadap ekst- dalam penelitian tidak mencapai 50% dari jum- karena dosis terendah dalam penelitian ini (0,125 lam tabel di bawah ini:
rak kayu jati. Melalui uji ini akan diukur LD50 lah sampel yang digunakan pada setiap kelom- mg/25 gBB) tidak membunuh bahkan tidak me- Hasil analisis berat badan mencit setelah
dari ekstrak kayu jati. Dari LD50 dapat dilihat pok perlakuan. nimbukan gejala toksik. perlakuan menggunakan uji one way anova me-
potensi ketoksikan suatu obat dan sebagai acu- Untuk menentuan LD50 yang berpenga- Pengamatan Gejala Toksik. Pengamatan nunjukkan nilai probabilitas sebesar 0,152 atau
an dalam perhitungan dosis untuk uji toksisitas ruh terhadap mortalitas mencit digunakan anali- gejala toksik yang muncul mengacu pada daftar lebih besar dari 0,05. Hal tersebut menunjukkan
subkronik (Lu, 1995). Dalam perhitungan LD50 sis probit. Adapun hasilnya disajikan dalam tabel pemeriksaan dan pengamatan gejala toksik pada bahwa rata-rata antar masing-masing kelompok
juga dilihat mengenai gejala toksik yang muncul, di bawah ini: hewan uji (menurut Loomis dan Hayes, 1996: perlakuan yang satu dengan yang lain tidak mem-
perubahan berat badan, dan pengaruh pemberian Dari hasil analisis probit menunjukkan 211-212). Selama tujuh hari pengamatan, gejala punyai perbedaan yang signifikan, sehingga tidak

Tabel 4.1 Hasil Analisis Probit


Tingkat LD (%) Dosis ekstrak kayu jati (mg/25g BB/ ml)
10 72.835
20 134.521
30 179.002
40 217.009
50 252.533
60 288.057
70 326.063
80 370.544
90 432.230
95 483.172
99 578.731

Tabel 4.2 Uji One Way Anova Rata-Rata Berat Badan 24 Jam Setelah Perlakuan
Kelompok N Rata-rata Std. Deviasi Minimum Maximum Pvalue
Kontrol 6 23,500 1,9748 20,0 26,0 0,152
P1 6 24,667 2,9439 21,0 29,0 0,152
P2 6 26,000 1,4142 24,0 28,0 0,152
P3 6 27,333 3,6697 20,0 30,0 0,152
P4 6 25,833 2,4833 23,0 30,0 0,152 Gambar 1. Hasil pengamatan mikroskopis dari preparat hati P1(kiri atas),
P2 (kanan atas), P3 (kiri bawah), dan P4 (kanan bawah)

6 7